The Thrill of Chase
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Ryeowook
Kim Jongwoon (Yesung)
Lee Hyukjae (Eunhyuk)
Lee Donghae
Rate : M
Disclaimer : Original story by Lynda Chance - Remake dari novel dengan judul yang sama dengan sedikit perubahan agar sesuai dengan karakter. Saya cuma pinjam cerita dan nama cast(s)^^
Summary : Sungmin, Ryeowook dan Eunhyuk adalah teman sekamar dan sahabat baik. Mereka masing-masing bertemu dengan seorang pria yang sangat menyukai mereka dan mati-matian mengejar mereka. Setiap bagian menceritakan secara detail masing-masing karakter dan bagaimana usaha sang Alpha male untuk mendapatkan mereka.
Warning : Genderswitch || Mature Content || Sex Activity || Typo(s)
Don't Like Don't Read
Enjoys^^
.
.
.
Yesung & Ryeowook
Tiga puluh menit kemudian, Ryeowook duduk dengan diam di sebelah Yesung didalam mobil Yesung, sementara pria itu menyetir masuk ke dalam lingkungan berpagar dimana dia tinggal. Ryeowook memandang sekeliling dengan kagum. Tempat ini mempesona.
Tempat ini berada di sebelah utara kota, di tengah-tengah antara Seoul dan Incheon.
Mereka berada di sebuah area pemukiman kelas atas yang membuka jalan baru, pohon palem dan restoran di depan pancuran air dekat gerbang.
Lingkungan perumahan Yesung masih baru dan terlihat mengkilap. Yesung membuka pintu garasi dengan menekan tombol di dashboardnya dan satu dari tiga bagian dinding membuka.
Yesung membawa mobilnya masuk. Garasi terhubung dengan rumah lewat jalan yang tertutup dan setelah mereka meninggalkan mobil, Ryeowook berdiri di jalan rumah Yesung dan menunggu dipersilahkan oleh sang tuan rumah. Ryeowook ingin melihat rumah Yesung, tapi dia tidak akan meminta. Ryeowook masih trauma dengan perlakuan kasar Yesung semalam dan Ryeowook tidak akan berkata apapun, melakukan apapun yang dalam cara apapun memberikan kesan dirinya mengejar-ngejar Yesung. Yesung yang harus memohon terlebih dulu padanya. Ryeowook masih memiliki sedikit harga diri.
Yesung menekan tombol keypad dan pintu dinding garasi lain terbuka.
Ryeowook mengamati dengan diam saat Yesung masuk ke dalam dan kembali dengan membawa sebuah mobil keluar.
Ryeowook meringis saat melihat mobil itu.
Oh astaga. Tidak, Tidak akan.
Ryeowook tidak akan mengendarai mobil itu. Dia tidak bisa. Dia tidak akan.
Bisakah?
Ryeowook memandang dengan kagum saat Yesung keluar dari Corvette seri terbaru yang cantik dan berwarna merah cherry. Yesung berjalan kembali ke arah Ryeowook dan melemparkan kunci mobil. Ryeowook secara otomatis meraih kunci dan menangkapnya.
"Aku tak bisa mengendarai mobil itu." dengan segera Ryeowook membantah.
"Tentu saja kau bisa. Ini transmisi otomatis. " Yesung dengan sengaja mengalihkan kata-kata Ryeowook.
"Bukan, maksudku, ini sebuah Vette." Ryeowook menunjuk sesuatu yang sudah jelas terlihat.
"Ya." Yesung setuju,
"Ini seri terbaru." Ryeowook meneruskan bantahannya.
"Tidak, ini seri lama," Yesung membantah pernyataan Ryeowook.
"Omong kosong. Ini terlihat baru."
"Ini tidak baru, sayang. Aku membeli mobil ini dengan uang signing bonus (uang yang diberikan kepada karyawan baru oleh perusahaan sebagai insentif karena mau bergabung dengan perusahaan) enam tahun lalu." Yesung menjelaskan.
"Signing bonus? Apa maksudmu?" Suara Ryeowook bergetar.
"Aku seorang pialang saham." Suara Yesung datar.
"Oh."
"Apa pekerjaanmu?" Yesung balik bertanya.
"Aku seorang resepsionis di kantor dokter gigi." Jawaban Ryeowook diucapkan dengan pelan.
"Ya? Kau punya gigi yang cantik." Mata Yesung memandang mata Ryeowook, tidak pernah berpaling.
Ryeowook membiarkan itu beralih saat pembicaraan menjadi lebih berputar.
"kau membeli mobil ini enam t-tahun lalu? be-berapa usiamu?" Ryeowook menjadi bertanya-tanya tentang Yesung.
"28. Apakah kau tidak mengerjakan PR mu?" Yesung bertanya.
"PR?"
"Ya. Kau tahulah, hal-hal biasa yang dilakukan para wanita saat mereka tertarik pada seorang pria? Google. Memata-matai lewat Facebook." Yesung tersenyum. "Dun and Bradstreet. (nama perusahaan penyedia informasi bisnis)" Katanya dengan menggoda.
Ryeowook meradang. "Aku tidak tertarik Yesung-ssi. Aku tidak tertarik denganmu. Aku tidak tertarik dengan uangmu."
"Ok. Terserah apa katamu." Kata Yesung dengan netral.
Mereka mempelajari diri mereka masing-masing dalam diam sampai Ryeowook bicara. "Kau menerima signing bonus yang cukup besar untuk membeli Corvette saat umurmu 22 tahun?"
"Ya."
"Bagaimana?" Ryeowook benar-benar ingin tahu.
"Bagaimana apanya?" Yesung bertanya.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu?"
"Mereka menginginkan aku, sayang. Aku lulus dari K.A.I.S.T dengan IPK 3.98." Yesung tersenyum dengan senyuman mematikan.
"Aku memiliki karisma," Yesung menggerutu dengan suaranya yang dalam dan seksi. "Mereka menginginkan omong kosongku. Masih sampai sekarang."
Ryeowook menelan ludah dan memalingkan pandangannya dari Yesung, memandang Mobil pria tampan itu. Pikirannya berada dalam kekacauan. Yesung jauh dari jangkauannya, benar-benar jauh dari jangkauannya. Semua yang Ryeowook tahu soal Yesung adalah hal-hal di permukaan saja. Ryeowook berpikir Yesung berumur hampir tiga puluh dan Ryeowook tahu Yesung terlihat cukup enak untuk disantap, tapi Ryeowook tak pernah tahu bahwa Yesung kaya dan berpendidikan tinggi. K.A.I.S.T. Astaga.
Ryeowook lulus SMA, punya hutang kartu kredit yang sepertinya tidak bisa ia atasi dan tinggal di sebuah apartemen dengan dua gadis lainnya sehingga mereka bisa berbagi uang sewa.
Well, terlalu banyak bermimpi tentang Yesung. Ryeowook tak akan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi. Saat ini Ryeowook akan menerima saran Yesung dan berhenti berfantasi tentangnya. Ryeowook tidak benar-benar pernah mengejar-ngejar Yesung, tak perduli apapun yang dipikirkan oleh Yesung, tapi saat ini mimpi itu mati.
Ryeowook berbalik menghadap ke arah Yesung.
"Aku tak bisa mengendarai mobilmu. Kukira mobilmu Ford Taurus atau sejenisnya."
"Mobilku diasuransikan, sayang." Saat Yesung mengatakan itu dia berjalan menuju Ryeowook dan mengambil kunci mobil dari tangan Ryeowook. Yesung membuka pintu kemudi dan menunggu.
Perlahan, Ryeowook berjalan menuju Yesung. Ryeowook bahkan belum pernah mengendarai Corvette sebelumnya dan ingin setidaknya melihat interiornya.
Yesung bersandar ke dalam mobil, memasukkan kunci mobil dan menyalakannya.
Yesung kembali berdiri tegak dan membawa tangan Ryeowook ke tangannya. Yesung mengangkat dagu Ryeowook dan menempatkan satu ciuman lembut ke bibir Ryeowook. "Aku bersikap seperti seorang bajingan semalam. Kau tak pantas mendapatkannya. Kau lembut dan manis dan aku berhutang permintaan maaf padamu. Hanya karena aku punya masalah dengan Kyuhyun, tidak berarti aku harus melampiaskannya padamu. Ini bukan salahmu. Kendarailah mobilnya, sayang. Hati-hati. Aku tidak perduli dengan mobilnya, tapi aku ingin kau aman. Mobil ini punya tenaga yang besar. Hati- hati."
Yesung menjadi sangat lembut padanya dan Ryeowook nyaris menitikkan air mata. "Apakah kau yakin?"
"Aku yakin." Yesung mengamati Ryeowook dengan hati-hati, khawatir dengan air mata yang Yesung bisa dilihat di matanya.
"Terima kasih. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, Aku-"
"katakan bahwa kau akan menyetir dengan aman." Jika Yesung tak bisa mendapatkan Ryeowook, ia setidaknya ingin tahu bahwa Ryeowook akan baik-baik saja.
"Ya. Aku akan berhati-hati."
"Aku akan menelponmu minggu depan saat mobilmu telah selesai, Ok?"
"Ok." Ryeowook setuju.
Yesung mendorong Ryeowook ke arah pintu dan Ryeowook masuk ke dalam mobil. Jok kulit dan interior kayu seakan membungkus dirinya.
Yesung memberitahu Ryeowook tentang beberapa hal mengenai kontrol dan menunjukkan pada Ryeowook bagaimana cara mengatur jok dan spion.
Yesung mendorong pintu mobil tertutup dan Ryeowook memandang kearahnya untuk beberapa saat lewat jendela mobil sebelum dengan hati-hati mundur di halaman rumah Yesung.
Yesung mengamati Ryeowook yang membawa mobilnya keluar dan turun ke jalan. Rasa bahagia yang tajam melanda Yesung saat dia melihat Ryeowook mengendarai mobilnya. Mobil itu dibayar dengan uangnya.
Saat Yesung menyadari kemana emosinya menuju, Yesung dengan kasar mengenyahkannya. Ya, Yesung begitu menginginkan Ryeowook.
Ryeowook adalah terlarang untuknya. Jika Ryeowook mengambil apa yang ia inginkan, maka ia kemungkinan akan kehilangan sahabatnya.
Pandangan marah yang gelap melintasi Yesung. Situasi ini secara keseluruhan menyebalkan, jelas sekali.
.
.
.
Jika mengendarai mobil Yesung selama akhir pekan seharusnya membantu Ryeowook untuk melupakan Yesung, maka itu tidaklah berhasil. Ryeowook berusaha untuk fokus tentang keadaan yang berbeda diantara mereka tiap kali dia masuk ke dalam mobil, tapi Ryeowook tak bisa membuat pikirannya kesana. Semua yang bisa ia ingat hanya betapa lembutnya Yesung, betapa manis dan penyayang dia. Semua itu membuat rasa tertarik Ryeowook terhadap Yesung semakin besar dan Ryeowook fokus untuk membuat Yesung tak pernah tahu betapa dalam perasaan Ryeowook terhadap dirinya.
Yesung mengirimkan SMS padanya pada hari Rabu dan mengatakan bahwa perbaikan mobilnya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan. Dealer harus memesan sparepart dan Yesung akan mencoba untuk mengembalikan mobil Ryeowook sebelum hari Jumat.
.
.
.
Jumat malam, Yesung mengetuk pintu apartemen dan berdiri mundur untuk menunggu. Perutnya seperti terikat dalam simpul antisipasi dan ketegangan.
Yesung perlu menukar mobil Ryeowook dengan mobilnya dan segera pergi.
Itu yang harus dia lakukan menurut otak di dalam kepalanya.
Masalahnya, tubuh Yesung sudah tidak mau menurut perintah dari otaknya sejak ia berusia sekitar lima belas tahun.
Yesung berdebat dengan dirinya sendiri selama naik keatas kedepan pintu Ryeowook. Kyuhyun akan membunuhnya. Yesung mengatakan itu kepada otaknya lagi dan lagi. Kyuhyun akan membunuh Yesung.
Masalahnya adalah Ryeowook adalah makhluk paling manis yang pernah Yesung temui dalam waktu yang sangat lama. Dan ia gatal untuk menyentuh Ryeowook.
Dia perlu menukar mobil dan pergi dengan segera.
Pikiran itu terbang dari otak Yesung saat Ryeowook membuka pintu.
"Hai." Suara lembut Ryeowook mengirimkan panah kebutuhan ke dalam dirinya.
"Hey." Bisakah Ryeowook tahu bahwa Yesung ingin meraihnya dan memeluknya? Bisakah Ryeowook tahu bahwa diperlukan semua kontrol diri darinya hanya untuk berdiri di depan pintu dan tidak mendorong Ryeowook ke dalam apartemen?
Ryeowook berdiri di depan Yesung dengan memakai celana pendek katun berwarna merah dan kaos kuning berlengan pendek dengan kerah berbentuk V. Kulit Ryeowook halus dan mulus, dari wajahnya sampai kaki telanjangnya, kuku jari kaki Ryeowook di cat warna pink.
Perut Yesung mengencang karena dorongan kebutuhan yang sangat keras. Yesung harus segera meninggalkan Ryeowook. Dengan cepat.
Yesung memberikan kunci mobil pada Ryeowook tanpa berkata-kata.
Ryeowook meraih dan mengambil kunci mobil dari tangan Yesung, bertekad untuk membuat Yesung masuk ke dalam apartemen. Dua teman sekamarnya keluar malam ini dan Ryeowook sudah memasak makanan untuk Yesung sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan yang sudah dia berikan. Itu bukan berarti Ryeowook mengejar-ngejar Yesung, kan? Tidak, tentu saja bukan. Ryeowook hanya mencoba untuk bersikap baik.
"Masuk." Ryeowook mencoba untuk terdengar santai.
"Tidak usah." Yesung menolak dengan datar.
"kau akan membeku. Cuaca dingin berhembus masuk entah dari mana. Aku masih memakai celana pendek." Ryeowook tahu dia sedang ngelantur. Cuaca sudah membeku sejak sejam yang lalu. Ryeowook tidak mengikuti ramalan cuaca dan tak tahu apakah cuaca dingin benar- benar datang. Tapi, ini bulan Desember di Seoul dan cuaca berubah setiap harinya.
Pandangan Yesung jatuh ke kaki Ryeowook. Angin berhembus masuk dari luar. Yesung tak ingin Ryeowook kedinginan dan Yesung tahu Ryeowook tidak akan menutup pintu jika Yesung masih berada di sana. Dengan enggan Yesung masuk ke dalam apartemen.
Ryeowook menutup pintu dan mereka berdua sekarang ada di dalam apartemen.
"Aku memasak makan malam untukmu. Apakah kau lapar?"
Yesung berpikir untuk berbohong dan mengatakan padanya bahwa dia sudah makan tapi aroma masakan datang dari dapur kecil menggoda perutnya.
Yesung tak pernah menolak satu pun tawaran masakan rumahan. "Kau tak perlu melakukan hal itu." Yesung bisa makan lalu pergi.
"Tentu saja aku perlu. Setelah semua pertolonganmu? Aku harus melakukan sesuatu untukmu." Ryeowook tersenyum. "Maksudku selain tidak merusak mobilmu."
Yesung memberinya senyuman kecil. "Aroma masakannya enak."
"Itu spaghetti."
"Sepertinya enak."
Ryeowook mengarahkan Yesung kearea kecil ruang makan di dapur dan menuangkan segelas es teh. "Duduklah."
Yesung duduk dan mengamati Ryeowook bergerak di dalam dapur. Sosok tubuh Ryeowook melakukan hal gila di dalam pikiran Yesung. Saat Ryeowook mengisi piring dengan makanan, pandangan Ryeowook terus melirik ke arah Yesung. Yesung berusaha untuk tetap duduk diam dan menunggu, dan menjaga tangannya saat Ryeowook datang mendekati Yesung dan ia berada dalam jangkauannya lalu Ryeowook meletakkan piring di hadapannya.
Yesung menunggu sementara Ryeowook duduk dengan piring untuk dirinya sendiri lalu Yesung mengambil garpu.
Kemudian Yesung menyadari makanan di atas piringnya. Bagaimana aroma makanan ini bisa sangat mengundang selera dan terlihat sangat enak. Mienya berkumpul membentuk gumpalan dan mirip dengan jamur. Ditaburi Saus dan gumpalan cairan sisa saus yang menempel pada piring dan bertaburan di ujung piring. Daging di dalam sausnya membeku dan pinggirnya berminyak. Perut Yesung melilit, tapi ia mengeratkan cengkeramannya pada garpunya dan dengan berani mengambil lagi makanan dari piringnya. Yesung tidak akan menyakiti perasaan Ryeowook.
Ryeowook terlalu gugup untuk makan. Dia mengamati Yesung mengembalikan makanannya kembali ke atas piring untuk beberapa saat sebelum Ryeowook mengambil makanan di atas piringnya sendiri.
Ryeowook mengambil suapan pertama dan menjatuhkan garpunya dengan suara keras. Ryeowook berusaha untuk menelan, mengambil teh dan meminumnya lalu Ryeowook meraih pergelangan tangan Yesung yang berada di seberangnya. "Berhenti."
Saat Yesung memandang ke arahnya, Ryeowook melihat ekspresi lega dimata Yesung. Mata Ryeowook penuh dengan air mata karena malu.
Ryeowook mencoba untuk meminta maaf. "Aku minta maaf. Aku tidak bisa percaya kau memakannya."
Ryeowook bahkan merasa lebih buruk lagi saat Yesung tersenyum padanya. "Makanannya lumayan."
Ryeowook menggelengkan kepalanya. "Makanannya sangat tidak enak."
"Kau sering memasak?"
"T-tidak. Sungmin dan Eunhyuk yang memasak. Aku tak pernah berpikir kalau memasak itu ternyata sulit."
"Makanannya tidak terlalu buruk, sayang. Kau hanya butuh latihan," Yesung mengatakannya dengan lembut.
"Aku tidak bisa membayangkan mengorbankan seseorang untuk mencoba hasil masakanku."
Kecemburuan mengalir ke dalam diri Yesung saat memikirkan ada orang lain, seorang pria lain yang memakan makanan Ryeowook. Ini konyol, dan dia tahu itu. Bahwa masakan Ryeowook memang tidak enak.
Yesung harus mengalihkan pemikiran Ryeowook dari itu. "Bagaimana jika aku mengajakmu makan di luar?"
Ryeowook sangat malu, dia seakan ingin merangkak sembunyi ke bawah batu. Atau pergi ke tempat tidur dan meletakkan kepalanya di bawah bantal dan tidak bangun untuk beberapa hari. "Tidak terima kasih.
Aku tidak lapar." Ryeowook memandang kearah Yesung, perasaan Ryeowook tergambar jelas dimatanya.
"Tidak apa-apa, sayang."
"Aku sangat malu."
"Jangan khawatir soal itu. Pakai Jeans dan mari kita pergi untuk mencari makanan."
"Tidak, sungguh, kau tak perlu melakukan hal itu. Aku tahu kau harus melakukan hal lainnya. Aku baik-baik saja."
Yesung tidak bisa memaksa Ryeowook untuk pergi. Lagipula Yesung tahu bukan ide yang baik untuk berada di dekat Ryeowook terlalu sering. Saat Ryeowook berdiri untuk membersihkan meja, Yesung ikut berdiri.
Ryeowook melirik kearah Yesung dan tersenyum. "Aku akan mengambil kunci mobilmu."
Ryeowook mengantar Yesung kepintu dan baru saja akan mengucapkan terima kasih kepada Yesung saat pria itu meletakkan satu jarinya ke bawah dagu Ryeowook dan mengangkatnya.
"Terima kasih karena sudah mencoba untuk memasak, sayang." jemari Yesung menyapu bibir bawah Ryeowook "Kau sangat manis."
Ryeowook memandang Yesung dengan seksama. Yesung bisa merasakan tubuh Ryeowook gemetar. Suara Ryeowook sangat lembut. "Terima kasih untuk pinjaman mobilnya. Terima kasih sudah memperbaiki mobilku.
Terima kasih untuk setiap-"
"Shhh. Sudah Cukup. Kau tak perlu berterima kasih padaku." Yesung tidak ingin pergi. Saat Yesung pergi, ia tak akan punya alasan yang masuk akal untuk kembali. Yesung tak tahu kapan dia bisa bertemu dengan Ryeowook lagi.
Persetan, Kyuhyun.
Yesung tak dapat menghentikan dirinya dan menunduk ke bawah untuk mencium dahi Ryeowook. Hanya itu yang Yesung izinkan untuk dirinya lakukan. Hanya itu yang ia bisa izinkan untuk dirinya dalam keadaan seperti sekarang ini.
Kulit Ryeowook lembut dan mulus di bawah bibirnya dan Yesung menahan dirinya untuk tidak meraih gadis mungilnya. Ryeowook yang manis sudah menjadi candu bagi dirinya. Kelembutan Ryeowook sungguh memukau dirinya. Yesung bernafas mencium aroma Ryeowook, mencoba untuk mengingatnya dan kemudian dengan lembut menjauhkan gadis mungil itu dari dirinya.
"Tetaplah jadi gadis yang manis, sayang. Jaga dirimu." Suaranya terdengar seperti siksaan bahkan bagi dirinya sendiri.
Yesung dengan cepat berpaling dan pergi.
.
.
.
Tepat delapan hari kemudian, telepon Yesung berbunyi saat ia baru saja kembali ke dalam rumah setelah membuang sampah.
Caller ID "Gadis pirang mungil yang hot" berkedip padanya dari layar telepon. Panah kebahagiaan yang tidak seharusnya mengalir ke dalam dirinya saat Yesung menjawab.
"Hey. Apa kabar?" Yesung menyeringai saat ia mendengar antusiasme di dalam suaranya. Hey dude, santai.
Ryeowook mulai bicara dengan segera. "Yesung-ssi aku tidak tahu apa yang harus - aku tak tahu apa yang harus aku lakukan."
Rasa takut menyusup ke dalam diri Yesung mendengar suara Ryeowook yang gemetar. "Ada apa?"
"Aku berada di apartemen. Di tempat parkir. Ada mobil polisi dimana-mana. Aku takut untuk naik ke atas. Aku-"
Yesung menyela Ryeowook. "Tetap di situ. Dimana sepupumu? Dimana Eunhyuk?"
"Sungmin bersama Kyuhyun. Eunhyuk berada di rumah orang tuanya."
"Tenang, sayang. Jangan mencoba untuk masuk ke dalam apartemenmu. Tinggalkan semuanya dan datang kemari. Kau ingat jalannya?" Kekhawatiran terdengar dari Suara Yesung.
"Aku tidak bisa datang ke rumahmu-" Ryeowook membantah.
"Kenapa tidak?" Yesung akan pergi mencari Ryeowook dan menariknya ke rumahnya jika diperlukan.
"Aku tidak tahu- aku akan menelpon Sungmin eonni. Mungkin aku akan pergi ke rumah Kyuhyun."
"Tidak. Kau akan pergi ke rumahku."
"Yesung-"
"Berhenti membantah dan mulainya menyetir. Kau ingat jalan menuju ke rumahku?"
"Ya. Kupikir aku ingat."
"Gadis pintar. telepon aku jika kau membutuhkan arahan penunjuk jalan."
"Ok."
Yesung bisa mendengar kelegaan di suara Ryeowook.
"Wookie."
"Ya?"
"Hati-hati, sayang."
.
.
.
Satu jam kemudian, Ryeowook akhirnya sampai ke rumah Yesung. Seharusnya hanya memakan waktu 40 menit paling lama bagi Ryeowook untuk sampai dan Yesung hampir saja menjadi panik. Kenapa Ryeowook terlambat? Emosi Yesung seperti terpasung saat menunggu Ryeowook datang.
Yesung berdiri di jalan mobil rumahnya dan membukakan pintu mobil Ryeowook Saat mobil Ryeowook berhenti. "Kau baik-baik saja?"
"ya."
"Ayo, mari kita masuk ke dalam rumah."
Ryeowook meraih tasnya, mengunci mobilnya dan mengikuti Yesung kedalam rumahnya. Rumah Yesung seindah yang Ryeowook pernah bayangkan. Apakah seseorang sudah mendekorasi rumah ini untuknya? Seorang wanita? perasaan cemburu pada wanita asing yang tidak dia kenal mengalir ke dalam dirinya. Ryeowook ingin menjadi wanita yang merawat Yesung. Peluang yang sangat tipis. Ryeowook bahkan tidak bisa memasak makanan yang pantas untuk Yesung.
Yesung memimpin Ryeowook masuk kedalam rumah, mengambil tas Ryeowook dan melemparkannya ke atas kursi. Yesung meraih bahu Ryeowook dan memegang lengan atas gadis itu. "Kau baik-baik saja?"
Ryeowook menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. "Ya." Mata Ryeowook menenggelamkan Yesung jauh ke dalam. Yesung tinggi, keras dan berkulit agak gelap dan Yesung membuat kaki Ryeowook bergetar, seperti yang selalu Yesung lakukan. Yesung memakai baju kaos ketat dan jeans yang pudar. Kakinya telanjang. Ya Tuhan, Yesung bahkan memiliki kaki yang seksi.
Yesung menahan Ryeowook didalam lingkaran lengannya sementara aroma Ryeowook membangunkan inderanya. Rangsangan menghantam Yesung dengan keras, dibawah perutnya. "Aku senang kau menelponku."
Mata Ryeowook bercahaya saat dia memandang Yesung. "Aku tidak - aku tak tahu kenapa aku menelponmu."
"Ya, kau tahu."
Kesunyian menjawab kata-kata Yesung.
Mata mereka berkait saat gairah tajam dan panas mengalir di antara mereka. Tubuh mungil Ryeowook gemetar di bawah tangan Yesung.
Kulit lembut Ryeowook terasa sempurna di bawah sentuhan Yesung. Sudah delapan hari yang panjang Yesung tidak bertemu dengan Ryeowook atau mendengar kabar darinya dan saat ini terasa pas. Hal lain di dunia ini jadi terasa mulai kabur. Pikiran Yesung fokus pada Ryeowook. Tubuh Yesung fokus pada Ryeowook. Yang lain bukan masalah. Yesung tak dapat melihat kenapa hal lain atau orang lain menjadi penting. Yesung sama sekali tidak perduli terhadap apapun. Ini semua tentang Ryeowook.
Suara gemetar lembut dari diafraghma Yesung keluar saat dia merendahkan kepalanya ke arah Ryeowook. "Perduli setan dengan Kyuhyun. Dia urus urusannya sendiri."
Ryeowook menarik nafas dalam saat mulut Yesung menutup mulutnya. Untuk beberapa detik, ingatan tentang ciuman hukuman Yesung yang brutal dulu merasuk ke dalam pikiran Ryeowook dan Ryeowook menguatkan tubuhnya dari pengaruh Yesung. Tapi dengan segera, Ryeowook merasakan ciuman ini berbeda dan rasa lemah melandanya saat dia bersandar ketubuh Yesung.
Pikiran Ryeowook terbagi saat kebahagiaan melanda ke sekujur tubuhnya. Oh Tuhan, Ya! Ini dia! Ini ciuman yang ia inginkan, ciuman yang dia butuhkan dari Yesung. Tangan Ryeowook merangkak dari dada Yesung dan memeluk lehernya saat Ryeowook memberikan dirinya kepada Yesung.
Aroma tubuh Yesung membasuh Ryeowook seutuhnya dan nafasnya tertahan di paru-parunya saat Ryeowook merasakan dirinya gemetar. Ryeowook sudah menginginkan hal ini sejak lama sekali! Yesung membuat perasaan kuat ini di dalam diri Ryeowook, begitu mutlak. Tidak ada hal yang bisa dibandingkan dengan ini.
Pikiran Ryeowook seakan berhenti saat dia merasakan aliran yang sangat deras melanda ke dalam kepalanya dan antisipasi yang melingkar ke dalam perutnya.
Tubuh Yesung mengeras dan kebutuhan yang buas masuk ke dalam dirinya saat dia merasa Ryeowook meleleh ketubuhnya. Ryeowook adalah miliknya untuk dinikmati! Dan Yesung tak akan membuang beberapa detik waktunya untuk mencoba bersikap seperti orang mulia. Yesung menginginkan Ryeowook. Yesung ingin Ryeowook tanpa busana. Di tempat tidurnya. Sekarang.
Ryeowook merasakan kepalanya berayun saat kakinya terangkat dari lantai dan Yesung mengangkat dirinya dan membalikkan tubuhnya dengan satu gerakan tiba-tiba. Mulut Yesung terlepas dari mulut Ryeowook dan Yesung mulai berjalan dari ruangan ini, menggendong Ryeowook di tangannya seperti Ryeowook sangat ringan. Rangsangan dan dorongan kebutuhan melayang di dalam tubuh Ryeowook. Saat Yesung terus berjalan menuju pintu ke dalam kamar gelap, Yesung menurunkan Ryeowook keatas tempat tidur. Tangan Ryeowook turun kedada Yesung.
"Kau tahu berapa lama aku menginginkanmu berada di sini? Di rumahku, diatas tempat tidurku?" Suara Yesung pelan, datang dari dalam dadanya, dalam suara yang dalam.
Ryeowook menggelengkan kepalanya dan menurunkan tangannya ke samping tubuh Yesung. Ryeowook menarik kaos Yesung keatas kepalanya sampai tangannya menyentuh tubuh Yesung yang panas. Tubuh Yesung melonjak di bawah jemari Ryeowook.
"Lama. Berminggu-minggu, sayang, sejak malam pertama kali kita bertemu." Tangan Yesung meraih kebawah diantara tubuh mereka dan membuka kancing celana jeans Ryeowook dan menurunkan restleting jeans Ryeowook.
Sensasi gelombang panas membanjir ke dalam aliran darah Ryeowook.
Yesung menarik celana Jeans Yesung kebawah cukup untuk mendorong tangannya ke dalam dan menangkup bagian panas Ryeowook melalui celana dalamnya. Ryeowook mendesah dan berayun ke depan ke arah Yesung.
Yesung mencengkeram Ryeowook dengan erat, satu tangan kepantat Ryeowook di dalam celana Ryeowook yang sudah terbuka dengan longgar dan tangan Yesung yang lain berada di dalam area V diantara kaki Ryeowook. Jemari Yesung menyusup ke bawah celana dalamnya dan terus menuju lipatan dan jemari Yesung menemukan celah lembut milik Ryeowook.
Panas, cairan basah yang hangat menutup jemari Yesung saat otot Ryeowook mencengkeram jarinya. "Oh sialan Ya." Suara Yesung dalam dan serak penuh rasa syukur.
Ryeowook mengeluarkan suara yang pelan penuh kenikmatan.
Yesung menurunkan kepalanya kearah Ryeowook dan mengangkat dagu Ryeowook keatas dengan wajahnya sampai mulut Ryeowook terbuka dan lidahnya langsung masuk kedalam. Pinggul Ryeowook mendorong kearah Yesung saat lidah mereka saling membelit. Mereka berciuman sampai mereka tak dapat bernafas dan Ryeowook melepaskan mulutnya dari Yesung. Bibir Yesung bergeser ketelinga Ryeowook dan ia menghisap aroma gadisnya saat Yesung berbisik kepadanya. "Kau sangat nikmat.
Kau amat sangat nikmat. Aku ingin kau telanjang. Aku ingin membuatmu orgasme. Ya Tuhan, aku ingin membuatmu orgasme." Yesung menggigit daun telinganya dan Ryeowook merasakan cairan mengalir dari celah di antara kedua kakinya, membasahi Yesung, mengizinkan jari Yesung untuk bergerak masuk dan keluar dengan mudah.
Jari Yesung keluar dari tubuhnya dan Ryeowook mendesah protes, sementara Yesung mencengkeram kaos Ryeowook dan menariknya keatas kepala Ryeowook dan membukanya.
Pikiran Yesung hampir meledak saat ia melihat gundukan lembut dan mulus payudara Ryeowook menyembul dari cup bra-nya. Yesung menurunkan kepalanya dan menghisap puting payudara Ryeowook kedalam mulutnya lewat renda cup bra Ryeowook, menyerempet puting payudara Ryeowook dengan gigi dan lidahnya. Ryeowook gemetar dan mengangkat tangannya ke kepala Yesung dan menahannya, sementara Yesung terus menghisapnya. Dengan ketidaksabaran, Yesung menarik cup bra-nya kebawah sampai puting payudara Ryeowook keluar. Geraman yang dalam bergetar berasal dari dada Yesung saat ia menggerakkan ibu jarinya ke atas puting merah jambu milik Ryeowook. Yesung mengangkat mulutnya hanya cukup untuk berguman, "Sialan, kau sungguh cantik."
Pinggul Ryeowook mengayun ke arah Yesung. "Yesunghh, tolong."
Yesung mengapitkan tangannya ke payudara Ryeowook secara penuh, mengangkat payudara Ryeowook ke wajahnya. "Tolong apa, sayang?"
Ryeowook mengerang, "Tolonglah, tolonglah, tolonglah."
"Ya. Ok." Yesung meremas payudara Ryeowook dan menggerakkan lidahnya dari satu puting ke puting lainnya, menyapu kulit lembut Ryeowook dan membuat napasnya semakin sesak.
Ryeowook menggerakkan tangannya ke kancing celana jeans Yesung dan mencoba untuk membukanya. Ryeowook meraba-raba tapi sia-sia. Ia kehilangan kekuatannya.
Yesung mendorong tangan Ryeowook dari atas kancing celananya dan Yesung membuka celana jeansnya dan mendorong celananya kebawah kakinya, bersamaan dengan celana dalamnya.
Ryeowook mendorong kaos Yesung keatas dan Yesung mengangkat tangannya dan menarik kaosnya keatas kepalanya, melemparkannya kebawah.
Yesung berdiri tanpa busana didepan Ryeowook. Mata Ryeowook terbuka lebar saat dia memandang Yesung. Yesung sempurna. Melebihi apapun.
Yesung ramping dengan otot keras menghiasi setiap inchi tubuhnya. Perutnya seperti terpahat, otot perutnya tampak menonjol membuat Ryeowook ingin meraih dan menyentuhnya. Ryeowook membisikkan kata-kata yang tadi diucapkan oleh Yesung. "Sialan, kau cantik."
Yesung tertawa tanpa sedikitpun nada humor dalam suaranya dan mendorong bra Ryeowook dari bahunya dan mulai mendorong celana jeansnya terbuka. "kau pikir begitu?"
"Ya."
Yesung melemparkan celana jeans Ryeowook dan celana dalamnya disebelah pakaiannya. Yesung memandang kebawah ke lekuk tubuh Ryeowook yang sudah tanpa busana berlutut di tempat tidur, rasa gemetar melanda ke dalam tubuh Ryeowook. Rambut pirang Ryeowook jatuh bergelombang lembut di atas payudaranya. "kau cantik." Yesung melihat ke tubuh Ryeowook lalu keatas kematanya. "Kurasa kau tahu aku bahwa aku akan menguncimu disini. Kau tidak akan pernah meninggalkan kamar tidurku."
Yesung mengatakan itu dengan raut wajah yang tidak bergerak, seperti dia benar-benar serius.
Tangan Yesung meraih ke tubuhnya.
Mata Ryeowook melebar saat gairah intens melandanya. "Orang-orang akan merindukanku."
"Mungkin." Satu tangan mendarat dibelakang tubuh Ryeowook, tangan lainnya dibawah lututnya saat Yesung membalikkan tubuh Ryeowook kebawah sampai Ryeowook telentang. Yesung mendorong kaki Ryeowook terbuka dan memposisikan tubuhnya diantara paha Ryeowook. "Tapi itu bukan urusanku."
Ryeowook menarik nafas. Kata-kata Yesung menggoda tapi juga intens. Posisi Yesung mengancam. Yesung berada diatas Ryeowook, mata mereka saling memandang.
"kau siap, sayang?"
"T-tidak."
"Bersiap-siaplah."
"Apakah kau punya - apakah kau punya kondom?"
Mata Yesung menyipit dengan kemarahan yang mengancam, Aliran api berada di dalam emosinya. "Kau ingin membuat aku memakai kondom?" Yesung menggeram.
Ryeowook memandang keatas kearah Yesung, terkejut dengan pertanyaan pria itu. "Seberapa sering kau tidak menggunakan kondom?"
"Tidak pernah," Jawaban Yesung yakin dan terdengar jujur. "Aku bertanya padamu lagi, kau ingin aku menggunakan kondom?"
Ryeowook menggigit bibirnya saat Yesung memandang kebawah kedalam matanya, lengan Yesung menawannya, lutut Yesung menekan kakinya membuka. Milik Yesung ada diatas diarea masuknya. "Hanya Jika- hanya Jika kau tidak menginginkan bayi," Ryeowook berbisik.
Lubang hidung Yesung melebar saat dia memandang kearah Ryeowook untuk satu detik, dua detik, tiga detik-
Lalu Yesung menggeram rendah ditenggorokannya dan menusuk kedalam celah Ryeowook.
Tubuh Ryeowook bergema sebagai dampaknya, dan ia mengeluarkan suara serak kesakitan bercampur dengan gairah. Dengan kaget Ryeowook membuka matanya dengan lebar dan memandang Yesung sementara ia berusaha untuk menyesuaikan tubuhnya dengan ukuran milik Yesung. Tusukan Yesung yang tanpa pelindung. "Aku tidak– aku tidak bisa percaya kau baru saja melakukan itu."
Suara jeritan terkejut lain datang lagi dari Ryeowook ketika Yesung melakukan tusukan pertamanya.
Yesung memberikan Ryeowook beberapa saat untuk menyesuaikan diri lalu Yesung meletakkan tangannya dibawah pantat Ryeowook dan mengangkat tubuh mungil itu kearahnya.
Yesung menusuk lagi dan mendesah dengan keras. "Kau bilang aku bisa."
"Tidak. Aku tidak mengatakannya. "Kenikmatannya begitu intens sehingga Ryeowook hampir tak bisa berpikir dan Ryeowook mengangkat pinggulnya sementara otaknya menjerit padanya untuk menghentikan Yesung. Bisakah ia membiarkan Yesung melakukan beberapa tusukan lagi? Ryeowook bisa merasakan perasaan ini terbangun, Ryeowook mendekati orgasme. "Kau harus berhenti."
Yesung membekukan gairahnya akan pembebasan yang berteriak kedalam pembuluh darahnya dan berkonsentrasi kepada Ryeowook. "Kau sudah dekat?"
Ryeowook mendesah dilengan Yesung dan mengangkat pinggul kearah tusukannya. "Y-Ya."
Yesung menyusupkan tangannya kebawah dan jari Yesung mendarat di clit-nya. Yesung menusuk Ryeowook dengan cara yang tak akan dapat ia tolak. Yesung berharap Ryeowook tak akan mampu untuk menolak.
Dan Yesung benar.
Ryeowook mulai mendesah dan Yesung dapat merasakan otot Ryeowook menjepit miliknya, lebih ketat menjepit miliknya, meremas miliknya sampai Ryeowook meledak dalam pelukannya.
Kecantikan Ryeowook saat orgasme begitu menggetarkan. Ia panas, basah, mulus dan ketat. Pikiran Yesung meledak dalam sensasi dan tubuh Yesung mulai mencapai bibir jurang. Ia mendorong kedalam Ryeowook dengan keras satu kali lagi dan menyentak, menumpahkan miliknya kedalam perut sehalus satin milik Ryeowook.
Yesung ambruk diatas tubuhnya, menjatuhkan kepalanya keatas bantal disebelah kepalanya. Oksigen membakar paru-paru Yesung, ia menarik nafas. Detak jantungnya perlahan menurun.
Yesung memeluk Ryeowook dan jatuh tertidur karena puas.
.
.
.
Telepon Ryeowook membangunkan Yesung. Yesung berbalik, meletakkan lengannya keatas kepalanya dan mengamati Ryeowook saat Ryeowook berusaha untuk mengangkat telepon tanpa membiarkan selimut jatuh dari tubuhnya. Ryeowook memandangnya dan Yesung mengangkat satu alisnya.
Ryeowook tersipu merah merona.
Yesung menyeringai dan mendengarkan percakapannya.
Ryeowook bicara ditelepon untuk beberapa menit dan Yesung tahu bahwa Ryeowook bicara dengan teman seapartemennya. Perkiraan Yesung itu adalah Eunhyuk. Suatu ketika Ryeowook mengatakan "rumah Yesung" dan ternyata dunia tidak berakhir karena kata-kata itu sehingga Yesung berpikir perkiraannya benar.
Ryeowook mengakhiri telepon.
"Itu bukan sebuah perampokan. Wanita tua yang baik dilantai bawah kami mendapat serangan jantung dan berhasil menekan telepon untuk meminta pertolongan sebelum dia kehilangan kesadaran. Dia sekarang berada dirumah sakit."
"Sangat memprihatinkan. Tapi hal baiknya itu bukan perampokan. Jika itu perampokan kau tidak akan pernah kembali ke sana."
"Oh Ya?"
"Ya."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Hanya mengatakannya, sayang. Kau tidak harus menjadi panik atau apapun, Karena itu bukan sebuah perampokan."
"Tidak ada yang meninggal dan membuatmu menjadi bos."
"Jangan sampai kau mencobanya."
"Terserah."
Yesung menyeringai dan menghentikan pembicaraan.
Yesung kelaparan dan bertanya pada Ryeowook apakah dia mau memesan pizza atau makan diluar.
Ryeowook memilih pergi makan keluar.
Mereka menyetujui makanan Jepang dan tidak lama kemudian mereka sudah duduk di belakang kursi dengan gelas sake diantara mereka. Tidak seperti biasanya Yesung diam kali ini dan Ryeowook dengan cepat mencatat kencan ini, dengan segala maksud dan tujuan, kencan pertama mereka.
Walau mereka sudah melakukan seks sebelumnya.
Yesung mempermainkan tangan Ryeowook. Ryeowook memandang wajah Yesung dan memutuskan untuk menyelesaikannya. "Itu tidak boleh terjadi lagi."
Yesung tahu dengan pasti apa yang Ryeowook bicarakan. "Tidak?"
"Tidak."
"Aku tak perduli untuk memakai kondom, sayang."
"Tapi kau bilang kau selalu menggunakannya- sebelum."
"Ya, tapi sekarang hanya kau. Hanya kau dan aku dan aku ingin bisa merasakan kulit lembutmu, sayang."
"Walau begitu kukira kau tidak menginginkan bayi."
"Belum ingin."
Mereka saling memandang. Secara cepat nafsu menyelinap diantara mereka. "Jadi Apa saranmu supaya kita bisa menjaga agar itu tidak terjadi?"
"Apakah kau pernah menggunakan pil?" Yesung bertanya. Yesung lebih dari sekedar ingin tahu. Yesung ingin mengetahui masa lalu Ryeowook. Perasaan posesif mengalir kealiran darahnya.
"Tidak." Ryeowook menjawab dengan lembut.
"Tidak pernah?" Yesung merasa senang dan tak bisa mencegah rasa senang itu keluar dari suaranya.
"itu yang baru saja aku katakan." Ryeowook mengulangi.
"Jadi kau tidak pernah punya pasangan seks jangka panjang?"
"Wow, itu pertanyaan pribadi."
"Apa jawabannya?" Yesung bertanya dengan nada ketidaksabaran dalam suaranya. Ia ingin tahu. Ryeowook akan memberitahunya.
"Aku pernah punya beberapa pacar, tapi mereka selalu menggunakan kondom." Ryeowook melirik kearah Yesung saat mengatakan itu. "Lalu kami putus sebelum kami memutuskan hal lainnya."
"Baiklah itu tidak akan terjadi."
"Ya. Kau sudah mengatakan kau tidak perduli dengan kondom." Ryeowook berkata dengan singkat.
"Maksudku tentang putus itu." Yesung memandang Ryeowook dengan seksama.
Rahang Ryeowook terbuka lebar saat Yesung memandangnya. "Apa?" Ryeowook bertanya.
"kau pikir kita tidak akan putus?" jantung Ryeowook mulai berdetak tidak beraturan. Sangat kencang ditelinganya.
Yesung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak juga."
"kenapa?"
"Aku tak tahu. Hanya perasaan, kurasa. Aku begitu menginginkanmu, sayang. Kau tahu aku mungkin akan kehilangan sahabatku karena urusan ini."
"Kyuhyun?" Ryeowook bertanya dengan lembut.
"Ya."
"kau serius? malam itu di klub?" suara Ryeowook bergetar.
"Ya."
"kau pikir Sungmin eonni membencimu atau semacamnya?" Ryeowook harus mencari tahu soal hal ini.
"Kyuhyun pikir begitu," Yesung menjawab.
"Sungmin eonni tidak pernah membenci siapapun, Yesungie. Siapapun tidak punya sikap semanis Sungmin eonni."
"Tentu mereka begitu." Mata Yesung intens saat memandang Ryeowook.
Kehangatan menjalar kepembuluh darah Ryeowook saat tangan Yesung memegang jemarinya dengan erat dan Yesung terus memandangnya. Ryeowook menarik nafas. Ini terdengar serius. Yesung terdengar serius.
Kebahagiaan melanda pembuluh darah Ryeowook. "Apakah kau ingin aku mencoba untuk meminum pil?"
"Apakah kau keberatan?" Yesung bertanya dengan tatapan panas memancar dari matanya.
"Tidak. Apa kau pikir ini pantas untuk dicoba?" Ryeowook bertanya. Ia masih sedikit tidak bisa percaya apa yang Yesung katakan.
"Apa maksudmu?"
"Um, maksudku- aku hanya bertanya-tanya apakah kita akan bersama cukup lama untuk-"
"Serius? Kau pikir aku akan melepaskanmu pergi sekarang?" Suara Yesung terdengar kasar.
"Yesungie kau tidak bisa tahu-"
"Wookie sayang, kita tidak membicarakan tentang pernikahan sekarang, tapi jujur aku katakan padamu bahwa aku tak bisa membayangkan untuk bisa meninggalkanmu dalam waktu dekat." Ekspresi Yesung menjadi ganas. "kecuali kau sudah berpikir untuk meninggalkanku?"
"Tidak!"
"Bagus, Ok kalau begitu. Minum pil. Kita akan lihat bagaimana selanjutnya."
.
.
.
Ryeowook meminum pil dan itu berjalan dengan baik.
Hari berganti menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kebosanan atau putus.
Yesung langsung memberi tahu Kyuhyun. Ia tidak merahasiakannya. Pembicaraan berlangsung lebih baik dari yang Yesung pikirkan. Yesung tidak mendapatkan masalah seperti apa yang dia pikir akan dia dapatkan dari Kyuhyun. Hubungan Kyuhyun aman bersama dengan Sungmin.
Mereka berempat mulai menghabiskan waktu bersama.
Ryeowook khawatir soal Eunhyuk. Yesung dan Kyuhyun berusaha untuk menjodohkan Eunhyuk dengan salah satu teman mereka tapi Eunhyuk menolak.
Sungmin mengatakan pada Ryeowook dengan yakin bahwa dia berpikir pastinya ada seorang pria dimasa lalu Eunhyuk yang menghancurkan hatinya. Mereka tidak tahu siapa itu atau apakah mereka benar. Eunhyuk memegang kartunya sangat rapat di dadanya.
Tapi mereka sudah sangat marah dengan kekasih mereka yang menawarkan untuk menjodohkan Eunhyuk dengan teman mereka. Itu menandakan kedua kekasih mereka menangkap hal ini dengan salah.
Kekasih mereka pastinya memperlakukan mereka seperti tuan putri.
Ryeowook mulai menghabiskan waktu lebih banyak dan lebih banyak lagi dirumah Yesung.
Ryeowook perlahan-lahan mulai belajar memasak. Ryeowook terkagum-kagum saat Yesung memakan semua makanan yang dibuat Ryeowook, hasil percobaan gagalnya. Yesung mengatakan kepada Ryeowook makanannya enak, saat Ryeowook tahu itu tidak enak.
Ryeowook tidur diatas tempat tidur Yesung setiap malam. Yesung memeluknya sampai Ryeowook tertidur. Yesung memberikan sinyal kepada Ryeowook bahwa gadis itu tidak lagi membutuhkan apartemennya. Yesung mulai memarkir mobil Corvette miliknya didepan mobil Ryeowook dan menutup jalannya. Saat Ryeowook mengeluh Yesung mengatakan kepada Ryeowook untuk menggunakan 'Vette nya saja. Itu berlangsung terus menerus sampai Ryeowook mendapatkan kunci vette nya sendiri dan mulai mengendarainya kemanapun dia pergi. Itu tampaknya membuat Yesung bahagia.
Empat bulan setelah mereka mulai berkencan, mereka duduk dihalaman belakang dan memandang bintang.
Yesung bangkit dari kursinya dan berlutut dihadapan Ryeowook dan dengan meletakkan tangan diatas dadanya, Yesung melamar Ryeowook untuk menikah dengannya.
Tangan Yesung mencengkeram Ryeowook dengan erat dan suaranya gemetar.
Ryeowook mengigit bibirnya saat air matanya mengalir. Tidak pernah dalam seribu juta tahun dia mengharapkan Yesung melamarnya dengan cara yang sangat romantis seperti ini. Dan pastinya tidak secepat itu. Ryeowook menjulurkan tangannya dan menyentuh cincin yang Yesung pegang dijarinya. Cincinnya cantik, bermata berkilau, terbuat dari platina tebal.
Ryeowook mengamati cincin dan wajah Yesung. Yesung memandang Ryeowook dengan seksama, bernafas dengan berat. Satu tangan menggenggam Ryeowook dengan erat, tangan lainnya memegang cincin dihadapan gadis itu.
Itu momen sebelum Ryeowook dapat bicara. "Benarkah?"
Yesung melepaskan genggamannya dan menyentuh pipi Ryeowook. "Tolong."
Kepanikan melanda Yesung. "Kumohon jangan bilang tidak, sayang."
Mata Ryeowook melebar memandang Yesung. "Apakah kau gila? Aku tidak akan berkata tidak!"
Yesung relaks dan tersenyum. "kau tidak akan menolak?"
"Tidak mungkin. Berikan padaku cincin itu." Ryeowook tetap menjulurkan tangannya, jari manisnya berada dihadapan Yesung.
Yesung mulai memakaikan cincin itu dijari Ryeowook dan Ryeowook terpesona karena tangan Yesung bergetar lebih hebat dari tangannya.
Yesung mengangkat tangan Ryeowook yang sekarang memakai cincin darinya. Yesung mencium telapak tangannya, "Aku mencintaimu sayang."
Ryeowook memeluk leher Yesung. "Aku juga mencintaimu."
"Selamanya, sayang."
"Ya. Selamanya."
.
.
.
-Tbc-
.
.
.
Wahh ternyata Yesung memang gentleman sejati pemirsah saya ga nyangka lhoo~ #digeplakYeye
Ternyata konflik YeWook hanya sebatas kesalahpahaman dengan Kyuhyun sebagai biang keroknya.. #ditabokKyu
Yoweslahh chap ini Yesung yang ngelamar Wook.. chap depan KyuMin yang married-ups(!)
Annyeong~
Akhirnya part YeWook selesai juga chap depan udah masuk HaeHyuk ya.. hayo siapa yang nungguin bang ikan?^^
Sempet sedih juga sih karena jumlah review yang trus berkurang padahal saya semangat bgt pas baca review tp ya sudahlah selama masih ada yang nanggepin dan minta lanjut saya tetep semangat heheh^^ gomawo untuk yang sudah membaca review fav follow juga reader baru welcome^^ #bow
Btw mian ya kalo saya updatenya terkesan ngebut, niatnya sih biar bisa update chap terakhirnya pas taun baru tapi kayanya tetep gabisa haha
Tapi jangan lewatkan ya chap depan ada kejutan(?) dari KyuMin dan YeWook
Last~ minta tanggapannya lg ya heheh^^
