Disclaimer : Om Riordan
Warning : OC, cerita mainstream, dsb.
Chapter 3 :
Keesokan harinya, aku bangun sekitar jam delapan. Itupun karena Annabeth menggedor-gedor pintu.
"Raven, kau sudah bangun? Kita akan tur keliling Perkemahan," serunya. Ia lalu mengantarku ke kamar mandi dan untunglah airnya hangat. Setelah itu kami mengelilingi Perkemahan.
"Ini adalah Perkemahan Blasteran, tempat teraman bagi demigod untuk berlindung dan dilatih," ia menjelaskan.
"Apa itu demigod?" Aku bertanya.
"Demigod adalah anak-anak manusia blasteran dewa. Kau tahu mengenai dewa-dewi Yunani?"
"Eh, apakah ini semacam permainan?" Aku mengernyitkan kening.
Annabeth memutar bola matanya, "Apakah monster semalam semacam permainan?" Tanyanya.
Aku terdiam.
"Jadi Raven, dewa-dewi Yunani yang diceritakan dalam mitologi kuno benar-benar ada dan masih ada sampai sekarang," APA? Seakan belum cukup, ia melanjutkan, "Dan salah satunya adalah orangtuamu," DANG!
Annabeth tidak menghiraukan ekspresiku yang pasti mirip Mrs. Henderson setelah kuhantam wajahnya.
"Dewa-dewi kadang memiliki anak dari hubungannya dengan manusia. Anak-anak mereka adalah demigod. Kau, adalah demigod."
Hal-hal seperti ini tidak terpikirkan olehku sampai-sampai aku menyeletuk, "Tapi ibuku hanya karyawan toko dan sekarang dia ada di rumah."
"Bukan ibumu. Apakah kau pernah bertemu ayahmu?" Tanya Annabeth.
"Mmm, dia pergi saat aku berumur satu tahun. Mungkin dia punya istri lain," jawabku tergagap.
"Tidak seperti itu, ayahmu adalah salah satu dewa Yunani," ia menjelaskan dengan sabar. Kami mengitari kumpulan bangunan berbentuk U itu.
"Ini adalah Kompleks Lama. Terdiri dari 12 pondok untuk dewa-dewi yang dulu bertakhta di Gunung Olympus. Pondok 1 untuk Zeus, Raja para Dewa. Pondok 2 untuk istrinya, Hera," ia menunjuk bangunan megah dengan pilar-pilar bernomor 1 dan 2.
"Hera…" kataku. "Monster itu… dia menyebut-nyebut Hera."
Annabeth mengernyit, "Aku tidak pernah suka Hera. Ya, Lamia dulunya adalah seorang Ratu Libya. Dia cantik dan menarik perhatian Zeus. Sampai suatu waktu, Hera mengetahui perselingkuhan Zeus dengan Lamia. Hera marah dan membunuh anak-anak sang Ratu. Lamia menjadi gila dan mula memakan anak-anak orang lain. Lama-kelamaan, dia berubah menjadi monster."
Ouch. Itu mengerikan. Annabeth melanjutkan, "Monster dapat dibunuh, tapi cepat atau lambat, mereka dapat mewujud kembali dari kedalaman Tartarus. Jadi, selalu ada monster sebagai tantangan bagi para demigod seperti kita."
Kami berjalan terus menuju kumpulan bangunan aneh lain di area berbeda. "Ini Kompleks Baru. Setelah perang Titan kedua, dewa-dewi minor disediakan takhta di Olympus. Anak-anak mereka juga dapat tempat di Perkemahan," Annabeth sibuk berbicara saat kami masuk kompleks padat yang mirip perumahan mini itu.
"Pondok 50, tempat kau diperiksa semalam adalah tempat untuk anak-anak Asclepius, Dewa Penyembuhan," jelasnya.
"Siapa ayahku?" Tanyaku tidak yakin.
"Aku tidak tahu. Kita harus tunggu sampai kau diklaim oleh ayahmu sendiri. Saat ini, kau tidur di pondok 11 dulu, pondok Hermes, Dewa para Musafir,"
"Kau anak siapa?" Tanyaku.
"Pallas Athena, Dewi Kebijaksanaan, Seni, dan Strategi Perang."
Biarpun pengetahuan mitologi Yunaniku payah, tapi aku pernah mendengar tentang Athena. "Wow. Itu keren," seruku.
"Hey, kenapa di sini sepi sekali?" Aku heran melihat hanya beberapa anak berlalu-lalang ke kamar mandi.
"Ini Perkemahan Musim Panas. Para pekemah berkumpul saat musim panas. Segelintir pekemah yang tidak punya tempat bernaung lagi atau keluarga diperbolehkan tinggal di sini sepanjang tahun."
"Jadi, aku telat ya?"
"Ya, tapi kau tetap harus ke sini. Monster dapat membaui blasteran. Saat kau sudah menyadari siapa dirimu, baumu makin kuat dan makin berbahaya keadaannya. Kau harus segera dilatih."
Saat itu, kami masuk ke sebuah tempat yang mirip gudang senjata. "Ayo, kita harus memilihkan senjata untukmu," ajak Annabeth.
Aku memegang panah dan busur dan diminta untuk membidik. Bidikanku meleset terus selama sepuluh kali. Aku mencoba belati, belati kembar, dan pedang. Kata Annabeth aku cukup bagus. Tapi aku merasa tidak pas. Pencarian senjata untukku akhirnya dihentikan setelah Annabeth berpikir aku mengayun-ayunkan kapak dengan cara yang begitu berbahaya. "Kita lihat lain kali," ia memutuskan setelah aku hampir menebas lehernya dengan kapak raksasa bermata dua.
Setelah itu kami pergi ke Aula Besar untuk sarapan. Aku duduk bersama Annabeth di meja Athena. Katanya pekemah harus duduk di meja masing-masing. Tapi berhubung Perkemahan Musim Panas sudah berakhir, jadi tidak ada peraturan khusus untuk hal ini.
Sepanjang hari itu kuhabiskan untuk mempelajari dewa-dewi dan monster dalam mitologi Yunani kuno. Sayang sekali orangtua dewaku adalah ayahku. Kalau itu ibuku, aku bisa berharap dia Artemis.
"Raven, Artemis adalah dewi perawan. Ia tidak punya anak. Tapi pondok 8 disediakan bagi para Pemburu Artemis apabila mereka singgah kesini," kata Annabeth. Setelah itu dia menjelaskan tentang para Pemburu. Awalnya aku berminat, tapi tidak setelah kudengar bahwa mereka abadi. Annabeth menatapku dengan mata kelabunya, "Kau tidak peduli saat kukatakan mereka menampik laki-laki, tapi kau berubah pikiran saat kusinggung bahwa mereka abadi. Kau tidak tertarik dengan keabadian?"
"Bukan begitu. Aku hanya berpikir bahwa keabadian tidaklah semenyenangkan kelihatannya. Bayangkan kalau aku akan hidup terus, melihat masa demi masa berlalu. Melihat teman-temanku bertambah tua dan mati, sementara aku tetap seperti ini. Melihat dunia berubah, dan saat aku kembali ke suatu tempat, aku tidak bisa menemukan hal-hal yang dulu ada. Yang merupakan kenangan," jawabku.
Annabeth masih menatapku, aku tidak bisa membaca raut wajahnya. "Itu… pemikiran yang menarik," dia berkata. "Ibuku adalah Athena, dia menghargai kebijaksanaan. Jarang sekali manusia fana mempertimbangkan hal-hal itu. Memang, dengan umur yang pendek, manusia jadi mempunyai sesuatu yang patut diperjuangkan dengan sekuat tenaga." Annabeth terus memandangku dengan tatapan meneliti seolah aku adalah makhluk mitologi spesies baru. Setelah itu hening.
Aku melanjutkan membaca. Annabeth memberitahuku bahwa dewa-dewi punya aspek Romawi. Di San Fransisco ada lagi satu perkemahan bagi demigod yang lahir dari aspek Romawi dewa-dewi. Perkemahan Jupiter.
"Whoaa… jadi para dewa adalah penderita bipolar. Itu bagus," kataku sarkastis.
Annabeth mengunyah senyum. "Tapi kita bisa bekerja sama. Kami melakukan itu saat Perang Raksasa kedua. Sebelumnya, yah, para blasteran Yunani dan Romawi tidak bisa bersatu. Pertempuran besar antara kedua perkemahan adalah saat Perang Saudara Amerika."
Aku menaikkan alis, "Kenapa aku tidak heran ya," jawabku.
Annabeth tersenyum. "Sabarlah sedikit lagi. Kau harus berlatih dengan Chiron sebelum bisa pulang ke rumah. Untuk sementara aku mengawasi perkemahan karena Chiron sedang pergi."
"Chiron? Siapa dia?" Tanyaku.
"Dia centaurus penanggungjawab perkemahan ini."
"Oke, deh."
Demikian sesi belajar kami yang interaktif.
-continue-
