Previous…
Luhan masih berjalan terhuyung karena kepalanya sangat pusing, sampai ia tak sadar saat ini dirinya sudah berada di pemakaman ibunya. Luhan sendiri sama sekali tak pernah mengunjungi makam ibunya, dia hanya menghadiri pemakaman ibunya sekali dan setelah itu tak pernah datang berkunjung.
Luhan terduduk tertunduk di depan makam ibunya "Akhirnya ini adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa beristirahat dengan tenang. Harusnya kau mengajakku eomonim. Aku sudah menyerah dengan hidupku." racau Luhan menyembunyikan wajahnya di antara nisan ibunya.
Luhan tersenyum merasakan semilir angin menerpa wajahnya yang berkeringat, dia mungkin hampir tak sadarkan diri kalau saja seseorang tak menarik lengannya dan membuat tubuhnya menghangat.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau demam tinggi"
Luhan sangat mengenal suara itu, suara dengan desisan khas yang membuatnya selalu ketakutan setiap saat.
Luhan antara sadar dan tidak sadar melihat seseorang yang kini memakaikan jaket tebal untuknya. Sampai matanya kemudian menangkap sosok wajah yang sangat ia rindukan sedang melihat tajam ke arahnya dan terus menerus memeluknya semakin erat.
Luhan mendongak sekilas untuk memastikan dan tersenyum bergumam
"Sehun-…"
Itu adalah kalimat yang terakhir Luhan ucapkan sebelum dirinya jatuh tak sadarkan diri di pelukan Sehun-..pria yang seharusnya sudah resmi menjadi milik wanita lain yang kini kembali datang untuk memeluknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
Tik..tok…tik..tok..
Terdengar bunyi detik jam berlalu di sebuah kamar rawat di rumah sakit. Membuat seseorang yang sedang tertidur di kamar rawat tersebut perlahan membuka matanya, mengerjapkan matanya berkali-kali dan bertanya dimana dirinya dan kenapa dirinya bisa ada di tempat yang ia tebak rumah sakit.
Luhan sedikit bersender di kepala ranjang tempat tidurnya, memijat kepalanya yang masih terasa berputar dan berusaha kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Dia semakin mengernyit karena terakhir kali yang dia ingat adalah dirinya berada di makam ibunya dan kemudian dia pingsan di pelukan-…. Sehun.
"Sehun..?"
"Anda sudah bangun?"
Terdengar suara seseorang yang Luhan tebak perawat menghampiri dirinya
"Ya…umhh-..apa aku boleh bertanya?"
"Silahkan tuan Xi."
"Siapa yang membawaku kemari? Apa dia pria tinggi seumuran denganku dengan wajah dan rahang yang tajam?" katanya bertanya berharap pada perawat yang sedang melepas infusnya.
"Saya rasa bukan. Anda dibawa kesini oleh seorang pria tua yang menemukan anda pingsan di sekitar pemakaman."
Luhan merasa matanya kembali memanas saat perawat tersebut seperti membuyarkan harapanya kalau yang menolongnya adalah Sehun.
"Apa kau yakin?" katanya bertanya lirih.
"Ya tentu saja. Pria tua itu baru saja pergi."
Luhan kembali tersenyum pahit dan kembali menyender lemas ke ranjangnya "Aku akan mencari pria tua itu dan berterimakasih padanya." Gumamnya melihat ke luar jendela dan merasa hidupnya berakhir membayangkan bahwa saat ini Sehun mungkin sudah resmi menjadi suami wanita cantik yang ia temui beberapa hari yang lalu di kafe.
"Apakah aku sudah boleh pulang?" Luhan kembali bertanya pada perawat yang mengurusnya.
"Anda sudah boleh pulang. Saya akan meletakkan resep obat yang harus anda tebus, jadi silahkan menunggu sebentar."
"Hmm baiklah.."
Luhan kembali memejamkan matanya mengambil kesempatan untuk beristirahat di ruangan yang sangat nyaman di kamar rumah sakit yang ia tempati saat ini.
..
..
..
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun Luhan masih terlihat tak bergeming dari tempat tidur di flat kecilnya. Luhan belum memakan makanan apapun setelah pulang dari rumah sakit, dia mengabaikan obat yang ia tebus di rumah sakit. Awalnya dia merasa bingung karena pihak rumah sakit mengatakan kalau seluruh biaya administrasi dan obatnya sudah dibayarkan oleh seseorang. Dia kemudian kembali berharap kalau yang melakukannya adalah Sehun.
Namun di perjalanan pulang ke flat nya Luhan mendengar beberapa wanita yang masih membicarakan pernikahan yang terjadi kemarin. Mereka mengatakan kalau tidak menyangka pesta pernikahan itu berubah sangat mengharukan, membuatnya tersenyum pahit karena harus menerima kenyataan bahwa Sehun yang datang memeluknya di pemakaman hanya khayalannya saja.
Tok…Tok..
Luhan mengabaikan suara ketukan pintu dan kembali mengubah posisi tidurnya.
Tok..Tok..
Luhan menghela nafasnya dan segera membuang selimut yang sedari tadi menutupi tubuh dan wajahnya
"Apa dia tak bisa menagih uang sewa di pagi hari." Ujarnya berjalan menuju pintu dan
Cklek..!
"Ah ternyata benar ini tempatmu. Biarkan aku masuk."
Luhan masih menatap tak berkedip siapa yang saat ini berdiri didepannya dan kini sudah menyeruak masuk kedalam flat nya.
"Aku hampir mati kedinginan diluar sana. Apa kau punya ganti baju yang cocok untukku?"
Luhan membalikan badannya dan menatap tak berkedip pria yang kini sedang mencari-cari sesuatu di lemari pakaiannya.
"Ayolah Luhan! Aku kedinginan."
Luhan pun tampak terkesiap dan menyadari kalau Sehun-.. pria yang entah tahu darimana dirinya tinggal kini berada di flatnya dengan memakai jas dan pakaian yang ia tebak adalah pakaian pernikahannya kemarin.
"ah-i-iya. Tunggu sebentar." Luhan pun berjalan ke lemari pakaiannya dan menemukan jaket yang sepertinya pas untuk Sehun.
"Ini..pakai ini."
Luhan menyerahkan jaketnya dan tanpa banyak berkata Sehun melepas jas dan kemejanya didepan Luhan, membuat Luhan sedikit memalingkan wajahnya merasa tak sopan jika terus melihat ke arah Sehun.
"Begini lebih baik-…Sepertinya aku mengenal jaket ini."
Luhan sedikit tersenyum membenarkan gumaman Sehun, jelas saja jaket itu muat di tubuhnya, karena memang jaket itu milik Sehun.
Setelahnya tak ada yang bersuara, keduanya saling menatap berlawanan tak ada yang benar-benar menatap dan keduanya mengutuk kecanggungan yang sangat terasa di antara mereka saat ini.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Luhan sedikit mengernyit dengan pertanyaan Sehun, membuatnya mendongak dan menatap Sehun yang sedang duduk di kursi usang miliknya "Darimana kau tahu aku sedang sakit?"
Terdengar suara tawa Sehun yang tertawa terdengar seperti mengejek "Kau pingsan di pemakaman dan ya-..tentu saja aku tahu kau sakit. Aku yang membawamu ke rumah sakit" Katanya memberitahu Luhan yang rona wajahnya tiba-tiba berubah.
"Jadi itu bukan khayalanku. Itu benar-benar kau."
Luhan kembali menunduk tersenyum simpul dan bergumam sangat pelan.
"Tapi bukankah kau sedang melangsungkan upacara pernikahan? Bagaimana bisa kau datang?"
"Aku memang berada di acara pernikahanku."
Luhan tampak kembali memucat dan merasa sangat membenci dirinya sendiri saat ini.
"Sebagai tamu."
Luhan kembali memandang Sehun dan bertanya-tanya maksud Sehun yang mengatakan kalau dirinya hanya tamu di acara pernikahannya sendiri.
"Apa maksudmu?" katanya bertanya pada Sehun.
"Kau tahu harusnya aku membencimu karena dua hal. Pertama karena kau adalah anak dari pria yang membunuh kedua orang tuaku. Kedua karena kau meninggalkanku begitu saja dan tak pernah kembali. Aku harusnya tidak mempedulikanmu dan hanya membiarkanmu menderita seumur hidupmu." Katanya berkata sangat kasar pada Luhan yang hanya kembali menundukan kepalanya
"Tapi aku tidak bisa. Entah kenapa aku lebih membenci diriku sendiri daripada aku membencimu." Katanya terkekeh menatap Luhan.
"Padahal Seohyun adalah gadis cantik yang sangat baik, pintar dan bertalenta. Dia juga sangat mencintai kekasihnya dan tak pernah sedikitpun melarikan diri dan menyerah pada pria nya."
Luhan hanya diam mendengar ucapan Sehun yang sepenuhnya menyindirnya.
"Aku memiliki kebiasaan buruk sejak berhubungan denganmu. Kau mau tahu itu apa?-…umh..bagaimana ya mengatakannya. Aku selalu mengkhawtirkanmu secara berlebihan. Entah aku menyesal atau tidak mengenalmu tapi setelah berpisah denganmu aku merasa jauh lebih tenang karena tidak ada yang perlu aku khawatirkan secara berlebihan."
"Yunho sudah sangat bahagia saat ini, aku mungkin juga sudah berbahagia dengan Seo Hyun jika saja kita tidak bertemu tiga hari yang lalu. Kau merusak kebahagiaanku untuk kedua kalinya Lu." Katanya tertawa sangat jahat pada Luhan yang kini hanya menunduk dengan hati yang merasa seperti ditusuk mendengar setiap penuturan Sehun.
"Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa pertemuan denganmu dua hari yang lalu bukanlah sesuatu yang penting. Tapi semakin aku menganggapnya tak penting bayang wajahmu semakin terlihat jelas di benakku, membuatku sangat muak dan akhirnya meminta seseorang untuk mengikutimu. Orang suruhanku yang memberitahuku keberadaanmu. Aku harusnya tetap berada di pesta pernikahanku. Tapi saat dia memberitahuku kau terlihat pucat dan berjalan tanpa arah, ada sesuatu dalam diriku yang tak bisa membiarkan itu terjadi, dan satu jam sebelum upacara dimulai, aku meninggalkan pesta pernikahanku den dengan bodohnya mengikutimu dari halte sampai ke makam wanita itu."
Wanita itu yang dimaksud Sehun adalah ibunya, membuat Luhan tersenyum pahit menerima satu kenyataan bahwa pria yang berada didepannya saat ini tidak akan pernah bisa memaafkan semua kesalahannya dan kedua orang tuanya.
"Seo Hyun menikahi kekasihnya di acara pernikahanku sendiri. Sementara aku?-..Aku harus melarikan diri karena saat ini Yunho masih sangat marah padaku."
"Dan itu semua karena kau." Katanya kembali menghardik Luhan membuat Luhan semakin tak bersuara dan tenggelam dimakan rasa bersalahnya.
"Aku tidak mengerti kenapa aku masih mengkhawtirkan putra dari pria yang membunuh kedua orang tuaku. Harusnya aku membawamu pergi dan menyiksamu sampai kau merasakan sakit yang sama denganku. Harusnya aku menyuruh seseorang untuk membunuhmu, bukan berada disini dan berbicara panjang lebar denganmu. Aku sebenarnya muak melihat wajahmu yang selalu terlihat tak berdaya."
Tak ada yang berbicara lagi setelahnya, hanya sesekali terdengar suara berat Luhan mengambil nafas dan sangat terlihat kalau saat ini dirinya terisak dalam diam dan hanya menikmati semua cacian Sehun kepada dirinya.
Sehun sendiri merasa sakit dengan setiap ucapan kasar yang dia lontarkan untuk pria didepannya yang terlihat kurus dan sangat pucat. Tapi dia berkali-kali meyakinkan dirinya untuk tidak kembali jatuh pada Luhan dan ingin memperjelas maksud kedatangannya malam ini ke tempat Luhan.
Sehun menghela kasar nafasnya dan berjalan mendekati Luhan, dia kemudian berjongkok dan menarik dagu Luhan, memaksa pria yang mungkin sampai saat ini masih dia cintai untuk menatapnya.
"Aku tahu aku hanya masa lalu untukmu. Maaf untuk pertemuan tak terduga yang membuat kita harus kembali teringat pada hal yang pernah kita lalui bersama."
"Aku ingin membuatnya benar hari ini." katanya sedikit mengusap air mata Luhan dan menatapnya dalam, menahan rasa sakit hati yang saat ini juga ia rasakan.
"Aku dan kau hanya masa lalu. Hubungan kita adalah kesalahan, dan kedatanganku hari ini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal padamu dengan caraku."
"Jadi Jagalah dirimu dengan baik. Hiduplah berbahagia dan-.."
Sehun menghela nafasnya sementara Luhan terus menggelengkan kepalanya seolah meminta Sehun untuk menghentikan ucapan perpisahannya. Dia lebih memilih Sehun mencacinya daripada harus menerima kenyataan kalau saat ini Sehun benar-benar akan mengakhiri hubungan mereka.
"Dan selamat tinggal Luhan."
Sehun sedikit mengusak rambut Luhan dan kemudian berdiri cepat meninggalkan Luhan yang seluruh suaranya tercekat tak bisa mengatakan sesuatu untuk memohon pada Sehun.
"Kembali Sehun.. Aku mohon kembali..Kembali." Luhan semakin mencengkram erat tangannya, memejamkan matanya erat dan bergumam berkali kali berharap Sehun kembali masuk ke flatnya dan mengatakan kalau dia sudah melupakan kesalahan fatal Luhan yang meninggalkannya begitu saja.
"Kembali..kembali.."
"KEMBALI!"
Luhan menjerit histeris menjambak kencang rambutnya, dia semakin terisak mengutuk kehidupan yang bahkan juga merenggut cintanya darinya, dan pengharapan akan kembalinya sosok Sehun seperti mustahil untuknya, karena Sehun benar-benar telah mengakhiri segalanya hari ini.
..
..
..
Semua tidak berjalan baik untuk kehidupan Sehun maupun Luhan, semenjak hari perpisahan mereka sebulan yang lalu. Semuanya juga mengubah kepribadian mereka tanpa mereka sadari, dan perubahan terlihat sangat jelas pada Sehun yang belakangan ini terlihat seperti seseorang yang sedang berduka lalu tiba-tiba berteriak, bahkan pernah saat Yunho dan Jaejoong menitipkan Haowen padanya, Sehun tanpa sengaja berteriak membuat Haowen menangis histeris dan tak mau bersama Sehun untuk beberapa hari. Beruntung Kai dan Kyungsoo berhasil membuat keponakan mereka tenang dan tetap merahasiakan kejadian Sehun membentak Haowen dari kedua orang tuanya.
"Apa Sehun sudah datang?'
"Wakil direktur sudah berada di ruangannya."
Sekertaris Han merupakan sekertaris Yunho yang kini merangkap sebagai asisten Sehun bertanya tentang keberadaan adiknya yang sudah terlihat sangat tidak bertanggung jawab pada pekerjaanya akhir-akhir ini.
"Apa dia menghadiri rapat di Busan minggu lalu?"
Yunho yang memang baru kembali dari Jepang langsung bertanya mengenai kesibukan Sehun tanpa pengawasan dirinya selama dia pergi. Merasa curiga karena Sekertaris Han tak menjawab membuat Yunho menaikkan kedua alisnya dan kembali bertanya pada sekertaris Han
"Dia tidak menghadirinya?"
Sekertaris Han mengangguk perlahan, membuat Yunho menghela kasar nafasnya "Kenapa dia semakin menjadi." Gumamnya yang merasa kalau ada sesuatu yang membuat adiknya tak bersemangat seperti sebulan belakangan ini.
"Aku ingin menemuinya."
"Sebelum anda pergi saya ingin memberitahukan anda sesuatu."
Yunho yang sudah bersiap menemui adiknya tampak mengernyit menebak "Ada apa?"
"Seseorang meminta saya untuk menyampaikan langsung hal ini pada anda."
"Menyampaikan apa?" tanyanya tak mengerti.
"Manager strategi dan pemasaran yang juga adalah Paman anda Kim Hansung, dia berencana melakukan sesuatu yang sepertinya akan merugikan perusahaan ayah anda melalui wakil direktur."
Yunho sempat membelalak lalu kemudian menatap tak suka pada Sekertarisnya. "Jaga bicaramu." Katanya mendesis marah saat sekertaris kepercayaannya membicarakan adik kandung ibunya yang merupakan paman kandung Yunho dan Sehun.
"Maaf jika saya lancang, tapi saya memiliki beberapa bukti yang menguatkan yang sudah dipelajari oleh seseorang. Sebaiknya anda melihat terlebih dulu direktur."
Yunho awalnya ingin kembali menyanggah, namun Manager keuangan di perusahaan ayahnya kerap kali mengatakan kalau banyak dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang diminta oleh pamannya yang mengatasnamakan dirinya atau Sehun, membuatnya merasa tak salah harus mendengarkan penjelasan sekertarisnya terlebih dulu.
"Tunjukan."
Sekertaris Han berjalan ke pintu ruangan Yunho dan menutup pintunya lalu kemudian berjalan mendekat dan mengeluarkan dokumen yang ada di dalam mapnya.
"Aku harap anda tidak terkejut dengan apa yang saya beritahukan."
Yunho mengernyit dan kembali memperhatikan sekertarisnya yang terlihat gemetar saat membuka Map yang akan ia jelaskan pada Yunho.
"Direktur, peristiwa yang menyebabkan kedua orang tua anda terbunuh juga ada kaitannya dengan paman anda."
Kali ini warna muka Yunho yang berubah menjadi tegang dan tampak memucat. Dia sebenarnya ingin bertanya tapi saat melihat sekertaris yang bekerja untuknya hampir puluhan tahun tampak serius membuat suaranya tercekat dan tak bisa mengeluarkan suaranya.
"Sepuluh tahun yang lalu saat pembunuh mengerikan itu datang ke rumah anda, semua itu terkait dengan perjanjian yang sangat merugikan antara orang itu dengan paman anda."
"Pembunuh orang tua anda, Xi Gao Han merupakan pengusaha asing yang berasal dari Beijing dan mempunyai usaha di bidang kesehatan, dia memproduksi obat yang didistribusikan ke hampir seluruh rumah sakit di Seoul. Dia memutuskan untuk membangun usahanya di Seoul karena menikah dengan seorang wanita keturunan Seoul dan sudah memiliki putra saat itu. Lu Han." Sekertaris Han menatap wajah Yunho yang selalu menegang saat nama Luhan diucapkan.
"Semua berjalan dengan baik pada mulanya. Usahanya mendapat keprcayaan tidak hanya dari Seoul dan tanah kelahirannya tapi beberapa Negara seperti Jepang dan Thailand juga memintanya untuk memproduksi obat-obatan dengan khasiat yang telah teruji dan terbukti aman."
"Sampai akhirnya dia bertemu dengan paman anda. Paman anda menjanjikan izin edar seluruh obat-obatan yang diproduksi oleh perusahaan Xi Gao Han mengatas namakan Perdana menteri Oh saat itu. Tentu saja dia menyambutnya dengan senang hati karena juga mengetahui kalau Manager Kim merupakan adik kandung dari istri perdana Menteri Oh. Dia memberikan syarat untuk memberikan sertifikat legal yang sudah dimiliki perusahaan Xi dengan dana yang cukup fantastis yang diberikan tanpa rasa curiga sekalipun kepada paman anda. Sampai akhirnya kesalahpahaman itu terjadi." Sekertaris Han menghela nafasnya dan memberanikan diri melihat wajah Yunho.
"Paman anda tidak pernah kembali dengan surat izin edar obat-obatan yang diproduksi oleh perusahaan Xi, sebaliknya. Ada beberapa pejabat yang menuding bahwa semua obat-obatan yang diprdoduksi oleh perusahaan Xi mengandung zat berbahaya karena tak memiliki izin edar. Sampai akhirnya berita itu terdengar oleh ayah anda, beliau didampingi oleh paman anda menulusuri semua dokumen yang dipalsukan dan mengambil keputusan bahwa Perusahann Xi tidak layak untuk kembali memproduksi obat-obatan lagi di Seoul. Berita bahwa zat yang terkandung dalam pembuatan obat di perusahaan Xi adalah ilegal terdengar sampai ke tanah kelahirannya. Membuatnya tak diterima dimanapun bahkan di negara asalnya sendiri."
"Xi Gao Han dideportasi dari China dan tidak diijinkan kembali ke negaranya karena dituding bekerja dengan Mafia Hongkong dan membantu mereka untuk mengedarkan obat-obatan terlarang di tiga negara terbesar di Asia yakni Jepang, China dan Hongkong itu sendiri. Dan atas keputusan dari Perdana Menteri Oh saat itu, dia pun dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa bisa membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, karena banyak pihak yang membenarkan tentang seluruh kegiatan ilegalnya. Tentu saja pihak-pihak itu adalah pihak yang mengambil keuntungan dari kejahatan yang dilakukan paman anda-…Paman anda membayar beberapa perusahaan dan pejabat penting untuk memberikan keterangan palsu."
Yunho tak bisa berkata-kata lagi karena saat ini dia sedang melihat dokumen yang dipalsukan beberapa tahun lalu dan menyamakan dengan surat izin yang entah darimana didapatkan oleh Sekertaris Han.
"Darimana kau mendapatkan ini?" katanya bertanya pada Sekertaris Han pada sertifikat dan surat izin pengedaran obat-obatan yang dimiliki oleh perusahaan yang dipimpin oleh pria yang telah membunuh ayahnya.
"Dari pegawai magang yang sudah tiga bulan bekerja disini. Dia sama sekali tidak dibayar, dan hari ini adalah hari terakhirnya sebelum dia kembali ke negara asalnya dan sebelum aku tahu siapa pegawai magang yang bekerja di perusahaan anda direktur."
"Siapa?" Yunho memijat pelipisnya merasa sangat pusing mendengar kenyataan bahwa yang terjadi pada ayah Luhan dan ayahnya adalah sepenuhnya kesalahpahaman.
"Tiga bulan ini dia dikenal dengan nama Xiao Lu oleh seluruh pegawai. Barulah pada hari ini aku mengetahui siapa dia yang sebenarnya dan kenapa dia selalu mengatakan bahwa wakil direktur Oh tidak boleh dibiarkan bersama dengan Manager Kim."
"Memangnya dia siapa? Apa aku mengenalnya?"
Manager Han sempat terdiam sampai akhirnya dia kembali menatap Yunho dan mengangguk perlahan "Anda bukan hanya mengenalnya-..Anda sangat mengenalnya direktur."
Yunho mengernyit dan menatap dalam-dalam sekertarisnya "Siapa?"
"Luhan."
"Siapa?" Yunho tampak tegang kembali bertanya pada Sekertaris Han.
"Luhan yang menemukan semua kebenaran tentang kenyataan ini direktur. Dia diam-diam melamar menjadi pegawai magang hanya karena mendapatkan informasi bahwa paman anda akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya pada orang tua anda dengan mengadu domba seseorang yang tak dikenal dengan Wakil direktur Oh. Karena dia yakin jika Wakil direktur bisa disingkirkan anda tidak memiliki keluarga yang bisa dijadikan direktur lagi mengingat putra anda masih balita. Dan tanpa sengaja pula dia menemukan kebenaran tentang apa yang terjadi pada ayahnya."
"Aku baru saja menemuinya dan dia mengatakan tugasnya sudah selesai dan semua tergantung pada anda. Dia akan kembali ketempatnya hari ini. Anak itu terlihat sangat menderita." Katanya memberitahu Yunho yang seluruh tubuhnya merinding mendengar semua ucapan sekertarisnya
"Lu-Luhan kau bilang?"
Yunho tak mempedulikan apapun lagi yang diucapkan sekertarisnya selain Luhan yang menyamar dan mencari bukti sampai sejauh ini dan Luhan yang terlihat sangat menderita mengingat terakhir pertemuan mereka dirinya sendiri yang mengusir mantan kekasihnya adiknya tersebut.
"Ya direktur. Maaf memberitahukan ini secara mendadak, sejujurnya saya juga masih belum percaya. Tapi bukti-bukti yang diberikan terlalu kuat dan mengarah kepada paman anda."
"Dimana dia sekarang?" Yunho menggeram bertanya keberadaan Luhan.
"Sedang berpamitan dengan pegawai lainnya. Dia bilang dia tidak akan berada di Seoul lagi. Mungkin sekarang dia sudah per-.."
Sekertaris Han tak sempat menyelesaikan ucapannya karena saat ini Yunho sudah berlari meninggalkan ruangannya dengan tergesa, memaki siapapun yang menghalangi jalannya untuk mendengar semua secara langsung dari pria bernama Xiao Lu yang ternyata adalah Luhan.
"Hyung?"
Sehun mengernyit melihat kakaknya berlari seperti orang gila dan mengabaikannya begitu saja. Sehun mungkin akan mengejar kakaknya kalau sekertarisnya tidak memberitahunya kalau pamannya sedang menunggu di ruang rapat membuatnya harus segera pergi ke ruang rapat kalau tak mau membuat orang yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri marah padanya.
Kembali pada Yunho yang masih berlari ke bagian personalia, bertanya pada seluruh pegawainya dimana Xiao Lu namun tak ada satupun yang mengetahuinya sampai dia mendengar seorang karyawannya mengatakan bahwa Xiao Lu baru saja berpamitan dan sudah meninggalkan kantornya beberapa menit yang lalu. Membuatnya kembali berlari ke luar kantor sampai matanya membelalak mendapati Luhan yang sedang duduk di halte bis dan bis yang akan ia naiki sudah mendekat, membuatnya harus kembali berlari mengejar Luhan sebelum terlambat.
Grep..!
Yunho berhasil tiba tepat saat sebelum Luhan menaiki bisnya, dia menggenggam pergelangan tangan Luhan cukup erat, membuat pria yang dulu sudah ia anggap seperti adiknya ini menoleh dan tampak memucat mendapati dirinya berada didepannya saat ini.
"di-…direktur."
"Kita bicara sebentar."
Yunho memberitahu Luhan dengan nafas tersengal, membuat Luhan menebak hal buruk apalagi yang akan ia alami setelah sebelumnya Sehun yang memutuskan untuk benar-benar mengakhiri hubungan mereka, kini Yunho dengan mata elangnya menatap menakutkan pada Luhan.
..
..
..
"Jadi apa yang kau inginkan? Apa kau menginginkan permintaan maaf dariku?"
Luhan yang sudah hampir dua puluh menit berada di kafe bersama Yunho tampak mengernyit dengan semua ucapan Yunho yang entah menyindir atau benar bertanya padanya.
"Aku sudah mengetahui semuanya." Katanya memberitahu Luhan.
Luhan semakin menaikkan kedua alisnya tak mengerti namun tak benar-benar menatap Yunho yang masih berbicara penuh kebencian padanya.
"Saya tidak mengerti maksud anda direktur."
"Ayahmu, ayahku dan pamanku-…aku sudah mengetahui semuanya dari Sekertaris Han, Xiao Lu." Katanya tertawa getir menatap Luhan yang kini mencekram erat tangannya sendiri.
"Jadi apa kau ingin aku mengembalikan kekayaan ayahmu dan meminta maaf padamu secara langsung?"
Luhan menggeleng dengan cepat memberanikan diri menatap Yunho "Tidak-..sungguh tidak perlu direktur. Ayahku tetap bersalah karena melukai kedua orang tua anda."
"Dia tidak hanya melukainya dia membunuh kedua orang tuaku." Desisnya membuat Luhan kembali kehilangan kata-katanya lagi karena Yunho begitu membenci semua kenangan buruk yang ia alami sewaktu kecil.
"Maafkan saya walaupun saya tak bisa dimaafkan direktur-…. Tapi sungguh, kedatangan saya hanya untuk melindungi wakil direktur mengingat dirinya sangat dekat dengan paman anda. Saya tidak bisa membiarkan siapapun menyakiti wakil direktur termasuk paman anda."
Yunho mengernyit dan menatap tajam Luhan membuat Luhan kembali merasa bisa mati kapan saja dengan tatapan mengerikan Yunho "Apa kau benar-benar tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti adikku?" katanya bertanya memaksa Luhan untuk menatapnya.
"Luhan aku bertanya padamu." Yunho sedikit menggertak Luhan membuat Luhan sedikit terkesiap.
"Tentu saja direktur. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti wakil direktur-..Tidak akan pernah membiarkan siapun menyentunya dan membuatnya menderita." Luhan mengulang segala ucapannya dengan penuh keyakinan.
"ck…Satu-satunya orang yang menyakiti dan membuat adikku menderita adalah kau, Luhan!"
Deg!
Luhan merasa hatinya dicengkram begitu erat sehingga hanya rasa sakit yang ia rasakan, membuatnya kembali tertunduk dan bersumpah tak akan bersuara lagi dan hanya mendengarkan apa yang Yunho katakan.
"Kau harus meninggalkannya dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi didepannya Luhan."
"Ya direktur saya mengerti."
"Tapi kau bisa melakukannya nanti setelah kau membantuku."
Luhan otomatis mendongak menatap Yunho dan menatap pria yang selalu ia kagumi dan ia hormati itu dengan bingung. Sampai akhirnya dia melihat wajah Yunho yang kembali sendu seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Wajah yang selalu ia tunjukan pada Luhan jika ia sedang sangat mengkhawatirkan adiknya.
"Kau harus membantuku untuk membuat Sehun menjauhi pamanku. Aku hanya bisa mengadalkanmu Luhan."
..
..
..
Tok…tok..
"Masuk."
Terlihat Sehun yang baru kembali ke ruangannya setelah berbincang banyak dengan pamannya yang akan mengenalkan dia pada banyak klien, dia pun tak menolak hal itu karena merasa sudah saatnya membuat kakaknya bangga dan bisa mempercayainya sehingga dia memiliki banyak waktu untuk keponakan dan juga kakak iparnya.
"Tuan muda."
Sehun mengernyit mendapati detektif sewaan yang ia tugaskan untuk mengikuti Luhan kini sedang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?"
"Saya membawa kabar terbaru dari Luhan."
"Aku tidak peduli. Cepat pergi." katanya kembali fokus pada dokumennya mengabaikan rasa ingin tahunya yang sudah ia kalahkan dengan rasa bencinya.
"Tapi ini mengenai kepergi-.."
"PERGI!"
Sehun berteriak membuat detektifnya menghentikan ucapannya.
"Baik tuan muda. Maaf mengganggu waktu anda, saya hanya ingin memberitahukan anda bahwa nama Luhan terdaftar di penerbangan ke China hari ini. Dia sudah dipastikan meninggalkan Seoul seperti keinginan anda. Saya permisi."
Sehun menghentikan kegiatannya menandatangani dokumen tepat setelah detektif sewaannya memberitahukan kabar terbaru dari Luhan. Dia tidak harus bereaksi seperti apa, apa dia harus senang atau malah sebaliknya atau mungkin dia harus mengejar Luhan-..entahlah-..tapi yang jelas Sehun kembali merasakan lubang hitam di hatinya semakin membesar setiap kali dirinya menyadari bahwa hubungannya dan Luhan adalah memang kesalahan dari awal yang semestinya tak terjadi.
..
..
..
Cklek…!
"Sehun, kenapa kau tidak menghadiri rapat dengan Direktur Jung hari ini?"
Yunho memasuki ruangan Sehun dan mendapati adiknya sedang membalikan kursinya ke arah jendela dan duduk termenung melihat ke jendela, tak berniat menjawab pertanyaan apapun untuknya.
"Sehun-.."
Yunho berdiri didepan adiknya yang terlihat kosong dan tak banyak berbicara.
"Hyung-..aku ingin sendiri. Bisakah kau tinggalkan aku?" katanya memohon pada kakaknya yang tampak mengernyit khawatir.
"Tidak sampai kau bertemu dengan asisten barumu."
"Aku sudah memiliki Sekertaris Han, Kau tidak perlu repot-repot."
"Sekertaris Han sudah tua dan banyak yang harus ia urus, jadi aku memutuskan untuk mencari asisten baru untukmu. Aku sendiri yang menyeleksinya, dia sangat bisa diandalkan."
Sehun terkekeh menatap kakaknya yang sepertinya memang sangat suka mengganggunya belakangan ini "Kau bahkan punya waktu untuk mengurusiku tapi sama sekali tak memiliki waktu untuk Haowen."
"Aku dan putraku tidak perlu menghabiskan waktu kami bersama didepan matamu kan?" katanya membalas sindiran Sehun.
"Ya terserahmu saja."
"Astaga anak ini kenapa selalu keras kepala." Gumam Yunho mengusak kasar kepala adiknya.
"Hyung sudahlah aku mohon." Sehun yang sedang tidak dalam moodnya untuk meladeni Yunho merasa sedikit kesal.
"Oke aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi setidaknya kau harus tahu siapa asisten barumu."
"Yasudah cepat suruh dia masuk lalu cepat pergi."
Yunho mengedikan bahunya dan sedikit tersenyum menatap adiknya "Kau boleh masuk." Katanya berteriak memberitahu asisten baru Sehun yang kini membuka pintu ruangan Sehun dan berdiri dengan diam tak jauh dari tempat Yunho dan Sehun berada.
"Hey lihat asistenmu." Yunho sedikit menyenggol Sehun yang masih tak mau berbalik dan tetap melihat keluar jendela.
"Suruh dia perkenalkan diri, lalu dia boleh pergi."
Yunho mengangguk memberitahu asisten baru Sehun untuk memperkenalkan dirinya.
"Selamat siang Wakil direktur."
Sehun yang sedang melamun tiba-tiba tersentak dan sedikit membelalak karena suara yang baru saja menyapanya adalah suara yang sama dengan seseorang yang terus berada dipikirannya dan tak pernah benar-benar ia lupakan.
Dia dengan cepat membalikan kursinya dan sangat terkejut mendapati pria yang tak lain adalah Luhan sedang membungkuk menyapanya sampai kemudian tatapan mereka bertemu.
"Saya Lu Han, asisten baru anda. Mulai hari ini saya akan membantu menyusun jadwal rapat anda dan seluruh kegiatan yang akan anda lakukan. Mohon bantuan anda." Katanya terlihat sangat gugup menyapa Sehun yang kini menatapnya tak suka.
"Apa yang kau lakukan disini?" desisnya menggertak Luhan yang kini tak menatap matanya.
"Hyung apa yang kau lakukan? Kenapa dia ada disini?" Sehun beralih bertanya pada Yunho yang hanya tersenyum simpul menatap adinya.
"Kau membutuhkannya Sehun."
"Tidak-..Aku tidak membutuhkannya. CEPAT SURUH DIA PERGI."
Sehun menggebrak mejanya kasar membuat Yunho dan Luhan sedikit tersentak.
"Sayangnya kau membutuhkan Luhan, Sehunna. Dan tak ada yang bisa menyuruhnya pergi selain aku. Jadi bekerjasamalah dengan asisten barumu."
Yunho mengusak lembut bahu Sehun dan kemudian berjalan keluar dari ruangan Sehun meninggalkan Luhan dan adiknya untuk setidaknya kembali membiasakan diri saat berada di tempat yang sama tanpa rasa canggung.
Namun maksud dari Yunho tidak begitu saja dapat diterima oleh adiknya, berbeda dengan kakaknya yang sudah mulai kembali menerima Luhan. Rasa sakit hati justru kembali Sehun rasakan karena kehadiran Luhan membuatnya harus mati-matian untuk tidak melakukan hal gila pada pria yang hingga saat ini masih terlalu menguasai diri dan hatinya.
Sehun berjalan mendekati Luhan yang hanya diam mematung sampai akhirnya dia mengangkat dagu Luhan dan menatap Luhan dengan tatapan menyakitkan yang sangat bisa Luhan rasakan.
"Kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu pergi dariku." Katanya tertawa getir menatap kedalam mata yang selalu membuatnya terjatuh setiap saat.
Luhan tidak menolak tatapan itu, sebaliknya-..dia kembali menatap Sehun dengan tegas namun tak menghilangkan luka yang sama dengan yang Sehun rasakan "Untuk kali ini aku akan bertahan-..Aku tidak akan mempedulikan bagaimana caramu untuk membuatku pergi-.. Aku akan bertahan."
Kedua mata itu saling menatap dengan caranya masing-masing dimana yang satu menatap dengan kemarahan dan yang lain menatap meyakinkan, tetapi tak bisa saling menyembunyikan bahwa kedua tatapan itu memiliki rasa rindu yang teramat dalam yang ditujukan untuk masing-masing dari keduanya.
tobecontinued...
.
.
Next chapter is Sehun vs Luhan...please wait for the next update :)
.
.
Happy reading and review..!
