Kurobas belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei

Warn : AU! Typo(s), OOC mungkin, non baku, dan kekurangan lainnya. DLDR!

a MayuAka fict by Zokashime

"LIAR"

.

.

.

.

.

..

"Oi, Kise! Itu mejaku sialan!" teriak Aomine disela kesibukan para siswa yang belum sempat mengerjakan PR. Kise yang sedang menyalin pekerjaan milik Kuroko, harus tersingir karena mendapat tendangan dari mahluk pengacau.

"Tsk! Aku duluan yang datang, Aominecchi," decaknya tidak terima.

"Terserah, yang penting kemarin aku duduk di sini," jawab Aomine kalem. Mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan mulai menyalin pekerjaan yang tertunda.

"Yasudah, aku ambil bukunya," tutur Kise, merampas buku keramat dari meja Aomine yang dipercaya mampu menyelamatkan hidupnya. Menyeringai tajam seolah dia sudah menang dan membawa buku itu lari kemeja belakang.

"KISEEE!" Aomine murka.

Sedangkan pemilik buku aslinya hanya duduk dan melihat dalam datar kearah dua persona yang dianugrahi surai biru tua dan kuning terang. Dalam pikiran Kuroko, jika sampai bukunya cacat walau hanya seujung kuku, ia berjanji tidak akan memberi contekan lagi kepada dua mahluk yang tidak tahu diuntung.

.

.

"Kenapa Tetsuya?" tanya seseorang tiba-tiba.

Kuroko terlonjak kecil, suara yang terdengar menariknya ke dunia nyata. Menghapuskan seluruh imajinasinya yang sedang mencincang daging Aomine maupun Kise. "Akashi-kun, kukira siapa? kau membuatku kaget," jelasnya.

"Oh ya? Sudah dapatkan buku yang kucari?" tanyanya. Memandang Aomine dan Kise secara bergantian, sampai membuat mereka menghentikan aktivitasnya.

"Sudah," jawab Kuroko. "Ini Akashi-kun," katanya, memberikan sebuah buku yang berukuran tak terlalu besar dengan bungkus yang masih cantik. "Memangnya sudah berhasil?"

"Belum sepenuhnya. Tapi aku yakin akan membuat dia patuh terhadapku. Apa kau percaya, Tetsuya?" tegasnya, menatap manik Kuroko tajam seakan jawaban yang dia mau hanya_

"Ya, Akashi-kun?" jawab Kuroko. Akashi menyeringai kecil mendengarnya.

"Akashicchi, bagaimana? Apakah berjalan lancar?" sergah Kise ikut nimbrung sekalian menghindari serangan balasan Aomine.

"Tentu saja, dan kalian harus sudah siap akan hari baru."

"Okey, kami menunggu hal itu, Akachin," jawab Murasakibara yang baru menimbulkan batang hidungnya di kelas bersama dengan seseorang bersurai hijau.

"Memangnya kau tahu, apa yang dibahas, nanodayo?"

"Jangan salah midochin, aku ini pendengar yang baik. Jadi, aku tidak akan lupa," jawabnya sebelum memasukan kepingan keripik singkong ke dalam mulut. Sementara Midorima hanya bisa mengertakan gigi melihat temannya sudah ngemil di pagi hari.

Akashi menanggapi datar saat mendengar ocehan teman-teman satu klub basketnya. Kemudian dia melangkahkan kakinya tidak jauh dari meja Kuroko. Mendaratkan bokongnya disebuah kursi yang sudah diklaim bahwa itu hanya miliknya.

Memandang buku persegi yang didapatkan dari Kuroko untuk sepersekian detik, sebelum melemparkannya ke dalam laci meja. Ada perasaan aneh yang menggelitik, ia merasakan itu sejak bangun tidur. Berharap waktu berjalan cepat, supaya pelajaran hari ini langsung selesai.

.

.

.

.

Iris abunya berkedip enggan, memandang sensei yang sedang menerangkan mata pelajaran yang menjelaskan tentang hukun kekelan massa.

Perutnya berbunyi halus menimbulkan rasa geli yang terkuar. Ah, dia lapar. Waktu sudah menunjukan pukul dua, tetapi sensei itu masih saja enjoy dengan buku tebal dan spidol di tangannya.

Mayuzumi mengeluarkan novel yang sudah terkurung lebih dari lima jam di dalam tas. Dia tidak sempat membaca saat istirahat, dikarenakan tidak punya banyak waktu.

Memang, mengerjakan tugas-tugas di waktu istirahat itu menyebalkan, tapi yang paling terpenting, ia melakukan itu semua supaya terhindar dari mata-mata belang setan kecil yang tiga hari lalu mengejutkannya.

Masih jelas terdengar bagaimana Akashi memintanya untuk menjalin hubungan. Masih jelas terbayang bagaimana bibir mungil Akashi menciumnya tiba-tiba.

Mayuzumi rasa adik kelasnya itu sudah tidak waras, atau jangan-jangan dia yang tidak waras karena telah memikirkan masalah yang sama sekali tidak penting. Tapi walau begitu, ia masih penasaran kenapa bocah kecil itu memintanya untuk berpacaran.

Selidik demi selidik yang ia tahu dengan tidak sengaja, ternyata bocah bernama Akashi Seijuuro itu sangat populer. Kapten disebuah tim basket, ia sudah tahu kalau tentang masalah ini.

Tapi bagaimana jika dia adalah ketua OSIS di sekolahnya. Adik kelasnya. Anak kelas satu. Dan dia sudah mengendalikan sebuah sistem keorganisasian paling tinggi. Mayuzumi ngeri menerima kenyataannya.

Akashi populer dikalangan para gadis. Dan sekarang keinginannya adalah memacari laki-laki. Hell! Untuk apa? Supaya tambah populer?

Selama dua menit, Mayuzumi hanya memandangi cover bagian dalam dari novelnya. Miris. Terlintas ingatan saat tangan Akashi merobek baju dari novelnya dengan tidak ada rasa iba.

Saat itu ingin sekali rasanya ia marah, hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya. Ia tidak tahu bagaimana cara membentak seseorang. Dan akhirnya ia hanya bersumpah dalam hati, tidak ingin lagi dipertemukan dengan setan kecil itu.

.

"Saya akhiri pertemuan kali ini, dan minggu depan kita kuis," cuap sensei sambil merapikan buku-bukunya. Lalu melenggang pergi meninggalkan kelas diikuti oleh para siswa-siswi yang memerlukan kebebasan.

Mayuzumi masih dalam diamnya, merapikan dan memasukkan kembali novel yang tidak jadi ia baca. Ia ingin segera pulang dan membaca semuanya, memfokuskan pusat pikirannya hanya untuk lembar demi lembar berisi cerita indah.

Tempat tenang, damai hanya itu yang terpikir. Ia menyambar tasnya mengaitkan dipundak kiri. Mengikuti arus, melangkah pergi.

"Kau ini lelet sekali."

Mayuzumi menghentikan langkahnya tepat dibibir pintu kerena memang dia yang terakhir keluar, jadi tidak akan menghalangi jalan. Menengokan kepalanya kesumber suara yang sangat ia kenal sebelumnya. "Kau," katanya. Dan ia tahu doanya tidak akan pernah terkabul.

Akashi berdiri menyenderkan punggungnya ke tembok, melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya kecut, kalau boleh menebak dia sedang kesal. "Lama. Aku sampai lelah menunggumu di sini," cuapnya lagi. Bangkit dari senderannya berdiri menantang di hadapan sang kaka kelas.

Mayuzumi mendengus sebelum mengatakan, "Tidak ada yang menyuruhmu untuk menungguku, tuan," jawab Mayuzumi. "Jangan membuatku ingin tertawa," lanjutnya. Menatap Akashi sekilas dan melanjutkan langkah yang terhenti.

Ugh, namanya juga Akashi, dia tidak akan membiarkan mangsanya lewat begitu saja. Menarik pergelangan tangan Mayuzumi selagi terjangkau, menyeretnya dengan kuat untuk masuk lagi ke dalam kelas.

Brak! Akashi menutup pintu dengan kasar lalu berdiri di depannya. "Beginikah perlakuan terhadap kekasihmu," katanya berkilat.

Mayuzumi speechless. Entah harus menjawab apa? Masalah apalagi yang akan menimpanya kali ini. Baru menemukan satu fakta lagi dari seorang bernama Akashi, bahwasanya walau kecil ternyata ia sangat kuat.

Ia tidak tahu apa yang diinginkan orang macam Akashi, yang pasti dia telah menghancurkan rencana untuk membaca novelnya sore ini. Dan gantinya sekarang ia harus berduaan di dalam kelas kosong dengan seseorang yang sudah menjadi daftar hitam untuk tidak ia temui dalam kehidupannya.

"Apa kau sudah berevolusi jadi batu? Aku sedang bicara denganmu," tutur Akashi gemas.

"Pertama, aku tidak merasa jadi kekasihmu. Kedua, biarkan aku ke luar karena banyak pekerjaan yang harus kulakukan," Mayuzumi mendekati Akashi yang menghalangi pintu keluar.

"Dan ketiga, aku tidak akan pernah memberikanmu izin, Chihiro," dengan cepat Akashi mengunci pintu, mencabut kuncinya dan dimasukkan kesaku celana. "Apa?" Tanyanya, saat mata abu menatapnya dengan intens.

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Akashi."

"Tentu saja, karena kau tidak akan bisa mencapainya," katanya sarkas. "Jadi kau tidak mengakui aku sebagai kekasihmu, hem?"

"Gila kau, ya? Katanya pintar tapi tak ada otak. Bagaimana bisa sesama lelaki menjalin hubungan."

Akashi mendelik, telinganya tidak bisa menyambut perkataan Mayuzumi barusan. "Hidupmu terlalu kolot dan tidak berpemikiran luas. Bagiku orientasi itu tak masalah. Makanya hidup jangan dibuat untuk sendiri," ucapnya. "Kusarankan besok kau bersosialisasi dengan banyak orang supaya pengetahuan dan pengalamanmu tidak nol."

Mayuzumi menghela napas ringan. Memikirkan suatu hal yang sebenarnya tak harus dipikirkan.

Lelah. Hidupnya mulai lelah, karena banyaknya energi yang terkuras untuk sesuatu yang tak menguntungkan. Ia janji, besok akan makan banyak dan bergizi agar tahan banting menghadapi mahluk kecil mata belang di depannya. "Terima kasih atas sarannya, tuan. Akan kulaksanakan jika tidak lupa."

"Hanya ucapan terima kasih?"

"Oke, kita pasangan kekasih sekarang," lanjut Mayuzumi. "Apa kau sudah puas? Jika sudah, silahkan buka pintu karena aku mau pulang."

Akashi menyeringai tajam. Jackpot! Menyenderkan tubuhnya kedaun pintu. "Kata orang, usaha itu diperlukan jika kau ingin sesuatu," cuapnya. "Jadi, jika kau ingin keluar ambil saja sendiri kuncinya di dalam saku celanaku."

"Akashi, aku serius," jawab Mayuzumi sudah tak nyaman berlamaan dengan mahluk pemaksa.

"Kau kira aku bercanda, hem?"

"Keluarkan kuncinya atau aku ambil sendiri."

"Bodoh, ya? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengambil sendiri."

"Baiklah. Aku sudah meminta izin, dan aku tidak ingin besok ada berita tentang seorang anak SMA mencabuli anak kecil."

Akashi mengernyit tajam. Mencerna kembali perkataan terakhir Mayuzumi yang tak bisa diolah oleh otaknya. "Jangan ejek aku anak kecil. Mungkin, aku lebih mengenal sex daripada kau?"

Mayuzumi menaikkan alis abunya sebelah. "Eh... Benarkah? Sepintar apa pun kau mengenal sex, tetap saja kau masih anak kecil yang baru lulus SMP kemarin. Bahkan, umurmu masih 16, Akashi," jelas Mayuzumi sambil mendekati Akashi.

Mulai menggerakkan tangannya ke arah saku yang menyimpan sebuah kunci itu. Akashi diam kalem, yang bekerja hanya matanya. Mengawasi setiap inci gerakan dari seseorang yang katanya resmi menjadi kekasih. "Kenapa? Kau tak berani?" Tanya Akashi saat Mayuzumi menarik kembali tangannya.

Mendengar pertanyaan Akashi, Mayuzumi merasa konyol. Kenapa harus tak berani? Bukankah waktunya sudah banyak berkurang. Perutnya juga meminta diisi. Matanya agak ngatuk.

Ah, tanpa pikir babibu Mayuzumi memasukkan tanggannya ke dalam saku Akashi tanpa mengalihkan pandangannya dari si mata belang. Akashi tersenyum kecil melingkarkan tangannya ke leher Mayuzumi dan menariknya supaya menunduk.

Cup!

Mempertemukan bibir merahnya yang mungil dengan bibir sepucat mayat hidup. Mayuzumi lagi-lagi mendapat kejutan tak terduga. Matanya hampir keluar menahan shock. Remaja di depannya ini sangat susah dimengerti.

Mayuzumi menggenggam kunci itu dengan erat di dalam saku saat bibir bawahnya dijilat lembut. "A-Akashi!" Hentaknya, menarik keluar tangannya dan melepaskan diri dari ciuman.

"Bukankah tiga hari lalu kita sudah berciuman, seharusnya kau tidak usah se shock ini, Chihiro."

Mayuzumi tidak menghiraukan, membuka pintu yang terkunci. "Kau mau pulang tidak?" Tanya Mayuzumi sebelum melangkahkan kakinya ke luar kelas.

Akashi mengangguk sebagai jawaban. Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong kelas yang mulai sunyi, tinggal anak-anak yang sedang latihan dalam clubnya masing-masing. Tidak ada omongan apa pun, hanya derap langkah yang terdengar.

.

"Akashicchi...?" Teriak Kise dari arah belakang, dia berlari kencang sampai suara hentakan sepatunya memantul menghasilkan degungan di sekitar lorong.

Akashi berhenti dan menengok, sementara Mayuzumi tak peduli dan meneruskan langkahnya, tapi ternyata langkah itu harus terhenti juga, karena Akashi menarik pergelangan tangannya.

Mayuzumi malas berdebat untuk kali ini, malas membuka mulut untuk hanya sekedar berkata A. Ia mengikuti apa yang Akashi mau dan berharap nanti akan mendapat penjelasan.

"Kita jadi latihan, kan?" Tanya Kise setelah berhadapan dengan Akashi, bola matanya yang kuning melirik seseorang yang sedang digandeng sang kapten tim basketnya. "Mayuzumi-senpai," sapanya, tertawa riang seperti biasa.

Mayuzumi memandang sesosok raga berjiwa heboh di depannya dengan sebuah pemikiran. Dia mengangkat alisnya sedikit, mencoba menerka, kenapa anak itu tahu namanya.

Bukan apa-apa hanya aneh saja saat ada orang lain menyapanya, terlebih dia adalah salah satu orang yang paling terlupakan. Bahkan, teman satu kelasnya pun belum tentu mengingat namanya.

Dan yang membuat lebih aneh adalah anak pirang itu masih kelas satu, sama dengan remaja yang sedang mengandeng tangannya erat, serasa mau patah.

Satu hal yang harus dipertanyakan, kenapa anak-anak kelas satu tahu namanya. Dan satu jawaban yang tidak mungkin terjadi, apa dia populer?

"Jadi, tunggu saja di gym. Sebentar lagi aku ke sana," jawab Akashi tegas.

"Oke. Aku duluan, ya," kata Kise melambai-lambaikan tanganya, mulai berlari lagi.

Akashi melepaskan genggamannya. "Kau tidak menungguku latihan?" Tanyanya.

"Jadi kau memberhentikanku hanya untuk bertanya soal ini?"

"Ya."

Mayuzumi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tidak bisa, mungkin lain kali saja. Aku ingin muntah karena menahan lapar."

Akashi tidak menjawab secara langsung, dia mengikuti Mayuzumi yang sudah berjalan menjauhinya. Mempercepat langkah supaya setara dengan seongok mahluk jadi-jadian itu. "Tak masalah. Tapi besok aku ingin kau menungguku latihan," katanya dengan mata berkilat.

Mayuzumi mengangguk supaya masalah cepat selesai dan ia bisa pulang. Saat mereka sampai pada perempatan lorong sekolah, Akashi berbelok ke kanan, sedangkan Mayuzumi lurus ke depan mengikuti arah ke luar untuk menuju gerbang.

.

OoOoOoOoOo

.

Mayuzumi masuk ke dalam rumahnya tanpa salam, sebab ia tahu tidak ada sesiapa. Ayahnya sudah tiada sejak ia kelas satu SD. Ibunya sedang kerja dan selalu pulang lewat dari pukul tujuh malam.

Melempar tasnya ke atas kasur, mengganti pakain dengan cepat karena asam lambungnya sudah naik.

Mayuzumi membuka bungkusan makanan yang sempat ia beli di Konbini, terlalu malas untuk masak sendiri disaat tubuh sudah meronta. Ibunya berangkat pagi sama seperti dengannya berangkat sekolah. Tidak sempat untuk membuatkan makanan disaat ia pulang.

Miris? Iya. Tapi Mayuzumi tidak pernah mengeluhkan itu semua atau memprotes yang tidak seharusnya. Ia orang yang dapat menerima sebuah kondisi yang memang tidak merugikannya. Asal ia dapat membaca dengan tenang jauh dari hiruk pikuk, itu juga sudah cukup.

Tapi sekarang kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah, menerima seseorang yang sama sekali tak dikenal. Bahkan, tadi siang ia dipaksa untuk mengakui sebuah hubungan. Jadi kenyataannya saat ini, dia telah memasukkan satu orang ke dalam hidupnya, yang ia percaya akan membuat masalah dan merugikan dirinya.

Seharusnya dia menolak dari awal. Tapi entah mengapa ia tidak bisa atau dapat dikatakan jika ia terbawa begitu saja, dirasa anak kecil itu mempunyai suatu ilmu hipnotis. Bukan tidak mungkin, kan? Matanya saja belang, bagaimana dengan yang lain?

Mayuzumi tipe manusia yang tidak bisa mempercayai orang lain dengan cepat. Pada saat Akashi memintanya untuk berpacaran dan menciumnya tepat di bibir. Hanya ada satu hal dalam pikirannya, anak itu sudah gila.

Dia tidak tahu tentang Akashi, dan tidak pernah ingin tahu. Tidak yakin dengan suatu hubungan apalagi sesama jenis.

Katanya, menjalin hubungan itu harus ada kasih sayang. Namun, Mayuzumi sama sekali tak tahu apa itu kasih sayang. Semoga Akashi tidak akan menyeretnya ke dalam jurang masalah.

Sepuluh menit ia habiskan untuk memasok energi dengan memasukkan makanan ke dalam tubuh. Meremat bungkusan yang tersisa, dan membuangnya ke kotak sampah.

Dia menarik tangannya ke atas sebagai peregangan otot. Mulai mengeluarkan novel tanpa bajunya dari dalam tas. Tidak menghitung menit ia tenggelam dalam kontes dunianya.

.

OoOoOoOoOo

.

Kegaduhan mulai membaur bersama ucapan sensei saat dia mengakhiri pelajarannya. Namanya juga anak kelas satu masih terbawa suasana kebiasaan saat SMP. Aomine dan Kise keluar lebih dulu melewati sensei Matematikanya dengan tidak sopan.

"Akashicchi, duluan ya..." Teriak Kise.

Akashi hanya menggelengkan kepala. Di kelas ini sepertinya hanya dia yang terlihat normal.

"Akashi-kun, nanti latihan pukul berapa?" Tanya Kuroko yang melihat Akashi sudah menenteng tas.

"Seperti biasanya. Oh, aku belum berterima kasih atas buku yang kemarin," Akashi mundur lagi mendekati meja Kuroko. "

"Tak masalah. Malah kau membayarnya kelebihan."

"Baiklah," katanya. Dia meninggalkan Kuroko dengan wajah datarnya.

Akashi berjalan mengikuti kata hatinya. Bukan pulang, bukan. Tapi berbelok arah diperempatan yang kemarin sempat ia lalui bersama seseorang. Asal tahu saja, otaknya itu bisa menyimpan sesuatu lebih lama dari yang lain.

Seringaiannya mengembang saat manik heterokomnya melihat palang di atas pintu yang menjelaskan bahwa itu adalah kelas duabelas-satu. Akashi mempercepat jalannya beberapa oktaf karena para senpainya sudah keluar satu per satu, itu artinya kelas sudah berakhir dan dia tak perlu menunggu lama seperti kemarin.

Mengamati dengan tajam kepala-kepala yang menyembul dari dalam kelas. Tapi dari sekian banyaknya siswa, dia tidak menemukan seseorang dengan kepala berwarna abu. "Tsk!" Decaknya kesal.

Tidak sabar, dia melibatkan dirinya untuk langsung mengecek ke dalam. Menyerngit kasar, kosong melongpong sudah tidak ada manusia, setan pun mungkin sudah ikut pulang.

Akashi menggeram, menyeret kakinya ke luar dari kelas. Dia tahu di mana sang senpai tercinta berada. Kaki mungilnya mulai menapaki sebuah tangga. Kedua tangan masuk kesaku celana.

Dalam waktu kurang lebih sembilanpuluh detik Akashi berhasil melewati limabelas anak tangga.

Semilir angin menyambutnya liar ketika sudah menapaki lantai beton tanpa atap. Menyibakkan jas seragamnya, memperlihatkan kemeja yang tersembunyi dengan rapi. "Chihiro," gumamnya dalam.

Kedua alisnya bertautan garang. Terima kasih telah memberikannya sebuah pemandangan apik. Di mana kedua bola matanya harus ternodai karena melihat seseorang yang ia cari sedang asyik berpelukan dengan orang lain.

.

.

.

.

Hai ho... HAPPY AKAMAYU/MAYUAKA DAY 2016 *pelukbangMayuAka*. Sedih sih, nggak ada yang nyumbangin hadiah untuk mereka. Mungkin lagi pada sibuk atau apa? Tapi semoga makin banyak MayuAka shipper. Wish! Mereka makin cute, Akashi manis dengan hal biasanya ke Mayuzumi. Dan bayangin Mayuzumi senyum gara-gara Akashi itu sesuatu. Love you, baby!

.

.

Little Madara: hallo Madara-chan. Thanks suportnya. Setuju, karena Bokushi itu ahagsdbxdh kalau sama bang Mayu *jingkrakjingkrak*

0nihim3putri: alo... Hai.. Kita satu kapal. Maaf lama lho, aku nyamain tanggalnya mereka. Hehe gomen sudah menunggu. Btw, thank rifiunya.

.

Thaks too for rifiu, fav, foll, silent reader.

#SalamAkaMayu/MayuAkaDay2016!