"KITTEN"

Wu Yi Fan & Huang Zi Tao

This is Yaoi fict!

If you don't like the pairing, just close this page please!

You've been warned baby...

.

.

.

Hanya sebuah hal sederhana. Amat sangat sederhana yang diminta oleh seorang Yifan Wu kala ia merasa hidupnya mulai-cukup-sangat-amat-terlalu- monoton dan berwarna monokrom.

Ia ingin Tuhan memberikan sedikit warna dan penyegar.

Agar ia, dapat lebih bersemangat menjalani hidupnya.

.

.

.

.

KITTEN

.

.

.

Master Yifan...

Maaf, Tao harus pergi...

Tao..

Belum siap untuk menikah...

Jangan cari Tao karena Tao akan baik-baik saja..

Wo ai ni..

.

.

.

"Nenek Liu!"

Pekikan merdu itu terdengar nyaring dan menggema. Memenuhi setiap sudut ruangan sebuah rumah bernuansa khas China ini.

Seiring dengan suara derap langkah yang terdengar tergesa. Terlihat sosok wanita tua dengan surai perak dan cheongsam maroon yang membalut tubuhnya.

Membola kala mendapati seorang pemuda cantik dengan surai kelam, dan telinga animal yang bergerak pelan berdiri di ruang tengah rumahnya.

"Z.. Zitao?"

"Nenek Liuuuuu!"

Tap! Tap! Tap!

Brugh!

Pemuda cantik bermarga Huang itu berlari cepat. Menubrukkan tubuhnya seraya memeluk sosok renta dihadapannya dengan begitu erat.

"Zitao merindukan nenek! Kenapa tidak pernah datang menemui Tao lagi?!"

Kitten manis itu berujar dengan nada suara merajuk. Kedua manik kelamnya berkaca-kaca dan bibir kucingnya bergetar pelan. Siap untuk menangis.

Nyonya Liu mengerjap pelan. Tersadar dari keterkejutannya, kemudian tersenyum lembut. Mengusap punggung kitten kesayangannya begitu lembut.

"Bukankah kau sudah bahagia bersama Majikan barumu? Untuk apa aku datang menemuimu? Aku sudah yakin bahwa kau berada di tangan yang tepat Zitao..."

Pemuda cantik itu menggigit bibir bawahnya resah. Melepaskan pelukannya dan menatap Nyonya Liu dengan pandangan yang tak fokus. Membuat wanita berparas aristokrat itu mengangkat sebelah alisnya.

"Katakan padaku kucing nakal... Kekacauan apalagi yang kau perbuat hah?"

Tubuh tinggi Zitao bergetar. Mengkerut takut kala mendapati paras majikan galaknya yang seakan dapat menembus jantungnya.

"Z..Zitao..."

"A..ha?"

"Zitao.."

"Katakan dengan cepat!"

Menelan salivanya gugup, si cantik Huang meraih jemari keriput Nyonya Liu. Menggenggamnya erat seraya menatap dengan kitty eyes andalannya yang berkaca.

Berharap bahwa wanita tua dihadapannya takkan murka.

"Zitao kabur dari rumah Master Yifan..."

"Apa?!"

Manik abu-abu wanita itu membola. Tak percaya dengan apa yang terlontar dari belah bibir sewarna peach kucing kesayangannya.

"Kau kabur dari rumah Yifan?! Bodoh! Lusa hari pernikahanmu kan?! Dasar nakaaaal!"

"Kyaaaa! Nenek hentikan! Telinga Tao sakiiit!"

Zitao memekik kala jemari keriput Nyonya Liu menarik kuat telinga animalnya. Membuatnya harus menunduk demi menyelamatkan pendengarannya.

"Rasakan ini! Kucing nakal! Kau memang harus diberi hukuman!"

"Ya! Lepaskan nek! Ini benar-benar sakiit! Awww!"

Pletak!

Sebuah pukulan yang cukup kuat mendarat diatas puncak surai si manis. Membuatnya mengaduh kesakitan seraya terduduk di depan kaki sang Nyonya. Mengusap kepalanya pelan.

"Bagaimana bisa kau meninggalkan calon suamimu di rumah besar itu?! Kalian berdua akan menikah lusa Zitao! Lusa! Demi Tuhan!"

Nyonya Liu memijat pelipisnya frustasi. Padahal ia sudah bersukacita dan merelakan si kucing untuk dipinang seorang pria mapan nan tampan yang benar-benar mencintainya. Namun yang hendak dipinang justru membuat masalah besar dengan pergi meninggalkan pernikahannya begitu saja.

Mau diletakkan dimana Nama Baiknya dihadapan Si Tampan Wu itu?

Grepp!

Dengan kasar Nyonya Liu menggenggam jemari Zitao. Memaksa pemuda itu bangun dan menariknya paksa menuju pintu utama rumah itu.

"Pulang! Aku sudah memberikanmu pada orang lain! Kau bukan lagi tanggung jawabku! Pulang!"

"Tidak mau! Tao mau disini saja! Tao tidak mau bertemu dengan Master Yifan miaw!"

Zitao meronta. Merengek seraya menangis. Entah mengapa pemuda cantik yang tengah mengandung itu menolak mentah-mentah untuk kembali ke pangkuan Masternya.

"BERHENTI BERSIKAP KEKANAK-KANAKAN HUANG ZI TAO!"

"Huang Zi Tao! Hentikan rengekanmu itu!"

Seketika sepasang manik kelam Zitao membola. Bungkam kala sepasang telinganya seolah mendengar bentakan lain. Dari Yifan. Bukan Nyonya Liu.

"Hiks.. Hiks.. Master Yifan... Hiks.. Hiks.."

Kitten cantik itu menutup kedua telinga animalnya. Menggelengkan kepalanya kuat kala merasakan suara berat itu mendengung di kepalanya.

"Tidak mau! Hiks.. Hiks! Tao tidak mau kembali! Tidak mauuu!"

Nyonya Liu menghela nafasnya pelan. Kedua telapaknya bergerak untuk merengkuh tubuh semampai dihadapannya. Mendekapnya lembut seraya menggumamkan kata-kata penenang.

"Zitao... Sudah... Jangan menangis lagi... Nenek takkan memaksamu kembali ke tempat Tuan Wu..."

Perlahan isakan itu terhenti. Menyisakan tubuh yang bergetar samar dan wajah sendu si kitten cantik yang menyenderkan kepalanya pada bahu sang Nyonya.

"Benarkah? Nenek takkan memaksa Tao untuk pulang lagi miaw?"

Nyonya Liu tersenyum. Menepuk pelan punggung sempit Tao, kemudian melepaskan pelukannya perlahan.

Menangkup kedua pipi gembil pemuda manis itu lembut. Menatap dalam sepasang manik kelam yang berkaca dihadapannya.

"Ya.. Dengan satu syarat..."

Zitao mengernyitkan dahinya. Menatap tak mengerti majikan terdahulunya.

"Kau harus memberitahu aku.. Apa alasanmu pergi dari rumah itu..."

.

.

.

Brukk

Kedua tungkai panjang pria tampan ini melemas. Bertumpu pada sisi meja kerjanya.

Kedua manik darkchoconya bergerak liar dan jemarinya menggenggam erat secarik kertas yang sebelumnya ia temukan diatas mejanya.

"Kris... Kau tak apa?"

Tepukan pelan pada bahunya membuat Yifan tersadar. Mengambil nafasnya yang terasa begitu berat, kemudian mengalihkan pandangannya pada seorang pria tampan yang berdiri di belakangnya.

"A-aku baik-baik saja Joon... A-aku..."

Sreet!

Joon menarik cepat secarik kertas yang berada dalam genggaman Yifan. Membaca sederet kalimat yang ada dan membola. Tak percaya.

"Pengantinmu... Pergi?!"

Yifan bingung. Ia tak tahu harus menjawab apa.

Hatinya terasa hancur. Bahkan otaknya seakan kosong dan tak dapat berfikir dengan jernih.

Zitao yang beberapa jam lalu masih memeluknya. Zitao yang beberapa jam lalu masih mengeong padanya. Zitao yang beberapa jam lalu masih merengek padanya untuk tetap tinggal.

Zitao...

Zitao..

Zitao.

"-ris! Kris hey!"

Yifan mengerjap. Kembali menatap sepasang manik Joon yang memandangnya sedih. Tertawa miris melihat nasibnya dan cintanya.

"Aku tak apa! Kau berlebihan Kim Joonmyeon! Hahaahaha!"

"Tidak! Kau tidak baik-baik saja... Ayo! Kita pergi! Kita cari calon istrimu!" ujar Joonmyeon seraya menarik lengan Kris.

"Tidak! Tidak perlu! Biarkan saja dia pergi! Aku takkan mati tanpanya!"

Yifan melepaskan genggaman Joonmyeon pada lengannya. Masih dengan tawanya yang menyedihkan dan air mata yang entah sejak kapan membasahi pipi tirusnya.

Seumur hidupnya mengenal pria Wu itu, Kim Joonmyeon belum pernah melihat CEO muda itu menangis. Bahkan kala setiap orang menolaknya di panti, Yifan tetap pada pendiriannya.

Dingin dan arogan.

Namun kali ini ia terdiam. Sahabat kecilnya tertawa. Namun dengan air mata. Tanpa diberi tahu pun Joonmyeon tahu bahwa Wu Yi Fan tidak baik-baik saja.

"Wu.. Kau takkan baik-baik saja... Ayo! Kita cari Zitao dan menyeretnya pulang! Pemuda itu pasti belum ja-"

Plak!

Dengan kasar Yifan menepis jemari Joonmyeon. Melangkah gontai meninggalkan ruang kerjanya menuju kamarnya dan Zitao yang berada di lantai dua.

Blam!

Bantingan pintu yang begitu kuat itu membuat pria berdarah Korea ini menghentikan langkahnya yang hendak mengejar Yifan. Membuatnya berdiri diambang papan dengan ukiran Liong pada permukaannya itu.

Prang!

"Aaaaarrgggghhhhhhh!"

Bruagh!

"Bastard! Motherfucker! Fuckkk!"

Bruk!

"Huang Zi Taooo! Zi Taoooooooo!"

Joonmyeon menghela nafasnya pelan. Memutuskan meninggalkan sahabatnya dan membiarkan pria Wu itu melampiaskan kekecewaannya.

"Huang Zi Tao... Aku benar-benar penasaran padanya... Seberapa menawannya pemuda itu hingga bisa membuat Yifan bertekuk lutut di kakinya..."

.

.

.

"Kau yakin ingin menginap disini?"

Nyonya Liu bertanya seraya mengusap surai Zitao. Pemuda itu tampak nyaman merebahkan kepalanya pada pangkuan majikan terdahulunya. Memejamkan sepasang onyxnya kala merasakan usapan lembut pada puncak kepalanya.

"Mungkin akan tinggal disini... Selamanya..."

Nyonya Liu menghela nafasnya pelan. Otaknya sibuk memikirkan cara untuk membuat kitten nakal yang tengah mengandung itu mau kembali ke Mansion Wu.

"Katakan padaku... Apakah Yifan.. Menyakitimu?"

Zitao menggeleng pelan. Membuka kedua maniknya dan menatap langit-langit kamar.

"Apakah.. Kau tak mencintainya? Kau membencinya Tao?"

Gelengan pelan kembali diberikan Zitao sebagai jawaban atas pertanyaan Nyonya Liu. Namun dengan samar. Begitu samar.

"Lalu apa yang membuatmu meninggalkannya?"

Pemuda cantik berusia sembilan belas tahun itu menghela nafasnya pelan. Membalikkan tubuhnya hingga berbaring memunggungi sang Nenek.

"Zitao... Aku bertanya padamu.. Kenapa bersikap seperti itu hah?"

"Hiks.. Hiks.."

Terdengar isakan samar dari belah bibir pemuda Huang itu. Punggung sempitnya bergetar kecil. Membuat Nyonya Liu bingung dengan sikap kittennya yang tak wajar.

"Zitao jawab a-"

"Apakah aku pantas untuknya?"

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak normal... Aku laki-laki setengah kucing yang punya telinga dan ekor aneh pada tubuhku.. Aku bisa mengandung seperti seorang perempuan dan aku akan terikat pada orang yang berhasil menjamah tubuhku... Apakah itu terlihat normal?"

"Apakah salah jika aku berpikir bahwa aku tak pantas bersanding dengannya? Dia laki-laki tampan... Mapan... Terkenal dan disegani banyak orang... Sedangkan aku? Apa yang akan orang-orang pikirkan tentang pemuda aneh setengah kucing bisa bersanding dengan seorang Wu Yi Fan..."

"Zitao..."

"Aku belum selesai nek! Bagaimana jika orang-orang menangkap aku?! Menyangka aku seorang maniak dan mencari tahu darimana aku berasal dan bisa mendapatkan telinga dan ekor ini?! Bagaimana kalau orang-orang menghujat Yifan karena menikahi aku?! Bagaimana jika mereka menghancurkan reputasi Yifan dan membuatnya dalam kesusahan?! Bagaimana bisa aku melihat orang yang kucintai hancur karena aku?!"

Zitao berujar dengan isakan yang kacau. Tubuhnya bergetar hebat dan ia masih menolak menatap Nyonya Liu. Tak menyadari pandangan terluka dari sepasang manik abu-abu wanita tua itu.

"Kau menyesal dengan keadaanmu sekarang Tao?"

Bertanya dengan teramat lirih. Membuat Zitao tersentak, kemudian bangkit dari tidurnya cepat. Menggeleng seraya menatap raut kecewa dari majikannya terdahulu.

"Tidak! Bukan itu maksudku! Aku tak pernah menyesal! Aku bersumpah aku selalu mensyukuri keadaanku yang seperti ini Nek!"

"Maaf... Karena aku dan mendiang suamiku, kau harus menanggung kesakitan dan malu seperti in-"

"Tidak! Tidak! Jangan berkata seperti itu! Zitao tak pernah merasa sakit atau malu! Kalian tidak bersalah! Jangan seperti ini! Maaf.. Maafkan Tao... Maaf.."

Zitao berujar seraya menggenggam erat jemari Nyonya Liu. Mengecupnya berulang kali seraya berucap banyak maaf.

"Jika tidak ada Nenek dan Kakek, mungkin Tao takkan bisa bernafas di dunia ini... Mungkin.. Mungkin Tao hanyalah bangkai di pinggir jalan.. Hiks.. Hiks.. Ampuni Tao.. Ampuni Tao.."

Zitao menangis. Bagai anak kecil. Sorot matanya menggambarkan penyesalan yang begitu besar. Membuat Nyonya Liu teringat akan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.

"Liu Bei..."

.

.

.

Sore itu, hujan membasahi kota Shanghai. Seiring dengan sepasang pria dan wanita paruh baya yang berjalan menyusuri pedestrian dengan sebuah payung hitam yang menaungi tubuh mereka.

Liu Bei dan Liu Mei. Sepasang ilmuwan jenius yang hidup tertutup dari dunia luar.

Mereka menghabiskan waktu mereka sebagai sepasang suami isteri yang bahagia dan melakukan berbagai eksperimen tertutup dalam hunian megah mereka.

Tak ada satupun orang penting di dunia yang tak mengenal mereka. Bahkan tak jarang mereka mendapatkan tawaran untuk bekerja bagi instansi penting sebuah negara.

Sayangnya, Tuan dan Nyonya Liu sama sekali tak tertarik dengan uang. Mereka merasa bahagia hanya dengan hidup berdua dan melakukan penelitian di laboratorium tertutup yang mereka miliki di mansion mewah mereka.

"Kau ingin pergi kemana lagi hari ini? Kita sudah mengunjungi banyak tempat dan menghabiskan banyak waktu diluar rumah... Kau tahu kalau fisikmu itu lemah dan tak dapat terus-menerus melakukan pekerjaan berat..."

Nyonya Liu mengoceh kesal. Merutuki sikap suaminya yang begitu keras kepala dan membuatnya kelihatan seperti wanita galak yang suka mengomel.

Ya, Tuan Liu lahir dengan fisik yang tidak sempurna. Jantungnya lemah dan tubuhnya tak dapat dipaksa untuk bekerja terlalu keras.

Nyonya Liu sudah mengusahakan berbagai cara untuk membujuk suami tercintanya agarr mau melakukan transplantasi. Namun pria tampan bermanik kelam itu menolak dengan tegas dengan alasan yang menurut Nyonya Liu sendiri tak masuk akal.

"Jantungku takkan pernah kutukar dengan milik orang lain.. Karena debarannya takkan sama setiap melihatmu... Hanya jantung ini yang akan berdetak keras saat bersamamu.. Dan karena jantung ini, aku menyadari kalau aku jatuh cinta padamu.."

"Baobei.. Sudahlah... Kita sudah membicarakan hal ini berulang kali.. Jika sudah tiba waktunya untuk mati, kenapa harus bersusah payah untuk bertahan hidup?"

Nyonya Liu berdecih. Namun tersenyum pada akhirnya.

Suaminya benar.

Untuk apa bersusah payah bertahan.

Jika pada akhirnya, Tuhan yang memberikan nafas hidup, mengambil kembali nyawamu?

.

.

.

"Argghhhhhhh!"

"Liu Bei bertahanlah! Hiks.. Hiks.. Aku belum siap! Tidak! Aku takkan pernah siap!"

Nyonya Liu menggenggam erat jemari suaminya. Dokter dan suster tampak berusaha menangani tubuh lemah itu. Menangis terisak kala melihat aliran darah yang melewati celah bibir suaminya.

"Jantungnya semakin melemah.. Pembuluh darahnya rusak karena dipaksa untuk bekerja terlalu keras... Transplantasi pun percuma.."

"Maafkan kami Nyonya.."

Wanita cantik ini menggeleng kuat. Semakin mengeratkan genggamannya pada jemari Tuan Liu. Menggeleng pelan kala melihat kardiograf yang menampilkan detak organ kehidupan pria tampan itu yang semakin melemah.

"Baobei... Sudah-lah.."

"Tidak.. Liu Bei aku bersumpah akan membencimu jika kau meninggalkan aku... Hiks.. Hiks.."

Tuan Liu tersenyum. Mengusap sisi wajah cantik isterinya. Memuja paras yang membuatnya jatuh cinta dan tergila-gila.

"Kau cantik sayang... Kau harus bisa menemukan peng-gantiku... Kau h-harus bahagia... Kau.. Ughhh..."

"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu jika segala kebahagiaanku ada padamu?!"

Sepasang manik kelam Tuan Liu kehilangan cahayanya. Dengan terengah ia mengangkat kedua sudut bibirnya. Berusaha tersenyum meski rasanya mustahil.

"K-kau akan menda-patkan caranya... Liu.. Mei.. W-wo ai.. Ni.."

Dan di sore itu, Nyonya Liu meraung. Pilu disebelah jasad suaminya.

Bahkan langitpun ikut berduka. Meneteskan air mata kesedihan yang seakan tiada berkesudahan.

.

.

.

Brak!

Sosok wanita ini melangkah cepat. Mendekap sesuatu dibalik mantelnya dengan erat. Memacu tungkai jenjangnya menuju tempat paling rahasia di kediamannya.

Laboratorium.

Membuka cepat mantelnya dan merebahkan sosok mungil yang sedari tadi di dekapnya.

"Aku harus cepat! Mereka pasti akan kemari dan membongkar semuanya! Sial!"

Sepeninggal Tuan Liu tiga hari sebelumnya, para intel negara-negara besar merencanakan sesuatu yang buruk padanya.

Pembongkaran laboratoriumnya untuk mengambil hasil penelitian yang dilakukannya dan Liu Bei selama ini.

Dengan cepat Liu Mei membuka lemari besar yang terbuat dari baja tebal. Mengeluarkan beberapa tabung kaca kecil yang berisi cairan.

Memakai sarung tangan karet dan masker pada wajahnya, wanita ini kembali pada sosok mungil yang berbaring pada meja stainless yang serupa dengan meja operasi di rumah sakit.

"Kucing manis... Aku akan menyelamatkanmu.."

Sosok berbulu kelam itu memandang sayu Nyonya Liu. Dadanya bergerak cepat. Menandakan nafasnya yang memburu.

Nyonya Liu meraih sebuah tabung kaca khusus. Berbeda diantara tabung lainnya karena berwarna keemasan. Mengusap lembut puncak kepala kucing mungil itu seraya berujar pelan.

"Liu Bei... Aku berhasil menemukan caranya... Cara dimana aku takkan kehilanganmu... Cara dimana aku akan melihat sosokmu.. Pada kucing kecil ini.."

Dan hal terakhir yang diingat oleh makhluk menggemaskan itu adalah Nyonya Liu yang menyuntikkan cairan pada nadinya. Membuat kepalanya terasa pusing dan menggelap.

.

.

.

Seorang pemuda bersurai jelaga membuka kedua matanya perlahan. Terlihat sebuah masker oksigen terpasang apik pada hidungnya. Membantunya bernafas.

Mengerang pelan kala mencoba bangkit dari tidurnya. Membola kala melihat sekelilingnya.

Pemuda cantik ini berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun rasanya begitu sulit. Sampai ia menyadari kala pandangannya tertuju pada sepasang tangan dan kaki yang berada di tubuhnya.

"Miaw!"

Pemuda ini bergerak refleks. Mencabut seluruh peralatan medis yang terpasang apik pada tubuhnya. Mengusap kasar permukaan kulitnya seolah membenci apa yang ada pada tubuhnya.

"Miaw! Miaw! Miaw!"

Hanya suara meongan yang keluar dari bibir sewarna persik itu. Bingung dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya.

"Hiks.. Hiks.. Miaw! Miaw! Miaw!"

Brak!

Pintu ruang rawat itu terbuka. Menampilkan sosok wanita cantik berjas putih yang berjalan cepat kearahnya. Membuatnya beringsut takut dan merangkak menjauh.

"Zitao! Jangan banyak bergerak! Tubuhmu belum stabil!"

Mendengar suara yang tak asing, pemuda itu menoleh. Mendapati sosok yang seperti pernah ia jumpai dalam mimpinya.

Wanita itu berjongkok. Mengusap lembut surai jelaga Zitao yang terisak di tempatnya. Memeluk tubuh semampai itu lembut seraya bergumam di dekat telinga animalnya.

"Kau.. Benar-benar mirip dengannya... Kau... Hiks.. Hiks.. Maafkan aku.."

Zitao kembali bersuara. Hendak bicara dan bertanya apa yang terjadi padanya. Namun yang terlontar dari bibirnya hanya meongan lirih.

"Aku terpaksa menanamkan inti sel dari jasad suamiku pada tubuhmu... Aku... Aku terpaksa melakukannya untuk menyelamatkanmu... Dan menghancurkan laboratorium itu..."

"Mereka mengincarku setelah suamiku meninggal.. Aku terdesak dan harus mengamankan satu-satunya hal berharga dalam hidupku... Aku.. Maafkan aku.."

Zitao terdiam. Membiarkan Liu Mei terisak seraya memeluknya. Perlahan air mata mulai menetes dari sepasang blackpearlnya.

Ia laki-laki sekarang. Dan ia manusia.

Manusia setengah kucing.

Perlahan jemari Zitao bergerak. Balas memeluk sosok rapuh yang mendekapnya seraya kembali mengeluarkan meongan lirih.

Berusaha menerima segalanya.

.

.

.

"Maaf.. Hiks.. Hiks.. Nenek maafkan Tao.. Hiks.. Hiks.. Maafkan Zi-"

Grep

"Tak apa.. Jangan menangis lagi... Aku tidak bisa melihatmu menangis lagi..."

"Aku takkan pernah kecewa padamu karena kau tak pernah kecewa padaku.. Bahkan saat aku mengubah dirimu seenaknya dan memaksamu beradaptasi dengan semuanya..."

"Aku menyayangimu Tao.. Aku menyerahkanmu pada Yifan karena aku tahu dia pria yang baik... Dia begitu mencintaimu... Dan menyayangimu... Dia tak pernah mempermasalahkan siapapun dirimu dan darimana kau berasal.. Bahkan dengan segala sikap manjamu..."

"Aku... Hanya ingin kau bahagia... Sudah saatnya kau memiliki kehidupanmu sendiri..."

Zitao menatap Nyonya Liu yang menangis dalam diamnya. Mencari alasan lain yang membuatnya tak dapat bersama Yifan.

"Apakah... Nenek akan baik-baik saja jika Tao tak ada?"

Wanita itu tersenyum. Mengusap jejak air mata yang membasahi pipi gembil calon ibu itu kemudian menggesekkan hidung mereka pelan.

"Aku akan baik-baik saja jika kau mau kembali pulang ke rumahmu... Rumah Yifan... Ke tempat orang yang mencintaimu.."

"Pulanglah Tao... Ke rumah calon suamimu... Aku... Akan sangat berterimakasih padamu dan hidup dengan tenang jika kau kembali padanya... Aku tahu kau sangat mencintainya, sampai-sampai kau bertindak sendiri dan memikirkan segalanya..."

Tangis Zitao pecah. Pemuda cantik itu menghambur ke pelukan Nyonya Liu seraya berujar banyak terima kasih. Mengundang kekehan geli dari wanita itu.

"Liu Bei... Sudah saatnya aku menyerah... Dan melepas bayang-banyangmu... Aku sudah mengerti arti kehilangan... Namun dibalik itu semua, aku mendapatkan kebahagiaan..."

"Liu Bei... Wo ai ni.."

.

.

.

Joonmyeon duduk termenung di balkon kamarnya. Menghela nafasnya pelan atas kejutan besar yang ia dapatkan ketika sampai di China.

Ia datang untuk menikahkan sahabatnya. Sebagai pastor muda yang "sedikit berbeda" dengan pastor kebanyakan, dan alasan persahabatan yang begitu erat, pria tampan ini bersedia meresmikan hubungan sesama jenis -yang jujur saja membuatnya tak bisa tidur seminggu penuh- sahabatnya.

Belum juga menyimpan kopernya, ia justru mendapatkan kejutan mencengangkan bahwa si pengantin yang katanya sedang mengandung pergi karena belum siap menikah.

Benar-benar aneh.

Ting.. Tong..

Ting.. Tong..

Ting.. Tong..

Suara bel pintu yang begitu ribut itu menyadarkan Joonmyeon dari keterlamunannya. Mendengus dan mengumpat pelan tentang betapa menjengkelkannya seseorang diluar sana.

Melangkahkan kedua kaki pendeknya cepat menuju pintu utama. Memutar kunci dan kenopnya dengan cepat kemudian-

Brukk!

"Hey! Siapa kau! Hey!"

Joonmyeon memekik kaget saat sosok pemuda menabrak dirinya dan berlari menuju tangga. Menghiraukan panggilannya dan terus memacu kedua kakinya menuju sebuah ruangan.

Brak!

Huang Zitao membuka kasar pintu kamarnya dan Yifan. Membola kala mendapati barang-barang yang hancur berantakan dan sosok pria yang duduk di lantai balkon.

Tanpa perduli dengan pecahan kaca yang terinjak oleh telapaknya, pemuda cantik ini melangkah. Perlahan menuju balkon dan berjongkok di hadapan Yifan yang duduk seraya memeluk lututnya.

"M-master... T-tao pulang..."

Hening.

Pria Wu itu tetap diam. Tak menggubris sentuhan Zitao pada lengannya. Tetap membenamkan kepalanya pada lututnya.

"Hiks.. Hiks.. Dui.. Dui bu qi.. T-tao minta maaf... T-tao.. T-tao takut semuanya rusak.. T-tao takut semua orang menghina Master Yifan... Tao takut... Mereka.. Mereka merasa aneh dengan Tao..."

"T-tao bukan manusia normal... Tao aneh dengan telinga dan ekor hewan ini.. Tao aneh karena bisa mengandung seorang bayi.. Tao... Si buruk yang.. Hiks.. Hiks.. Tidak pantas bersanding dengan.. Hiks.. Hiks.. Master-"

Grepp

"M-master Yifan?"

"Jika kau pergi lagi... Aku bersumpah akan mengakhiri hidupku... Aku tidak main-main dengan ucapanku... Wu Zi Tao.."

Pria Wu itu memeluknya erat. Mengecup pelan bahu sempit pemuda cantik itu. Tersenyum saat mendengar tangisan kitten manisnya yang seperti anak kecil.

"Maafkan Tao miaw! Tao sangat mencintai Master Yifan miaw! Hiks.. Hiks.. Maafkan Tao miaw!"

"Aku tak marah padamu Tao... Jangan menangis... Kau tahu aku paling tak bisa melihatmu menangis... Aku hanya takut kau pergi... Aku terlalu mencintaimu..."

Zitao mengangkat wajahnya. Jemarinya mengusap pelan pipi tirus Yifan yang lembab. Mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup pelan bibir calon suaminya.

Yifan memejamkan kedua darkchoconya. Merengkuh pinggang pemuda cantik yang begitu ia cintai itu untuk semakin merapat dalam dekapannya.

Membiarkan cahaya purnama menyinari tubuh mereka. Berharap sang waktu berhenti untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk saling mengerti.

Diambang pintu kamar, Joonmyeon terdiam. Memandang Zitao dan Yifan dengan penuh kekaguman.

Perlahan, pria tampan ini melangkahkan kakinya menjauh. Menutup pintu bermotif naga China itu perlahan tanpa menimbulkan suara yang berarti.

"Semoga Tuhan memberkati kalian berdua... Yifan, kau sungguh beruntung..."

.

.

.

Brak!

Suara pintu yang ditutup dengan kuat itu menggema di ruangan temaram ini. Seiring dengan sosok pria tampan yang menggendong seorang pemuda dengan balutan dress pada tubuhnya.

Merebahkan sosok cantik itu diatas ranjang dengan taburan mawar, pria itu melepas jas yang membalut tubuhnya. Melemparkannya ke sembarang arah dan mengukung sosok menawan dengan flower crown veils yang terpasang apik pada puncak surai legamnya.

"Kau begitu cantik Tao.." bisiknya pelan. Mengecup lembut dahi si cantik.

"T-terima kasih Master... Ummm... Kenapa menatap Tao seperti itu?"

Bukannya menjawab, Yifan terkekeh pelan. Berguling ke tempat kosong di sebelah Zitao kemudian memeluk perutnya lembut. Gerakannya hati-hati seakan Zitao adalah barang rapuh yang pecah jika tersenggol.

"Master Yifan..."

"Hmmm?"

"Terima kasih..."

Yifan membuka kedua netranya. Menatap manik Zitao yang mempesona. Mengusap pelan sisi wajah pemuda itu.

"Untuk?"

Zitao tersenyum. Meraih jemari besar Yifan kemudian mengecupnya pelan. Satu persatu tanpa ada yang terlewat.

"Terima kasih karena sudah menerima Tao apa adanya... Mengambil segala resiko yang ada hanya untuk Tao... Terima kasih..."

CEO Wu Empire itu tersenyum. Mengecup pelan belah persik Zitao kemudian bangkit dari acara berbaringnya. Menyeringai kala menatap kaki jenjang Zitao yang terekspos bebas.

"Tentu sayang.. Apapun untuk istriku tercinta.." ucapnya dengan nada menggoda.

Grepp!

"Kyaaa! Apa yang Master lakukan?! Turunkan Taoooooo!"

Pria Wu ini menulikan telinganya. Membawa istrinya menuju kamar mandi kemudian menutup pintunya dengan kasar. Membungkam bibir kucing itu dalam ciumannya yang menggoda.

"Kita akan bersenang-senang malam ini sayang! Siapa tahu babynya bisa bertambah jadi tiga!"

"Dasar mesum! Jauhkan tanganmu dari bokongkuuuuu! Master Yifan! Nyyaaaaaaahhhhh~~~~~~"

Dan malam itu berakhir manis. Juga panas oleh gelora gairah dan cinta dari si Tampan Wu dan kucingnya yang manis.

Ini hanyalah awal dari setitik warna dalam hidup sang Wu. Jalan mereka masih panjang. Dan pernikahan hanya awal.

Karena hidup tak hanya bahagia. Tak hanya bersedih. Tak hanya tertawa. Dan tak hanya menangis.

.

.

.

F I N

.

.

.

CUAP-CUAP PET:

Mungkin kittennya segini aja kali ya...

Kalau makin banyak takut jadi aneh...

Kalau ada request atau ide aku siap nampung kok...

Cuma ngetiknya saat ada waktu...

Terima kasih untuk kalian yang selalu respek dan mengikuti KITTEN selama ini..

Dari mulai saya post di Fb, sampai pindah ke FFN...

Teristimewa untuk Skylar Otsu dan L Venge yang kayaknya nongol selalu untuk memberikan komen...

Juga demo mengerikan dari jaman baheula..

Maaf jika FF ini mengecewakan dengan alurnya yang berantakan dan ceritanya yang amburadul...

Aku masih dalam tahap belajar dan akan selalu belajar...

Akhir kata, terima kasih banyak untuk waktu yang kalian luangkan untuk membaca FF nista ini...

Sampai jumpa di FF selanjutnya!

-brak!-

"Lo gak bikin adegan lahiran bebeb Jitaw gue Pet?!"

Maaf mas... Saya lelah... Kamu kebanyakan mau...-_-'

"Lah terus gue gimana?! Gue mau syuting coy! Masa perut gue melendung gini?!"

Lepas aja bantalannya Tao... Kan cuma pura-pura... -_-'

"Adegan ena-enanya mana?! Keenapa lo cut Pet?!"

"Fan please... Kalo itu gue yang request... Lo kan sialan... Harusnya cuma seronde malah sepuluh ronde!"

"Tapi babe.. Kita kan udah llama gak-"

"Bodo amat! Jauh-jauh sono dari gue! Dasar bolay!"

"Lah! Zi! Zitao! Yaaaak!"

- END beneran-

Reviewnya ditunggu!

Muach!

Regards,

Petrichor Wu