previous

"Aku pergi."

Sehun kembali mencium Luhan, namun Luhan menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk mendorong Sehun menjauh.

"PERGI KAU!"

Sehun sedikit menyeringai dan tak lama memakai jaket dan mengambil kunci mobilnya, meninggalkan Luhan yang terlihat sangat marah dan merasa sangat kotor saat ini.

"BRENGSEK KAU OH SEHUN…..ARGHHHHHH!"

Sehun yang sudah berada diluar flat Luhan hanya bisa tersenyum pahit mendengar Luhan kembali memakinya penuh kemarahan dan melempar barang apapun yang berada didekatnya. Dia hanya menghela nafasnya kasar dan berniat untuk datang melihat Luhan esok hari.

Sehun hanya mencari alasan dengan mengatakan untuk melihat apakah Luhan baik-baik saja atau tidak setelah percintaan mereka beberapa menit lalu. Tujuan utamanya datang sesering mungkin ke tempat Luhan adalah untuk membuat Seunghyun dan Luhan tidak menjadi dekat seiring berlalunya hari.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Musim dingin di Seoul mencapai minus tiga derajat hari ini. Membuat semua penduduknya harus memakai jaket yang tebalnya sebanding untuk menutupi rasa dingin yang menyengat di seluruh tubuh mereka.

Rasa dingin itu juga dirasakan oleh pria cantik yang kini sedang berjalan menyusuri dinginnya kota Seoul melangkahkan kakinya untuk segera menemui seseorang yang akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Sungguh-…Jika kita mengenal pria yang terlihat memucat dengan bibir menggigil kedinginan itu, kita bisa langsung mengetahui kalau pria yang biasa disapa dengan nama Luhan itu terlihat sangat menyedihkan. Bukan hanya fisiknya yang terlihat semakin melemah namun jika kita tanyakan langsung pada si pemilik tubuh, maka dia akan menjawab bahwa seluruh tubuh dan jiwanya merasakan sakit saat ini. Jika dia mendapatkan rasa sakitnya dari orang lain mungkin dia tidak akan menjadikannya masalah. Tapi ini semua adalah kebalikan dari yang Luhan harapkan, semua rasa sakitnya justru berasal dari kedua orang yang selalu ia jaga dan ia sayangi dengan hidupnya. Dan tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menerimanya tersenyum miris seolah hidupnya yang menyedihkan ini sudah tertulis bersamaan dengan saat dirinya dibawa lahir ke dunia.

Luhan berhenti di sebuah kafe dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di jaketnya. Dia masih menimbang-nimbang apakah harus masuk kedalam atau hanya terus bertahan sampai Sehun berhenti mengatakan ucapan kasar dengan sendirinya. Dia kemudian menghela nafasnya dan sedikit meniup tangannya yang membeku, "Aku rasa semua ini memang harus segera berakhir."

Luhan sudah membuat keputusan, dia pergi dan akan segera pergi secepat mungkin, dia pun perlahan membuka pintu kafe dan

Tring…

"Selamat datang." Luhan tersenyum pada pegawai wanita yang menyapanya dia kemudian sedikit mengedarkan pandangannya dan mengenali sosok yang sedang menunggunya di kafe.

"Aku sudah ada janji dengannya." Katanya memberitahu si pelayan dan segera berjalan menuju tempat dimana seseorang sedang menunggunya.

"Maaf aku terlambat paman."

Luhan menarik kursinya dan duduk di depan Sekertaris Kang-…pria yang mungkin hampir satu jam telah menunggunya.

"Kau sudah datang?" Sekertaris Kang menyapanya dan tersenyum melihat wajah Luhan yang terlihat buruk namun selalu ada senyum yang ia tunjukan disana.

"Hmm.." Balas Luhan dan tak lama ia memesan coffe latte sebelum berbicara dengan ayah kandung dari Kang Seulgi didepannya ini.

"Jadi bagaimana?" katanya bersemangat bertanya pada sekertaris kepercayaan Yunho ini.

Sekertaris Kang mengambil selembar kertas dan sebuah buku kecil lalu kemudian menyerahkannya pada Luhan "Kau mendapatkannya Lu. Direktur sudah membuatkannya untukmu dan ini legal. Kau bisa pergi tanpa halangan, passport mu sudah diurus dan kau bisa pergi kemanapun yang kau mau." Katanya menyerahkan passport milik Luhan dan selembar cek untuknya.

"Aku hanya membutuhkan ini paman." Katanya mengambil passport miliknya dan mengembalikan cek yang diberikan Yunho untuknya.

"Tapi kau harus memulai hidup di tempat yang kau mau. Kau membutuhkan uang Luhan."

Luhan menggeleng dan tersenyum menatap pria paruh baya didepannya ini "Aku sudah terlalu banyak menerima kebaikan keluarga Oh. aku tidak bisa menerima lebih banyak lagi dari mereka. Aku sudah sangat senang karena aku memiliki identitas ini paman." Luhan meyakinkan sekertaris Kang dan dengan sedikit menyeruput coffe latte miliknya dengan perlahan.

"Lagipula aku memiliki beberapa sejumlah uang. Aku benar-benar akan memulai hidupku yang baru." Katanya tersenyum sangat bahagia menatap sekertaris Kang

"Apa kau benar-benar akan meninggalkan Seoul?"

Luhan meletakkan cangkir kopi miliknya dan terdiam sesaat sampai matanya kembali menatap sekertaris Kang "Demi kebaikanku, demi kebaikan direktur dan Wakil direktur….Ya-….Aku akan segera pergi dari Seoul."

"Kau akan bahagia kemanapun kau pergi?"

"Tidak akan sebahagia saat aku disini tentu saja. Tapi aku akan mencoba bahagia."

Sekertaris Kang menghela nafasnya dan melihat ke arah Luhan "Baiklah kalau itu keputusanmu. Aku hanya berharap kau selalu berbahagia Luhan."

"Aku akan bahagia paman. Terimakasih."

"haah-….Putriku akan menangis jika tahu kau akan pergi. Dia benar-benar menyukaimu Luhan."

Luhan sedikit tertawa dan kembali menyeruput kopinya yang mulai dingin mengikuti cuaca di luar "Aku juga menyukainya-….."

"Sebagai adikku." Katanya menambahkan membuat wajah sekertaris Kang terlihat kecewa.

"Baiklah paman. Aku harus bekerja dan menikmati sisa waktuku berada di Seoul. Aku akan memanfaatkannya dengan baik." Katanya berdiri dan membungkun berpamitan pada paman Kang yang tersenyum padanya.

"Bersenang-senanglah Luhan."

"Aku akan melakukannya." Katanya kembali berjalan keluar dan segera menuju ke kafe Jaejoong untuk kembali bekerja berniat menikmati sisa waktunya untuk membantu Jaejoong satu-satunya bagian dari keluarga Oh yang selalu memperlakukannya dengan baik.

..

..

..

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ini. Udara dingin semakin terasa namun tak membuat semangat salah satu pegawai di kafe milik Jaejoong ikut bermalasan karena udara seperti ini hanya cocok untuk bersembunyi dibalik hangatnya selimut di kamar masing-masing.

Tring….

"Selamat da-…"

Sapaan Luhan menjadi tercekat saat mendapati pria yang sama yang memperlakukannya dengan kurang ajar semalam berdiri dengan wajah tersenyum menakutkan untuk Luhan.

"Kau terlihat baik-baik saja."

"…"

"Sudahlah tidak penting. Berikan aku sebotol minuman keras. Aku ingin menghangatkan tubuhku." Sehun berjalan begitu saja meninggalkan Luhan dan tak lama kembali membalikan tubuhnya melihat Luhan "Aku ingin kau yang mengantar minumanku." Ujarnya dan tak lama menarik kursi di tempat yang sama seperti kemarin saat dirinya mengajak keponakannya untuk makan siang.

Harusnya Luhan berteriak marah pada pria yang memperlakukannya seperti pelacur kemarin malam. Kembali menamparnya atau memakinya dengan ucapan tajam yang selalu dia dengar juga, tapi entah kenapa semua itu selalu tertahan di kerongkongan Luhan saat serentetan kalimat makiannya ingin ia tunjukan langsung pada mantan kekasihnya itu.

Keduanya saling menatap tajam di tempat masing-masing, sampai akhirnya Luhan harus mengalah dan menghela kasar nafasnya membuat pria yang sedang menatapnya tak berkedip itu tersenyum menang karena saat ini Luhan sedang bergegas menyiapkan pesanannya.

"Silahkan menikmati pesanan anda."

"Aku memesan minuman keras." Katanya mencengkram pergelangan tangan Luhan saat secangkir teh hangat yang disajikan untuknya.

"Mengingat ini adalah kafe kakak ipar anda, harusnya anda tahu kalau kafe ini tidak menjual minuman keras." Katanya membalas Sehun setenang mungkin.

"Tapi aku menginginkan minuman keras."

"Anda salah tempat kalau begi-…"

BRAK!

Luhan sedikit tersentak saat Sehun menggebrak kencang mejanya, membuat seluruh mata memandang ke arah mereka dan hal itu otomatis membuat Luhan mengutuk dirinya karena kembali memancing amarah mantan kekasihnya.

"Jangan berbicara seolah kau tidak mengenalku." Katanya mendesis merasa marah dengan cara Luhan berbicara dengannya.

"Anda pelanggan dan saya pelayan. Saya harus menjaga sikap saya."

"ck. Aku lebih suka jika kau mengatakannya seperti ini, aku adalah seorang anak yang orang tuanya dibunuh dan kau adalah seorang anak pembunuh."

Luhan mengepalkan erat tangannya dan menatap Sehun dengan tatapan yang selalu terluka saat memandangnya "Kedengarannya bagus. Aku anak pembunuh dan orang tuamu adalah korban. Katakan apapun yang kau mau Sehun. Aku sudah mati rasa dengan segala ucapanmu." Katanya sedikit bergetar dan berjalan meninggalkan Sehun yang merasa melihat sesuatu yang berbeda Luhan, entah itu apa tapi yang jelas dia memiliki perasaan buruk mengenai pria yang selalu ia sakiti tersebut.

Sehun masih berada di kafe milik Jaejoong bahkan setelah semua pelanggan pergi dan seluruh pegawai bersiap menutup kafe karena ingin segera bergegas pulang. Tidak ada yang berani mengusik Sehun tentu saja. Tidak semuanya kecuali Luhan. Tapi Luhan tahu benar jika dia mulai berbicara lagi pada Sehun, dia hanya akan berakhir bertengkar atau setidaknya saling memaki dengan Sehun.

"Baiklah Luhan, kau yang bawa kuncinya. Aku pulang dulu." Lay yang baru saja menutup tirai jendela memberikan kunci kafe pada Luhan dan segera bergegas pergi karena tak tahan mendapati aura mencekam jika bersama Sehun terlalu lama,

"Kalau begitu sampai besok Lay. Kau hati-hati dijalan." Gumam Luhan yang juga bersiap dan memakai jaket tebalnya, lalu tak lama dirinya berjalan menuju pintu keluar.

"Kau berniat bermalam disini?" katanya bertanya pada Sehun yang sama sekali tak bergeming di tempatnya dan hanya terus menatapnya tak berkedip.

"Aku menunggumu."

"Untuk apa? Untuk memakiku lagi? Untuk menghinaku? Well….Jika benar kau ingin melakukannya lagi. Ini waktu yang tepat Sehunna." Katanya tertawa pahit menyadari ucapannya yang bisa kapan saja kembali membuat Sehun melakukan hal kasar padanya.

Sehun bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Luhan, membuat Luhan sedikit mundur mengantisipasi apa yang akan kembali dilakukan oleh Sehun "Aku tidak akan terpancing olehmu kali ini. jadi cepat keluar darisini dan aku akan mengantarmu pulang." Katanya memberitahu Luhan yang tertawa tak percaya melihat kemampuan Sehun untuk membenci dan peduli pada dirinya dengan begitu hebat.

Luhan sedang mengunci pintu kafe Jaejoong dengan Sehun yang bersandar di kaca kafe memperhatikan Luhan dengan seksama sampai akhirnya Luhan selesai dan memasukkan kunci tersebut kedalam tasnya.

"LUHAN…."

Luhan otomatis menoleh ke asal suara dan tersenyum mendapati seseorang yang pernah sangat membantunya untuk bertahan hidup berjalan menghampirinya.

"Seunghyunna." Luhan menyapa Seunghyun membuat Sehun tertawa kesal menyadari perubahan wajah Luhan saat menyapanya dan menyapa pria sialan yang belakangan selalu mengikuti Luhan.

"Ah syukurlah aku belum terlambat." Katanya berdiri tepat didepan Luhan membuat Luhan mengernyit bingung.

"Terlambat untuk apa?"

"Aku ingin mengantarmu pulang. Tadinya aku berniat kesini lebih awal, tapi banyak hal yang harus aku selesaikan."

Luhan baru saja ingin membuka mulutnya sampai tiba-tiba tangannya ditarik kencang oleh Sehun yang berniat membawanya pergi.

"Sehun lepas!" Luhan menghempas kasar tangan Sehun membuat Sehun begitu marah karena Luhan menolaknya didepan pria yang jelas-jelas menyukainya.

"Kau pulang bersamaku." Katanya kembali menarik tangan Luhan namun kali ini Seunghyun ikut menahan tangan Sehun agar tak sembarangan membawa Luhan.

"Jangan memaksanya. Lagipula siapa kau? Kenapa kau terlihat mengatur Luhan?"

"Kau bertanya siapa aku? Baiklah-…bagaimana jika seperti ini, pria didepanmu ini terikat denganku dan malam ini dia akan pulang bersamaku." Katanya menghempas tangan Seunghyun dan kembali membawa Luhan pergi.

"Kenapa kita tidak tanyakan langsung pada Luhan," Seunghyun kembali menahan tangan Luhan membuat Luhan semakin mual melihat keadaan malam ini.

"Aku tidak pernah meminta salah satu dari kalian untuk datang menjemputku malam ini. Tapi jika aku harus memilih maka aku akan memilih pulang bersama Seunghyun." Ujar Luhan mendesis melepaskan tangan Sehun agak kasar.

"Kita mempunyai perjanjian untuk saling melepaskan, jadi berhentilah mengingkari kesepakatan kita." Katanya memberitahu Sehun yang terlihat diam dan mengepalkan erat tangannya melihat kepergian Luhan bersama Seunghyun.

..

..

..

"Terimakasih sudah mengantarku pulang Seunghyunna. Aku permisi."

"Luhan aku ingin bertanya banyak hal padamu."

Seunghyun yang sudah memakirkan mobilnya tepat didepan flat Luhan mencegah Luhan untuk segera masuk kedalam rumahnya karena memiliki sejumlah pertanyaan yang menggangu pikirannya.

"Ada apa?" katanya bertanya pada Seunghyun.

"Apakah dia orangnya?"

"eh?"

"Apakah Sehun orang yang selalu kau ceritakan selama kita saling mengenal?"

"Apakah dia alasan kuat yang membuatmu selalu menolakku?"

Luhan tersenyum lirih mendengar pertanyaan Seunghyun yang terdengar kecewa padanya, dia pun kemudian mengambil kedua tangan Seunghyun dan menatap lembut pria yang mungkin hingga saat ini selalu mencintainya "Ya….Sehun orangnya." Katanya memberitahu Seunghyun yang hanya bisa tertawa lirih.

"Tapi dia hanya masa laluku Seunghyunna. Kami sudah tak memiliki hubungan apapun sat ini, dia sangat membenciku dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk mengubahnya." Katanya sedikit bergetar memberitahu Seunghyun.

"Apa kau masih mengharapkannya?"

Luhan merasa pertanyaan ini begitu menjebaknya, dia terlihat berhati-hati menjawabnya sampai kemudian bibirnya tersenyum simpul dan sedikit menggenggam kuat tangan Seunghyun.

"Tidak-…..Aku tidak mengharapkannya lagi, dia terus menyakitiku dan aku tidak bisa menerima lebih banyak lagi rasa sakit." katanya memberitahu Seunghyun dan tak lama melepaskan genggaman tangannya.

"Terimakasih sudah mengantarku pulang. Aku masuk dulu, sampai nanti." Katanya berpamitan dan segera keluar dari mobil Seunghyun untuk berjalan masuk kedalam flat kecil miliknya.

Luhan mungkin saja sudah beristirahat dan bersembunyi di balik selimutnya yang hangat, tak mengetahui bahwa ada dua pria yang sedang memperhatikan flat kecilnya dari luar. Selama dua puluh menit pertama saat Luhan memasuki flatnya, Seunghyun tidak bergerak sedikitpun dia hanya ingin memastikan Luhan beristirahat dengan nyaman dan memutuskan untuk pergi setelah merasa sedikit lelah.

Sementara pria yang satunya tetap bertahan dan berniat berjaga sepanjang malam disana, memperhatikan tak berkedip flat kecil yang sangat tidak layak dihuni dimana pria yang selalu ia sakiti beristirahat disana. Sehun bisa saja kembali membuat ulah dengan memaksa masuk dan mungkin meminta Luhan untuk membukakan pintunya, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya menyadari kalau dirinya dan Luhan bisa benar-benar berakhir kapan saja jika dia terus membuat Luhan merasa tak diinginkan.

Dia bersandar di kemudi mobilnya masih menatap flat Luhan dan membayangkan setiap ekspresi wajah Luhan yang selalu marah, sedih, kecewa dan berteriak saat bersamanya, Sehun memejamkan matanya erat masih membayangkan wajah Luhan yang dulu selalu tertawa untuknya, menjadi kuat untuknya saat dia lemah, dan selalu tersenyum cantik padanya. Sehun tidak pernah bisa melupakan Luhan, dia hanya terlalu egois untuk mengatakannya, dan saat ini setelah semuanya terlambat, dia tidak tahu cara memperbaikinya dan membuat keadaaan semakin kacau.

Sehun mencengkram erat kemudinya merasa semua ini begitu menyakitkan dan tak lama bergumam menyadari satu hal

"Aku membutuhkanmu…"

..

..

..

Hari sabtu pun tiba, itu artinya hari ini adalah hari bahagia untuk Kai dan Kyungsoo serta untuk Luhan.

Luhan?

Ya tentu saja ini juga hari bahagia untuk Luhan, karena setelah ini dia akan pergi dan memulai hidupnya yang baru di suatu tempat.

Luhan masih berada di flat nya masih memilih pakaian apa yang pantas ia gunakan, namun dirinya mendengus karena satu-satunya yang pantas ia gunakan untuk pergi ke pesta mewah Kai dan Kyungsoo adalah pakaian pemberian dari Sehun yang sejak pria itu memintanya untuk memakainya tak pernah Luhan sentuh sedikitpun.

Drtt…drrt…

Luhan sedikit memijat kepalanya saat nama Jaejoong yang entah sudah berapa kembali tertera di layar ponselnya, dia pun segera mengambil ponselnya dan menggeser tombol answer untuk menjawab telepon dari Jaejoong

Luhan kau dimana? Acaranya sebentar lagi dimulai. Kau harus datang, kau sudah berjanji padaku.

Luhan tersenyum membayangkan wajah Jaejoong saat ini, membuatnya sedikit tertawa dan membalas "Ini baru jam enam pagi hyung, acaranya jam sembilan kalau aku tidak salah."

Tetap saja kau harus datang lebih awal. Aku sangat sibuk dan membutuhkanmu untuk menjaga Haowen.

"Baiklah hyung, setengah jam lagi aku sampai."

Setengah jam Lu, aku tidak mau kau terlambat!

"Araseo hyung. Aku bersiap dulu."

Luhan mematikan ponselnya dan berjalan menghampiri bingkisan yang tergeletak begitu saja dilantai, dia kemudian meraihnya dan berniat mengganti pakaian yang diberikan Sehun karena merasa tak memiliki pakaian yang pantas digunakan lagi.

Luhan sudah memakai pakaian yang diberikan Sehun lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna merah yang dipilihkan Sehun untuknya, semua terasa pas, kemeja, jas, bahkan sepatu yang dibelikan Sehun semua cocok untuknya, membuat Luhan sedikit berterimakasih pada Sehun kali ini karena setidaknya memberikan sesuatu yang pantas untuknya.

Luhan kemudian mengambil jaket tebalnya dan berniat memakainya didalam bis, dia menyadari kalau dirinya sudah sangat terlambat dan sudah mengabaikan ponselnya yang terus bergetar karena Jaejoong terus menghubunginya.

Luhan mengunci cepat flat nya dan sedikit berlari ke halte bus sampai sebuah suara yang terlalu familiar kembali ia dengar.

"Aku senang kau memakainya. Semua terlihat cocok untukmu."

Luhan mengernyit karena mendapati Sehun sedang bersandar di dinding dengan tangan terlipat dan kaki kiri yang ia angkat untuk bersandar di dinding.

"Sedang apa kau disini?"

Sehun mengangkat bahunya asal berjalan mendekati Luhan, memeriksa dengan jelas seluruh wajah Luhan dan sekali lagi begitu terhipnotis dengan tatapan Luhan yang disertai bulu mata lentik khas miliknya "Bukankah kau bilang kita berdua sama-sama tahu kalau Jaejoong hyung selalu melakukan berbagai cara untuk membuat kita bersama? Jadi aku disini karena Jaejoong hyung bukan karena keinginanku." Katanya mengambil jaket milik Luhan dan memakaikannya pada Luhan yang terlihat sangat sempurna hari ini.

"Dan aku tidak akan membiarkanmu menghempas kasar tanganku kali ini. kita pergi." katanya kembali menggenggam erat tangan Luhan dan membawa Luhan ke dalam mobil untuk segera menghadiri acara pernikahan Kai dan Kyungsoo.

Sementara Luhan hanya membiarkan Sehun melakukan apapun yang ia inginkan hari ini, apapun mengingat hari ini mungkin adalah hari terakhir dia bisa melihat wajah pria yang sedang menggenggam erat tangannya saat ini.

..

..

..

Tak beberapa lama kemudian Sehun sampai di halaman belakang rumah Kai dan Jaejoong, dia memarkirkan mobilnya dan segera keluar untuk bertemu dengan keluarganya diikuti Luhan yang seperti membeku tak berani memasuki acara yang begitu megah dan meriah saat ini.

"Kenapa diam?"

Luhan sedikit tersadar saat Sehun bertanya "Aku hanya-…"

"Merasa bersalah? Tenang saja hanya ada aku dan Yunho hari ini."

"Ya setelahnya hanya benar-benar ada kau dan Yunho. Aku juga sudah bosan mengganggu hidup kalian." Katanya berjalan melewati Sehun dan memasuki rumah Kai dan Jaejoong yang tak kalah besar dengan rumah Sehun dan Yunho.

"Luhan…"

Terdengar suara Seunghyun diikuti suara adiknya yang memanggil Sehun dengan suara yang dibuat sangat manja "Oppa…"

Katanya memeluk Sehun erat dan tak lama kemudian mencium bibir Sehun, membuat Luhan secara otomati memalingkan wajahnya merasa terlalu pagi untuk terbakar atau tak terima dengan pasangan yang sedang saling melumat saat ini.

"Kau terlihat tampan." Sulli memuji Sehun, namun tatapan Sehun masih tak berkedip menatap Luhan yang saat ini berbicara akrab dengan Seunghyun.

"Kalau tahu kau datang lebih awal aku akan menjemputmu." Ujar Seunghyun yang kini sedang memandang kesempurnaan Luhan dengan kagum dan seperti dibuat terhipnotis olehnya

"Tidak perlu aku-.."

"LUHAAANNN" kali ini suara wanita yang memanggil Luhan dan tak lama memeluk erat Luhan membuat Luhan hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.

"Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Sehari? Seminggu? Atau Setahun?"

"Seminggu aku rasa." Luhan membalas Seulgi dan sedikit tertawa karena wanita didepannya begitu bersemangat.

Seulgi pun tertawa menatap Luhan sampai matanya menyadari satu hal "Kau tidak memakai pakaian yang aku berikan?"

"Ah itu…" Luhan menggaruk tengkuknya merasa tak enak hati pada Seulgi.

"Kau tidak menyukainya?"

"Tentu saja aku menyukainya-…hanya saja…"

"Hanya saja apa?"

"Hanya saja pakaian itu terlalu mahal untukku. Aku berniat memakainya saat kita berkencan nanti." Ujar Luhan berusaha menenangkan Seulgi yang terlihat kecewa.

"Kencan? Apa benar kita akan berkencan?"

Luhan mengangguk dan sedikit senang Seulgi sudah kembali bersemangat "Aku berencana mengajakmu makan malam. Kau mau kan?"

"Tentu saja aku mau…" Seulgi kembali memeluk Luhan membuat Sehun menyeringai tak suka karenanya.

"Ck! Kau dibohongi. Pakaian darimu sudah aku robek dan aku rusak, sebagai gantinya aku membelikannya pakaian dan dia memakainya saat ini"

Luhan melihat tak percaya pada Sehun karena begitu tega berkata jahat pada Seulgi.

"Apa maksudmu?" tanya Seulgi tak suka.

"Tanya padanya."

"Luhan apa benar Sehun merusak pakaian pemberian dariku?"

Luhan menatap antara marah pada Sehun dan tak tega pada Seulgi, namun dia tahu jika dia kembali berbohong semua kan menjadi lebih buruk "Ya Seulgi….maafkan aku tidak bisa menjaga pemberianmu." Katanya menyesal dan tak lama Seulgi melihat marah pada Sehun.

"KAU MENYEBALKAN OH SEHUN!" Pekiknya dan berlari ke halaman parkir meninggalkan Luhan dan Sehun serta kedua kakak beradik Choi yang kini menatap bingung baik pada Sehun maupun Luhan yang kini saling bertatapan tajam tak berkedip.

"Aku benar-benar tak mengenalmu lagi Oh Sehun." ujar Luhan dengan suara yang kentara sekali menahan marah dan meninggalkan Sehun untuk mengejar Seulgi yang sepertinya akan pergi.

"Seulgiyaaaa.."

Luhan berteriak namun sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan Seulgi. Dia kemudian berlari ke tempat parkir berharap Seulgi belum pergi namun tetap tidak ada tanda kemana Seulgi pergi.

"Seulgiyaaaa"

Luhan masih berteriak merasa sangat bersalah pada putri kesayangan Sekertaris Kang itu. Dia hanya ingin meminta maaf dan berharap hubungan mereka tidak memburuk karena kejadian hari ini.

"Seulgiyaa.."

"Seul-…..ah…kau disana rupanya." Gumam Luhan terengah dan tersenyum lega saat melihat Seulgi duduk tak jauh dari taman yang berada dirumah milik Kai.

"Kenapa kau disini? Pergi sana ke pelukan Sehun." Seulgi memarahi Luhan yang sedang berjalan ke arahnya membuat Luhan terkekeh karenanya.

"Sayangnya sudah ada gadis lain di pelukan Sehun. Aku lebih memilih disini bersama gadis yang sedang kesal." Katanya duduk di sebelah Seulgi dan memberikannya sebotol air mineral.

"Aku tidak kesal." Katanya memberitahu Luhan dan masih menolak melihat Luhan

"Aku minta maaf."

"Maaf untuk apa?"

"Harusnya aku menjaga pemberianmu malam itu. Tapi aku tidak bisa fokus karena Sehun juga mengambil benda berharga milikku saat itu. Dia terlihat sangat marah."

"Kalian bertengkar hebat saat itu?"

"Aku menamparnya asal kau tahu." Gumam Luhan melihat tangannya dan mengingat jelas bagaimana Sehun memancing amarahnya saat itu.

Seulgi menyadari perubahan suara Luhan, pria disampingnya terlihat menyesal membuatnya merasa menyesal karena membuat Luhan mengatakan hal yang tidak ingin dia ingat lagi. Seulgi kemudian mengambil tangan Luhan dan sedikit mengusapnya menenangkan Luhan

"Aku tidak tahu kalau kalian berdua sampai separah itu."

"Kami berdua terlalu parah bahkan untuk dikatakan sebagai dua pria yang pernah memiliki hubungan." Katanya tersenyum getir memberitahu Seulgi yang semakin merasa Luhan terlalu banyak menutupi hal yang mengganggunya.

Setelahnya tak ada lagi yang bersuara, Seulgi terus menggenggam tangan Luhan yang terasa menegang sementara Luhan hanya terus menunduk menenangkan dirinya sejenak.

"Apa kau marah?"

"eh?" Seulgi bergumam heran saat Luhan tiba-tiba bertanya tanpa menatapnya.

"Marah kenapa?"

Luhan saat ini melepas genggaman tangan Seulgi dan berbalik sekilas mengusap lembut tangan wanita disampingnya yang begitu baik padanya "Karena aku tidak memakai pakaian pemberianmu?"

"Tentu saja aku marah. Aku sudah membayangkannya kau pasti tampan dekat pakaian pemberianku. Tapi sialnya pemberian Sehun malah membuatmu berkali-kali lebih tampan dan urhh..seksi. Aku akui masalah selera Sehun memang paling mengenalmu." Katanya memberitahu Luhan yang mau tak mau kembali tertawa.

"Tapi tetap saja aku kesal! Bisa-bisanya dia merobek pakaian untukmu. Dasar monster!" geramnya melipat kedua tangannya di atas dada dan melihat Luhan yang masih tersenyum menahan tawa.

"Kau boleh melakukan hal yang sama dengan yang Sehun lakukan. Kau boleh merobek pakaian ini nantinya."

"Benarkah?" Seulgi membelalak bertanya terlalu bersemangat pada Luhan.

Luhan mengangguk dan membawa Seulgi bersandar di pundaknya "Ya kau boleh melakukannya. Lagipula aku tidak boleh menyimpan satu kenangan apapun yang berkaitan dengan Sehun. Aku benar-benar harus melupakannya." Gumam Luhan mengusap lembut surai Seulgi, masih merasa tak enak hati pada wanita di pelukannya.

"Luhan-…"

"hmmm"

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau terlihat kelelahan." Katanya memberitahu Luhan yang tampak bingung harus menjawab apa.

"Aku baik-baik saja."

Luhan kemudian tersenyum dan mengulurkan tangannya berdiri didepan Seulgi "Jadi apakah kau bersedia menemaniku pergi ke pesta Kang Seulgi-ssi?"

Seulgi mendengus tak percaya karena saat ini Luhan berusaha menggodanya membuatnya mau tak mau merasa senang dan bersemangat "Tentu Lu Han-ssi."

Dan tak lama keduanya kembali memasuki rumah Kai dan Jaejoong, bersiap menghadiri upacara pernikahan Kai dan Kyungsoo. Dan untuk Luhan, dia hanya perlu melewati hari ini, karena setelahnya hanya akan ada dirinya sendiri yang memulai hidupnya yang baru.

"Seulgiiyaaa.."

Seulgi yang masih merangkul Luhan mencari asal suara dan memekik mendapati teman-temannya juga berada di pernikahan Kai dan Kyungsoo "Kau mau ke teman-temanmu?" Luhan bertanya pada Seulgi yang sedang melambai ke arah teman-temannya.

"umhh…aku akan kembali secepatnya, jangan selingkuh. Oke?"

Luhan tertawa sekilas dan melepas rangkulan Seulgi "Oke." Katanya menyanggupi membuat Seulgi bersorak senang dan mencium sekilas pipi Luhan lalu berlari ke teman-temannya.

"Itu kekasihmu?" Luhan masih mendengar pertanyaan teman-teman Seulgi pada gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya tersebut.

"Iya…dia tampan kan?"

"Dia lebih cantik darimu."

Luhan pun terkekeh mendengar sepenggal obrolan para wanita dan berniat untuk memberi selamat pada Kyungsoo terlebih dulu sampai suara Jaejoong yang terdengar kerepotan memanggilnya.

"LUHAAAAN…."

Terlihat Jaejoong yang berlari sambil menggendong Haowen menghampiri Luhan yang masih berdiri di tempatnya "Syukurlah kau sudah datang, kapan kau datang?" katanya bertanya pada Luhan sambil menyerahkan Haowen pada Luhan.

"Aku sampai setengah jam yang lalu hyung." Katanya sedikit kerepotan membenarkan gendongan Haowen di pelukannya.

"Aku kira kau akan terlambat."

"Terimakasih untukmu karena meminta Sehun menjemputku, jadi aku tidak perlu terlambat sampai disini."

Jaejoong mengernyit mendengar ucapan Luhan dan sedikit bingung menatap Luhan yang sepertinya menyindirnya "Sehun menjemputmu?"

"hmmm.." balas Luhan yang mulai sibuk bermain dengan Haowen.

"Tapi aku tidak pernah memintanya menjemputmu." Gumam Jaejoong membuat pergerakan Luhan terhenti seketika.

"Ah sudahlah, yang penting kau sudah datang. Aku titip putraku sebentar, masih ada yang harus aku kerjakan, sampai nanti Lu."

Dan tanpa mendengar jawaban Luhan pun Jaejoong langsung bergegas pergi meninggalkan Luhan dan Haowen berdua "Kau tahu Haowenna. Terkadang aku merasa pamanmu masih memperhatikan aku. Tapi kemudian dia membuatku yakin kalau semuanya selesai." Gumam Luhan memberitahu Haowen yang sedang memeluk erat lehernya mengingat ucapan Jaejoong yang mengatakan tidak meminta Sehun untuk menjemputnya.

"Lu-lu yeppo!" Gumam Haowen yang memang sedari awal sangat menyukai wajah Luhan.

"Harusnya kau panggil aku Lulu Manly." Katanya tertawa mencium gemas Haowen yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo kecilnya.

"cake…lulu…cake!"

"Okey…Cake..aigooo..Kau benar-benar menyukai Cake ya." Gumam Luhan tertawa dan membawa Haowen untuk mendapatkan cake nya.

"Kau tahu Haowenna. Daripada ayahmu aku merasa kau lebih mirip dengan pamanmu. Bentuk wajah kalian terlalu mirip untuk keponakan dan paman." Katanya tertawa dan memperhatikan Haowen yang memakan cake nya dengan lahap.

Luhan masih menikmati waktu bermainnya dengan Haowen, mengabaikan pemandangan Sehun dan Sully yang terus bergandengan tangan kemanapun mereka pergi. Bisa dibilang dia sudah tidak merasakan apapun lagi yang berhubungan dengan Sehun, tapi jika terlalu dipaksakan melihat kebahagiaan Sehun dengan yang lain dirinya yakin akan berakhir di tempat tidur kecilnya dengan suhu tubuh tak normal karena terlalu memikirkan Sehun dan pasangannya.

"Lu-lu…appa.."

"eh?"

Luhan tersadar dari lamunannya saat Haowen mengatakan appa dia secara refleks mengikuti kemana tangan Haowen menunjuk dan sedikit takut melihat Yunho yang kini berjalan mendekatinya. Demi Tuhan dari semua orang yang berada di ruangan ini, Luhan ingin sekali menghindari Yunho. Bukan karena dia membenci Yunho tapi karena daripada Sehun, Luhan lebih takut jika Yunho yang berteriak, membentak ataupun berkata kasar padanya.

"Ayah mencarimu ke semua tempat anak nakal."

Luhan semakin tak berkata saat Yunho mengambil Haowen ke pelukannya, sekilas dia melihat Yunho sangat menyayangi Haowen, karena jujur saja ini adalah kali pertama Luhan melihat Yunho tertawa sangat senang dan itu hanya terjadi jika dia bersama Haowen.

Luhan yang tidak mau mengganggu moment anak dan ayah didepannya ini, perlahan berjalan menjauh dan berniat segera menghilang dari pandangan Yunho sampai

"Kau sudah mendapatkan passport dan selembar cek dariku?"

Langkah Luhan terhenti saat Yunho bertanya padanya, Luhan otomatis menoleh dan memberanikan diri menatap Yunho "Ya direktur, aku sudah mendapatkan passportku. Terimakasih."

"Kenapa kau tidak mengambil cek dariku? Apa jumlahnya tidak cukup?"

Luhan menggeleng cepat "Aku memiliki tabunganku sendiri untuk pergi ke tempat yang aku mau. Jadi anda tidak perlu memberikanku uang dalam jumlah banyak."

Yunho sedikit tertawa tersinggung dan membenarkan gendongan Haowen di pelukannya "Terserahmu saja. Lalu kapan kau pergi? Kau tidak berniat tinggal lebih lama kan?"

Kali ini Luhan tertunduk, bukan karena dia ingin menangis dia hanya sedang menahan rasa marah dan sakit hatinya pada ucapan Yunho yang tak jauh berbeda dengan Sehun. setelah merasa bisa mengontrol dirinya. Luhan menoleh dan kembali menatap Yunho

"Besok-….saya akan pergi besok direktur." Katanya memberitahu Yunho yang terlihat tersenyum senang.

"Apa Sehun tahu kau akan pergi?"

"Tidak direktur."

"Baguslah. Aku tidak mau kau terlalu lama berada di sekitar adikku. Dia mulai mencari alasan untuk selalu bertemu denganmu dan aku tak suka. Kemana kau akan pergi?"

"Kemana saya pergi tidak termasuk dalam kesepakatan kita. Jadi anda tak perlu mengurusi urusanku dan hanya duduk tenang karena besok saya sudah akan menghilang dari hadapan anda dan tak akan lagi berada di sekitar adik anda." Katanya terdengar bergetar menjawab pertanyaan Yunho.

Yunho mengangkat kedua bahunya sekilas dan menatap Luhan "Kau benar. Aku tidak peduli, hanya pergi darisini secepat mungkin."

Katanya berjalan melewati Luhan dan tak lama kembali berhenti tanpa menoleh ke arah Luhan "Terimakasih karena sudah membantuku selama ini. Aku harap kau berbahagia Luhan."

Luhan menggigit kencang bibirnya tak mau bersuara apapun, dia lebih suka Yunho yang memakinya daripada Yunho yang terlihat peduli padanya, dia kemudian mengusap wajahnya kasar dan tersenyum lirih sambil bergumam "Aku juga berharap kalau kau selalu berbahagia, hyung"

..

..

..

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, itu artinya acara akan pengikatan janji antara Kai dan Kyungsoo akan segera dilaksanakan, Luhan sengaja mengambil kursi paling depan setelah sebelumnya bertemu dengan Kyungsoo yang terlihat sangat menawan dengan wajahnya yang sangat bahagia. Luhan duduk di depan sebelah kiri dia ditemani oleh Seunghyun dan Seulgi yang masing-masing duduk disamping kiri dan kanannya sementara Jaejoong, Sehun dan Sully berada di depan sebelah kanan tempat pihak keluarga menjadi saksi.

Semua terlihat begitu khidmat. Sampai akhirnya Kai memasuki ruangan dengan tampannya dan tak lama Kyungsoo datang bersama Yunho sebagai pendampingnya.

Yunho?

Ya….Luhan dan Kyungsoo sama-sama tidak memiliki keluarga sejak mereka kecil. Kedua orang tua Kyungsoo mengalami kecelakaan pesawat saat Kyungsoo berusia delapan tahun. Keduanya sama-sama tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua. Tapi yang membedakan Luhan dan Kyungsoo adalah Kyungsoo diwariskan segalanya. Nama baik, martabat dan kekayaan. Berbeda dengan Luhan yang diwariskan kebalikan dari apa yang Kyungsoo terima. Luhan hidup dengan beban sebagai anak pembunuh yang tak memiliki apapun. Hanya hinaan dan makian yang akan ia terima di sisa hidupnya.

Luhan tersenyum iri melihat Yunho yang begitu menyayangi Kyungsoo dengan seluruh senyum di wajahnya. Terlihat Kyungsoo menggenggam erat lengan Yunho tak mau dilepaskan, membuat Luhan tak bisa melihat lebih banyak lagi dan memalingkan wajahnya, dia bertanya-tanya apakah ada kesempatan untuknya merangkul lengan Yunho seperti yang dilakukan Kyungsoo saat ini.

Luhan masih menundukan kepalanya sampai akhirnya pendeta bersuara dan menyatukan kedua tangan Kai dan Kyungsoo. Keduanya terlihat bersiap membuat Luhan melihatnya dan berniat tak melewatkan satu moment apapun di pernikahan kedua sahabatnya.

Sampai pada akhirnya janji suci itu terucap dengan sangat yakin dan lantang di kedua belah pihak. Tidak ada keraguan sama sekali, hanya rasa cinta yang begitu terasa dan terdengar saat keduanya mengucapkan janji. Luhan melewati seluruh prosesnya dengan khidmat dan tanpa terasa air mata bahagia ia teteskan bersamaan dengan tepukan haru sebagai ucapan selamat yang ia berikan untuk Kai dan Kyungsoo.

Luhan tahu benar bagaimana perjalanan kisah cinta Kai dan Kyungsoo. Keduanya tak pernah bertengkar hampir selama mereka berhubungan, dan hari ini adalah bukti dimana kekuatan cinta tanpa keegoisan dan kemarahan akan selalu berakhir bahagia pada akhirnya.

Haah~

Luhan sedikit menghela kasar nafasnya, menyadari ini waktunya dia untuk pergi. Dia melihat ke seluruh keluarga Oh dan Kim yang sedang berbahagia atas pernikahan adik mereka. Membuat senyuman iri itu kembali tercetak pada wajah Luhan.

Matanya mencari-cari seseorang sampai akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. Pria dengan postur tubuh sempurna dengan wajah terlalu tampan sedang tertawa dan bermain bersama keponakannya. Luhan diam-diam memperhatikannya lama, tak ingin melewati moment terakhirnya melihat wajah Sehun. Sampai akhirnya dia merasa cukup dan kemudian menghapus cepat air matanya. "Aku pergi." gumamnya berpamitan dan tak lama melewati kerumunan orang-orang yang ingin memberikan selamat. Berjalan sedikit terhuyung sampai

"LUHAN!"

Sampai suara Jaejoong memanggilnya terlampau kencang membuat tidak hanya para tamu undangan tapi Sehun yang sedang bermain dengan Haowen menoleh dan melihat kemana arah kakaknya memanggil Luhan.

"Ya hyung." Katanya menoleh dan mendapati Jaejoong berjalan cepat menghampirinya diikuti Yunho dibelakangnya.

"Kau mau kemana?"

"Aku-…."

"Jangan bilang kau mau pergi. Pestanya belum selesai. Kau janji padaku akan berada disini sampai seluruh pesta pernikahan adikku selesai kan?"

"Tapi hyung-…" Luhan tidak melihat ke arah Jaejoong melainkan ke arah Yunho. Memastikan kalau dia boleh berada disini setidaknya sampai malam hari saat acara puncak Kai dan Kyungsoo selesai dilaksanakan.

"Sebaiknya kau tepati janji jika kau berjanji Luhan. Kau bisa pergi setelah acara ini selesai." Yunho memberikan suaranya membuat Luhan merasa sedikit lega dan mau tak mau mengangguk lemah mengiyakan keinginan Jaejoong.

"Aku akan berada disini sampai acaranya selesai hyung."

Jaejoong tersenyum dan menepuk sekilas bahu Luhan "Baguslah. Aku akan mencarimu terus sampai malam nanti." Katanya tertawa sementara Yunho dan Luhan bertatapan saling megingatkan.

"Ada apa?" kali ini suara Sehun yang sedang menggendong Haowen bertanya pada Jaejoong yang terlihat senang.

"Luhan ingin pergi secepat ini, aku sudah melarangnya tentu saja."

Sehun mengernyit dan kali ini menatap tajam ke arah Luhan "Kau sudah makan?" katanya bertanya pada Luhan yang terlihat bingung menjawab.

"Aku bertanya padamu."

Luhan menggeleng cepat sebagai jawaban "Belum."

"Ikut aku. Mereka memasak nasi goreng kesukaanmu."

Dan tanpa mempedulikan tatapan Yunho yang memicingkan matanya serta tatapan Jaejoong yang tersenyum melihat adik iparnya terlihat manis bersama Luhan, Sehun terus menggenggam erat tangan Luhan dan memastikan sendiri kalau Luhan tidak akan pergi secepat ini.

..

..

..

Dan malam hari pun tiba, puncak acara pesta pernikahan Kai dan Kyungsoo diadakan terpisah dari rumahnya. Karena jumlah tamu yang datang diperkirakan melebihi di pagi hari, keluarga Kim sengaja menyambutnya di gedung yang berada tak jauh dari kediaman keluarga Kai dengan alasan lebih besar dan tentu saja karena si Oh kecil harus tidur dan tak boleh terlalu lelah mengingat bocah tiga tahun itu sudah harus membuka matanya sejak pagi hari tadi.

"Kau harus mengecek putraku setiap setengah jam. Pastikan dia tidak menangis dan jika dia mencariku atau ayahnya kau harus segera berlari ke gedung sebelah dan memberitahuku dan Yunho. Kau mengerti kan?"

Luhan tersenyum melihat Jaejoong yang begitu posesif pada putra pertamanya dan memperhatikan benar bagaimana seorang ibu benar-benar menjaga darah dagingnya.

"Biasanya putraku akan terbangun kalau dia haus. Aku sudah meletakkan botol susunya di pemanas. Kau hanya perlu memberikannya kalau dia menangis, oke?"

Jaejoong berpesan pada nanny yang sengaja ia sewa malam ini dan mencium kening Haowen agak lama lalu kemudian berjalan mendekati Luhan "Aku takut dia sakit." katanya memberitahu Luhan yang memang sengaja ingin datang bersama Jaejoong ke tempat pesta meriah yang diadakan Kai dan Kyungsoo di gedung sebelah.

"Dia kuat seperti ayahnya. Kau tidak perlu khawatir." Katanya menenangkan Jaejoong dan tak lama keduanya berjalan meninggalkan rumah menuju tempat dimana puncak acara Kai dan Kyungsoo dilaksanakan.

"yeobo…"

Jaejoong menoleh saat mendapati suaminya memanggilnya dan sedang berjalan ke arahnya "Apa jagoanku sudah tidur?"

"hmm…Tapi aku tidak mau berlama-lama disini, aku tidak tenang meninggalkan Haowen sendiri di rumah." Katanya memberitahu Yunho yang langsung merangkul pinggang istrinya.

"Aku ingin memperkenalkanmu pada rekan bisnisku terlebih dulu, setelahnya kita menjemput Haowen dan pulang kerumah."

Jaejoong pun mengangguk dan mengerling Luhan untuk menikmati pestanya. Luhan hanya bisa mengangkat ibu jarinya dan kembali menghela nafas merasa tak seharusnya dia berada disini.

Malam semakin larut dan tamu-tamu baik dari pihak Kai maupun Kyungsoo beserta keluarga besar mereka terus berdatangan, tidak hanya tamu dari keluarga Kai maupun Kyungsoo. Tamu dari pihak Yunho yang merupakan relasi bisnisnya juga terlihat datang ke acara pernikahan Kai dan Kyungsoo. Membuat satu-satunya orang yang mungkin tidak diharapkan berada disana hanya bisa sekedar bercakap dengan beberapa orang yang ia kenal yang terus menanyakan hubungannya dengan Sehun.

Merasa sudah mulai lelah, Luhan pun memutuskan untuk mencari tempat yang tak terlalu ramai sampai matanya kembali menatap sosok Sehun yang sedang bersama Seunghun dan Sully beserta keluarga masing-masing. Dia sama sekali tak berminat mendengar percakapan dua keluarga itu, hanya saja jika semakin dia menolak percakapan antara dua keluarga itu semakin terdengar membuatnya tak punya pilihan lain selain menikmati setiap percakapan kedua keluarga tersebut.

"Aku jadi tidak sabar melihat adik anda menikah dengan putri saya direktur Oh."

"hmm..Aku juga ingin melihat adik kesayanganku segera berbahagia. Jadi kapan kau siap?"

"Dia siap hanya saja calon pengantinnya yang belum siap." Terdengar Jaejoong menyela pertanyaan Yunho membuat keluarga Choi sedikit bingung.

"Tapi putriku sudah siap."

"ah..Apa kita membicarakan orang yang berbeda? Aku sedang membicarakan kekasih adik iparku. Bukan putrimu."

Luhan hanya tersenyum pahit melihat usaha Jaejoong yang selalu berusaha membuat dirinya dan Sehun terus bersama. Merasa tak sopan menguping pembicaraan keluarga Oh dan Choi, membuat Luhan memutuskan untuk mencari tempat yang benar-benar sepi yang berada di lantai dua.

"Direktur Oh. Bukankah pria itu anak dari pembunuh kedua orang tua anda? Kenapa dia hadir di acara pernikahan adik ipar anda?"

Terdengar suara rekan bisnis Yunho yang mengenali Luhan sebagai si anak pembunuh bertanya pada Yunho yang kini melihat Luhan sedang menaiki tangga seperti mencari tempat untuk bersembunyi.

"Mohon maaf untuk ketidaknyamanan kalian melihat dia berada di pesta pernikahan adik iparku. Tapi aku pastikan dia akan segera pergi darisini."

Luhan mendengarnya-…langkahnya sempat terhenti membuatnya memenjamkan erat matanya dan sekali lagi dia hanya bisa tersenyum pahit berharap semuanya cepat selesai dan dia bisa mengucapkan perpisahan yang layak pada keluarga yang sempat menjadi bagian dari hidupnya. Dirinya terus menaiki tangga, menghindari suara musik yang begitu keras hingga akhirnya dia menemukan tempat yang sedikit tenang di pojokan ruangan lantai dua. Dia sesekali bersandar di jendela menikmati pemandangan yang kosong sama seperti hatinya yang kosong saat ini.

Luhan masih melamun melihat kosong ke luar jendela sampai matanya menatap sesuatu yang janggal dari jendela lantai dua di gedung tempat berlangsungnya pesta pernikahan Kai dan Kyungsoo.

Dia mengernyit dan sedikit berpindah ke jendela untuk melihat sesuatu yang membuat matanya tak berkedip. Luhan semakin memicingkan matanya dan menyadari kalau banyak mobil pemadam kebakaran yang berhenti tepat di rumah Kai. Membuatnya semakin sesak karena menyadari ada gumpalan asap tebal yang berasal dari kediaman Kai dan Jaejoong. Luhan sedikit bersandar di tembok karena kakinya melemas sampai dia bergumam

"tidak mungkin." Gumamnya yang langsung berlari menuruni tangga seperti orang gila. Menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. Dia terlalu ketakutan membayangkan asap itu semakin menggumpal yang menandakan bahwa api mungkin berkobar dengan cepatnya.

"Haowen."

Itu adalah satu-satunya kalimat yang terus Luhan ucapkan. Dia tidak mau memikirkan apapun, dia hanya ingin berada disana dan membawa keluar Haowen dari rumah Kai yang sudah setengah dilahap api.

Sehun yang sedang berkumpul bersama teman-temannya sedikit menyadari ada yang aneh dengan Luhan. Pria itu berlari kencang seperti terjadi sesuatu, membuatnya sedikit penasaran dan hendak bertanya pada Luhan

"Sehun ikut aku sebentar." Sehun ingin tetap berjalan ke arah Luhan namun dia tidak bisa mengabaikan panggilan kakaknya begitu saja. Dia sedikit mengangkat bahunya dan memutuskan untuk mengikuti Yunho dan mencari Luhan setelahnya.

Luhan yang sedang berlari ke arah kediaman Kai dan Jaejoong berpapasan dengan beberapa orang yang juga berlari seperti orang gila, dia menebak orang-orang itu ingin memberitahu Yunho dan yang lain. Bisa saja Luhan berteriak ada kebakaran di kediaman Jaejoong, tapi dia tahu itu memakan waktu karena Yunho tentu tidak akan mempercayainya begitu saja.

Luhan terus berlari sesekali terjatuh lalu kemudian berlari lagi sampai dirinya benar-benar terjatuh karena melemas melihat kobaran api yang begitu besar yang kini sudah melahap setengah dari rumah Kai dan Jaejoong.

"HAOWEN!" Luhan berteriak dan berniat masuk kedalam sampai seorang petugas pemadam kebakaran mencengkram lengannya mencegahnya untuk masuk.

"LEPASKAN AKU! AKU HARUS MASUK KE DALAM."

"TENANGLAH TUAN. KAMI SEDANG MENCOBA MEMADAMKAN API YANG SEMAKIN BESAR."

"TENANG KAU BILANG? DIDALAM SANA ADA ANAK BERUSIA TIGA TAHUN YANG SEDANG TERTIDUR. BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA TENANG?"

Luhan menghempas tangannya dan berusaha masuk namun api yang berada di depan pintu membuatnya kembali mundur.

"INI TERLALU BERBAHAYA!"

Luhan tersengal, nafasnya sesak dia mengabaikan petugas yang melarangnya masuk. Berfikir bagaimana cara masuk tanpa membuat Haowen ketakutan dan sesak karena asap.

Mata Luhan mencari, otaknya terus berfikir sampai dia melihat salah satu petugas membawa tabung oksigen beserta dengan alat uap untuk dipakaikan. Dia berjalan cepat mendekati pemadam itu dan

Sret…!

"HEY!"

Luhan mengambil paksa tabung oksigen itu, lalu mengambil selimut besar yang berada di mobil pemadam, menutupi dirinya sekilas lalu menerobos masuk mengabaikan teriakan peringatan dari seluruh petugas.

"HEY ITU BERBAHAYA!"

Luhan terus melindungi dirinya menggunakan selimut, menaiki tangga yang sudah dilahap api dan sesekali menghindari runtuhan-runtuhan api yang terus berjatuhan.

Huwaaa eommaa..

"Haowen." Gumam Luhan mendengar suara tangisan Haowen, dia kemudian semakin mempercepat langkahnya sedikit meringis saat benda-benda panas itu mengenai tubuhnya.

Brak!

"HA-…"

Luhan membelalak saat melihat seseorang yang sedang berada di ranjang kecil Haowen sedang mencekik Haowen yang kakinya meronta minta dilepaskan

"SIAPA KAU?!"

Si pelaku yang diteriaki itu pun menoleh, mata keduanya sama-sama membelalak saling mengenali dan tak menyangka akan bertemu kembali di tempat seperti ini.

"KAU!"

Luhan memekik menyadari seorang wanita yang sempat ia panggi ibu itu kembali datang ke hidupnya dan kali ini berusaha menyakiti Haowen yang terlihat sesak karena asap dan sempat dicekik.

"WANITA SIALAN!"

Geramnya berlari namun

BUGH!

Luhan tersungkur saat kepalanya dipukul memakai balok oleh seseorang yang berada di belakangnya. "EOMMA KITA HARUS PERGI. APINYA SEMAKIN BESAR, BIARKAN MEREKA BERDUA MATI DILAHAP API. KITA TIDAK AKAN TERTANGKAP." Luhan yang sudah setengah sadar samar-samar melihat pria yang pernah bekerja dengannya untuk melakukan pekerjaan kotor ibunya.

"Luhannie aku tidak menyangka bertemu denganmu disini. Sayangnya ini pertemuan terakhir kita. Aku berharap kau cepat mati dan terbakar." Geramnya menjambak rambut Luhan dan tertawa menakutkan.

"EOMMA AYO KITA PERGI! KITA TIDAK DIBAYAR UNTUK MATI TERBAKAR! TUGAS KITA HANYA MELENYAPKAN BOCAH ITU" pria itu berteriak sambil menunjuk Haowen yang sudah tak sadarkan diri.

"Jatuhkan lemari itu."

"APA MAKSUDMU?"

"JATUHKAN LEMARI ITU TEPAT DI KAKINYA. PASTIKAN DIA TIDAK BISA LARI."

Dan pria yang Luhan ketahui bernama Kim Yewon itu pun sedikit terburu-buru berlari ke belakang lemari dan

"ARGGHH!"

Luhan menjerit saat kaki kirinya tertimpa lemari besar yang sudah sedikit terbakar. Membuat rasa panas dan nyeri bergantian menyengatnya saat ini.

"KITA PERGI."

Dan tak lama kedua ibu dan anak itu terlihat pergi meninggalkan Luhan dan Haowen yang sama-sama sudah setengah sadar karena keduanya kekurangan oksigen saat ini.

"eommaaa."

Luhan masih samar mendengar Haowen memanggil nama ibunya, namun suara teriakan Haowen semakin tak terdengar membuatnya harus segera melakukan sesuatu sebelum hal mengerikan terjadi pada Haowen.

Luhan membalikan badannya dan berusaha mengeluarkan kakinya yang terjepit lemari sampai sebatas lututnya.

"arghhhhhhh…"

Luhan sedikit tersengal saat berhasil mengeluarkan kakinya dari lemari, dia kemudian berusaha berdiri namun kembali terjatuh karena kaki kirinya sudah tak bisa membantu menopangnya berjalan.

"Haowen"

Luhan merasa panik saat Haowen sudah tak bersuara, membuatnya memaksakan diri dan mencari tabung oksigennya lalu berjalan terpincang mendekati tempat dimana Haowen berbaring.

"h-hey jagoan kecil. Bangunlah." Luhan melepas jasnya dan kemudian memakaikannya untuk Haowen, dia juga setengah sadar karena menahan rasa sakitnya dan berusaha membangunkan Haowen yang terlihat pingsan tak sadarkan diri,

"Haowenna Kau harus bangun sayang. Ayahmu tidak akan bisa bertahan hidup jika terjadi sesuatu yang mengerikan padamu." Luhan masih menepuk pipi Haowen dan mengangkat Haowen ke pelukannya untuk menghindari api yang mulai melahap hampir seluruh kamar di tempat Haowen.

"Haowen bernafaslah aku mohon. Aku mohon bertahanlah. Ayah dan paman mu tidak akan bisa hidup tanpamu. OH HAOWEN!"

Uhuk!

"Appa…"

Luhan menangis sangat bahagia bisa mendengar suara Haowen lagi, dia memeluk erat anak tiga tahun itu dan tak membiarkan rasa panas menyakiti putra Yunho dan Jaejoong itu.

"haowenna..syukurlah…syukurlah kau bangun sayang. Pakai ini. Kau akan merasa lebih baik." Luhan tabung oksigen beserta alatnya di hidung kecil Haowen, memaksa keponakan Sehun itu untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sementara dirinya hampir mati lemas karena terus menghirup asap.

"LEPASKAN AKU! PUTRAKU DIDALAM SANA. HAOWENNA!"

Luhan bisa mendengar teriakan Jaejoong dibawah sana, dia kemudian berjalan terpincang mendekati jendela namun tak bisa terlalu dekat karena api sudah memakan hampir seluruh jendela di kamar Haowen.

"Lihat….eomma ada dibawah sana. Aku akan membawamu ke ibumu, tapi kau harus berjanji kau akan bertahan hmm." Gumam Luhan terdengar frustasi karena hampir semua bagian dari rumah Jaejoong sudah habis dilahap api.

"Aku harus bagaimana." Gumamnya kembali berfikir dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Haowen.

"arghh.." Luhan kembali meringis karena kaki kirinya benar-benar tak bisa digunakan, ditambah berat Haowen dan tabung oksigen yang berada di punggungnya. Dia benar-benar hampir kehilangan kesadarannya saat ini. Luhan terus berlari dengan kaki terpincang menuju lantai dasar namun merasa kesal karena sama sekali tidak ada celah yang bisa dilewati di lantai dasar

"sial." Dia menggeram merasa tak ada jalan keluar, sampai dia melihat jendela yang berada di lantai dua merupakan satu-satunya jalan keluar untuknya dan Haowen.

Dia kemudian menggelengkan kepalanya cepat dan menolak jalan keluar tersebut, berusaha mencari jalan lain namun nihil. Luhan menatap Haowen yang kembali tak sadarkan diri dengan oksigen yang sedang ia hirup. Berfikir keras apa yang harus dilakukan sampai dia menyerah dan mengakui kalau jendela itu adalah satu-satunya jalan keluar untuknya dan Haowen saat ini.

"Dengarkan paman Haowenna. Sekali lagi-…aku mohon bertahanlah sekali lagi, dan setelah ini paman berjanji kalau kau akan bersama ayah dan ibumu lagi, aku mohon bertahan hmm." Katanya berbisik di telinga Haowen dan semakin menutupi tubuh kecil itu dengan selimut tebal yang ia bawa.

Luhan sedikit mundur dari tempatnya, lalu mengambil posisi untuk menerobos jendela yang kacanya sudah terlihat retak dengan sisa tenaganya.

"Kau akan baik-baik saja Haowenna. Kau akan baik-baik sa…"

Luhan berlari terpincang sebelum api memblock jalannya dan tak lama

PRANG!

Dia menerobos jendela dengan ketinggian satu meter dan langsung terkapar di tanah,berharap mati seketika saat ini juga, tubuhnya terasa remuk redam, kakinya tak bisa digerakkan dan nafasnya hanya sesekali bisa ia hembuskan. Satu-satunya yang tak ia lepas hanya tubuh Haowen yang berada di pelukannya. Luhan memastikan tubuhnya yang mengenai tanah sementara Haowen hanya akan merasakan guncangan dan Luhan terus berdoa kalau Haowen akan baik-baik saja.

Sementara itu seluruh orang yang berada di luar rumah begitu terkejut melihat seseorang melompat dari jendela lantai dua. Semua orang tak terkecuali Sehun dan Yunho, yang mengetahui siapa benar pria yang baru saja melompat dan memeluk erat Haowen yang juga terlihat tak sadarkan diri. Yunho yang baru saja membawa istrinya ke ambulance karena tak sadarkan diri begitu terkejut menyadari siapa pria yang baru saja menerobos jendela dilantai dua dirumah istrinya.

Keduanya berlari terhuyung mendekati sosok yang sedang dikerumuni oleh para petugas dan beberapa orang yang melihat. Keduanya menerobos dan begitu pilu melihat tubuh Luhan yang penuh darah dan luka bakar hampir di seluruh tubuhnya.

"Luhan.."

Sehun bergumam terduduk didepan Luhan, sementara seluruh petugas sudah membawa Haowen ke ambulance dan masih menunggu tandu untuk membawa Luhan yang terlihat mengenaskan.

Yunho memalingkan pandangannya tak tahan melihat kondisi Luhan, air mata begitu saja menetes melihat sosok rapuh yang selalu ia hina kini benar-benar tak sadarkan diri. Entah Luhan masih bertahan hidup, atau pria itu sudah tiada. Yang jelas saat ini Yunho tak bisa bernafas dengan benar. Rasanya terlalu sesak melihat Luhan dengan kondisi seperti itu ditambah suara adiknya yang terus memanggil Luhan berharap Luhan sadarkan diri namun nihil Luhan tidak merespon apapun, dia tidak menjawab teriakan pilu adiknya yang terus memanggil namanya.

Yunho sesekali melihat ke arah Luhan dan begitu marah karena petugas datang begitu lambat, dia mengepalkan erat tangannya dan

"CEPAT SELAMATKAN ADIKKU!"


tobecontinued...


karma does exist hmmm? *smirk *tear

rasa2nya mau di end in aja sampai sini *grin

.

Update...

.

happy reading and review :*

.

next update : Entangled :)