previous...
Sementara itu seluruh orang yang berada di luar rumah begitu terkejut melihat seseorang melompat dari jendela lantai dua. Semua orang tak terkecuali Sehun dan Yunho, yang mengetahui siapa benar pria yang baru saja melompat dan memeluk erat Haowen yang juga terlihat tak sadarkan diri. Yunho yang baru saja membawa istrinya ke ambulance karena tak sadarkan diri begitu terkejut menyadari siapa pria yang baru saja menerobos jendela dilantai dua dirumah istrinya.
Keduanya berlari terhuyung mendekati sosok yang sedang dikerumuni oleh para petugas dan beberapa orang yang melihat. Keduanya menerobos dan begitu pilu melihat tubuh Luhan yang penuh darah dan luka bakar hampir di seluruh tubuhnya.
"Luhan.."
Sehun bergumam terduduk didepan Luhan, sementara seluruh petugas sudah membawa Haowen ke ambulance dan masih menunggu tandu untuk membawa Luhan yang terlihat mengenaskan.
Yunho memalingkan pandangannya tak tahan melihat kondisi Luhan, air mata begitu saja menetes melihat sosok rapuh yang selalu ia hina kini benar-benar tak sadarkan diri. Entah Luhan masih bertahan hidup, atau pria itu sudah tiada. Yang jelas saat ini Yunho tak bisa bernafas dengan benar. Rasanya terlalu sesak melihat Luhan dengan kondisi seperti itu ditambah suara adiknya yang terus memanggil Luhan berharap Luhan sadarkan diri namun nihil Luhan tidak merespon apapun, dia tidak menjawab teriakan pilu adiknya yang terus memanggil namanya.
Yunho sesekali melihat ke arah Luhan dan begitu marah karena petugas datang begitu lambat, dia mengepalkan erat tangannya dan
"CEPAT SELAMATKAN ADIKKU!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
Malam ini suasana di Seoul Hospital terasa begitu mencekam dan menyesakan untuk beberapa orang yang terlihat panik dan sedang menunggu di luar ruangan. Semua terlihat panik dan memucat tak terkecuali dua orang yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri pagi ini. Semua berjalan dengan semestinya pada awalnya, sampai beberapa jam lalu keluarga Oh hampir kehilangan anggota keluarganya karena kediaman Kai dan Jaejoong yang terbakar sementara putra tunggal Yunho dan Jaejoong sedang tidur dengan pulasnya disana.
Tak ada yang bersuara saat ini. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing menebak-nebak apakah Luhan masih bertahan atau sebaliknya. Tak ada yang berani menyuarakan kecemasan mereka sampai ruang ICU itu terbuka dan menampilkan seorang dokter paruh baya yang berpengalaman tengah berdiri diantara kedua keluarga tersebut.
"Bagaimana keadaan Luhan?"
Kai yang membuka suara untuk bertanya pada dokter yang menangani Luhan membuat baik Yunho maupun Sehun tiba-tiba merasa sesak takut mendengar kabar buruk yang akan telinga mereka dengar.
"Kondisi pasien kritis karena terlalu banyak menghirup asap. Dia kekurangan oksigen namun kami sudah menanganinya. Pasien juga mengalami banyak luka bakar di sekujur tubuhnya dan yang paling buruk-…"
Sang dokter sedikit terdiam melihat seluruh keluarga yang menunggu Luhan begitu cemas dan terlihat memucat membuatnya tak sampai hati memberitahu kondisi pasien yang ia tangani
"A-apa yang paling buruk?" Kyungsoo bertanya terisak di pelukan Kai yang juga terlihat menegang takut dengan apa yang akan diberitahukan oleh dokter yang menangani Luhan
"Pasien mengalami kelumpuhan hampir 70% pada kaki kirinya. Dugaan sementara karena tulang sendi kirinya bergeser dan tulang keringnya lututnya retak karena posisi terjatuh pasien sangat fatal."
"Apa kau mau bilang Luhan tidak bisa berjalan?" Kyungsoo kembali bertanya dengan wajah pucatnya bertanya pada dokter Shin
"Dia bisa. Hanya saja jalannya akan terpincang. Lututnya akan sering mengalami keram karena kaki kirinya tidak bisa terlalu lama menopang berat tubuhnya."
"Apa yang harus kami lakukan?" Kai bertanya dengan nada bergetar yang dibuat setenang mungkin
"Kita bisa memasang pen pada kaki kirinya sebagai penyangga. Tapi pen yang akan dipasangkan di kakinya tidak menutup kemungkinan menghilangkan rasa sakitnya. Justru sebaliknya, terkadang dengan pemasangan pen pasien akan mengalami sakit yang lebih parah namun jika dia bertahan, tidak menutup kemungkinan kakinya akan kembali pulih."
"Berapa lama kemungkinan Luhan bisa pulih dan kembali berjalan normal?"
Semua menoleh ke asal suara yang bertanya dan mendapati Jaejoong dengan wajah sembab dan ketakutannya berjalan gontai menghampiri kerumunan yang sedang berkumpul didepan ruangan Luhan.
"….."
Yunho sendiri ingin sekali berjalan menghampiri istrinya dan memeluknya erat. Tapi seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan setelah mendengar kondisi Luhan. Dia dan Sehun adalah yang paling memucat di ruangan itu. Rasa bersalah mereka pada Luhan seolah menggerogoti bagian terdalam dari diri mereka secara perlahan namun tepat di tempat yang bisa memberikan rasa sakit teramat.
Keduanya seperti menjadi bisu secara tiba-tiba. Tak bisa mengeluarkan suara, berfikir harus melakukan apa untuk mengembalikan kondisi Luhan-…tidak… bukan kondisi Luhan-.tapi untuk mengembalikan senyum di wajah Luhan. Senyum yang perlahan tapi pasti telah mereka renggut dari Luhan hampir tiga tahun lamanya.
"BERAPA LAMA?"
Jaejoong hampir terjatuh kalau Sekertaris Kang tak langsung menopang tubuhnya yang terlihat sangat lemas, dirinya begitu marah, takut dan merasa bersalah dalam satu waktu ditambah dokter Shin yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya/
"JAWAB AKU?"
"Maafkan saya harus menyampaikan hal ini tapi kemungkinan untuk pasien agar bisa kembali berjalan normal sangat kecil bahkan hampir tidak mungkin. Kondisi retak pada tulang kering di lututnya hampir tidak bisa dipulihkan walau menggunakan pen sekalipun. Tapi sungguh-…semua itu tergantung pada kondisi pasien."
tidak….tidak mungkin.
Sehun bersandar di tembok, kakinya bergetar hebat tak tahu harus marah pada siapa. Marah pada dokter yang menangani Luhan atau marah pada dirinya sendiri. Harusnya dia mencegah Luhan berlari keluar beberapa jam yang lalu. Harusnya dia tetap bertanya pada Luhan saat melihat Luhan berlari menuruni tangga seperti orang gila beberapa jam yang lalu. Harusnya dia-…..
"LUHAAAN!"
Lamunannya tersadar saat Jaejoong bahkan berteriak sangat memilukan. Semua menikmati perasaan bersalah masing-masing berharap ada sesuatu yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan kondisi Luhan yang masih berjuang masa kritisnya saat ini.
"Luhan.."
Sementara Seulgi dan Seunghyun yang juga berada disana hanya bisa bergumam memanggil Luhan, merasa pertemuan Luhan dengan keluarga Oh memang kesalahan besar dalam hidup Luhan. Dan untuk Seunghyun dia bersumpah pada dirinya sendiri akan membawa Luhan pergi dari keluarga Oh dan memberikan hidup baru yang lebih layak untuk pria yang sangat ia cintai itu.
..
..
..
"Hey pria cacat mau kemana kau?"
Merasa itu panggilan baru untuknya, pria itu pun menoleh dan sedikit tersenyum kepada pemilik flat tempatnya tinggal "Aku ingin membeli obatku paman."
"ck. Daripada membeli obat yang tidak bisa menyembuhkan kakimu. Sebaiknya kau cepat bayar tunggakanmu yang sudah terlambat tiga bulan."
"Ya aku akan membayarnya secepat mungkin."
"Jika dalam dua minggu kau tidak membayarnya aku akan menendangmu keluar. Apa kau mengerti?"
"Ya paman aku mengerti."
"Cepat sana pergi. dasar cacat."
Pria yang kini memiliki luka bakar dan berjalan dengan kaki terpincang itu pun hanya tersenyum miris karena sebutan baru untuknya. Dia tidak bisa menyalahkan paman Kim yang menghina keadaannya karena memang benar dia adalah pria cacat yang tidak bisa menghasilkan uang
"haah~…aku tidak yakin bisa bertahan." gumamnya menengadah ke langit dan tak lama berjalan untuk mencari yang ia butuhkan.
Musim telah berganti, waktu telah berlalu dan tak terasa sudah satu bulan terlewati semenjak kebakaran mengerikan yang terjadi di kediaman keluarga Kim. Luhan mengalami kondisi kritis sampai kurang lebih selama empat belas hari. Dan pada minggu ketiga dia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit meskipun dokter dan Yunho serta Sehun mengatakan dia harus beristirahat lebih lama.
Bukan-….bukan karena dia tidak merasakan sakit. Tapi Luhan begitu marah pada Yunho dan Sehun yang kini memandang iba padanya. Luhan begitu tak memiliki harga diri saat kedua bersaudara itu merubah tatapan benci mereka menjadi tatapan mengasihani saat pertama kali Luhan mencoba berjalan dan terbukti benar kalau kaki kirinya hampir mati rasa membuatnya harus berjalan dengan satu kaki sementara kaki kirinya hanya bisa dibuat untuk membantu menopang tubuhnya namun tak bisa di buat berjalan secara normal seperti biasa.
Dan karena hal itu, Luhan harus berjuang hidup untuk sekedar membeli obat penghilang rasa sakit atau membeli makanan yang sangat ia inginkan dengan susah payah karena tak ada satupun tempat yang mau menerima pegawai dengan kondisi cacat seperti dirinya. Banyak yang ingin membantunya tentu saja seperti Seunghyun dan Seulgi misalnya. Tapi demi tuhan dia masih bisa berjalan walau harus terpincang, jadi dia tidak membutuhkan rasa iba siapapun untuk membantunya bertahan hidup. Luhan masih memiliki sedikit uang dan itu sudah lebih dari cukup untuk membeli obat atau makanan yang enak untuknya.
Luhan memilliki bekas luka bakar hampir di seluruh tubuh bagian kirinya. Namun beberapa sudah menghilang hanya meninggalkan bekas berwarna hitam yang sangat terlihat di leher dan pundak kirinya, sementara yang lain seperti bagian pinggang dan pinggulnya masih harus dioleskan krim penghilang rasa sakit karena lukanya cukup serius, hal itu membuatnya harus berkali-kali menebus obat mahal itu ditambah dengan obat penghilang rasa sakit untuk kakinya.
Seperti malam dengan dingin yang menyengat ini misalnya. Luhan harus bersusah payah berjalan ke toko obat terdekat karena obat habisnya, dia menggunakan jaket tebal dengan topi jaket yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya, mengabaikan seluruh pandangan orang-orang sekitar yang menatapnya dengan tatapan mengasihani.
Tring….
Luhan membuka topi jaketnya dan memasuki toko obat terdekat yang bisa ia kunjungi
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
Luhan tersenyum dan berjalan terpincang menghampiri pegawai yang bertanya padanya "Aku ingin menebus obat ini." ujarnya memberikan sebuah resep obat
"Tunggu sebentar." Ujar si pegawai meninggalkan Luhan yang hanya melihat sekeliling dan tak sengaja dirinya melihat ke cermin yang merefleksikan bayangannya dengan sempurna dengan cacat yang ia miliki. Luhan menatap lama bayangannya sendiri, memastikan bahwa yang berdiri disana adalah benar dirinya dengan segala kecacatan yang ia miliki saat ini. kaki yang tidak bisa berdiri sempurna, luka bakar di lehernya yang begitu terlihat dan wajah pucat karena menahan sakit di kaki dan pinggulnya membuat dirinya tersenyum mengenaskan dan mengejek dirinya sendiri "Menyedihkan sekali dirimu. Dasar cacat"
"Tuan ini obat anda."
Luhan yang masih mengejek dirinya sendiri langsung menoleh dan mengambil obat yang telah disiapkan "Berapa totalnya?"
"Empat puluh ribu won tuan."
Luhan membuka dompetnya dan tersenyum getir melihat uang yang tidak sebanyak itu ia miliknya, dia kembali menutup dompetnya dan menatap si pegawai yang menunggunya melakukan transaksi pembayaran.
"Apakah aku bisa mengambil setengahnya saja?"
"Tentu bisa." Ujar si pegawai membuat Luhan tersenyum
"Baiklah aku ambil setengahnya."
"Dia ambil penuh obatnya."
Seseorang dengan suara khasnya menginterupsi transaksi Luhan dan si pegawai membuat Luhan menoleh dan begitu benci melihat Sehun yang kembali berada di sekitarnya. Sehun sudah seperti ini semenjak dirinya keluar dari rumah sakit, tiba-tiba selalu datang dan selalu melakukan hal yang membuat Luhan sangat malu karena hanya untuk membeli obatnya sendiri dia tidak mampu.
"Ini uangnya." Sehun menyerahkan uangnya kepada si pegawai dan tak lama transaksi pun dilakukan membuat Luhan tertawa mengenaskan menyadari kemampuan keluarga Oh mempermainkan dirinya sungguh sangat mengaggumkan.
"Aku tidak butuh obat itu." Luhan menggeram dan tak lama berjalan dengan susah payah meninggalkan toko obat dengan Sehun yang terus memandangnya merasa bersalah melihat betapa Luhan menyembunyikan rasa sakitnya sendiri.
"Ini obat anda tuan."
Sehun kembali menoleh dan mengambil cepat obat Luhan lalu kemudian mengejar pria yang bahkan menyebut namanya saja sudah tidak mau.
Luhan..
Sehun mencari kemana arah Luhan pergi dan sedikit tersenyum miris melihat Luhan yang kesulitan menyebrang jalan karena lampu hijau berganti dengan cepatnya ke lampu merah sementara Luhan hanya bisa berjalan lambat dengan kondisi menahan sakitnya seperti saat ini.
Dia kemudian sedikit berlari menghampiri Luhan membuat Luhan yang melihatnya mengumpat marah karena mobil-mobil yang terus berlalu lalang dengan cepat bahkan di jam malam seperti ini. Melihat Sehun semakin mendekat membuatnya semakin marah dan memutuskan untuk menyebrang jalan sebelum
Grep….!
Sebelum tubuh kekar Sehun mendekapnya erat. Luhan mungkin saja menikmati sensasi hangat yang diberikan tubuh Sehun setiap kali pria yang lebih tinggi darinya memeluk dan mendekapnya erat namun saat menyadari detak jantung Sehun berdetak tak beraturan membuatnya menyadari kalau pria yang pernah sangat ia cintai ini sedang mengkhawatirkannya dan Luhan tidak suka saat Sehun merubah sikapnya hanya karena dirinya dalam kondisinya saat ini.
Luhan melepas pelukan Sehun dan memandang pria tampan didepannya ini dengan tak suka "Pergilah, aku sudah baik-baik saja." Katanya memberitahu Sehun setenang mungkin.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Sehun-….harus berapa kali aku mengatakan kau dan Yunho tidak perlu bersikap seperti ini padaku? Kalian tidak berhutang apa-apa padaku. Jadi teruslah membenciku seperti yang kalian lakukan sebelumnya."
"Maaf."
"AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU UCAPAN MAAF DARIMU!"
Luhan begitu marah saat kata maaf kini dengan mudahnya keluar dari bibir seseorang yang selalu berbicara kasar dan menghina dirinya. Sungguh dia tidak menginginkan apapun kecuali sikap Sehun kembali seperti dulu menjadi Sehun yang selalu berbicara kasar dan menghinanya bukan Sehun yang mengasihaninya atau Sehun yang peduli padanya karena kejadian sebulan yang lalu.
"Sudahlah. Aku lelah Sehun, biarkan aku pulang sendiri. Apa ini obatku?"
Luhan mengambil bungkusan obat di tangan Sehun dan kembali menatap Sehun dengan frustasi "Aku sudah mengambil obatnya dan akan meminumnya saat aku sampai dirumah. Jadi pulanglah dan berhenti mengikutiku." Ujarnya memberitahu Sehun yang masih tak bergeming dari tempatnya.
Luhan menghela kasar nafasnya dan berusaha mengabaikan kehadiran Sehun disampingnya, dia kembali menunggu lampu berubah menjadi warna merah dan segera menyebrang saat mobil-mobil mulai berhenti membiarkan pejalan kaki menyebrang.
Luhan sedikit meringis saat beberapa pejalan kaki menabrak bahunya bergantian karena jalannya yang sangat lama, membuatnya harus beberapa kali berhenti karena kakinya mulai merasa keram. Dia hampir mendengus frustasi melihat lampu merah akan segera kembali berubah menjadi hijau tapi dirinya masih berada di tengah jalan. Membuatnya memutuskan untuk kembali ke tempat awal sebelum seseorang mendekapnya dan membantunya menyebrangi jalan. Dan tak perlu bertanya siapa orang yang menolong dirinya saat ini. tangan kekarnya yang melingkar di pinggang Luhan, aroma khas sitrus lime yang begitu Luhan ketahui milik siapa membuatnya kembali tersenyum menyadari kalau selamanya Sehun akan menjadi seseorang yang keras kepala dan tak mempedulikan kenyamanan orang di sekitarnya.
"Terimakasih, selebihnya aku bisa berjalan sendiri." Luhan menghempas tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya dan mulai berjalan tertatih meninggalkan Sehun yang masih berdiri disana dan menatapnya tak berkedip.
Seolah mengabaikan permintaan Luhan, Sehun terus berjalan mengikuti Luhan yang terlihat kesulitan berjalan, dia tidak mempedulikan kalau Luhan akan memintanya pergi atau lebih buruknya berteriak marah. Dia hanya ingin memastikan Luhan akan sampai dirumahnya dengan dinginnya malam yang begitu menyengat.
"Luhan hati-hati."
Sehun berlari membantu Luhan yang tiba-tiba terjatuh dan terlihat berkeringat tak sebanding dengan dinginnya cuaca malam ini yang begitu dinging
"Kenapa kau belum pergi?"
"Aku akan pergi setelah kau sampai dirumah."
Luhan kembali menghempas tangan Sehun dan berusaha berdiri di atas kedua kakinya. "Jangan ikuti aku lagi Sehunna. Aku mohon."
Luhan kembali berjalan tertatih, namun suara langkah kakinya bersahutan dengan langkah Sehun yang masih mengikutinya dengan jarak yang semakin dekat. Membuat Luhan mengepalkan erat tangannya dan
"BERHENTI MENGIKUTIKU!"
Sehun sedikit tersentak saat Luhan tiba-tiba berteriak padanya. Mata keduanya bertatapan namun memiliki arti yang bertolak belakang. Yang satu sangat terlihat marah sementara yang satu terlihat menyesal. Tak ada yang bersuara lagi saat Luhan berteriak sampai akhirnya terdengar suara Luhan menghela nafas.
"Aku mohon Sehun. berhenti mengikutiku. Demi Tuhan aku masih bisa berjalan dan aku baik-baik saja. Aku tidak cacat."
"Kau kesakitan Lu."
"KAU YANG MENYAKITIKU!"
Luhan melihat wajah Sehun begitu frustasi membuatnya sadar kalau percuma mengatakan apapun untuk membuat pria didepannya ini pergi.
"Terserahmu saja." Katanya tak peduli dan kembali berjalan namun baru beberapa langkah Luhan merasakan lututnya berdenyut hebat dan membuatnya seketika kembali terjatuh dengan Sehun yang masih menatapnya tak bergeming.
"kaki sialan. Brengsek. Kenapa kau selalu kesakitan, sialan-…sedikit lagi. Rumah kita sedikit lagi tapi kenapa rasanya sakit sekali. KENAPA SAKIT SEKALI ARGGHHH"
Sehun dengan jelas mendengar Luhan memaki dirinya sendiri yang kesakitan, dia juga tahu benar apa yang membuat Luhan memaki dirinya sendiri, pria yang sedang terduduk di tanah sambil memukuli kakinya itu sedang merasakan depresi dan belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan tentang dirinya.
Dokter Shin mengatakan padanya dan Yunho bahwa Luhan mengalami gangguan psikis yang serius. Ditambah dengan kondisi fisiknya yang tak sempurna membuat Luhan mengalami depresi yang hebat. Luhan tidak menunjukkan ekspresinya saat mengetahui dirinya mengalami luka bakar dan kaki kirinya tak bisa menopang tubuhnya secara normal. Dia hanya memandang kosong kedepan dan tak lama tersenyum sambil terus menerus mengatakan aku sudah mendapatkan balasan karena kejahatan ayahku di masa lalu. Dokter Shin mengatakan kalau tekanan yang Luhan rasakan bisa sewaktu-waktu membuatnya berbuat nekat untuk menyakiti dirinya sendiri. Dan itu adalah alasan kenapa Sehun berada di dekat Luhan hampir setiap hari dan setiap malam. Dia hanya ingin memastikan kalau Luhan tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kembali merasa kesakitan.
"argghh…"
Terdengar kembali suara erangan Luhan saat dirinya mencoba berdiri namun kembali terjatuh. Sehun masih menatapnya tak berkedip, menghapus air matanya yang menetes begitu saja dan perlahan berjalan mendekati Luhan yang masih memaki dirinya sendiri.
"JANGAN MENDEKAT!"
Luhan berteriak saat melihat Sehun mendekatinya, dia sungguh membenci Sehun saat ini. dia merasa tak berguna bahkan untuk menolong dirinya sendiri.
"AKU BILANG JANGAN MENDEKAT!"
Sementara Sehun mengabaikan seluruh peringatan Luhan, dia tidak peduli jika pada akhirnya Luhan akan semakin membencinya. Sungguh hatinya begitu sakit melihat pria yang selalu ia hina itu kini duduk tak berdaya menahan rasa sakitnya sambil memaki kakinya yang sedang terluka. Sehun semakin memucat menyadari kalau dirinya benar-benar telah menghancurkan hidup Luhan terlalu sempurna.
"PERGI KAU! AKU TIDAK-…"
"SEHUN TURUNKAN AKU!"
Luhan semakin menjerit saat Sehun mengangkat tubuhnya, dia semakin meronta tak terima dengan perlakuan Sehun yang membuatnya semakin terlihat tak berdaya.
"Aku akan pergi setelah mengantarmu pulang. Aku janji."
"BRENGSEK KAU! TURUNKAN AKU! KAU HARUS PERGI. AKU BISA BERJALAN SENDIRI SIALAN! "
Genggaman Sehun di pinggang Luhan semakin mengerat, dia bersumpah tidak akan membiarkan Luhan turun dari dekapannya. Luhan sudah kelelahan dan saat ini dia harus beristirahat, jika Luhan melakukan apapun untuk membuat Sehun pergi maka Sehun juga akan melakukan apapun agar dirinya bisa tinggal dan menemani Luhan yang terlihat kelelahan.
"PERGI KAU SIALAN"
"Aku akan pergi. aku janji."
"AKU BISA BERJALAN SEHUNNA. TURUNKAN AKU."
"Aku tahu. Kau hanya sudah terlalu lelah."
Luhan masih melakukan segala cara agar Sehun menurunkannya. Tapi dia menyadari ucapan Sehun adalah benar yang mengatakan kalau dirinya sudah lelah.
Ya….Luhan sudah lelah, dia sudah merasakan seluruh tubuhnya berkeringat. Luka bakar yang belum mengering ditambah kram di lutut kirinya membuatnya harus menahan rasa sakitnya yang tak bisa diucapkan. Dia hanya ingin segera sampai di flat kecilnya dan menarik selimut untuk beristirahat.
"Kau harus pergi." ujarnya melemah dan memutuskan membiarkan Sehun menolongnya malam ini.
"Aku akan pergi."
"kau memang selalu pergi dariku Sehunna." Luhan tersenyum pahit meratapi nasibnya, tak ada yang tersisa lagi untuknya. Dia sudah kelelahan bahkan untuk mempertahankan harga dirinya saja dia sudah tidak mampu. Dia terisak kecil menyayangkan karena seharusnya dia sudah berada di suatu tempat dan memulai hidup barunya. Namun semua itu hanya mimpi untuknya karena kenyataan yang dia terima adalah dia masih disini. Masih berada di pelukan pria yang harusnya ia lupakan.
"Tidurlah. Kau akan lebih baik setelah meminum obatmu."
Setelah sampai di flat Luhan, Sehun dengan cepat membantu Luhan untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yan lebih tebal setelah sebelumnya mengoleskan krim di luka bakar Luhan yang belum mengering setelahnya dia membantu Luhan meminum obat dan saat ini Luhan sudah berbaring di kasur kecilnya yang menyatu dengan lantai.
"Kau harus pergi." gumam Luhan yang terus menerus meminta Sehun untuk pergi, namun karena efek obat yang mulai bekerja. Suaranya menjadi kecil dan tak lama hanya terdengar dengkuran halus dari bibir mungilnya.
"Hmm..Aku akan pergi. Maaf Luhan. Maafkan aku."
Sehun membiarkan air matanya menetes begitu tak tega melihat wajah Luhan yang begitu pucat dengan suhu kamarnya yang sangat dingin. Dia tahu kalau Luhan masih beradaptasi dengan keadaanya sekarang, terlihat dari isi kamarnya yang sangat berantakan menandakan kalau hampir setiap hari Luhan akan membanting atau membuang benda apapun yang berada di dekatnya saat dia sedang marah atau emosi.
"nghhhh..´Luhan sedikit bergerak tak nyaman dalam tidurnya dan Sehun untuk pertama kalinya menenangkan Luhan dengan cara yang sama saat Luhan kecilnya mengalami mimpi buruk.
Sehun mengusap lembut kening Luhan sesekali menghapus keringatnya dan memandang tak berkedip wajah pucat Luhan "Aku disini. Tidurlah Luhan. tidurlah Lu-…Maafkan aku."
Setelah memastikan Luhan tertidur dengan nyaman, Sehun memutuskan untuk meninggalkan flat Luhan sebelum pria cantiknya terbangun dan akan kembali marah jika melihat wajahnya. Sehun menaikkan selimut Luhan dan perlahan berjalan meninggalkan tempat Luhan "Selamat malam Luhan." gumamnya berbisik dan menutup pintu Luhan dengan perlahan.
Sehun mungkin sudah berada didalam mobilnya kalau saja dia tidak melihat si pemilik flat tempat Luhan yang memiliki usia dengan pamannya sedang tertawa bersama wanita cantik yang entah berasal darimana. Melihatnya tertawa seperti itu membuatnya muak karena sangat mengetahui pria paruh baya itu kini memanggil Luhan dengan sebutan pria cacat.
Sehun sedikit menyeringai sambil terus berjalan mendekati pemilik flat itu dan
BUGH!
"HEY APA-….."
"Anda."
"Ya…ini aku sialan."
"AKU SUDAH MEMBAYARMU DENGAN JUMLAH BANYAK. TAPI KENAPA MULUT SIALANMU TIDAK BISA BERHENTI MENGHINA LUHAN?!"
Sehun kehilangan kontrolnya. Dia terlalu marah pada semua yang menghina fisik pria yang kini sudah beristirahat dikamarnya. Dia mendengar dengan telinganya sendiri saat pagi tadi pria brengsek ini menghina Luhan, dia bahkan mengancam untuk menendang Luhan keluar dari tempatnya tinggal saat ini jika Luhan tak membayar tagihannya.
BUGH!
BUGH!
"Sekali lagi mulut sialanmu menghina Luhan aku bersumpah akan membakar tempat sialan ini. KAU MENGERTI?!"
Pria yang biasa dipanggil paman Kim oleh Luhan itu pun terlihat babak belur dan mengangguk perlahan menjawab ancaman Sehun.
"Jika kau berani menghina Luhan dengan mulut sialanmu lagi. Aku bersumpah akan memotong lidahmu dan memberikannya kepada anjing liar diluar sana "
Sehun menginjak wajah pria yang memiliki usia yang sama dengan pamannya dan kemudian pergi meninggalkan pria menjijikan itu "Satu lagi-…penghangat di ruangan Luhan rusak. Aku ingin kau memperbaikinya, jika kau tidak memperbaikinya, aku akan mencarimu lagi. Ini serius, aku tidak suka Luhan kedinginan."
Pemilik flat tempat Luhan tinggal pun hanya kembali mengangguk cepat tak menyangka kalau pria yang beberapa hari lalu memberikannya banyak uang benar-benar mengerikan saat dirinya menghina Luhan. dan dia tahu benar bahwa menyulitkan Luhan itu sama dengan membunuh dirinya sendiri secara perlahan.
..
..
..
Keesokan paginya Luhan terbangun dengan keadaan yang jauh lebih baik. Tubuhnya sudah tidak berkeringat, kakinya sudah tidak kram dan merasa sakit lagi dan dirinya benar-benar tersenyum lega saat ini.
Dia kemudian sedikit bersandar ke dinding kasurnya dan memperhatikan kamarnya yang sudah tertata rapih, tak ada barang berserakan yang ia gunakan untuk melampiaskan kemarahannya. Luhan berpikir keras lalu tak lama senyum yang dipaksakan tercetak di bibirnya. Dirinya menebak bahwa Sehun lah yang merapikan kekacauan dikamarnya, membuatnya secara refleks mengepalkan erat tangannya karena terlalu banyak menunjukkan kelemahannya pada Sehun-…pria yang benar-benar ingin ia lupakan saat ini.
Drrt…drttt….
Drtt…drttt..
Lamunan Luhan terganggu oleh suara ponselnya yang bergetar, dia kemudian meraih ponselnya dan melihat nomor yang tak dikenal yang menghubunginya saat ini.
"yeboseyo…"
"Selamat pagi. Apa benar ini dengan Tuan Xi Luhan?"
"Ya saya sendiri."
"Perkenalkan saya Lee Donghae manager perencanaan dari Shim group"
Luhan sedikit mengernyit dan tak lama kembali bertanya "Lalu ada yang bisa saya bantu?"
"Kami telah membaca resume lamaran pekerjaan yang anda tujukan untuk Shim Group. Dan kami merasa tertarik dengan pengalaman anda. Jadi apakah bisa kita bertemu hari ini."
Senyum itu mengembang begitu sempurnanya di wajah Luhan, dia seperti mendapat kesempatan kedua untuk membangun karirnya yang sempat hancur dan berniat mengumpulkan uang untuk segera pergi dari Seoul/ "Y-ya tentu saja bisa."
"Baguslah. Kalau begitu kami tunggu kedatangan anda pukul sepuluh pagi ini. terimakasih."
Setelah mendengar sambungan terputus Luhan bergegas membersihkan dirinya dan berniat untuk melakukan apa saja agar dirinya bisa mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang untuk menghidupi dirinya sendiri.
"whoaaa aku tidak tahu kalau Shim Group menjadi sebesar ini."
Luhan bergumam mengagumi tempat yang mungkin akan menjadi sumber penghasilannya kelak. Dia sudah berpenampilan selayaknya karyawan dan tak lama berjalan tertatih memasuki perusahaan besar itu dengan beberapa pasang mata yang menatapnya meremehkan.
Luhan berusaha tak mempedulikannya dan terus mendatangai meja reseptionist untuk bertanya
"Ada yang bisa saya bantu?"
Luhan sedikit tersenyum dan mengangguk bersemangat "hmm..Saya memiliki janji dengan Manager Lee Donghae."
"Nama anda?"
"Luhan…Xi Luhan."
Wanita muda itu tampak mengernyit dan tak lama kembali menatap Luhan "Lantai enam."
"Terimakasih." Luhan tersenyum dan berjalan menuju lift untuk segera memulai interview pertamanya.
"Apa menurutmu manager Lee akan menerimanya? Kau lihat sendiri kan? dia cacat."
"entahlah aku tidak peduli."
Luhan tidak mendengarnya, namun seseorang yang baru memasuki perusahaan itu terlihat begitu marah mendengar seluruh karyawan di perusahaan ini menghina Luhan yang untungnya tidak mendengar ejekan tak bermutu dari mereka. Dia berjalan mendekati kedua wanita itu sambil melempar berkas yang ada di tangannya, kemudian menatap kedua wanita itu penuh kemarahan "Kalian dipecat."
Itulah kata-kata yang diucapkan seseorang dengan mata elangnya kepada dua wanita yang menggunjing Luhan dengan kalimat sialan mereka. Pria itu terlihat marah membuat kedua wanita yang baru saja kehilangan pekerjaannya itu menatap takut padanya "Jangan tunjukan wajah kalian lagi didepanku." Geramnya dan tak lama menyusul ke tempat Luhan berada.
Dia menaiki lift dan tak lama turun di lantai yang sama di tempat Luhan berada, sedikit tersenyum dan berniat segera menghampiri Luhan yang terlihat tersenyum senang.
"Maaf tapi Manager Lee baru saja membatalkan janji wawancara dengan anda."
"eh? Tapi aku datang tepat waktu. Kenapa dibatalkan?"
"Aku rasa beliau salah membaca resume anda. Resume anda mengatakan kalau anda adalah pria sehat tanpa satu kekurangan apapun. Tapi kenyataan yang kami lihat anda kesulitan berjalan bahkan untuk berdiri lama tampaknya anda bergetar."
"Ah- jadi karena aku cacat ya?"
Pria yang sedang mendekati Luhan itu jelas sekali menangkap nada kekecewaan dari Luhan yang secara tidak langsung sedang dihina saat ini. Senyuman di wajah pria itu menghilang dan seketika berubah menjadi geraman ketika dirinya dengan jelas mendengar bahwa Luhan sedang dipermainkan saat ini. Pria itu otomatis mengepalkan erat tangannya dan berniat segera membawa Luhan pergi dari tempat sialan ini.
"Karena anda sudah mengatakannya. Maka ya-…interview dibatalkan karena kondisi fisik anda."
"Baiklah. Saya permisi du-…"
"Arghh."
Luhan sedikit meringis saat tiba-tiba tangannya dicengkram dengan erat oleh seseorang, dia otomatis mendongak melihat siapa yang mencengkram tangannya dan begitu terkejut mendapati Yunho berada didepannya saat ini.
"Siapa namamu?" Yunho bertanya menggeram kepada wanita yang baru saja berbicara dengan Luhan
Wanita yang sepertinya baru bekerja beberapa minggu di Shim group itu tampak ketakutan menyadari Yunho menatapnya dengan mengerikan saat ini "Kim Sohee direktur."
"Baiklah Kim Sohee-ssi. Mulai hari ini kau kehilangan pekerjaanmu. Kau dipecat dan aku tidak ingin melihat wajahmu esok hari."
"direktur." Luhan menggumam terkejut saat tiba-tiba Yunho mengatakan memecat wanita yang baru saja berbicara dengannya.
"Direktur anda tidak perlu memecat nona ini." Sekertaris Kang berusaha menenangkan Yunho yang terlihat menakutkan saat ini.
"Dia pantas mendapatkannya." Gumam Yunho yang kemudian merangkul bahu Luhan dan membawa Luhan ke ruangan tempat dimana Manager Lee berada
Brak..!
Terlihat seorang pria yang sedang sibuk dengan dokumennya tersentak sedikit mengernyit namun tak lama tersenyum dan berdiri menyambut Yunho yang masih merangkul Luhan yang sedikit kesulitan berjalan.
"Selamat pagi direktur."
"Kenapa kau membatalkan interview dengannya?"
"Dengannya?" Donghae tampak mengernyit tak mengerti dan tak lama menyadari satu-satunya objek pembicaraan dengan Yunho adalah pria yang kini sedang dirangkulnya.
"ah-..Dengan Tuan Xi maksud anda?"
"TENTU SAJA DENGAN LUHAN."
"Direktur kenapa anda terlihat begitu marah? Saya bisa menjelas-…"
"APA KARENA DIA TIDAK BISA BERJALAN DENGAN BENAR?"
Raut wajah Donghae memucat saat untuk pertama kalinya melihat Yunho yang selalu terlihat bijak kini terlihat seperti ingin membunuh seseorang.
"Kualifikasi untuk posisi yang akan Tuan Xi tempati adalah berada di lapangan dan menjalin relasi bisnis dengan para pemegang saham. Itu artinya penampilan menarik dibutuhkan untuk membuat para pemegang saham berminat dengan bisnis kita. Saya tidak bisa mengambil resiko dengan mempekerjakan Tuan Xi dengan kondisinya yang seperti ini. Maaf direktur."
Yunho tertawa mengerikan sambil menatap tajam ke arah Donghae dia kemudian membantu Luhan untuk duduk di kursi dan tak lama berjalan semakin mendekati Donghae.
"Tidak mau ambil resiko katamu?"
"Ya Direktur. Kita dituntut bekerja dengan berpenampilan yang bisa menarik klient bukan sebaliknya."
"Baiklah aku juga tidak mau ambil resiko."
Terlihat wajah Donghae memucat menyadari nada kemarahan dari satu-satunya pemasok terbesar di perusahaan tempatnya bekerja "Apa maksud anda direktur?"
Yunho mendengus kejam dan melihat Donghae tak berkedip "Sekertaris Kang." Ujarnya memanggil pria tua yang sedari tadi berada di belakangnya dan kini sedang menatap Luhan yang terlihat ketakutan.
"Ya direktur."
"Keluarkan surat perjanjian kita dengan Shim group."
Tak perlu waktu lama Yunho mendapatkan kertas yang diinginkannya dan mencengkram kuat kertas penting untuk Shim group tersebut "Tadinya aku berniat untuk bekerja sama dengan kalian dan meletakkan setengah sahamku untuk Shim group. Tapi aku membatalkannya." Yunho mendesis dan merobek perlahan kertas perjanjian yang sudah di tandatanganinya untuk Shim group.
"Dan apa kau tahu kenapa Luhan tidak memiliki kondisi fisik sempurna seperti saat ini Manager Lee?" katanya bertanya pada Donghae yang masih tak percaya Yunho benar-benar membatalkan perjanjian perusahaan mereka.
"Dia menyelamatkan putraku dan mempertaruhkan hidupnya saat itu. Dan aku-….aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya atau lebih buruk menghinanya. Luhan sudah terlalu banyak merasakan sakit, aku tidak akan membiarkan dirinya merasakan lagi. Tidak lagi-..setelah apa yang aku lakukan pada hidupnya. APA KAU MENGERTI?" geramnya berteriak dan merobek hancur kertas yang berada di tangannya lalu melemparnya ke wajah Donghae.
Yunho terlihat murka dan tak lama menghela kasar nafasnya "Katakan pada Changmin kalau aku tidak akan pernah bekerja sama dengan perusahaannya lagi. Dan aku tidak ingin melihat wajahmu berkeliaran di kantorku lagi."
Yunho memperingatkan Donghae dan berjalan menghampiri Luhan yang terlihat diam memucat "Kita pergi Lu." Gumamnya membantu Luhan berdiri dan tak lama membawanya pergi dari mimpi buruknya di pagi hari.
..
..
..
"Turunkan aku. Aku mohon"
Itu adalah satu-satunya kalimat yang keluar dari bibir Luhan sejak sepuluh menit yang lalu. Dia kini bersama Yunho di mobil mewah Yunho yang entah akan membawanya kemana. Luhan mencengkram erat kedua tangannya dia atas lutut sambil terus memohonkan untuk segera diturunkan dari mobil Yunho. Luhan tidak bisa bersama dengan Yunho lebih lama lagi. Dia takut pada pria disampingnya yang kini terus menatapnya khawatir secara belebihan. Luhan menyukai Yunho yang sering memakinya dan memintanya pergi daripada Yunho yang selalu mengatakan semua akan baik-baik saja namun kenyataannya semua jauh dari kata baik-baik saja.
"Luhan aku akan membawamu ke Jaejoong kau pasti senang bertemu dengan istri dan anakku."
Luhan menggeleng cepat dan menatap Yunho dengan mata berkaca-kaca "a-aku mohon turunkan aku."
"Tidak bisa Luhan. Aku rasa ini sudah waktunya kau untuk check up. Kita harus tahu bagaimana kondisimu."
"Kondisiku buruk. Jangan khawatirkan aku direktur. Aku hanya memintamu untuk segera menurunkan aku. Sekarang."
"Tapi Lu-…"
"SEKARANG AKU MOHON!"
Yunho melihat tangan Luhan bergetar dengan hebat membuatnya kembali memalingkan wajahnya keluar jendela tak tega melihat Luhan yang terlihat ketakutan bersamanya.
"Paman hentikan mobilnya."
Sekertaris Kang langsung menepikan mobilnya saat Yunho memintanya untuk berhenti, hal itu tidak disia-sia kan Luhan yang langsung membuka pintu mobil Yunho "Terimakasih direktur. Terimakasih." Katanya mengulang dan tak lama memberhentikan taksi yang melintas didepannya.
"Paman."
"Ya direktur."
"Apa menurutmu Luhan akan selalu ketakutan saat bersamaku?" Yunho bertanya pada sekertaris Kang dengan matanya yang tak berkedip memperhatikan kemana taksi yang membawa Luhan pergi.
"Dia belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaannya sekarang. Jadi, berilah waktu untuk Luhan direktur. Dan setelahnya saya yakin semua akan kembali seperti semula."
Yunho memejamkan matanya sambil menikmati rasa penyesalan dan rasa bersalah yang terus menggerogoti dirinya dari hari ke hari. Dia tersenyum perih dan mencoba mendengarkan nasihat dari pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri "Aku bersalah pada Luhan dan Sehun. aku bersalah pada kedua adikku." Gumamnya bergetar dan menyesali apa yang telah ia lakukan pada Luhan.
..
..
..
"aku tidak tahan….aku benar-benar tidak tahan."
Luhan terus menggumamkan kalimat yang menandakan dia sudah muak berada di sekitar Yunho maupun Sehun, tak lama setelah turun dari taksi dia memutuskan untuk segera sampai di flat nya dan berniat pergi sejauh mungkin dari kedua bersaudara itu. Terkadang bibir mungil tertawa miris mengingat perlakuan yang ia terima baik dari Sehun maupun Yunho. Dulu keduanya menganggapnya sampah dan pembunuh. Kini keduanya menganggap dirinya sebagai pria cacat yang membutuhkan pertolongan. Luhan mengepalkan erat tangannya yang berada di saku jaketnya sambil sesekali mengusap air mata yang entah kenapa terus membasahi pipinya.
"aku hanya perlu sejauh mungkin dari mereka."
"aku hanya perlu melupa-…"
Langkah Luhan terhenti saat tiba-tiba ada tangan yang mencengkram lengannya dan kini memeluknya erat. Luhan sedikit membelalak, menebak siapa lagi yang kini berbuat sesuka hati padanya.
"Kenapa kau terburu-buru Lu? Apa kau kesakitan?"
Luhan sedikit mendesah lega menyadari bahwa itu bukan suara Sehun maupun Yunho. Itu suara Seunghyun yang kini mengusap lembut punggungnya dan memeluknya semakin erat.
"Katakan padaku kau kenapa? Apa kau kesakitan saat ini?"
Seunghyun menangkup wajah Luhan dan memaksa Luhan untuk menatapnya. Awalnya Luhan tidak ingin mengeluh apa yang ia alami beberapa hari ini. Namun melihat wajah Seunghyun yang mengkhawatirkannya membuatnya sedikit egois untuk menceritakan semua hal yang membuat dirinya sesak dan kesakitan.
"Seunghyunna aku-….." Luhan menggigit kencang bibirnya, matanya kembali memanas dan hatinya begitu memberontak untuk bertahan lebih lama lagi.
"Kau kenapa hmmm"
"Aku tidak tahan berada disini. Aku tidak tahan berada di sekitar Yunho maupun Sehun. Aku ingin pergi sejauh mungkin dari mereka. Aku ingin-…."
Luhan menundukkan kepalanya dan bergetar hebat sambil mencengkram tangan Seunghyun begitu kuat. Dia butuh tempat bercerita, dia butuh tempat sandaran dan semua itu hanya ada pada Seunghyun yang kini hanya terdiam mendengarkan keluh kesahnya.
Luhan merasa lega karena Seunghyun ada didepannya. Walau pria berwajah dingin itu tidak banyak berbicara, Luhan tahu Seunghyun sedang mendengarkannya dengan baik, dan tak ada yang dibutuhkan Luhan selain seseorang yang menganggapnya seperti biasa dan tak memandang fisiknya saat ini.
"Kalau begitu ikutlah denganku."
Luhan sedikit terdiam menanggapi ucapan Seunghyun dan tak lama mendongak untuk menatap wajah Seunghyun yang entah kenapa juga terlihat memucat melihat keadaan Luhan seperti saat ini.
Seunghyun tersenyum menatap Luhan dan menghapus air mata yang terus menerus membasahi wajah Luhan "Ikutlah denganku Lu. Jangan menolak untuk pergi bersamaku lagi. Aku berjanji kau akan mendapatkan hidup yang lebih layak denganku." Katanya bergetar berusaha meyakinkan Luhan untuk meninggalkan Seoul untuk kesekian kalinya.
"Kau tidak perlu bertemu dengan Yunho ataupun Sehun. Kau akan bekerja, kau akan hidup lebih baik denganku. Jangan menolak untuk pergi bersamaku lagi Lu. Aku bisa mencarikan dokter terbaik untukmu"
Luhan tersenyum dan sedikit tertawa miris menanggapi ucapan Seunghyun "Kau juga mengasihaniku."
"Tidak-…Demi Tuhan aku tidak mengasihanimu. Aku membantumu Luhan, itu berbeda. Kau bisa membayar pengobatan yang kau lakukan nanti padaku. Kau bisa membayarnya sedikit demi sedikit hingga lunas. Aku hanya membantumu. Percayalah." Ujarnya menggenggam erat tangan Luhan.
Luhan menatap Seunghyun cukup lama dan menemukan ketulusan yang diberikan pria itu untuknya "Aku tidak tahan melihatmu seperti ini Lu. Kedua bersaudara itu sangat keterlaluan pada hidupmu. Aku hanya ingin membantu. Aku hanya-…"
"Aku mau."
"eh?" Seunghyun sedikit mengerjap mendengar ucapan Luhan dan sedikit tersenyum senang menyadari kalau Luhan menyetujui untuk pergi dengannya.
"Kau benar-benar akan pergi denganku?"
Luhan mengangguk berkali-kali dan sedikit menggigit bibirnya kencang "Aku akan ikut kemanapun kau pergi. hanya cukup bawa aku pergi secepatnya dari sini. Aku tidak mau bertemu lagi dengan Sehun maupun-.."
Luhan sedikit terkejut saat Seunghyun kembali memeluknya dengan tiba-tiba "Lusa-…Kita akan pergi lusa dari Seoul."
..
..
..
Dan disinilah Luhan beserta Seunghyun. Di bandara dengan tujuan penerbangan ke Jepang. Seunghyun memutuskan untuk membawa Luhan pergi ke Jepang dengan beberapa pertimbangan. Pertama dia memiliki dokter keluarga yang bisa merekomendasikan pengobatan untuk Luhan dan kedua dia memiliki rencana agar Luhan bisa menjalani hidupnya secara normal tanpa perlu merasa tertekan.
Seunghyun sengaja membawa Luhan pergi secepat mungkin dari Seoul. Dia takut jika Sehun mengetahuinya, pria sialan itu akan membujuk Luhan dan melakukan apapun untuk menahan Luhan, karena seperti Sehun-…dirinya juga akan melakukan apapun untuk membawa Luhan pergi.
"Apa kau siap meninggalkan hidupmu disini?"
Luhan sedikit menoleh dan tersenyum menatap Seunghyun "Aku tidak yakin. Tapi aku rasa ini yang terbaik untukku."
"Kau benar. Ini keputusan paling tepat untukmu." Katanya mengusap lembut rambut Luhan dan mencium sayang keningnya.
"Aku akan membelikanmu minum. Tunggu disini sebentar."
Luhan pun tersenyum mengangguk melihat senyum bahagia di wajah Seunghyun, dia sendiri sedang mencoba mengendalikan diri dan meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan yang seharusnya dia lakukan jauh sebelum keadaan dirinya menjadi cacat seperti ini.
Sementara itu…
Di waktu dan di hari yang sama, terlihat seorang wanita muda meraung dan menggeram sepanjang perjalanannya untuk menemui seseorang yang sangat ia benci saat ini. Wanita tersebut adalah Kang Seulgi, sepanjang perjalanannya menuju kantor Sehun dia menangis dan memaki apapun yang menghalangi jalannya. Wanita itu menggenggam kotak kecil yang berada di tangannya dan bersumpah akan membunuh pria yang membuat Luhan-nya begitu menderita dan memutuskan untuk meninggalkan Seoul.
BRAK!
"OH SEHUN!"
"seulgi."
Sekertaris Kang sendiri cukup terkejut mendapati putrinya yang terlihat begitu marah dan terisak sangat hebat.
"Sayang kenapa kau menangis?"
Seulgi tidak mempedulikan ayahnya dan
PLAK!
"Brengsek kau!"
Sehun sendiri secara refleks menggebrak mejanya tak menerima wanita didepannya ini tanpa alasan yang jelas menampar dirinya telak di pipi.
"Sayang apa yang kau lakukan?"
Sekertaris Kang langsung memeluk putrinya, takut jika Sehun membalas perbuatan Seulgi yang telah menampar dirinya tanpa alasan.
"BRENGSEK KAU! KAU MEMBUATNYA PERGI-…KAU MEMBUAT LUHAN PERGI! KAU MEMBUAT LUHAN-….ARGGGHHHHHH!"
Sehun masih menatap putri tunggal Sekertaris Kang dengan amarah yang memuncak sampai dia mendengar nama Luhan yang membuatnya menaikkan kedua alisnya tak mengerti sementara wanita muda itu terus meraung hebat di pelukan ayahnya.
"Apa maksudmu?"
"LUHAN PERGI BERSAMA SEUNGHYUN!. DIA MENINGGALKAN SEOUL DAN DIA MENITIPKAN INI PADA PELAYAN DIRUMAHKU. DAN ITU SEMUA KARENA KAU SIALAN!"
Seulgi melempar kotak kecil yang sedari tadi ia genggam tepat ke wajah Sehun. Sehun pun merasa ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya, dia memungut kotak kecil yang dilemparkan Seulgi, membukanya perlahan dan tak lama kembali terduduk di kursinya karena kedua kakinya melemas saat melihat tulisan dan benda kcil yang berada didalam kotak kecil itu.
Ini milikmu. Aku mengembalikan milikmu Sehunna. Selamat tinggal.
Sehun menggenggam erat liontin yang selalu digunakan Luhan setiap saat. Tangannya bergetar hebat dan nafasnya seperti direnggut sehingga dia tidak bisa memproses apa yang terjadi saat ini, sementara Seulgi terus berteriak bahwa Luhan meninggalkan Seoul hari ini.
Tes!
Air mata ketakutan itu begitu saja lolos dari matanya. Sehun benar-benar tak bisa bernafas saat ini. Seluruh tubuhnya seolah mati rasa sampai akhirnya dia berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. Dia menggenggam liontin itu dan menghapus cepat air matanya
Tidak-…Luhan tidak boleh meninggalkanku. Setidaknya tidak saat ini.
Sehun pun berlari gontai dan menuju bandara secepatnya. Dia terus menggenggam erat liontin Luhan dan berniat untuk mengembalikan liontin kecil itu pada pemiliknya.
Aku mohon Luhan-…aku mohon jangan pergi.
..
..
..
Drrt…drttt..
Luhan hanya bisa tersenyum miris saat mendapati nama Sehun berkali-kali menghubunginya. Dia merasa bersalah harus pergi seperti ini, namun tak mempunyai alasan lagi untuk bertahan lebih lama dan berada di sekitar Sehun, Dia sedikit menghapus cepat air matanya dan memutuskan untuk menolak panggilan Sehun dan mematikan ponselnya.
"Luhan…..Apa kau benar-benar akan pergi dan meninggalkan hidupmu disini?"
Luhan sedikit membeku sangat mengenali suara yang sedang bertanya padanya. Suara yang biasa terdengar dingin dan membencinya kini berubah menjadi suara yang putus asa dan terdengar bergetar. Luhan kemudian mendongak perlahan dan hatinya cukup sakit melihat Yunho berdiri didepannya dengan wajah yang terlihat lelah dan nafas terengah.
"Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkan kami?"
Luhan hanya terdiam tak menjawab apapun pertanyaan Yunho
"Jangan pergi Luhan."
"…"
Brak!
"direktur." Luhan sedikit membelalak saat tiba-tiba Yunho berlutut didepannya dan terlihat sangat memohon meminta agar dirinya untuk tetap tinggal
"Aku mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan Sehun, adikku akan kembali hancur jika kau pergi. Aku tidak bisa melihatnya menderita lagi Luhan. AKU MOHON!" Yunho sedikit berteriak putus asa sementara Luhan hanya memalingkan wajahnya tak tahan melihat Yunho bersikap seperti ini didepannya.
"Aku bersalah pada kalian. Aku kakak yang buruk untuknya, aku pria yang jahat untukmu, aku memisahkan kalian begitu lama. Dan aku menyesalinya Luhan. Aku mohon tetaplah tinggal disini dan hidup bersama adikku."
Luhan mendongakan wajahnya mencegah air mata untuk turun sementara dirinya terus mencengkram erat kedua lututnya.
"Kau tidak bisa begitu saja meninggalkan kami. Putraku harus mengenal siapa malaikat yang menolongnya saat dirinya hampir celaka. Aku mohon ."
"Aku mohon jangan seperti ini direktur." Luhan menggumam putus asa merasa keyakinannya untuk pergi akan kembali berubah jika Yunho terus bersikap seperti ini padanya.
"Maafkan aku Luhan. Maaf."
Yunho tertunduk sambil terisak hebat, "hyung." Luhan bergumam dalam hati ingin mengusap punggung seseorang yang sangat ia hormati hingga hari ini namun sebuah suara kembali menyadarkannya.
"Luhan…."
Luhan melihat Seunghyun yang menatapnya khawatir, takut jika dirinya berubah pemikiran untuk pergi bersamanya.
"Sudah saatnya kita pergi. ayo kita pergi darisini Luhan." Seunghyun mengulurkan tangannya berharap Luhan membalas uluran tangannya.
"jangan…aku mohon." Yunho bergumam pelan melihat Luhan sangat putus asa.
Luhan sendiri merasa sangat membenci dirinya saat ini. dia tidak bisa mengambil keputusan dengan benar jika dihadapkan dengan dua pilihan seperti saat ini. Dia sungguh hancur melihat Yunho yang begitu berkuasa kini memohon padanya untuk tetap tinggal sementara Seunghyun yang menjanjikan hidup baru untuknya juga terlihat putus asa menatap ke arahnya.
Luhan menatap keduanya bergantian dan tak lama memejamkan matanya sambil tertunduk, dia berfikir keras sampai akhirnya dia membuat keputusan yang mungkin akan membuat salah satu dari kedua pria didepannya akan merasa kecewa padanya.
"Maafkan aku direktur. Aku harus pergi."
Luhan menyambut uluran tangan Seunghyun dan memandang menyesal Yunho yang kini terisak semakin hebat didepannya.
"Terimakasih untuk segalanya direktur. Kau dan Sehun-…kalian berdua tetap akan menjadi seseorang yang paling aku ingat didalam hidupku. Aku pergi hyung."
Yunho semakin terisak saat Luhan memanggilnya hyung dengan suara hampir terdengar. Dia ingin sekali mendengar Luhan memanggilnya hyung setiap hari, namun dia tahu itu hanya harapan untuknya karena saat ini Luhan telah berjalan pergi meninggalkan dirinya dan Sehun dengan rasa bersalah yang akan mereka rasakan seumur hidup mereka.
Tak beberapa lama setelah kepergian Luhan, Yunho memutuskan untuk segera pergi dari bandara, berfikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya dan tidak tahu harus mengatakan apa pada adik dan istrinya. Dia terlihat begitu kacau dan berjalan gontai sampai sosok yang paling ia sayangi berdiri didepannya dengan terengah.
"hyung? Mana Luhan? apa kau melihatnya?"
Suara adiknya begitu memilukan, dia bertanya hampir menangis namun matanya terus mencari ke sekelilingnya berharap bisa melihat sosok pria yang sangat dicintai adiknya.
"LUHAN!"
Sehun berteriak menoleh ke arah manapun berharap Luhan membalas teriakannya.
"Hyung bantu aku mencari Luhan-…Seulgi bilang dia pergi hari ini. Kita harus menca-…"
Sehun menautkan kedua alisnya saat melihat kakak kandungnya menggelengkan lemah kepalanya seolah memintanya untuk berhenti mencari Luhan.
"tidak mungkin." Ujarnya tak percaya dan kembali berlari mencari Luhan namun Yunho menahannya
"Luhan sudah pergi Sehunna."
"TIDAK! DIA BELUM PERGI. …..DIA MASIH BERADA DISINI! LUHAAAAAAANNN!"
Sehun meronta di pelukan Yunho dan berteriak sangat kencang membuat siapa saja yang melewatinya melihat ke arahnya dan Yunho.
"Maafkan aku Sehunna. Maafkan aku." Yunho mengeratkan pelukannya pada adiknya, meminta maaf karena tak bisa membuat Luhan untuk tetap tinggal.
"KAU BOHONG HYUNG! LUHAAAANNN!"
Sehun terus meronta dan terduduk lemas saat Yunho terus menahannya. Dia merasa sesuatu kembali direnggut darinya. Dia pikir dia siap jika suatu saat Luhan benar-benar meninggalkannya. Tapi dia salah besar. Dia sama sekali tidak siap dan dia tidak tahu rasanya ditinggalkan Luhan akan sesakit ini seperti sebelumnya.
"KAU MEMBIARKAN LUHAN PERGI LAGI HYUNG. KAU MEMBIARKAN AKU KEHILANGAN LUHAN LAGI HYUNG. KENAPA KAU TIDAK MENAHANNYA…..ARGGGHHHHH"
Sehun meraung menyalahkan Yunho yang semakin memeluk erat adiknya, sementara Yunho hanya bisa tersenyum lirih memuji kemampuannya untuk membuat adiknya begitu menderita. "Maafkan aku Sehunna. Maaf" Yunho menciumi pucuk kepala Sehun berharap adiknya bisa lebih tenang namun itu seperti hanya harapan untuknya karena
"LUHAAAAAANNNNN!"
Karena dia tahu benar dia kembali membiarkan adik kecilnya merasa hancur untuk kedua kalinya.
tobecontinued...
*take a deep breath...suka atau tidak tapi 1-1 untuk para maincastnya #taudongmaksudgue :""
.
okaayyy chapter ini emosi jiwa gue nulisnya... tapi udalah di tbc in aja daripada makin emosi -_-
.
kabar buruknya gw minggu ini cuma bisa update restart...kabar bagusnya setelah tdf mungkin restart lagi yang update. ;p
.
yowislah...ampuni gue..selamat membaca dan review...and seeyou nextweek. :)
