Kirana menatap kamarnya yang cukup luas dengan tatapan yang masih keheranan. Apa maksudnya pertempuran aneh tadi siang? Baru saja hari kedua, rasanya sudah seperti mempertaruhkan nyawa! Apalagi Berwald, saat pertama kali melihatnya dia pikir pemuda berkacamata itu adalah orang tua yang membosankan dan menyeramkan, namun ternyata dia memiliki banyak sekali sisi gentleman. Segalanya rasanya terjadi begitu cepat. Sebelum sempat ia menyadari segala yang terjadi, ia sudah kembali di tempat yang lebih asing lagi. Berpikir untuk menginap di hotel sebagai tamu sebelumnya adalah mimpi bagi Kirana, sekarang, baru saja di hari kedua, dia sudah mendapati menginap di hotel mewah yang sekaligus merupakan kapal.
'Ah, sebenarnya apa yang terjadi padaku dan keluarga yang kupikir biasa-biasa saja ini?' pikir gadis itu sambil berputar-putar mengelilingi kamar mewah itu. Dia memang saat cemas tidak pernah bisa diam.
Tok! Tok!
Gadis itu mendengar ketukan di pintu kamarnya. Lembut, namun suaranya agak keras. Mengingat segala kejadian yang tadi, gadis itu langsung gemetar. Dia tidak berani untuk mendekati pintu dengan jarak kurang dari sepuluh meter. Tapi, konsekuensinya, dia harus mendengar ketukan di pintu itu semakin cepat dan keras, seakan putus asa kehilangan kesabaran. Debaran gadis itu semakin cepat, lebih cepat dari ketukan pintu di seberang. Tidak mungkin kan kalau itu mobil teroris yang tadi?
"Kirana," dia mendengar suara dari seberang pintu. Mendengar suara itu, gadis itu sedikit lega. Itu bukanlah suara yang asing, dia sudah mendengarnya dari kemarin malam, "Bisa keluar? Aku ingin bicara denganmu."
Tentu saja Kirana mempercayai sang pemilik suara, Tiino Vainamoinen. Namun dengan masih gemetar, gadis itu membukakan pintu. Terlihat sosok pemuda berwajah ceria yang menyapa Kirana dengan senyum.
"Moi moi!"
Through Flamed Ice
Fiction T
Warning applies
Hetalia is made by Hidekaz Himaruya
I don't gain any profit to make this ff
Thank you
"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Kirana sambil menuangkan teh blueberry ke salah satu majikannya itu. Tiino memang sedikit aneh, dia hanya menyukai teh blueberry di kemasan yang ada gambar Moomins-nya (Stefan bilang begitu kemarin). Jika bukan teh yang itu, dia tidak mau meminumnya. Dia bahkan bisa mencium dari jauh jika itu teh Moomins kesukaannya.
Sambil menyisip teh kesukaannya pelan-pelan, pemuda itu tersenyum menyeringai, menatap gadis itu, "Aku bohong, aku hanya ingin minum teh bersama gadis cantik."
Gadis itu setengah tersentak. Ia baru menyadari kalau ia di kamar hotel, hanya berdua dengan seorang pemuda! Tapi, bagaimanapun juga pemuda ini kelihatannya bisa dipercaya. Kirana menghela napas. Jika ini bukan salah satu majikanku, kutendang dia dari Swedia ke Palau! "Oh ayolah Tiino, jujur aku penasaran dengan semua yang terjadi di sini. Jika bukan kau yang menceritakannya padaku, bagaimana aku bisa tahan kerja di sini?"
"Pelan-pelan dong," kata pemuda itu sambil kembali menikmati tehnya, "Kalau kuceritakan semuanya sekarang kurasa kau tidak akan sanggup menerimanya. Lambat laun kau akan mengerti."
"Lantas, kenapa kau datang ke sini?" tanya Kirana kesal. Tapi kemudian dia mengutuki dirinya menanyakan itu, mengingat bahwa dia salah satu majikan yang membayarkan biaya hotel.
"Kan aku sudah bilang, ingin minum teh bersamamu!" kata Tiino, menghabiskan teh di cangkirnya, tak bersisa. "Nah, aku sudah selesai!"
"Begitu saja?"
Tiino menghela napas. Gadis ini memang salah satu gadis yang luar biasa. "Ah, rupanya aku memang tak bisa berbohong padamu ya. Jadi begini..."
Sebelum Tiino berhasil menceritakannya, sebuah tangan membekap mulutnya dengan cepat, membuat pemuda itu tak bisa mengucapkan apa-apa. Kirana terpekik. Namun begitu menyadari siapa yang membekap mulut Tiino, Kirana jauh lebih kaget lagi.
-Matthias. Namun saat ini Matthias yang terlihat bukan Matthias yang kemarin berkenalan dengan Kirana. Bukan dengan tampang cerianya dan pandangan matanya yang dengan sifat energiknya dan jadi mood maker antara mereka semua yang tanpa ekspresi. Bukan. Sekarang Matthias dengan pandangan mata yang sangat dingin, ekspresi yang kejam, dan ada hawa mengintimidasi yang sangat berat. Kelihatannya tatapannya sekarang tidak kalah dengan tatapan Berwald, malah mungkin lebih seram dari Berwald yang biasa.
"Jangan kau ucapkan itu." desis Matthias pada Tiino. Tiino mengangguk gemetaran. Kirana apalagi.
Melihat ke arah Kirana yang ketakutan, pandangan Matthias langsung berubah menjadi Matthias yang biasa. "Maaf, aku membuatmu takut ya? Tenang saja, semua akan baik-baik saja kok. Kasurmu enak?"
Kirana mengangguk lemah. Tatapan Matthias yang seram tadi, benar-benar sulit untuk menghapusnya dari kepala. Dia masih bergetar. Tiino kelihatannya sudah bisa menguasai keadaan. Dia langsung menenangkan Kirana, "Tenang saja, jangan takut sama Matthias. Sama Ber kamu nggak takut kan?"
"Terus kenapa kalian ngumpul di kamar cewek gini?" tanya Lukas tiba-tiba, membuat mereka semua langsung menoleh. Tak hanya Lukas yang berdiri di depan pintu, ada Emil dan Berwald juga. Mereka tetap mempertahankan posisi pokerface seperti biasa.
"Kalau aku, cuma mau bertemu Kirana saja kok," kata Tiino gelagapan, "Dia pasti kaget dengan kejadian tadi siang kan?"
"Jangan bahas lagi," kata Matthias tegas. Pemuda itu menatap tajam-meski lebih lunak dari tadi-satu persatu, dimulai dari Berwald, Tiino, Emil, Nicholas, kemudian Kirana, kemudian mengambil napas panjang. "Intinya, kalian anggap kejadian tadi tidak ada. Lanjutkan saja bersenang-senang di hotel mahal ini! Ada yang bawa Uno? Ayo main!"
Dengan awkward, mereka memulai bermain UNO. Kirana yang benar-benar tidak memahami peraturan permainannya, meski sudah dijelaskan oleh Tiino, sampai harus dengan bahasa isyarat. Tapi kemudian, dia jadi mahir dan menjadi menang di pertandingan-pertandingan berikutnya. Permainan itu begitu menyenangkan, namun di kepala mereka masih ada pikiran tentang baku tembak tadi malam, terutama Kirana. Dia begitu lelah. Baru saja sampai di negara asing yang jauh di utara, belum bisa beradaptasi dengan suhu dan orang-orang yang dingin, belum mengerti bahasa di sini, dan tiba-tiba terlibat dalam baku tembak. Entah bagaimana para majikannya ini, pasti mereka merupakan orang-orang yang berbahaya. Kirana menjadi pusing dan pandangan kartu di hadapannya menjadi buyar. Semuanya berputar terlalu cepat.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
"Ah, dia sudah sadar." sayup-sayup suara dari bahasa yang tak dikenalnya adalah yang pertama kali ia dengar. Kirana sempat berpikir dia kena santet, dan bahasa-bahasa tersebut adalah mantra yang dirapal. Tubuhnya sulit sekali digerakkan. Pandangan matanya sangat buram. Namun setelah dia memaksakan diri untuk membuka matanya, ia melihat ada tiga pasang mata yang memandang ke arahnya dengan cemas. Seketika, kesadaran gadis itu langsung bangkit.
"Syukurlah kamu sudah sadar! Tadi kami kaget sekali kamu tumbang begitu saja!" pekik Tiino, yang kemudian langsung memeluk Kirana.
"Berapa lama aku tumbang? Ini di mana lagi?" tanya Kirana, menyadari bahwa ini bukan hotel kapal tempat mereka mengungsi kemarin. Tempat itu mirip dengan kamar mewahnya kemarin, namun terdapat banyak peralatan kesehatan di sana. Mereka berpandangan.
"8 jam, sekarang sudah hampir siang di luar." kata Emil. Pemuda itu memegang dahi Kirana, "Benar, badanmu panas sekali. Sekarang kita di rumah sakit."
"Ber, Matthias, dan Lukas sedang keluar, kelihatannya membeli makanan," sambung Stefan. "Kamu kelaparan? Biar kupanggilkan suster agar kau segera makan." Stefan langsung menekan tombol panggil di sebelah bangsal rumah sakit tersebut.
"Maaf merepotkan, semuanya..." kata Kirana lemah. Dia benar-benar merasa tidak berguna, seharusnya menjadi pelayan namun malah dilayani oleh para majikan.
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, seorang suster datang membawakan paket makanan. Kirana awalnya mual saat mencobanya, namun ternyata dia bisa menghabiskannya. Stefan, Emil, dan Tiino tersenyum melihat Kirana yang bisa menghabiskan lagi ia akan sembuh.
Lukas Bondevik mengemudikan mobilnya dengan wajah datar, tanpa ada yang mengetahui kalau dia sebenarnya sangat gugup. Dia bersama Berwald dan Matthias sedang memeriksa kejadian kemarin, dan mereka bisa langsung mengetahui siapa pelakunya. Lukas merasa sangat tidak enak terhadap tim yang melindunginya itu, apalagi karena dia sudah membahayakan adik dan asisten rumah tangga Berwald. Jadi oleh karena itu, dia pamit ke toilet, meskipuns sebenarnya dia harus menghentikan si pelaku.
Lukas berhenti di sebuah bar kecil di Stockholm. Tempat di sana agak gelap dan cukup ramai dengan berbagai pekerja kasar dan pemabuk, namun Lukas langsung bisa menemukan gadis dengan rambut cokelat bergelombang sebahu. Gadis itu melihat ke arah Lukas, dan ekspresinya yang sebelumnya datar langsung berubah menjadi penuh emosi.
"Apa yang membawamu ke sini?" tanya gadis itu kesal, saat Lukas menghampirinya. Logat Belanda-nya sangat kental dalam setiap pembicaraannya. "Baru saja cewekmu dari sini, sama cowok dengan alis kue lapis. Mereka bercerita kalian terlibat baku tembak."
"Mantan," ralat Lukas dingin, "Aku minta akvavit segelas, Laura."
"Terserah," kata gadis yang dipanggil Laura itu, masih tak bisa menyembunyikan kemarahannya. Langsung saja dia menaruh gelas berisi cairan akvavit dengan kasar. Dia menceramahi Nicholas dengan berbisik agak keras, "Kalian ini keterlaluan sekali! Baku tembak di tengah kota! Menangkap penjahat boleh saja, tapi jangan sampai membuat keresahan dalam masyarakat sekitar! Untung jalan saat itu sepi, tapi bagaimana jika ramai? Apa nggak membahayakan warga? Natalya sampai terluka begitu kena pecahan kaca. Wajahnya tadi terlihat dendam sekali padamu. Dia bilang dia ingin sekali membunuhmu."
Lukas tetap diam, dan meneguk akvavit-nya.
"Kau masih menyayanginya kan? Sebaiknya kalian berdua bertemu, dan selesaikan masalah ini dulu. Kalian melibatkan dua organisasi besar di Eropa, tahu tidak!"
Lukas tetap diam.
"Apa sejak awal kau hanya memanfaatkan Natalya agar bisa mendapatkan posisi yang baik di mata kakaknya dahulu? Nah sekarang setelah kau berkhianat, apa kau pikir kau bisa aman? Kau tahu Kak Ivan mempunyai kekuatan besar."
Lukas tetap diam.
"Tadi dia sempat menggumam sedikit tentang adikmu, adik Berwald, dan anak perempuan di sana." kata Laura pelan, menyerah.
"Natalya dan Arthur mengetahui keberadaan Emil, Stefan, dan Kirana?" ekspresi Lukas langsung berubah. Tanpa berkata apa-apa, Lukas langsung menyerahkan sejumlah uang ke Laura, dan langsung bangkit dan bergegas keluar.
"Oi! Sigmund! Kau melupakan kembaliannya" teriak Laura. Mendengar itu, Lukas langsung berbalik, dan membekap mulut gadis itu.
"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Laura. Ambil saja kembaliannya."
Lukas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya tidak bisa fokus. Dia tahu jika Natalya dan Arthur mengetahui keberadaan Emil, Stefan, dan Kirana, maka tak lama lagi mereka bertiga akan dihapus dari bumi ini. Lukas bergidik membayangkan kehilangan orang-orang yang berharga baginya.
Pikirannya terbayang saat mereka masih di kampus bersama. Laura adalah teman pertamanya, baik siang ataupun malam. Saat Lukas selalu menyendiri di kampus, Laura selalu mendekatinya, hingga mereka jadi sangat akrab. Lukas bolak-balik ke rumah Laura dan bertemu dengan keluarganya, begitu juga dengan Laura. Emil, adik Lukas, cocok juga dengan Laura dan Gerard, kakak Laura, cocok dengan Lukas.
Meski tidak mengungkapkannya, Lukas saat itu sangat menyukai Laura. Laura sudah memiliki pacar dari kampus lain, bernama Antonio. Lukas juga mengenal baik pemuda Spanyol itu, dan mengetahui bahwa dia tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk masuk dalam hati Laura. Melihat mata Laura yang terlihat sangat terpesona oleh Antonio, dan mata Antonio yang memandang Laura dengan hangat tiap mereka bertemu, seringkali membuat Lukas sakit hati. Namun mereka tetap menjadi teman akrab meski tidak nyambung sama sekali. Antonio dan Laura yang ceria dan hangat bisa mengimbangi Lukas yang dingin.
Kemudian, Laura mengenalkan Natalya pada Lukas. Saat itu sedang ramai pembutan karya tulis untuk pekan kreativitas mahasiswa. Natalya adalah mahasiswi baru di kampus tersebut, dan merupakan adik kelas Laura dan Lukas. Wajahnya benar-benar cantik, dan kecantikannya merupakan kecantikan yang berbeda dengan Laura. Jika Laura kecantikannya bagaikan matahari dengan seyum yang menawan, kulit yang segar, dan aura hangat yang menguar, Natalya merupakan ratu es. Rambut pirang platina panjangnya, tatapan matanya yang tajam, wajahnya yang dingin dan sulit didekati, namun gadis itu sangat cantik.
"Natalya, ini Sigmund Steilsson, dari Norwegia. Dia kakak kelasmu, dan mengerti banyak tentang ekonomi global." jelas Laura. "Sigmund, ini Natalya Arlovskaya, dari Rusia. Meski dia adik kelas kita, dia juga memiliki bakat yang bagus dalam perhitungan ekonomi, dan dia direkomendasikan dosen pembimbing untuk jadi partner dalam judul kita."
Setelah pertemuan itu, Lukas dan Natalya menjadi akrab. Pada awalnya hanya membahas tentang karya ilmiah dan mata kuliah saja, namun semakin lama semakin banyak yang mereka bahas. Lukas mengagumi gadis kecil yang mengetahui banyak tentang sisi lain dunia ini, dari penggelapan pajak oleh berbagai macam petinggi lengkap dengan buktinya, dan mereka membahas tentang itu dalam draf awal karya ilmiah mereka, meski ditentang habis-habisan oleh dosen.
Natalya adalah segala pengalaman pertama bagi Lukas, begitu juga dengan sebaliknya. Berkat gadis itu, Lukas jadi sedikit bisa move on dari Laura. Pada awalnya gadis itu sulit didekati, namun pada akhirnya Natalya adalah kekasih pertama Lukas. Lukas juga pertama kali melakukan hubungan seksual dengan Natalya. Setelah Nicholas lulus, Natalya menyarankan Lukas agar berada di perusahaan kakaknya. Namun semua berubah saat Lukas memasuki perusahaan kakak Natalya, Ivan.
Itu bukan sekedar perusahaan biasa. Nicholas sudah bisa mencium pergerakan yang mencurigakan itu. Dan saat ia memasuki perusahaan itu, dia mengetahui bahwa dia harus segera keluar dari sana.
"Kamu dari mana saja?" tanya Matthias kesal saat melihat Lukas turun dari mobil, "Kau tahu aku dan Berwald harus jalan kaki dari tempat kejadian ke rumah sakit kan?"
"Bertemu Arlovskaya?" tanya Berwald langsung. Lukas menggeleng.
"Tadi aku bertemu Laura. Ada yang lebih penting lagi Ber, Mat." kata Lukas lirih. "Mereka mengetahui keberadaan Emil, Stefan, dan Kirana."
Mereka berdua berpandangan kaget.
"Ya nggak aneh sih, mereka membuntuti kita kan? Jika mereka membawa alat pendeteksi panas tubuh, maka mereka bisa melihat siluet orang-orang di sana." kata Matthias menghela napas pasrah, "Yang penting mereka kehilangan jejak kita."
"Sebaiknya kita segera pulang," kata Berwald memutuskan. Dia terlihat sangat cemas. Hanya ada Tiino yang dapat diandalkan untuk menjaga di rumah sakit. Meski Emil sudah cukup dewasa, namun dia bukan orang yang bisa memegang senjata. Stefan dan Kirana harus benar-benar dijaga.
TO BE CONTINUED~
I'M SORRY FOR CHAPTER BEFORE GUYS. SAYA MABOK GARAM JADI NAMANYA GW UBAH SEENAK JIDAT JADI NICHOLAS THORESEN. SUDAH GW EDIT BIAR BALIK LAGI. SAYA MABOK GARAM JADI MAAFKAN SAYA.
Anjir sudah kutelantarkan dua tahun...
Sekedar kasih tau aja, Laura itu Belgium, Gerard itu Netherlands. Kalo Sigmund ya sesuai sama yang tadi... itu namanya Norway yang dulu. Alasan kenapa dia sampe ganti nama ada di chapter selanjutnya~ /jegerr
rasanya kayak ada penurunan kualitas dari yang dulu-dulu, soalnya udah jarang nulis D: maafkan saya semuanyaaa
sekarang mari kita balas review~
Faneda: NorIce is luff~ tapi di chapter ini jarang ada NorIce .w.
Sabila Foster: Hints mana dulu nih ;) maaf keterlambatannya yaaa
Codename Sailor D: well kalo gitu tunggu kelanjutannya lagi ya, makin banyak action mwehehehe
Hana: ini ada NorBela sedikit (?)
NFebby1: belum keliatan haremnya, tapi pasti kok owo
Moron 5: AI LUPH YU TU~
Emilia Kartika: ofc
Nakamizu12: maaf keterlambatannyaaaaa
