Saia kembali lagi minna, semoga di cerita kali ini banyak yang semakin suka….terima kasih yang telah memberikan saia masukkan…akan saia usahakan membuat cerita kali ini dengan sangat baik agar para pembaca bisa semakin menyukai cerita saia kali ini…maaf jika di chap sebelumnya terlihat jelek….tapi saia tetap membutuhkan dukungan kalian semua agar cerita ini teris berlanjut dan semakin menarik….
So…
Happy Reading X3
Chapter 4: Good Bye
"L-Len bangun" teriak Rin yang menatap Len dengan tatapan khawatir dengan air mata yag keluar turun membasahi tubuh Len yang telah terkapar jatuh di pangkuannya itu. Rin terus mengguncang-guncangkan tubuh Len tetapi Len tidak merespon bahkan bergerak sedikit pun, Rin terus saja menatap tubuh Len yang tertidur di pangkuannya itu dengan perasaan khawatir, takut dan sedih yang telah bercampur menjadi satu yang kini membuat perasaan Rin tidak menentu rasanya.
"Len buka matamu, Len" ucap Rin lirih dengan terus memeluk tubuh Len agar Len terbangun dari tidurnya
Rinto yang sedang terduduk santai di bawah pohon sakura yang cukup dekat letak pohon sakura dimana Rin dan Len berada kembali menatap ke arah Rin berada, raut wajahnya pun berubah terkejut ketika melihat Rin seperti menangis sejadi-jadinya dengan memeluk tubuh Len yang lemah dan tidak bergerak tersebut. Dengan segera Rinto pun segera bangkit kemudian berlari dengan sangat cepat mendekati Rin untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya yang baru saja terjadi tanpa dia sadari.
"Rin ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Len?" tanya Rinto berturut-turut yang merasa takut melihat tubuh Len terkulai lemas di pelukan Rin
"O-Onii-chan Len d-dia tidak mau membuka matanya onii-chan" ucap Rin yang menatap ke arah Rinto dengan mata yang penuh rasa takut dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya tersebut.
Rinto pun hanya memberikan pandangan lembut dengan senyumnya agar Rin bisa sedikit tenang, perlahan Rinto pun mendekati tubuh Rin kemudian memeluk tubuh Rin lebut sambil mengelus pelan kepala Rin dengan lembut.
"Tenang Rin kamu tidak perlu khawatir dengan Len, onii-chan yakin kalau dia baik-baik saja Rin" ucap Rinto lembut di telinga Rin
Dengan tubuh yang bergetar ketakutan Rin pun membalas pelukan Rinto dengan sangat erat sambil menangis dengan keras untuk bisa melepaskan semua perasaan khawatir dan takut yang dia rasakan saat ini.
"Lebih baik sekarang kita bawa Len ke rumah sakit agar dia bisa segera ditangani oleh dokter" ucap Rinto sambil menepuk pundak Rin lembut sambil sesaat melihat ke arah Len, Rin pun mengangguk tanda bahwa dia setuju dengan segera Rin pun mulai mengeluarkan handphone dari dalam tas birunya tersebut dan segera menekan nomor untuk menghubungi sebuah rumah sakit yang sudah sangat terkenal, setelah cukup lama berbincang-bincang dengan pihak rumah sakit Rin pun segera menutup telefonnya kemudian berjalan mendekati Rinto dan Len kembali.
"Bagaimana? sudah menghubungi pihak rumah sakitnya?" tanya Rinto sambil menatap ke arah Rin
"Sudah onii-chan kata pihak rumah sakitnya kita harus menunggu di dekat jalan besar yang kira-kira mobil ambulancenya bisa berhenti onii-chan" ucap Rin sambil mencoba menjelaskan
"Baiklah" ucap Rinto sambil mengangkat tubuh Len sambil berdiri "Dia pria tapi kenapa tubuhnya ringan banget sih?" tambah Rinto sambil menatap Len dengan tatapan kesalnya
"Rin kamu bagian yang membawa tongkatnya ya…." Ucap Rinto sambil melihat ke arah tongkatnya
Rin pun mengangguk sambil mengambil tongkat panjang berwarna merah dan bagian pegangannya berwarna hitam tersebut yang ada di dekatnya itu ke dalam pelukannya. Rin dan Rinto pun berjalan bersama menyusuri hutan hingga menemukan jalan besar tempat dimana mereka pertama kali masuk ke hutan tersebut, hingga tiba mobil ambulance berwarna putih yang datang untuk menjemput Rin, Rinto dan Len untuk dibawa ke rumah sakit tempat ambulance itu datang.
Len pun segera dinaikan ke atas kasur pasien dan segera dibawa ke UGD dikarenakan kondisi Len yang kritis, Rin yang khawatir pun mengikuti Len hingga tiba di depan pintu UGD. Dikarenakan sesuatu hal yang genting Rin pun dilarang masuk ke ruang UGD dan diwajibkan untuk menunggu Len di luar dengan cemas Rin pun duduk di kursi tunggu yang ada di depan pintu UGD sammbil menangis sejadi-jadinya Rinto yang sedari tadi duduk di sebelah Rin kemudian memeluk tubuh mungil Rin dengan erat sambil menatap ke arah pintu UGD dimana lampunya telah berwarna merah dimana menandakan pemeriksaan sedang dilakukan oleh pihak rumah sakit terhadap tubuh Len yang baru saja dibawa ke dalam ruang UGD tersebut dengan tatapan cemas.
"Kau pasti bisa melewati ini semua Len" gumam Rinto pelan sambil kembali menatap Rin yang tubuhnya terus bergetar ketakutan dengan menatap sedih ke arah tubuh Rin
Waktu pun cepat berlalu, selama 5 jam sudah Rin serta Rinto menunggu kabar Len diluar ruang UGD, terlihat tubuh kecil Rin telah terlelap dikarenakan kelelahan yang sudah dia rasakan selama satu hari ini, Rinto pun menatap lembut ke arah Rin yang sedang tertidur kemudian sambil melepaskan jaket yang dia kenakan Rinto pun meletakan jaketnya untuk menutupi tubuh Rin yang terlelap agar Rin tidak merasakan dingin sambil mengelus pelan rambut hingga ke bagian pipinya dengan tersenyum.
"Jangan khawatir Rin, onii-chan yakin kalau Len pasti bisa bertahan" gumam Rinto pelan
Tidak berselang lama dokter yang menangani Len pun keluar diikuti dengan sekelompok perawat yang mendorong kasur dorong yang terdapat Len sedang tertidur di atas menuju kamar rawat yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk Len, Rinto dengan cemas mendekati dokter yang melihat ke arah tubuh Len dibawa.
"Dokter, bagaimana keadaan temanku?" tanya Rinto sambil memasang wajah yang cemas
"Dia baik-baik saja" ucap dokter tenang dan sesaat wajahnya kembali berubah menjadi serius
"Tetapi penyakit yang dia derita semakin lama semakin membuat keadaan tubuh teman anda semakin memburuk" ucap dokter yang kemudian menepuk pundak Rinto pelan "Tapi anda tidak perlu khawatir, karena untuk saat ini penyakit itu tidak akan membuat teman anda kehilangan nyawa…karena itu untuk sementara ini kita tunggu dia sadar dari komanya" ucap dokter yang kemudian tersenyum dan berjalan melewati Rinto yang masih tercengang mendengar pernyataan dokter tersebut mengenai keadaan Len yang sebenarnya.
"Bagaimana caranya aku mengatakan tentang keadaan Len yang sesungguhnya kepada Rin, aku tidak mau dia menjadi sedih" gumam Rinto pelan kemudian berbalik melihat ke arah Rin yang masih tertidur lelap dengan tenang sambil berjalan mendekatinya.
"Hm…." Rin pun mulai membuka matanya secara perlahan dengan tatapan yang masih kelelahan dan mengantuk tersebut menatap ke arah Rinto, dimana Rinto berusaha menahan tawanya karena melihat wajah polos Rin yang baru saja terbangun dari tidur cantiknya itu.
"Ohayou Rin" ucap Rinto sambil mencoba tersenyum dengan tatapan meledek Rin
"Ohayou onii-chan ….bukan itu maksudku, bagaimana keadaan Len?" tanya Rin langsung
"Dia tidak kenapa-napa kok, hanya butuh sedikit istirahat saja" ucap Rinto sambil menatap Rin lembut
"Syukurlah, nee onii-chan tadi onii-chan berusaha menyindirku ya…" ucap Rin sambil menatap sinis Rinto dengan nada kesal ke arah Rinto
"T-Tidak kok….onii-chan tidak menyindir kamu kok" ucap Rinto sambil menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan sinis Rin sambil berkeringat dingin.
"Ya sudahlah" ucap Rin acuh "nee? Onii-chan ruangan Len ada dimana?" tanya Rin sambil melihat ke sekitarnya dengan tatapan cemas
"onii-chan sendiri juga tidak tau" ucap Rinto sambil menggelengkan kepalanya
Rin pun berjalan meninggalkan Rinto begitu saja sambil berkeliling rumah sakit untuk mencari kamar Len, setelah cukup lama mencari kamar rawat Len akhirnya Rin pun menemukan ruangan tempat rawat Len dimana Len terbaring dengan alat infus terpasang di tangannya serta alat penunjuk detak jantung serta dibagian hidungnya terpasang alat bantu pernafasan untuk membantu pernafasan Len agar Len tidak kesulitan bernafas. Tanpa pikir panjang Rin pun segera masuk ke ruangan Len dan segera duduk di sebelah Len untuk menemani Len sembari Len tertidur di kamarnya.
Rinto menatap Rin dari kejauhan dengan tatapan sedih "Rin"
Setiap harinya Rin datang menghampiri setiap harinya, dia menggantikan bunga yang ada di dalam potnya lalu memberikan buah dan duduk membacakan Len buku cerita serta mendengarkan Len lagu dan menceritakan kesehariannya ketika bersekolah. Hingga tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah 2 bulan lebih Rin tidak melihat tanda-tanda bahwa Len akan terbangun dari tidurnya.
"Len bangunlah aku ingin melihat mata indahmu itu Len" ucap Rin yang memandang Len terbaring dengan menggenggam tangan Len dengan sangat kuat hingga membuat pandangan Rin tertutupi oleh air matanya yang kini telah turun deras membasahi pipi Rin.
Rin pun menangis sejadi-jadinya hingga tangan yang dia genggam dengan erat itu kini bergerak dan mulai menggenggam tangan Rin juga dengan erat, kelopak mata yang tertutup itu mencoba untuk membuka matanya kembali dengan perlahan hingga mata blue azure yang ada di balik kelopak itu kini terlihat meskipun cahaya itu kini tidak bisa dilihat kembali oleh mata tersebut.
"Aku dimana?" gumam Len dengan lemah, kepala Len pun mencoba untuk melihat ruangan disekitarnya meskipun semuanya terlihat sama yaitu hitam, Len pun hanya menghela nafasnya pelan dan ketika dia menyadari ada yang terpasang dibagian hidungnya dia pun mencoba menyentuhnya dengan tangan lemahnya untuk merasakan benda apa yang terpasang diwajahnya itu. Setelah memastikan dia pun menoleh ke arah seseorang yang mencoba menahan air matanya, bisa terlihat bahwa dia terlihat terkejut dan tidak mempercayai orang yang selama ini dia tunggu telah membuka matanya kembali dengan mata yang berkaca-kaca karena senang dia pun segera memeluk tubuh mungil Len dengan sangat kuat.
"Len yokatta, kamu berhasil membuka matamu kembali" ucap Rin sambil menangis di pelukan Len, Len pun mengusap lembut rambut Rin sambil tersenyum
"Tadaima Rin" ucap Len pelan, Rin pun mengangguk dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata lagi dia pun hanya memeluk tubuh Len sambil menangis hingga perasaannya pun kembali menjadi tenang dan mulai melepaskan pelukan tersebut kemudian kembali menatap wajah Len yang sudah lama tidak dia lihat tatapannya tersebut.
"Len bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit? Apakah aku perlu memanggilkanmu dokter? Apakah kamu butuhkan sesuatu untuk aku ambilkan? Ap-" tanya Rin bertubi-tubi yang langsung Len sela dengan menggelengkan kepalanya
"Rin, bisakah kamu tinggalkan aku sendirian disini" ucap Len, Rin pun mengangguk kemudian berjalan meninggalkan Len yang sedang terbaring di kamar tersebut sendirian sambil berjalan pulang kembali ke rumahnya.
Tidak lama setelah Rin keluar dari rumah sakit, ada seorang pria muda yang berjalan memasuki kamar rawat milik Len dengan setelan jas putih yang panjang tersebut.
"Bagaimana keadaanmu Len?" tanya pria muda tersebut yang sebenarnya adalah dokter yang dulu merawat Len waktu kecil
"Tidak baik sama sekali dokter" jawab Len dengan ketus sambil memalingkan pandangannya ke arah jendela
"Seperti biasa kamu selalu saja ketus denganku Len" ucap dokter tersebut
"Tidak usah berbasa-basi lagi langsung saja katakan apa tujuan dokter kesini?" jawab Len yang kembali menatap ke arah dokter yang sudah berjalan mendekati kasur Len dengan pandangan serius ditambah kesal Len pun segera menanyakan tujuan dokter tersebut datang tanpa ada kata-kata yang tidak diperlukan.
"Santai saja, aku kesini cuma mau mengatakan bahwa kekasihmu itu selalu menjagamu ketika kamu koma dan ditambah lagi kalau kamu tidak segera dirawat keadaanmu akan lebih buruk lagi dibandingkan ini Len" ucap dokter itu yang kemudian merubah wajah santainya menjadi serius
"Sudah berapa kali aku katakan kalau aku tidak mau menjalani perawatan itu, lagipula kalau aku menjalani perawatan tersebut tidak akan ada jaminan kalau aku akan sembuh dari penyakitku kan" ucap Len sambil membentak dokter yang berdiri di sebelahnya itu
"Itu sih terserahmu saja" ucap dokter sambil berjalan mendekati jendela yang ada di kanan Len
"Tapi kemungkinan besar umurmu tidak akan bisa bertahan lama Len, apakah kamu benar-benar menginginkan hal tersebut? Apakah kamu tidak merasa kasihan dengan gadis yang selalu menunggu disampingmu itu? Karena kelihatan sekali kalau gadis itu sangat menyukaimu dan juga bisa terlihat kalau dia tidak bisa hidup tanpamu Len" ucap dokter sambil melihat keluar jendela dengan santainya
Len pun langsung terdiam meskipun dia kesal dengan jawaban dokter tersebut tapi dokter tersebut benar kalau Len tidak ingin melihat Rin sedih karena mengetahui kondisi Len yang sebenarnya.
"Tapi tetap saja aku tidak mau menjalani perawatan tersebut dan kalau harus memilih aku akan meninggalkan Rin agar dia bisa bahagia dengan pria lain tanpa harus mengkhawatirkan diriku lagi dan kalau perlu akan aku buat dia membenciku apapun caranya" ucap Len dengan tatapan sendu dia melihat kebawah kasurnya. Dokter itu pun melihat ke arah Len dengan tatapan sedih ketika mendengar pernyataan Len tersebut.
"Baiklah kalau itu keinginanmu dan juga kalau kamu mau pergi lebih baik sekarang sebelum gadis yang kamu sukai itu mengetahuinya" ucap dokter tersebut sambil menatap ke arah pintu yang ternyata ada Rin yang sedari tadi mendengarkan perbincangan Len dengan dokter tersebut dari awal hingga akhir. Len pun terkejut ketika mendengar suara tangisan yang sangat dia kenali tersebut, dengan segera Len pun menghampiri asal suara tersebut meski dengan kaki yang sudah mulai kaku akibat lamanya dia tertidur di kasur, dan benar saja ketika dia mendekati asal suara tersebut ada Rin yang sedang menangis sejadi-jadinya.
"R-Rin" ucap Len yang terlihat terkejut dengan kehadiran Rin
"Jahat…..kamu JAHAT LEN!" teriak Rin yang sontak langsung berlari begitu saja meninggalkan Len yang masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi dengan cepat tersebut. Sedangkan dokter yang masih di dalam kamar Len hanya bisa tersenyum kemudian kembali menatap ke arah jendela dimana terlihat Rin sedang berlari dengan sangat cepat meninggalkan rumah sakit serta Len di belakang.
"Ini seperti yang kamu inginkan bukan Len" gumam pelan dokter tersebut dimana Len sekarang sedang menangis sejadi-jadinya karena pada saat ini Rin yang dia sukai sudah mulai membenci Len sendiri dikarenakan kejadian yang baru saja terjadi dengan sangat singkat.
Esoknya, dengan menggunakan kursi roda Len pun berangkat menaiki pesawat dengan tujuan meninggalkan Jepang untuk pergi menuju Perancis negara yang selama ini di impikan oleh ayah, ibu serta dirinya itu, sebelum memasuki pintu pesawat Len pun kembali menatap ke belakangnya dengan tatapan sedih dan dengan berat hati dia pun kembali berpaling dan mulai memasuki pesawat tersebut. Sedangkan di luar pintu masuk bandara terlihat kalau Rin baru saja turun dari taksi dia pun segera berlari meninggalkan taksi tersebut dengan wajah yang terlihat bingung, takut serta sedih semuanya bercampur menjadi satu.
Flash back on
Rin terpuruk dan terus saja mengurung diri di dalam kamarnya seharian bahkan di dalam keluarganya sendiri tidak ada yang boleh masuk satupun.
"Rin makan malam sudah siap" ketuk ibunya dari luar tetapi tetap saja tidak ada jawaban Rin dari dalam dengan wajah khawatir ibunya pun kembali mengetuk pintu kamar Rin kembali
"Kalau begitu ibu tunggu kamu di bawah ya Rin" ucap ibunya dan terlihat suara tersebut pun mulai menjauhi kamar Rin yang gelap begitu saja sedangkan Rin hanya terdiam sambil memeluk bantal jeruknya dengan erat.
Handphone Rin pun terus berbunyi hingga akhirnya Rin pun melihat isi ponselnya dimana terdapat banyak sekali pesan masuk bahkan sebuah telefon yang tidak terjawab sama sekali, Rin pun membaca salah satu pesan tersebut.
"Rin, aku tahu kamu kesal sekali dengan kejadian tadi siang tapi tolong ijinkan aku menjelaskannya kepadamu meski cuma sebentar….karena itu tolong angkat telefonku hanya untuk satu kali ini saja, setelah itu kamu boleh membenciku seumur hidupmu Rin…(Dari: Len)"
Tidak lama Rin membaca pesan tersebut ada sebuah panggilan masuk sontak saja Rin langsung mengangkat telefon tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan tatapan kesal yang mengatakan ingin semua ini segera berakhir.
"untunglah kamu mau mengangkatnya Rin, baiklah langsung saja aku tau kalau kamu tidak suka menerima telefonku saat ini karena itu tolong dengarkan perkataanku Rin" ucap Len di seberang telefon sana dan juga terdengar kalau Len sedang menarik nafasnya lalu kemudian menghembuskannya kembali secara perlahan.
"Rin aku mau mengatakan sebenarnya selama ini aku memang mengidap penyakit langka dan penyakit tersebut membuat keadaan tubuhku terus menurun selang betambahnya waktu….dan kamu juga pasti sudah mendengarkan apa kata dokter tersebut…sebenarnya aku memang tidak mau menjalani pengobatan tersebut karena aku ingin menjalani sisa hidupku sendiri dengan tenang daripada harus tidur di rumah sakit seumur hidupku karena itu aku menolaknya…ditambah lagi aku tidak mau kamu tahu keadaanku yang sebenarnya karena aku tidak mau melihatmu hanya terfokus saja pada diriku" ucap Len yang tersendat sambil terdengar bahwa Len terisak disana, sedangkan Rin yang mendengar ucapan tersebut berusaha menahan air matanya
"Aku ingin hidupmu bahagia Rin dengan orang yang lebih baik dari aku….kalau kamu mau membenciku seumur hidupmu juga tidak masalah, kamu juga tidak perlu memaafkan aku atas semua kesalahanku….aku hanya mau kamu kembali kekehidupanmu yang normal seperti biasanya….tenang saja setelah ini aku tidak akan mengganggu kamu seumur hidupmu…karena aku sudah menduga kalau hari ini akan datang, karena itu jangan cari aku, jangan pikirkan aku dan tolonglah benci aku Rin" ucap Len yang menarik nafasnya kembali
Rin yang mendengar kata-kata Len tidak bisa menahan air matanya lagi
"karena itu….tolong lupakanlah aku, aku juga mau mengucapkan terima kasih untuk segala yang telah terjadi hingga detik ini….a-aku…aku mencintaimu Rin….sayonara Rin….semoga kehidupanmu bisa lebih bahagia tanpa adanya diriku Rin" ucap Len ketika Rin berusaha menjawab ucapan Len yang segera sambungan telefon tersebut langsung diputus oleh Len dan kemudian Rin pun menangis sejadi-jadinya sedangkan Len disana hanya menatap bulan dengan mata yang sudah penuh air mata dengan sebuah tangisan bisu sambil berusaha memberikan senyum.
Flash back off
Rin pun terus berlari menyusuri bandara hingga memasuki pintu yang akan menuju pesawat disana terdapat dua penjaga dengan tubuh kekar mereka mencegah Rin agar Rin tidak bisa memasuki pintu masuk tersebut dikarenakan Rin tidak memiliki tiket untuk masuk ke pintu pesawat tersebut. Dengan mata yang telah berkaca-kaca ketika mengetahui pesawat dimana dokter yang mengurus Len memberitahukan pesawat yang akan digunakan Len tersebut pergi meninggalkan Rin. Rin pun segera jatuh terduduk dan mulai menangis sekeras-kerasnya dengan menatap ke langit-langit bandara dimana keamanan yang mencegat Rin terlihat kebingungan serta kewalahan melihat tingkah Rin.
"JANGAN PERGI…LEN!" teriak Rin sambil menangis sekeras-kerasnya
End
Gimana minna…gaje ya? Terima kasih bagi yang sudah mau mereview cerita saia kemarin, semoga kalian mau terus mendukung cerita ini hingga tamat ya…..dan maafkan saia atas keterlambatan updatenya dikarenakan ada banyak hal yang mengganggu ceritanya, tapi tenang saja untuk kedepannya akan tetap berlanjut dengan cepat kok, karena itu saia butuhkan dukungan kalian semua.
SO…
RnR PPPPLLLLEEEAAASSSEEEE XD
