"KITTEN"
Wu Yi Fan & Huang Zi Tao
This is Yaoi fict!
If you don't like the pairing, just close this page please!
You've been warned baby...
.
.
.
Hanya sebuah hal sederhana. Amat sangat sederhan yang diminta oleh seorang Yifan Wu kala ia merasa hidupnya mulai-cukup-sangat-amat-terlalu- monoton dan berwarna monokrom.
Ia ingin Tuhan memberikan sedikit warna dan penyegar.
Agar ia, dapat lebih bersemangat menjalani hidupnya.
.
.
.
.
KITTEN
.
.
.
Drap... Drap... Drap...
"Halo?! Xiao-er?! Tolong batalkan rapatku sore nanti!"
'Jangan katakan kalau Zitao-'
"Cukup lakukan saja perintahku nenek sihir! Aku sedang daalam masalah sekarang! Bye!"
-pip-
Sosok pria berjas ini terus memacu kedua langkah kakinya menuju mobilnya yang terparkir manis di area parkir sebuah hotel ternama. Ia baru saja menyelesaikan rapat pentingnya dan hendak pergi makan siang denga klien berikutnya.
Sayang seribu sayang, sebuah pesan suara yang begitu singkat mampu membuat si tampan bermarga Wu ini terpaksa membatalkan segala pekerjaannya hari ini, dan memutuskan untuk pulang secepat mungkin.
"Master... Hiks.. Hiks.. Pulanglah sekarang.. Hiks.. Hiks.."
Tak butuh waktu lama memang bagi Presdir Wu ini untuk sampai di mansion mewahnya, meski ia harus menerima umpatan kasar para pengguna jalan karena berkendara seperti orang gila.
Brak!
Menutup pintu mobilnya dengan kasar, Yifan kembali melangkah cepat. Memasuki mansion mewahnya demi mendapati si manis yang belum kelihatan wujudnya.
"Zitao i'm home!"
Hening. Tak ada jawaban apapun.
"Zitao?!"
Merasa aneh karena tak kunjung mendapatkan jawaban, pria tampan ini pun melangkah cepat kearah ruang keluarga yang berada agak jauh dari ruang tengah. Membuka pintu ruangan itu dan..
"What the-"
"Master Yifan!"
Grepp
Tubuh tinggi tegap itu mematung. Tak percaya dengan apa yang ia lihat kini. Sebuah ruangan yang penuh dengan tisu bekas yang bertebaran.
"A..apa yang baru saja kau lakukan?"
Zitao mendongakan kepalanya. Menatap Yifan dengan manik kelamnya yang berkaca-kaca dan bibir mungil yang bergetar kecil.
"Tao bosan terus berdiam dikamar miaw.. Karena Master melarang Tao main di taman jadi Tao pergi kesini dan memasang film..."
Yifan mengangkat sebelah alisnya. Menatap tak mengerti dengan apa yang sebenarnya diinginkan daan dimaksud kucing manisnya.
"Lalu mengapa ruangan ini penuh dengan tisu hmm?"
Kucing manis itu menundukkan kepalanya cepat. Ia tahu Yifan pasti kesal padanya. Walaupun pria tampan itu berbicara tanpa adanya bentuk kekesalan pada nada suaranya.
"Hiks.. Hiks.. Dramanya menyedihkan miaw~ Mereka berpisah karena pemuda itu mengkhianati kekasihnya... Tao tidak bisa berhenti menangis miaw~"
"Lalu untuk apa memintaku untuk pulang?!"
Habis sudah kesabaran Yifan. Membuatnya lepas kontrol dan membentak si manis. Berujung dengan tubuh semampai itu yang terlonjak dan kembali mengeluarkan isakan kecil.
"T..tao.. Tao.. Hanya khawatir Master mengkhianati Tao saat tidak bersama Tao.."
"Hah?"
"Laki-laki itu menghabiskan banyak waktunya di kantor dan berkencan dengan pegawainya.. Dan ia meninggalkan kekasihnya.. Hiks.. Hiks.. T..tao takut Master Yifan seperti itu..."
Seketika segala emosi dan kekesalan yang menumpuk di hati priaa tampan ini sirna seketika. Tergantikan dengan senyum menawan yang kini terpatri pada wajah tampannya.
Merengkuh pinggang ramping kitten hybrid itu kemudian mengangkatnya hingga kini posisi Tao lebih tinggi darinya. Membuat si cantik memekik kaget dan refleks melingkarkan kedua kaki jenjangnya pada pinggang Yifan.
"Kau tidak mempercayaiku baby Tao?"
Menggigit pelan bibir bawahnya. Entah mengapa perasaannya selalu cemas. Ia sungguh percaya pada Masternya namun kata hatinya selalu memikirkan hal buruk kala sosok tampan itu jauh darinya.
"Tao percaya Master.. Tapi Tao-"
"Shh... Aku mengerti perasaanmu sayang... Kau memang percaya padaku tapi little baby di dalam sini belum tentu percaya pada Daddynya kan?"
Kedua manik Zitao membola. Melirik kearah perut ratanya dan kembali memandang Yifan dengan perasaan bersalah.
"Tao bahkan lupa kalau ada baby disana.. Hiks.. Hiks.. Maafkan Tao..."
Terkekeh pelan, Yifan pun mengecup pipi gembil Tao. Membiarkan pemuda cantik itu memeluk tubuhnya.
"Tidak apa Peach... Baby takkan marah padamu... Ia hanya mencari perhatianmu... Lagipula, kalian baru satu bulan bersama.. Sudah.. Jangan menangis lagi okay?"
Memberikan jarak diantara mereka, Tao pun akhirnya mengangguk. Tersenyum kecil pada Yifan yang mendongak menatapnya.
"Baiklah.. Karena aku sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor.. Mari kita bersenang-senang..."
Dengan lihai, pria tampan ini membawa Tao menuju kamar mereka. Membaringkan tubuh berbalut kaus kebesaran itu diatas ranjang kemudian mengukungnya.
"M..master mau apa?!"
"Tentu saja bersenang-senang... Apalagi?"
Sepasang darkchoco Yifan menatap blackpearl Tao yang begitu memikat. Memenjarakan dan membius sang kitten hingga terdiam dan tak dapat berkutik.
Dengan perlahan Yifan mendekatkan wajahnya. Tersenyum tipis kemudian mengecup pelan belah persik milik Tao. Sedikit menyesap dan memagut manis yang seakan tak ada habisnya itu.
"Urmmhhh..."
Zitao menggerung pelan. Telinga animalnya mulai menekuk sayu dan ekor hitam panjangnya berayun pelan. Mengikuti instingnya untuk membalas ciuman sang Master yang mulai sedikit menuntut.
"Rhhhh.. Uurmmmhhh..."
Mengalungkan kedua tangannya pada leher Yifan. Bergerak gelisah kala jemari pria Wu itu menyusup kedalam kaus yang dikenakannya. Mengusap lembut permukaan perutnya.
"Master... Unghhh... Ngaaah... Ahh~"
Zitao terlanjur jatuh. Larut dalam kelembutan yang Yifan berikan. Membuat gairahnya naik dengan cepat.
"M..Masterhhh~"
"Hmm?"
"Sen.. Sentuh..."
Yifan menghentikan ciumannya. Juga menghentikan gerakan mengusapnya seketika. Menyisakan Zitao yang bergerak tak nyaman diantara kungkungannya.
"Aku sangat ingin menyentuhmu Peach.. Tapi sayangnya aku tidak boleh melakukannya... Kau tentu tidak melupakan baby yang sedang tidur di dalam perutmu itu kan?"
Ya. Zitao bukanlah seorang wanita. Ia pemuda setengah kucing yang tengah mengandung seorang bayi dalam perutnya.
Ia harus memberikan pengertian secara perlahan pada Tao agar dapat sedikit mengontrol emosi dan hasratnya selama mengandung.
"Memangnya tidak boleh melakukan itu kalau ada Baby disini?" tanya Tao dengan tatapan polosnya.
Pria Wu ini terkekeh pelan. Mengecup gemas bibir Tao agak lama kemudian mengusap surai jelaga pemuda itu pelan.
"Tentu tidak sayang.. Kegiatan itu bisa membuat ia kesakitan... Memangnya kau mau Baby menangis karena sakit hmm?"
Zitao menggeleng cepat. Mendorong dada Yifan pelan. Mengundang tawa dari CEO Wu Empire itu.
"Jangan timpa-timpa Tao lagi! Master harus jauh-jauh tidur dari Tao! Nanti Baby ketindihan!" ujar kucing manis itu memperingatkan.
Namun bukannya menurut, Yifan justru memeluk tubuh semampai itu erat. Membuat Zitao panik dan meronta kesal.
"Ish! Master lepaaaas~ Kasihan Baby!"
Sang Dominan bersurai brunette itupun akhirnya mengalah. Mengecup pelan kening Zitao kemudian menyingkir dari tubuh kitten hybrid itu.
"Aku akan mandi dan ganti baju dulu.. Kita akan jalan-jalan dan makan diluar hari ini... Bagaimana? Kau mau?"
Seketika kedua onyx Zitao berbinar. Memberikan senyum lebar yang menampilkan jejeran gigi mungilnya yang terlihat begitu manis.
"Umm!"
.
.
.
"Master! Tao mau itu!"
"Bubble tea!"
"Balon! Tao mau balon!"
"Master ada boneka panda! Tao mau satu!"
"Kyaaa! Gula kapaaaaas!"
Yifan hanya dapat tersenyum melihat tingkah Zitao. Kini mereka tengah berada di sebuah taman bermain karena kitten manisnya terus merengek padanya untuk pergi kesana setelah melihat iklan di TV.
Mengabulkan segala permintaan Zitao untuk membeli makanan, camilan, dan menaiki beberapa wahana yang aman. Tentu saja Yifan tahu jika permintaan Zitao adalah bagian dari masa kehamilannya.
"Zitao apa kau tidak lelah hmm? Sedari tadi kau terus berlari dan mencoba beberapa permainan... Tidak ingin beristirahat?"
Yifan berujar pelan pada Zitao yang berjalan di depannya. Membuat pemuda manis itu menoleh kebelakang.
Kitten hybrid berusia sembilan belas tahun itu menggeleng. Terus menatap sekelilingnya dengan maniknya yang berbinar, sampai-
Brukk
"A..ah!"
Grepp
Sungguh beruntung Yifan menahan tubuh Zitao tepat waktu hingga pemuda cantik itu tak sampai terjatuh menghantam aspal. Membantu pemuda cantik itu untuk berdiri dengan baik dan hendak memaki sang penabrak namun-
"Kris?!"
Kedua manik Yifan membola. Tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Seorang wanita cantik dengan balutan tutu dress baby blue dan heels yang mempercantik kaki jenjangnya. Melangkah cepat kearahnya kemudian memeluknya erat.
"Kris i miss you so much... Really really miss you.."
Deg!
"Cl..Claudia..."
"Krissie! How long since we spend out our time in Prague!" pekik wanita itu senang. Melompat kecil seraya mendekap Yifan erat.
"U..Umh.. Maaf Claudia tapi bisakah kau lepaskan aku? Aku tak dapat bernafas.."
Wanita itu terkekeh anggun. Melepaskan pelukannya kemudian menatap pria tampan dihadapannya dengan kedua netra yang berbinar.
"Tak kusangka akan bertemu lagi denganmu... Kau.. Semakin tampan.."
Sreeet
Suara robekan kain yang cukup nyaring itu membuat keduanya menoleh. Mendapati pemuda cantik bertopi animal dengan boneka panda yang terbelah dua di genggamannya.
"Tao-er?! Kenapa bonekanya terbelah dua?!" ujar Yifan seraya menghampiri pemuda manis yang terdiam itu.
"H..ah?"
Bagai tersadar dari keterlamunan, Zitao menoleh pada Yifan yang menatapnya khawatir. Melirik sekilas kepala panda yang telah terpisah dari tubuhnya, kemudian beralih pada Claudia yang tersenyum tipis padanya.
"Kau baik-baik saja sayang?"
"U..um.. Tao baik-baik saja..."
Yifan menghela nafasnya pelan. Mengusap lembut sisi wajah Tao kemudian merangkul pinggang ramping itu. Membawanya pada Claudia dan disambut senyum ramah wanita itu.
"Perkenalkan Tao.. Dia Claudia.. Tapi kau bisa memanggilnya Likun.. Dia teman dekatku saat bekerja di Praha tiga tahun lalu.."
"Senang bisa bertemu denganmu Tao.."
Dengan ragu, jemari Zitao menyambut uluran tangan Claudia. Menjabatnya pelan kemudian menunduk singkat.
"Namaku Tao..."
"Aish.. How cute you are.." puji wanita itu pelan. "Kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Kris? Kalian terlihat akrab.. Ahhh biar kutebak.. Kau sahabatnya ya? Atau, adik kecilnya?"
Seketika Zitao terdiam. Entah mengapa hatinya merasa tak nyaman mendengar pertanyaan yang diberikan Claudia untuknya. Seperti merasa asing dan tersindir.
Dengan cepat, pemuda cantik ini melepaskan rangkulan Yifan pada pinggangnya. Membuat si tampan mengernyit bingung.
"Ada apa Zi-"
"Aku harus pergi ke toilet.." ujarnya singkat kemudian berlalu. Tak menghiraukan panggilan Yifan untuknya.
"Apa dia baik-baik saja Kris?"
Pria tampan ini terdiam. Menatap kearah Zitao yang menjauh dan beralih pada kepala panda yang tergeletak begitu saja ditanah. Memungutnya, kemudian menatap wanita cantik dihadapannya seraya tersenyum.
"Yeah.. Kuharap dia baik-baik saja..."
.
.
.
'Apa hubunganmu dengan Kris? Kalian terlihat akrab.. Ahhh biar kutebak.. Kau sahabatnya ya? Atau, adik kecilnya?'
Zitao menghela nafasnya pelan. Memandang pantulan dirinya di depan cermin. Membuka topi animal yang menempel apik di kepalanya dan membebaskan ekornya.
"Aku? Aku hanyalah kucing.."
Meraba sepasang telinga animal yang bergerak pelan diatas surai kelamnya. Melirik bayangan ekor berhias pita yang memantul di cermin.
"Hubungan? Aku bahkan tidak tahu apa hubunganku dengan Master Yifan..."
Jemari lentik cat hybrid berusia delapan belas tahun ini bergerak pelan. Meraba perut datarnya dimana makhluk mungilnya tertidur disana.
"Baby... Apa kau tahu.. Sebenarnya, aku bingung dengan pertanyaan wanita itu... Aku.. Tidak bisa menemukan jawabannya..."
Tersenyum kecil, Zitao pun membasuh wajahnya. Kembali memasang topi animalnya dan menyembunyikan ekornya. Merapikan pakaiannya kemudian berjalan keluar dari toilet denggan tergesa. Tak menyadari seseorang menatapnya. Dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
.
.
.
"Jadi, kau ke China untuk meresmikan butik barumu?"
"Yeah... Dua hari yang lalu.. Dan aku akan kembali ke Praha besok.."
Claudia berujar pelan. Menyesap teh dihadapannya kemudian tersenyum pada Yifan. Tak menyadari tatapan kesal dari pemuda cantik yang duduk di sebelah si tampan.
Ya. Bagaimana tidak kesal? Tiga jam yang berharga dan harusnya ia habiskan bersama orang yang dicintainya justru terbuang sia-sia dengan hadirnya wanita yang sungguh menyebalkan.
"Wahh.. Jika tahu kau datang sejak dua hari yang lalu, aku pasti menemanimu menghabiskan waktu disini... Maafkan aku ya?"
Twich! Twich!
Perempatan imajiner mulai muncul pada kepala Tao. Mengacak strawberry chesse cakenya seolah-olah makanan cantik itu telah melakukan kesalahan besar padanya.
Yifan mengucapkan kalimat itu dengan santai. Tersenyum tampan hingga membuat wajah cantik Claudia merona. Mengabaikan Zitao yang terdiam dengan camilannya seolah pemuda itu tak ada.
"Terimakasih Kris.. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu.. Andai saja kau tak pergi dengan cepat, mungkin... Aku bisa menempati sedikit bagian di hatimu..."
"Bisakah kita pulang sekarang? Aku lelah..."
Ucapan lirih Tao menghentikan perbincangan Yifan dan Claudia. Membuat si tampan mengernyit bingung menatapnya, kemudian menggenggam lembut jemari lentiknya.
"Ada apa Tao? Tak biasanya kau bersikap seperti in-"
"Jika Master masih ingin disini, Tao akan pulang sendiri.. Jiejie, aku permisi..."
Pemuda manis itu bangkit. Menyandang tas punggungnya kemudian berlalu dari tempat itu. Mengabaikan segalanya dan berlari kearah gerbang taman bermain itu.
"Zitao! Berhenti! Tao!"
Yifan berteriak. Berusaha menghampiri dan meraih kittennya. Namun sayang, pemuda manis itu terlebih dulu memasuki taxi dan menghilang dengan cepat.
"Arrgghhhhhh!"
"Kris.. Are you okay?"
Claudia terengah. Memegang bahu Kris seraya menatap pria itu cemas.
"I'm not okay! For God Sake! Dia sedang mengandung! Anakku!"
"Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?! Ia sendirian dan nekat pulang! Bagaimana jika hal buruk menimpanya?!"
"Hey! Hentikan segala pikiran burukmu itu! Jika kau memang mengkhawatirkannya, susul dia! Jangan hanya berdiri diam disini!"
Pria Wu ini mengerjap. Menatap wajah Claudia yang berada dihadapannya kemudian mengangguk cepat.
"Terimakasih.. Senang bisa kembali bertemu denganmu Wang... Kuharap, aku bisa menemanimu di lain waktu..." ujarnya kemudian berlalu. Meninggalkan wanita cantik yang tersenyum seraya menatap kepergiannya.
"Semoga bahagia Wu.. Wo ai ni.."
.
.
.
Brak!
Yifan membanting pintu utama mansion mewahnya dengan kasar. Kedua jemarinya terkepal kuat dan rahangnya mengeras. Berjalan dengan terburu menuju kamarnya.
Sepasang darkchoconya memicing kala mendapati sosok Zitao yang bergelung dalam balutan bed cover tebalnya. Melangkah mendekati kitten hybrid itu kemudian duduk di sisinya.
"Kau kenapa Tao? Kenapa kau bersikap aneh hari ini? Kita baik-baik saja kan selama bermain tadi? Lantas mengapa kau tiba-tiba bersikap aneh dan pulang begitu saja?"
Pemuda cantik itu diam. Tak menjawab sepatah kata pun dan lebih memilik untuk sedikit bergeser. Menolak sentuhan si tampan Wu pada bahu sempitnya.
Sreeet
Brugh!
Dengan kasar, pria Wu ini menarik selimut yang dikenakan Zitao. Beringsut mengunci pergerakan kucing manis itu dengan tubuh tegapnya.
"Jawab aku Huang Zi-"
"Master masih bisa bertanya kenapa Tao diam.. Tapi Master tidak menyadari apa yang telah Master perbuat!" sentak Zitao.
"Master pikir Tao senang melihat Master terus mengobrol dengan wanita itu?! Master pikir Tao baik-baik saja saat melihatnya memeluk dan menggoda Master?! Meskipun Tao hanya seekor kucing yang Master pungut, setidaknya anggaplah Tao ad- Mmpphhhh!"
Dengan tidak sabaran, pria Wu ini membungkam bibir peach Zitao. Melumatnya cepat dan melesakkan lidahnya untuk menyapa rongga manis itu. Menyesap manisnya susu dan tak memberikan kesempatan bagi si cantik untuk bernafas.
Zitao menolak. Menggelengkan kepalanya yang berujung sia-sia. Air mata mulai membasahi kedua pipi gembilnya. Memukul pelan dada Yifan untuk sekedar mengambil nafas.
"Kembalikan saja Tao pada nenek Liu miaw.. Hiks.. Hiks.. Tao mau nenek Liu miaw..."
"Aku takkan pernah menyerahkanmu pada siapapun Huang Zi Tao..."
Dengan lembut Yifan menarik lengan Zitao untuk bangun. Membawa sosok cantik itu duduk di pangkuannya kemudian memeluknya erat.
"Jangan menangis.. Kau paling tahu kalau aku tak dapat melihatmu menangis.." ujarnya pelan.
"Hiks.. Hiks.. Biarkan Tao kembali miaw... Tao hanya kucing yang Master selamatkan.. Hiks.. Hiks..Tao bukan siapa-siapanya Master kan? Hiks.."
"Hey.. Siapa yang mengatakan itu padamu?"
Terlihat gurat terkejut pada paras dewa Yifan. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dan menjauhkan jemari Zitao yang menutupi parasnya. Menatap wajah sedih makhluk menggemaskan itu.
"Tidak ada yang mengatakan itu pada Tao... Tapi saat Likun jie bertanya tentang hubungan Tao dengan Master, Tao tidak bisa menemukan jawabannya... Satu-satunya yang dapat menggambarkan hubungan Tao dengan Master hanyalah.. Majikan dan hewan peliharaannya..."
Pemuda cantik itu mengatakan segala isi hatinya dengan isakan. Sepasang blackpearlnya menolak membalas tatapan Yifan dan memilih untuk menundukkan kepalanya.
"Kau salah besar jika menganggap apa yang ada diotakmu itu nyata Tao... Harus berapa kali kujelaskan kalau kita saling memiliki heum?"
"Tapi majikan dan hewan peliharaannya pun saling memiliki... Tao sudah berpikir dengan keras.. Sampai-sampai kepala Tao sakit..." isak Zitao frustasi seraya memukul kesal kepalanya.
"Sayangku..."
Kembali memeluk sosok mungil itu. Perlahan senyuman tipis menghiasi paras tampan Yifan. Ia mengerti perasaan yang pemuda cantik itu rasakan saat ini.
"Jadi kau merasa kesal karena tak tahu apa status hubungan kita hmm?"
"Salah satunya Master... Tao juga kesal karena Master lebih banyak mengacuhkan Tao tadi.."
Mengecup puncak surai kelam pemuda itu berkali-kali, Yifan pun menggumamkan maaf. Merasa amat menyesal karena telah membuat kitten manisnya bingung dengan hubungan yang mereka jalani.
Perlahan melepaskan dekapan itu kemudian merogoh sakunya. Pria Wu ini menarik keluar sebuah kotak beludru biru. Membukanya kemudian menunjukkannya pada Zitao.
"Cincin?"
"Sebenarnya, sudah sangat lama aku ingin melakukan ini... Seharusnya kulakuan saat kita berada di taman dan naik bianglala.. Tapi, karena semua yang terjadi sungguh jauh dari apa yang aku harapkan, akan kulakukan disini saja.."
Kitten hybrid berusia delapan belas tahun ini terdiam. Masih tak mengerti dan hanya menatap bingung Yifan yang memasangkan cincin platina dengan berlian kecil pada jari manisnya.
"Dengarkan aku Huang.. Aku tak pernah perduli.. Siapapun kau dan darimana kau berasal... Bagaimana wujudmu, maupun sikapmu.. Aku mencintaimu.. Dengan segenap jiwa dan raga yang aku punya..."
Ada sedikit jeda dalam kalimat Yifan. Pria Wu ini menghela nafasnya pelan. Berusaha menghilangkan perasaan gugup luarbiasa yang menyelimuti hatinya.
Namun kala ia melihat sosok cantik itu menatapnya dengan begitu lugu dan polos, segala perasaan buruk itu menghilang. Tergantikan dengan senyuman tampan dan keteguhan hati.
"Kau harus menikah denganku Tao..."
Singkat. Padat. Dan mampu membuat kucing manis ini membola dengan rahang kecilnya yang terjatuh. Tak percaya.
"Aku ingin kau jadi pendamping hidupku.. Temanku dikala sedih atau senang.. Ibu dari anak-anakku.. Aku ingin kau menjadi segalanya bagiku..."
"Master... Apakah Master sedang bergurau?" tanya Zitao lirih.
Pria Wu ini menggeleng. Meremat lembut bahu sempit Zitao dan menatap sepasang blackpearl favoritnya teduh.
"Aku bahkan tak pernah seserius ini dalam hidupku sayang..."
Perlahan, sebuah senyuman terbit pada paras menawan Zitao. Beringsut memeluk sosok Yifan erat seraya terisak pelan. Terlalu bahagia untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Jangan pernah ragukan aku atau hubungan kita Huang... Jika kau merasa kesal, katakan padaku.. Jangan dipendam sendirian.. Kau tahu, aku hampir gila saat memikirkanmu pulang sendirian dengan taksi... Aku mencintaimu.. Sungguh mencintaimu.."
"Hiks.. Hiks.. Maaf.. Maafkan Tao juga miaw.. Tao sudah membuat Master marah dengan sikap menyebalkan Tao.. Hiks.. Hiks.. Tao benar-benar takut Master meninggalkan Tao dan hanya menganggap Tao peliharaan yang hanya diperlukan saat bosan.. Hiks.. Hiks.. Maaf.. Hiks.. Maafkan Tao miaw..."
"Shhh... Sayangku.. Jangan menangis... Sudah... Lupakan saja hal buruk yang terjadi hari ini okey?"
Zitao menggangguk dalam dekapan Yifan. Ekornya bergoyang pelan. Membiarkan Sang Master menepuk pelan punggungnya dan bersenandung lirih. Menyamankan dirinya yang memang benar-benar merasa lelah.
Perlahan sepasang blackpearl itu terpejam. Seiring dengan helaan nafas yang teratur dan berhentinya ekor hitam itu bergoyang.
Yifan tersenyum. Sedikit mengintip kitten cantiknya yang telah terlelap kemudian membaringkan tubuh semampai itu. Bangkit dan berdiri di sisi ranjang, serta menyelimuti Zitao.
"Setelah ini kita akan bahagia Tao-er.. Aku berjanji.. Karena aku sungguh mencintaimu.. Dan aku, akan membuktikan segala ucapanku padamu..."
Mengusap pelan puncak surai itu, kemudian mendekatkan wajahnya pada pahatan cantik dihadapannya.
"Sweet dream.. My lil' kitty.."
Dan sebuah kecupan manis pun menutup kisah mereka hari itu. Dengan sebuah kepastian untuk Tao, dan keteguhan hati seorang Yifan Wu.
Mereka tak pernah menyadari, bahwa seseorang selalu memperhatikan mereka. Mengawasi dalam diam tanpa ada yang mengetahuinya.
Sosok wanita tua dengan cheongsam dan sanggul pada surai peraknya itu tersenyum. Memuji bagaimana seorang Yifan berhasil membuat satu-satunya kitten paling nakal miliknya dapat tunduk dan jatuh dalam pesonanya.
"Asalkan kau tidak meninggalkannya Yifan.. Kuharap hal itu takkan pernah terjadi.."
"Karena dengan meninggalkan dia yang telah bergantung padamu, akan membunuhnya.. Baik hati, maupun raganya..."
"Kutitipkan kitten nakalku padamu.."
Dan setelahnya, sosok itu pun menghilang. Memudar bagaikan bayangan, dan menyisakan kucing abu-abu tua yang berlari meninggalkan mansion mewah itu.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
