Previous…

"Kau boleh memiliki hubungan dengan siapapun." Katanya mendesis merobek kasar tas bingkisan yang diberikan Seulgi lalu mengeluarkan pakaian yang ada didalamnya.

"Siapapun…tapi tidak dengan seseorang yang aku kenal!"

"SEHUN!"

Luhan berteriak tak percaya saat Sehun merobek kasar kemeja barunya dan sedang menginjak-injak jas dan kemeja yang Seulgi berikan didepan matanya.

"Atau aku akan terus melakukan hal ini." katanya tertawa puas setelah merusak barang pemberian Seulgi.

"Kau keterlaluan." Luhan menggeram menatap Sehun dengan sangat marah.

"Aku tidak peduli."

Plak!

"KAU KETERLALUAN OH SEHUN!"

Luhan menampar Sehun telak di wajahnya membuat Sehun sedikit tertegun tak percaya lalu kemudian dia tertawa meremehkan pada Luhan "Kau hanya membuktikan kalau kau memang hanya masa lalu mengerikan untukku Luhan." katanya kembali berkata tajam pada Luhan dan

Sret!

Sehun mengambil paksa liontin yang berada di leher Luhan membuat Luhan merasa sesak seketika saat benda berharga miliknya direbut oleh seseorang yang sangat membencinya saat ini.

"KEMBALIKAN PADAKU!"

Luhan berusaha mengambilnya namun Sehun menghalaunya.

"Ini milikku. AKU MEMBERIKANNYA UNTUK SESEORANG YANG AKU CINTAI BUKAN SESEORANG YANG AKU BENCI!" Sehun memaki Luhan dengan kejam dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Luhan.

"Tidak." Gumam Luhan merasa sangat ketakutan, dia mengejar Sehun dan mencoba menghalaunya.

"KEMBALIKAN PADAKU. ITU MILIKKU."

Luhan merentangkan tangannya mencegah Sehun pergi, terisak kencang karena takut akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasakan kehadiran Sehun

"Kau menginginkan ini? Bunuh aku dan kau akan mendapatkannya."

"SEHUN!"

Luhan merasa Sehun diluar batas karena terus mengucapkan kata-kata yang begitu kasar dan menyakitkan.

"Aku mohon-…Aku mohon kembalikan liontin itu padaku. Aku janji akan segera pergi, tapi aku tidak bisa pergi tanpa liontin itu."

Luhan berlutut tak mempedulikan tatapan orang yang berlalu lalang memandang keduanya dengan bingung, dia hanya tidak ingin Sehun membawa satu-satunya kenangan yang bisa membuatnya bertahan selama ini.

Sehun hanya menatap Luhan sekilas sebelum akhirnya dia melepas kasar cengkraman Luhan dan tak lama memasuki mobilnya, pergi meninggalkan Luhan yang kini meraung hebat di dinginnya malam yang terasa sangat menusuk hingga ke tulang rusuk.

Brrmmmm!

Luhan mencengkram kasar dadanya erat dan seketika tak bisa bernafas karena Sehun bahkan mengambil satu-satunya benda berharga miliknya.

"Kembalikan-….KEMBALIKAN MILIKKU SEHUNNA…argghhhhhhhh!"

Sekali lagi-….Sekali lagi Luhan merasa sudah mencapai batas seseorang untuk dilukai, dicaci dan dihina. Dia tidak tahu kalau mencintai seseorang bisa sesakit ini, Seolah memberitahu Luhan bahwa harapan untuk mengulang kisah mereka yang lama hanyalah sesuatu yang tak bisa ia dapatkan lagi bahkan dalam mimpi.

Sehun terus menerus menghancurkan Luhan dengan caranya. dan kali ini dia berhasil, dia berhasil meremuk redamkan perasaan Luhan dengan caranya yang luar biasa. Luhan sudah kehilangan segalanya dalam hidupnya dan saat ini Sehun bahkan merampas harapannya satu-satunya hal yang bisa membuatnya bertahan hingga saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Mata sembab, wajah pucat dan kelelahan itu yang sedang terlihat di wajah Luhan pagi ini. pria bermata bulat itu terlihat sangat kelelahan terlebih setelah kejadian menyakitkan yang terjadi kemarin malam yang membuatnya sangat kelelahan namun dirinya tetap memaksakan diri masuk bekerja. Kedatangannya tentu saja bukan tanpa alasan. Luhan datang kekantor Yunho pagi ini dengan niat untuk mengambil miliknya yang diambil paksa oleh Sehun. Dia tahu itu hal yang mustahil didapatkan mengingat Sehun begitu membencinya, dia tersenyum pahit membayangkan wajah murka Sehun karena dirinya terus menerus mengganggu pria yang dulu pernah menjadi miliknya.

"Luhan?"

Merasa dipanggil namanya pun Luhan menoleh dan mendapati sekertaris Kang berlari mendekatinya "Selamat pagi paman." Luhan membungkuk dan tersenyum pada pria yang walaupun terlihat sudah berumur namun tetap semangat dalam bekerja.

"Luhan kau berhasil!"

"eh?" Luhan tampak tak mengerti dengan ucapan Sekertaris Kang yang memang sepertinya memiliki kabar baik untuknya.

"Manager Kim terbukti bersalah dan direktur Oh sudah mengajukan gugatanynya. Dan salah satu gugatan yang diajukan adalah pemalsuan surat yang dia lakukan pada perusahaan ayahmu."

Luhan tidak menunjukkan ekspresi apapun saat berita bagus ini diterimanya. Dia harusnya berlari ke ruangan Yunho dan berterimakasih karena setidaknya nama baik ayahnya akan kembali walau itu percuma karena sang ayah tetap melakukan perbuatan keji dengan membunuh orang tua Sehun dan Yunho.

"Syukurlah."

Senyum Sekertaris Kang memudar saat melihat ekspresi Luhan yang datar. Dan setelah dicermati wajah Luhan memang terlihat sangat kelelahan dengan kantung mata dan bibir yang terlihat memutih

"Luhan apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat."

Luhan hanya tersenyum sekilas saat sekertaris Kang bertanya. Terang saja wajah Luhan memucat, karena memang semalam setelah Sehun merenggut satu-satunya pemberian yang pernah ia berikan pada dirinya, Luhan merasa seperti kehilangan arah, tidak tahu harus kemana dan melakukan apa, membuatnya semakin tidak bisa tidur dan efeknya adalah pagi ini, dia merasa seluruh tubuhnya lemas dengan kepala yang terus berdenyut sakit.

"Saya merasa tidak enak badan dan berniat pulang cepat hari ini. Apakah boleh?"

"Tentu saja Luhan. kau memang harus beristirahat, pergilah ke dokter dan ambil waktu istirahatmu."

Luhan tersenyum dan mengangguk menyetujui usulan sekertaris Kang sampai sebuah suara kembali memanggilnya.

"Luhan ikut ke ruanganku."

Adalah Yunho yang terlihat menatapnya tak berekspresi dan memintanya untuk mengikutinya.

"Saya permisi sekertaris Kang." Luhan membungkuk dan perlahan mengikuti Yunho ke ruangannya.

Cklek….!

"Duduklah."

Yunho mempersilahkan Luhan duduk saat pria yang terlihat sangat kelelahan ini berjalan mendekatinya.

"Kau terlihat tidak baik hari ini." katanya mengomentari penampilan Luhan.

"Saya tidak pernah baik tiga tahun belakangan ini direktur." Katanya sedikit tertawa membalas pertanyaan Yunho.

Yunho menatap sesuatu yang berbeda dari Luhan, terlihat dengan jelas kalau pria didepannya ini sedang menahan rasa marah dan kecewanya yang membuatnya berbicara terlalu berani.

Dia kemudian menghela nafasnya dan kembali menatap Luhan dengan tajam "Aku akan langsung saja, pamanku terbukti bersalah dan aku hanya ingin mengingatkanmu kalau-…"

"Kalau semua sudah berakhir aku harus segera pergi. Aku mengingatnya direktur, sangat mengingatnya. Kau tak perlu khawatir." Luhan tersenyum getir membuat sesuatu dalam diri Yunho merasa terusik dan tak suka melihat Luhan.

"Bagus kalau kau mengingatnya."

"Apa ada hal lain yang ingin kau katakan?"

Yunho tertawa tak percaya mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Luhan hari ini begitu kurang ajar.

"Sehun sedang berbicara dengan pamanku saat ini. Entah dia akan percaya padaku atau pamanku. Jika dia masih percaya pamanku aku masih membutuhkanmu. Tapi jika dia mempercayaiku-.."

"Maka tugasku selesai dan aku harus pergi. Aku mengerti direktur. Saya permisi."

Luhan yang memang sedang merasa tidak enak badan tidak mampu berbicara lama dengan Yunho. Selain karena tidak ingin membuat hatinya semakin sakit, Luhan hanya ingin pulang lebih awal hari ini. Berbaring di ranjang kecilnya sekaligus mempersiapkan diri untuk benar-benar meninggalkan kehidupan yang seperti neraka untuknya.

Dirinya terus berjalan menuju ke mejanya mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuh dan rasa sakit dihatinya karena sekali lagi dua bersaudara Oh itu selalu membuatnya merasa sangat direndahkan dan tak diinginkan secara bergantian dan terus berulang.

Luhan sedikit memijat kepalanya sampai langkahnya terhenti karena saat ini Sehun sedang berdiri tepat didepannya, keduanya hanya terdiam sesaat, saling memandang sampai akhirnya bibir tipis Sehun tersenyum menyakitkan ke arah Luhan. Dia berusaha mengabaikan Luhan dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangan Yunho, melewati Luhan yang kemudian mencengkram erat lengannya.

"Apa-apaan kau!" Sehun mendesis melihat tangan Luhan mencengkramnya erat.

"Kembalikan milikku."

Sehun sempat tertegun menyadari suara Luhan yang terdengar begitu putus asa dan kelelahan, tapi kemudian dia menggelengkan kuat kepalanya berniat untuk tidak jatuh lagi dalam pada apapun yang berkaitan dengan Luhan.

"Aku sudah membuangnya. Barang itu milikku dan aku bebas melakukan apa saja."

"Bohong….Kau tidak akan pernah membuangnya, kau tidak akan sanggup Sehunna."

"Dan kenapa aku tidak bisa membuangnya?" Sehun bertanya menantang pada Luhan.

"Karena benda itu mengikat kita terlalu kuat. Kau bisa membenciku tapi aku yakin kau tidak akan bisa menghapus kenangan dari liontin milikku. Kau tidak akan bisa Sehun."

"Kau terlalu percaya diri! Dan jaga bicaramu kita berada di kantor Yun-…"

Awalnya Sehun menggeram namun tak lama dia mengernyit melihat Luhan yang berbicara seperti orang tak sadar, dia kemudian mempelajari wajah Luhan, terlihat sekali kalau Luhan berkeringat ditambah suhu tubuhnya yang terlalu dingin yang terasa di lengannya. Luhan sakit, dan Sehun sangat tidak suka hal itu.

"Aku bilang kau tidak boleh sakit." ujarnya menggeram balik mencengkram erat lengan Luhan

"Jangan sentuh aku. Kau yang menyakitiku. Kembalikan milikku." Luhan menghempas tangan Sehun dan berusaha menatap Sehun dengan benci namun kembali berakhir terlihat sangat putus asa.

"Kau ingin menjebakku hah? Berpura-pura sakit agar aku melihat ke arahmu? Demi Tuhan aku tidak peduli lagi padamu!" Sehun membentak Luhan terlalu keras membuat beberapa karyawan menatap ke arah mereka.

"Benarkah? Lalu kenapa kau begitu gusar mengetahui aku sakit? Munafik!"

"KAU!"

"Luhan…"

Terdengar suara sekertaris Kang yang sedikit berlari menghampiri Luhan dan membungkuk saat menyadari Sehun sedang berbicara serius dengan Luhan.

"Ada apa paman-…..umhh… maksudku sekertaris Kang." Luhan berusaha bersikap tenang saat sekertaris Kang memanggilnya terlihat penting.

"Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak…Ada apa?"

"Baguslah. Aku ingin kau mengantar client kita ke bandara. Dia akan pulang ke Jepang siang ini dan dia hanya ingin kau yang mengantarnya. Dia menyukai presentasimu minggu lalu."

Luhan terlihat menimbang sampai akhirnya dia mengangguk menyetujui "Baiklah aku akan bersiap dibawah."

"hmm…bawalah mobil dinas. Setelah itu kau boleh beristirahat."

Luhan kembali mengangguk dan membalikan badannya berjalan melewati Sehun yang masih terlihat sangat marah padanya "Suruh orang lain untuk mengantar client kita. Aku tidak ingin dia membunuh rekan kerja kita dengan keadaannya yang menyedihkan saat ini." ujarnya mencengkram erat lengan Luhan dan memberitahu sekrtaris Kang yang tampak terkejut dengan ucapan kasar Sehun.

Luhan tertawa tak percaya dan kembali menghempaskan lengannya yang dicengkram oleh Sehun "Tenang saja wakil direktur, aku akan membawa rekan kerjamu selamat sampai bandara. Dan jika ada yang harus mati diperjalanan kami. Aku orangnya." Katanya terdengar sangat bergetar sakit hati dan kemudian kembali berjalan meninggalkan Sehun untuk bersiap.

"Bagaimana bisa kau meminta asistenku untuk mengantar client. Dia bukan supir!"

Sehun terlihat sangat marah menatap pria tua yang kini memandangnya dengan tatapan iba melihat sendiri bagaimana dua orang saling membenci namun tak bisa mengabaikan kehadiran masing-masing.

"Dia bukan asistenmu lagi wakil direktur."

Sehun menaikkan kedua alisnya tak mengerti "Apa maksudmu?"

"Direktur sudah menempatkan Luhan di bagian perencanaan, dia bukan asistenmu lagi?"

"Sejak kapan keputusan itu berlaku?"

"Sejak hari ini setelah semua tentang paman anda terungkap, Direktur dan Luhan mempunyai perjanjian, dan jika semua berjalan lancar Luhan akan segera pergi dan aku cukup tenang mengetahui pria malang itu tak akan lagi disakiti oleh anda atau kakak anda. Saya permisi."

Sekertaris Kang begitu tak menyangka bahwa dua orang pria yang sudah ia kenal dari kecil dan ia anggap seperti putranya sendiri mempunyai kemampuan untuk menghancurkan seseorang secara berkeping-keping dan tanpa belas kasih, membuatnya begitu marah dan berharap Luhan benar-benar akan pergi dari kehidupan kedua bersaudara itu.

Sementara Sehun terperanjat mendengarkan ucapan Sekertaris Kang yang terdengar sangat kecewa padanya dan Yunho. Dia mengabaikan rasa marahnya pada Luhan, karena satu-satunya yang mengganggu pikirannya saat ini adalah kenyataan kakaknya yang juga membuang Luhan sementara pria itu sudah terlalu banyak ia sakiti.

Entah mengapa tangan itu mengepal erat, bibir itu menggeram marah dan hati itu terasa berdenyut sakit menyadari kalau sebentar lagi dia dan pria yang belum lama kembali ia caci dan hina itu akan kembali berpisah. Sehun kemudian berlari cepat menuju ke parkiran dan memastikan sesuatu sebelum perasaan gusar membunuhnya perlahan.

..

..

..

Saat ini mobil mewah berwarna hitam miliknya sedang terparkir di bandara, mengikuti mobil milik perusahaannya yang juga terparkir disana. Dia menunggu sampai si pengemudi yang tampaknya masih bersama dengan client mereka keluar dari bandara karena sepertinya pria yang tak lagi menjadi asistennya itu begitu disukai oleh hampir seluruh rekan kerja Yunho. Setelah menunggu cukup lama akhirnya sosok yang dia tunggu pun datang dengan wajah yang terlihat tertekan namun dipaksakan tersenyum . Dia berpamitan pada asisten rekan kerja Yunho dan tak lama memasuki mobilnya untuk kembali kekantor.

Sehun-…..pria yang sedari tadi memperhatikan Luhan pun ikut menyalakan mobilnya dan mengikuti Luhan perlahan. Entah apa yang dia lakukan yang jelas ia hanya ingin memastikan sendiri bahwa pria yang baru saja ia buat menangis histeris semalam sampai dengan selamat kemanapun dia ingin pergi.

Sehun masih mengikuti Luhan dengan kecepatan normal, sampai akhirnya dia sedikit membelalak melihat mobil Luhan tiba-tiba berbelok ke tikungan membuat beberapa pengendara mobil menekan klakson mobil mereka berulang menandakan mereka marah.

Tak lama Sehun juga berbelok ke tikungan yang sama dengan Luhan, dia menyadari kalau Luhan sedang tidak dalam fokusnya mengingat mobil yang ia bawa berbelok sesuka hati seperti tidak dikontrol.

"Sial!" Sehun semakin menggeram saat tiba-tiba kecepatan mobil Luhan menjadi tak menentu, membuatnya harus melajukan cepat mobilnya untuk menyamakan kecepatan mobil yang dibawa Luhan. Sehun sengaja menabrak sekilas mobilnya dengan mobil Luhan berniat membuat Luhan terkejut dan menepi, namun tampaknya hal itu tidak berguna karena kecepatan mobil Luhan masih sama berbahayanya. Sehun kemudian menginjak gas mobilnya dan

TIN…..TIN…!

Dia membunyikan klakson berkali-kali berharap Luhan segera menghentikan kegilannya.

TIN….TIN..!

Sehun semakin membunyikan klaksonnya dan sedikit lega karena Luhan membuka kaca jendelanya, Sehun sedikit panik menyadari wajah Luhan yang terlihat sangat pucat dengan darah di hidungnya yang keluar terlalu banyak.

"LUHAN MENEPI!"

Luhan yang memang dalam keadaan setengah sadar, sedikit membuka matanya yang begitu samar melihat dan putus-putus mendengar suara yang memanggilnya sampai dia merasakan mobilnya disenggol kuat oleh mobil lain, membuatnya sedikit tersentak.

"MENEPI!"

Setelah mendengar suara teriakan yang samar itu membuat Luhan sedikit sadar dan

Ckit….!

Dia tiba-tiba mengerem mendadak, diikuti mobil Sehun yang berhenti didepan mobilnya.

TIIIINNNNN!

Sehun yang masih terengah sedikit terkejut dan menoleh ke belakang tepat dimana mobil Luhan berada, dia kemudian dengan cepat keluar dari mobilnya kemudian membuka mobil Luhan, terkejut melihat Luhan yang kini sudah tidak sadarkan diri dengan posisi kepala tersembunyi di kemudi mobil dan tak sengaja menekan klakson mobilnya.

..

..

..

Malam terasa begitu sepi dan sunyi di sebuah rumah sakit di Seoul. Membuat si penghuni kamar VIP yang tengah dirawat perlahan menggerakan tangannya yang terasa nyeri karena jarum suntik yang kini berada di tangan kirinya dengan cairan infus yang berada tak jauh dari tempatnya berbaring.

Luhan mengerjapkan matanya berulang berusaha meraup sebanyak mungkin kesadarannya, sampai dirasa dirinya memiliki cukup tenaga untuk bersandar di kepala ranjang dan melihat keadaan ruangan yang sangat berbau obat itu dengan bingung.

Dia mengingat-ingat kejadian yang terjadi, berusaha keras untuk tidak melewatkan satu bagian pun sampai akhirnya bibir itu tertawa getir karena pikirannya bisa dengan jelas menggambarkan apa yang terjadi. Luhan mengingat semuanya. Teriakan Sehun yang memintanya menepi, Sehun yang sengaja membuat mobilnya dan mobil miliknya bergesekan dan semua begitu saja teringat jelas untuk Luhan, membuatnya sangat marah dan

Sret…!

Luhan manahan ringisannya saat dia melepas paksa jarum infusnya, dia kemudian berdiri namun kembali terjatuh karena kepalanya berputar dengan hebat. Dia tidak mau berada di tempat ini lebih lama lagi terlebih menebak Sehun akan datang kapan saja sesukanya membuatnya harus kembali menahan rasa sakit karena pria itu jelas akan memakinya.

Dia sedikit frustasi mencari sandal dan tasnya, sedikit menunduk sampai dirinya menyadari ada benda yang menggantung di lehernya. Benda yang sama yang semalam direbut oleh pemiliknya, benda yang sangat mempengaruhi perilaku Luhan seharian ini. benda yang dia pikir benar-benar sudah dibuang pemiliknya kini kembali ia miliki.

Brak…!

Luhan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, dia terjatuh dan terduduk di lantai rumah sakit, menggenggam erat liontin kecil itu dengan erat, memastikan jika itu memang miliknya dan rasa sesak yang menghimpitnya sejak semalam terasa menguap begitu saja saat menyadari kalau itu benar-benar miliknya.

"Terimakasih Sehun-….Terimakasih sudah mengembalikannya." Ujarnya terisak sangat pilu dan berkali-kali menciumi liontin kecil berinisial namanya dan Sehun. Luhan terus menggegamnya erat, menangis bahagia karena mendapatkan kembali sesuatu yang telah direbut oleh pemiliknya kemarin malam.

"Terimakasih Sehunna…hksss."

Suara itu tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, Luhan terus berulang mengucapkan terimakasih pada pria yang sedang memperhatikannya di balik pintu.

Ya… wajah itu tetap datar dan tak berekspresi, tapi hati itu sedikit melembut. Sehun memutuskan mengalah kali ini, bukan karena dia merasa iba pada Luhan, dia mengingat jelas ucapan dokter yang mengatakan tidak ada yang salah pada kondisi Luhan. Hanya tekanan yang terlalu berlebihan yang dia rasakan yang membuatnya seperti ini.

Dan Sehun tahu benar siapa Luhan, apapun yang membuatnya tertekan akan selalu membuatnya terjatuh. Luhan bisa menahan semua kemarahan dan kebencian orang lain untuknya tapi jika seseorang sudah mengganggu apa yang bisa membuatnya bertahan. Saat itulah Luhan akan terpuruk dan tidak akan ada yang bisa menolongnya. Tidak siapapun termasuk dirinya.

Setelah memastikan Luhan sudah lebih baik, pria berwajah dingin itu pun membalikan badannya, tidak berniat menghampiri pria cantiknya yang sedikit banyak mempengaruhi pikirannya. Dia terus berjalan menjauh sampai nanti akhirnya dia tahu kalau dia sudah terlalu jauh sampai dia tidak bisa membawanya kembali.

..

..

..

Keesokan pagi….

Luhan sudah luar biasa membaiknya pagi ini, dia tidak lagi memucat dan terlihat seperti Luhan, bukan Luhan yang kemarin yang berbicara kasar karena sesuatu yang sangat mengganggunya. Dia pun berjalan menuju mejanya dan berniat berterimakasih pada Sehun yang mungkin sebentar lagi akan keluar dari merasa tak ada tanda-tanda Sehun akan segera keluar dia pun berjalan mendekat dan memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Sehun.

Tok...Tok…

Luhan perlahan mengetuk ruangan Sehun, dan setelah mendapat jawaban dari si pemilik ruangan Luhan pun membuka pintunya perlahan dan berjalan dengan diam memghampiri Sehun yang terlihat sibuk.

"Aku tidak mengingat memanggilmu. Dan mengingat kau bukan asistenku lagi, aku rasa kita tidak perlu sering bertemu."

Luhan tersenyum pahit mendengar ucapan Sehun karena baru beberapa langkah Luhan mendekati Sehun, dirinya sudah harus menerima ucapan kesal Sehun untuknya.

"Aku tahu. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada anda-...Maksudku padamu Sehun."

Sehun otomatis menoleh dan menatap Luhan yang saat ini sudah berjalan mendekatinya. Sedikit lega karena kelihatannya Luhan sudah jauh lebih baik daripada kemarin.

"Berterimakasih untuk apa?" katanya bertanya menatap Luhan yang sedang tersenyum ke arahnya.

"Karena kau mengembalikan milikku."

Sehun sedikit terdiam sambil memandangi Luhan yang sedang menggengam erat liontin yang ia pakaikan untuknya semalam saat di rumah sakit. Dia masih tertegun karena untuk sekian lama Luhan masih menganggap benda kecil itu begitu penting. Pernah sekali saat mereka memutuskan untuk berpisah Sehun mengambil liontin itu dari Luhan. Membuat Luhan seperti mayat hidup karena entah mengapa semua pemberian Sehun terlalu ia jaga secara berlebihan.

"Dan terimakasih karena sudah membawaku ke rumah sakit."

Sehun mengalihkan pandangannya saat Luhan menatapnya. Menolak apapun yang berhubungan dengan kontak mata atau fisik yang berlebihan pada pria yang sedang ia lupakan.

Sehun tersenyum getir dan memandang Luhan penuh rasa tak percaya "Hanya karena-..."

"Hanya karena kau mengembalikan milikku dan membawaku ke rumah sakit, bukan berarti keadaan berubah. Iya aku tahu Sehun."

Luhan memotong ucapan Sehun dan tersenyum tulus ke arahnya.

"Aku hanya ingin berterimakasih. Malam itu saat kau mengambil liontin milikku. Aku merasa ada yang kembali direnggut dari hidupku. Aku sudah kehilangan semuanya. Aku tidak bisa kehilangan lebih banyak lagi." katanya sedikit bergetar memberitahu Sehun.

"Aku akan mengembalikan liontin ini secepatnya. Jadi biarkan aku memilikinya sementara ini."

Sehun menaikkan kedua alisnya merasa Luhan mulai berbicara tak penting "Apa maksudmu?"

"Aku tidak bermaksud apa-apa. Kalau begitu aku permisi. Terimakasih sekali lagi Sehunna."

Luhan pun melenggangkan kakinya pergi menjauh dari ruangan Sehun sampai langkahnya terhenti karena melihat seseorang memasuki ruangan Sehun.

"Sehun-...ah Luhan kebetulan kau juga ada disini. Kalian berdua segera bersiap. Kita akan pergi."

Baik Luhan maupun Sehun hanya menatap Yunho dengan bingung "Kita mau kemana?" Sehun bertanya mendekati kakaknya dan megabaikan wajah bingung Luhan.

"Paman sudah menyewa pengacaranya untuk menyanggah bukti yang kita miliki. Aku tidak tahu dia bermain sangat jauh dengan menuduh balik bahwa kita menjebaknya. Aku membutuhkanmu Sehun..dan kau Luhan. Kau bisa mengeluarkan bukti itu sekarang."

"Hyung… apa kita harus melakukan ini?" Sehun bertanya agak ragu pada kakanya.

Yunho menghela nafasnya pelan dan berjalan mendekati adiknya "Aku tidak peduli berapa banyak uang yang ia pakai untuk memulai usaha gelapnya. Itu sama sekali tak menggangguku. Satu-satunya hal yang menggangguku adalah kenyataan dia memberikanmu obat penenang dalam dosis besar secara perlahan dan rutin. Aku tidak bisa memaklumi apapun yang membuat keluargaku tersakiti dan bisa membahayakan mereka. Jadi untuk kali ini dengarkan aku hmmm."

Luhan bisa melihat betapa Yunho menjaga Sehun dengan baik bahkan hingga hari ini. Tidak membiarkan siapapun menyakiti adiknya dan akan membuat balasan setimpal untuk setiap orang yang menyakiti adiknya. Persis seperti apa yang dirinya rasakan saat ini.

"Baiklah aku mengerti."

Terdengar Sehun menjawab permintaan kakaknya dan tak lama kembali menoleh ke arah Luhan "Kau bersiaplah."

Luhan pun mengangguk mengerti dan tak lama pergi meninggalkan ruangan Sehun untuk bersiap.

..

..

..

"Apa yang kau bawa?"

Sehun yang sudah menunggu Luhan di parkiran mobil bertanya pada Luhan yang terlihat terengah.

"Sesuatu dari ibuku. Aku yakin kalian berdua menang karena ini."

"Memangnya apa yang bisa dilakukan orang yang sudah mati?"

Luhan sontak menatap marah ke arah Sehun dan meniadakan jarak dengan menatap Sehun dalam-dalam "Benci aku sebanyak yang kau mau. Tapi berhenti mengatakan hal mengerikan tentang ibuku." Geramnya membuka pintu kemudi mobil sebelum Sehun kembali mencengkram lengannya.

"Aku yang mengemudi. Aku masih ingin hidup asal kau tahu."

Sehun pun menyeruak memasuki mobil meninggalkan Luhan yang sudah benar-benar tak tahan dengan semua yang Sehun lakukan padanya.

"Cepat masuk!" Sehun memberi perintah dengan nada kasar, membuat Luhan tertawa pahit sebelum akhirnya memasuki mobil dan tak berniat mengeluarkan sedikitpun suara pada setiap pertanyaan Sehun.

Dan keduanya pun menghabiskan waktu terlampau diam dalam perjalanan mereka ke kantor kejaksaan, sampai akhirnya mereka sampai di kejaksaan dengan sekertaris Kang yang sudah menunggu kedatangan mereka.

"Paman. Mana Yunho hyung?" Sehun bertanya pada sekertaris Kang yang terlihat tersenyum menyambut kedatangan Sehun dan Luhan.

"Direktur sudah berada didalam. Kami menunggu kedatangan kalian tuan muda. Ayo kita masuk."

Keduanya mengangguk dan mengikuti Sekertaris Kang menuju ketempat dimana Yunho berada.

"Tapi kami menganggapmu seperti ayah kami!"

Terdengar suara Yunho sangat marah dari luar ruangan, membuat Sehun mempercepat langkahnya sementara Luhan semakin tidak yakin ingin terlibat lebih jauh dengan urusan keluarga Oh.

"Hyung!"

Yunho yang masih terlihat marah sedikit tersenyum melihat Sehun berada disana "Mana Luhan?" katanya bertanya pada Sehun.

"Anak sialan itu tidak akan bisa membuktikan apapun. Kalian sangat mengecewakan ibu kalian, dan kau Yunho-….Kau sangat gagal membesarkan Sehun. "

"PAMAN!"

Emosi Sehun tiba-tiba tersulut saat pamannya menghina Yunho, membuat Yunho mati-matian mencegah adiknya untuk tidak berbuat nekat.

"Panggilkan Luhan."

Sekertaris Kang mengangguk dan tak lama Luhan yang terlihat takut memasuki ruangan yang dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan keluarga.

"ck! Memalukan! Bagaimana bisa kau bekerjasama dengan anak seorang pembunuh. Kau benar-benar menyedihkan Yunho. Dan Kau-…"

Katanya menggertak Luhan membuat Luhan menatap pria tua yang menjadi alasan semua penderitannya dengan marah

"Kau pikir apa yang bisa kau lakukan untuk membuatku terus berada di tempat sialan ini hah!"

Luhan memandangnya tak berkedip, menimbang-nimbang apa dia harus membunuh pria didepannya dengan kedua tangannya sendiri atau hanya menyerahkan bukti kuat yang bisa membuatnya paling tidak bertahan di sel tahanan. Mata mereka masih berpandangan saling membenci dengan murka, sampai bibir Luhan tersenyum getir menatap pria tua didepannya ini.

"Paling tidak ini bisa membuatmu mendekam di sel tahanan hampir seumur hidup. Kau melakukan penipuan, pemalsuan surat izin, dan pencemaran nama baik. Kau membuat seseorang harus berubah menjadi mengerikan dan membuat seseorang harus kehilangan keluarganya. Kau membuatku kehilangan keluargaku. Kau membuat kedua keponakanmu kehilangan orang tuanya. KAU!"

"KAU YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA YANG TERJADI PADA KAMI!"

Luhan berteriak melemparkan dokumen yang sedari tadi ia pegang ke atas meja. Membuat wajah paman Sehun tiba-tiba memucat menyadari benar kertas apa yang berada di atas meja saat ini.

"Tidak mungkin." Gumamnya yang berusaha meraih dokumen tersebut namun Luhan meraihnya cepat.

"Kau akan membayar semuanya."

Sehun menatap Luhan sedikit khawatir karena pria itu terlihat sangat marah bahkan melebihi dirinya dan Yunho. Dia ingin sekali membuat Luhan sedikit lebih tenang namun dia tahu benar kalau dirinya juga merupakan alasan Luhan terlihat sangat marah saat ini.

"Darimana kau mendapatkannya?" Paman Kim mendesis bertanya pada Luhan.

"Aku berterimakasih pada ibuku yang menyimpan dokumen asli ini. Semua yang menandatangani berkas ini sudah memberikan saksi bahwa kau yang memalsukan semua dokumen itu dan membuat perdana menteri Oh membuat keputusan sepihak tanpa mendengarkan penjelasan si tersangka." Luhan menunjukkan disc yang berisi rekaman dari semua saksi hidup yang mengetahui kebenaran akan kasus yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

BRAK…!

"HARUSNYA AKU TIDAK MENDENGARKAN WANITA ITU DAN LANGSUNG MEMBUNUHMU SAAT KAU MASIH BAYI!"

Bukan hanya Luhan yang menegang kali ini, terlihat jelas wajah Yunho, Sehun dan Sekertaris Kang yang terkejut dengan ucapan pria tua didepan mereka yang secara tak langsung mengakui kalau dirinya adalah penyebab semua bencana ini terjadi.

"Apa maksumu?" Luhan yang masih terlihat terkejut memberanikan diri bertanya pada paman Sehun yang terlihat sangat menyeramkan saat ini.

"Pikirmu kenapa kau bisa berdiri didepanku saat ini?"

"Ibumu memintaku untuk tidak membunuhmu. Ibumu memintaku untuk menjagamu dan sialnya aku mengatakan menyanggupi untuk melakukan semua itu. Aku menyesal!"

"Kau mengenal ibuku?" Luhan menaikkan kedua alisnya semakin tak mengerti dengan ucapan paman Sehun.

Terlihat paman Sehun tertawa keji dan kemudian kembali menatap Luhan "Tentu saja aku mengenalnya. AKU SANGAT MENGENALNYA KARENA AKU SANGAT MENCINTAINYA."

Luhan merasa perutnya mendadak mual mendengar kenyataan yang baru ia ketahui saat ini, hal yang sama terlihat pada Yunho dan Sehun yang kini memandang Luhan penuh arti.

"Kami berteman sejak kecil, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Sampai akhirnya bajingan itu datang dan merusak segalanya. Dia mengambil milikku, dan sayangnya ibumu memilihnya. Aku sangat marah sejak itu dan bersumpah akan melakukan segala cara untuk menyingkirkannya. Dan aku berhasil."

Luhan memanas mendengar pengakuan menjijikan pria didepannya, bagaimana cinta bisa begitu mengerikan membuat seseorang tega menyakiti orang lain.

"Kau gila." Katanya tak mau mempercayai apapun.

"Harusnya aku membunuhmu saat itu, tapi ibumu memintaku untuk tidak menyakitimu. Awalnya aku ingin berbaik hati padanya, tapi melihatnya tumbuh bersama buah hati si bajingan itu membuatku sangat marah, aku membayar adiknya untuk mengambil paksa dirimu dari ibumu dan memintanya untuk menyiksamu sepanjang hidupmu. Dan harusnya aku berhasil membuatmu menderita seumur hidupmu andai saja keponakanku tidak mencintaimu, membuatku merasa muak karena hidupmu memang sudah menggagguku dari awal."

Luhan menggeleng cepat tak mau mendengar apapun lagi, dia ingin sekali pergi dari ruangan itu tapi kakinya terasa melemas tak bisa digerakkan.

"Tapi aku senang karena setidaknya kau bisa merasakan apa yang aku rasakan. Kau tidak akan mendapatkan cinta masa kecilmu karena aku yakin keponakanku sudah sangat membenciku."

"Bajingan!" Luhan menyalang hendak memukul paman Sehun sebelum seseorang menahan tangannya untuk tidak berbuat gila saat ini.

"Cukup Luhan."

"Lepaskan tanganku." Katanya menggeram pada Sehun yang saat ini mencengkram erat lengannya.

"Lihat betapa keponakanku membencimu. Aku sangat menyesal membiarkanmu hidup. HARUSNYA AKU MEMBUNUHMU DARI AWAL!"

BUGH!

Pukulan telak diterima oleh paman Kim, tapi bukan Luhan yang melakukannya melainkan Sehun yang tak bisa lagi mendengar ucapan yang sangat mengganggunya saat pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya saat terus menerus mengatakan ingin membunuh Luhan.

"JIKA ADA YANG HARUS MATI KAU ORANGNYA!"

Sehun memaki pamannya yang masih sangat terkejut karena keponakan yang sangat ia sayangi lebih memilih putra anak seorang pembunuh daripada dirinya.

"Jika kau mengatakan akan membunuhnya lagi, aku sendiri yang akan memberi pelajaran padamu. Aku malu memiliki hubungan darah dengan seorang pengacau sepertimu. Aku kecewa padamu paman."

Sehun mendesis dan tak lama menggenggam erat tangan Luhan, membawa pria yang sudah terlihat sangat terluka itu pergi menjauh dari tempat yang bisa membuat siapa saja kehilangan kendali atas dirinya.

"Lepaskan aku!"

Sehun masih menggengam tangan Luhan menjauh sampai akhirnya Luhan menghempas kasar genggamannya dan menatap benci pada Sehun "Jangan peduli padaku kalau akhirnya kau menyakitiku lagi. Aku sedang merasa sesak saat ini." katanya menatap Sehun berkaca-kaca dan berniat pergi sebelum Sehun mendekapnya erat.

"Lepaskan aku sialan." Luhan meronta merasa sangat membenci semua yang berkaitan dengan Sehun dan keluarganya.

Sehun tidak mau mengalah kali ini, dia semakin mendekap erat Luhan, tidak membiarkan Luhan pergi dalam keadaan marah seperti ini karena dia sangat mengenal Luhan. Pria yang berada di dekapannya saat ini akan selalu berbuat nekat jika dia terlalu panik atau terlalu marah

Luhan pun menyerah karena sadar tidak akan bisa lepas dari pelukan Sehun, perlahan dia berhenti meronta dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun, terisak keras disana karena sangat membutuhkan sandaran.

"AKU MEMBENCINYA SEHUN….AKU MEMBENCI PRIA ITU! AKU MEMBENCINYA."

Sehun begitu pilu mendengar suara kemarahan Luhan, dia tidak menjawab apapun hanya mendekap erat Luhan yang kini sudah lebih tenang dan tak lagi meronta.

"Rasanya sakit Sehun…. terlalu sakit! aku membencinya."

Luhan terus teisak sementara Sehun terus menenangkan pria yang berada didekapannya. Merasa sedikit bersalah karena mau bagaimanapun semua ini berawal karena perasaan cinta tak terbalas yang dimiliki pamannya terhadap ibu Luhan.

"Aku lelah Sehun."

"Aku tahu… Tenanglah Luhan."

Entah mengapa isakan Luhan secara refleks terhenti saat mendengar Sehun memintanya untuk tenang. Suara itu begitu lembut dan tulus tidak ada kebencian sama sekali didalamnya. Luhan kemudian membalas dekapan erat Sehun karena untuk pertama kalinya bisa merasakan kalau pria yang sedang memeluknya ini adalah pria yang sama yang dulu pernah mencintainya.

Untuk beberapa lama keduanya hanya saling memeluk erat, tanpa sadar saling menenangkan perasaan gusar yang sedang dirasakan keduanya. Sampai akhirnya Sehun melepas pelukannya pada Luhan karena merasa Luhan sudah cukup tenang dan tak lagi meronta ataupun terisak.

"Berhenti menangis." Katanya mengusap wajah Luhan dengan wajah datar miliknya.

"Aku antar kau pulang." Sehun kembali menggenggam tangannya sampai akhirnya Luhan kembali melepas genggaman tangannya.

"Kenapa?" Sehun bertanya tak mengerti pada sikap Luhan.

Luhan menggeleng lemah dan tersenyum lirih menghapus air matanya "Aku rasa ini waktunya." Katanya memberitahu Sehun yang terlihat menegang saat ini.

"Aku sudah menyelesaikan yang harus aku selesaikan, Aku akan pergi." katanya menggenggam erat tangan Sehun dan kembali menatap pria yang mungkin sebentar lagi tidak akan pernah ia lihat lagi.

"Aku akan berada di sekitarmu hanya sampai pernikahan Kai dan Kyungsoo, setelahnya aku akan pergi. tapi sampai pernikahan Kai dan Kyungsoo kita tidak akan bertemu. Aku tidak akan mengganggumu sehingga kita berdua tak perlu merasa sakit lagi." Katanya mengecup kedua tangan Sehun bergantian.

"Aku ingin sekali melupakanmu, aku ingin mempunyai rasa benci yang sama denganmu. Tapi…" Luhan bergetar menatap Sehun dengan frustasi, dia kemudian mendekat dan sedikit berjinjit melumat lembutbibir Sehun yang terasa dingin dan selalu ia rindukan.

"Tapi aku tidak bisa. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku lelah bertahan karena kau terlalu membenciku" Katanya tercekat melepas kecupan singkatnya untuk Sehun.

"haah…..Mungkin dengan saling melepaskan kita berdua akan lebih baik. Benarkan?" Luhan menghela nafasnya berat tersenyum memberitahu Sehun dia kemudian menghapus cepat air matanya dan kembali menatap Sehun, berusaha tertawa sebelum air mata kembali menguasai dirinya "Jaga dirimu baik-baik. Dan terimakasih karena pernah menjadi seseorang yang sangat mencintaiku." Ujarnya mengerling Sehun sambil menunjukan liontin pemberiannya.

"Aku pergi."

Itu adalah Senyuman terakhir yang mungkin bisa Sehun lihat dari wajah Luhan. Karena saat ini pria yang mungkin sampai hari ini masih menempati sudut terdalam didalam hatinya sedang berjalan menjauh. Semakin lama semakin samar tak terlihat. Membuatnya menyadari satu hal

Aku melakukan kesalahan lagi dengan melepasmu untuk yang kedua kalinya.


tobecontinued...


update!

.

happy reading and review :*