Previous...

"Kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu pergi dariku." Katanya tertawa getir menatap kedalam mata yang selalu membuatnya terjatuh setiap saat.

Luhan tidak menolak tatapan itu, sebaliknya-..dia kembali menatap Sehun dengan tegas namun tak menghilangkan luka yang sama dengan yang Sehun rasakan "Untuk kali ini aku akan bertahan-..Aku tidak akan mempedulikan bagaimana caramu untuk membuatku pergi-.. Aku akan bertahan."

Kedua mata itu saling menatap dengan caranya masing-masing dimana yang satu menatap dengan kemarahan dan yang lain menatap meyakinkan, tetapi tak bisa saling menyembunyikan bahwa kedua tatapan itu memiliki rasa rindu yang teramat dalam yang ditujukan untuk masing-masing dari keduanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari ketujuh Luhan bekerja sebagai asisten Sehun. Dan selama tujuh hari itupula dirinya selalu salah dimata Sehun.

Sehun akan menyalahkan Luhan untuk semua yang dia lakukan baik untuk masalah pekerjaan atau hanya masalah kecil seperti memesan minuman yang sebenarnya tepat namun kembali disalahkan oleh Sehun.

Seperti saat ini misalnya, Sehun baru saja memaki Luhan di rapat penting yang dipimpin langsung oleh Sehun dengan pamannya yang juga menghadiri rapat penting siang ini.

Luhan bersumpah sudah berusaha mengerjakannya dengan benar, dia bahkan rela selalu pulang malam hanya untuk hari ini. Namun sepertinya usahanya sia-sia karena apapun yang dia lakukan selalu salah dimata Sehun.

Luhan kembali menghela nafasnya dan tetap bertekad harus bermental baja karena Sehun sepertinya benar-benar akan melakukan segala cara untuk membuatnya pergi.

Dan saat ini dia sudah berada dimejanya dan dalam proses untuk membuat seluruh laporannya dari awal sampai pemimpin tertinggi di perusahaan itu berdiri didepannya.

"Aku ingin bicara denganmu."

Luhan sedikit terkesiap menyadari tak ada perbedaan dari cara Sehun dan Yunho jika berbicara dengannya, membuatnya sedikit tertawa dan tak lama mengikuti Yunho ke ruangannya.

"Duduk."

Yunho sedikit menoleh ke arah Luhan yang hanya berdiri didepannya.

Luhan pun mengangguk dan segera menarik kursi sehingga dia bisa bertatapan langsung dengan Yunho.

"Aku sudah menemukan beberapa kejanggalan yang dilakukan pamanku. Dan seperti katamu, dia selalu mengatasnamakan Sehun untuk melindunginya."

Yunho menunjukan beberapa dokumen yang setelah ia selidiki memang merupakan dokumen yang dilakukan pamannya mengatasnamakan Sehun.

Luhah hanya diam tak menjawab, sedikit bersyukur karena setidaknya Yunho sudah mengetahui segalanya dan bisa melindungi adiknya sendiri.

"Dan untuk ayahmu."

Keduanya menegang saat topik seseorang yang tak pernah disebutkan akhirnya diucapkan. Masih jelas terlihat kemarahan yang terdapat di mata Yunho sementara penyesalan juga sangat terlihat di wajah Luhan.

"Semua ini memang hanya kesalahpahaman. Tapi sepertinya ayahmu sudah dibutakan oleh kebenciannya dan akhirnya membunuh kedua orang tuaku dengan keji."

"Apakah salah jika seorang ayah melakukan apapun untuk melundungi keluarganya? Untuk istri dan satu-satunya darah dagingnya. Dia kehilangan seluruh harta bendanya, dia tidak diterima di tanah kelahirannya sendiri setelah kasus mengerikan ini. Dia bahkan diancam untuk dipisahkan dari anak dan istrinya yang akan dibawa ke panti sosial. Cobalah berfikir dan membayangkan bagaimana jika kau berada di posisinya."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Luhan akhirnya berani membuka suaranya dan mengungkapkan hal yang sangat mengganggunya. Kenyataan kalau dirinya dan ibunya akan dibawa ke panti sosial adalah hal yang membuatnya paling merasa kecewa dan tidak menyangka bahwa semua kesalahpahaman ini memang dari awal merugikan dirinya dan keluarganya.

"Maaf aku lancang mengatakan hal yang tidak sopan. Aku juga baru tahu kebenarannya seminggu yang lalu."

Luhan kemudian menyadari kesalahannya yang menantang seorang Yunho yang tampak semakin tak menyukainya.

"Bukankah kita sama-sama korban disini?"

"Ya...Tapi bedanya orangtuaku tidak sekeji ayahmu."

"Kalau kau mau aku akan memberikan nyawaku untuk kau dan Sehun agar semua menjadi sama!"

Yunho menatap dalam ke mata Luhan. Disana terlihat jelas kalau dia memang terluka dan lelah. Dia mungkin sangat kejam meminta Luhan untuk membantunya sementara Sehun masih terus menatap benci padanya. Tapi dia tidak mempunyai pilihan lain karena satu-satunya yang bisa mengalihkan perhatian Sehun hanya Luhan sementara dirinya bekerja untuk mencari bukti sebanyak mungkin dan menjauhkan pamannya dari adiknya.

Yunho menghela nafasnya berat dan memutuskan untuk mengakhiri perbincangan yang bisa membuat amarahnya dan Luhan sama-sama terpancing.

"Jadi bagaimana harimu menjadi asistennya? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"

Luhan sedikit terdiam dengan pertanyaan Yunho sampai akhirnya dia tersenyum lirih menatap kakak kandung dari pria yang masih sangat ia cintai sampai saat ini.

"Jika memaki dan menyalahkanku untuk segala hal termasuk memperlakukan dengan baik. Maka ya…. Wakil direktur memperlakukanku dengan sangat baik." katanya menjawab Yunho tersenyum getir.

Yunho sedikit mengernyit tak menyangka kalau adiknya benar-benar berubah sikap pada Luhan.

"Kau akan tetap bertahan kan? Setidaknya sampai aku menemukan bukti yang kuat untuk membawa pamanku menjauh dari Sehun."

Luhan kembali tersenyum pahit menyadari dirinya dibutuhkan hanya sebagai pelampiasan kemarahan Sehun. Dia kembali menatap Yunho meyakinkan pria yang hingga saat ini selalu ia kagumi sebagai sosok yang hangat dan bijak.

"Aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan melakukan apapun untukmu dan wakil direktur. Jika kau menyuruhku pergi aku akan segera pergi. Jika kau memintaku untuk mati aku dengan senang hati akan melakukannya. Kau tidak perlu khawatir direktur. Saya permisi."

Luhan sudah bangun dari kursinya sampai seseorang membuka pintu ruangan Yunho dengan terburu dan sedikit membeku saat melihat Luhan berdiri didepannya.

"Luhan? Jadi kau benar-benar kembali?"

Luhan tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat seorang pria yang menurutnya sangat cantik sedang berlari ke arahnya dan memeluknya erat. "Aku senang sekali bisa melihatmu lagi? Apa kau baik-baik saja?"

Luhan hanya mengangguk menjawab pertanyaan kakak ipar Sehun saat ini, karena jujur saja bertemu kembali dengan Jaejoong benar-benar tak terlintas untuknya.

"Sayang kenapa kau tiba-tiba datang?"

Terlihat Yunho berjalan menghampiri Jaejoong menciumnya sekilas dan menggendong putranya yang sedari tadi mengekori istrinya dibelakangnya.

"Halo jagoan ayah." Yunho menciumi Haowen dengan gemas membuat Luhan tanpa sadar tersenyum karenanya.

"Eomma.." Haowen meminta Jaejoong untuk menggendongnya membuat Yunho sedikit merengut karenanya. Dan setelah berada di gendongan Jaejoong, Haowen kembali berulah dengan meminta Luhan untuk menggendongnya.

"Kau menyukai Luhan hmmm?" Jaejoong menggoda putra kecilnya yang terus meminta Luhan menggendongnya, Namun tentu saja Luhan tak langsung menerimanya karena tahu Yunho akan kesal setelahnya.

"Panggil Luhan samchon nak." Jaejoong memberitahu Haowen yang tampak bersemangat membuka mulutnya.

"Lu-..Lu. Lulu."

Jaejoong tertawa karena sepertinya Haowen memang menyukai Luhan dan terus meminta agar Luhan menggendongnya.

"Luhan apa kau tidak keberatan membelikan Haowen ice cream?" Jaejoong bertanya pada Luhan yang tampak ragu dan bingung.

"eh? Apa boleh aku membawa anakmu hyung?"

"Tentu saja boleh. Iya kan sayang?" Jaejoong bertanya pada Yunho sedikit memaksa.

Yunho kemudian menatap Luhan dalam-dalam dan mengangguk memperbolehkan putranya pergi bersama Luhan "Ya tentu saja. Dan kau harus cepat membawanya kembali." Katanya memberitahu Luhan yang kini memandang lucu pada Haowen sepenuhnya.

"Nama putraku Haowen dan dia terlihat sangat menyukaimu." Jaejoong menyerahkan Haowen pada Luhan yang langsung dengan sigap menggendongnya.

"Nah Haowen. Namaku Luhan." katanya memberitahu Haowen yang hanya memeluk lehernya erat dan terus melonjak di pelukan Luhan.

"Lu-lu….Lulu."

Luhan tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya dan merasa kalau Haowen sangat tampan seperti ayah dan pamannya. "Cepat pergi dan belikan dia ice cream. Aku menunggu disini."

Luhan pun mengangguk bersemangat dan meninggalkan ruangan Yunho dengan Haowen di pelukannya.

Sepeninggal Luhan dan Haowen. Yunho menghampiri istrinya dan mengecupi tengkuk leher Jaejoong bertubi-tubi membuat Jaejoong sedikit terkekeh karenanya.

"Baby.."

"Hmmm.." Yunho menggumam menjawabb istrinya.

"Kau tidak sedang melakukan sesuatu pada Luhan kan?"

Yunho menghentikan kegiatannya dan meletakkan dagunya di bahu istrinya "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Jaejoong kemudian berbalik dan memeluk suaminya erat "Entah apa yang sedang kalian lakukan. Tapi Luhan, kau dan Sehun. Kalian bertiga terlihat menderita. Aku mengkhawatirkan dirimu." Gumam Jaejoong dipelukan Yunho.

Yunho tersenyum getir karena tebakan istrinya begitu menamparnya saat ini. Kenyataan bahwa dirinya terus berbuat jahat pada Luhan. Kenyataan dirinya memanfaatkan Luhan untuk menolong Sehun dan kenyataan bahwa setiap ucapan yang dia lontarkan menyakiti Luhan membuatnya merasa bersalah.

Yunho selalu menyayangi Luhan seperti dia menyayangi adiknya sendiri. Tapi semuanya berubah saat dirinya mengetahui siapa Luhan. Luhan memang tidak bersalah, dia tumbuh menjadi pria yang sangat baik dan peduli pada orang-orang terdekatnya. Dia tumbuh menjadi seseorang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Dia masih mencintai adiknya dengan tulus sampai saat ini, semuanya terasa benar untuk Luhan. Semua-….kecuali kenyataan tentang dirinya adalah putra dari seseorang yang membunuh kedua orang tuanya, membuat Yunho maupun Sehun belum bisa menerimanya karena hal itu masih menyisakan trauma mendalam baik untuknya maupun adiknya.

..

..

..

Sementara Luhan masih membawa Haowen dengan semangat untuk pergi ke kedai ice cream. Haowen sangat menyukai Luhan, terlihat dari tingkahnya yang terus menciumi bibir Luhan walaupun Luhan tak memintanya dan saat bocah tiga tahun itu selalu menangis kalau Luhan memintanya untuk berjalan, membuat Luhan tak punya pilihan lain selain menggendong Haowen sampai ke kedai ice cream yang berada tak jauh dari perusahaan keluarga Oh.

Luhan baru saja menyebrang ke kedai ice cream bersamaan dengan Sehun yang baru kembali dari rapatnya di luar. Sehun yang sedang melamun sedikit menggeram karena sangat mengenali keponakannya yang kini sedang bersama Luhan dan terlihat tertawa senang karenanya. Entah kenapa hal itu membuatnya kesal dan segera keluar dari mobilnya untuk mengambil Haowen dari Luhan.

"Lulu-..chocolate."

"Kau mau coklat? Ice cream coklat?"

Haowen mengigit ibu jarinya dan mengangguk bersemangat, membuat Luhan tertawa karena Haowen terlihat begitu mengiginkan ice creamnya.

"Baiklah ahjussi, pesan dua ice cream coklat." Luhan membenarkan gendongannya pada Haowen dan memesan dua ice cream coklat.

"Terimakasih ahjussi." Luhan memberikan selembar uangnya pada pemilik kedai dan mengambil satu ice cream yang sudah siap dan segera memberikannya untuk Haowen.

"Ini milik-…"

Luhan sedikit membelalak melihat ice cream yang berada di genggamannya jatuh begitu saja ke lantai dan dalam sekejap ada seseorang yang mengambil paksa Haowen dari pelukannya membuat si kecil menangis tak suka karena sudah tak berada di gendongan Luhan.

"Berani-beraninya kau membawa Haowen bersamamu. APA KAU BERNIAT MENYAKITI HAOWEN HAH?!"

Luhan sedikit terkesiap karena suara teriakan dari pria yang sangat ia kenali benar-benar membuatnya terkejut ditambah dengan makian yang membuat semua orang kini menatap ke arahnya. Sementara Luhan berusaha menulikan pendengarannya. Sehun terus saja berteriak sementara Haowen menangis karena ice cream nya yang jatuh dan kesal pada pamannya karena membuat Lulu kesayangannya kini hanya menunduk sementara dirinya terus berteriak.

"Ini terakhir kalinya aku melihatmu mendekati keluargaku. Menjauh dari mereka atau kau akan menyesalinya."

Luhan tersenyum pahit saat mendengar kemampuan Sehun untuk menganggapnya seperti sampah sangat melebihi orang-orang yang sebelumnya sangat ia membenci. Dia kemudian memberanikan diri menatap Sehun dengan seluruh luka yang terlihat di wajahnya.

"Aku memang anak seorang pembunuh. Tapi aku bukan pembunuh."ujarnya bergetar menahan rasa sakit hatinya saat harus kembali menatap pria yang dia cintai begitu sangat membencinya.

"Dan jangan khawatir tentang keluargamu. Aku bersumpah tidak akan pernah mendekati keluargamu. Tidak siapapun termasuk anda wakil direktur. Saya permisi."

Luhan menghapus cepat air matanya dan berjalan meninggalkan Sehun yang terdiam dengan Haowen yang terus berteriak memanggil Luhan untuk kembali.

..

..

..

"Astaga Sehunna. Apa yang kau lakukan pada Haowen? Kenapa dia menangis?"

Jaejoong memekik melihat putranya dengan wajah yang sudah memerah sedang berteriak di gendongan Sehun. Dia pun kemudian mengambil Haowen dan langsung mendekap erat putra tunggalnya.

"Kenapa kau bersama Haowen? Dimana Luhan?" katanya bertanya pada Sehun yang hanya diam mengangkat kedua bahunya.

"Lulu-..." Haowen terisak memanggil Luhan membuat Sehun mendengus kesal mendengarnya.

"Ayolah Hyung...kenapa kau membiarkan Haowen pergi bersamanya? Dia hanya akan membawa bencana di keluarga kita."

Yunho yang sedang duduk di kursinya dan melihat tingkah keluarga kecilnya hanya tersenyum pahit mendengar adiknya yang dulu begitu melindungi Luhan kini berbalik sangat membencinya.

"Dia mungkin bencana untukmu. Tapi tidak untukku dan Haowen. Jadi cepat cari dia dan bawa dia kesini. Aku ingin bicara padanya."balasnya menatap Sehun dengan kesal.

"Hyungg...~" Sehun sedikit merengek menyembunyikan wajahnya di bahu Jaejoong.

"Jangan berulah Sehunna. Cepat cari Luhan."

"Tidak mau."

"Ah tidak mau ya? Kalau begitu aku akan membawa Haowen ke Jepang dan kau tidak akan bisa melihat keponakanmu lagi."

"Kau tidak akan berani hyung." Sehun terkekeh menatap Jaejoong yang tampak marah.

"Kau menantangku?"

"Sehun..."

Kali ini suara Yunho yang menginterupsi mengingatkan adiknya untuk tidak menantang istrinya yang memang akan selalu berbuat nekat jika ada yang menantangnya dan membuatnya sangat kesal.

Sehun memandang kakaknya cukup lama kemudian kembali memandang Jaejoong yang sedang menggerutu dan kembali memandang Haowen yang juga terlihat kesal padanya.

"Baiklah baiklah….Aku akan mencarinya dan memintanya kesini."

Sehun mendengus kesal dan segera meninggalkan ruangan Yunho untuk segera mencari Luhan.

Sementara Sehun terus menggeram kesal karena ternyata Luhan masih saja mengganggunya. Secara teknis memang Luhan tidak benar-benar mengganggunya tapi pria yang pernah menjadi segalanya untuknya itu terus mengganggu pikirannya tanpa henti mulai dari hari dia pergi hingga saat dimana dia kembali dan sudah hampir seminggu ini menghabiskan waktu bersamanya hampir dua puluh jam karena berada di tempat yang sama dengannya. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah karena ternyata pria yang masih sangat cantik untuknya itu bukan hanya mengganggu pikirannya, Luhan secara tegas membuktikan dirinya tidak bisa begitu saja dilupakan bahkan untuk Jaejoong dan Yunho dan kini keponakannya lebih memilih Luhan daripada dirinya.

"Well…Aku semakin tidak menyukainya sepertinya." Gumam Sehun asal dan

Cklek!

Dia mengernyit saat tidak mendapati Luhan di ruangannya.

Dia memutuskan bahwa tempat pertama yang akan ia datangi untuk mencari Luhan adalah ruangannya. Karena asisten dadakannya itu memang selalu berada disana untuk mengerjakan semua pekerjaan berlebihan yang selalu ia berikan di meja yang berada tepat di sebelah meja kerjanya. Berlebihan memang hanya untuk seorang asisten berada di samping atasannya. Tapi itu semua permintaan Yunho dan Sehun tentu saja tidak bisa menolak permintaan kakaknya jika sudah menyangkut pekerjaan.

"Luhan…sebelah sini!"

Sementara Sehun yang masih berdiri di pintu ruangannya mendengar salah satu karyawannya memanggil Luhan membuatnya refleks menoleh dan sedikit mengernyit mendapat beberapa orang mengerumuni Luhan yang sedang berada di meja kerja salah satu kantornya.

Dia kemudian mendekati arah kerumunan tersebut dan sangat kesal mendengar percakapan menyebalkan seorang senior kepada juniornya.

"Jadi apa kau benar-benar tidak mengambil libur di malam natal dan tahun baru? Apa aku boleh meminta kau mengerjakan laporanku. Kekasihku memintaku menemaninya berlibur Lu."

"Luhan aku juga minta tolong padamu bolehkan? Semua laporan ini harus selesai awal tahun."

"Ya tentu saja…kalian semua tenang saja. Aku akan mengerjakan semuanya dengan cepat."

"Whoaa Luhan yang terbaik!"

Terlihat semua karyawan menepuk bahu Luhan berterimakasih. Membuat seseorang yang sedang berjalan mendekati mereka semakin kesal merasa semua karyawannya bertindak sesuka mereka sendiri.

"Oia Lu, memangnya kau benar-benar tidak berlibur? Kau tidak merayakan natal bersama keluargamu?"

Sehun sedikit berhenti saat dengan jelas melihat raut wajah Luhan yang sedari tersenyum tiba-tiba mengeras dan hanya memandang kosong kedepan komputernya.

"Aku tidak punya keluarga."

Beberapa karyawan merasa tak enak hati mendengar jawaban mereka sementara yang lain terus menerus bertanya hal pribadi tentang dirinya "Lalu bagaimana dengan teman-temanmu?"

"Aku juga tidak punya teman."

"Ah-…Kau pasti hanya ingin berbagi waktu dengan kekasihmu ya?"

Luhan menghela nafasnya mulai merasa risih dengan semua pertanyaan yang diberikan padanya dan berniat untuk meminta teman-temannya hanya menyerahkan pekerjaan mereka dan tidak bertanya hal pribadi padanya.

"Ambil seluruh pekerjaan dan laporan kalian dari meja itu dan cepat pergi."

Semua menoleh dan sedikit terkejut mendapati Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri disana dan sedang memandang tajam ke seluruh karyawannya termasuk Luhan.

"CEPAT!"

Semua tersentak kaget saat tiba-tiba Sehun berteriak dan dengan otomatis mereka mengambil seuruh laporan yang sudah diserahkan pada Luhan, meninggalkan Luhan di meja kerjanya yang hanya tertunduk tak berani menatap Sehun.

Sehun kemudian kembali berjalan mendekati Luhan menatapnya tajam tak berkedip "Ikut aku ke ruangan direktur."

Suaranya begitu dingin dan menusuk membuat Luhan hanya kembali memejamkan matanya dan kembali menghela nafasnya karena tak punya pilihan lain selain mengikuti perintah atasannya.

Tok…tok..

Luhan mengetuk pelan pintu ruangan Yunho dan saat mendapat izin untuk masuk dia kemudian perlahan membuka pintunya dan measa sedikit canggung mendapati seluruh keluarga Oh tengah berkumpul dan sepertinya sedang kedatangannya.

"Luhan…masuklah."

Haowen yang sudah setengah tertidur di pelukan ibunya kembali membuka mata dan mencari-cari keberadaan Luhan saat ayahnya memanggil nama Luhan dan tersenyum senang saat melihat Luhan sedang berdiri didepan pintu

"Lulu~"

Luhan tersenyum sedikit melambai ke arah Haowen yang kembali sibuk meminum susunya di botol.

"Luhan masuklah."

Jaejoong kembali mengulang membuat Luhan perlahan berjalan mendekat dan merasa ingin menghindari tatapan Sehun dan Yunho yang membuatnya merasa sangat bersalah berdiri ditengah-tengah keluarga bahagia mereka.

"Apa kau baik-baik saja?"

Luhan sedikit bingung saat Jaejoong bertanya tentang kabarnya, dia kemudian sedikit tersenyum dan mengangguk pelan "Saya baik-baik saja direktur."

"Aku bukan direktur jadi jangan memanggilku seperti itu." Jaejoong tampak tak suka dan mengoreksi Luhan yang sekarang menjadi serba salah.

"Ulangi jawabanmu."

"Aku baik-baik saja hyung."

Jaejoong tersenyum dan menyerahkan Haowen pada Yunho lalu kemudian berjalan mendekati Luhan. "Aku rasa kau jauh dari kata baik." Gumamnya memeluk Luhan sekilas.

"Apa kau ada rencana sabtu malam nanti?"

Luhan menggeleng lemah sebagai jawaban masih berusaha menghindari kontak mata berlebihan dengan Jaejoong karena tak mau mendengar cibiran dari dua bersaudara yang sudah sangat membencinya saat ini.

"Bagus kalau begitu. Aku ingin mengundangmu ke acara makan malam keluarga sabtu nanti. Semua datang termasuk Kai dan Kyungsoo. Kau mau kan?"

"HYUNG!"

Sehun bereaksi terlalu cepat membuat Luhan dan Jaejoong tersentak bersamaan. Namun yang satu menunjukan ekspresi kesalnya dan yang lain sudah ingin menangis karena terus dibentak oleh atasannya yang terlihat sangat tak menyukainya.

"Sehun minta maaf pada Jaejoong." Yunho sudah sangat mengenal wajah Jaejoong jika sudah marah. Dan jika istrinya marah itu sama sekali tidak baik untuknya dan Sehun. Dan keduanya sangat mengetahui hal itu.

"Tapi hyung-..Jongie hyung tidak perlu mengundang orang asing ke acara makan malam keluarga kita. Seohyun dan Seunggi akan berada disana malam itu."

Jaejoong menaikan kedua alisnya dan berjalan mendekati adik iparnya dengan mata menyalang kesal dan marah "Bagaimana seseorang yang tumbuh besar denganmu bisa menjadi orang asing Sehunna? Dia bahkan lebih lama mengenalmu dan Yunho jauh sebelum aku bertemu kalian. Dia bagian keluargamu juga, seseorang yang pernah menjaga kau dan Yunho begitu lama. Seseorang yang juga merasakan sakit jika kalian berdua terluka. Jadi katakan padaku bagaimana bisa Luhan adalah orang asing?"

Jaejoong sudah berkaca-kaca mengucapkan kalimatnya, tak tega membayangkan bagaimana perasaan Luhan saat ini. "Luhan akan tetap ikut makan malam keluarga kita. Jika dia tidak datang, aku juga tidak." Katanya menghapus air matanya dan berjalan mengambil Haowen, menatap suaminya penuh luka. Lalu kemudian berjalan meninggalkan ruangan Yunho.

Luhan merasa ingin menghabisinya dirinya saat ini, karena lagi-lagi dia membuat sebuah keluarga bertengkar hanya karena dirinya yang tidak berguna ini.

"Maaf atas semua kekacauan ini direktur. Saya akan berlari mengejar istri anda dan menjelaskan semuanya. Saya permisi."

Luhan yang sudah tak tahan berada lebih lama dengan Yunho dan Sehun mengeluarkan suaranya dan memutuskan untuk memberi pengertian pada Jaejoong agar tak bersikap keras pada kedua bersaudara didepannya ini.

"Datanglah."

Luhan menghentikan langkahnya saat mendengar suara Yunho yang terdengar seperti Yunho untuknya-..Yunho yang selalu memperlakukannya lembut dan terlihat menyayanginya seperti dia menyayangi adiknya sendiri.

Luhan kemudian membalikan tubuhnya dan menatap Yunho yang kini sedang memandangnya "Datanglah sabtu malam nanti. Aku tidak ingin istriku membenciku dan Sehun hanya karena kau Luhan."

Sekali lagi hatinya tergores, sekali lagi hati itu berdenyut. Semua yang ia kira akan menjadi lebih baik ternyata semakin hancur. Dia kemudian hanya tersenyum mengutuk keras dirinya untuk meneteskan air matanya. Karena daripada Yunho, Luhan lebih memilih Sehun yang berbicara kasar padanya.

"Baiklah saya mengerti direktur. Permisi"

Suara itu tak lagi sama, sudah bergetar hebat dan tersakiti. Membuat Sehun menoleh ke arah kakak kandungnya dan tak menyangka bahwa Yunho juga memiliki rasa tak suka pada Luhan dan sepertinya rasa bencinya melebihi rasa benci yang ia miliki untuk Luhan.

..

..

..

Dan sabtu malam pun tiba. Saat ini Luhan sedang berada di bis dan sedang menikmati rasa gugup berlebihannya karena sebentar lagi akan kembali menginjakkan kakinya ke tempat dimana hampir seluruh cerita tentang hidupnya berada disana.

Luhan sudah bersiap untuk turun di halte berikutnya dan ketika dia melangkahkan kaki keluar bis, sekelibat kenangan kembali memutar sendiri kisahnya didalam pikirannya. Saat ini Luhan sedang memandang tempat dimana dia menunggu Sehun jika Sehun bersikeras untuk menjemputnya, bibir itu menyunggingkan senyum khasnya seolah membiarkan seluruh kenangan itu berputar sendiri karena entah mengapa itu membuat dirinya merasa sangat hangat.

Luhan menghela pelan nafasnya dan kemudian memutuskan untuk berjalan menelusuri dinginnya malam menuju kerumah yang mungkin sesaat lagi akan membuat dirinya kembali memanas.

"Luhan?! Astaga!"

Luhan sedikit merasa risih karena setiap kali seseorang memanggilnya dengan nada terkejut itu artinya dia akan segera mendapat masalah.

"Omo! Omo! Baby ini benar-benar Luhan!"

Luhan terperanjat melihat wajah sahabatnya yang terlihat tak berbeda sama sekali. Bahkan dirinya merasa Kyungsoo sudah menjadi sangat dewasa seiring berjalannya waktu.

"Kyungie." lirihnya tersenyum sangat merindukan sahabatnya.

"Luhan….Luhannieku."

Kyungsoo memeluk erat Luhan sedikit terisak saat akhirnya bisa kembali bertemu dengan teman dekatnya.

Sementara Luhan tak kalah berbahagianya disaat semua orang berubah sikap padanya, tapi tidak demikian dengan Kyungsoo dan Kai yang kini tersenyum memandang Luhan.

"Masuklah… Jongie hyung bilang kau akan datang. Dia pasti sudah menunggumu."

Kai menginterupsi Kyungsoo dan Luhan yang masih saling berbagi rasa rindu.

"Jadi kau sudah tahu kalau malam ini Luhan akan datang?" Kyungsoo bertanya menyelidik pada kekasihnya.

"Ini kejutan untukmu baby." katanya merangkul pinggang Kyungsoo membuat Luhan tersenyum senang melihat kedua temannya masih saling menjaga hingga saat ini.

"Luhan ayo kita pergi." Kyungsoo merangkul lengan Luhan dan membawanya ke dalam mobil mengabaikan Luhan yang menjadi kembali memucat karena sebentar lagi benar-benar akan kembali kerumah yang sudah ia tinggalkan.

BLAM..!

Kai menutup pintu mobilnya lalu berjalan merangkul pinggang Kyungsoo diikuti Luhan yang berjalan dibelakang Kai dan Kyungsoo.

Ting tong….Ting Tong…

Cklek…!

"Ah kalian sudah sampai? Cepat masuk kalian terlambat."

Sehun menyapa Kai dan Kyungsoo yang baru tiba dan langsung mengajak kedua temannya untuk segera masuk.

"Ayo kita masuk."

Sehun mengernyit melihat Kyungsoo mengajak seseorang dan saat orang itu berdiri tepat disamping Kyungsoo, Sehun mendengus tak percaya melihat kehadirannya.

"Kau benar-benar datang?" katanya bertanya sengit pada Luhan.

"Jaga mulutmu. Luhan datang untuk Jongie hyung bukan untukmu." Kai mendesis memperingatkan Sehun untuk tidak membuat kacau acara makan malam di keluarga hari ini.

"Baby ayo kita masuk." Kai kembali menggenggam tangan Kyungsoo meninggalkan Luhan dan Sehun di pintu masuk.

"Aku janji akan segera pergi."

"Sebaiknya begitu." Sehun berucap dengan nada kasarnya dan meninggalkan Luhan sendiri di pintu masuk membuat Luhan diam di tempatnya untuk beberapa saat sampai akhirnya dia memutuskan untuk segera bergabung dan cepat pergi dari rumah ini.

"Ah Luhan kau sudah datang. Gomawo mhhhmm." Jaejoong menyapa Luhan dan kemudian memeluknya sekilas.

"Lulu.."

Luhan kembali merasa canggung saat Haowen yang sedang berada di pelukan Kai langsung mengenalinya saat Luhan berada didekatnya.

"Whoaa Haowennie-..seleramu benar-benar bagus." Kai mencium gemas bibir keponakannya dan membawa Haowen mendekati Luhan.

"Luluuuu!"

Luhan masih tidak bergeming di tempatnya saat Haowen kembali memintanya untuk menggendongnya, dia menggeleng lemah menatap Kai membuat Kai sedikit bingung dan menatap Jaejoong "Bawa Haowen langsung ke meja makan Kai. Kami segera menyusul."

"Ah begitukah? Baiklah aku mengerti." Gumam Kai yang langsung mengalihkan perhatian Haowen dan membawanya ke meja makan.

"Luhan apa kau baik-baik saja?" Jaejoong bertanya melihat raut wajah Luhan yang tampak tertekan.

Luhan tersenyum simpul mendengar pertanyaan Jaejoong, menggenggam kedua tangan Jaejoong yang terasa hangat "Aku baik-baik saja hyung." Gumamnya meyakinkan Jaejoong yang merasa tak enak hati padanya.

"Kau sudah datang?" kali ini suara Yunho yang menyapanya.

"Selamat malam direktur." Luhan sedikit membungkukan badannya menyapa Yunho saat Yunho merangkul pinggang istrinya.

"Cepatlah masuk. Semua sudah menunggu." Katanya memberitahu Luhan dan kemudian membawa Jaejoong untuk segera menuju ke ruang makan.

"Sebenarnya apa yang aku lakukan disini." Gumam Luhan yang ingin sekali berlari keluar pintu dan meninggalkan semua yang terus menerus membuatnya ingin segera mengakhiri hidupnya.

"Luhan, ayo kita makan. Kau pasti lapar." Kyungsoo kembali menghampiri Luhan dan merangkul Luhan membawa temannya itu untuk segera bergabung di meja makan.

Makan malam itu pun berjalan dengan sangat canggung untuk Luhan. Disaat semua orang tertawa membicarakan banyak hal, dia hanya diam dan mendengarkan. Dia mengenal semua orang yang merupakan keluarga dari pihak Yunho dan Sehun yang kini memandang benci pada dirinya saat mengetahui dia adalah putra penyebab kematian orang tua Sehun. Mereka semua hanya tersenyum dipaksakan pada Luhan karena Jaejoong. Selebihnya, saat Jaejoong sedang mengurus Haowen hanya sindiran yang ia dapatkan. Luhan juga sesekali bertemu pandang dengan pria paruh baya yang duduk persis didepannya. Pria tua yang menjadi alasan Luhan kehilangan kebahagiaannya baik bersama orang tuanya maupun dengan Sehun. Dan sisa dari para tamu undangan yang datang adalah kebanyakan dari pihak Jaejoong dan sebagian merupakan kerabat dekat atau relasi terdekat dari Yunho.

Luhan juga sesekali memergoki Sehun menatap ke arahnya, namun saat kedua mata mereka bertemu Sehun mengalihkannya dan berbicara pada wanita yang berada disamping kanan dan kirinya. Wanita yang berada di samping kanan Sehun adalah wanita yang sama yang hampir menikah dengan Sehun, wanita yang ia ketahui bernama Seohyun itu sekarang terlihat berbahagia bersama suaminya yang juga mendatangi jamuan makan malam di rumah Yunho.

Sementara wanita yang berada di samping kiri Sehun terlihat sangat cantik untuk Luhan, dia sesekali tersenyum dan berbisik pada Sehun membuat Sehun tertawa. Membuat Luhan yang duduk didepan Sehun menyadari kalau ini adalah kali pertama ia melihat Sehun tertawa setelah tiga tahun lamanya.

"Umhh…. Sepertinya ada pasangan yang ingin memberitahu kabar gembira untuk kita." Yunho memulai percakapan di meja makan kemudian memangku Haowen dan memandang Kai dan Kyungsoo dengan tatapan menggodanya.

"Ayolah hyung. Kami bisa memberitahukannya nanti." Protes Kai yang merasa menjadi sangat malu karena seluruh mata memandangnya saat ini.

"Memberitahu apa?" kini Sehun yang bertanya menatap Kai dan Kyungsoo bergantian.

"Baby kau saja yang bilang." Kyungsoo menyenggol Kai yang tampak menghela nafas.

"Hah baiklah~. Karena ini acara makan malam keluarga besar. Aku juga akan membawakan berita besar malam ini." ujar Kai menatap satu persatu anggota keluarganya.

"Aku dan Baby Soo. Kami berdua akan melangsungkan pernikahan kami bulan depan." Kai kembali menggenggam tangan Kyungsoo dan menatap percaya diri kepada seluruh keluarga besarnya.

"Kami mohon doa dan restu dari semua yang hadir malam ini."

"Whoaaa Kyungie oppa selamat ya." Seohyun mengucapkan selamat pada Kyungsoo yang tampak merona malu.

"Aku tidak percaya aku didahului oleh kalian berdua. Tapi aku senang kalian akhirnya benar-benar bisa bersama. Selamat ya." Sehun berdiri di tengah-tengah Kai dan Kyungsoo mengucapkan selamat pada keduanya sementara Luhan hanya tersenyum menatap kedua calon pengantin sebagai ucapan selamatnya.

Dan setelahnya terdengar ucapan selamat untuk Kai dan Kyungsoo yang saat ini benar-benar sangat berbahagia.

"Saya senang sekali mendengar berita pernikahan Direktur Kim dan terimakasih telah mengundang kami ke acara makan malam keluarga anda direktur Oh."

Salah seorang relasi Yunho membuka percakapan dengan Yunho yang memang sedari tadi sibuk bermain dengan putranya.

"Ah jangan sungkan direktur Choi. Saya yang harusnya berterimakasih karena anda dan putri cantik anda sudah bersedia datang."

"Tidak masalah direktur Oh. Kami memang ingin mengenal seluruh keluarga anda. Ah-..karena direktur Kim baru saja mengumumkan tentang rencana pernikahannya. Bukankah ini juga saat yang tepat untuk mengumumkan berita tentang pertunangan adik anda dan putri saya?"

Uhuk….!

Sehun tersedak minumannya sementara yang lain terdiam dan Luhan saat ini merasa seperti dihantam dengan batu keras tepat di hatinya.

"H-hyung apa maksudnya?" Sehun bertanya bingung pada Yunho yang tampak menatap tak suka pada direktur Choi.

"Pertunanganmu dan Seohyun gagal karena Seohyun sudah memiliki kekasih. Sementara Sulli belum memiliki kekasih dan aku lihat kau dan Sulli sudah sangat dekat. Jadi aku berencana untuk membuat kalian dalam status yang jelas."

"Status yang jelas bagaimana maksudmu?" katanya menuntut pada Yunho.

"Oppa, apa kau tidak mau menikah denganku?"

"Menikah?" Sehun mengernyit merasa bingung dengan pertanyaan Sulli. Dia dan Sulli serta Seohyun memang saling mengenal karena Yunho dan kedua orang tuanya keduanya merupakan teman dekat mendiang ayahnya. Tapi Sehun benar-benar hanya menganggap keduanya sebagai adik dan tak pernah mempunyai sedikitpun perasaan pada keduanya.

Sementara Luhan hanya bisa menundukan kepalanya mendengar semua percakapan yang bisa membuatnya menggila saat ini.

"Sulli aku-…"

"Bukankah bagus Sehunna? Kau memang harus menikah dengan seseorang yang berpendidikan. Kau harusnya menyadari kalau kau telah melakukan kesalahan dengan mencintai seseorang yang merupakan putra dari seseorang yang membunuh orang tuamu kan?"

Keadaan seketika menegang saat paman Sehun menyindir kasar Luhan yang semakin memucat karenanya.

"Aku setuju Sehunnie sayang, kau pantas berbahagia dengan orang yang lebih baik. Nona Choi cantik dan berpendidikan, kalian pasti akan berbahagia. Kau juga tidak perlu menderita lagi karena mencintai seorang anak pendosa seperti mantan kekasihmu"

"hmmh… aku juga menyetujuinya. Dia tidak lebih baik dari seseorang yang harusnya tak hadir malam ini."

Luhan semakin mencengkram erat kedua tangannya merasa sangat muak dengan semua cacian yang ia terima malam ini.

"Setidaknya dia tidak mengemis seperti ibunya. Menyedihkan sekali!"

"Jangan dengar….Jangan dengar."

Luhan mati-matian menahan amarahnya saat tak hanya dirinya melainkan ibunya juga dihina membuatnya benar-benar di ujung kesabarannya sampai sebuah tangan menggengam lengannya erat.

"Kita pergi."

Entah apa yang terjadi….. Tapi saat ini Sehun sedang membawa Luhan pergi dari keadaan yang bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Membuat semua menatap tak menyangka dengan tindakan bungsu Oh yang seharusnya menjadi yang paling benci pada pria yang sedang digenggamnya saat ini.

..

..

..

"Turunlah…Maaf aku hanya bisa mengantarmu sampai halte."

Sehun tak menatap Luhan saat meminta Luhan untuk turun dari mobilnya.

Luhan hanya diam sampai dia memutuskan untuk bertanya pada Sehun "Apa kau akan-…"

"Hanya karena aku membawamu pergi darisana bukan berarti aku ingin berbicara denganmu Luhan, jadi cepat turun dan menghilang dari pandanganku."

Bibir itu tersenyum, tapi air mata itu begitu saja menetes dengan cepat dari kedua matanya. Rasanya begitu menyakitkan dan sulit menerima kenyataan bahwa orang yang kau cintai adalah orang yang paling tidak menginginkanmu dalam hidupnya saat ini.

Luhan lelah bertengkar dan lelah membuat Sehun begitu kesulitan, dia kemudian memberanikan diri menangkup wajah yang selalu menghantuinya setiap detik dan menatap kedalam mata yang selalu membuatnya merasa bersalah disaat bersamaan.

"Aku tahu keberadaanku menyakitimu. Bersabarlah sebentar lagi, aku berjanji setelah ini akan pergi dan tak akan pernah muncul lagi di kehidupanmu. Hanya bertahan sebentar lagi Sehunna, aku janji hmm" ujarnya lirih dengan air mata yang terus menerus mewakili perasaan sesak yang saat ini sedang dirasakannya.

Luhan menghela pelan nafasnya dan semakin memaksa Sehun untuk menatapnya

"Sebelum aku pergi, aku ingin kau tahu satu hal Sehunna. Saat kau mengatakan hubungan kita adalah sebuah kesalahan. Aku hancur."

"Saat kau mengucapkan perpisahan. Aku tidak bisa hidup dengan benar setelahnya."

"Aku mencintaimu-…Sangat mencintaimu." Gumam Luhan terdengar sangat putus asa menatap prianya dengan seluruh luka diwajahnya.

Luhan kemudian menatap Sehun cukup lama dan memutuskan untuk berhenti menyakiti prianya dan segera pergi dari hadapannya.

"Aku pergi. Terimakasih untuk malam ini."

Luhan sudah keluar dari mobil Sehun dengan isakan yang tak mau berhenti dari mulutnya, dia baru saja akan menaiki bis sebelum seseorang yang ternyata Sehun kembali menarik lengannya, membuat Luhan sedikit membelalak menyadari pria yang baru saja memintanya pergi kini telah melumat menuntut bibirnya.

Luhan memejamkan matanya dengan air mata yang terus mengalir entah karena terlalu bahagia atau terlalu frustasi. Membuat kecupan lembut itu menghadirkan rasa khas dari air mata, sementara Sehun terus melumat lembut bibir Luhan dengan menuntut seakan memaksa Luhan untuk melupakan apapun yang terjadi pada hubungan menyakitkan yang mereka jalani. Sampai pada akhirnya Sehun mengakhiri lumatan singkatannya dan memeluk tubuh Luhan yang terus bergetar.

"Aku mempunyai rasa sakit yang sama denganmu. Jadi berhentilah membuatku merasa bersalah karena terus membuatmu menangis. Aku juga berharap kau segera mendapatkan kebahagianmu Lu." Gumamnya tersenyum lirih sementara Luhan terus menggelengkan kepalanya menolak apapun yang saat ini Sehun ucapkan.

"Terimakasih karena kau masih mencintaiku. Tapi Hubungan kita bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan nyata cobalah membuka hatimu untuk orang lain, berbahagialah Luhan."

Sehun kemudian melepaskan pelukannya pada Luhan dan kembali menuju mobilnya tak lama menyalakan mobilnya meninggalkan Luhan sendiri di tengah dinginnya malam yang sangat menusuk.

Luhan menatap kepergian Sehun dan entah mengapa ini adalah kali pertamanya dia merasa tenang melepas Sehun, membiarkan pria yang dia cintai pergi dengan kalimat mendoakan untuknya. Dia kemudian tersenyum menghapus cepat air matanya dan menggenggam erat kedua tangannya, berjanji bahwa malam ini dia juga sudah merelakan Sehun-..Merelakan Sehun menemukan kebahagiannya sementara dia mencari kebahagiaan lain yang seperti hanya mimpi untuknya.

"Kau juga harus berbahagia Sehunna." Gumamnya tersenyum dan menaiki bis untuk memulai hari esok dengan luka baru yang ia buat sendiri.


tobecontinued...


semakin memanas kaya air termos eyaaa...

.

pihak ketiga dari Luhan mau diadain ga nih ? hahahaa!

.

ini rasa2nya endingnya gengsi dibuat happy nih klo "Karakter utamanya" sama2 giveup... #canda

.

oia urutan update selalu gini ya : Tdf selalu sama Restart...ICY sama entangled...jadi mnggu depan ICY-entangled dulu yak...:)

. apasih tripletmalem2 bawel...yauda selamat membaca dan review...:)