The Thrill of Chase
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Ryeowook
Kim Jongwoon (Yesung)
Lee Hyukjae (Eunhyuk)
Lee Donghae
Rate : M
Disclaimer : Original story by Lynda Chance - Remake dari novel dengan judul yang sama dengan sedikit perubahan agar sesuai dengan karakter. Saya cuma pinjam cerita dan nama cast(s)^^
Summary : Sungmin, Ryeowook dan Eunhyuk adalah teman sekamar dan sahabat baik. Mereka masing-masing bertemu dengan seorang pria yang sangat menyukai mereka dan mati-matian mengejar mereka. Setiap bagian menceritakan secara detail masing-masing karakter dan bagaimana usaha sang Alpha male untuk mendapatkan mereka.
Warning : Genderswitch || Mature Content || Sex Activity || Typo(s)
Don't Like Don't Read
Enjoys^^
.
.
.
Yesung & Ryeowook
Kim Jongwoon menunggu untuk untuk menyudutkan Kim Ryeowook ke lorong gelap menuju restroom dari klub dansa. Malam sudah larut dan Yesung (panggilan akrab Kim Jongwoon) lebih dari sekedar marah. Emosinya mudah meledak, libidonya tinggi, dan menghantam tubuhnya dengan intensitas yang kasar. Yesung sudah menunggu Ryeowook keluar dari toilet wanita selama dua puluh menit. Yesung tahu antriannya panjang, tapi tetap saja, dia ingin menyalahkan Ryeowook untuk penantian ini. Hal ini membuat agresi di dalam darahnya semakin besar.
Yesung berdiri di depan dinding dan mengamati gadis-gadis yang keluar dari toilet wanita. Lebih dari satu wanita yang melirik ke arahnya saat mereka berlalu. Perhatian yang tidak diinginkan itu membuat Yesung lebih marah lagi. Jika saja Ryeowook keluar dari sana maka Yesung bisa dengan segera mengakhiri ini semua.
Yesung berdiri di sebelah mesin penjual rokok dan akhirnya melihat Ryeowook keluar dari toilet wanita. Rambut pirang kuning tua menggantung seperti sutera di atas tonjolan payudaranya. Gairah Yesung meninggi dalam kebutuhan yang sengit saat wajahnya mengernyit menjadi tidaksabaran. Yesung tidak membuang waktu dan menarik tangan Ryeowook saat dia berjalan.
Ryeowook menghembuskan nafas tersentak saat pergelangan tangannya dikuasai oleh tangan yang kasar dan dia di tarik ke sudut gelap diantara mesin penjual otomatis dan dinding. Ryeowook membatalkan teriakannya saat dia mengenali wajah Yesung yang kini memandang ke arahnya. Detak jantungnya menjadi kacau dan kakinya mulai gemetar dengan hebat saat objek fantasi rahasianya menekannya ke dinding.
Yesung menjulang di depan Ryeowook, lengan depan Yesung berada di samping kepala Ryeowook. Yesung tinggi dan besar dan dia berdiri menutupi Ryeowook, otot-ototnya menjepit dan giginya mengeretak.
Gulungan erat ketegangan membakar tubuh yang menjulang di hadapan Ryeowook, bersandar ke arahnya.
"Dengar gadis pirang mungil, hal ini tak akan berhasil." Yesung mendesis.
Yesung terlihat menggeram. Marah dan tidak bersahabat. Kemarahan yang mendidih datang dari mata Yesung yang kini menunduk ke arah Ryeowook. Kemarahan yang mendidih dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang kimiawi. Sesuatu yang seksual.
Ketertarikan. Ketertarikan yang tidak diinginkan.
Ryeowook menarik nafas saat getaran keragu-raguan bercampur takut, rangsangan, dan kekecewaan dari kata-kata Yesung menyebar ke dalam tubuh Ryeowook. Sudah berapa lama Ryeowook berusaha untuk dekat dengan Yesung? Ryeowook tahu dengan pasti sudah berapa lama. Sudah empat minggu sejak sepupunya Sungmin berkencan dengan teman Yesung yaitu Kyuhyun.
Mereka berdua bertemu, saling bertukar nomor telepon, lalu tak ada apa-apa lagi.
Tak ada apa-apa untuk Ryeowook. Sungmin berada di surga ke tujuh berkencan dengan Kyuhyun. Atau Sungmin waktu itu berada di surga ke tujuh sampai seminggu lalu saat tiba-tiba Sungmin putus dengan Kyuhyun.
Ryeowook mengirim pesan SMS pada Yesung hanya untuk alasan itu. Untuk menolong sepupunya dengan memberikan kesempatan untuk Sungmin dan Kyuhyun berada di tempat yang sama dalam waktu yang sama.
Sepupunya dan Kyuhyun ditakdirkan untuk bersama. Ryeowook dapat merasakan hal itu dan itu cerita yang dia yakini. Tak ada alasan darinya selain itu saat mengirimkan SMS itu kepada Yesung.
Jika Yesung bisa meyakinkan dirinya soal itu maka dia bisa meyakinkan orang lain.
Tapi saat ini dia tidak bisa membuat pita suaranya bekerja karena Yesung berada di dekatnya, mengancamnya dengan besar tubuhnya dan cercaan di suaranya.
"Jawab aku." Kata Yesung kasar, penuh tuntutan.
"A-Apakah kau bertanya padaku?" tubuh mungil Ryeowook gemetar dengan hebat dia hampir tak bisa mengontrolnya.
"Aku bilang ini tidak akan berhasil." Yesung berusaha untuk mengintimidasi Ryeowook. Yesung harus membuat Ryeowook cukup takut untuk mengasingkannya, membuat Ryeowook ingin berada cukup jauh dari Yesung. Ini hal yang tersulit yang harus dilakukannya. Ryeowook sangat seksi, salah satu wanita paling seksi yang pernah Yesung temui. Tapi Kyuhyun sudah memintanya untuk menjauhi Ryeowook dan Yesung adalah teman yang setia, dia akan mencobanya dengan susah payah. Dan sekarang Ryeowook berdiri di dalam lingkaran lengannya, beberapa inchi dari Yesung dan tubuh Ryeowook gemetar dengan kebutuhan seksual yang akan membuat Yesung kehilangan kendali.
" Apa yang—apa yang kau m-maksud?" Ryeowook melihat ke arah koridor yang lengang. Tak ada orang lain di sekitar mereka untuk mengganggu ketegangan. Hanya ada mereka berdua.
"maksudku adalah tentang kau yang mengejar-ngejar aku. Itu tidak akan berhasil. Kau harus menghentikannya." Suara Yesung menggambarkan kefrustasian dan kemarahan.
"kau G-Gila. Aku tidak mengejar-ngejarmu." Ryeowook kaget dia terlihat begitu jelas mengejar-ngejar Yesung. Bagaimana dan kapan dia terlihat begitu menyolok mengejar-ngejar Yesung? Apakah Yesung akan mempercayainya jika dia membantahnya? Ia pikir dirinya tidak melakukan satu hal pun yang akan membuat Yesung tahu apa yang dirasakan oleh Ryeowook. Itu hal yang memalukan yang akan diketahui oleh Yesung dan itu akan membuat Ryeowook sangat malu. Ryeowook menegangkan tulang belakangnya.
"Omong kosong." Mata Yesung turun ke wajah Ryeowook, melintasi bibir tipis Ryeowook dan jatuh ke dada Ryeowook yang naik turun penuh pergolakan. "Sebenarnya berapa umurmu?"
"21, dan itu bukan urusanmu." Ryeowook berusaha untuk menjaga nada suaranya datar, tapi dia punya banyak sekali emosi yang mengalir di tubuhnya. Ryeowook begitu bersemangat untuk bisa dekat dengan Yesung, tapi dia mulai merasa marah dengan sikap Yesung. Tidak ada alasan bagi Yesung untuk bicara dengan nada seperti itu dengannya. Walaupun Yesung tahu Ryeowook sudah berlaku buruk padanya itu merupakan alasan lebih lainnya untuk berlaku baik dengan Ryeowook. Tidak bersikap seperti Ryeowook sudah melakukan dosa yang begitu besar.
"Omong kosong. Kau belum 21." Yesung menekan kata-kata itu keluar diantara giginya yang bergemeretak.
"Bagaimana kau pikir aku bisa berada di sini? Sulap?" suara Ryeowook sarkastis, memotong, memberikan padanya kembali apa yang sudah dia hidangkan untuk Ryeowook.
"Sok pintar. Kau pirang mungil sok pintar dan jika kau pikir sesuatu akan terjadi diantara kita, kau gila."
"Kau orang tolol. Biarkan aku pergi." Sekarang Ryeowook sama marahnya dengan Yesung dan mulai mempertanyakan penilaiannya sendiri. Ya, Yesung sangat menarik, tapi sial, siapa yang tahu ternyata dia seorang yang menjengkelkan?
"Aku tidak menahanmu." Yesung mencemooh Ryeowook.
Ryeowook menyadari Yesung Pada dasarnya benar. Yesung tidak menyentuhnya sama sekali. Tubuh Yesung hanya menjulang diatasnya, mengurung Ryeowook, tapi Yesung tidak benar-benar menyentuhnya. Ryeowook tak mau bertahan untuk mendengar omong kosong Yesung lagi. Ryeowook mulai membungkuk ke bawah lengan Yesung tapi Yesung lalu meraih Ryeowook dan menghentikannya, menariknya kembali ke posisi awal.
Hanya saja kali ini, Yesung menyentuh dan menahan Ryeowook.
Ryeowook kembali terhimpit ke dinding dan Yesung menutupi ruang lingkup Ryeowook. Mata Yesung cair memandang Ryeowook. Tangan Yesung mencengkeram Ryeowook dengan erat.
Kaget dan ketegangan yang intens melanda Ryeowook saat Ryeowook mendorong Yesung dan dia tak membiarkan dirinya lepas. Jelas ini lebih dari sekedar kemarahan. Yesung pasti memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kemarahan. Mungkin Ryeowook tidak salah saat dia membayangkan apa yang terjadi diantara mereka berdua. Ryeowook sudah memimpikan hal ini cukup lama.
Ryeowook menguji kekuatan cengkeraman Yesung dengan mencoba untuk melepas diri darinya lagi.
"Jangan bergerak." Suara Yesung meninggi. Dia memandang Ryeowook, Lubang hidung Yesung melebar dan bibirnya menggertak.
Tangan Yesung mencengkeram lengan atas Ryeowook dan memandanginya dengan seksama.
"Buat keputusanmu." Ryeowook menatap ke arah Yesung lewat kelopak matanya, mencoba untuk menjauh dari Yesung beberapa Inchi lebih jauh. Beberapa inchi yang dibutuhkan oleh Ryeowook untuk tetap berada dalam kewarasan.
Cengkeraman Yesung pada Ryeowook menjadi lebih erat."Jangan Bergerak." Yesung mengulangi dengan desisan.
Tubuh Ryeowook menjadi relaks seutuhnya, siap mendengarkan hal yang tak bisa terelakkan. "Baiklah. Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kau menyerah. Berhenti mengirimiku SMS-"
"Aku hanya mengirimkan satu SMS!" Ryeowook balik berteriak.
Cengkeraman Yesung seakan menembus kulit Ryeowook, "Berhenti memandangku seperti kau ingin memakanku-"
Ryeowook menyentakkan lengan Yesung yang menahannya dan menyela Yesung. "Kau gila."
Ok, Mr. Arogan sepertinya butuh kepalanya di periksa.
Ryeowook tak pernah memandang Yesung seperti itu. Ini pasti imajinasi Yesung sepenuhnya.
Yesung tetap menahan Ryeowook di hadapannya. "Jaga mulutmu, gadis mungil."
"Namaku Ryeowook."
"Aku tahu siapa namamu" kata-kata itu keluar dengan cepat.
"Betulkah?" Ryeowook bertanya dengan nafas yang cepat.
"Ya."
Mereka saling menatap saat kesunyian hadir dengan seksual chemistry yang mengalir di antara mereka.
Ketegangan sangat tinggi diantara mereka dan akhirnya Yesung kembali bicara. "Sungmin tak akan suka jika aku bermain-main denganmu. Sungmin akan marah lalu Kyuhyun juga akan marah padaku. Itu tidak boleh terjadi."
Penjelasan Yesung tak membuat Ryeowook tertarik.
"Minnie bukan penjagaku." Ryeowook bermaksud untuk menantang Yesung.
"Itu tidak boleh terjadi." Yesung mendorong kata-kata itu keluar, mengulangi posisinya.
Siapa sebenarnya yang Yesung coba yakinkan?
Ryeowook menarik nafas, menahannya lalu mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan. "Ya, Tapi kau juga menginginkannya."
Itu dia. Pernyataan Ryeowook mengisyaratkan bahwa perkiraan Yesung mungkin benar. Ryeowook menginginkannya dan Ryeowook berpikir Yesung juga menginginkannya.
Kesunyian total melanda mereka.
Mata Yesung menyala menatap ke arah Ryeowook, wajahnya terlihat marah dengan garang.
Ryeowook mendorong dagunya ke atas, garis rahangnya menantang.
Saat Yesung kemudian membuka mulutnya, Ryeowook tahu Yesung tak akan menyerah dengan chemistry yang ada diantara mereka.
"Ini tak akan berhasil. Aku pria dewasa. Kau tidak bisa memperdaya atau menggiringku ke dalam sesuatu yang tidak aku inginkan."
"Benar." Nada suara Ryeowook menggambarkan bahwa dia tidak percaya padanya.
"Aku benar."
"Tentu." Ryeowook menjawab Yesung dengan cara yang jelas ingin membuat Yesung menjadi lebih marah lagi.
Ryeowook benar. Jawaban singkat satu katanya membuat Yesung menjadi lebih marah. Tubuh Yesung maju satu inchi lebih dekat untuk mengancam, mulutnya terkatup membentuk garis lurus yang rapat.
Ryeowook menegangkan tubuhnya terhadap tubuh Yesung dan menghantam Yesung dengan ungkapan yang terkenal tepat di wajahnya. "Baiklah Yesung-ssi. Aku menangkap apa yang kau katakan dengan sangat jelas. Biarkan aku pergi. Ada pria lain yang tak akan keberatan untuk berdansa denganku."
Yesung menahan Ryeowook dengan erat, ekspresinya berubah menjadi muram.
"Kau harus berhati-hati, gadis mungil." Itu sebuah peringatan. Yesung mengatakannya dengan nada suara rendah, menggertak, suara Yesung bergetar jauh dari dalam dadanya.
"Aku selalu hati-hati. Meskipun itu bukan urusanmu. Kau bukan kakakku." Kata-kata Ryeowook menjadi antagonis.
"kau benar." Mata Yesung menyapu tubuh Ryeowook dari atas ke bawah.
"Bagus. Biarkan aku pergi." Ucap Ryeowook.
"Sebentar lagi." Yesung tidak terburu-buru.
"Sekarang." Tuntut Ryeowook.
"Tidak. Aku katakan padamu untuk berhati-hati berada di sekitarku. Hati-hati untuk apa yang kau katakan padaku. Hati-hati untuk melemparkan omong kosong seperti itu di wajahku. Kau mungkin tak akan suka dengan konsekuensinya."
"Kau baru saja bilang padaku bahwa kau tak menginginkanku, lalu kenapa harus ada konsekuensi? Kau tak perduli dengan apa yang aku lakukan atau dengan siapa aku melakukannya."
"Itu sama sekali tidak benar dan aku tak pernah mengatakan aku tidak menginginkanmu."
"ini semua tentang hal itu, kan? kau memperingatkanku karena kau tak menginginkanku, kau ingin aku meninggalkanmu sendiri."
"Aku tak ingin mendekatimu karena Sungmin. Aku ingin kau menjauh dariku karena kau masih berumur 21 tahun. Aku ingin kau menjauh dariku karena kau tak akan tahu bagaimana mengatasi laki-laki seperti aku." Dengan fasih, pernyataan non-verbal, tangan Yesung naik ke bahu Ryeowook, menyapu kulit lembut Ryeowook dan memeluk leher Ryeowook, meremasnya dengan lembut. Mata Yesung menyala, ekspresinya kian kasar. "kau tak tahu bagaimana ini akan terjadi diantara kita."
Yesung menekan jemarinya ke leher Ryeowook dan mata Ryeowook melebar saat kebutuhan seksual panas melandanya.
Perasaan ganda dari gairah keingintahuan dan ketakutan menghantam perut Ryeowook secara bersamaan. "B-bagaimana ini akan terjadi diantara kita?"
Ryeowook merasakan nadi di lehernya berdenyut keras dibawah sentuhan telapak tangannya yang kasar.
Pandangan Yesung menyapu wajah Ryeowook, tulang pipinya, bibirnya yang bergetar. "Itu akan jadi intens, gadis pirang. Sangat intens."
Jantung Ryeowook berpacu dengan cepat saat sulur-sulur keinginan melanda dirinya yang hampir melumpuhkannya. "Yesungie, Tolonglah."
"Tidak, ini tak akan berhasil." Suara Yesunh datar.
"Tolonglah." Ryeowook berbisik. Ryeowook tahu saat ini dia memohon kepada Yesung, tapi tampaknya Ryeowook tidak perduli.
"Tidak, ini tak akan berhasil," Yesung mengulangi, kata-katanya keluar dengan lebih lembut.
Dalam keputusasaan, Ryeowook mulai mencari dalih. "Ok. Ini tak akan berhasil. Aku mengerti." Denyut nadinya berpacu dengan sengit sampai ke otaknya. Ryeowook menjilat lidahnya. "Tolonglah, Satu ciuman saja. Jadi aku bisa tahu." Mata sipit Ryeowook memandang Yesung.
Yesung mempelajari bibir Ryeowook dan kebutuhan di dalam mata Ryeowook. Yesung memindahkan satu tangan dari leher Ryeowook dan menyapukannya ke pipinya dengan lembut. Tangannya terus menyapu membentuk alur ke rambut Ryeowook dan mencengkeram kulit kepalanya. Tangan Yesunh yang lain jatuh dari leher Ryeowook dan memeluk pinggangnya, mengangkat tubuhnya hingga berjinjit dan menarik tubuh mungil Ryeowook ke tubuhnya.
Pandangan mereka saling bertemu dan tertahan saat gairah seksual melingkupi di antara mereka.
Paru-paru Yesung menarik masuk oksigen. "Seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Aku hanya akan menghukum diriku sendiri." Kata-katanya seperti kesedihan.
"Tolonglah Yesungie~." Ryeowook berbisik.
"Itu terdengar sangat indah saat kau memohon padaku. Aku sudah membayangkanmu ketika kau memohon padaku."
Kenikmatan bergelung menjalari tubuhnya saat Ryeowook menyadari bahwa Yesung juga berpikir tentang bagaimana hal ini akan terjadi diantara mereka.
Yesung menenggelamkan kepalanya dan mulutnya dekat ke arah Ryeowook, membuat Ryeowook menahan oksigen di paru-parunya. Ryeowook merintih saat lidah Yesung mendorong ke dalam mulutnya.
Lutut Ryeowook mulai gemetar dan kupu-kupu mulai berkibar di dalam perutnya saat mencium aroma Yesung, aroma Yesung secara ampuh mempengaruhi dirinya.
Ryeowook menggelantung di lengan Yesung saat ia berusaha untuk membuat otaknya berfungsi. Ia hanya memiliki satu pikiran. Yesung akhirnya menciumnya!
Tapi sesegara pikiran itu datang, keputusasaan melandanya saat ia menyadari ciuman apa yang diberikan Yesung padanya.
Ciuman hukuman.
Ciuman yang dipenuhi dengan kemarahan dan hukuman setimpal. Dan kelaparan. Oh, Ya. Ryeowook merasakannya. Kelaparan Yesung. Tapi Ryeowook juga merasakan kemarahan Yesung saat tangannya mengangkat wajah Ryeowook dan menahannya, lidah Yesung menusuk secara berulang-ulang ke dalam mulut Ryeowook seperti Yesung tak pernah merasa cukup. Seperti Yesung tak bisa merasa cukup dan ingin menghukumnya untuk itu.
Kenapa begitu banyak kemarahan? Apa yang telah Ryeowook lakukan pada Yesung?
Ryeowook bertahan di lengan Yesung, kesunyian yang pedih melanda Ryeowook. Ia tak menginginkan ciuman semacam ini yang diberikan Yesung padanya. Ia ingin ciuman yang manis, ciuman yang lembut. Penuh dengan kelaparan, ya. Tapi tidak kemarahan. Ia tak pantas menerima kemarahan Yesung.
Ryeowook merintih, menyarangkan tangannya di dada Yesung dan mulai mendorong. Tangan Yesung menjadi lebih erat mencengkeramnya dan Ryeowook sejenak berpikir Yesung tidak akan melepaskannya. Tapi lalu Mulut Yesung terlepas dari mulutnya dan mereka berdiri bersama, menghisap oksigen dan saling memandang seperti dua orang petarung dalam duel untuk memperjuangkan hidup.
Mata sipit Ryeowook semakin menyipit dan ia melemparkan pandangan yang panas dan menuduh ke arah Yesung.
Yesung tetap diam dan Ryeowook memberikan Yesung balasan atas perlakuannya. "Ok. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya. Kau benar. Ini tidak akan berhasil. Aku ingin kau meninggalkan aku sendiri. Kau kasar, kacau, bajingan yang egois. Biarkan aku sendiri." Perasaan benci yang tajam nampak di dalam suara Ryeowook.
"Hanya karena sesuatu terjadi tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan-" Api kemarahan bercampur dengan gairah bergejolak ke dalam diri Yesung.
"Tinggalkan aku sendiri Yesung-ssi!" Ryeowook berteriak di depan wajah Yesung dan menarik diri dari pria itu.
Tangan Yesung terangkat dari Ryeowook dan Ryeowook menyapukan punggung telapak tangannya ke mulutnya mencoba untuk menghapus ciuman hukuman darinya, mencoba untuk menunjukkan pada Yesung betapa dalam rasa benci dirinya.
"Bajingan." Ryeowook mengatakan itu sambil mendengus, berbalik dan mulai berjalan menjauh.
Yesung meraih tangan Ryeowook dan mencoba untuk, apa? Minta maaf? "Wookie-"
Ryeowook menyela Yesung dengan menyentakkan tangannya dan menjerit. "Pergi."
Yesung mengangkat tangannya dari Ryeowook dan melepaskan pegangannya. Ryeowook memandang Yesung untuk terakhir kalinya lalu kembali menuju keramaian dan musik.
.
.
.
Satu setengah jam kemudian, Yesung duduk di atas kursi barnya dengan marah, tangannya memegang bir keduanya malam ini. Ryeowook berubah menjadi bola liar yang panas sebagai balas dendam seorang wanita saat ia dengan sengaja membuat malam Yesung menjadi sangat menyedihkan dengan cara menari dengan semua pria sialan di klub dan tidak pernah sekalipun memandang Yesung.
Ini sebuah hukuman, Yesung merasakan ini sangat berat.
Tubuh mungil berlekuk Ryeowook mengacaukan kepala Yesung, membuatnya tak bisa berpikir.
Klub akan segera tutup dan Yesung duduk menunggu dua wanita yang akan memberikannya tumpangan. Kyuhyun sudah menelantarkannya saat dia mendapatkan kesempatan untuk bersama Sungmin.
Eunhyuk tadi melintas di hadapannya dan mengatakan padanya mereka akan memberikan dia tumpangan.
Yesung mengamati kedua sahabat itu di lantai dansa sekarang. Eunhyuk langsing dengan rambut coklat terang. Dia cantik. Para pria mendekatinya sepanjang malam. Mata Eunhyuk memandang mereka dengan tatapan tidak tertarik, dan seperti yang Eunhyuk tahu, itu justru membuat para pria itu semakin tertantang.
Eunhyuk sangat menawan, tapi Yesung harus mengakui bahwa dirinya tidak tertarik dengan Eunhyuk dan matanya terus beralih tanpa ragu ke teman sekamar Eunhyuk. Yesung seketika tersentak lagi, dengan kefemininan Ryeowook. Ryeowook mungil dan mempesona, dengan pinggul yang ramping dan payudara yang belum lama tadi, berada di bawah sentuhannya.
Yesung gatal untuk merasakannya lagi.
Yesung sudah sangat menginginkan Ryeowook sejak bertemu dengannya, tapi waktu itu Yesung sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tak punya waktu untuk melakukan apa pun. Yesung juga belum memutuskan apakah dia harus melakukan sesuatu atau tidak soal itu. Umurnya selalu menjadi penghalang, mengacaukan rencana yang dibuat untuk Ryeowook.
Ryeowook hanya 7 tahun lebih muda dari Yesung tapi karena Ryeowook 21 tahun maka 7 tahun perbedaan umur itu menjadi berarti. Yesung sudah berada di wilayah ini cukup lama, sering terlihat. Yesung memiliki kebaikan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa Ryeowook akan sangat terluka jika Yesung mempermainkannya. Otak Yesung sudah berdansa menginginkan dia tapi di satu sisi ingin melindungi Ryeowook dari dirinya.
Tapi sial, pandangan dimata Ryeowook saat dia memohon pada Yesung untuk menciumnya tadi. Itu bukan sesuatu yang dengan mudah dapat dilupakan oleh Yesung.
Yesung tahu dia harus mencoba. Sial. Yesung benar-benar tak ada pilihan. Ia punya banyak pilihan sebenarnya, tapi sudah berjanji pada Kyuhyyn untuk tidak mendekati Ryeowook.
Jika ditinjau kembali, seharusnya Yesung mengajak Ryeowook berkencan pada malam pertama mereka bertemu. Jika waktu itu Yesung mengajaknya berkencan, mendeklariskannya dari awal, maka Kyuhyun tak akan bisa memberikannya omong kosong seperti ini. Tapi siapa yang tahu akan ada deadline untuk mengajak Ryeowook kencan? Yesung mempunyai urusan pada pekerjaannya yang membutuhkan perhatian penuh dari dirinya. Dan sekarang Kyuhyun menghadapi masalah ini.
Ini situasi yang benar-benar kacau. Yesung seharusnya sudah mendapatkan Ryeowook di atas tempat tidurnya beberapa minggu lalu. Dan sekarang Yesung hanya menghadapi kekacauan. Tangan Yesung seperti terikat, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Oh Tuhan.
Yesung meneguk bir-nya lagi dan meringis saat dia menyadari dia membiarkan minumannya menjadi hangat.
Yesung meletakkan botol birnya di bar di hadapannya dan mengalihkan perhatiannya kepada dua wanita itu. Mereka berdua sedang minum dan Yesung khawatir tentang mereka yang harus berkendara. Yesung tak tahu mobil siapa yang mereka bawa, dan Yesung juga tidak perduli.
Yesung yang akan menyetir.
Dengan satu setengah botol bir, Yesung tanpa ragu lebih aman berada di belakang kemudi dari pada salah satu dari kedua wanita itu.
Yesung duduk, merenung dalam diam dan menunggu sampai dansa terakhir berakhir dan kedua wanita itu menyusup ke arahnya.
Eunhyuk bicara, "Ayo kita pulang Yesung-ssi."
Yesung berdiri dan memandang ke arah Ryeowook yang berdiri di belakang dan merogoh kunci ke dalam kantong celananya.
Jadi mereka memakai mobil Ryeowook.
Ryeowook benar-benar mengabaikan Yesung, jadi Yesung hanya menarik diri ke belakang dan mengikuti kedua wanita itu ke tempat parkir.
Beberapa pria seperti hendak bergerak menghampiri mereka, tapi kedua wanita itu tampak tidak sadar dan Yesung berdiri tegap dan memberikan isyarat pada para pria itu bahwa mereka jangan mengganggu kedua wanita ini.
Udara larut malam terasa dingin. Yesung menunggu sampai Ryeowook berjalan ke compact car biru dan Yesung bergerak ke depan ke arah Ryeowook dengan sangat santai, membuatnya kaget.
"Aku akan membukakan pintunya." Yesung mengulurkan tangannya untuk menerima kunci dan Ryeowook dengan ragu-ragu menyerahkan kepada Yesung.
Setelah Yesung menerima kunci di tangannya, sikapnya berubah. Yesung meraih Ryeowook dengan tangannya dan mengarahkannya ke kursi penumpang. Yesung membuka kunci, membuka pintu dan mendorong Ryeowook ke dalam. "Aku yang akan menyetir." Kata-katanya tegas dan menuntut.
Ryeowook melihat Eunhyuk naik ke kursi belakang mobil tanpa berdalih dan Ryeowook memutuskan tak ada gunanya membantah. Jika Yesung ingin menyetir ke rumahnya (rumah Yesung) itu tidak masalah. Setelah itu Ryeowook yang akan menyetir sampai apartemen mereka.
Tapi faktanya kemudian, tidak seperti itu.
Yesung sudah pernah ke apartemen mereka sebelumnya bersama Kyuhyun dan sekarang Yesung sedang menuju kesana.
Ryeowook meradang. "Apa-"
"Kau tidak akan menyetir malam ini. Jangan pernah berpikir untuk itu. Aku akan mengembalikan mobilmu besok."
"Aku punya banyak hal yang harus aku lakukan besok pagi. Tugas yang harus aku lakukan. Ini tidak perlu-"
"Diam Wookie. Kau tadi minum dan Aku tidak sedang mood untuk mendengarkan omong kosongmu."
Ryeowook duduk kembali, menutup mulutnya dan bergolak. Dia hanya minum dua kali selama periode 4 jam. Dia juga minum tiga gelas air mineral. Dia tidak mabuk. Tapi Yesung terlihat sangat marah dan Ryeowook begitu lelah untuk melayani kemarahan Yesung.
Besok. Saat Yesung mengembalikan mobilnya, Ryeowook akan mengatakan padanya apa yang ia pikirkan tentang sikap dan perlakukan Yesung.
.
.
.
Jam sepuluh pagi, bel pintu Ryeowook berbunyi. Ryeowook sudah selesai mandi, berpakaian dan memakai make up. Dia siap menumpahkan uneg-unegnya pada Yesung yang tak sempat dia ucapkan tadi malam.
Ryeowook membuka pintu dan Yesung berdiri bersandar dalam celana jeans ketat dan sudah pudar, sepatu boot dan kaos ketat merah yang membentuk perut berototnya dan mata Ryeowook bergerak dengan cepat, secepat matanya mendarat pada Yesung. Maskulinitas teradiasi dari diri Yesung dan Ryeowook tidak kebal dengan hal itu.
Yesung berdiri memandang Ryeowook, memutar kunci mobil di tangannya. Kunci mobil Yesung bukan kunci mobil miliknya.
Ryeowook mengabaikan ketegangan seksual yang mengalir diantara mereka setiap kali mereka berada di ruangan yang sama dan ia langsung ke pokok permasalahan. "Dimana Kunci mobilku?"
"Mobilmu di dealer. Mereka akan mulai mengerjakannya senin pagi."
"Apa?" Ryeowook kaget, dia tidak sepenuhnya paham apa yang Yesung katakan.
"Mobilmu sedang dikerjakan." ucap Yesung pendek dan singkat.
"Aku tidak mengerti." Kebingungan melanda Ryeowook.
"Apa kau menyadari lampu check mesin yang berkedip?" Mata sipit Yseung berkabut, tak membiarkan Ryeowook melihat apa yang sebenarnya terjadi di kepalanya.
"Ya, Tapi sudah seperti itu sejak beberapa minggu dan tidak ada hal buruk yang terjadi." Saat Ryeowook mengatakan hal itu, membuat Yesung lebih kecewa lagi. Wajahnya meringis seperti merasakan sakit.
"sebuah kecelakaan menunggu untuk terjadi." Suara Yesung menjadi dalam dan keras. "Kau ingin mogok di pinggir jalan, sayang? Dan berharap belas kasihan pada siapapun orang yang berhenti?"
"Tidak. Aku punya handphone. Aku bisa menelpon Derek mobil jika aku membutuhkannya." Ryeowook berusaha untuk membuat suaranya ringan tapi bukan itu seutuhnya yang menjadi perhatian Yesung. Ryeowook tidak mempunyai uang untuk perbaikan.
"Sementara itu siapa yang sedang mengintai bokong kecilmu yang manis itu, saat kau berdiri di tepi jalan menunggu? seorang pemerkosa? Atau bahkan seorang pembunuh?" kemarahan hadir di suara Yesung.
"Aku tak punya uang sekarang ini untuk memperbaikinya." akhirnya kata-kata itu keluar, Ryeowook malu pada sesuatu yang sama sekali tidak bisa ia hindari.
"Bukan masalah. Aku yang akan membayarnya." Yesung mengatakannya, seperti itu sudah disepakati.
"Tidak. Kau tidak boleh." Ryeowook mencoba untuk tidak bertengkar, tapi ia tak bisa mencegah untuk berargumen.
"kenapa tidak? Kau harus memperbaikinya, aku punya uang untuk memperbaikinya untukmu."
"Tidak sesederhana itu. Kenapa kau mau melakukan hal itu untukku?" Ryeowook dengan tulus bertanya kepadanya.
"Kau punya orang lain yang akan melakukan itu untukmu?" Yesung tahu Ryeowook tidak punya. Mobilnya begitu jelek, itu sama sekali tidak lucu. Jika Ryeowook memiliki seseorang yang akan memberikannya uang, maka mobilnya pasti sudah diperbaiki.
"T-tidak." Suara Ryeowook ragu-ragu.
"Baiklah. Aku akan membuat mobilmu diperbaiki. Kau tak bisa mengendarai mobil seperti itu mengelilingi kota. Sesuatu yang buruk akan terjadi padamu," Suara Yesung langsung berubah pelan. "Aku tak ingin berpikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tidak ketika sesuatu itu dapat dengan mudah kubereskan."
Ryeowook tetap berdiri, terkesima. Sedikit kehangatan perlahan mengalir ke bawah tulang belakangnya. Lututnya mulai gemetar seperti biasa tiap kali Yesung berada di dekatnya. Perlahan, pikiran Ryeowook mulai bekerja. "Terima kasih. Aku akan m-membayarmu kembali secepatnya saat Aku b-bisa."
"Kita akan lihat."
"kau tak percaya padaku?"
"Bukan itu maksudku. Kau bilang kau akan membayarku kembali dan aku bilang kita akan lihat. Biarkan seperti itu. Kau punya tugas yang harus kau lakukan pagi ini? kau ingin meminjam mobilku atau kau ingin aku mengantarmu?"
Lagi, Ryeowook berdiri saat dia mengumpulkan kecerdasannya. Ryeowook tak bisa percaya Yesung berada di sini di apartemennya, tidak bisa percaya Yesung memperbaiki mobilnya dan Ryeowook tidak bisa percaya Yesung menawarkan waktunya dan atau mobilnya padanya.
Apa maksud ini semua?
Tidak ada, Ryeowok.
Mungkin Yesung adalah seorang pria yang baik. Kau berpikir dia pria yang baik semalam. Mungkin semalam itu anomali dan kesan awal Ryeowook adalah yang benar.
Jawaban Ryeowook datang dengan pelan. "Aku tak ingin terus merepotkanmu. Aku sudah cukup merasa tidak enak untuk apa yang telah kau lakukan untukku. Aku bisa membatalkan tugasku. Aku tak ingin kau mengantarku dan aku tak ingin meninggalkanmu tanpa mobilmu."
"Sayang, aku punya dua mobil. Aku membawa mobil dan kita bisa ke rumahku dan mengambil mobilku yang satunya lagi.
Lagipula aku tidak pernah memakainya. Ok?"
Ryeowook mengamati Yesung yang berdiri di pintunya. "Apa kau yakin?"
"Ya aku yakin. Aku mengasuransikan mobilku. Tak ada hal buruk yang bisa terjadi."
Ryeowook memberikan Yesung senyuman kecil, senyum keragu-raguan. "Ok, terima kasih. Aku akan mengambil tasku."
.
.
.
-Tbc-
.
.
.
Annyeong~
Tuh sang gentleman Yesung siap beraksi yeay!
Yakin uri Yesungie hanya orang baik yang tak punya niat apa-apa? Ya kagak lahh hahah.. sudah jelas kan ini akan dibawa kemana? Hohohooo #plakk
Mungkin akibat saya yang kurang fokus saat ngetik ff ini, sempat beberapa kali hampir salah ketik nama Ryeowook dan Yesung jadi Kyuhyun dan Sungmin.. mohon koreksinya lagi kalau-kalau ada kejanggalan heheh
Akibat jiwa KMS juga barangkali berasa ini masih part KyMin xD
Terima kasih untuk semua reviewnya maaf gabisa balas satu-satu tp saya baca kok dan seneng bgt ada yang apresiasi heheh
terima kasih juga untuk yang sudah memFollow dan Fav.. juga untuk silent reader..
Last~ boleh minta tanggapannya lagi? #nyengirbarengKyuMin
Selamat hari natal untuk yang merayakan^^
