Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Malam hari di kediaman keluarga Oh yang hanya dihuni oleh kedua putra keluarga tersebut tampak sepi karena tak banyak kegiatan yang dilakukan oleh kedua penghuninya. Hanya terlihat beberapa penjaga yang berdiri di sekitar pintu masuk untuk berjaga dan memastikan kedua tuan mereka beristirahat dengan tenang.

Yunho sendiri masih terlihat sibuk di meja kerjanya. Banyak kertas dan dokumen yang harus ia tanda tangani membuatnya sulit untuk tidak tidur larut malam. Yunho masih sibuk dengan penanya sampai

Tok...Tok…

Perhatiannya teralihkan karena seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Masuk…"

Dan setelah mendapat izin dari sang pemilik kamar, terdengar pintu kamar terbuka menampilkan si bungsu yang sudah memakai piyama tidurnya berjalan memasuki kamar si sulung.

"Hey...kau belum tidur?" Yunho menyapa Sehun dengan berbinar karena seharian ini belum melihat wajah adik kecilnya.

Sehun menggeleng dan terus melangkahkan kakinya mendekati kakaknya.

"Hyung…" Sehun terduduk disamping Yunho dengan wajah yang terlihat frustasi.

"Kau baik-baik saja kan?" kakaknya bertanya sambil mengusak sayang rambut adiknya.

"Sehun…! Jangan membuatku khawatir. Katakan kau kenapa?"

Yunho tiba-tiba panik melihat Sehun menitikkan air matanya. Karena Sang adik tidak akan pernah menangis kecuali karena dua hal. pertama karena sesuatu yang buruk terjadi pada Yunho dan Luhan. Kedua jika Yunho dan Luhan meninggalkannya sendirian.

"Aku menemukan mereka." gumam Sehun membuat Yunho mengernyit.

"Menemukan apa? Siapa?" tanya Yunho menarik kursinya kedekat Sehun dan memaksa adiknya menatapnya bercerita.

"Ini…."

Yunho mengernyit saat adiknya memberikan selembar foto usang padanya

"Siapa mereka?" tanyanya melihat sepasang suami istri menggendong bayi yang tampak bahagia di foto tersebut.

"Dia orangnya-… dia pria sialan itu." gumam Sehun menyembunyikan wajahnya di meja kerja milik Yunho.

"Pria sialan itu yang membunuh eomma dan appa didepan mataku hyung. Kita menemukannya." katanya menggeram tertahan.

Namun Yunho menemukan kejanggalan pada suara adiknya yang terdengar ketakutan.

"Sehunna kau kenapa? Cerita padaku."

Yunho meletakkan foto tersebut dan menangkup wajah adik kecilnya yang terus bersembunyi di bawah meja.

"Apa ada yang mengganggumu?" katanya menatap mata adiknya yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu.

Sehun menggeleng lemah dan tersenyum pahit menjawab ucapan Yunho. "Entahlah hyung. Aku merasa akan kehilangan sesuatu yang sangat penting untukku jika aku terus mencari." gumamnya merasa sangat ketakutan.

Yunho kemudian memeluk adiknya, mengelus sayang punggung satu-satunya keluarga yang ia miliki dan berusaha menenangkan pria yang akan selalu menjadi adik kecilnya.

"Aku dan Luhan sudah sering mengatakan kalau kau terlalu keras pada dirimu sendiri adik kecil. Biarkan semuanya mengalir seperti air, mengungkap semua misteri karena memang sudah harus terungkap. Dan jika kau akan kehilangan sesuatu yang penting karena terus mencari, aku sendiri yang akan memastikan kalau mungkin kau akan kehilangan segalanya, tapi tidak akan pernah kehilanganku dan Luhan. Mengerti kan?"

Yunho semakin mengeratkan pelukannya dan tersenyum merasakan adik kecilnya mengangguk mengerti.

"Gomawo hyung. Aku menyayangimu." lirih Sehun membalas pelukan kakaknya yang terasa sangat nyaman.

"Aku lebih menyayangimu adik kecil. Kau segalanya untukku." gumam Yunho yang benar-benar rela melakukan apapun untuk kebahagiaan adik kecilnya yang selalu merasa tertekan, sedih dan kesepian.

"Sekarang tidurlah." Yunho melepas pelukannya menatap adiknya yang terlihat jauh lebih baik.

Sehun mengangguk sekilas dan menyadari sesuatu yang mengganggunya sedari tadi

"Bicara tentang Luhan. Aku tidak melihatnya seharian ini." Sehun berjalan ke arah jendela kamar Yunho dan membuka tirainya melihat gedung yang berada tepat disebelah rumah mereka, gedung dimana tempat pria cantiknya berada.

"Hyung, apa kau melihat Luhan?"

"Umh…."

Sehun membalikan arah tubuhnya dan memicingkan matanya karena sekarang kakaknya sangat salah tingkah memandangnya.

"Hyung…" Sehun memanggil kakaknya mentap curiga.

"Memangnya dia belum pulang?"

"Memangnya dia pergi kemana?" timpal Sehun merasa Yunho menyembunyikan keberadaan Luhan.

"Pagi tadi dia meminta izin untuk pergi menemui seseorang. Dia bilang akan pulang sebelum malam. Tapi sepertinya belum." katanya berusaha tertawa namun gagal karena saat ini adik bungsunya sedang menatapnya tajam.

"Menemui siapa?"

"Entahlah…. Hey! Berhenti menatapku dengan tatapan seram itu." protes Yunho karena Sehun terus mendelik ke arahnya.

"Malam ini hujan deras, dia juga baru sembuh dari demam, dan kau mengijinkannya keluar sampai selarut ini?" ujar Sehun mendesis tak habis pikir.

"Iya...iya aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan mengijinkannya lagi."

"Kau mau kemana?" Yunho tiba-tiba bertanya saat Sehun mengambil mantel miliknya dan berjalan menuju pintu.

"Menjemputnya." katanya terburu-buru membuka pintu

Dan sebelum Sehun benar-benar menutup pintu dia kembali berbalik arah dan menatap Yunho dengan seram.

"Ini terakhir kalinya kau memberikan izin pada Luhan. Lain kali dia hanya boleh meminta izin dariku. Oke?!" katanya memperingatkan Yunho membuat Yunho benar-benar terkekeh pada sikap overprotektif adiknya pada Luhan.

"Ya..ya..ya...terserah kau aja-...SEHUNNA HATI-HATI"

Yunho sedikit berteriak saat Sehun dengan tidak sopannya meninggalkan kamarnya begitu saja.

"Dasar anak muda." gumam Yunho terkekeh.

Dia kemudian menghela pelan nafasnya, mengambil selembar foto yang ia simpan rapih di laci kamarnya. Dia memandang foto itu cukup lama, mengelusnya sayang dan mengakui kalau dirinya sangat merindukan seseorang yang sangat ia cintai itu.

"Aku benar-benar merindukanmu."

..

..

..

Sementara di sebuah rumah sakit terpencil di pedalaman Seoul, terlihat seorang pria cantik yang sangat pucat karena benar-benar tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa untuk menolong ibunya. Dia sangat terkejut mendapati kabar kalau ibunya kembali harus dirawat dan baru mengetahui hari ini saat ibunya sudah dirawat hampir seminggu lamanya.

"Apa tidak bisa dilakukan disini saja? Aku akan membayar berapapun." terlihat Luhan yang sedang mencoba bernegoisasi pada dokter yang menangani ibunya yang terus menggeleng menandakan dirinya tak bisa lagi mengusahakan ibu Luhan yang setiap harinya semakin parah.

"Alat yang kami punya tidak memadai tuan Xi. Ibu anda harus segera melakukan transplasi hati sebelum menyebar ke organ vital tubuh. Dan untuk saat ini saya hanya merekomendasikan Seoul Hospital untuk ibu anda."

Luhan menjambak kasar rambutnya, berfikir keras apakah dia berani memindahkan ibunya atau tidak ke rumah sakit besar dan ramai pengunjung seperti Seoul hospital. Karena selain masalah biaya Luhan juga sangat takut para detektif suruhan Sehun akan dengan mudah menemukan ibu kandungnya.

"Baiklah...akan saya usahakan...saya permisi." Luhan berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruangan dokter yang menangani ibunya.

Cklek…!

Luhan perlahan membuka pintu tempat dimana ibunya berbaring. Dia mendekati tempat tidur ibunya dan memandang wajah pucat ibunya yang sedang tertidur.

Sebenarnya Luhan sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan yang dia miliki untuk wanita didepannya. Terkadang dia merasa senang namun terkadang hanya perasaan tertekan karena hidupnya yang begitu rumit. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun tentu saja. Dia tidak bisa menyalahkan ibunya karena membiarkan ayahnya berbuat nekat menyakiti orang tua Sehun sehingga menyulitkan hidup mereka saat ini.

"Kau terlihat lelah nak."

Luhan tersenyum simpul dan mengusap surai cantik ibunya.

"Aku baik-baik saja. Maaf membangunkanmu." gumam Luhan yang sudah duduk disamping ibunya dan menggenggam tangan yang terasa sangat dingin di genggamannya.

"Berhentilah nak.." sang ibu berujar lirih menggenggam erat tangan putranya.

"Berhentilah mencari cara untuk menyembuhkanku jika kau lelah. Aku akan merasa lebih baik jika tidak membebanimu."

Luhan menatap dalam pada sosok ibunya yang cantik dan segera membungkuk mencium lama kening ibunya, kemudian dia menggeleng dan kembali menatap ibunya.

"Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhanmu." ujarnya mengusak lembut dahi sang ibu yang sudah terisak hebat merasa tak tega pada rasa sakit yang entah seperti apa yang sedang putranya rasakan. Karena dirinya baru mengetahui bahwa Luhan sangat mencintai Sehun-... putra dengan rasa dendam yang teramat pada mendiang suaminya yang telah membunuh kedua orang tuanya dengan keji.

..

..

..

Luhan sudah berada di bis yang akan membawanya kembali ke rumah Sehun, dia dengan terpaksa kembali meninggalkan ibunya sendirian di rumah sakit terpencil di daerah Hangnam. Dia tidak punya keberanian untuk tidak pulang ke rumah Sehun. Karena jika itu terjadi, sama artinya dengan membuat Sehun mencari tahu dan semua yang dia sembunyikan dengan hidupnya akan terbongkar karena kecerobohannya sendiri.

Luhan bangun dari duduknya di bis untuk bersiap turun karena pemberhentian berikutnya adalah halte tempatnya untuk turun.

Sret…!

Pintu bis otomatis terbuka, Luhan pun segera turun dari bis dan sedikit berlari ke halte karena hujan yang masih dengan derasnya turun malam ini.

"Ahhh…aku benar-benar sial." Gumamnya duduk di bangku halte dan semakin kesal karena baru menyadari kalau ponselnya mati total.

"Baiklah hanya diam dan menunggu sampai hujan reda." Katanya lagi kembali menundukan kepalanya.

Rencana awal Luhan adalah sampai di kamarnya dengan cepat dan segera beristirahat karena setelah seharian mencari sesuatu yang bisa membuat ibunya bertahan di rumah sakit dirinya memang sangat lelah dan mengantuk.

Matanya pun perlahan menutup, kepalanya terkulai lemas, lalu kemudian dia akan sedikit kaget dan kembali membuka matanya lalu menutup lagi , lalu terkejut lagi dan terus menerus seperti itu sambil menyembunyikan kedua tangannya di saku jaketnya yang tipis karena mulai merasa kedinginan.

Luhan tidak menyadari kalau dari kejauhan sebuah mobil berwarna merah terparkir persis didepan halte. Si pemilik mobil yang sudah sampai sejak sejam lalu memang sudah berniat akan memarahi habis-habisan pria cantiknya yang sama sekali tak meminta izin pergi padanya hari ini. Namun rasa marahnya tiba-tiba lenyap entah kemana saat melihat dan menyadari kalau mantan kekasihnya terlihat sangat lelah dan seperti memikirkan banyak hal dan alih-alih memarahi Luhan, Sehun lebih memilih memperhatikan Luhan dari jauh.

Sehun masih membiarkan Luhan terkantuk di halte tempatnya menunggu, dia tidak menjadikannya masalah karena merasa masih bisa mengawasi Luhan secara langsung dengan kedua matanya. Namun saat bis berikutnya datang dan menghalangi pandangan matanya pada Luhan, barulah dia sedikit gusar dan segera menyalakan mobilnya mendekat ke tempat Luhan berada.

"damn it.."

Sehun tiba-tiba mengumpat karena saat ini ada seorang pria menjijikan sedang berusaha membelai pipi pria cantiknya yang sedang terkantuk di halte.

Brak…!

Sehun keluar dari mobilnya dengan cepat dan dalam sedetik sudah mencengkram erat tangan pria tua yang hendak memegang pipi Luhan yang kini benar-benar sudah tertidur di halte dengan kepala tertunduk.

"Si-siapa kau bocah sialan.!"

"Kau yang sialan!" desis Sehun setengah membuat gerakan ingin mematahkan tangan pria tua yang sedang meringis didepannya.

"Ce-pat pergi sebelum aku meng-gila!" katanya lagi menggertakan giginya dan menghempaskan kasar tangan si pria dan sedikit mendorongnya kasar sehingga pria itu jatuh dan langsung berlari menjauhi Sehun.

Sepeninggal pria tua itu, Sehun berdiri tepat di depan Luhan yang masih tertidur dengan tertunduk di halte, seolah halte adalah kamarnya.

"Bagaimana bisa dia tidur disini dengan nyaman." Gumam Sehun memijat kepalanya melihat tingkah Luhan yang selalu membuat khawatirnya.

"Bangun!"

Suara Sehun membuat Luhan sedikit terbangun, dia mendongak dan tersenyum tak sadar melihat Sehun didepannya. "Kenapa ada Sehunnie." Gumam Luhan dan kembali tertidur dengan kepala tertunduk.

"ASTAGA KIM LUHAN! BAGAIMANA BISA KAU TIDUR DI HALTE?"

Sehun berteriak membuat Luhan dalam sekejap terkesiap dan mengedipkan matanya berkali-kali memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi.

"Se-Sehun?" katanya yang merasa Sehun seperti sangat kesal padanya

"Cepat bangun." Desisnya memberitahu Luhan yang langsung berdiri menatapnya.

"Ambil ini dan cepat pulang!" katanya menyerahkan payung pada Luhan dan kembali ke mobilnya.

Luhan yang masih bingung dan menebak kenapa Sehun bisa berada di halte selarut ini hanya diam dan memperhatikan payung yang diberikan Sehun kepadanya.

TIN…TIN….TIN…

Luhan kembali terlonjak saat Sehun yang berada didalam mobilnya menekan klakson berkali-kali, saat menoleh ke arah Sehun dia pun terkekeh karena saat ini Sehun memberi gesture padanya untuk segera berjalan pulang ke rumah.

"Dia kenapa sih?" gerutu Luhan yang langsung membuka cepat payungnya dan berjalan kerumah dengan mobil Sehun yang mengikutinya dari belakang.

TIN…TIN…TIN..

"Astaga Sehunna! Aku sedang berjalan, berhenti membunyikan klakson." Luhan membalikan badannya dan berteriak kesal pada Sehun yang dengan bodohnya mengikutinya dari belakang menggunakan mobil.

"Kenapa aku tidak diajak naik mobil? Apa dia tidak tahu diluar sini sangat dingin." Gerutunya dan kembali berjalan dengan mobil Sehun yang terus mengikutinya dari belakang.

..

..

..

Keesokan paginya Luhan benar-benar merasakan kemarahan Sehun karena kejadian semalam. Setelah Sehun yang entah sejak kapan menunggunya didepan halte dan membawanya pulang dengan muka mengerikannya, mantan kekasihnya itu sama sekali tak berbicara padanya hingga pagi ini saat dia dan Yunho sedang sarapan bersama di meja makan.

"Apa ada yang salah? Kenapa kau diam saja?"

Yunho menyadari kalau ada sesuatu yang aneh pada adiknya, dia tahu Sehun memang tak suka bicara tapi dia bisa membedakan mana adiknya yang tak suka berbicara dan mana adiknya yang sedang marah.

"Bukan urusanmu." Balas Sehun yang masih menyalahkan Yunho karena memberikan izin seenaknya pada Luhan.

Yunho menatap Luhan meminta jawaban, namun tidak berbeda dengan adiknya, Luhan juga hanya diam tak menjawab dan hanya mengangakat setengah bahunya memberitahu Yunho kalau memang Sehun sedang marah.

"Haaah…~"

Yunho meletakkan pisau dan garpunya dan menatap Sehun dan Luhan bergantian "Mau sampai kapan kalian membuatku sakit kepala?" katanya bertanya

"Segera berhenti saling menyakiti. Jika kalian memang sudah tidak bisa bersama, akhiri hubungan kalian dengan baik tanpa rasa penyesalan yang akan kalian rasakan nantinya."

Yunho memberi nasihat kepada kedua pria yang hampir setiap hari membuatnya bingung dengan status dan hubungan yang mereka jalani beberapa tahun ini. Yunho bangun dari kursinya dan melangkah pergi meninggalkan meja makan sampai dirinya teringat sesuatu

"Aku lupa memberitahumu sesuatu Lu."

Yunho kembali membalikan badannya menatap Luhan.

"Jumat nanti aku ingin kau ikut ke kantorku"

"Untuk apa?"

Bukan Luhan yang menjawab, namun Sehun yang bereaksi menatap Yunho dengan memaksa untuk memberitahunya

Yunho kembali terkekeh menatap adiknya "Aku punya pekerjaan untuk Luhan. Dan aku akan mengembalikan dia kerumah sebelum malam hari, kau tenang saja. Oke " katanya membalas Sehun dan kembali menatap Luhan.

"Jadi minta libur pada Ryewook. Suruh dia mencari pengganti untuk menggantikanmu bekerja di kafe. Bisa kan?"

Luhan mengangguk cepat namun tak menjawab karena saat ini Sehun sedang menatap ke arahnya. Dia takut salah bicara dan semakin membuat Sehun kesal padanya.

Sementara Yunho kembali mendengus dan berjalan ke arah adiknya "Luhan boleh pergi kan?" katanya bertanya pada Sehun sedikit memaksa.

Sehun mengabaikan hyung nya dan tetap menatap Luhan dengan tatapan menginterogasi yang berlebihan.

"Astaga Sehunna…! Jawab aku."

Sehun bangun dari kursinya dan menatap Yunho sekilas "Aku ingin melihatnya pukul 9 malam. Dia harus dirumah dan tak boleh terlalu lama bersamamu." katanya memberitahu Yunho dan berjalan dengan sengaja menabrak bahu Luhan untuk melewatinya.

"Kim Luhan.."

"Ya direktur.."

"Kenapa kau tahan berhubungan dengan pria arogan seperti dia?"

Luhan tidak menjawab dan hanya fokus membereskan piring.

"Dasar anak muda." gumamnya meninggalkan Luhan yang hanya bisa tertawa melihat hubungan unik antara Sehun dan Yunho.

..

..

..

"Luhan…tolong antarkan pesanan ke meja 10."

Seorang pria dengan perawakan tak jauh berbeda dari Luhan terlihat sibuk dengan kegiatannya dan meminta Luhan untuk menggantikan pekerjaannya mengantar pesanan.

Luhan yang baru seleai mencatat pesanan pun, mengangkat ibu jarinya dan segera mengatar makanan ke meja 10, setelah selesai mengantar dia menghampiri temannya yang terlihat sibuk.

"Beristirahatlah. Kau terlihat lelah manager Kim." Katanya menyapa Ryewook yang merupakan asisten dari pemilik kafe tempatnya bekerja.

"Ya kau bisa bilang begitu karena tentu kau banyak waktu untuk beristirahat sementara aku tidak." Ryewook melihat sekilas ke arah Luhan dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Luhan tertawa miris mendengarnya dia kemudian bersender di meja kasir dan mengambil bolpoint Ryewook "Aku juga tidak bisa beristirahat dengan baik beberapa waktu ini. Aku butuh uang cepat dan tentu saja aku harus bekerja keras." Katanya memberitahu Ryewook yang tampak mengernyit bingung.

"Kalau kau butuh uang bukankah direktur Oh akan langsung memberikannya padamu?"

Luhan menggeleng lemah seraya menyerahkan kembali bolpoint Ryewook "Aku tidak hidup untuk dikasihani, lagipula mereka akan berhenti menolongku saat tahu siapa aku sebenarnya." Katanya kembali tersenyum lirih mmebuat Ryewook menatapnya tak mengerti.

Ryewook tidak bicara apa-apa lagi. Memang benar dia sedikit tidak menyukai Luhan saat pertama kali Luhan datang dan bekerja sebagai karyawan di kafe tempatnya bekerja. Karena selain Luhan terlalu menawan, dia dibawa sendiri oleh Oh Yunho, calon perdana menteri Korea Selatan sekaligus mantan kekasih dari bos pemilik kafe Lullaby, Kim Jaejoong. Dia berfikir Luhan terlalu mencari muka dengan dikenal oleh dua orang penting seperti Jaejoong dan Yunho, terlebih lagi saat si bungsu Oh datang dan mengklaim kepada seluruh karyawan jika mereka semua tidak boleh mengganggu apalagi menyakiti Luhan. Karena jika dirinya sampai mendengar kabar kalau Luhan diganggu atau disakiti, dirinya sendiri yang akan turun tangan dan memberi pelajaran pada mereka yang mengganggu Luhan.

Dan karena hal itu pula Luhan mengalami masa-masa sulit bekerja pertama kali di kafe Lullaby, tak ada satupun karyawan yang mengajaknya berbicara apalagi mengajaknya makan bersama karena peringatan Sehun pada mereka. Namun Luhan perlahan membuktikan dirinya, dia sama sekali tidak menyerah dan meyakinkan teman-temannya kalau Sehun tidak akan mengganggu mereka. Dan barulah saat Luhan mengatakan dan menjamin hal itu perlahan seluruh karyawan di kafe mau berbicara dan sesekali mengajak dirinya makan bersama di luar.

"Apa kau sedang ada masalah? Katakan padaku, aku akan membantu." Ryewook terlihat mencemaskan Luhan yang tak berekspresi.

"Tidak perlu hyung. Aku baik-baik saja." Gumam Luhan menarik pipi asisten managernya yang terlihat sangat chubby dan menggemaskan.

Tring..~

Terdengar suara pintu kafe terbuka dan baik Luhan maupun Ryewook sudah kembali ke posisi mereka untuk menyambut kedatangan tamu. Luhan sudah membungkuk dan sudah akan menyapa tamunya yang datang. Namun seluruh suaranya terasa menghilang melihat siapa tamu yang datang. Matanya memanas dan entah kenapa kakinya melemas melihat Sehun memasuki kafe dengan merangkul mesra pinggang wanita yang berada disampingnya.

"Kau tidak menyapa tamu?" Sehun berdiri tepat didepan Luhan dan menyindir Luhan yang masih tak berbicara.

"Ah-…silahkan Tuan Oh. Sebelah sini."

Ryewook pun mengambil alih menyadari apa yang membuat Luhan tak bisa berkata-kata.

Sehun menyeringai puas melihat ekspresi Luhan yang membeku, dia merasa menang telak karena memergoki Luhan yang sama sekali tak bisa melihatnya dengan orang lain sampai

"LUHAN…~"

Seorang karyawan yang sepertinya baru saja mengantar delivery memasuki kafe dan berlari mendekati Luhan dan langsung merangkul Luhan yang tampak salah tingkah karena saat ini Sehun sedang menatap menakutkan ke arahnya.

"Juno-ssi..jangan seperti ini banyak pelanggan yang melihat." Gumam Luhan berusaha melepaskan rangkulan Juno dibahunya.

"Juno-ssi….Kau kenapa lu? Apa kau demam? Kenapa memanggilku sangat formal."

Protes pria bernama Kim Juno yang merupakan karyawan sekaligus teman Luhan yang sangat mengagumi Luhan dan terang-terangan menyukai Luhan.

"Apa kau ingin istriahat? Aku akan menggantikan-.."

"PELAYAN YANG DISANA..! CEPAT KEMARI AKU INGIN PESAN..!"

Dan inilah hal yang ditakutkan Luhan, Sehun berteriak didepan umum dan tak bisa menahan emosinya jika melihat dirinya berbicara terlalu dekat dengan orang lain.

Dan belum setengah jam Sehun yang entah kenapa bisa berada di kafe dengan seorang wanita bersamanya saat ini sedang membuat Luhan gusar dan merasa sangat bingung.

"I-inii pesanan anda tuan muda."

Luhan sedikit bergetar saat mengantar pesanan Sehun ke mejanya sementara dirinya diabaikan dan dianggap seperti angin lalu oleh Sehun dan wanitanya. Dia sedang menyumpahi dirinya untuk tidak menangis karena melihat Sehun yang sengaja bermesraan didepannya saat ini.

"Paling tidak kau cantik dan tak pernah meninggalkanku noona. Itu sudah lebih cukup dariku. Aku benar-benar menyukaimu." Katanya membuat Luhan semakin salah tingkah karena merasa sangat sakit hati saat ini.

"Aku beruntung bisa bertemu denganmu`.." Sehun semakin menjadi membuat Luhan merasa risih dan sangat ingin memakinya saat ini

"Si-silakan menikmati pesanan anda. Saya permisi."

Luhan pun berjalan tak tentu arah kembali ke dapur kafe, dia menabrak beberapa pelanggan yang langsung memakinya namun dia tak peduli sama sekali karena saat ini yang dia inginkan hanya pergi menjauh dari Sehun yang sedang bersama wanitanya.

Pletak…!

"Ishh…kenapa memukulku?" gerutu Sehun saat wanita didepannya tiba-tiba memukul kepalanya.

"Kau tega sekali padanya, bagaimana kalau dia benar-benar meninggalkanmu? Anak bodoh!" geram si wanita yang merasa Sehun sangat bodoh dan tak berperasaan.

"Dia mana bisa meninggalkan aku." Kekeh Sehun terlalu percaya diri.

"Benarkah? Kalau aku Luhan. Aku dengan senang hati meninggalkanmu tuan muda."

Sehun baru saja ingin membuka mulutnya sampai dia mendengar suara pria yang beberapa menit lalu merangkul Luhan kembali membuatnya kesal.

"Aku berencana ingin mengajaknya kencan malam nanti."

"Lagi? Luhan bahkan sudah menolakmu berkali-kali." Kata pegawai lain yang terlihat tak yakin dengan rencana Juno.

"Aku tidak akan pernah menyerah. Sudahlah kita kembali bekerja, aku ingin pulang cepat dan mengajak Luhan kencan." Gumamnya terlampau kencang membuat pria yang berada di meja tak jauh darinya mengepalkan tangannya erat.

"See?... Hanya tinggal menunggu hitungan waktu sampai Luhan meninggalkanmu."

Ujar wanita bernama lengkap Kwon Boa yang merupakan asisten pribadi Yunho di Jepang yang sedang mengambil cuti. Sehun yang mengetahui asisten favorit hyungnya sedang berada di Korea langsung meminta bantuan pada wanita yang seumuruan dengan kakaknya ini.

"Kau disini sejak kapan? Aku tak melihatmu?"

Terdengar suara Kai menginterupsi kekesalah Sehun dan bertanya pada pria didepannya.

"Siapa pria itu?" tanya Sehun tak berbasa-basi

"Yang mana?" balas Kai menarik kursi didepan Sehun dan duduk disampingnya.

"Yang sedang tertawa menyebalkan itu." Gumamnya menatap kesal ke arah Juno.

"Oh…dia Kim Juno, pegawai terbaikku setelah Luhan." katanya memberitahu Sehun yang langsung mengernyit tak suka.

"Apa dia menyukai Luhan?" katanya bertanya lagi pada Kai

"Sangat…Dia bahkan menyatakan cintanya pada Luhan setiap hari"

Sehun menatap Kai dengan tatapan marah bercampur cemas. "Tapi tentu saja Luhan juga menolaknya setiap hari. Luhan itu bodoh…dan ya dia memang bodoh karena tidak kembali membuka hatinya untuk orang lain." kekeh Kai membuat Sehun tak tahu harus bicara apa

"Bagaimana bisa kau memiliki pegawai seperti dia?" gumam Sehun merasa sangat kesal.

"Jaejoong hyung yang merekrutnya bukan aku." Kilah Kai membela diri.

"Kenapa Jongie hyung suka seenaknya." Gerutu Sehun dan

Pletak…!

"Jangan menghina kakak ku. Aku masih berbaik hati padamu untuk tidak mengusirmu setelah apa yang Yunho hyung lakukan pada Jongie hyungieku." Kai memberitahu Sehun yang tampak meringis karena dua kali dalam hari ini kepalanya dipukul keras.

"Mereka itu menyedihkan. Masih saling mencintai tapi berpisah."

"Kau membicarakan dirimu sendiri? Dasar bocah." Sindir Kai membuat Sehun kembali menyadari kalau dirinya dan Luhan tak beda jauh dari Yunho dan Jaejoong yang memutuskan berpisah untuk hal yang mereka juga tidak tahu kenapa harus berpisah.

"Kapan Jongie hyung kembali? Aku ingin minta maaf."

"Minta maaf untuk apa? Mewakili kakak mu? Tidak perlu. Kakak ku sudah sangat baik saat ini." balas Kai yang setiap kali topik Jaejoong dan Yunho dibahas, selalu merasa marah pada Yunho yang dengan seenaknya memutuskan hubungannya dengan hyung nya seminggu sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.

"Mianhae Kai." Gumam Sehun namun diabaikan oleh Kai yang kini menghampiri kekasihnya yang baru keluar dari mobil.

Sementara itu, Kwon Boa. Asisten Yunho yang diminta berpura-pura menjadi kekasih Sehun pun diam-diam datang ke area dapur staff dan tersenyum lucu menemukan Luhan yang sedang menggerutu kesal sambil mengelap lantai dapur.

"Dia pikir aku cemburu? Cih…..Iyaa benar..Aku cemburu! Aghh..tapi apa bagusnya wanita gendut itu" gerutu Luhan menghentakan kakinya kemudian kembali mengepel lantai.

"Aku tidak mau keluar. Aku mau mengepel lantai sampai lantai ini transparan! Cepat pergi dengan noona mu dasar little beast-..ani-..Kau benar-benar monster tampan menyebalkan." Katanya menggigit ujung pengepel lantainya dengan sekuat tenaga.

"Apa tidak sakit?"

Luhan membelalak dan segera membalik badannya dan sangat terkejut mendapati wanita yang bersama Sehun sedang berdiri didepannya dan terlihat sekali menahan tawa.

"Ah maafkan kelancangan saya. Saya tidak tahu ada tamu masuk ke area staff." Luhan membungkukan badannya membuat Boa berjalan menghampirinya.

"Tapi sejak kapan anda berdiri disana?" Luhan bertanya karena takut Boa mendengar gerutuannya dan mengadukannya ke Sehun

"Sejak….Dia pikir aku cemburu? Cih…..Iyaa benar..Aku cemburu!" balas Boa membuat Luhan keringat dingin dan menunjukkan wajah paniknya yang lucu

"Kau Kim Luhan kan?"

Luhan kembali mengangguk membenarkan sementara Boa dengan asiknya mengambil gelas dan menuang air kedalamnya dan kemudian bersender di counter dapur memperhatikan Luhan dari atas sampai ke bawah.

"Pantas saja Sehun tergila-gila padamu. Kau hampir mengambarkan kesempurnaan seseorang dengan wajah cantikmu itu."

"Mulai lagi." Gumam Luhan karena kata cantik untuknya kembali terdengar malam ini.

"Umh..Nona..sebenarnya tempat ini khusus untuk karyawan. Jadi sebaiknya anda menunggu di luar. Jangan sampai kekasih anda menca-.."

"Namaku Kwon Boa dan aku bukan kekasih si idiot Oh Sehun itu." Katanya memberitahu Luhan yang tampak tercengang.

"Well…dia menyuruhku untuk datang kesini dan entah kenapa si bocah idiot itu mulai merangkul pinggangku, mengusap pipiku. Aku saja masih merasa merinding karenanya."

Luhan-..entah kenapa otomatis tersenyum saat mendengar penuturan wanita didepannya.

"Jadi keluarlah dan antar pesanan kami sebelum dia kembali berulah." Katanya kembali memberitahu Luhan dan melewati Luhan untuk segera keluar dari dapur staff.

"Umh…satu lagi." Katanya kembali melihat ke arah Luhan yang harus terdiam tiba-tiba karena ketahuan sedang tersenyum malu sendiri.

"Y-ya ada apa nona?" tanya Luhan sambil merutuki dirinya sendiri.

"Aku tidak gendut." Ujarnya sedikit mendesis mengingat Luhan mengatainya gendut beberapa menit lalu.

"Ah-….." Luhan kembali salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Maafkan saya nona. Anda sangat cantik sebenarnya." Katanya tak enak hati pada Boa

"Aku tahu. Sampai nanti."

"Nona Kwon!" Luhan kembali memanggil Boa membuat wanita itu menoleh ke arahnya.

"Kenapa?"

"Terimaksih sudah repot-repot datang kemari untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Aku sangat berterimakasih." Ujar Luhan membungkukan badannya berkali-kali sebagai ucapan terimakasih.

"Berterimakasihlah pada kekasihmu, jangan padaku."

"Eh?" Luhan yang sedang membungkukan badannya tiba-tba kembali dibuat bingung oleh pernyataan Boa.

"Sehun yang memintaku kemari untuk menjelaskan kalau kami hanya berpura-pura. Aku tentu saja tidak akan repot-repot mau menjelaskan kepada kekasihku kalau aku sedang membuatnya cemburu, tapi si bodoh itu takut kalau kau akan salah paham dan menangis. Itulah alasan kenapa aku disini. Sampai nanti"

Selesai berbicara Boa pergi begitu saja meninggalkan Luhan yang hanya diam dengan jantung berdebar mendengar seluruh penuturan Boa kepadanya beberapa menit yang lalu.

..

..

..

Dan malam hari pun akhirnya tiba. Luhan bisa bernafas lega karena saat ini shift nya bekerja telah usai dengan begitu dia bisa segera beristirahat. Namun Luhan agak ragu untuk pulang sekarang karena saat ini Sehun masih berada di luar bersama Boa dan tentu saja itu membuatnya agak bingung bagaimana meminta izin untuk pulang.

Drttt..Drrt…Drttt..

Luhan merasa ponselnya bergetar dan sedikit mengernyit khawatir mengenali nomor rumah sakit menghubunginya.

"Halo.." Luhan sengaja berdiri agak jauh dan menjawab dengan suara pelan.

"Halo selamat malam Tuan Xi Luhan…Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu bahwa kondisi ibu anda semakin memburuk. Dan untuk kebaikan ibu anda, kami sekali lagi mengingatkan anda untuk segera melunasi biaya rumah sakit dan membawa ibu anda ke Seoul Hospital untuk penanganan lebih lanjut."

Luhan memijat kepalanya dengan mata berkaca-kaca karena bingung "Tidak bisakah kalian bersabar? Aku sedang mengusahakannya jadi rawatlah ibuku dengan baik."

"Anda hanya memiliki waktu selama seminggu untuk membawa ibu anda pergi. Jika dalam seminggu anda tidak melakukan tindakan. Kami minta maaf karena harus mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa kami sudah tidak bisa melakukan perawatan pada ibu anda karena masalah biaya."

"Aku-…Aku akan melunasinya dan memindahkan ibuku. Tapi untuk sementara aku mohon rawat dia dengan baik. Aku mo-.."

Tut..tut…

"Y-Yak!"

Luhan memukul counter dapurnya agak kencang karena merasa sangat marah pada pihak rumah sakit yang terus-menerus mempersulitnya.

"Luhan, ayo kita pulang." Terdengar Ryewook memasuki dapur dan agak tercengang melihat wajah pucat Luhan.

"Lu…apa kau sakit? Kenapa pucat?" katanya bertanya pada Luhan yang hanya menatapnya sekilas.

"Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang." Gumam Luhan dan melewati Ryewook untuk segera pergi dari kafe.

Diluar, Luhan melihat Sehun dan teman-temannya masih berkumpul dan sesekali tertawa bersama, dia bersyukur karena hal itu sehingga mempunyai alasan untuk tidak mengganggu kesenangan mereka

"Luhan? Kau sudah mau pulang? Ayo aku antar."

Luhan sedikit menatap kesal pada Juno karena berteriak dan membuat para kumpulan tuan muda itu kini menatap ke arahnya.

"Kau sudah mau pulang Lu?" Kini Kai yang bertanya membuat Luhan mau tak mau harus menatap adik dari pemilik Kafe dan berpamitan padanya.

"Iya Manager. Saya permisi pulang." Gumam Luhan membungkukan badannya dan kembali berjalan ke pintu keluar mengabaikan tatapan Sehun yang menatapnya tak berkedip.

"Hey Sehunna kau tidak pulang bersama Luhan?" Kyungsoo sedikit mendesak Sehun yang entah kenapa kembali termakan oleh gengsinya sendiri.

"Biarkan saja, dia tidak penting dan dia punya kaki untuk pulang sendiri." Ujarnya sedikit keras dan terdengar oleh Luhan yang hanya bisa tersenyum pahit.

"Biar aku mengantarmu pulang Lu." Juno masih berusaha mengajak Luhan untuk pulang bersamanya.

"Tidak perlu, aku punya kaki untuk berjalan dan pulang sendiri." Ujar Luhan yang juga membalas dengan kencang sehingga kerumunan Sehun dan teman-temannya bisa mendengar suaranya.

"Sebentar lagi akan terjadi perang baby." Gumam Kyungsoo berbisik di telinga Kai melihat Sehun yang sudah mengepalkan erat tangannya.

"Ya kau benar. Tapi jika aku Sehun, aku tidak akan membiarkan kau pulang sendiri. Tidak akan pernah." Balas Kai sengaja menyindir Sehun yang semakin terpancing.

"Sial!"

Sehun kembali merutuk dirinya sendiri yang sama sekali tak bisa membiarkan Luhan sendirian atau melihat pria cantiknya itu marah padanya. Karena setiap kali dia membuat Luhan kesal hanya akan berakhir penyesalan untuk dirinya sendiri.

Sehun mendesah lega karena Luhan belum pergi terlalu jauh dari kafe, dia kemudian sedikit berlari mengejar Luhan dan

"Pulang bersamaku." Katanya merentangkan tangan didepan Luhan.

Luhan melihat Sehun yang sedetik lalu tak mempedulikannya dengan bingung, dia kemudian tertawa kecil dan menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan sakit hati.

"Tidak perlu tuan muda, aku tidak penting dan aku punya kaki jika kau bisa melihat." Ujarnya kembali berjalan namun Sehun kembali menghalangnya lagi.

"Tentu saja kau penting dan aku bisa melihat kau berjalan. Jadi berhenti marah dan pulang denganku, oke." Katanya mencoba bernegoisasi dengan Luhan yang terlihat marah saat ini.

"Aku tidak marah. Permisi" ujar Luhan membuat Sehun semakin frustasi

"Maaf aku berbicara kasar padamu. Jangan marah padaku Lu." Sehun meminta dengan suara memohonnya membuat Luhan yang sedang berjalan berhenti dan mendengarkan.

"Aku memang berada di kafe hampir tujuh jam hanya untuk pulang bersamamu. Tapi melihatmu diam-diam ingin pergi tanpa memberitahuku membuatku kesal ditambah dengan pria yang terus menerus mengganggumu itu. Aku cemburu." Katanya memberitahu Luhan dengan posisi saling membelakangi.

"Tidak apa jika kau kesal padaku, tapi aku tidak bisa jika kau marah padaku. Maafkan aku dan pulanglah bersamaku."

Luhan menghela pelan nafasnya dan baru menyadari kalau Sehun mengejarnya hanya menggunakan kaos hitamnya yang tipis, dan jika bahu Sehun bergetar. Luhan menebak kalau pria tampannya ini sedang kedinginan.

Dan sama seperti Sehun, mau seperti apapun Luhan berusaha mendiamkan Sehun, dia hanya akan berakhir ke pelukan pria tampannya yang selalu terasa hangat.

"Bagaimana bisa kau mengejarku tanpa menggunakan jaket." Katanya bertolak pinggang memarahi Sehun yang menatapnya penuh harap.

"Lu." Katanya memanggil Luhan yang hanya terus menatapnya.

"Hmm.." balas Luhan yang melepas syal di lehernya kemudian memakaikan syal nya ke leher Sehun.

"Maaf aku keterla-.."

Sehun membelalak saat Luhan berjinjit, menarik sedikit syal yang baru dipakaikan untuknya, melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun dan kini pria cantiknya sedang melumat lembut bibirnya yang terasa sangat hangat saat Luhan mengecupnya dengan lembut.

"Kau tidak pernah ketelaluan padaku, sebaliknya, kau terlalu baik padaku Sehunna." Katanya tersenyum dan mengusap lembut pipi Sehun yang melihatnya tak berkedip.

"Sebaiknya kita cepat pulang. Aku juga sudah merasa kedinginan." Gumam Luhan menggenggam erat tangan Sehun dan mengajak pria nya untuk segera pulang menggunakan bis yang akan datang beberapa saat lagi.

"Mobilku disana Lu." Katanya memberitahu Luhan yang kembali mendelik ke arahnya.

"Kalau kau ingin pulang bersamaku, berarti kau harus pulang menggunakan kendaraan yang biasa aku tumpangi." Katanya yang kembali berdiri didepan Sehun dan membenarkan syal Sehun yang tampak berantakan.

"Jja….Kita pulang dan tidur dengan nyenyak malam ini." Luhan berteriak dan kembali menggenggam erat tangan Sehun yang terasa dingin diselingi tawa di ucapannya membuat Sehun bisa tersenyum lega memperhatikan Luhan yang sudah kembali menjadi Luhannya. Walau belum sepenuhnya-….. tapi setidaknya Luhan tetap menjadi seseorang yang akan selalu kembali dan berada di sampingnya apapun yang terjadi pada hubungan mereka selama ini.

tobecontinued...

updet...!

.

.

okay...wait for the next chap :)

.

Happy reading and review... :)