Dingin.
Itulah yang pertama kali gadis itu rasakan saat membuka bola mata hitam kecokelatannya. Meskipun selimut tebal berwarna cokelat tua yang melingkari tubunya itu hangat dan kamarnya dilengkapi pemanas yang dinyalakan, namun tetap saja... dingin. Dia merasa sedikit menyesal memilih ke negara utara yang dinginnya cukup ekstrim seperti ini bukannya Riyadh atau Hong Kong saja yang lebih bersahabat.
Saat masih gelap, dan gadis itu menampar dirinya sendiri agar dia segera bangkit dari tempat tidurnya. Dengan ogah-ogahan, dia mencuci mukanya di keran (syukurlah ada air hangat di situ), dan ke dapur, untuk mempersiapkan sarapan dan bekal untuk dua orang penghuni rumah itu. Mereka tidak memintanya, namun itu kewajiban bagi seorang maid kan?
Sebentar, dia berpikir. Apakah teman-teman Berwald yang kemarin datang masih ada di rumah? Jika iya dia harus memasak lebih!
"Oh, kupikir siapa, Kirana toh," kata seorang pemuda berambut putih keperakan yang mengucek matanya. Saat itu dia memakai piyama putih yang terlihat kebesaran. Rupanya Emil masih di situ?
"Ah, god morgon! selamat pagi!" kata gadis itu mencoba seceria mungkin dengan bahasa sekedarnya, seperti biasa, "Kamu menginap ya?"
"Kami memang tinggal di sini kok, mulai saat ini." jawab Emil singkat. Dia berjalan cepat-cepat menuju kulkas, mengambil jar air putih dan meminumnya dengan cepat, "Aku duluan." pemuda itu segera pergi dari dapur, meninggalkan Kirana yang kembali sendiri mengiris bawang bombay.
"Adaww!" pekiknya pelan, berusaha agar tidak membangunkan seisi rumah, saat jemarinya teriris. Dia mengutuki dirinya sendiri, kenapa dia tidak bisa fokus setelah Emil datang-bahkan setelah Emil pergi pun dia susah fokus. Anak itu... bagaimanapun juga dia terlalu manis!
Through flamed Ice
fiction T
Hetalia (c) Hidekaz Himaruya dan antek2nya
Peringatan ini fanfic abal-abalan yang ditulis oleh orang yang lagi bosen demi kesenangan semata. Harap sabar jika melihat ada OOC, typo, kelebay-an dan kegantengan author di sini, makasih. Maaf juga chapter sekarang pendek begini, ngerjain sambil ngantuk sih.
Pairing wahahahahah lihat saja /plak
SAYA GA AMBIL KEUNTUNGAN APA-APA DARI PENULISAN CERITA INI. KALO SAYA AMBIL KEUNTUNGAN PASTI SAYA BAKALAN JUALAN (?).
"Masakan buatanmu memang yang terbaik!" puji Matthias sesudah menghabiskan isi piringnya, dan menambah lagi porsi makanannya. Kirana tersenyum puas melihat mereka berenam yang lahap memakan porsi makanannya masing-masing.
"Nggak ikut makan juga, Kirana?" tanya Lukas dengan tampang dinginnya yang biasa, menunjukkan bangku sebelahnya yang kosong. Anak perempuan itu mengangguk canggung dan duduk di sebelah pemuda yang dianggapnya feminin (hanya karena dia cantik dan berjepitan) itu, dan melahap tumis daging yang dibuatnya tadi. Enak juga. Apalagi dia jarang makan daging sebelumnya.
Acara makan itu seperti biasa, hening. Hanya ada celetukan-celetukan asal dari Matthias, sisanya menanggapi dengan dingin. Di rumahnya di desa dulu, rasanya makan malam selalu ramai. Ada kakeknya, neneknya, ayahnya, ibunya, dan adik-adiknya yang saling berbagi nasi jagung, ikan asap, dan sayur daun pepaya. Mereka berebut tayangan TV 14 inci yang terpasang di depan meja makan. Momen yang tak tergantikan, sungguh. Namun setelah ibunya sakit keras, semuanya mereka jual. TV, meja, sawah, dan buku-buku. Namun tetap saja itu tidak mencukupi. Jadilah dia bekerja di sini, dengan suasana sarapan yang sangat berbeda.
"Oh iya! Hari ini hari Minggu kan? Kenapa kau tidak mengajaknya berkeliling saja, Ber?" usul Matthias sambil menunjuk ke arah Kirana, "Dia kan belum tahu apa-apa tentang Swedia!"
"Hn," angguknya singkat, "Kau mau?"
Kirana tentu saja agak kaget ditanya begitu. Dengan wajah yang malu-malu, gadis itu menyetujuinya. Kencan bersama cowok seram ini, tolong!
"Eh? Mau jalan-jalan? Aku ikut!" teriak Stefan. Meskipun dia terlihat anak rumahan yang manja, tapi siapa sih yang menolak jalan-jalan, apalagi dengan kakak yang ganteng berkacamata? Oke lupakan kalimat tadi.
"He, jangan gangguin kencan Kirana dengan Ber dong, bocah," kata Matthias sambil menyentil dahi Stefan. Dengan wajah idiotnya dia langsung dipukul oleh Berwald.
"Jadi," kata Kirana sambil menatap enam orang yang duduk di mobil yang sama dengannya. Yah, jadinya mereka pergi bersama-sama seperti rombongan anak SD dan gurunya, bukannya kencan, "Kita mau kemana?"
"Tempat yang menyenangkan!" kata Matthias dengan nada berisik seperti biasa.
"Kata-katamu seperti penculik saja," gumam Lukas dengan nada datar. Drama Matthias-Lukas kelihatannya mulai lagi, namun Kirana tidak melihatnya. Dia terlalu bersemangat menatap dengan kagum pemandangan serba putih yang tidak pernah dilihatnya, gedung-gedung yang sangat berbeda dengan gedung-gedung yang pernah dia lihat. Nuansa yang tak pernah dia lihat di negara tropis seperti yang dimiliki. Demi apapun, bagus sekali!
"Kirana," kata Berwald pada akhirnya, meskipun dia duduk di bangku setir dan Kirana di bangku penumpang di belakang, "Kau pernah dengar Gothenburg-atau Goteberg?"
"Hah?" Kirana menggeleng sambil tak memalingkan pandangannya dari jendela. Itu nama yang benar-benar asing, "Itu apa?"
"Itu kota terbesar kedua di Swedia," jelas Tiino bersemangat. Mengetahui ini akan menambah pengetahuan, Kirana mengeluarkan buku catatannya dan mulai mencatat perkataan Tiino meksipun masih belum bisa menangkap Bahasa Inggris secepat itu, "Kota ini didirikan tahun 1621 oleh Raja Gustavus Adolphus. Kota ini dipenuhi oleh banyak pelajar, karena kota ini terdapat universitas-universitas terkenal seperti Universitas Gothenburg dan Universitas Teknologi Chalmers. Kota ini dirancang seperti kota-kota buatan Belanda, seperti Amsterdam, New Amsterdam di pula Manhattan, dan tebak satu lagi!"
"Jakarta?" tanya Kirana ragu-ragu, Mendengar kata "Belanda" kota yang terletak ratusan kilometer jauhnya dari kampung halamannya itulah yang ada di kepalanya. Jujur, Kirana senang berada di perjalanan ini bersama mereka. Sebagai mantan murid berprestasi di desanya yang putus sekolah karena keterbatasan biaya, mendengar fakta-fakta pengetahuan seperti ini jujur saja sangat menarik!
"Ting tong! Tepat sekali!" kata Tiino smbil bertepuk tangan, "Benar, Batavia atau yang sekarang disebut Jakarta! Nah, dari sini sudah terlihat, itu yang namanya kota Gotheburg atau Goteborg!"
Mata Kirana berbinar-binar melihat kota pelabuhan itu seiring dengan mobil yang melaju. Bangunan-bangunan bergaya Eropa kuno berpadu dengan gedung-gedung bergaya modern, trem yang unik yang belum pernah dilihatnya di Indonesia, perahu dan kapal yang menambatkan diri di pelabuhan Gota alv, dilengkapi dengan titik titik putih yang turun dari langit. Ya, salju telah menghiasi tempat itu menjadi jauh lebih menarik.
"Tempat yang indah!" teriaknya senang. Berwald terlihat mengulum senyum tipis dalam waktu beberapa detik begitu mendengar kata-kata penuh kepuasan tanpa terdengar nada dusta sedikitpun itu.
"Tapi Liseberg kan baru buka bulan April, sekarang Januari!" protes Stefan pada kakaknya, "Itu kan tempat yang wajib dikunjungi kalau ke Goteborg!"
"Liseberg?" tanya Kirana penasaran, "Tempat apa lagi itu?"
"Taman bermain paling terkenal di Eropa Utara! Banyak sekali atraksi yang menarik di sana, namun hanya buka April hingga Oktober, dan November hingga Desember saat musm natal. Tempat ini sendiri sangat menarik atraksinya, roller coasternya sja ada empat, dan roller coaster bernama Balder yang dinamai dari dewa cahaya Norse mendapatkan gelar sebagai roller coaster kayu terbaik!" kata Stefan menggebu-gebu, kelihatannya dia bersemangat sekali menjelaskan tentang itu, "Ada juga permainan air, banyak lagi deh pokoknya!"
"Wah, kedengarannya menarik!" kata Kirana, "Sayang sekarang tidak buka ya. Aku belum pernah ke taman bermain, paling hanya ke pasar malam..."
"Pasar malam?" tanya Emil yang dari tadi mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara juga karena penasaran, "Itu tempat gipsi yang banyak ramalan dan arena tembak begitu ya? Lukas tak pernah mengijinkanku ikut acara-acara begitu, padahal aku kan sudah SMA!"
"Karena kau mudah sekali tersesat, Emil," kata Lukas smabil mengusap-usap rambut adiknya tercinta itu, "Oh iya, harus kuperingatkan berapa kali? Panggil aku kakanda!"
"Bukan," kata Kirana sambil mengingat-ingat masa kecilnya dulu, "Nggak ada gipsi-gipsian dan arena menembak deh. Tapi paling ada bianglala sebesar ini," Kirana menunjukkan rumah kecil yang terbuat dari kayu, "Terus ada juga komidi putar kecil-kecilan, dan ada juga pasar barang-barang murah, dan gula-gula kapas..."
"Hah? Komidi putar sekecil itu? Memang ada ya?" tanya Tiino yang tidak percaya akan penjelasan Kirana.
"Di Indonesia banyak kok." jawabnya santai, membuat orang-orang itu semakin syok.
"Tiket masuknya berapa?"
"Dulu sih kalau dikurs sekitar kurang dari 1 USD.."
Semuanya semakin syok. Kurang dari 1 US Dollar untuk bermain komidi putar? Harga pokok menurun drastis atau bagaimana? Memang ada barang begitu ya di Indonesia? Komidi putar mini pula, segitu memangnya membuat orang puas bermain komidi putarnya? Duh, penasaran sekali mereka!
"Kalau ke Indonesia kelihatannya itu jadi tempat yang harus dilihat nih," gumam Lukas sambil tetap mengusap rambut adiknya, "Iya kan, adinda Emil?"
"Aku juga penasaran!" kata Matthias sambil menepuk pundak Kirana, "Nanti kalau kau pulang kampung ajak-ajak kami sekalian dan bawa kami ke pasar malamnya Indonesia ya! Aku janji deh, kalau musim panas dan natal kami akan membawamu ke Liseberg!"
Kirana entah harus fespalm atau apa melihat mereka yang antusias sekali dengan pasar malam dengan skala super kecil begitu. Dasar orang luar negeri kaya yang norak! Kemudian selagi mobil mengisi bensin, Kirana membayangkan orang tuanya dan masa kecilnya dulu di pasar malam. Meskipun baru dua hari meninggalkan kampung halaman, tapi kangennya memang sudah selangit!
"Hei," kata Stefan yang duduk di sebelah Berwald yang duduk di bangku setir dan melihat ke arah spion, "Rasanya sejak tadi kita mengisi bensin, mobil berwarna perak di belakang seperti mengikuti kita terus deh."
Mendengar hal itu, Berwald dan yang lain langsung mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjukkan Stefan. Benar saja, di belakang ada mobil perak yang berjarak tak jauh dari mobil mereka. Semuanya-kecuali Stefan dan Kirana-langsung berubah ekspresi menjadi panik. Atmosfir ceria di mobil langsung hilang, diganti dengan suasana aneh yang sangat asing. Tanpa banyak bicara seperti biasa, pemuda itu langsung menancap gas menuju jalanan yang lebih sepi, namun tetap saja mobil perak itu mengikuti.
"Kelihatannya kita tak akan jadi pergi berkeliling kota pelabuhan ini," kata Matthias menyeringai seram, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong mantel hitamnya, "Kirana, Stefan, sembunyilah di bawah bangku dan tutup telinga kalian dengan bantal, earplug, atau apapun." Mereka berdua menurut tanpa mengerti apa-apa. Kelihatannya akan terjadi sesuatu yang gawat.
"Maaf ya Kirana," kata Tiino sambil memasang wajah yang sangat menyesal, "Hari kedua kau di sini malah mendapatkan hal tidak enak begini."
Sebelum Kirana bisa menerjemahkan arti kata-kata Tiino, sebuah tembakan yang berasal dari Glock 18 diluncurkan oleh Matthias dari bangku penumpang, dan Kirana di bawahnya. Siapa yang tidak kaget? Apalagi terdengar bunyi pecahan kaca dari kejauhan, pertanda kalau ada bagian mobil yang pecah dari mobil perak itu. "Lebih cepat lagi, Ber, orang ini kelihatannya tidak main-main," kata Lukas sambil mempersiapkan Browning kesayangannya. "Emil, apa sebaiknya kamu nggak sembunyi saja?"
Emil menurut, ikut sembunyi di bawah bersama dengan Kirana. Sementara itu, juga terlihat peluru yang diluncurkan dari mobil berwarna perak itu dengan cepat, menghancurkan kaca belakang mobil Berwald. Sementara itu, Berwald mempercepat mobilnya, dengan tetap berhati-hati karena ada anak-anak dan perempuan dalam mobilnya.
"Dia semakin dekat!" pekik Tiino. Tidak mau kalah dari kedua temannya, pemuda itu langsung mengambil Smith&Wesson miliknya dari kantong jaket, dan ikut terlibat dalam baku tembak itu.
Sementara mobil lawan sudah semakin mendekat. Suasana mendadak horor. Berwald mempercepat mobilnya, dan memutar ke sana ke mari. Sampai tidak terlihat lagi mobil perak itu.
"Semua, keluar dari sini." perintah Berwald, "Kita lari bersama, pakai hoodie di mantel kalian dan mengungsi ke hotel Viking yang kelihatannya tidak akan mereka curigai. Mobil ini biar kita tinggal di sini saja."
"Tapi aku nggak bisa lari cepat! Lagipula ini dingin," protes Kirana sambil menunjukkan sepatunya yang jelas bukan sepatu untuk berlari. Meskipun itu sepatu terbaik yang dia punya, namun tetap saja sudah ada beberapa lubang dan jahitan paksa karena sepatu itu merupakan bekas sepatu SMP-nya. Sesungguhnya Kirana tidak mengerti apa-apa tentang situasi ini, namun yang dia pahami ini adalah situasi yang berbahaya dan bisa mengancam nyawa dirinya sendiri dan 'keluarga' barunya. Belum sempat dia berpikir, tiba-tiba saja dia merasa ada tangan yang mengangkatnya menjadi seperti terbang. Begitu dia melihat siapa yang mengangkatnya, gadis itu tak bisa menyembunyikan blush-nya.
Berwald menggendongnya dengan bridal-style begitu? Siapa yang tidak berdebar, coba!
Mereka tiba di sebuah kapal yang terbuat dari baja yang sangat besar, dengan body berwarna putih yang terlihat sangat indah dan terdapat beberapa tiang besar yang dipergunakan untuk layar namun tidak diturunkan. Kapal itu bertengger di pelabuhan Gothenburg seakan-akan memaksa para masyarakat di Swedia agar tidak melupakan jejak sejarah yang diukir oleh kapal terbesar di Eropa Utara yang dibuat di Denmark saat awal abad 20 itu. Kirana sampai tak habis pikir jika kapal ini merupakan hotel yang dimaksud oleh Berwald tadi.
"Ayo masuk," ajak Berwald, menurunkan Kirana dari gendongannya. Kelihatannya dia masih berdebar-debar, baru kali ini ada yang memperlakukannya begitu. Dengan hati-hati, Berwald menggandeng tangan maid-nya dari jalan kecil yang mengubungkan pelabuhan dan hotel yang mengapung di air itu.
"Ini hotel wisata yang terkenal, mereka tak akan berpikir kalau kita akan mengungsi di sini." Jelas Emil sambil berjalan dengan hati-hati di belakang Berwald dan Kirana, "Lebih bagus lagi kalau musim panas, padahal."
Begitu masuk ke tempat hotel itu, terlihat berbeda sekali dengan kapal. Kirana belum pernah ke hotel di Indonesia sebelumnya, jadi dia kaget sekali sewaktu berada di sini. Interiornya yang modern minimalis namun mewah, ah, sangat menarik!
Di sofa yang disediakan di ruang resepsionis selagi Berwald mendaftar, Kirana tak henti-hentinya menatap interior mewah di sekelilingnya. Tempat yang sangat menarik, tak bisa dibayangkan kalau hotel ini mengapung di laut! Tapi Kirana jadi merasa tidak enak pada Berwald. Seharusnya dia di rumah saja, menolak dengan halus ajakan bermain ke Gotheburg hari ini dan mengerjakan kewajibannya sebagai maid, bukannya malah merepotkannya mengantar jalan-jalan begini tanpa tahu kalau mereka diincar oleh kawanan misterius bermobil perak.
"Bukan salahmu kok," kata Lukas yang duduk di sebelahnya, seakan bisa membaca pikiran gadis itu, mau tak mau membuat gadis itu kaget. Apa pemuda feminin berjepitan ini punya sixth sense? "Mungkin nanti Ber akan menjelaskan keadaannya padamu."
Kirana memang masih tidak paham sama sekali. Mungkin di antara semuanya hanya dirinya dan Stefan saja yang masih buta di sini. Dia sudah berniat setelah ini akan menanyakannya pada Emil, karena kelihatannya mereka seumur dan bisa memahami satu sama lain... meski sulit. Namun begitu mendengar kalau Berwald akan menjelaskannya, rasanya Kirana sedikit tenang.
"Ini kunci kamarmu," kata Berwald singkat, memberikan kunci ke tangan Kirana. "Sebaiknya kau berjaga-jaga."
"Baik!"
Tak jauh dari situ, gadis berambut platinum blonde dengan pita besar yang disemat di rambutnya itu mendecak. Sedangkan pemuda yang ada bersamanya mengamati mobil yang dibuang di semak-semak itu.
"Lagi-lagi gagal. Sudah cukuplah mobil kita hancur, dan di sini kita hanya menemukan mobil mereka saja, tanpa orang-orangnya!" omel gadis itu yang kekesalannya tidak bisa ditahan lagi. Dia nyaris saja memukul mobil yang dibuang itu jika tidak ditahan oleh pemuda di sebelahnya, "Padahal kakak janji akan kencan denganku kalau aku bisa membunuh pemuda itu!"
Pemuda tinggi berambut sandy blonde yang jabrik dengan bola mata hijau emerald dan alis yang berlapis-lapis yang dari tadi bersama gadis berambut platinum itu akhirnya ikut bicara. Jengah juga dia mendengar omelan gadis ini berturut-turut, "Sudahlah, jangan marah-marah, biar kutanya ke pixie kesayanganku ke mana mereka pergi."
"Lagi-lagi 'Tuan Arthur Kirkland' dan peliharaan invisible-nya," gumam gadis itu yang masih kesal, "Bukannya Sigmund sudah pernah bilang dahulu kalau daerah Eropa Utara merupakan daerah makhluk-makhluk temannya?"
Mendengar itu, pemuda yang dipanggil Arthur itu langsung panik. "Ah iya, dirimu benar juga ya, Arlovskaya. Aku melupakannya!"
"Ayo tanya penduduk sekitar. Pemuda itu kan cukup mencolok," ajak gadis itu sambil memberikan tangannya untuk diraih Arthur.
"Dia dilindungi," kata Arthur menggenggam tangan gadis itu sambil mengingat-ingat penghuni mobil yang tadi, "Tapi kenapa terdapat wanita dan anak-anak juga di sana?"
"Jika kita sengsarakan wanita dan anak-anak itu, apa dia akan datang terjebak?" sebuah usul terbesit dari kepala gadis itu. Usul yang terdengar kejam namun demi kencan dengan sang kakak tercinta kelihatannya apapun akan dihalalkan. Ya, cinta memang buta sih, pikir Arthur sambil menatap pohon-pohon yang kering dan pemandangan yang serba putih di sekelilingnya.
TBC
Saya seneng begitu tau ada yang suka sama cerita saya dan hits-nya masuk lumayan kyaaaa /
Banyak juga penggemar Sweden ya di sini, pantes harga merchandisenya langsung naik mendadak di auction orz meski nggak segila England sih harganya lol
Kenapa mereka berempat jadi numpang di rumah Berwald? Apa tujuan pemilik mobil perak itu? Siapa yang diincar di antara mereka bertujuh? Siapa itu Sigmund? Tunggu chapter depann yo~~
Saatnya balas review!
faneda / makasih! Ini udah diupdate nih, baca juga ya~
codename sailor D / SveIndo pasti dibanyakin, santey mbak~~
Hana/ Nggak cuma SveNes loh~ ini makin lama kayaknya merambah ke aneka pair lol. NorBel? Siap! Di sini Lukas nggak gay kok, cuma sering ngegodain Emil dan protes sama kegajean Den 'w'
Brownchoco / Iyaaaaa Swedeeeeeennn!
fishika / Nekssuuu /
tfixs / makasih ya! seneng deh ada yang suka sama kata-kata "kakanda" dan "adinda" selain saya~
Maap kalo pendek, saya ngerjain juga sambil ngantuk. Oh iya, doakan saya lulus SBM ya chemans-chemans~~
Kenapa mereka berempat jadi numpang di rumah Berwald? Apa tujuan pemilik mobil perak itu? Siapa yang diincar di antara mereka bertujuh? Siapa itu Sigmund? Tunggu chapter depann~~
