Warning :
Sebelum dibaca ini ada beberapa catetan dari triplet :)
Chapter lima ini dua chapter yang dijadikan satu. Jadi jangan komplain kalo kepanjangan…hampir 10 ribu words sendiri :""
NC inside ? yes
Rahasia Luhan kebongkar? Silakan baca
Kok sama kaya Last Hope? BIG NO! Chapter ini bakalin nunjukin perbedaan Last hope dan Restart.
Silahkan membaca chapter terpanjang Restart….:)
.
.
.
.
.
Previous…
Sehun kembali menatap wajah Luhan dan mengecup lama kening Luhan sebelum membawa pakaian kotor dan kotak obat ke tempat pakaian kotor.
Brak…!
"Eh?"
Sehun terkekeh mendapati dompet Luhan yang terjatuh dari celananya. Dia pun segera memungutnya dan tak sengaja melihat dompet Luhan terbuka. Karena merasa sudah lama tak melihat dompet Luhan pun, Sehun membukanya dan tersenyum mendapati foto mereka berdua yang masih menghiasi dompet Luhan, karena sama seperti Luhan, dompetnya pun hanya berisi wajah Luhan dan foto mereka berdua.
Sehun sudah kembali menutup dompet Luhan, sampai sesuatu mengganggu penglihatannya. Dia kemudian melihat ada selembar foto yang diletakkan terlalu dalam di sela-sela dompet Luhan. Karena penasaran pun Sehun mengambilnya dan tak lama terduduk lemas di tepi ranjangnya melihat foto yang Luhan simpan seperti disembunyikan di dompetnya.
"A-apa ini?" gumamnya menggenggam erat foto yang Luhan simpan sesekali melihat ke wajah tenang Luhan yang sedang tertidur pulas.
Sehun kemudian mencengkram foto yang berada di tangannya itu sambil menatap tajam Luhan tak berkedip. Bertanya-tanya mengapa Luhan menyimpan foto yang sama seperti foto yang ia miliki dan ia simpan. Selembar foto yang merupakan satu-satunya petunjuk yang bisa membantunya menemukan siapa yang bertanggung jawab atas kematian orang tuanya.
Sehun bertanya-tanya mengapa Luhan menyimpan foto pembunuh orang tuanya di dompet miliknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya Luhan terbangun dari tidur yang membuatnya merasa sangat nyaman , dia membuka matanya dan sedikit mengerjap untuk mendapatkan kesadarannya sepenuhnya. Setelah merasa lebih segar dirinya bersandar di tempat tidur Sehun dan menyadari Sehun sudah bangun dan saat ini pasti sedang berada di meja makan. Dia pun kemudian segera beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk segera menemui Sehun.
Setelah beberapa menit berlalu, Luhan akhirnya selesai bersiap dan segera menuruni tangga, menyusul Sehun yang mungkin sedang sarapan dengan Sehun pagi ini.
"Hyung… apa kau memberitahu Luhan tentang petunjuk terbaru yang aku dapatkan?"
Luhan yang awalnya ingin menyapa kedua kakak beradik itu tiba-tiba memutuskan mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan Sehun untuk kakaknya.
"Aku hanya memberitahunya sekilas." Terdengar Yunho menjawab pertanyaan Sehun.
"Kenapa memangnya?"
"Apa kau menunjukkan foto padanya."
Yunho menatap lekat Sehun dan mengangkat kedua bahunya bersamaan 'Aku tidak menunjukkan apa pun pada Luhan."
"Kenapa hmm? Kau terlihat bingung?" Yunho mengusak kepala Sehun sekilas, dan bertanya pada adiknya.
Sehun mengangkat kedua bahunya dan melihat kakaknya sekilas "Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir." Gumamnya memberitahu Yunho yang kemudian melihat kedatangan Luhan.
"Selamat pagi Luhan…Kenapa hanya berdiri disana?"
Yunho menyapa Luhan, membuat baik Luhan maupun Sehun saling mencari dan saat kedua mata tersebut bertemu Sehun tersenyum kepada Luhan " Bagaimana tidurmu?"
"Aku tidur dengan baik tuan muda." Katanya berusaha sopan memanggil Sehun saat berada bersama Yunho.
Yunho kemudian tertawa kecil menyadari kecanggungan Luhan setiap kali ingin berbicara santai pada Sehun jika dirinya berada di satu ruangan dengan adiknya. Dia kemudian bangun dari kursinya dan menatap goresan yang cukup panjang di pipi Luhan karena menolongnya kemarin.
"Luhan duduklah disini dan habiskan sarapanmu. Kemudian pergilah ke dokter dan cari obat untuk menghilangkan bekas lukamu."
"Dia tanggung jawabku. Jangan banyak bicara, cepat pergi ke rumah sakit." Gumam Sehun menatap memperingatkan kakaknya.
"Luhan hanya milik Sehun. Benarkan?" katanya tertawa menggoda adiknya yang tampak tak suka.
"Ya benar!" Sehun pun membalas meladeni kakaknya yang sepertinya sangat bahagia sejak mengumumkan pernikahannya dan Jaejoong yang akan diselenggarakan bulan depan.
"Baiklah…aku akan menjenguk Jongie di rumah sakit." Katanya berlalu meninggalkan adiknya dan Luhan di meja makan.
"Oiya Luhan.." Yunho kembali memanggil Luhan
"Ya direktur ada apa?" katanya bertanya pada Yunho yang kembali berjalan mendekatinya.
"Apa kau bisa merapikan kamarku?"
"Untuk apa?" Lagi, Sehun yang kesal pada permintaan tak wajar Yunho pada Luhan.
"Aku ingin Jaejoong merasa nyaman."
"Eh?-…A-apakah Jae-…Maksudku Manager Kim akan tinggal disini bersama anda?" Luhan bertanya berbinar menatap Yunho
"Karena dia calon istriku yang sedang mengandung calon babyku-…Ya..tentu saja Jaejoong akan tinggal bersamaku. Dan aku secara khusus menugaskan padamu selain menjaga adikku yang sangat manja. Kau juga harus menjaga calon istri dan calon keponakanmu. Oke?" katanya tersenyum menatap Luhan.
Luhan mengangguk dengan cepat dan sangat senang mengetahui keadaan rumah Yunho dan Sehun tidak akan sepi jika Jaejoong kembali tinggal dirumah ini.
"Dan kau tak perlu memanggilnya Manager Kim, dia akan memarahiku. Panggil dia seperti biasa kau memanggilnya. Dan karena 99% kemungkinan kau lah yang akan menjadi adik iparku. Jadi biasakan diri memanggilku hyung tapi pelan-pelan saja tak usah terburu-buru." Katanya mengusak asal rambut Luhan membuat Sehun sedikit tersenyum melihatnya.
"Ya direktur tentu saya akan menjaga adik anda, istri dan anak anda dengan seluruh hidup saya. Terimakasih."
Luhan menjawab dengan cepat, sedikit bergetar terharu karena Yunho mulai menganggapnya seperti keluarga di keluarga kecilnya.
"Baiklah aku pergi. Sampai nanti." Yunho kembali mengerling Sehun dan kemudian meninggalkan Sehun dan Luhan di ruang makan.
"Lihat siapa yang sekarang banyak berjanji? Kau akan kewalahan dengan janjimu sendiri anak nakal."
Sehun mendekati Luhan dan sedikit menarik hidung Luhan dengan gemas memberitahu pria cantiknya.
"Aku akan menepatinya." Luhan langsung menjawab dengan yakin membuat Sehun terkekeh mendengarnya.
"Aku tahu….dan kau memang harus menepatinya." Katanya mengecup agak lama bibir Luhan kemudian kembali menatap Luhan tersenyum.
"Habiskan sarapanmu lalu minum obat. Setelah itu kita berangkat ke kampus bersama." Sehun kembali mengecup kening Luhan dan bergegas menyiapkan sarapan untuk pria cantiknya.
"Umh Sehun-…"
Luhan memanggil Sehun yang kini sedang menyiapkan obat dan cream luka untuk wajahnya.
"Hmm.."
"Hari ini aku tidak ada mata kuliah pagi. Aku baru akan kekampus setelah makan siang. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di kafe. Bolehkan?" katanya bertanya cepat pada Sehun.
Sehun menatap Luhan agak lama mengingat-ingat seluruh jadwal mata kuliahnya dan Luhan yang sepertinya tak berbeda. Namun karena merasa Luhan memintanya dengan memohon membuatnya tak punya pilihan lain selain mengijinkan Luhan pergi.
"Baiklah…kita pulang bersama kalau begitu. Jangan Lupa besok malam kita akan datang ke pesta penyambutan mahasiswa baru." Katanya mengingatkan Luhan.
"Aku ingat tentu saja."
"Kalau begitu cepat kemari dan habiskan sarapanmu."
Luhan kemudian berjalan mendekati meja makan dan segera menghabiskan makanannya, sesekali meringis karena saat mengunyah di pipi yang tergores, kulitnya terasa dirobek kencang dan dipaksa membuat Sehun hanya menatapnya tak bersuara. Menyimpan kuat keinginannya untuk bertanya pada Luhan tentang apa yang ia temukan di dalam dompetnya kemarin malam.
..
..
..
Saat ini Sehun sedang berada di rumah sakit. Setelah mengikuti mata kuliah Professor Kim dia sengaja menelepon supir pribadinya untuk mengantarnya ke rumah sakit karena sedang malas untuk menyetir sendiri mengingat Luhan baru akan bersamanya nanti sore.
Dia sedang menunggu resep yang ingin ia ambil untuk Luhan karena terus terbayang wajah Luhan yang meringis kesakitan bahkan saat sedang makan.
"Tuan Kim Luhan~…"
Merasa nama Luhan dipanggil, Sehun pun kemudian maju dan segera membayar obat-obatan yang bisa membuat pria cantiknya lebih baik.
Setelah selesai menjelaskan cara pemakaian obat. Pegawai rumah sakit itu terlihat mengurus pembayaran yang Sehun lakukan. Dia menggunakan credit card nya dan kembali harus menunggu transaksi selesai.
"Ini kartu dan obat anda tuan. Terimakasih."
Sehun pun tersenyum mengambil obat milik Luhan dan segera melenggang meninggalkan rumah sakit sampai sesuatu mengganggu penglihatannya.
"Luhan?" gumamnya melihat pria yang sangat ia kenal hampir seumur hidupnya itu
Sehun kemudian melangkah mendekati seseorang yang ia tebak adalah Luhan. Sampai akhirnya dia kembali terhenti karena seorang dokter mendekati Luhan yang sepertinya sedang menunggu sesuatu.
"Apa anda Xi Luhan?"
Pria itu mengangguk membenarkan pertanyaan dokter yang terlihat sudah tua dan berpengalaman.
"Silahkan ikut saya."
Pria yang Sehun yakini sebagai Luhan pun, mengikuti sang dokter menuju pintu lift, sementara dirinya hanya berdiri di tempatnya terdiam dan kembali bertanya-tanya. Walaupun dia tidak melihat wajah Luhan secara jelas tapi dia begitu mengenali postur tubuh dan cara berjalan Luhan.
Lalu kemudian dia kembali ragu sang dokter memanggil nama itu berbeda dengan nama yang biasa Sehun ketahui. Sehun secara otomatis mengepal tangannya merasa ini semua terlalu membingungkan.
Dia pun berlari mendekati pintu lift dan menggeram kecil saat pintu lift sudah tertutup membuatnya tak bisa memastikan itu benar adalah Luhannya atau bukan, dia semakin bertanya-tanya jika itu benar Luhannya. Kenapa dia mengangguk saat dokter itu memanggilnya dengan marga yang sama dengan seseorang yang sedang Sehun cari.
"Tuan muda apa anda sudah selesai? Anda harus kembali kekampus anda sebelum pukul 12."
Sehun menatap malas supir pribadinya dan masih terus menimbang ingin meneruskan mencari atau kembali harus penasaran dengan serangkaian kejadian yang mengaitkan Luhan dengan kejanggalan aneh yang ia temukan.
Dia menghela nafasnya dan kembali berjalan ke pintu keluar "Baiklahh kita pergi." ujarnya memberi perintah dan memutuskan untuk menganggap pria yang ia anggap Luhan hanyalah pria yang mirip dengannya dan tentu saja itu bukan Luhannya.
Sementara di lantai 6 Seoul Hospital, terlihat pria cantik yang sedang mendengar penjelasan dokter dengan seksama, dia terkadang mengernyit dan terkadang tersenyum dengan semua kemungkinan yang dikatakan sang dokter tentang operasi yang akan ibunya lakukan.
"Lalu apakah operasinya akan berhasil?" pria bernama Xi Luhan itu pun terlihat cemas dan tak tenang
"Tergantung bagaimana ibumu saat di ruang operasi. Jika kondisinya stabil kemungkinan keberhasilan operasinya 70%. Tapi kita tidak punya harapan jika kondisinya tidak stabil apalagi sampai menurun. Aku hanya menyarankan padamu untuk menerima kemungkinan terburuknya." Sang dokter menasihati Luhan yang terlihat lemas dan terpukul.
"Kapan dia bisa menjalani operasinya?"
"Kondisinya harus stabil, jadi aku memperkirakan sebulan kemudian ibumu baru bisa menjalani operasi."
"Mereka bilang jika aku memindahkannya ke Seoul Hospital, ibuku akan sembuh." Gumamnya tertawa lirih menatap sang dokter.
"Berdoalah anak muda. Aku juga akan berusaha semampuku. " katanya menepuk pelan pundak Luhan yang terasa tegang dan kemudian meninggalkan Luhan sendirian di ruang dokter.
Luhan pun bergegas ke ruang perawatan ibunya di Seoul Hospital. Dirinya tersenyum lega melihat sang ibu yang tampak akrab dengan perawat yang mengurusnya beberapa hari ini. terkadang terlihat dia tersenyum walau wajah pucat dan kesakitannya sama sekali tak bisa disembunyikan.
Luhan hanya berdiri didepan jendela dan melihat ibunya yang harus dirawat di ruang intensive dia bukannya tak mau menemui ibunya. Tapi setiap mata mereka bertemu dan bertatapan, perasaan bersalah dan menyesal selalu ditujukan untuknya, membuat Luhan hampir tak bisa menahan diri untuk tak berteriak pada ibunya.
"Setidaknya kau akan mendapatkan perawatan lebih baik disini. Cepat sembuh-…eomma." Gumamnya yang kemudian bergegas meninggalkan rumah sakit dan berlanjut mengurus sesuatu yang berhubungan dengan biaya pengobatan ibunya.
Rasanya dia ingin sekali berjalan pulang atau berjalan ke tempat dimana Sehun berada, karena saat ini yang benar-benar dibutuhkan Luhan yang sedang frustasi adalah pria tampannya yang selalu menatap hangat ke arahnya.
..
..
..
Luhan baru kembali ke rumah Sehun pada malam hari, dia sedikit ragu memasuki rumah Sehun mengingat dirinyaa tidak menepati janji untuk datang pukul 12 siang kekampus pada Sehun, membuatnya ragu harus menampakan wajahnya atau tidak malam ini pada Sehun.
Dia kemudian membuka pintu rumah Sehun dan mendapati kepala pelayan Han yang ia ketahui sangat dekat dengan ibunya sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Darimana saja kau?" katanya mendesis bertanya pada Luhan.
"Apa sekarang kau juga mengurusi urusanku?"
"Dengar anak sialan. Tuan muda Sehun memintaku untuk berjaga didepan pintu sampai kau datang dan aku sudah berdiri disini hampir delapan jam lamanya." Katanya menggertak Luhan yang terlihat terkekeh.
"Maaf kalau begitu paman Han. Aku akan segera kembali ke kamarku kalau begitu." Katanya membungkuk asal dan menolk berdebat lebih jauh dengan pria tua didepannya ini.
"Tuan muda Sehun berpesan agar kau segera ke kamarnya setelah kau kembali." Katanya mendesis membuat Luhan yang sudah berjalan sedikit menoleh.
"Baiklah terimakasih paman. Ah-…apa aku boleh memberikan saran untukmu?" Luhan menatap pria tua didepannya yang entah kenapa sangat membencinya sejak dulu.
"Jangan terlalu sering bergaul dengan ibuku. Itu merusak otak dan hidupmu asal kau tahu."
Luhan pun kembali menaiki tangga menuju kamar Sehun meninggalkan pengurus Han yang tampak menggeram kesal.
"Apa kalian belum menemukan petunjuk terbaru?"
Luhan sampai didepan pintu kamar Sehun dan saat ingin membukanyaa, dia mendengar suara Sehun bertanya kepada detektif sewaannya, Luhan memutuskan untuk sedikit mengintip dan tersenyum miris mendapati Sehun yang masih mencari keberadaan dirinya.
"Mereka memiliki seorang putra seusia anda tuan muda. Dan kabar baiknya adalah putra mereka juga menetap di Seoul. Jadi beri kami tambahan waktu untuk menemukan siapa putra dari pembunuh itu."
Luhan sedikit mengepalkan tangannya erat, menahan ketakutannya karena identitasnya semakin terbongkar dan hanya menghitung hari sampai Sehun mengetahui siapa dirinya.
"Bagus kalau begitu. Aku penasaran seperti apa bayi cantik di foto ini tumbuh besar. Aku tak sabar bertemu dengannya dan memberinya sedikit pelajaran." Katanya tertawa mengerikan di depan detektif yang ia sewa.
Luhan semakin takut mendengar betapa Sehun membenci bayi yang berada di foto tersebut, bayi yang Sehun sebut canti dan seperti apa rupanya adalah dirinya sendiri dan entah mengapa ada sebersit rasa penasaran pada Luhan yang juga menebak akan seperti apa dan bagaimana dirinya saat bertemu dengan Sehun sebagai Xi Luhan dan bukan Kim Luhan.
"Kami permisi tuan muda."
Luhan pun berpapasan dengan para detektif sewaan Sehun di pintu masuk, dan setelah semua orang pergi dari kamar Sehun, dia memberanikan diri masuk kekamar Sehun yang sudah menyadari kedatangannya dan kini sedang menatapnya tajam.
"Kau sudah pulang?"
Suara berat Sehun membuat Luhan menundukan kepalanya tak berani menatap Sehun.
"Sehun maaf aku tidak datang kekampus dan pulang terlambat hari ini. aku-.."
"Yang penting kau sudah pulang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku menunggu."
Luhan kemudian menatap Sehun yang entah sejak kapan sudah berada didepannya. Dia kemudian mengerjapkan matanya berkali-kali menebak apakah benar yang berdiri di depannya adalah Sehunnya-… karena Sehun yang biasanya akan memarahi Luhan dan sedikit membentaknya jika dia tidak melihatnya seharian. Ditambah Luhan tak membawa dompet dan ponselnya yang tertinggal di kamar Sehun sejak kemarin malam, harusnya Sehun marah dan bukan tersenyum sangat tampan seperti saat ini.
"Lu, cepat mandi dan bersihkan dirimu." Sehun mengulang perintahnya membuat Luhan tersadar dari lamunannya dan segera mengangguk bergegas masuk kedalam kamar mandi Sehun.
Cklek…!
Luhan keluar menggunakan bathrobe kebesaran milik Sehun, dirinya hanya berdiri didepan pintu kamar mandi melihat Sehun yang sedang bermain di laptopnya juga menggunakan bathrobe miliknya. Luhan menebak Sehun membersihkan dirinya dikamar mandi tamu membuatnya tak enak hati karena seharusnya Sehunlah yang mandi di kamar mandi miliknya.
"Kenapa hanya berdiri disana? Kemari"
Luhan pun berjalan mendekati Sehun di meja kerjanya dan kembali mengagumi betapa tampan wajah Sehun bahkan saat rambut hitamnya tampak basah dengan bibir merah yang selalu menciumnya setiap saat.
"Duduk disini jangan disana."
Sehun menepuk pahanya dan mengoreksi Luhan yang sudah duduk di bangku didepannya.
"Disini sudah nyaman." Luhan berusaha mengelak mengingat keduanya hanya memakai bathrobe dan akan merasa tak nyaman setelahnya.
Sehun menghela dalam nafasnya dan menatap Luhan mengoreksi "Aku tidak meminta ini perintah."
Luhan yang merasa nada suara Sehun langsung berubah pun segera bangun dari kursinya dan beralih duduk di pangkuan Sehun yang langsung memeluknya membuat Luhan secara otomatis menyenderkan wajahnya di perpotongan leher Sehun
"Nyaman" Gumam Luhan terdengar oleh Sehun yang sudah menutup laptopnya dan mulai mencumbu leher Luhan
"Kau menggairahkan Lu." Ujarnya menjilati leher Luhan yang terekspos bebas dan tangannya yang mulai bermain bebas didalam bathrobe yang digunakan Luhan.
"Aku menginginkamu Lu."
Hembusan nafas Sehun saat berbisik di telinga nya membuat bulu kuduk Luhan meremang, jantung nya mulai terpacu kencang menyemburkan aliran darah yang terasa hangat diseluruh tubuhnya, aroma khas milik Sehun menggelitik rasa gairahnya dan tanpa disadari tangannya membelai dada pria yang memberi selalu memberi perasaan nyaman dan damai untuknya. Karena mau seperti apapun dirinya akan selalu terjatuh ke dalam pelukan seorang Oh Sehun
"Take me then."
Sehun otomatis tersenyum senang dan langsung menggendong Luhan, membawanya ke atas ranjang yang akan kembali menjadi saksi bagaimana seorang Oh Sehun sangat memuja kekasih cantiknya..
"Kau cantik Lu." Gumamnya begitu memuja Luhan dan dengan cepat menyatukan kedua bibir mereka.
Sehun menghampiri bibir indah itu, mengecup nya sekali, lalu menyapu lembut kedua bibir Luhan, manis, kenyal dan menggairahkan. Dada nya yang disentuh tangan Luhan terasa hangat
"Nngghhh…" Desahan dari bibir Luhan yang membalas ciuman Sehun, membuat ciuman kedua nya berirama, ujung lidah mereka bersentuhan dan sensasi nya menyulut naluri Sehun yang semakin memuja pria dibawahnya.
Mata keduanya saling bertatapan, Keduanya merasakan kehangatan yang begitu menggairahkan, Sehun memegang tangan Luhan dan menuntun mengelus pipinya, mencium punggung tangan Luhan yang halus, lengan, siku, pundak dan penuh kelembutan menyapu leher putih itu dengan bibir dan lidah nya, hingga Luhan kembali mengeluarkan desahan nikmatnya.
Kedua tangan Luhan meraih wajah pria yang telah membangkit kan gairah nya, ditatapnya mata tajam yang kini sedang berada di atasnya sedang menatapnya hangat menggairahkan, "Sehunnie… Saranghae." Bibir nya bergetar mengucapkan kata-kata yang mewakili jiwa dan raga nya. Ketakutannya seolah sirna mengetahui kapan saja pria didepannya bisa membencinya kapan saja
Terlihat senyum di wajah Sehun saat mendengar kata-kata itu terucap dari bibir yang selalu ingin di kecup nya, bibir yang selalu ingin di cium nya dengan lama.
"Saranghae." Menyentuh bibir itu dengan bibir nya, membelai kening Luhan, jemari nya menghapus setitik air mata yang jatuh di sudut mata rusa itu.
"Aku milik mu seutuh nya." Kalimat itu terucap seakan mengingatkan Luhan kalau dirinya hanya milik Luhan seorang.
Kedua tangan Luhan menarik wajah Sehun mendekat ke wajah nya, kepala nya sedikit terangkat, mencium bibir pria yang memiliki rasa cinta yang sama besar dan terlalu kuat untuk dirinya. Setidaknya untuk sekarang keduanya saling membutuhkan dan saling menginginkan.
"Nggghhh…" Desahan Luhan kini semakin bergairah, ketika tangan Sehun menelusup di balik bathrobe nya, halus menyentuh kulit tubuh nya, sentuhan yang belum pernah dia rasakan sedemikian hebat nya hingga memicu jantung nya kembali berdetak cepat. Membiarkan tangan Sehun melepas bathrobe nya. Dia menikmati seluruh pergerakan Sehun yang kini telah berada di atas tubuh nya.
Belaian dan ciuman mereka semakin panas dan menggairahkan, hingga mereka berdua tidak sadar kapan melepas kan seluruh pakaian yang melekat di tubuh mereka, Sehun menarik selimut dan menutupi tubuh nya yang masih berada di atas tubuh Luhan.
"Arghh.. Luhan!" Sehun mengerang melepas kan ciuman nya, saat tangan Luhan tiba-tiba meraba dan membelai kejantanan nya.
Sehun menatap wajah bagai malaikat di bawah nya yang menyeringai nakal,
"Nmmpphhh.. Ngghh… Nghh…" Seringaian nakal itu sudah tak berdaya dengan lumatan bibir Sehun yang kini mencium bibir Luhan, membekap kepala nya hingga hanya kepala Sehun yang bergerak gerak ke kiri dan ke kanan.
"aghhh…ahh..ahh..!" Desahan Luhan membakar api gairah Sehun yang kemudian dengan lihainya menelusuri leher, bahu dan
"ahhh.. Sehunnie !" Luhan melengkungkan tubuh nya sendiri, hingga melepas kejantanan Sehun yang berada dalam genggaman nya. Tangan nya naik ke atas merenggut kepala Sehun dan membekap nya di dada, lidah pria itu semakin kasar menjilati dan menghisap nipple Luhan. Perut nya mengeras ketika bibir pria yang di cintai nya itu mengecup berkali-kali permukaan perut nya dan
"Ahhhhh !" Lenguhan panjang dari bibir Luhan merasakan kenikmatan lidah Sehun menjilati ujung kejantanan nya.
"Sehunnie aku mohon!" Ucap nya memohon agar Sehun memberikan nya kenikmatan yang lebih, lidah pria yang berada di selangkangan nya kini menjilati hole dan permukaan rectum nya.
"Argghh… hmphh..hmphh… !" Erangan Luhan bagai nyanyian melody, menghipnotis pria di bawah sana semakin bernafsu menenggelam kan seluruh kejantanan namja cantik itu ke dalam mulut nya.
Luhan berusaha meredakan detak jantung nya yang terpacu sedemikian hebat nya, sensasi mulut Sehun di kejantanan nya membuat diri nya melemas dan berusaha merasakan kenikmatan yang terus menerus Sehun berikan untuknya,
Luhan sedikit bersender di kepala ranjang dan melihat betapa menggairahkannya Sehun yang sedang memberikan kenikmatan untuknya dibawah sana "Hmpphh…. Sehunnie… Sehun… Aaahhhh….hhhh….." Jemarinya mencengkram erat rambut di kepala Sehun dan
Dan dalam sedetik mulut Sehun penuh oleh cairan sperm pria cantiknya,, Sehun menelan seluruh cairan itu dengan senyum yang selalu terlihat di wajahnya saat melihat Luhan yang begitu menggairahkan selesai mendapatkan klimaks pertamanya.
Tubuh nya beranjak mendekati Luhan yang terbaring lemas menggapai klimaks nya. Ditunggu nya hingga nafas pria yang mata nya masih terpejam itu beraturan.
Luhan membuka mata, bibir dan lidah Sehun bermain di leher dan bahu nya, dia pun berbisik di telinga Sehun "Aku mencintaimu Sehun…sangat mencintaimu" ujarnya frustasi memberitahu Sehun agar prianya mengerti kalau dirinya sedang memohon agar Sehun tak pernah membencinya kelak di masa depan.
Mengabaikan rasa frustasinya, Luhan kini menjilati telinga Sehun, mengecup leher kekar pria itu. Seakan tahu apa yang diinginkan Luhan, Sehun sengaja menggesek-gesekkan kejantanan nya menyentuh kejantanan Luhan yang basah oleh sperm nya yang tercampur dengan saliva Sehun.
Mata tajam itu seakan menunggu kata-kata itu terucap dari bibir Luhan nya, "Aku akan melakukannya sekarang." Sahut nya setengah berbisik,
Luhan mengangguk, mata sendu nya menelusuri wajah pria di depan nya, mencari keyakinan bahwa pria yang mencintai nya itu tidak akan menyakiti nya.
Tubuh mereka bersatu dalam irama halus dan lembut, di iringi teriakan Luhan yang kesakitan, Sehun berusaha selembut mungkin memasukkan kejantanan nya ke dalam hole Luhan, dia telah memasukkan dua jari sebagai penetrasi di lubang Luhan, dan ini bukan pertama kalinya Sehun menyatukan dirinya dengan Luhan, tapi tetap saja. Lubang rectum itu terlalu sempit untuk besar nya kejantanan Sehun.
"Apa terasa sakit?" Sehun memberhentikan gerakan pinggul nya, mencium lembut bibir kekasih nya, sungguh dia tidak tega melihat Luhan yang di cintai nya berteriak kesakitan setiap kejantanan nya bergerak.
Mata rusa itu terbuka, wajah nya masih terlihat meringis menahan perih di lubang rectum nya, "Lanjutkan Sehunna." Dia berusaha meyakin kan Sehun dengan kata-kata nya, walau sedikit merasakan sakit, otot rectum nya berdenyut-denyut memijat batang kejantanan Sehun yang baru berhasil masuk setengahnya, seperti biasanya rasa sakit itu hanya awal nya karena setelah itu hanya akan terasa sensasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata
"Aaaarggghhhh…. !" Teriakan kesakitan Luhan dan teriakan kenikmatan Sehun berbaur menjadi satu.
"Lu… Argh.. Arghh…" Erangan Sehun tak tertahan kan, denyutan otot dinding rectum Luhan menyentuh gairah nya untuk mendorong kejantanan nya hingga seluruh nya tenggelam dalam lubang rectum Luhan, kehangatan lubang pria cantik nya bagaikan menggelitik setiap saraf-saraf kejantanan milik Sehun, perlahan-lahan pinggul nya bergerak maju mundur, teriakan Luhan sudah tak terdengar, berganti dengan desahan nafas nya yang mulai merasakan nikmat nya setiap sentuhan kejantanan Sehun menggesek-gesek dinding rectum nya.
"Ngghhh…." Bibir itu mengerang ketika Sehun kembali melumat bibir Luhan, pria yang semakin bernafsu itu terus menggerakkan pinggul nya tanpa henti, berirama semakin cepat semakin nikmat yang di rasakan kejantanan nya semakin menggebu-gebu.
Posisi pinggul nya tegak di topang kedua lutut nya yang menekuk di tempat tidur, kedua tangan nya meraih pinggang Luhan agar mengkuti irama gerakan pinggul nya yang berubah menjadi liar
"Hmphhhh… Luhan… Ahhh.. Ahhh Lu…!" Erangan Sehun bergaung dipenjuru kamar. Gerakan nya semakin cepat mendorong menarik mendorong menarik seluruh kejantanan nya yang semakin tegang semakin mengeras.
Dagu Luhan mendongak, mata nya terpejam, nikmat nya kecepatan gerakan kejantanan yang besar dan keras itu menumbuk lubang rectum nya bagai kan aliran listrik menyengat saraf-saraf nafsu nya,
"Sehunnie, fasterrr.. hmphhh.. Aghh.. ! Tangan Luhan mencengkram erat kain bed cover, sebelah tangan nya meremas kencang lengan Sehun yang terus bergerak liar menumbuk dinding rektumnya dengan cepat dan kencang.
Desahan dan erangan Luhan menstimulasi gerakan pinggul Sehun semakin liar dan tak terkendali kecepatan nya, menumbuk titik kenikmatan Luhan berkali-kali hingga denyutan dan cengkraman dinding rectum nya semakin erat menjepit seluruh batang penis Sehun..
"Ahhhhhh…" Sehun mendesah,
"Aargghhh…" Dia mengerang,
"Ahh.. Luhan.. Aghhh.. Aghh.. Lu.. Aghh.. Luhaaann.." Orgasme nya mendesak mulut nya menyebut nama kekasih nya, Sehun menekan kan seluruh batang penis nya tenggelam dalam lubang rectum Luhan, mencapai titik kenikmatannya nya dengan menyembur kan sperma tanda pencapaian klimaks nya.
"Aargghhhhhh…!" Teriakan nikmat dari kedua nya bergaung bersamaan, saling menatap pasangan masing-masing. Memastikan kalau pasangannya juga merasakan kenikmatan yang sama seperti yang mereka rasakan.
Sehun ambruk kelelahan dalam pelukan Luhan yang berada di bawah nya. Masih dengan nafas terputus-putus, Sehun mengecup bibir Luhan dan merebah kan tubuh nya di samping pria cantik yang masih terpejam tak bergerak, tangan nya memeluk tubuh itu penuh curahan kasih sayang nya, berbisik pelan di telinga Luhan
"Aku mencintaimu Luhan," dia menatap Luhan, membawa Luhan mendekat ke dalam dekapannya.
Luhan tidak menjawab, dia hanya terlalu senang dan nyaman mendengar ucapan cinta Sehun yang ditujukan untuk berkali-kali atau dia terlalu lelah, Luhan sedikit mengangkat badan nya hingga wajah nya berhadapan dengan Sehun, mengecup kedua mata yang selalu berhasil membuatnya jatuh semakin dalam ke pesona itu, lalu menempelkan kepala nya di lekukan leher pria yang selalu ia sebut dalam doanya pada Tuhan agar tetap bisa selalu bersama walau apapun yang terjadi.
..
..
..
Keesokan paginya Sehun terbangun lebih dulu, mengecupi seluruh wajah putri tidurnya dengan gemas. Sesekali mencium terlalu lama bibir Luhan yang kemudian akan menggeliat kehabisan nafas. Sampai saat Luhan merasakan tangan Sehun mulai bermain nakal dibawahnya. Membuatnya terpaksa harus membuka matanya.
"Akhirnya putri tidur membuka matanya." Gumam Sehun yang langsung membawa Luhan ke pangkuannya sementara dirinya bersandar di kepala ranjang.
"sshhh.." Luhan sedikit meringis saat Sehun tiba-tiba membawanya ke pangkuannya. Mengingat percintaan panas mereka semalam, wajar saja kalau Luhan meringis karena bagian bawah dirinya masih terasa sakit karena terus dihujam oleh pria yang kini sedang memangkunya.
"Kau benar-benar sempurna Luhan." Sehun kembali mengagumi Luhan dan seluruh yang ada pada dirinya yang selalu terlihat sempurna untuknya.
Luhan hanya tersipu malu mendengar pujian dari pria yang kini kembali mencumbu lehernya dan bermain di perut ratanya sesekali mengusap lalu akan semakin turun ke bawah.
"Se-Sehun…" Luhan memekik takut kalau-kalau jari Sehun sudah masuk kedalam lubangnya dengan tiba-tiba.
"Kita bisa melanjutkan yang semalam kan?" katanya berbisik membuat wajah Luhan tampak terkekeh menahan rasa takutnya pada gairah Sehun yang selalu membludak.
"Diam berarti iya,,"
"Sehun!" Luhan memekik saat tiba-tiba Sehun kembali berada diatasnya dan sudah memaksanya berciuman panas dan bertukar saliva serta saling menautkan lidah mereka di pagi hari.
Tok..Tok..
Sehun mengabaikannya namun Luhan jelas membelalak meronta karena takut itu Yunho yang berada di luar sana.
Tok..Tok..
"Se-…Sehun!" Luhan berhasil membuat Sehun setidaknya melepaskan tautan panas bibir mereka.
"Ada yang mengetuk pintu." Luhan memberitahu Sehun yang tampak kesal karena kegiatannya diganngu.
"SIAPA?" teriaknya yang kembali mencumbu leher Luhan.
"Tuan muda, direktur bilang anda harus segera turun."
"Sehun, kita bisa lanjutkan nanti aku janji, tapi sekarang direktur memanggilmu. Aku mohon." Luhan menangkup wajah Sehun yang terlihat kesal karena tak bisa mendapatkan jatah pagi hari dari Luhan.
"Aku janji.." Luhan meyakinkan Sehun yang kemudian berpindah ke sampingnya.
"BAIKLAH!"
Sehun pun berteriak dan memberitahu pelayannya agar cepat pergi.
Luhan tersenyum dan memaksakan diri untuk bersiap sebelum berhasil membangkitkan kembali gairah Sehun yang selalu membuatnya kewalahan di pagi hari.
..
..
..
"Jae hyung!"
Terdengar suara Sehun yang sedang menggenggam Luhan disampingnya memekik dan langsung menghambur memeluk paksa Jaejoong yang sedang menikmati sarapannya bersama Yunho.
"Hay Sehunna.." Jaejoong mengelus lembut punggung calon adik iparnya dan sedikit mengerling ke arah Luhan yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Kapan kau datang?"
Sehun melepas pelukannya dan bertanya pada Jaejoong yang tampak terkekeh.
"Semalam… aku sampai tadi malam, dan saat ingin menyapamu kau terlihat sibuk dengan pria cantikmu didalam kamar." katanya menggoda Sehun yang hanya tertawa renyah karena kembali ketahuan sedang berdua bersama Luhan dikamar.
"Kami berniat membuat teman untuk adik bayi." bisiknya mengelus sayang perut Jaejoong membuat Jaejoong sedikit memukul kepala adik iparnya yang berbicara sembarangan.
"Luhan…."
Luhan sedikit menoleh ke suara yang memanggilnya dan mendapati ibunya yang terlihat seperti biasa menyebalkannya saat memanggil namanya.
"Iya ada apa?"
Minah tampak salah tingkah saat hendak memaki Luhan tetapi dirinya ditatap menyeramkan oleh ketiga pasang mata yang kini duduk di meja makan.
"Maaf mengganggu sarapan anda bersama Tuan muda dan tuan Kim direktur. Saya ada perlu dengan Luhan-..putra saya."
Luhan sedikit mual saat sebutan putra ditujukan untuknya langsung dari mulut wanita menyebalkan seperti ibunya.
"Luhan akan sarapan bersamaku." katanya memberitahu Minah yang tampak tak suka dengan pernyataan Sehun.
"Ada yang harus Luhan kerjakan tuan muda."
"Suruh orang lain-.."
"Saya permisi membantu ibu saya direktur." Luhan menyela ucapan Sehun dan menatap pria nya kali ini untuk mengijinkannya.
"Baiklah kau boleh membantu ibumu. Lagipula malam nanti kita akan sangat sibuk."
'Memangnya ada apa?" Sehun bertanya pada kakaknya.
"Aku mengundang keluarga dan kerabat terdekat untuk datang ke jamuan makan malam sekaligus pemberitahuan rencana pernikahanku dengan Jongie." balas Yunho menggenggam jemari Jaejoong memberitahu Sehun yang tampak berbinar.
"Whoaa…. Aku benar-benar tak sabar melihat kalian menikah."
"Kalau begitu saya pamit membawa Luhan untuk membantu persiapan pesta malam nanti."
Minah kembali memotong ucapan Sehun dan segera mencengkram lengan Luhan untuk ikut dengannya.
"Apa dia masih sangat jahat pada Luhan?" Jaejoong bertanya pada Sehun dan Yunho.
"Masih baby… mereka berdua sepertinya tidak pernah akur." kekeh Yunho menggenggam jemari Jaejoong semakin erat.
"Aku rasa Luhan bukan anaknya. Didunia ini tidak ada seorang orag tua yang sangat membenci anaknya seperti dia. Lagipula bagaimana bisa kau membenci seseorang seperti Luhan yang nyaris seperti malaikat?" ujar Jaejoong membuat Yunho tertawa gemas.
Berbeda dengan kakaknya, wajah Sehun kini mengeras tampak berfikir dan mencerna ucapan Jaejoong yang mengatakan Luhan bukan anak dari Minah. Jika dia mengingat ke belakang, tak pernah ada hari yang Minah lakukan selain membenci dan memarahi Luhan. Membuatnya sedikit membenarkan ucapan Jaejoong yang mengatakan tak ada satu orang tua pun didunia yang bisa begitu membenci darah dagingnya sendiri.
"Sebenarnya ada apa?" gumam Sehun yang tiba-tiba merasa ada yang tak beres dengan latar belakang Luhan dan segala keganjalan yang tak sengaja ia temukan sendiri.
..
..
..
Sebulan pun telah berlalu dengan cepatnya, dan hari ini adalah hari dimana putra tertua keluarga Oh dan keluarga Kim melangsungkan pernikahan mereka.
Segala kesulitan kisah cinta mereka telah berhasil dilewati, membuat siapa saja yang mengetahui betapa Yunho dan Jaejoong saling mempertahankan mendecak kagum dan ada sedikit rasa iri karena sebentar lagi malaikat kecil keduanya akan hadir di tengah-tengah mereka.
Pernikahan yang begitu ditunggu keluarga, kerabat serta para khalayak yang mengenal betapa bijaksananya Yunho dan betapa dermawannya Jaejoong, membuat kedua insan ini mendapatkan banyak restu dan doa dari semua yang mengenal mereka.
Kesibukan jelas terlihat di kediaman keluarga Oh, karena sebentar lagi upacara pernikahan akan dilakukan di taman belakang rumahnya yang kini disulap sangat cantik dan indah.
"Luhan...antarkan tuxedo tuan muda kekamarnya."
Luhan mengernyit mendengar kabar Sehun sudah ada dikamarnya.
"Tuan muda sudah kembali?"
"Ya…. Baru saja dia sampai. Cepat antarkan tuxedonya ke kamarnya."
Luhan pun setengah berlari menuju kamar Sehun. Merasa senang mengetahui pria tampannya sudah kembali setelah hampir seminggu tak pulang kerumah dengan alasan mengurus sesuatu yang penting.
"Sehun!"
Luhan yang masih terengah langsung membuka cepat pintu kamar Sehun dan mengernyit mendapati kamar Sehun yang masih kosong tak ada tanda kedatangan Sehun.
"Sehunnie.." Luhan kini masuk kekamar Sehun berharap kalau tuan mudanya sedang berada dikamar mandi.
Cklek…!
Dia kembali menghela nafas saat kamar mandi Sehun kosong.
"Hey cantik."
Luhan sedikit terhuyung saat tiba-tiba lengan yang begitu ia rindukan merengkuh pinggangnya dan kini sedang menciumi tengkuknya.
"Sehun!"
Luhan langsung membalikan badannya dan menghambur memeluk Sehun erat.
"Kau darimana saja? Aku meridukanmu." katanya memeluk erat Sehun sesekali menghirup aroma khas yang sangat ia rindukan.
"Ada sesuatu yang harus aku urus Lu. Dan tentu saja aku kembali. Aku masih ingin menikahimu sebelum Yunho membunuhku kan?" katanya sedikit terkekeh mengecup lama kening Luhan.
"Aku mempunyai kejutan untukmu dan Yunho." katanya berbisik memberitahu Luhan.
Luhan mengernyit tak mengerti sambil memasangkan kancing kemeja Sehun dengan benar.
"Apa itu?"
"Kejutan Lu… kau akan tahu sebentar lagi."
"Baiklah aku sudah tampan. Aku harus menemui Yunho sebentar sebelum dia berteriak mencariku. Sampai nanti." Sehun kembali mengecup kening Luhan dan berjalan keluar kamarnya dengan seluruh kebahagiaan di wajahnya.
Luhan hanya tersenyum kecil melihat Sehun yang tampak lebih baik saat ini dibandingkan sebulan yang lalu. Sebulan yang lalu Sehun tampak menjauhi dirinya dan hanya berbicara seperlunya, membuat Luhan merasa khawatir kalau Sehun sudah menemukan sesuatu tentang dirinya. Tapi saat ini dia bisa bernafas lega karena sepertinya sesuatu yang akan Sehun katakan bukan mengenai dirinya.
"Hyung!"
"Well...well… lihat siapa yang baru menampakan batang hidungnya." terdengar suara Kai menyindir Sehun yang datang ke ruangan Jaejoong
"Kau sangat cantik." katanya mendekati Jaejoong dan memeluk pria yang tak lama lagi akan menjadi kakak iparnya.
"Kau kemana saja anak nakal. Yunho tidak mau melangsungkan acara ini jika kau tak datang." katanya mengabaikan pujian Sehun dan lebih memilih memarahi Sehun yang hanya tertawa bodoh.
"Tentu saja aku akan datang. Ini pernikahan kakakku mana mungkin aku tidak hadir. Lagipula aku tidak sabar melihat adik bayi lahir. Dia pasti mirip denganku." katanya mengusap perut Jaejoong yang sudah terlihat membuncit.
"Jauhkan tanganmu dari adik bayi dan kenapa dia harus mirip denganmu? Jongie hyung yang mengandungnya jadi tentu saja adik bayi mirip denganku." Kai tak mau kalah dari Sehun membuat Jaejoong benar-benar kesal melihat tingkah kedua adiknya.
"Kalian berdua berhenti bertengkar." Jaejoong memperingatkan Kai dan Sehun yang masih adu mulut tak penting. Keduanya pun langsung berhenti bertengkar tak ingin membuat mood Jaejoong berubah karena mereka.
"Sehun cepat temui Yunho. Dia benar-benar harus melihatmu." Jaejoong kembali memperingatkan Sehun yang langsung mengangguk mengerti dan memutuskan berjalan mendekati calon kakak iparnya ingin memberitahunya sesuatu.
"Terimakasih untuk kedatanganmu di kehidupan Yunho. Terimakasih untuk cintamu yang begitu besar yang kau berikan pada kakakku. Dan terimakasih untuk calon malaikat yang akan hadir di tengah-tengah kita. Terimakasih hyung, aku menyayangimu."
Kalimat yang begitu mengharukan Sehun ucapkan dalam satu nafas. Membuat Jaejoong tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena satu-satunya keluarga Yunho sangat menyayangi dan menjaganya.
"Aku pamit sebentar. Sampai bertemu nanti sebagai keluarga Oh yang baru hyung." Sehun memeluk erat Jaejoong dan tak lama bergegas pergi menuju ruangan tempat Yunho berada.
"Paling tidak aku akan merasa tenang membiarkan kau tinggal disini. Baik Sehun dan Yunho-... keduanya sangat menyayangimu dan adik bayi."
Sepeninggal Sehun, Kai kembali mendekati kakaknya dan mengecup kedua tangan Jaejoong yang terasa dingin.
"Aku tetap ingin kau mengunjungiku di akhir pekan. Aku tidak bisa tidak melihat wajah tampan adikku yang seksi." protesnya mencubit pipi Kai membuat Kai tertawa senang.
"Araseo… adikmu yang seksi ini akan selalu mengunjungi the hottiest Jongie setiap minggu." katanya membalas Jaejoong yang menjadi tak rela berpisah dengan adik kecil yang sudah seperti pahlawan untuknya.
"Biar aku memelukmu hyung. Aku bisa menangis lebih awal saat ini." gumam Kai membawa Jaejoong ke pelukannya.
"Syukurlah kau dan adik bayi akan bahagia selamanya."
"Kau juga harus bahagia adik kecilku." Jaejoong berbisik dan membalas pelukan adiknya dengan erat.
Sementara itu...
"DIMANA SEHUN? CEPAT PANGGIL ADIKKU!"
Suara teriakan Yunho terdengar sampai ke luar ruangan. Membuat Sehun terkekeh geli karena kakaknya terlihat sangat gugup dan tegang.
"YUNNIEE…~"
Sehun tiba-tiba berlari dan memeluk Yunho tiba-tiba membuat kakaknya mendelik sekaligus lega karena akhirnya adiknya pulang dan tak terlambat ke acara pernikahannya.
"Kau darimana saja?!" katanya menuntut Sehun yang mulai merajuk padanya.
"Hyungiee… kau menyeramkan sekali berwajah seperti itu. Nanti orang-orang berfikir kau tak menginginkan pernikahan ini." Sehun memegang dahi Yunho dan membuat gerakan menghilangkan kerutan di dahi kakaknya.
"Aku serius...darimana saja kau? Kenapa hampir seminggu tidak pulang?" katanya mendesis marah pada adiknya.
"Saat aku memberi ucapan selamat didepan orang banyak nanti kau akan tahu kemana aku pergi. Aku punya kejutan untukmu." katanya merapikan jas Yunho yang terlihat sangat cocok untuknya.
"Tapi kau baik-baik saja kan?"
"Sangat."
Yunho kemudian kembali memeluk adiknya erat dan bernafas lega setidaknya dia bisa lebih tenang saat ini "Jangan membuatku memaki orang hanya karena kau adik kecil."
Sehun melepas pelukannya dan menatap menebak ke mata hyungnya "Aku penasaran apakah kau akan tetap menjadikan aku prioritasmu setelah kau menikah hari ini." katanya mengoreksi Yunho yang terlihat terkekeh.
"Kau akan selalu menjadi prioritasku dan selalu dalam pengawasanku, selalu." Katanya mengusak kepala Sehun dan memberitahu adiknya.
"Setidaknya kau prioritas ketiga setelah Jaejoong dan anakku tentu saja."
Sehun tertawa mendengar penuturan konyol kakaknya dan kemudian kembali berjalan mendekati Yunho yang sedang bercermin.
"Aku mengunjungi makam ayah dan ibu sebelum pulang ke rumah." Yunho yang sedang membenarkan tuxedonya kembali melihat adiknya yang terdengar bergetar.
"Lalu?"
Sehun mengangkat kedua bahunya dan menatap Yunho berkaca "Aku hanya ingin mereka melihat pernikahanmu. Kau pasti akan sangat bahagia."
Yunho kemudian memegang pundak adik kecilnya dan menatap Sehun meyakinkan "Dengar, aku sangat bahagia saat ini. Aku memiliki adik kecil keras kepala tapi selalu mendengarkan apa yang aku katakan. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu. Ayah dan ibu tentu saja menghadiri pernikahanku, aku bisa merasakannya. Jadi jangan berbicara macam-macam dan bersiap di luar. Oke?"
Sehun mengangguk dan kembali tersenyum bangga pada kakaknya yang selalu terlihat kuat dimatanya "Oke." Balasnya tersenyum menatap Yunho.
"Ah aku sangat senang adik kecilku bertambah dewasa." Katanya memeluk Sehun sekilas.
Sehun pun memeluk sekilas kakaknya dan bergegas meninggalkan ruangan untuk bersiap mengikuti upacara pernikahan Yunho dan Jaejoong.
..
..
..
Dan janji suci itupun sedang diucapkan oleh kedua pasangan pengantin yang terlihat sangat bahagia di altar sana. Kalimat Aku bersedia menggema di pagi hari yang begitu tenang dan indah, membuat siapa saja menitikan rasa harunya tak terkecuali untuk Bungsu Oh dan Kim yang kini sesunggukan melihat kedua kakaknya akhirnya bisa bersandang di pelaminan.
"Luhan.." Kyungsoo berbisik menyenggol lengan Luhan.
"Ada apa Kyung?"
"Apa kau punya tisue?"
"Tisue? Untuk apa?"
"Lihat Sehun dan Kai sudah menangis seperti anak hilang."
Luhan yang terlalu terbawa suasana pun tak menyadari kalau Sehun yang duduk disampingnya memang sudah sesunggukan tak bersuara.
"Kau benar-…mereka tampak konyol sekali." Bisikan Luhan pun membuat sebuah tangan melingkar di pinggang Luhan dan tangan lainnya melingkar di pinggang Kyungsoo
"Jangan mengambil kesempatan untuk mengejek kami." Keduanya berbisik mengerikan di telinga Luhan dan Kyungsoo, membuat keduanya terkekeh dan kembali mengikuti prosesi tukar cincin dan kedua pasangan kini sedang berciuman hangat sehingga terdengar tepuk sorai dari para tamu undangan.
Dan tak terasa hari membahagiakan itu sampai pada puncaknya. Acara dimana keluarga terdekat memberikan restu dan rasa bahagia mereka untuk kedua mempelai. Dimulai dari orang tua Jaejoong yang telah memberikan kalimat mengharukannya untu Jaejoong diikuti Kai yang kini sedang berbicara panjang lebar mengenai Yunho dan Jaejoong, membuat kedua pengantin menatap sebal pada Kai karena daripada memberikan ucapan yang lebih berguna, Kai seperti sedang bergosip membuat seluruh tamu undangan tertawa mendengarnya.
Tak lama tepuk tangan pun terdengar menandakan Kai yang telah selesai berpidato dan kini sedang memeluk kakak dan kakak iparnya, hal itu juga menandakan bahwa saat ini satu-satunya keluarga Yunho akan memberikan satu-dua kata untuk kakak tercintanya.
Sehun mengaitkan kancing jasnya dan berjalan ke podium, tersenyum melihat Yunho dan Jaejoong dan sedikit mendapati Luhan yang sedang sibuk membantu membagikan champagne
"Selamat malam."
Suara Sehun bergema di ruangan, membuat Luhan yang sedang fokus pada tamu membalikan badannya dan tersenyum menatap prianya yang begitu tampan dan mempesona.
"Sebelumnya aku ingin berbicara tentang kakakku terlebih dulu." Katanya mengerling Yunho yang sedang duduk melihat ke arahnya.
"Mungkin sebagian dari kalian sudah mengetahui kejadian mengerikan yang terjadi pada kami berdua saat kami kecil. Dan mungkin juga kalian berfikir kami berdua sudah baik-baik saja seiring bergantinya hari. Terutama kakakku, aku sangat yakin kalian menganggapnya kuat karena di usia nya yang masih sangat muda bisa mempertahankan nama baik mendiang ayah kami."
"Yah-…itu hanya kelihatannya saja, Yunho-..kakakku dia sama sekali tak sekuat yang kalian pikirkan." Sehun mulai tak bernada memberikan pidatonya,
"Hyung…" Sehun kini berbicara seolah berbicara langsung dengan kakaknya yang sedang melihatnya saat ini.
"Aku tahu kau mengalami mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan daripada yang aku alami hampir setiap hari selama hidupmu. Tapi kau mencoba menutupinya karena aku."
"Aku juga tahu kalau kau merasakan sakit dan merasa tak sanggup menjalani hidup yang begitu menyulitkanmu berkali-kali kau ingin menyerah tapi kau bertahan itu juga karena aku."
"Kau bahkan hampir tidak pernah menangis dan berusaha selalu menjadi pahlawan hebat untukku."
"Kau selalu tertawa bahkan saat kau tidak ingin, hanya karena ingin memberitahuku kalau kau dan aku-.. kita berdua baik-baik saja."
Semua penuturan Sehun membuat tak hanya Yunho namun seluruh tamu terharu bisa merasakan betapa sulitnya hidup yang keduanya jalani.
"Terimakasih hyung… Terimakasih telah menjagaku dan menjadi kuat untukku hampir seumur hidupku. Terimakasih karena terus tertawa dan selalu ada untukku kapanpun aku membutuhkanmu."
"Terimakasih telah berperan sebagai ayah yang bijaksana, ibu yang perhatian, dan kakak yang luar biasa untukku. Aku menyayangimu hyung. Aku sangat menyayangimu." Sehun mengucapkan rasa terimakasih terdalamnya untuk Yunho yang kini sedang memberikan balasan kalimat aku juga menyayangimu pada Sehun.
Terdengar tepukan meriah, merasakan betapa kedua bersaudara itu sangat saling menjaga dan bertahan satu sama lain.
"Dan untuk Jongie hyung-.." terdengar kembali suara Sehun kali ini ditujukan untuk Jaejoong.
"Terimakasih sudah datang ke keluarga rapuh kami. Terimakasih sudah menjadi seseorang yang selalu bersabar dan selalu mencintai Yunho dengan sepenuh hati, dan tentu saja terimakasih untuk calon malaikat yang segera akan lahir ke dunia. Aku dan Kai-..kami berdua berjanji akan menjadi paman tertampan dan terseksi yang akan sangat dan teramat menyayangi dan akan menjaga keponakan kecil kami. Kami janji."
Kali ini suara tawa yang terdengar mengenai penuturan Sehun tentang calon bayi Yunho dan Jaejoong.
"Terimakasih Jongie hyung. Aku menyayangimu."
Terlihat Jaejoong menghapus air mata harunya dan memberikan flying kiss untuk Sehun yang berada di atas podium. Membuat Sehun mengerling ke arahnya, dan tanpa sengaja melihat Luhan yang sedang mengangkat kedua ibu jarinya, menatap bangga pada Sehun yang tersenyum hangat ke arahnya.
"Ah-…aku belum selesai."
Sehun sedikit berteriak membuat para tamu undangan kembali penasaran dengan apa yang akan dikatakan Sehun.
"Aku memiliki kejutan untuk kedua pengantin-…sebenarnya untuk Yunho." Katanya terkekeh mengoreksi kalimatnya sendiri.
"Aku menemukannya hyung."
Luhan yang kembali sedang membagikan champagne menyadari perubahan suara Sehun yang terdengar dingin, membuat entah mengapa jantungnya berdegup kencang dan bertanya-tanya dengan kalimat Sehun.
"Aku menemukan siapa yang bertanggung jawab atas mimpi buruk kita. Seseorang yang membuat kita harus kehilangan kedua orang tua kita secara mengenaskan. Aku menemukannya." Terdengar Suara Sehun bergetar hebat menandakan kalau dirinya sedang menahan rasa marahnya.
"BAWA DIA MASUK!"
Sehun berteriak memerintahkan pada anak buahnya, dan tak lama terlihat dari kejauhan dua orang sedang mencengkram erat lengan seorang wanita yang terlihat pucat tak tak berdaya.
"Tidak-.." Luhan merasa nafasnya berhenti saat mengetahui siapa wanita yang sedang dibawa paksa menuju podium.
"Aku memperkenalkan pada kalian istri dari pembunuh kedua orang tuaku-…Kim Soora."
Yunho seketika berdiri melihat ke arah wanita yang tampak tak berdaya itu, dia kemudian menatap Sehun memperingatkan untuk tidak melakukan sesuatu hal yang mengerikan malam ini.
"Ah-…aku harus melakukan apa padamu nyonya Xi-..Aku ingin sekali membakarmu hidup-hidp seperti saat suami mu melakukannya pada kedua orang tuaku." Geramnya menjambak wanita yang hanya tersenyum lirih menatapnya.
"BAWA DIA KE RUANG BAWAH TANAH!"
"TIDAK-….JANGAN BAWA DIA!"
Perintah berlawanan terdengar dari Luhan yang kini berlari terhuyung menghampiri wanita paruh baya yang jelas-jelas adalah ibu kandungnya.
"Lepaskan dia!"
Luhan menghempas seluruh tangan yang mencengkram erat lengan ibunya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Luhan bertanya ketakutan memastikan ibunya baik-baik saja.
"Luhan apa yang kau lakukan?"
Sehun menghampiri Luhan dan mendesis mencengkram erat lengan Luhan untuk bangun.
"Tidak Sehun-…lepaskan aku!"
Luhan menghempas tangannya dari genggaman Sehun dan merentangkan tangannya melindungi ibunya.
"Aku mohon lepaskan dia. Biar aku saja yang menanggungnya-..hukum aku Sehun"
"LUHAN ADA APA DENGANMU? KENAPA KAU SEPERTI INI?" teriaknya mengguncang bahu Luhan dengan keras
"KARENA DIA IBUKU. IBU KANDUNGKU."
Sehun pun membelalak mendengar jeritan Luhan, dia secara otomatis melepas pegangannya di bahu Luhan dan menatapnya tak percaya.
"Tidak mungkin-…." Gumamnya tertawa pahit
"CEPAT BAWA WANITA ITU!"
"Tidak-…Lepaskan dia!"
"Sehun-…aku mohon dengarkan aku. Aku putra kandung dari pria yang membunuh orang tuamu. Aku darah dagingnya, jadi balaskan semua kemarahanmu padaku. Lepaskan ibuku dia harus menjalani operasi. Dia sekarat Sehun-…aku mohon lepaskan ibuku."
Luhan meraung memohon dan berlutut di kaki Sehun saat semua pengawalnya kembali membawa paksa ibunya.
"AKU BILANG LEPASKAN IBUKU!"
Luhan kalap, dia berlari mengejar ibunya yang entah akan dibawa kemana dan
BUGH!
Dia memukul kencang wajah pengawal Sehun yang tampak marah dan kini memukul telak wajahnya yang langsung seketika terhuyung ke tanah.
Sehun menggeram marah pada pengawal yang berani-beraninya memukul Luhan, namun saat Luhan berteriak ibuku terus menerus. Tapi ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tidak berlari dan menolong Luhan yang sedang dihajar oleh pengawalnya didepan matanya.
"CUKUP! BAWA MEREKA PERGI!"
Yunho yang masih terpukul tak menyangka Luhan mengatakan kebenaran di keadaan seperti ini membuatnya marah dan tak bisa menahan emosinya lebih lama.
"SEHUN-…KAU BILANG KAU PENASARAN SEPERTI APA RUPA BAYI YANG ADA DIDALAM FOTO ITU. AKU BAYI YANG BERADA DI FOTO ITU SEHUN-…AKU ORANGNYA! MAAFKAN IBUKU DAN BIARKAN DIA MENJALANI OPERASINYA, IBUKU SEKARAT SEHUNNA."
Teriakan frustasi Luhan semakin tak terdengar saat para pengawal Sehun membawa dia dan ibunya ke ruang bawah tanah.
..
..
..
Malam yang seharusnya menjadi malam kebahagiaan Yunho pun menjadi malam yang sangat mencekam karena kenyataan yang harus diterimanya malam ini. dia sama sekali tak menyangka kalau ternyata selama ini dia membesarkan anak pembunuh kedua orang tuanya.
Dalam hatinya sungguh ia marah, namun mengingat betapa Luhan sangat menjaga adiknya dan dirinya, membuatnya tak bisa sepenuhnya marah pada Luhan.
Tap…Tap..
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga dan memasuki ruang bawah tanah yang dibuat seperti penjara di rumahnya. Dia kemudian mendengar suara rintihan dan terdengar sekali kalau seseorang sedang dipukuli sementara suara lain sedang menangis meminta agar putranya tak dipukuli lagi.
"CUKUP!"
Yunho mengepalkan tangannya erat dan menatap tak percaya kepada anak buahnya yan sangat berani mengambil tindakan tanpa perintah darinya.
Para pengawal Yunho pun bergegas meninggalkan sel dan membiarkan tubuh Luhan terkulai lemas dengan ibunya yang terus menangisi putranya.
"Aku tidak menyangka kau orang yang selama ini Sehun dan aku cari"
"Di-direktur."
Luhan yang sangat babak belur berusaha menghampiri Yunho dengan sel besi sebagai pembatas mereka.
"Kenapa kau menyembunyikannya begitu lama?" desisnya mengepalkan tangannya erat.
"KENAPA KAU MEMBUAT ADIKKU BEGITU MENCINTAIMU LALU KAU MENGHANCURKANNYA SEPERTI INI"
"Luhan tidak mengetahui apapun direktur."
"DIAM!" katanya membentak wanita yang tampak ingin menjelaskan sesuatu padanya.
"Sehun mengamuk dan terpaksa harus di bius. Dia terlalu frustasi mengetahui kau orang yang seharusnya sangar ia benci bukan sebaliknya."
"Aku akan melepaskanmu dan ibumu. Jadi pergilah sejauh mungkin dari kehidupan adikku dan Jangan pernah kembali lagi." Desisnya memberitahu Luhan yang tampak lebih terpukul karena tak boleh lagi menemui Sehun.
"Antar mereka ke rumah sakit dan pastikan Sehun tidak bisa menemukan mereka."
Yunho memberi perintah, meninggalkan Luhan yang semakin menangis tak bisa membayangkan harus berpisah dengan Sehun secepat ini.
..
..
..
Keesokan paginya Sehun terbangun dari efek obat biusnya dan merasa kepalanya sangat pusing, terakhir yang ia ingat adalah wajah Luhan yang babak belur dan suaranya yang berteriak frustasi.
"Luhan.." gumamnya yang mencoba berdiri namun gagal karena merasa sangat lemas. Dia kemudian kembali berdiri dan berlari terhuyung menuju ruang bawah tanah.
"LUHAN!" teriaknya menuruni ruang bawah tanah namun mengernyit mendapati sel itu kosong dan hanya ada bekas darah yang tersisa disana.
"MEREKA PERGI KEMANA?" Sehun mencengkram lengan penjaganya yang hanya diam tak menjawab.
"Aku menyuruh mereka pergi Sehunna."
Suara Yunho yang juga menuruni tangga membuat Sehun mengalihkan pandangannya pada kakaknya.
"Apa maksudmu?" Sehun yang masih lemas mencoba mendekati kakaknya namun hampir terjatuh kalau saja Yunho tak segera menopangnya.
"Aku memintanya pergi dan tak pernah menunjukkan wajahnya lagi didepanmu. Aku minta maaf tapi ini semua demi kebaikanmu."
"TIDAK…LUHAN TIDAK BOLEH PERGI….AKU YANG AKAN MEMBALASNYA SENDIRI..KENAPA KAU MEMBIARKANNYA PERGI." Sehun mengguncangkan bahu kakaknya berulang kali.
"LUHAN!" Teriaknya berusaha mencari Luhan namun Yunho mencengkramnya erat.
"SEHUN CUKUP! BERHENTI MENCARINYA…DIA BUKAN SESEORANG YANG HARUS KAU CINTAI. LUPAKAN LUHAN DAN MULAI HIDUPMU DARI AWAL!"
Yunho berteriak berusaha mengingatkan Sehun siapa Luhan.
Sehun kemudian terjatuh dan memeluk erat kaki Yunho, menangis penuh kemarahan dan kesedihan yang mendalam.
"Bagaimana mungkin kau melepaskannya hyung. Dia ada didepan mata kita selama ini, dan aku mencintai anak pembunuh kedua orang tuaku. Bagaimana ini hyung." Katanya memeluk kaki Yunho semakin erat.
"Hey Sehunna jangan seperti ini. kau menghancurkan hatiku jika seperti ini." Yunho yang sama terlukanya dengan Sehun berjongkok dan menghapus air mata adiknya yang terlihat sangat terpukul
"BAGAI-…BAGAIMANA BISA AKU MENCINTAI ANAK PEMBUNUH KEDUA ORANG TUAKU HYUNG!...AKU HARUS MEMBALAS LUHAN TAPI BAGAIMANA AKU MEMBALASNYA SEMENTARA AKU SANGAT INGIN MENJAGANYA….ARGHHHHHHHHH!"
"HYUNG TOLONG AKU!"
Sehun menjerit di pelukan Yunho, mencengkram erat punggung Yunho seolah ingin membuat Yunho merasakan apa yang dia rasakan.
"Kau pasti kuat adikku. Kau pasti kuat." Gumam Yunho yang tak tega melihat keadaan Sehun yang hancur untuk kedua kalinya seperti ini. pertama kali dia melihat Sehun begitu menderita adalah saat kematian kedua orang tuanya dan sekarang dia harus kembali melihat adiknya merasakan kepedihan karena harus menerima kenyataan bahwa pria yang dia cintai adalah pria yang seharusnya ia benci.
"LUHAN…."
Dan Yunho tahu benar teriakan Sehun yang begitu memilukan bukanlah sepenuhnya teriakan kemarahan dan kebenciannya untuk Luhan. sebaliknya, Sehun terus memanggil nama Luhan karena saat ini dia sedang merasakan setengah bagian jiwanya telah direnggut secara paksa darinya.
Sementara itu, di suatu tempat terpencil di Seoul, terlihat seorang pemuda yang sedang berdiri memperhatikan tak berkedip peti mati yang berisi jasad ibunya yang akan segera dimakamkan.
Dengan wajah yang masih lebam, Luhan hanya menatap kosong kedepan, kembali harus menerima kenyataan kalau ibunya tak bertahan selama operasi berlangsung, kondisinya menurun membuatnya tak bertahan saat operasi masih berlangsung.
"Sudah selesai nak."
Beberapa petugas penjaga pemakaman memberitahu Luhan yang hanya terdiam, Luhan kemudian memberi selembar uang ucapan terimakasihnya karena setidaknya ada pria yang masih bersedia membantunya untuk memakamkan ibunya secara layak.
Setelah diberi selembar uang pun, para penjaga pemakaman tersebut meninggalkan Luhan berdua dengan makam ibunya.
Dia menghela nafasnya dan berjalan gontai menuju tempat ibunya, memberikan penghormatan terakhir dan berjongkok didepan batu nisan ibunya, meletakkan setangkai bunga. Dia kembali menghela nafasnya mencegah sekuat mungkin agar air matanya tak turun.
"Aku berterimakasih karena kau sudah berjuang sangat hebat melawan penyakitmu." Luhan memulai ucapannya kepada mendiang ibunya.
"Aku juga berterimakasih karena aku putramu. Kau harus tahu kalau aku sama sekali tak menyesalinya." Katanya tersenyum menatap mendiang ibunya.
"Tapi aku tidak berterimakasih akan satu hal padamu." suaranya kini berubah menjadi berat dan bergetar.
"Kau meninggalkan aku sendirian bersamaan saat aku kehilangan Sehun. Aku-…Aku tidak bisa berterimakasih untuk itu."
Air mata itu pun akhirnya menetes, tidak menyalahkan siapapun atas hidupnya. Hanya sangat menyayangkan nasibnya yang begitu buruk. Karena pada saat dia harus kehilangan satu dia akan kehilangan yang lainnya. Itu sudah seperti siklus untuknya.
"Apa kau berfikir aku bisa bertahan tanpa Sehun?" katanya bertanya menghapus air matanya.
Luhan tertawa pedih mengutuk kenapa hatinya begitu sakit "Aku bertaruh aku tidak bisa melakukan apapun tanpanya."
"Haah~ ini bahkan belum sehari tapi aku sudah sangat merindukanmu Sehunna." Luhan mendongak menatap langit, memejamkan matanya membayangkan wajah Sehun yang terakhir kali ia lihat. Bukan wajah kemarahannya tapi wajah saat pria tampannya menatapnya hangat dan penuh cinta.
"Sehunna maafkan aku."
Luhan kembali tertunduk dan menangis dalam diam, sama seperti Sehun-… dia juga tidak mengerti harus mengungkapkan seperti apa rasanya jika sebagian jiwamu direnggut paksa dari hidupmu sendiri.
..
..
..
..
..
..
Tiga tahun kemudian….
..
..
..
..
..
"Kim Jongin-…Oh Sehun-….Kenapa menjaga satu anak kecil saja tidak bisa?!"
Terdengar seorang pria bermata burung hantu melotot memarahi kekasih dan temannya yang kembali lalai menjaga satu-satunya keponakan mereka yang baru bisa berjalan dan sangat lincah.
"Tadi Haowen masih bersama kami, tapi saat mencoba game terbaru ini, dia menghilang lagi." Kekeh Kai yang merasa kekasihnya sangat cerewet.
"CEPAT CARI HAOWEN! KALIAN MAU DIMARAHI JONGIE HYUNG LAGI HAH?!"
Kedua pria yang diteriaki itu pun langsung menghambur keluar mencari keponakan mereka yang pasti berada tak jauh dari toko mainan yang sedang mereka datangi.
"Oppa kau galak sekali." Seorang wanita cantik bernama Seo Hyun menyenggol lengan Kyungsoo yang juga ikut mencari calon keponakannya yang kembali menghilang karena terlalu lincah dan pintar.
"Aku bahkan bisa memanggang mereka kalau aku mau." Katanya membalas asal wanita yang terus bersama mereka sejak pagi tadi.
Sementara Sehun sedikit bingung harus kemana lagi mencari karena biasanya keponakannya tidak akan jauh pergi darinya kecuali ada seseorang yang membuatnya nyaman dan ia sukai.
Karena jika Oh Haowen-…keponakan kecilnya yang berusia tiga tahun itu menyukai orang lain, dia akan mengikuti orang itu sampai dia bosan.
"Haowen-nie kau dimana anak tampan." Gumam Sehun masih kebingungan mencari keberadaan keponakannya sampai langkahnya terhenti karena dia mendengar suara yang sangat familiar dan suara yang mirip dengan seseorang yang sangat ia cintai.
"Nah adik kecil. Kenapa kau mengikutiku terus? Mana ayah dan ibumu?"
Suara itu terdengar bingung tapi juga terdengar sangat gemas karena saat ini keponakannya sedang meminta orang itu untuk menggendongnya.
"ajussi.. hehehee…"
"Aigooo kenapa kau lucu sekali." Pria itu semakin mencubit pipi Haowen dan mengusak gemas rambut bocah tiga tahu didepannya.
Sementara Sehun semakin mendekati asal suara yang terus mengganggu pendengarannya dan semakin melihat jelas bahwa kemungkinan pria yang sedang berjongkok tertawa bersama keponakannya adalah pria yang tiga tahun lalu meninggalkannya begitu saja.
"Luhan bawa anak itu ke pusat informasi. Kita banyak pelanggan hari ini."
"Okay.."
Sehun menghentikan langkahnya saat seorang temannya memanggilnya dan membenarkan dugaannya kalau pria itu adalah Luhan-..Luhannya. "Jadi benar itu kau." Gumamnya tersenyum lirih.
"Baiklah adik tampan…ayo kita cari siapa orang tuamu." Luhan kemudian menggendong Haowen dan
"Aku rasa anak itu milikku, kau tak perlu repot-repot membawanya."
Sama seperti Sehun yang langsung mengenali suara Luhan, pria yang sedang menggendong Haowen dipelukannya itu pun terlihat membeku, tak berani menoleh karena takut itu hanya harapan saja bisa bertemu kembali dengan Sehun-..Sehunnya.
"Samchon.." Haowen tampak melonjak di pelukan Luhan saat melihat Sehun berdiri di belakangnya.
Luhan akhirnya perlahan membalikan badannya, mengerjapkan matanya berkali-kali, merasakan kakinya melemas, jantungnya berdegup kencang karena setelah tiga tahun lamanya dia bisa kembali melihat Sehun. Sehun yang selama ini hanya berada didalam mimpinya.
"Sudah lama tak melihatmu Lu-….Xi Luhan."
Luhan tersenyum pahit saat untuk pertama kalinya Sehun memanggil nama marga yang sama yang selalu dia cap sebagai pembunuh kedua orang tuanya.
Dia hanya membiarkan Sehun mengambil Haowen dari pelukannya, membiarkan tatapan tajam Sehun melihat tak berkedip ke arahnya.
Dia kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Luhan, sampai langkahnya kembali terhenti.
"Ikut aku…. Aku ingin bicara denganmu."
Luhan pun hanya tersenyum lirih menyadari kalau Sehunnya yang dulu sudah tak ada lagi untuknya. Hanya Sehun yang dingin yang kini berada di hadapannya.
Dan disinilah mereka di sebuah kafe lengkap dengan penitipan anak didalamnya. Mereka berdua duduk didekat tempat dimana Haowen bermain dengan anak lainnya.
Tak ada yang berbicara dari mulai memesan minum hingga pesanan mereka datang. Sehun hanya terus memandang Luhan tak berkedip, lebih seperti menatap tajam sengaja membiarkan dirinya memilih perasaan benci atau perasaan rindukah yang lebih ingin menyeruak saat ini.
Dia masih menatap Luhan yang sepertinya terlihat lebih kurus dan lebih banyak diam tak berkata.
"Umh…Jadi apa kabarmu?" Luhan mengangkat wajahnya membuat Sehun sedikit berkedip saat tiba-tiba suara Luhan bertanya padanya.
Sehun tertawa menyeringai menatap meremehkan pada Luhan "Tidak perlu berbasa-basi, aku tahu kau senang membuatku menderita."
"Tidak Sehun. Sungguh." Katanya berusaha meyakinkan Sehun namun hanya keheningan yang kembali menyelimuti.
"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, setelah itu aku yang bertanya." Ujarnya membuat Luhan tampak ragu.
"Aku-..aku ingin tahu kabarmu dulu. Apa kabarmu?"
"Aku tidak baik selama hampir tiga tahun. Pertanyaan selanjutnya."
Luhan merasa mencelos menyadari kalau Sehun hanya menjawab seperlunya.
"Apa kau membenciku?"
"Bisa ya bisa tidak. Pertanyaan selanjutnya."
Luhan kembali tersenyum lirih lalu kembali menanyakan hal yang mengganggunya sejak berita tentang pernikahan Sehun dengan gadis cantik sudah ramai dibicarakan tiga bulan ini.
"Apa-….apa kau akan menikah?" Luhan tertunduk bertanya tak berani menatap Sehun
Sehun pun mengernyit mengutuk dirinya yang tak bisa langsung menjawab pertanyaan yang sudah ia perkirakan akan keluar dari mulut Luhan.
"Ya…Lusa aku akan menikah."
Luhan merasa matanya memanas tak kuat lagi berbicara dengan Sehun, dia mencengkram erat celana kerjanya yang kini basah oleh air matanya.
"Sekarang giliranku. Tatap aku saat aku bertanya."
Luhan pun mengangguk dan menatap Sehun dengan ragu.
"Kabarmu?"
"Sama sepertimu, aku juga tidak baik."
Sehun tertawa mendengarnya "Benarkah? Aku lihat kau sangat bahagia saat ini." katanya menyindir Luhan.
"Tidak-…aku tidak baik-baik saja."
"LALU KENAPA KAU PERGI DAN TAK PERNAH SEKALIPUN KEMBALI?"
Sehun menggebrak mejanya kencang membuat Luhan tersentak kembali bergetar tertunduk dan beberapa pengunjung menatap ke arah mereka.
"Maaf…" Katanya sedikit terisak memberitahu Sehun.
"Apa kau hidup bahagia dengan ibumu tercinta hmm?" katanya kembali mengejek Luhan yang masih terisak pelan.
"Dia sudah meninggal Sehunna. Ibuku tidak berhasil menjalani operasinya, dia meninggal tepat sehari setelah aku pergi dari rumahmu."
Sehun sedikit terdiam mendengar penuturan Luhan dan baru saja ia ingin kembali bertanya namun suara seorang wanita membuatnya terdiam "Oppa ternyata kau disini! Eh? Siapa dia? Mana Haowen?"
"Dia bukan siapa-siapa. Ayo kita pergi."
Didepan mata Luhan, Sehun menggenggam tangan wanita tersebut dan berjalan mengambil Haowen, lalu kemudian kembali berdiri didepan Luhan "Aku harap kau hidup dengan baik. Dan aku juga berharap ini terakhir kalinya kita bertemu."
Kedua hati itu saling berdenyut sakit saat yang satu terus berkata kejam sementara yang satu tak bisa mengungkapkan semua rasa yang mereka rasakan adalah sama. Rasa sakit, rasa rindu dan penyesalan keduanya sama besar.
Luhan menatap punggung Sehun yang semakin menjauh, melihat betapa sempurnanya Sehun yang sedang menggenggam erat tangan wanitanya dan menggendong keponakannya berjalan menjauh. "Kenapa kau tak membunuhku saja Sehunna. Aku lebih memilih berakhir di tanganmu daripada harus dibenci olehmu." Katanya tersenyum mengusap air matanya yang terus-menerus membasahi pipinya.
..
..
..
Semenjak pertemuannya dengan Sehun dua hari yang lalu, Luhan demam tinggi dan tak bisa masuk kerja, dia pikir dengan berada di flatnya bisa membuatnya beristirahat dengan tenang dan tidur dengan nyaman melupakan seluruh ucapan Sehun yang begitu menyakiti hatinya.
Namun harapan hanyalah harapan, karena saat ini Luhan sedang mendengar seluruh tetangganya di flat kecil miliknya sedang mengagung-agungkan pesta pernikahan yang sangat indah yang diselenggarakan oleh keluarga Oh untuk merayakan pernikahan putra bungsunya.
Luhan terus menerus mengeluarkan air mata didalam tidurnya, tidak kuat mendengar pendeta mensahkan pernikahan Sehun dengan wanitanya.
Merasa tak sanggup lagi, dia mengambil jaketnya dan segera berjalan meninggalkan flatnya. Pergi sejauh mungkin ke tempat yang tidak menyiarkan pernikahan Sehun secara langsung.
"eomma! Pengantin wanitanya cantik sekali. Aku ingin menikah seperti eonni cantik itu."
"Ya dan lihat nak. Kau juga harus mendapatkan pria tampan seperti Sehun oppa."
Luhan yang awalnya berniat menaiki bis kembali tak tahan mendengar celotehan ibu dan anak yang sedang menonton live acara pernikahan Sehun di ponsel.
"Haah~"
Dia akhirnya memutuskan berjalan kaki melewati lorong-lorong kecil agar tak mendengar suara sorakan dan desahan iri dari para penonton yang menyaksikan pernikahan Sehun dan Seohyun.
Luhan masih berjalan terhuyung karena kepalanya sangat pusing, sampai ia tak sadar saat ini dirinya sudah berada di pemakaman ibunya. Luhan sendiri sama sekali tak pernah mengunjungi makam ibunya, dia hanya menghadiri pemakaman ibunya sekali dan setelah itu tak pernah datang berkunjung.
Luhan terduduk tertunduk di depan makam ibunya "Akhirnya ini adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa beristirahat dengan tenang. Harusnya kau mengajakku eomonim. Aku sudah menyerah dengan hidupku." racau Luhan menyembunyikan wajahnya di antara nisan ibunya.
Luhan tersenyum merasakan semilir angin menerpa wajahnya yang berkeringat, dia mungkin hampir tak sadarkan diri kalau saja seseorang tak menarik lengannya dan membuat tubuhnya menghangat.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau demam tinggi"
Luhan sangat mengenal suara itu, suara dengan desisan khas yang membuatnya selalu ketakutan setiap saat.
Luhan antara sadar dan tidak sadar melihat seseorang yang kini memakaikan jaket tebal untuknya. Sampai matanya kemudian menangkap sosok wajah yang sangat ia rindukan sedang melihat tajam ke arahnya dan terus menerus memeluknya semakin erat.
Luhan mendongak sekilas untuk memastikan dan tersenyum bergumam
"Sehun-…"
Itu adalah kalimat yang terakhir Luhan ucapkan sebelum dirinya jatuh tak sadarkan diri di pelukan Sehun-..pria yang seharusnya sudah resmi menjadi milik wanita lain yang kini kembali datang untuk memeluknya.
tobecontinued...
sudah selesaikahhh membacanya ? :)
.
karena ini dua chapter dijadikan satu... Restart akan update lebih lama dibanding TDF dan ICY yak :0
.
so...tunggu cerita selanjutnya di next chapter
.
.
see yaaa..happy reading and review :*
