Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto
Gaahina
Romance
Story pure for Jhino
A/N:
Cerita biasa ini merupakan request uri cingu, Ungu Violet. Semoga violet menyukainya. ^_^.
WARNING: Cerita ini merupakan cerita fantasy dan OOC (sesuai kebutuhan cerita). If you don't like, don't read! Go away guys (by lav).
HAPPY READING
Sebuah pintu yang terbuat dari batuan marmer berbentuk lingkaran besar yang dikelilingi milyaran kelopak daun gugur berwarna kuning kemerahan, menjadi hal pertama yang dilihat Pangeran Gaara setelah melewati pintu teleportasi. Kepalanya terasa pening dan berat. Ditambah dengan pendaratan yang lumayan sakit semakin membuatnya merasa seperti baru saja dijebloskan dari ujung tebing ke dasar paling dalam. Namun bedanya, keadaan sekarang begitu terang-benderang.
Pangeran Gaara mengedarkan mata ke sekeliling, menyisiri apa saja yang ada guna mendapatkan sedikit tanda bahwa tempat yang dipijaknya saat ini bukanlah neraka. Bukan juga surga, karena dia belum siap. Kepalanya terangkat saat mendengar kepakan keras burung-burung yang terbang berkelompok. Tapi keningnya mengernyit saat melihat burung-burung itu terlihat terlalu besar untuk dikatakan sebagai burung. Dari ukurannya saja, dia bisa memperkirakan kalau burung-burung itu mungkin setinggi manusia. Dan sayapnya terlalu panjang. Berwarna hitam legam. Pangeran Gaara bisa menerka kalau burung itu adalah burung hantu, atau sejenis burung elang, ah atau mungkin Rajawali. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah… apakah ada burung seukuran manusia?
Pertanyaan di benaknya dipaksa lebur bersama suara derak ranting yang terinjak. Pangeran Gaara langsung membalik badan. Dan betapa matanya saat ini membola maksimal. Di hadapannya kini berdiri seorang perempuan tinggi berparas cantik, mengenakan baju dari daun berwarna kuning sedikit oranye dengan ikat pinggang sebuah pita berwarna hijau zamrud. Rambutnya ungu kehitaman panjang itu melewati bahu dan kulitnya seputih salju. Dari jauh saja Pangeran Gaara bisa mencium aroma tubuh perempuan itu. Kulitnya yang mengilat terlihat jelas terawat dan lembut. Untuk beberapa detik, Pangeran Gaara tidak bisa menemukan suaranya. Dia terlalu terpesona. Di hadapannya saat ini pastilah seorang Dewi yang turun dari Kahyangan. Iya, pasti begitu.
"Apa yang kau lihat?"
Pangeran Gaara mengernyit dalam keterpesonaaannya. Suara itu tidak asing. Suara galak dan judes yang beberapa waktu tadi terus meneriakinya dengan nada ketus. Suara khas dari peri biasa yang bodoh dan—
"Ternyata kau memang benar-benar tuli."
Nah, kan. Suara itu lagi. Tapi tidak mungkin suara itu milik perempuan di hadapannya, kan? Karena perempuan itu—
Mata Pangeran Gaara semakin terbuka ketika menyadari satu hal yang menurutnya tidak masuk akal.
Perempuan cantik di depannya saat ini memiliki wajah yang mirip dengan peri biasa yang bodoh itu.
"K-kau—" suara Pangeran Gaara agak serak. Telunjuknya terangkat tidak yakin. Yang ada di hadapannya ini—ah! Bagaimanapun, perempuan ini memang peri biasa yang bodoh itu. Dan kini tatapan Pangeran Gaara memindai perempuan di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki.
"Apa? Kenapa melihatku seperti itu?"
Benar. Suara itu terdengar ketus. Bahkan, dilihat berapa kalipun wajah di depannya memang wajah peri bodoh itu, hanya saja saat ini wajah cantik itu dibingkai dengan rambut yang dibiarkan terurai, tidak seperti tadi yang diikat dan digelung ke atas. Seketika, rasa terpananya lebur.
"Kau… Si Peri Bodoh itu?" tanya Pangeran Gaara masih sedikit tidak percaya.
"Kenapa? Apa saat ini kau sedang mengakui kalau aku cantik dan terpesona padaku? Ah, sayangnya aku tidak terpesona pada Pangeran Jadi-jadian sepertimu," sahut Hinata dengan senyum miring meremehkan. Mendapati laki-laki menyebalkan yang selalu berteriak dan menatapnya kecil, kemudian beberapa detik tadi tertangkap basah sedang menatapnya dengan tatapan terpana adalah hal menggelikan sekaligus menyenangkan.
"Terlalu percaya diri." komentar Pangeran Gaara pendek. Namun matanya masih enggan beralih dari wajah bak pualam itu. Ada sesuatu yang seolah menariknya tadi, tapi sekarang ia jadi berpikir; apa sesuatu itu? Kenapa bisa sampai membuatnya terpana bodoh begitu? Ah, apapun itu, ia harus mencari tahu. Tidak pernah sebelumnya dia merasa 'jatuh' pada seseorang, dan kini seolah dia merasakannya. Tidak, itu tidak boleh. Yang harusnya dibuat 'jatuh' adalah orang lain terhadapnya, bukan sebaliknya.
"Mengaku jujur tidak akan membuat harga dirimu jatuh, Pangeran Setengah Pintar." sahut Hinata masih dengan nada mengajak berperang. Kali ini Pangeran Gaara tidak menanggapi. Dia menelisik Hinata lebih dalam. Ada sesuatu yang hilang dari perempuan itu. Dan ketika menemukannya, matanya sekali lagi membola. "Hei, kau kemanakan sayapmu? Sayapmu tidak ada!" seru Pangeran Gaara heboh.
"Kau pikir sayapmu ada, hah? Lihat dirimu sendiri sana!" seru Hinata galak.
Ah, benar. Detik itu Pengeran Gaara langsung memeriksa dirinya sendiri, meraba-raba ke setiap bagian tubuhnya dan selanjutnya tercengang. Ukuran tubuhnya tidak lagi sedua ruas jari. Kakinya juga panjang menjejak tanah. Dan sayapnya… Oh, tidak! Jangan bilang kalau dia…
Tanpa menunggu lama, Pangeran Gaara lantas melesat, mendekati sebuah danau dengan air bening tidak jauh dari tempatnya. Dia merunduk di tepian danau, mencerminkan seluruh tubuhnya di sana. Wajahnya dan kepalanya jadi besar. Telinganya tidak lagi berujung runcing. Tangan dan kakinya pun tidak seperti makhluk purba. Dan tubuhnya… berat, meski dia mengerang saat menemukan pakaian yang membungkus tubuhnya sedikit tidak layak. Pakaian itu dari kain, mungkin seperti bahan yang biasa digunakan untuk menyimpan gandum dan beras dalam ukuran besar. Dan ah, satu lagi, sayapnya hilang.
"Aku juga terkejut ketika menyadari sayapku hilang dan tubuhku berubah bentuk layaknya manusia. Tapi aku cukup senang karena akhirnya aku punya kaki yang panjang." Hinata terlihat baik dan menikmati perubahan dalam dirinya. Tapi tidak dengan Pangeran Gaara. "Apa katamu? Kita berubah seperti manusia?"
"Ya."
"Ini gila! Tanpa sayap, mana bisa kita menemukan kitab itu dengan cepat? Dan ukuran tubuh sebesar ini… astaga! Kenapa peri tadi tidak bilang kalau kita akan mengalami perubahan setelah melewati teleportasi tadi?"
"Kau punya dua kaki dan tangan. Tidak perlu kuajarkan bagaimana untuk bisa menggunakannya, bukan?"
"Kau pikir aku idiot, heh?" semprot Pangeran Gaara gemas. Bukan itu yang dia maksudkan. Kalau dengan ukuran sebesar ini dan tidak memiliki sayap, waktu yang mereka miliki pasti tidak akan cukup untuk bisa menemukan kitab itu.
Hinata mendengus sebal. "Terserah apa katamu. Aku tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk berdebat tidak penting. Waktu kita terbatas dan kuharap kau mengerti itu. Sekarang matahari sudah sepenggalan tonggak, kalau kita tidak cepat, waktu kita bisa habis dan kita akan membusuk di tempat asing ini."
Hinata berjalan mendahului Pangeran Gaara. Sebenarnya hatinya ketar-ketir dan gemetar. Sejak teleportasi tadi mendaratkannya dengan tidak cantik, ada begitu banyak ketakutan yang dirasakannya. Terlebih sayapnya menghilang. Dan berada di tempat asing dengan keadaan berbeda benar-benar semakin mengerutkan nyalinya. Dan dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya selanjutnya begitu membuka gerbang itu. Dia takut. Ya. Kalau saja boleh meminta, dia ingin Ino ada di sini sekarang, menemaninya. Setidaknya, keberadaan Ino tidak membuatnya sendiri atau hanya berdua saja dengan Pangeran jadi-jadian itu.
Hinata menarik napas panjang dan berat. Di hadapannya saat ini adalah gerbang itu, yang dilapis marmer dan keliatan sekali isi di dalamnya kurang bersahabat. Hinata mengangkat jemarinya dan tepat ketika Hinata hendak menempelkan daun yang dipegangnya pada sisi pintu yang tercetak berbentuk daun seperti yang digenggamnya, sebuah tangan lain mensejajari tangannya. Tangan Pangeran Gaara.
"Kau benar, kita harus bergerak cepat," kata Pangeran Gaara datar. Hinata menengok padanya dan menemukan air muka Pangeran Gaara yang keruh, mungkin dia sama takutnya dengan dirinya, pikir Hinata, lalu kemudian mengangguk bersamaan, seiring daun dalam genggaman tangan mereka ikut menekan tempat daun itu diletakan. Selanjutnya, terdengar suara seperti mesin penggiling reot yang dipaksa melumat daging berputar tidak sabaran. Hinata dan Pangeran Gaara mundur beberapa langkah. Sulur-sulur pohon besar yang memutari pintu itu lepas perlahan. Dan setelah suara itu menghilang, gerbang itu terbuka lebar dan memanggil-manggil mereka untuk cepat dilewati. Degup jantung mereka berdetak saling berlomba. Sambil berpegangan tangan—tanpa disadari—keduanya kemudian melangkah bersama. Mereka sudah maju dan tidak mungkin mundur. Apapun yang ada di depan mereka nanti, mereka hanya harus menghadapinya bersama.
.
.
.
.
Marygold begitu hening. Senyap. Seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan selain Hinata dan Pangeran Gaara di sana. Kepakkan sayap-sayap burung samar-samar terdengar sesekali, selebihnya tenang dan sepi. Sebuah danau dengan air jernih luar biasa seolah menatap mereka enggan. Kencikan makhluk-makhluk kecil bersayap ikut terusik dengan kedatangan mereka dan kemudian bersembunyi. Hutan ini sebenarnya indah dan mengagumkan,. Hanya saja keadaan di dalamnya benar-benar kurang bersahabat.
Hinata dan Pangeran Gaara memasang mata awas. Tatapannya tidak berhenti menelisik ke setiap sudut. Benar yang dikatakan Sakura Valor. Hutan Marygold begitu hening dan gelap. Dedaunan dari pohon-pohon besar yang menjulang, tumbuh lebar dan lebat, menutupi setiap celah untuk bisa menyelipkan sinar matahari ke dalamnya. Padahal sebelum mereka masuk, suasana terang-benderang, begitu disini semua berubah. Suasana dingin dan basah tercium jelas. Setiap suara asing selain dari mereka menjadi hal yang kadang membangunkan bulu kuduk.
Mereka berjalan perlahan, tanpa menimbulkan suara dan sangat hati-hati. Berjalan tanpa alas kaki tentu beresiko. Mata keduanya tetap awas dan waspada, setiap ada gerakan asing, mereka harus bersiap.
"Hm, apa kau tidak merasa kita seperti pencuri yang sedang mengendap-endap? Kenapa kita tidak berjalan biasa saja? Di sini tidak orang lain selain kita, kurasa." Hinata bersuara cukup lantang, membuat Pangeran Gaara menutup mulutnya paksa. "Apa kau tidak bisa memelankan sedikit suaramu? Kita tidak tahu tempat seperti apa hutan ini, jadi tetaplah berhati-hati. Dan ingat, keadaan yang senyap begini bukan berarti tidak terdapat kegaduhan yang tersembunyi. Jangan seperti menantang hal-hal yang asing bagimu, kau paham?"
Hinata berdecak menanggapi. "Sok tahu sekali kau! Suasana hening begini harusnya dibuat ramai, agar kita tahu siapa saja yang ada di sini selain kita, dan mengajaknya berkenalan." tukas Hinata keras kepala. Kedua tangannya terlipat di depan mulut membentuk lingkaran dan kemudian berteriak sekencangnya layaknya meniup terompet. Keadaan yang sepi senyap membuat suara Hinata menggaung sampai jauh lalu lenyap bersama desau angin.
"Kau lihat? Tidak ada siapa-siapa selain kita disini," kata Hinata merasa menang. Pangeran Gaara tidak menanggapi. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Hinata. Hinata buru-buru menyusulnya dan mensejajarkan diri. "Kenapa kau diam saja? Tidak berniat mendebatku, eh?"
Tepat setelah Hinata bertanya, tanah yang mereka injak bergetar dan bergelombang, membentuk garis-garis seperti sulur akar yang memisahkan antara satu lahan dengan lahan yang lainnya dan membusung di bagian-bagian tertentu. Hinata dan Pangeran Gaara terkejut dan dengan cepat mencari pegangan. Keduanya kelimpungan hingga berlarian kesana sini.
"Hei, kenapa tanahnya bergetar begini?"
"Getarannya semakin cepat!"
"Tanah ini akan terbelah!"
"AWAS—AWAAAASSS!"
Hinata tidak bisa merasakan apa-apa selain tubuhnya diguncang hebat. Tanah yang bergetar dahsyat itu berhasil mencuatkan kepanikannya hingga level paling parah. Terakhir yang bisa dirasakannya, sebelah kakinya menginjak tanah dan amblas hingga kemudian sebuah tangan mencekal dan menariknya dengan kilat.
Sengalan napas Pangeran Gaara membuat Hinata sedikit merasa bersalah. Dia tidak mengatakan apa-apa selain meringis menahan nyeri di pergelangan kakinya. Baru saja Pangeran Gaara menyelamatkannya dari gempa tanah yang luar biasa. Kalau Pangeran Gaara tidak menolongnya mungkin saat ini dia sudah rata dengan tanah.
Pangeran Gaara meraup udara serakus mungkin. Kejadian barusan berhasil mengeluarkan keringat yang sangat banyak. Dadanya naik-turun. Matanya sedikit berembun menatap tanah yang tadi diinjaknya dengan Hinata sudah tenang kembali. Mereka bersembunyi di balik batang pohon besar yang tinggi saat ini. Entah tadi itu apa, tapi semoga tidak terjadi lagi.
"Kau puas sekarang? Lihat apa yang kau lakukan tadi? Bagaimana kalau kita mati sebelum bisa mendapatkan kitab itu? Apa kau hanya bisa berbuat bodoh, hah?!" suara Pangeran Gaara tercetus tersengal-sengal tapi pandangannya menusuk. "Sudah kukatakan bukan, sesuatu yang tenang bukan berarti tidak menyembunyikan sesuatu! Apa kau tidak pernah dengar pribahasa 'diam-diam menghayutkan'?!" katanya lagi geram. Mata Hinata melotot tidak terima, "Memangnya apa yang kulakukan, hah?! Aku tidak melakukan apapun kecuali bersuara!" sahutnya berapi.
"Suara yang lantang disamakan dengan berteriak, Nona-Tidak-Bisa-Diam," jawab Pangeran Gaara. "Kau sendiri yang bilang kalau kita harus cepat, tapi jika sikapmu tidak dijaga, kau yang akan membuat kita terlambat! Ini tempat asing, jadi jaga sikapmu. Kita tidak tahu tempat seperti apa sebenarnya hutan ini, kau mengerti?!"
"Jangan mengajariku!" sahut Hinata ketus.
"Terserah! Aku hanya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan."
Setelah mengatakannya dengan kesal, Pangeran Gaara meninggalkan Hinata yang gemas menahan marah. 'Seenaknya saja menyalahkan orang', gerutu Hinata dalam hati. Hinata ikut bangkit dan berniat menyusul, tapi baru satu langkah, tubuhnya terhuyung nyaris jatuh. Tangannya kembali ditarik kasar oleh Pangeran Gaara dan berlari kencang.
"Hei, ada apa? Kenapa kita—"
"Jangan banyak bertanya! Berlari saja secepat mungkin dan jangan menengok ke belakang!"
Kali ini Hinata diam, tidak ingin berdebat lagi. Kakinya sekuat tenaga mengikuti ritme lari Pangeran Gaara yang seperti kesetanan. Sementara suara dengungan santer terdengar di belakang mereka. Hinata penasaran dan menoleh ke belakang. Seketika itu juga matanya membola dan menambah kecepatan berlari. Di belakang mereka, ribuan nyamuk hutan dengan moncong penghisap darah yang panjang dan tajam, tengah mengekori dengan kepakan sayap cepat. Mereka bergerombol membentuk barisan pertahanan hingga terlihat seperi jaring tebal berwarna hitam. Namun, bukan itu yang membuat Hinata melotot maksimal, melainkan ukuran nyamuk-nyamuk itu. Entah sihir atau keajaiban, tapi ukuran nyamuk-nyamuk itu sebesar dirinya. Sebesar manusia! Mereka seperti gerombolan nyamuk raksasa yang sedang mengejar mangsa! Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Hinata semakin kuat berlari. Mereka terus berlari dan berlari. Menerobos pohon-pohon dan dedaunan lebat setengah badan yang mengeluarkan bau tidak sedap. Baru setelah hampir setengah jam berlari, mereka berhenti dan menyembunyikan diri di tengah-tengah hamparan padang bunga sedap malam yang berukuran raksasa.
Pangera Gaara dan Hinata bernapas bersahutan. Hingga suara dengungan nyamuk-nyamuk raksasa itu tidak lagi terdengar, tubuh mereka terduduk lemas di tanah.
"Se-sebenarnya yang tadi itu apa?" tanya Hinata setelah tenaganya sedikit pulih dan napasnya mulai teratur.
"Nyamuk," sahut Pangeran Gaara pendek. Sebelah tangannya menyangga tubuhnya yang bersandar di badan pohon bunga.
"Kau pikir aku idiot? Aku tahu tadi itu gerombolan nyamuk, tapi nyamuk apa yang punya ukuran sebesar itu?" Pangeran Gaara menggeleng. Jujur, dia juga tidak tahu nyamuk jenis apa yang tadi mengejarnya. Niatnya tadi adalah meninggalkan Hinata untuk memberikan hukuman atas kecerobohannya, tapi yang dilakukannya justru lebih ceroboh. Sebuah sarang yang ukurannya sebesar gundukan tanah pemakaman seekor gajah, dihancurkannya secara tidak sengaja. Dia tidak tahu kalau ternyata gundukan tanah itu adalah sarang nyamuk. Dia pikir itu gundukan tanah biasa. Sampai kemudian dari lubang besar yang seketika menganga di sudut pojok gundukan itu mengeluarkan ribuan nyamuk raksasa yang lantas mengejarnya. Mata mereka berwarna merah seperti vampir yang haus darah. Dan seketika itu juga Pangeran Gaara berlari menjauh. Kemana saja asal nyamuk-nyamuk itu tidak memangsanya.
Hinata mendesah lemas. Kakinya luar biasa nyeri dan pegal. Dalam waktu berurutan dirinya dipaksa lari dengan kecepatan maksimal. Dan itu cukup melelahkan. Kalau tahu akan begini, dia lebih baik tidak memaksakan diri mencari Iluvatar.
"Mereka adalah Taluar."
Sebuah suara cempreng terdengar di sekitar Pangeran Gaara dan Hinata. Keduanya menoleh ke sana ke mari mencari sumber suara tapi tidak ada.
"Tadi suaramu?" tanya Pangeran Gaara.
"Bukan. Itu bukan suaraku," jawab Hinata menggeleng.
"Kalau bukan suaramu dan suaraku, lalu tadi suara siap—?"
"Suaraku! Hei, aku di sini! Di sini! Lihat ke bawah!"
Pandangan Pangeran Gaara dan Hinata bertubrukan, kemudian menunduk bersamaan. Di dekat batang pohon yang mereka sandari, seekor gajah hutan berukuran satu telapak tangan tengah menatap mereka dengan mata yang bening bersinar. Gajah itu duduk santai dan tidak memperdulikan tatapan kaget dari dua orang di sampingnya.
"K—kau… seekor gajah?" Pertanyaan terkejut Pangeran Gaara dijawab anggukan tegas si gajah.
"Kau serius benar-benar gajah? Ukuran badanmu tidak seperti gajah biasanya yang berukuran—"
"Besar dan gemuk," potong gajah itu cepat, membuat Hinata menatapnya tidak percaya. "Iya, kau benar, tapi aku memang seekor gajah, hanya saja ukuranku lebih kecil." Gajah itu tersenyum santai.
"Tapi, bagaimana bisa?" Hinata masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tentu saja bisa. Ini adalah Marygold, Hutan Keterbalikan. Semua hewan dan tumbuhan yang ada di sini berukuran terbalik dengan hewan dan tumbuhan yang ada di hutan biasa. Mungkin karena hutan ini adalah hutan terlarang, jadi diciptakan berbeda agar tidak ada yang berani memasukinya," terang gajah kecil itu panjang lebar.
"Hutan Keterbalikan?" Pangeran Gaara dan Hinata menatap satu sama lain dan bergumam bersamaan. Memang rasa-rasanya hutan ini begitu aneh. Sebelumnya, Pangeran Gaara melihat puluhan burung berukuran besar terbang berkelompok. Lalu nyamuk-nyamuk yang baru saja mengejarnya, sampai gajah mungil yang kini duduk di dekatnya. Hewan yang biasanya berukuran kecil di dalam hutan-hutan biasa, di sini malah memiliki ukuran luar biasa besar, sedangkan hewan-hewan besar justru berukuran mungil di hutan ini.
Pangeran Gaara mengedarkan mata, menyisiri langit-langit hutan yang tidak tertembus matahari. Benar, hutan ini memang hutan keterbalikan. Pepohonan yang seharusnya berukuran kecil, di sini tumbuh besar hingga menjulang puluhan meter. Sementara pepohonan yang seharusnya besar, tertimbun tingginya pepohonan yang mengangkasa hingga hanya sebatas betis manusia.
Pandangan Pangeran Gaara kembali tertumbuk pada sang gajah. Gajah mungil itu tampak asyik menikmati daun bintang yang dikunyahnya santai. Tubuhnya yang berwarna putih keabuan terlihat lucu dan menggemaskan. Telinganya yang seharusnya sebesar lima kali telapak tangan manusia, malah tumbuh seperti daun bunga melati yang sedang mekar. Dan mata gajah itu bening berbinar.
"Aku memang lucu dan menggemaskan. Terima kasih," seru gajah itu tampak sumringah. Kening Pangeran Gaara mengerut mendengarnya. "Kau bisa membaca pikiran orang?" tanya Pangeran Gaara, si gajah mengangguk. "Tapi hanya kaum kami yang bisa melakukannya, tenang saja," sahut gajah itu lagi. Pangeran Gaara diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Hinata, matanya mengedar ke setiap sudut hutan, menelisik setiap yang ada di sekitarnya dengan jeli.
"Kenapa kalian bisa sampai ke sini?" Gajah itu bertanya dengan suara riang. Pangeran Gaara berdeham pendek, "Aku rasa kau pasti sudah tahu," sahutnya. Sang gajah tertawa geli mendengarnya. "Ternyata kau memang pintar," pujinya senang. Lalu menatap Hinata dan Pangeran Gaara bergantian dalam diam.
"Ada apa?" selidik Pangeran Gaara.
"Kenapa kalian mencari Iluvatar? Apa kalian tidak takut?"
"Kenapa kami harus takut?" serobot Hinata. Sang gajah menghela napas. "Apa kalian tahu, semua makhluk di hutan ini punya misi yang sama dengan kalian, sama-sama ingin menemukan Iluvatar. Itu sebabnya setiap ada makhluk asing yang masuk ke hutan ini tanpa permisi, tidak akan selamat dengan mudah."
"Kenapa mahkluk di sini juga ingin menemukan Iluvatar?" Pangeran Gaara bertanya dengan tenang.
"Karena Iluvatar bukan kitab sembarangan. Di dalamnya berisi setiap hal yang diinginkan semua makhluk; keabadian, awet muda, umur yang panjang, bahkan kau bisa menemukan kematian di dalamnya."
Bulu kuduk Hinata sedikit berdiri mendengar penuturan sang gajah. Pantas saja makhluk-makhluk aneh tadi mengejarnya.
"Bukan itu saja. Iluvatar juga menjanjikan setiap hal yang diinginkan. Setiap permintaan yang diajukan bisa terkabul. Sakura Valor tentu sudah menjelaskannya pada kalian, bukan?" Hinata dan Pangeran Gaara mengangguk bersamaan. "Itulah kenapa setiap makhluk di sini seolah melindungi Iluvatar. Karena mereka juga menginginkannya. Bahkan tidak segan mereka mengorbankan teman satu sama lain hanya untuk bisa lebih dekat dengan tempat Iluvatar berada. Mereka terlihat seperti teman, tapi nyatanya mengorbankan satu sama lain, saling menjatuhkan. Kalian harus pintar-pintar jika ingin sampai ke tempat Iluvatar berada dalam keadaan hidup."
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Hinata setelah mendengar penjelasan sang gajah.
"Buatlah benteng pertahanan kalian sendiri," sahut gajah itu.
"Caranya?" kali ini Pangeran Gaara yang bersuara.
Gajah itu bangkit dan berlari kecil menuju semak-semak. Ketika kembali, belalainya menyeret sebuah kain yang diatasnya berisi benda-benda tajam. "Buatlah tombak yang runcing sebanyak mungkin, buat panah dan busur semampu kalian. Apapun benda yang sekiranya bisa membantu kalian, sebaiknya bisa kalian bawa. Karena tidak ada yang tahu rintangan apa saja yang akan menghadang kalian di kedalaman sana."
Pangeran Gaara dan Hinata mengangguk bersamaan. Keduanya mulai mencari kayu-kayu dari ranting dahan pohon yang masih kuat. Atas instruksi sang gajah, Pangeran Gaara sampai harus menaiki sebuah pohon besar yang tinggi untuk bisa mendapatkan ranting yang bagus untuk dijadikan tombak atau panah. Sementara Hinata, tangannya bergerak cepat dan lihai meruncingkan ujung ranting yang didapatkan Pangeran Gaara, membentuknya sebagai tombak dan anak panah, bahkan ada yang dibentuknya busur. Mereka menempa apapun yang bisa dijadikan senjata. Hingga akhirnya terkumpul banyak anak panah dan tombak juga dua buah panahan dengan busur dari benang yang diambil dari sari sulur bunga sedap malam.
Sang gajah tersenyum maksimal melihat perbekalan yang disiapkan Pangeran Gaara dan Hinata. Sebelum mereka pergi, sang gajah berpesan dengan suara datar. "Saling percayalah kalian satu sama lain. Karena di dalam sana, kepercayaan kalian terhadap diri masing-masing benar-benar dipertaruhkan."
Pangeran Gaara dan Hinata mengangguk seraya tersenyum bersamaan. Keduanya berterima kasih dan beranjak pergi. Tapi baru dua langkah, tubuh Pangeran Gaara kembali berbalik. "Hei, gajah yang baik hati! Apa kau tidak punya permintaan yang ingin disampaikan jika kami berhasil menemukan Iluvatar?"
Sang gajah tersenyum sumringah kemudian berseru lantang. "Tolong sampaikan pada Iluvatar, kembalikan cahaya ke dalam Marygold!"
Ibu jari Pangeran Gaara terangkat tinggi dan mengangguk penuh semangat. Tatapannya beralih pada Hinata yang juga mentapanya penuh rasa juang. "Apa kau sudah siap?" suara Pengeran Gaara terdengar seperti bisikan. Hinata tersenyum dan mengangguk. "Sebelum kita masuk tadi, matahari berada tepat di belakang kita, itu artinya itu arah timur, dan kita hanya perlu berjalan lurus ke depan untuk bisa menemukan Iluvatar. Semakin kita cepat, langkah kita masih diiringi cahaya matahari dan sekitar kita masih jelas. Itu membantu kita cepat menemukan Iluvatar. Ingat, kita hanya harus terus bersama. Kau, mengerti?"
Anggukan mantap Hinata menorehkan senyum pangeran Gaara semakin lebar. Keduanya kemudian berjalan semakin dalam dan dalam. Keadaan di sekitar mereka semakin terasa lembab dan dingin. Pencahayaanpun semakin minim. Suasana di kedalaman semakin mencekam. Pangeran Gaara dan Hinata tidak lepas menatap siaga ke sekeliling. Tanpa mereka sadari, puluhan mata dengan tatapan lapar mengekori setiap pergerakan mereka.
"Apa perjalanan kita masih jauh? Aku lapar sekali," rengekan Hinata yang ke sekian kali membuat Pangeran Gaara menarik napas lelah. Bukan hanya Hinata yang kelaparan, dirinya juga kelaparan. Hampir satu jam mereka berjalan tapi belum ada satu pun pohon berbuah yang bisa dijadikan makanan. Ditambah kakinya pegal luar biasa.
"Kau sudah benar-benar lapar?" tanya Pangeran Gaara, Hinata mangangguk. Sebelah tangannya mengelus perutnya yang berbunyi tanpa henti. Melihatnya, Pangeran Gaara mengulum senyum. "Tunggulah di sini, aku akan mencari makanan."
"Eh, tapi ke mana?"
"Mungkin hutan sebelah sana tumbuh pohon buah yang bisa dimakan. Kau tunggu di sini saja, mengerti?" titah Pangeran Gaara. Tubuhnya sudah berbalik, tapi tidak jadi. "Dengarkan aku, Hinata, jika sampai lima belas menit aku tidak kembali, maka kau harus meneruskan perjalanan apapun yang terjadi. Kau, Paham?"
Sebelah alis Hinata terangkat. "Kenapa harus begitu? Kau sendiri yang mengatakan kalau kita harus terus bersama. Kau mau aku disantap hewan-hewan buas di sini, ya?" Pangeran Gaara berdecak, "Kau sendiri tadi yang bilang lapar. Aku mau mencari makanan, kau lupa, heh?"
"Tapi tidak dengan meninggalkan aku sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku atau padamu? Kau tidak bisa menjaminnya, kan?"
"Jadi, kau mencemaskan aku?" goda Pangeran Gaara senang. Hinata memutar bola mata malas. "Terserah apa katamu, tapi aku tidak mau ditinggal sendirian," cetus Hinata. Pangeran Gaara terkekeh mendengarnya. "Bilang saja kau selalu ingin bersamaku."
Sudut bibir Hinata berkedut malas menanggapi, kemudian berlalu mendahului. Pangeran Gaara tersenyum kecil melihatnya. Sebelum menyusul Hinata, dia menandai beberapa batang tubuh pohon dengan tanda silang. Agar jika mereka tersesat, mereka hanya harus mencari tempat ini kembali. Tapi, Pangeran Gaara tidak tahu jika setelah langkahnya meninggalkan posisi awal, tanda-tanda yang dibuatnya kemudian tertutupi sulur pohon yang merambat hidup perlahan.
-TBC-
PS:
Ne maki lucis caelum :Thanks ya udah baca dan review. Heheh iya aku lanjutin kok.
Sabaku No Maura: thanks maura-chan hehehe..ya ini request vio, fantasy, jadi aku ambil dunia peri,
Hehehe...ini juga berkat bantuan lavly, hahhaha..
Ketika pusaka itu terinspirasi dari sifatnya my sugar pie. Aku berharap dy tau itu,hehehe. Tentang gaya penulisanku, aku haarap ada kemajuan maura-chan. Terutama untuk mengurangi kritikan yang g berguna hahaha...ff yang lain masih dalam proses kok..hheheh thanks maura chan.
Dindahyuuga: thanks udah baca dan
Violet: ternyata kamu membacanya hehehe.. memang agak menyulitkan vio tp aku sangat suka dan senang kalo yang request itu suka dengan ff yang mereka request. Hehehe,..mereka pasti berbaikan kok.
