Previous
"Aku mempunyai rasa sakit yang sama denganmu. Jadi berhentilah membuatku merasa bersalah karena terus membuatmu menangis. Aku juga berharap kau segera mendapatkan kebahagianmu Lu." Gumamnya tersenyum lirih sementara Luhan terus menggelengkan kepalanya menolak apapun yang saat ini Sehun ucapkan.
"Terimakasih karena kau masih mencintaiku. Tapi Hubungan kita bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan nyata cobalah membuka hatimu untuk orang lain, berbahagialah Luhan."
Sehun kemudian melepaskan pelukannya pada Luhan dan kembali menuju mobilnya tak lama menyalakan mobilnya meninggalkan Luhan sendiri di tengah dinginnya malam yang sangat menusuk.
Luhan menatap kepergian Sehun dan entah mengapa ini adalah kali pertamanya dia merasa tenang melepas Sehun, membiarkan pria yang dia cintai pergi dengan kalimat mendoakan untuknya. Dia kemudian tersenyum menghapus cepat air matanya dan menggenggam erat kedua tangannya, berjanji bahwa malam ini dia juga sudah merelakan Sehun-..Merelakan Sehun menemukan kebahagiannya sementara dia mencari kebahagiaan lain yang seperti hanya mimpi untuknya.
"Kau juga harus berbahagia Sehunna." Gumamnya tersenyum dan menaiki bis untuk memulai hari esok dengan luka baru yang ia buat sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
Ini sudah memasuki hari ketujuh dimana Sehun dan Luhan memutuskan untuk saling melepaskan. Setelah apa yang Sehun katakan padanya malam itu, Luhan benar-benar menyerah pada seseorang yang ia cintai untuk waktu yang lama. Luhan menyerah mengharapkan sedikit belas kasih dari Sehun, dia tidak mau memperpanjang lebih lama lagi rasa luka keduanya dan berjanji benar-benar akan pergi setelah semua urusannya dengan Yunho selesai.
Berbicara tentang Yunho, sepertinya kakak kandung dari mantan kekasihnya itu bertindak sangat cepat untuk masalah yang berhubungan dengan pamannya, terlihat dari ramainya ruangan Yunho yang dipenuhi dengan tim penyidik membuat suara desas desus pertanyaan terdengar dari seluruh karyawan. Semua bertanya-tanya termasuk Sehun yang terlihat belum diijinkan masuk sementara kakak dan pamannya berada di ruangan Yunho.
"Paman kenapa ramai sekali? Apa terjadi sesuatu?"
Luhan yang sedang mengerjakan laporannya mendengar sekilas Sehun yang bertanya pada sekertaris Kang, dan entah mengapa dia memiliki perasaan buruk menebak jika Sehun tahu apa yang sedang terjadi didalam.
"Anda akan tahu sebentar lagi wakil direktur, kita tunggu sebentar disini." Sekertaris Kang memberitahu Sehun yang terlihat gusar tak sabar, sampai akhirnya
Cklek!
Pintu ruangan Yunho terbuka menampilkan pamannya yang kini sedang dibawa oleh dua orang yang mengapit lengan pamannya kasar.
"Apa yang kalian lakukan?"
Sehun langsung berdiri menghadang kepergian pamannya dengan wajah yang terlihat sangat gusar.
"Sehunnie tolong paman nak. Katakan pada mereka kalau aku tak bersalah. Dialah yang bersalah!"
Paman Sehun langsung memaki Luhan yang tampak memucat karena tuduhan yang lagi-lagi ia dapatkan secara bertubi.
"Apa maksudnya?"
"Maaf kami Hanya menjalankan perintah. Kami harus memeriksa tuan kim dan akan segera kembali dengan laporan."
"HEY!"
"SEHUN!"
Paman Sehun terus meronta membuat Sehun semakin marah karena pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri diperlakukan secara tidak pantas.
"Sebenarnya apa yang terjadi." geramnya mengepalkan tangannya erat sekilas melirik ke arah Luhan dan kemudian bergegas ke ruangan kakaknya.
"HYUNG!"
Yunho yang sudah memperkirakan reaksi Sehun akan seperti ini Hanya menghela nafasnya pelan dan menatap adiknya yang terlihat sangat marah.
"Kenapa mereka membawa paman? Siapa mereka?!"
"Mereka tim penyidik yang aku sewa untuk memeriksa paman."
"Apa kau sudah gila? Kenapa dia harus diperiksa? Sebenarnya ada apa?" Sehun mendesis bertanya pada kakaknya yang terlihat tak punya pilihan lain selain memberitahu kebenarannya pada Sehun.
"Tenanglah dan tarik kursi itu jika kau ingin tahu semuanya." Yunho menatap tajam adiknya yang sudah sangat emosi.
Merasa ingin mendengar penjelasan kakaknya pun, Sehun memutuskan untuk duduk dan berusaha tenang walaupun sangat sulit mengontrol emosinya saat ini.
Sementara sekertaris Kang mengangguk saat mendapat instruksi dari Yunho untuk menutup pintu dan mengatakan seluruh kebenarannya pada Sehun hari ini.
Setelah menutup pintu, sekertaris Kang berjalan mendekati kedua kakak beradik yang saat ini sedang bersitegang dan menyerahkan dokumen yang akan menjelaskan semuanya.
"Ini lihatlah. Apa kau pernah menggunakan uang sebesar 200 juta won untuk menanamkan saham pada perusahaan Shim group?"
Sehun mengernyit dan merasa tersinggung saat kakaknya secara tidak langsung seperti menuduhnya mengkhianati perusahaan yang dibangun ayahnya dari nol hingga bisa diteruskan oleh Yunho dan dirinya sendiri..
"Untuk apa aku melakukannya." ujarnya tertawa tak percaya menatap Yunho.
"Kau memang tidak melakukannya. Tapi secara tidak langsung kau membantu seseorang dengan dana yang begitu besar untuk diam-diam membeli saham di tempat lain sehingga perusahaan lawan secara perlaHan membeli saham-saham kita dengan harga tinggi. Kita mengalami kerugian yang fantastis."
"Katakan dengan jelas."
"Paman tunjukan padanya."
Sekertaris Kang mengangguk dan mulai menjelaskan pada Sehun yang terlihat marah "Ini adalah tanda tangan anda dan ini adalah permintaan dari manager Kim. Dia mengatakan meminta dana untuk kepentingan perusahaan. Tapi nyatanya semua dananya masuk ke Shim Group. Dia sudah memiliki saham hampir 40% disana yang artinya kita memiliki kerugian sebesar 60% karenanya."
Sehun menganalisa semua yang dikatakan Seketaris Kang dan sedikit tertohok menemukan fakta bahwa pamannya berbuat terlalu jauh untuk merugikan perusahaan yang dibangun oleh kakaknya sendiri.
"Apa kau sudah memeriksanya? Apa benar paman yang melakukannya?"
"Itulah mengapa dia dibawa oleh penyidik saat ini. Jika terbukti bersalah, aku tidak segan menuntutnya dan membawa masalah ini ke ranah hukum."
Sehun menyenderkan tubuhnya di kursi dan memijat kasar kepalanya "Aku tidak percaya ini." gumamnya yang merasa sangat dibodohi.
"Kau tidak akan mempercayai hal yang akan aku katakan selanjutnya."
Sehun mengernyit menatap kakaknya yang kali ini terlihat lebih tegang membuatnya harus menyiapkan diri untuk mendengar apa yang selanjutnya akan diberitahukan oleh Yunho.
..
..
..
Saat ini Sehun sedang berada di kafe yang terletak di lobby kantornya, dia sedang merenung mengingat seluruh ucapan kakaknya mengenai kejadian mengerikan yang menyebabkan kedua orang tuanya tewas, berfikir keras bagaiman semua yang terjadi dalam hidupnya selalu berkaitan dengan Luhan. Seseorang yang saat ini sedang ia lupakan dan tak ingin ia pedulikan.
Saat sedang menyesap kopinya, Sehun baru menyadari kalau saat ini Luhan juga berada di kafe yang sama dengannya. Dia duduk di pojokan sambil melihat ke luar jendela, Sehun sedikit mengernyit dan menyadari kalau Luhan memang terlihat sangat menyedihkan, berat badannya turun secara drastis dan dia selalu terlihat pucat, Sehun kemudian tersenyum getir mengingat ucapan kakaknya.
"Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini padamu. Tapi sepertinya ayah Luhan tidak sepenuhnya bersalah atas kejadian yang menimpa orang tua kita."
"Bagaimana bisa dia tidak bersalah. Pria itu membunuh ayah dan ibuku hyung!"
Sehun teringat percakapan dengan hyungnya beberapa saat lalu, dia merasa Luhan benar-benar licik karena sengaja mendekati Yunho dan mempengaruhi kakaknya. Dia masih berfikir seperti itu sampai sekertaris Kang menunjukkan sesuatu yang mengejutkan untuknya.
"Ini lihatlah….'
"Ayah Luhan adalah pengusaha di bidang produksi obat kesehatan. Seluruh hasil produksinya digunakan oleh hampir seluruh rumah sakit di Seoul. Dia bisa saja memulai karirnya di Beijing, tapi dia memilih Seoul karena dia sudah memiliki istri yang mengandung putranya, Luhan."
"Hidup mereka baik-baik saja dan berbahagia sampai akhirnya paman mengusik kehidupan mereka. Paman menjanjikan produksi obatnya akan dilegalkan secara permanen asal pria itu memberikan sertifikat dan sejumlah uang dengan nominal hampir mencapai seluruh penghasilan perusahaan itu. Pria itu memberikannya dengan rasa percaya."
"Tapi yang terjadi selanjutnya adalah ayah menutup seluruh usaha milik pria itu. Dan secara resmi mengajukan surat penahanan dan larangan kembali ke negara asal untuk tuduhan pemakaian bahan berbahaya di usaha yang di jalankan pria itu. Setelahnya dia ditangkap, istrinya sedang sakit saat itu dipaksa dibawa ke panti sosial bersama putra mereka."
"Lalu bagaimana ini bisa menjadi salah paman?"
"Karena surat penangkapan dan surat tuduhan pemakaian bahan berbahaya itu palsu, aku sudah menyelidiki nya. Ini semua salah paham. Dan ayah terlalu mendengarkan paman, membuatnya mengambil keputusan tanpa mendengarkan pihak yang dituduh."
Sehun semakin memperhatikan Luhan yang hanya mengaduk asal minumannya. Terlihat kalau ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia kemudian kembali tersenyum pahit mengingat darimana kakaknya tahu semua informasi yang begitu mengejutkan untuk keduanya.
"Darimana kau tahu?"
"Tiga bulan ini kita memiliki karyawan magang bernama Xiao Lu. Dia selalu bekerja sampai malam entah mengerjakan apa sampai dihari terakhirnya dia menyerahkan beberapa dokumen ini pada sekertaris Kang. Aku pun cukup terkejut mengetahui pria itu ternyata Luhan. Dia sudah akan pergi hari itu. Sampai akhirnya aku memintanya menjadi asistenmu untuk mengalihkan perhatianmu sementara aku mencari sedikit demi sedikit apa saja yang dilakukan paman dengan mengatasnamakan dirimu."
Sehun berdiri dari mejanya dan berjalan menghampiri Luhan yang masih memandang keluar jendela sambil mengaduk asal minuman yang dipesannya.
"Sebenarnya Luhan memang tidak bersalah dari awal, kita yang selalu mencari pelampiasan untuk seseorang yang bisa disalahkan."
Sehun tersenyum tak percaya dan menatap tajam ke arah Luhan "Bagaimana mungkin dia tidak bersalah. Dia memiliki ayah mengerikan yang membuat kedua orang tuaku tewas secara mengenaskan."
Sehun semakin mendekat ke arah Luhan dan
Sret!
Dia menarik kursi didepan Luhan, membuat Luhan sedikit terkejut mendapati Sehun yang saat ini duduk didepannya menatapnya tajam.
"Jadi apa perlu aku meminta maaf padamu Xi Luhan?"
Nada suara itu masih dingin dan penuh kebencian ditambah sorotan mata yang begitu marah dan mengintimidasinya membuat Luhan semakin merasa muak berada di tempatnya saat ini.
"Apa maksudmu wakil direktur?" katanya bertanya setenang mungkin menyembunyikan rasa lelahnya karena terus bertengkar dengan pria yang sampai saat ini masih terlalu ia sayangi.
"Yunho sudah memberitahu semuanya. Ayahku, Pria mengerikan itu dan pamanku. Jadi apakah aku harus meminta maaf karena membuatmu hidup seperti sekarang? Apakah aku harus mengembalikan kekayaan pembunuh itu pada putranya"
Entah sudah berapa kali kata kasar yang Sehun lontarkan untuknya, setiap kalimat yang begitu menusuk tepat dihatinya. Dia sangat kesal pada dirinya sendiri karena harusnya dia sudah terbiasa dengan ucapan kasar Sehun dan Yunho. Namun dirinya hanya manusia biasa yang mempunyai batas untuk direndahkan seseorang dan jika semua ini terus dilanjutkan itu sama saja membunuhnya secara perlahan. Dia kemudian meletakkan kedua tangannya diatas meja dan menatap Sehun dengan pandangan terluka.
"Aku mengenalmu dan Yunho cukup lama, tapi aku sama sekali tidak tahu kalau kalian berdua mempunyai kemampuan menyakiti seseorang dengan ucapan kalian." Katanya bergetar menatap Sehun yang terlihat mendengarkan ucapan Luhan.
"Kalau kau sudah mengetahui semuanya bukankah harusnya kau mengerti kalau semua ini Hanya kesalahpahaman saja dari awal? Semua terjadi karena pamanmu yang menjebak ayahku. Mungkin saja jika pamanmu tidak berbuat hal keji itu kedua orang tuaku masih hidup, begitu juga dengan kedua orang tuamu. Mungkin saja jika pamanmu tidak melakukannya kita akan tumbuh sebagai orang asing yang tidak saling mengenal. Dan kau pasti akan sangat bersyukur karena tidak pernah mengenalku dalam hidupmu." Luhan masih berbicara menumpahkan segala kegundaHan yang ia rasakan.
"Tapi meskipun kalian berdua sudah tahu hal ini kalian tetap tidak memaafkan ayahku, dan aku bisa mengerti hal itu karena memang ayahku melakukan hal mengerikan pada kedua orang tua kalian. Tapi apa kau pikir hwnya kau yang menderita Sehunna?" katanya yang mulai tak bisa mengendalikan betapa sakit hatinya saat ini.
"Aku juga merasakan hal yang kau rasakan. Kemarahan dan kebencianmu sudah menyakiti seluruh hidupku, aku menerimanya dan aku minta maaf untuk itu. Jadi aku tidak pantas menerima permintaan maaf kau dan Yunho. Aku sepenuhnya bersalah disini, kalian butuh seseorang untuk disalahkan dan aku ada untuk itu."
Luhan memberanikan diri menggenggam kedua tangan Sehun dan menatapnya dalam "Sebentar lagi ini semua akan berakhir. Aku hanya perlu membuktikan kepada tim penyidik kalau pamanmu selalu memberikan penenang dosis tinggi jika sedang meminta sesuatu darimu."
Sehun sedikit membelalak mendengar ucapan Luhan mengenai obat yang diberikan pamannya untuknya "Tapi kau tidak perlu khawatir, hasil kesehatanmu menyatakan kau baik-baik saja. Kau Hanya akan mengalami pusing dan mual yang berlebihan jika terus mengkonsumsinya, tapi sebulan ini aku sudah membuang semua minuman yang disiapkan Manager Kim untukmu. Kau baik-baik saja." Katanya tersenyum menatap Sehun.
"Dan jika semuanya benar-benar telah berakhir, maka hari itu akan menjadi hari yang kau tunggu karena aku akan pergi. aku tidak akan bertahan lebih lama untuk membuatmu marah dan bertengkar denganmu Sehunna. Tunggulah sebentar lagi."
Luhan kemudian berdiri dari kursinya dan menatap Sehun semakin terluka saat ini "Aku sudah kehilangan segala hal dalam hidupku dan aku menerimanya. Tapi ada satu hal yang sampai saat ini tidak bisa aku terima. Kau tahu itu apa?" katanya bertanya pada Sehun yang Hanya memandang ke arahnya tak bersuara
Luhan menggigit keras bibir bawahnya dan kembali menatap Sehun "Saat aku kehilanganmu itu adalah hal yang sampai saat ini sangat sulit aku terima."
Luhan menghapus cepat air matanya dan berjalan meninggalkan Sehun yang entah kenapa tak mengeluarkan ucapannya sama sekali.
..
..
..
Saat ini Luhan berada di bis yang bisa membawanya pulang dan beristirahat, kembali berusaha melupakan hal yang terjadi hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Dia berkali-kali menghela nafasnya menyadari waktunya untuk bisa bersama Sehun tidak akan lama lagi. Hanya menunggu waktu dan semua akan benar-benar berakhir.
Luhan sedikit menyenderkan kepalanya ke jendela kaca didalam bis, memejamkan matanya dan berniat beristirahat sejenak sebelum matanya menangkap sesuatu yang membuatnya kembali duduk dengan tegak. Keadaan bis saat ini memang ramai dan penuh sesak, membuat seorang wanita yang sepertinya sama sekali tak pernah naik bis sedikit risih dan ketakutan karena seorang pria tua dibelahannya berusaha berbuat tidak senonoh padanya.
Luhan semakin memicingkan matanya dan menyadari dua hal. Pertama dia mengenal wanita yang seumuran dengannya itu dan kedua saat ini wanita yang terkenal sangat manja pada ayahnya itu terlihat ketakutan menyadari seorang pria tua dibelahannya berusaha berbuat kurang ajar padanya. "Kang Seulgi?"
Luhan langsung menyeruak kerumunan bis dan
"Singkirkan tanganmu darinya atau kau menyesal." Luhan menggeram menangkap tangan pria tua yang hampir menyentuh Seulgi-…Putri dari sekertaris kepercayaan Yunho selama bertahun-tahun lamanya.
"Siapa kau?" katanya bertanya mendesis pada Luhan
Terlihat Seulgi hanya diam memucat tak berani menoleh sampai dia sedikit terkejut karena seseorang menggenggam erat tangannya "Aku kekasihnya."
Luhan pun menekan bel pemberhentian di halte berikutnya dan tak lama membawa Seulgi turun darisana.
"Terimakasih…Terimakasih telah menolongku. Aku sangat takut." Seulgi hanya terus memejamkan matanya sambil membungkukan badannya berkali-kali tanpa melihat Luhan sama sekali.
"Hey Kang Seulgi aku tidak tahu kau bisa berterimakasih juga."
Seulgi menghentikan gerakannya, menatap langsung pada pria yang menyapanya dan tak lama
"ASTAGA LUHAN!"
Seulgi sedikit melompat memeluk Luhan yang hampir terjungkal karena terkejut dengan tindakan Seulgi.
"Astaga aku masih tak percaya bisa bertemu denganmu lagi." Katanya masih memeluk Luhan membuat Luhan sedikit terkekeh karenanya.
"Ayo kita makan. Aku akan mentraktirmu." Seulgi menarik paksa Luhan yang terlihat tidak punya pilihan lain menolak keinginan teman lamanya itu.
Dan disinilah mereka di kedai ramen terdekat yang berada di halte bis. Seulgi masih sangat bersemangat melihat Luhan berbanding terbalik dengan Luhan yang terlihat risih karena sedari tadi Seulgi terus mencubit pipinya dengan gemas.
"Jadi kapan kau kembali? Ah-…ayahku memang bilang kau sudah kembali, dan ternyata benar kau sudah kembali."
"Aku akan pergi tidak lama lagi."
"eh?" Seulgi bertanya tak mengerti pada Luhan.
"Aku kembali karena ada hal yang harus aku urus, setelah semuanya selesai aku pergi. dan aku rasa semua memang akan selesai sebentar lagi."
"Kau pergi? Lalu bagaimana dengan Sehun?"
Senyum di wajah Luhan tiba-tiba menghilang saat nama Sehun disebut, membuat Seulgi merasa tak enak hati memandang Luhan "Kami sudah tidak berhubungan lagi Seulgiya"
"Kenapa? Aku pikir kalian baik-baik saja."
Luhan menaikkan kedua bahunya sekilas dan memandang Seulgi tersenyum "Entahlah…banyak hal terjadi pada kami. Lagipula sepertinya dia sedang dekat dengan salah satu putri kerabat Yunho."
Tidak ada yang berbicara setelahnya sampai Seulgi kembali memekik membuat Luhan sedikit terkejut "Whoaaa kalau begitu bagus! Aku sudah lama menyukaimu. Jadi mungkin ini kesempatanku! Aku akan mendapatkan cintamu Luhan!" katanya bersemangat membuat Luhan sedikit tertawa karenanya.
"Oiya kenapa kau naik bis? Kau hampir dilecehkan tadi." Luhan berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Seulgi.
"Aku menyesal tidak menunggu supirku datang. Aku benar-benar kesal!" gerutunya memakan ramen dalam porsi banyak ke mulutnya.
"Aku bersumpah tidak akan naik bis lagi. TIDAK AKAN PERNAH!" Katanya menggebu gebu membuat Luhan tertawa.
"Hey tenanglah. Aku akan mengantarmu pulang setelah ini."
Seulgi menggeleng dengan cepat "Tidak perlu oppa. Supirku sedang dalam perjalanan kesini." Katanya memberitahu Luhan yang tampak mencibir.
"Kita seumuran."
"Tapi aku ingin memanggilmu oppa." Katanya bersikeras.
"Yasudah terserahmu saja. Cepat habiskan makananmu."
Seulgi mengangguk dan kembali menghabiskan ramen ukuran jumbo yang ia pesan dengan cepat.
"ummm Luhan, apa besok kau ada waktu?"
Luhan yang sedang memakan ramennya melihat ke arah Seulgi dan meletakkan sumpitnya "Aku libur besok. Kenapa?"
"Apa kau mau mengantarku pergi mencari hadiah untuk ayahku?"
"Ayahmu ulang tahun?"
"hmm…tapi aku belum sempat mencari hadiah untuk ayahku."
"Baiklah aku akan mengantarmu."
"Yey! Gomawo oppa." Katanya dibuat semanin mungkin membuat Luhan kembali tertawa karenanya.
"Ah supirku sudah datang. Apa kau mau pulang bersamaku?" Seulgi memeriksa ponselnya dan memberitahu Luhan.
"Rumahku sudah dekat. Aku bisa sendiri. Ayo aku antar kau pulang." Luhan berdiri dikkuti Seulgi yang mengangguk mengerti.
"Baiklah Luhan sampai besok. Besok kita bertemu disini, kau yang membawa mobilku ya?"
"Tidak masalah. Sampai besok." Katanya melambai berpamitan pada Seulgi yang tak lama pergi bersama supirnya.
Tak lama Seulgi pergi, Luhan kembali melanjutkan perjalanan menuju flat nya. Sesekali dia berlari karena merasa kedinginan,
"Luhan.."
Luhan yang sedang membuka kunci flat nya sedikit menoleh ke asal suara dia kemudian sedikit merasa terkejut mendapati Jaejoong berada di tempatnya saat ini.
"Hyung?" katanya bejalan menghampiri Jaejoong yang sepertinya sudah lama menunggu kedatangannya.
"Apa aku boleh masuk? Aku ingin bicara denganmu sebentar."
Luhan tampak ragu dengan permintaan Jaejoong dan melirik ke sekitar memastikan sesuatu.
"Tidak ada Yunho dan Sehun, hanya ada aku. aku mencari tahu sendiri dimana kau tinggal Lu." Katanya meyakinkan Luhan yang terlihat tersenyum saat ini.
"Baiklah silahkan masuk hyung."
Dia pun membuka pintunya dan mempersilahkan Jaejoong masuk "Maaf karena tempatku berantakan. Aku tidak pernah kedatangan tamu sebelumnya."
Jaejoong hanya diam sambil memperhatikan Luhan yang sedang membenarkan beberapa peralatannya, merasa sangat tak tega melihat kehidupan Luhan saat ini.
"Duduklah hyung, aku akan mengambilkan air."
Jaejoong pun mengangguk dan duduk di lantai yang telah dibersihkan Luhan, disusul Luhan yang membawa dua cangkir teh hangat dan memberikannya pada Jaejoong.
"Minumlah hyung. Maaf hanya bisa menyediakan ini"
Jaejoong tersenyum dan sedikit mengusak kepala Luhan "Kau tidak perlu repot-repot Lu."
"aniya…aku sama sekali tidak direpotkan. Oia ada apa kau mencariku? Dimana Haowen?"
"Kau merindukan putraku juga ya?"
Luhan mengangguk bersemangat "Tentu saja dia sangat mirip dengan Se-…ah maksudku Haowen sangat lucu." Katanya mengoreksi dan sedikit salah tingkah didepan Jaejoong.
"Aku minta untuk acara makan malam beberapa hari yang lalu Lu. Aku tidak tahu kalau Yunho mengundang direktur Choi dan putrinya. Aku juga minta maaf atas kata-kata kasar yang diucapkan keluargaku. Kau pasti sangat sakit hati."
Jaejoong menggenggam kedua tangan Luhan yang terasa dingin, membuat Luhan menggeleng cepat dan membalas genggaman tangan Jaejoong "Aku baik-baik saja hyung. Sungguh." Katanya tersenyum meyakinkan Jaejoong yang entah kenapa terlihat lebih sedih darinya.
"Maaf kami keterlaluan Luhan. maafkan kami."
"Harusnya aku yang meminta maaf pada kalian terutama padamu hyung."
Kali ini giliran Jaejoong menatap Luhan yang terlihat menyesal "Aku minta maaf karena hari itu aku mengacaukan acara pernikahanmu. Pesta yang harusnya menyenangkan menjadi sangat mencekam saat kalian semua tahu siapa diriku. Maafkan aku hyung, tidak sepantasnya aku merusak acara bahagiamu." Gumamnya merasa sangat tak enak hati pada Jaejoong.
"Tidak Lu-…kau tidak bersalah. Kau hanya korban dari semua cerita mengerikan ini. Kau harus kuat Luhan."
Luhan menggeleng kuat dan kali ini menolak menatap Jaejoong "Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi hyung. Aku sudah tidak kuat." Ujarnya tersenyum lirih menatap Jaejoong.
"Aku tidak tahu kenapa suami dan adik iparku menjadi mengerikan seperti saat ini. Yunho sudah mengetahui semua kebenaran tentang dirimu yang bersangkutan dengan pamannya, tapi semua itu tidak mengubah pandangannya terhadapmu. Dia keterlaluan bahkan memintamu menjadi pelindung Sehun dan setelahnya kau dibuang, aku sangat membenci suamiku."
Luhan mengitari meja dan duduk disamping Jaejoong sedikit mendekap bahu Jaejoong yang terasa tegang karena memang terlihat dia sangat marah saat ini.
"Bagaimana bisa hyungku membenci suaminya, pria yang menjadi penuntun Haowen kelak? Kau tidak bisa membencinya hyung. Yunho hyung tidak bersalah." Luhan mendekap erat bahu Jaejoong dan berusaha menenangkan pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Tapi dia keterlaluan padamu Lu." Lirihnya yang kali ini menatap Luhan.
"Apa setelah semua ini selesai kau akan pergi?"
Luhan tersenyum dan duduk bersila menghadap Jaejoong "Aku bertaruh jika aku pergi kehidupan kalian akan lebih baik. Jadi ya…Aku akan tetap pergi, tapi aku janji akan baik-baik saja dengan begitu kalian juga akan baik-baik saja."
"Bahkan jika aku berlutut didepanmu apa kau akan tetap pergi?"
"Hyung jangan seperti ini. Aku mohon." Katanya meminta pada Jaejoong "Aku sudah tidak tahan hyung, aku akan memulai hidupku yang baru di suatu tempat dan aku berjanji akan selalu berbahagia."
"Apa kau benar-benar akan bahagia jika kau pergi dari kami?"
"Aku tidak berbahagia jika pergi dari hidup kalian, tapi setidaknya aku bisa memulai hidupku dari awal karena sepertinya aku dan Sehun serta Yunho hyung-..Kami bertiga impas." Katanya sedikit tertawa membuat Jaejoong menyadari kalau pria didepannya ini benar-benar sangat terluka.
Jaejoong kemudian menghela nafasnya dan menggenggam erat jemari Luhan "Baiklah kau boleh pergi. tapi kau harus berjanji dua hal padaku."
"Apa itu hyung?"
"Pertama kau harus berbahagia."
"hmmm…aku masih belum yakin tentang itu tapi aku akan berusaha. Lalu apa yang kedua?"
"Kau harus menghadiri pesta pernikahan adikku dan Kyungsoo."
Luhan sedikit memucat jika harus menghadiri acara yang berkaitan dengan keluarga Oh, dia sulit menjawab dan hanya memandang Jaejoong dengan putus asa.
"Kau mau kan?"
"hyung." Lirihnya meminta pertolongan agar Jaejoong mengerti.
"Luhan dengarkan aku. Yang menikah adalah adikku Kim Jongin. Dia dan Kyungsoo adalah temanmu. Jadi abaikan suami dan adik iparku jika kau bertemu mereka di pesta. Acaranya akan diadakan dirumahku, dan aku berjanji tidak akan ada yang bisa membuatmu diperlakukan secara tak layak hmm."
Luhan masih tak menjawab karena sangat ragu. Bukan karena dia takut bertemu dengan Sehun dan pasangannya, atau Yunho yang akan menatap benci padanya. Dia hanya takut akan kembali merusak suasana pernikahan kerabat terdekatnya, dia sudah merusak suasana pernikahan Jaejoong dia tidak mau itu terulang di pernikahan Kai dan Kyungsoo.
"Aku datang malam-malam seperti ini bukan tanpa tujuan. Aku membawakan ini-..ini khusus untukmu." Jaejoong mengeluarkan sesuatu dari tas dan Luhan sedikit takjub melihat undangan pernikahan Kai dan Kyungsoo yang terlihat sangat simple namun terlihat elegan.
"Harusnya malam ini Kai dan Kyungsoo ikut denganku untuk menemuimu, tapi banyak yang harus mereka lakukan untuk acara pernikahan mereka bulan depan. Mereka menitipkan undangan ini khusus untukmu. Jadi kau mau kan datang ke acara pernikahan adikku?"
Luhan yang masih melihat undangan pernikahan Kai dan Kyungsoo kembali menatap Jaejoong dan tersenyum ke pria cantik didepannya "Baiklah aku akan datang."
Jaejoong langsung memeluk Luhan cepat dan kembali melihat ke arahnya "Kau janji?"
"Aku janji hyung."
Setelahnya keduanya pun banyak mengobrol dan membicarakan banyak hal, sampai akhirnya Luhan memberanikan diri bertanya pada Jaejoong walaupun tahu dirinya akan berakhir sakit hati sekali lagi.
"Hyung aku ingin bertanya sesuatu." Luhan terdengar ragu membuat Jaejoong bisa menebak apa yang akan ditanyakan Luhan selanjutnya.
"Apa Lu?"
"umm..Aku ingin bertanya mengenai Sehun."
Jaejoong tersenyum dan menangkup wajah Luhan yang tampak ragu "Bertanyalah Luhan aku akan menjawabnya."
"Apa-..Apa dia menerima pertunangannya dengan putri direktur Choi?"
"Tidak Lu, dia tidak menerima pertunangan itu."
Luhan yang sedang menunduk tersenyum lega mengetahui Sehun tak memiliki hubungan khusus dengan wanita yang ia ingat bernama Choi Sulli.
"Tapi Sehun setuju untuk pergi berkencan dengannya, dan dia bersedia melanjutkan hubungan mereka lebih lanjut jika dia merasa nyaman pada Sulli."
Senyuman Luhan menghilang begitu saja menyadari Sehun benar-benar serius dengan ucapannya untuk mencari kebahagiaan lain untuknya, suaranya tertahan di tenggorokan dan hanya gumaman yang bisa ia keluarkan.
"ah begitukah." Ujarnya tercekat dan tak mampu berkata-kata lagi.
Jaejoong menyadari perubahan Luhan, dia pun menangkup wajah Luhan dan memaksa Luhan melihatnya "Apa kau masih mencintai Sehun?"
Air mata Luhan lolos begitu saja saat perasaannya pada Sehun kembali dipertanyakan . Dia ingin sekali menjawab tidak, tapi dia tahu dia akan semakin menyakiti dirinya sendiri jika dia terus berbohong.
"Luhan…Apa kau masih mencintai Sehun?"
Luhan menolak menatap Jaejoong dan menyandarkan kepalanya di atas meja kecil miliknya
"Aku mencintainya hyung-..Hatiku sesak mencintainya yang terus membenciku. Dia berusaha membuangku dari kehidupannya. Dia mengatakan hubungan kami adalah kesalahan. Aku sudah berkali-kali mengatakan akan merelakannya dengan orang lain. Tapi kemudian aku sadar itu hanya omong kosong. Jadi jika kau bertanya apa aku mencintainya?"
"Jawabannya adalah..Ya-..Aku masih sangat mencintainya. Tapi aku terlalu lelah untuk bertahan." Lirihnya menutup mata dan membiarkan air matanya membasahi pipinya. Membuat Jaejoong sekali lagi tersenyum iba menatap Luhan yang sudah benar-benar hancur secara keseluruhan.
..
..
..
Keesokan paginya terlihat Luhan yang masih terlelap dalam tidurnya tak terusik, dirinya memang memutuskan untuk tidur seharian ini mengingat kedatangan Jaejoong semalam yang memberitahukan tentang hubungan Sehun dan putri direktur Choi membuatnya tak bersemangat dan memutuskan untuk membunuh waktu dengan tak bergeming sama sekali dari tempat tidurnya.
Luhan yang memang sejak semalam tidak dapat tidur dengan benar hanya membolak balikan badannya resah dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tipis, sampai tidurnya terganggu karena suara ponselnya terus bergetar.
Luhan mengeluarkan tangannya dari dalam selimut dan dengan malas mengangkat nomor tanpa nama dilayar ponselnya tersebut.
"Halo…"
"Luhan kau tidak lupa dengan janji kita kan."
Luhan sedikit membuka selimutnya dan mengingat-ingat jika dia memiliki janji dengan seseorang, merasa tidak ingat Luhan sedikit bersender di ranjang tempatt tidurnya dan bertanya.
"Siapa ini?"
"Astaga Luhan! Ini aku Seulgi. Kau tidak menyimpan nomorku?"
Luhan terdengar terkekeh baru menyadari kalau memang dirinya belum sempat menyimpan nomor Seulgi semalam saat mereka bertemu.
"Ah mianhae Seulgiya… aku belum menyimpan nomormu."
"Yasudah cepat kesini, aku sudah sampai ditempat kita semalam."
"Ummmh...Seulgiya...aku rasa aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku sedang tidak enak badan dan hanya ingin berbaring di tempat tidurku."
"Ah begitukah? Tapi Luhan aku sudah menyuruh supirku pulang. Aku tidak bisa menyetir, bagaimana ini?"
Luhan terdengar menghela nafasnya saat mendengar Seulgi yang tampak panik. Dia kemudian membuka selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku akan berada disana dalam sepuluh menit. Tunggu aku."
"yey! Luhan yang terbaik!"
Setelah mendengar jawaban Seulgi, Luhan sedikit tersenyum dan segera mematikan ponselnya untuk bersiap. Sebenarnya dia memang malas keluar hari ini. Tapi setelah dipikir ulang tidak ada salahnya jika dia pergi keluar dan menjernihkan pikirannya walau itu bersama Seulgi.
Tok...tok..
Saat ini Luhan sudah sampai ditempatnya membuat janji dengan Seulgi dan sedang mengetuk pintu kaca mobil yang terparkir cantik didekat kafe yang mereka kunjungi semalam.
"Oppa kau sudah datang?!"
Seulgi membuka kaca mobilnya dan tak lama membukakan pintu kemudi untuk Luhan.
"Ayo masuk." katanya mempersilahkan Luhan.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Luhan yang sudah menyalakan mesin mobil Seulgi merasa tak enak hati karena membuat Seulgi menunggu.
"aniya…! Aku yang minta maaf karena memaksamu mengantarku."
"Aku sudah merasa lebih baik. Apa kita bisa jalan sekarang?" karanya bertanya pada Seulgi.
"Tentu saja! Ayo jalann!"
Luhan pun mengangguk mendengar instruksi Seulgi dan tak lama menjalankan mobil mewah Seulgi ke pusat perbelanjaan mewah di Myeongdong.
..
..
..
"Ini bagus… tapi ini juga bagus. Luhan menurutmu yang bagus yang mana?"
Ini adalah toko kesepuluh yang dikunjungi Seulgi dalam waktu kurang dari satu jam. Dan tak ada satupun toko yang ia tinggalkan tanpa barang belanjaan di tangannya.
"Luhan cobalah jas ini. Aku ingin tahu apa ini cocok atau tidak untuk ayahku."
Seulgi menyerahkan kemeja lengkap dengan blazer hitamnya pada Luhan, memaksa Luhan untuk mencobanya.
"Itu pasti cocok untuk ayahmu. Tidak perlu aku coba." balas Luhan yang menatap Seulgi sedikit terkekeh.
"Ish kau ini! Cepat ke ruang fitting dan coba pakaian ini." katanya mendorong Luhan ke ruang ganti dan menyerahkan kemeja beserta jas pilihannya untuk Luhan. Luhan hanya menghela pelan nafasnya dan setengah hati menjadi model Seulgi untuk hari ini.
"Aku selesai. Apa ini oke?"
Seulgi sedikit tak berkedip saat melihat Luhan yang terlihat tampan dan cantik dalam satu waktu. Luhan yang saat ini mengenakan jas dan kemeja pilihannya terlihat seperti model kelas atas yang tanpa dipoles akan terlihat sangat sempurna.
"Oppa kau tampan sekali!" pekiknya yang kemudian mendekati Luhan dan sedikit membenarkan kemeja Luhan.
"Pasti akan sempurna jika kau memakai dasi ini."
Seulgi sedikit berjinjit dan memakaikan dasi kupu-kupu pada Luhan. Membuat Luhan sedikit risih karena saat ini wajahnya terlalu dekat dengan wajah Seulgi.
"Luhan? Seulgi?"
Luhan dan Seulgi otomatis menoleh ke asal suara dan keduanya cukup terkejut mendapati Kai dan Kyungoo berada di toko yang sama dengan mereka.
"Oppa!" Seulgi berlari mendekati Kai dan Kyungsoo meninggalkan Luhan yang sedang mati-matian mengabaikan tatapan membunuh yang ditujukan padanya karena saat ini Sehun yang berdiri dibelakang Kai dan Kyungsoo sedang menatapnya tajam tak berkedip dengan seorang wanita yang terus merangkul manja lengan Sehun.
"Kalian disini? Ah-..Sehun oppa kau juga disini?" katanya bertanya pada Kai Kyungsoo dan Sehun.
"hmm...aku dan Kai sedang melihat-lihat jas yang cocok untuk digunakan di pernikahan kami. Kalian sendiri sedang apa?" Kyungsoo bertanya bingung melihat Seulgi yang terkenal sangat menyukai Luhan sedang berjalan berduaan dengan Luhan.
"Ah…..Aku dan Luhan. Kami berdua sedang kencan. Iyakan Lu?"
Luhan merasa dirinya sedang mendapatkan masalah karena baru saja Seulgi mengucapkan pengumuman tak terduga yang membuatnya harus mendapatkan tatapan sengit dari Sehun yang terlihat mencibir ke arahnya.
"Kalian berdua berkencan? Astaga aku tak percaya ini!"
"Kalau begitu kalian harus menceritakannya. Ayo kita makan bersama."
Seulgi mengangguk bersemangat sementara Luhan menggenggam tangan Seulgi memperingatkan nya untuk tidak bergabung. Seulgi Sedikit tersenyum meyakinkan Luhan dan kemudian kembali menoleh ke arah Kyungsoo.
"Tentu saja! Ayo kita makan bersama."
"Ah nona. Aku ingin kemeja dan jas ini. Tolong bungkuskan satu untukku."
Seulgi meminta pelayan di toko tersebut membungkuskan pakaian yang dikenakan Luhan untuk kemudian mereka makan siang bersama dengan Sehun dan yang lain.
..
..
..
Keadaan canggung pun tak terelakan lagi untuk Luhan dan Sehun. Saat ini keduanya duduk berhadapan dengan Seulgi dan Sulli yang juga duduk disamping keduanya saling berhadapan membuat Kai dan Kyungsoo sedikit terkekeh melihat tingkah Sehun dan Luhan yang saling menghindari kontak mata namun selalu berakhir dengan saling bertatapan karena tak bisa mengabaikan keberadaan satu sama lain.
"Sehun… siapa wanita disampingmu? Kau belum memperkenalkannya padaku dan Luhan."
Seulgi membuka suara membuat Sehun menatapnya tak suka dan malas untuk menjawab pertanyaan wanita yang sedari tadi terlalu dekat dengan Luhan.
"Ah perkenalkan aku Choi Sulli. Aku kekasih Sehun oppa, jika semuanya lancar mungkin kami akan segera menyusul Kai dan Kyingsoo oppa ke pelaminan. Benar kan sayang?" Sulli kembali merangkul manja lengan Sehun membuat Luhan melihat ke arah lain tak tahan menyaksikan kemesraan prianya dengan wanita lain.
"Ya tentu saja." Sehun menjawab namun matanya tak berkedip menatap ke arah Luhan.
Seulgi yang mengerti posisi Luhan pun segera merangkul manja lengan Luhan membuat tatapan seram Sehun kini beralih kepadanya "Kau dengar sayang? Kita juga harus segera menyusul Kai dan Kyungsoo. Oia Kalau begitu perkenalkan aku Kang Seulgi dan ini ke-ka-sihku Xi Luhan." Seulgi menekankan kata kekasih membuat Sehun bereaksi tak wajar dengan mendengus terlihat sangat kesal.
"Luhan kau menerima undangan pernikahan kami kan?"
Kyungsoo yang merasa keadaan sudah semakin memanas bertanya pada Luhan yang hanya menunduk tak berani mengeluarkan suara sama sekali sampai Kyungsoo bertanya padanya
"Iya aku sudah menerimanya. Jae Hyung sudah memberikannya padaku."
"Bagus kalau begitu kau harus datang. Aku akan sangat marah jika kau tidak datang." Katanya membuat Luhan sedikit tersenyum canggung "hmm..aku akan datang."
"Ck! Kenapa kalian mengundang pria sialan ini ke acara kalian? Kalian tidak ingat terakhir kali dia datang ke pesta seseorang dia menghancurkannya, dan pesta yang dia hancurkan itu pesta pernikahan kakak kita Kai."
"Sehun!" Kai sedikit membentak Sehun yang sudah berbicara keterlaluan pada Luhan.
"Maaf aku permisi ke toilet."
Luhan pun dengan terburu-buru bangun dari kursinya sedikit menabrak meja lain dan segera berlari ke toilet tak tahan mendengar sindiran Sehun yang selalu menusuk hingga ke hatinya.
Luhan membuka kasar pintu toilet dan sedikit bersyukur karena toilet di restaurant itu tampak sepi, dia pun dengan tergesa menyalakan air dan membasuk kasar wajahnya beberapa kali, bernafas sedikit terengah merasa keberadaan Sehun disekitarnya saat ini selalu menjadi sesuatu yang ia takutkan karena hanya pertengkaran dan kebencian yang bisa Luhan rasakan saat berdekatan dengan Sehun.
Luhan menatap dalam wajahnya ke cermin, mengutuk takdir yang sangat kejam untuknya. Di luar sana pria yang dia cintai jelas sedang mengutarakan kebencian terdalam untuknya sementara disini dia hanya bisa ketakutan jika semakin diteruskan kebencian itu semakin menjadi.
Luhan kembali mencuci mukanya sampai pintu toilet kembali terbuka, dia tidak memperhatikan apapun hanya mengusap kasar wajahnya hingga terlihat sangat merah "Aku tidak menyangka kau begitu licik."
Luhan menghentikan gerakannya karena sangat mengenali suara seseorang yang sedang mencuci tangan disebelahnya dan mentapnya menyindir dari pantulan kaca. Suara Luhan selalu hilang tercekat entah kemana setiap kali dia mendengar Sehun menghinanya.
"Kau tidak mendapatkan aku dan kini mendekati putri sekertaris Kang. Luhan yang pintar. Kau terlalu banyak mengambil keuntungan karena mengenalku."
Luhan menghela nafasnya berat, mengangkat wajahnya dan memutuskan untuk membalas tatapan tajam Sehun dari pantulan kaca "Hubunganku dan Seulgi. Aku rasa itu semua tidak ada kaitannya denganmu."
Sehun tertawa tak percaya menatap Luhan dari pantulan kaca, dia ingin membalas ucapan Luhan sebelum dia menyadari bahwa Luhan masih memakai liontin pemberiannya saat kecil. Hal yang Luhan katakan sangat penting untuknya dan dia bersumpah untuk tidak melepasnya karena liontin itulah yang menjadi pengikat hubungan keduanya selama ini.
"Aku permisi." Luhan tanpa banyak berkata meninggalkan Sehun terlebih dulu sebelum pria disampingnya kembali mengeluarkan sindiran tajam untuknya lagi.
Luhan sedikit membenarkan dirinya sebelum kembali bergabung tak ingin membuat teman-temannya bertanya dan kemudian berakhir menyalahkan Sehun.
"Kau mau pesan apa Lu?"
Luhan tersenyum dipaksakan menatap Seulgi "Apa saja."
"Kita pergi!"
Luhan sedikit melirik kejadian yang sedang terjadi didepannya, karena saat ini Sehun sudah menggenggam erat tangan Sulli dengan wajah yang terlihat sangat gusar dan emosi.
"Oppa kita mau kemana?" Sulli sedikit terkejut saat tangannya tiba-tiba digenggam dengan erat.
"Kita makan ditempat lain. Aku tidak sudi satu meja dengan anak pembunuh."
"SEHUN!"
Kyungsoo berteriak memperingatkan namun diabaikan Sehun yang kini sudah berjalan menjauh menggenggam Sulli meninggalkan Luhan yang saat ini menunduk memejamkan matanya erat menikmati seluruh hinaan Sehun dengan hati yang begitu sakit. Dirinya merasa sangat malu saat ini karena Sehun menghinanya didepan Seulgi yang kini memandang iba padanya.
..
..
..
"Nah kita sampai. Aku pulang dulu. Terimakasih untuk hari ini."
Luhan yang mengantar Seulgi sampai kedepan rumahnya kini sedang berpamitan dan hendak keluar dari mobil Seulgi sampai Seulgi menahan tangannya.
"eh? Kenapa lagi?" Luhan bertanya pada Seulgi yang kini tampak berkaca-kaca.
"Maafkan aku."
Luhan mengernyit tak mengerti menatap Seulgi "Untuk apa?"
"Aku tidak tahu kalau Sehun bisa sekejam itu padamu. Yang aku tahu dia sangat mencintaimu. Aku tidak tega melihat kau dihina seperti itu olehnya."
Luhan tersenyum sekilas dan memeluk Seulgi yang entah kenapa sudah menangis keras di pelukannya.
"Dia memang mencintaiku, tapi dulu. Dulu sekali." Katanya menenangkan Seulgi.
"Sekarang kami hanya dua pria yang saling tak ingin mengenal dimana yang satu sangat membenci sementara yang lain terus bertahan. Tapi kemudian si pria yang bertahan sudah sampai batasnya dia sudah kelelahan dan menyerah. Jadi aku rasa ini bagian yang harus kau mengerti….."
"Aku baik-baik saja Seulgiya. Dan aku yakin daripada diriku Sehun jauh lebih terluka. Jadi jangan membencinya, dia kesepian" Luhan menghapus air mata Seulgi dengan senyum yang terasa sangat menyayat hati.
"Tapi dia keterlaluan."
Luhan menggeleng dan kembali tersenyum "Dia hanya terlalu marah padaku, aku terus mengganggunya jadi wajar dia menggunakan segala cara untuk membuatku pergi."
"Apa kau baik-baik saja?" Seulgi bertanya pada Luhan yang tampak terluka.
Luhan mengangguk cepat dan sedikit tertawa "Aku butuh tidur dan aku akan baik-baik saja. Jadi aku pamit pulang dulu. Selamat malam hmm" Luhan sudah membuka pintu mobil Seulgi sampai Seulgi kembali menahan tangannya.
"Ada apa lagi?"
"Ini ambillah."
Luhan mengernyit saat Seulgi memberikan bungkusan yang ia ketahui adalah jas dan kemeja yang ia coba siang tadi.
"Apa ini?"
"Ini hadiahku untukmu. Ambillah Lu…kau terlihat tampan menggunakan kemeja dan jas itu."
Luhan menggenggam tangan Seulgi dan menggeleng lemah menolak pemberian Seulgi "Aku tidak membutuhkan pakaian mahal seperti ini."
Seulgi bersikeras memberikannya pada Luhan dan menatap Luhan sedikit kesal "Tentu saja kau membutuhkannya. Kau membutuhkan pakaian bagus untuk pergi ke pesta pernikahan Kai dan Kyungsoo kan? Aku tidak mau tahu kau harus membawa pakaian itu bersamamu atau aku akan membakarnya." Katanya mengancam Luhan yang terlihat terkekeh.
"Apa aku benar-benar tampan dengan pakaian ini?" Luhan memicingkan kedua matanya menginterograsi Seulgi.
"Tentu saja! Luhan sangat tampan!"
Luhan tertawa mendengar ucapan bersemangat Seulgi dia kemudian mengambil bingkisan itu dan menatap tajam ke Seulgi "Aku akan menyalahkanmu jika ada yang mengatakan kalau aku tidak pantas memakai pakaian mahal ini."
"Kalau begitu aku akan segera mencincang orang itu menjadi daging."
"Ambillah dan bawa pakaian itu bersamamu. Itu ucapan terimakasihku karena sudah menemaniku. Kau mau kan?"
Luhan yang masih tertawa kemudian semakin mendekap erat bingkisan yang diberikan Seulgi "Baiklah aku akan membawanya. Terimakasih hmm. Aku pergi dulu dan jangan menahan tanganku lagi kali ini." katanya memperingatkan Seulgi yang tertawa karena Luhan sangat menggemaskan dia dengan cepat keluar dari mobilnya dan
"LUHAN HATI-HATI!"
Seulgi berteriak memberitahu Luhan dan Luhan meresponnya dengan mengangkat ibu jarinya tanpa menoleh dan terus berjalan menjawab teriakan Seulgi.
..
..
..
Luhan baru saja turun dari bis yang membawanya pulang dan segera berjalan cepat karena hari mulai dingin, sesekali Luhan menikmati salju yang turun dan kemudian sedikit terkejut saat seseorang menarik kencang tangannya dan membawanya ke dekapan hangat yang terasa sangat familiar untuknya.
"Aku paling benci melihatmu berjalan sendiri di malam hari."
Jantung Luhan berdegup sangat kencang karena dia sangat yakin yang memeluknya saat ini adalah pria yang sama yang terlihat sangat menyeramkan padanya siang tadi.
"Sehun?" Luhan bergumam dan tak lama Sehun yang memang sudah menunggu lama kedatangan Luhan melepaskan pelukannya, kembali menatap datar Luhan yang terlihat kedinginan.
"Tapi itu dulu-….Aku benci melihatmu berjalan sendirian di malam hari saat kau masih menjadi kekasihku. Sekarang aku tidak peduli."
Luhan tertawa tak percaya karena Sehun sungguh sangat pintar membuatnya jatuh berkali-kali untuk merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
"Aku rasa itu keahlianmu saat ini-…"
Luhan teresenyum getir menatap Sehun yang kini memandangnya tak berkedip
"Membuatku tidak bisa melupakanmu lalu kau meninggalkanku dengan ucapan kasarmu. Selalu seperti itu semenjak aku kembali. Terus berulang sampai aku merasa muak."
"Kau memang harus merasa muak. Aku sedang membantumu untuk tidak terlalu sakit hati jika mendapat kabar tentang pernikahanku. Aku tidak mau kau sakit dan membuatku harus meninggalkan pernikahanku lagi."
"JANGAN MEMPEDULIKAN AKU KALAU PADA AKHIRNYA KAU TETAP MEMBUANGKU!"
Luhan berteriak frustasi merasa Sehun benar-benar hebat mempermainkan perasaan dan pikirannya.
"Aku lelah bertengkar denganmu Sehunna." Katanya semakin lirih menatap Sehun.
"Kalau begitu cepat pergi sebelum kau merasa sakit lebih banyak."
"Aku akan melakukannya. Aku permisi."
Luhan bisa mati jika terus berbicara dengan Sehun, dia kemudian berjalan melewati Sehun sampai Sehun mencengkram erat lengannya.
"Apa itu?" katanya bertanya pada bingkisan yang dibawa Luhan.
"Bukan urusanmu."
"Apa itu pemberian Seulgi?"
"Ya…setidaknya dia peduli padaku-…dia wanita cantik yang baik ha-.."
Mphhhhhh….
Ucapan Luhan tertahan saat Sehun kembali berbuat sesukanya dengan menciumnya, kali ini ciuman itu terasa kasar dan sangat menyakitkan, Sehun menggigit bibir bawahnya terlalu kencang membuat Luhan merasakan rasa anyir di sela ciuman mereka karena bibir bawahnya mengeluarkan darah saat ini.
Luhan hampir terbawa suasana memabukkan dari Sehun sampai dia merasa terkejut karena Sehun menarik kasar bingkisan yang berada di tangannya.
"Kau boleh memiliki hubungan dengan siapapun." Katanya mendesis merobek kasar tas bingkisan yang diberikan Seulgi lalu mengeluarkan pakaian yang ada didalamnya.
"Siapapun…tapi tidak dengan seseorang yang aku kenal!"
"SEHUN!"
Luhan berteriak tak percaya saat Sehun merobek kasar kemeja barunya dan sedang menginjak-injak jas dan kemeja yang Seulgi berikan didepan matanya.
"Atau aku akan terus melakukan hal ini." katanya tertawa puas setelah merusak barang pemberian Seulgi.
"Kau keterlaluan." Luhan menggeram menatap Sehun dengan sangat marah.
"Aku tidak peduli."
Plak!
"KAU KETERLALUAN OH SEHUN!"
Luhan menampar Sehun telak di wajahnya membuat Sehun sedikit tertegun tak percaya lalu kemudian dia tertawa meremehkan pada Luhan "Kau hanya membuktikan kalau kau memang hanya masa lalu mengerikan untukku Luhan." katanya kembali berkata tajam pada Luhan dan
Sret!
Sehun mengambil paksa liontin yang berada di leher Luhan membuat Luhan merasa sesak seketika saat benda berharga miliknya direbut oleh seseorang yang sangat membencinya saat ini.
"KEMBALIKAN PADAKU!"
Luhan berusaha mengambilnya namun Sehun menghalaunya.
"Ini milikku. AKU MEMBERIKANNYA UNTUK SESEORANG YANG AKU CINTAI BUKAN SESEORANG YANG AKU BENCI!" Sehun memaki Luhan dengan kejam dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Luhan.
"Tidak." Gumam Luhan merasa sangat ketakutan, dia mengejar Sehun dan mencoba menghalaunya.
"KEMBALIKAN PADAKU. ITU MILIKKU."
Luhan merentangkan tangannya mencegah Sehun pergi, terisak kencang karena takut akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasakan kehadiran Sehun
"Kau menginginkan ini? Bunuh aku dan kau akan mendapatkannya."
"SEHUN!"
Luhan merasa Sehun diluar batas karena terus mengucapkan kata-kata yang begitu kasar dan menyakitkan.
"Aku mohon-…Aku mohon kembalikan liontin itu padaku. Aku janji akan segera pergi, tapi aku tidak bisa pergi tanpa liontin itu."
Luhan berlutut tak mempedulikan tatapan orang yang berlalu lalang memandang keduanya dengan bingung, dia hanya tidak ingin Sehun membawa satu-satunya kenangan yang bisa membuatnya bertahan selama ini.
Sehun hanya menatap Luhan sekilas sebelum akhirnya dia melepas kasar cengkraman Luhan dan tak lama memasuki mobilnya, pergi meninggalkan Luhan yang kini meraung hebat di dinginnya malam yang terasa sangat menusuk hingga ke tulang rusuk.
Brrmmmm!
Luhan mencengkram kasar dadanya erat dan seketika tak bisa bernafas karena Sehun bahkan mengambil satu-satunya benda berharga miliknya.
"Kembalikan-….KEMBALIKAN MILIKKU SEHUNNA…argghhhhhhhh!"
Sekali lagi-….Sekali lagi Luhan merasa sudah mencapai batas seseorang untuk dilukai, dicaci dan dihina. Dia tidak tahu kalau mencintai seseorang bisa sesakit ini, Seolah memberitahu Luhan bahwa harapan untuk mengulang kisah mereka yang lama hanyalah sesuatu yang tak bisa ia dapatkan lagi bahkan dalam mimpi.
Sehun terus menerus menghancurkan Luhan dengan caranya. dan kali ini dia berhasil, dia berhasil meremuk redamkan perasaan Luhan dengan caranya yang luar biasa. Luhan sudah kehilangan segalanya dalam hidupnya dan saat ini Sehun bahkan merampas harapannya satu-satunya hal yang bisa membuatnya bertahan hingga saat ini.
tobecontinued...
chapter ini sih kayanya harus pake hastag #RIPHUNHAN #amit-amit...
.
update!
see you very very soon for the next chap...love :3
.
happya reading and review :)
