Kak Restart kapan end?

chapter 15

Kak Choi Seughyun disini TOP BIGBANG ya?

Yap!

Kak happy ending kan?

Maunya nangis2 apa senyum2?

Kak...kak...kak...

*pundung dipojokan

Back to story yaaaaaaaaaaaa...:)

..

..

..

Previous...

Tak beberapa lama setelah kepergian Luhan, Yunho memutuskan untuk segera pergi dari bandara, berfikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya dan tidak tahu harus mengatakan apa pada adik dan istrinya. Dia terlihat begitu kacau dan berjalan gontai sampai sosok yang paling ia sayangi berdiri didepannya dengan terengah.

"hyung? Mana Luhan? apa kau melihatnya?"

Suara adiknya begitu memilukan, dia bertanya hampir menangis namun matanya terus mencari ke sekelilingnya berharap bisa melihat sosok pria yang sangat dicintai adiknya.

"LUHAN!"

Sehun berteriak menoleh ke arah manapun berharap Luhan membalas teriakannya.

"Hyung bantu aku mencari Luhan-…Seulgi bilang dia pergi hari ini. Kita harus menca-…"

Sehun menautkan kedua alisnya saat melihat kakak kandungnya menggelengkan lemah kepalanya seolah memintanya untuk berhenti mencari Luhan.

"tidak mungkin." Ujarnya tak percaya dan kembali berlari mencari Luhan namun Yunho menahannya

"Luhan sudah pergi Sehunna."

"TIDAK! DIA BELUM PERGI. …..DIA MASIH BERADA DISINI! LUHAAAAAAANNN!"

Sehun meronta di pelukan Yunho dan berteriak sangat kencang membuat siapa saja yang melewatinya melihat ke arahnya dan Yunho.

"Maafkan aku Sehunna. Maafkan aku." Yunho mengeratkan pelukannya pada adiknya, meminta maaf karena tak bisa membuat Luhan untuk tetap tinggal.

"KAU BOHONG HYUNG! LUHAAAANNN!"

Sehun terus meronta dan terduduk lemas saat Yunho terus menahannya. Dia merasa sesuatu kembali direnggut darinya. Dia pikir dia siap jika suatu saat Luhan benar-benar meninggalkannya. Tapi dia salah besar. Dia sama sekali tidak siap dan dia tidak tahu rasanya ditinggalkan Luhan akan sesakit ini seperti sebelumnya.

"KAU MEMBIARKAN LUHAN PERGI LAGI HYUNG. KAU MEMBIARKAN AKU KEHILANGAN LUHAN LAGI HYUNG. KENAPA KAU TIDAK MENAHANNYA…..ARGGGHHHHH"

Sehun meraung menyalahkan Yunho yang semakin memeluk erat adiknya, sementara Yunho hanya bisa tersenyum lirih memuji kemampuannya untuk membuat adiknya begitu menderita. "Maafkan aku Sehunna. Maaf" Yunho menciumi pucuk kepala Sehun berharap adiknya bisa lebih tenang namun itu seperti hanya harapan untuknya karena

"LUHAAAAAANNNNN!"

Karena dia tahu benar dia kembali membiarkan adik kecilnya merasa hancur untuk kedua kalinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Life is the only game which has no pause, no resume and norestart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam ini. Dan itu artinya hanya tersisa beberapa jam lagi sebelum hari kembali berganti dan cerita baru kembali dimulai. Mungkin untuk sebagian orang berkumpul bersama keluarga atau sekedar duduk di kedai kopi bersama teman merupakan pilihan yang paling tepat untuk menghabiskan waktu. Namun tentu saja tidak semua orang melakukannya.

Ya...tidak semuanya. Termasuk Salah satunya adalah seorang pemuda bertubuh tinggi tegak dengan wajah dingin yang hampir tidak pernah tersenyum yang lebih memilih menghabiskan waktunya mencari keberadaan seseorang yang sudah hampir tiga bulan ini tak ia dapatkan.

Merasa sama seperti hari-hari sebelumnya, tak mendapatkan kabar bagus tentang keberadaan pria yang sedari kecil hidupnya selalu menemaninya membuatnya tak mempunyai pilihan lain dan memutuskan untuk mengakhiri hari ini dengan kegagalan yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Pemuda itu pun memutuskan untuk mengakhiri percakapannya dengan detektif yang ia sewa dan berniat untuk kembali pulang ke apartemennya untuk sekedar memejamkan mata berharap bisa segera bertemu dengan pria yang wajah terlukanya selalu terbayang di setiap dirinya mencoba untuk merelakan.

Pria bernama Oh Sehun itu pun menghentikan mobilnya tepat didepan apartemen miliknya dan sedikit mengernyit mendapati seseorang sedang menunggunya dan kini sudah terlihat kedinginan dengan bocah tiga tahun dipelukannya.

"hyung..."

"Sehun...Kau sudah pulang?"

Sehun mengabaikan pertanyaan tak penting kakak iparnya dan segera mengambil keponakannya yang sepertinya tertidur dan saat ini sedang kedinginan "Kenapa kau tidak masuk?" katanya bertanya menggendong Haowen dan sedikit menghangatkan keponakannya yang memang sudah menggigil kedinginan.

"Aku menunggumu. Lagipula aku tidak tahu kau tinggal di lantai berapa."

Sehun menatap lama kakak iparnya dan tak lama menghela dalam nafasnya "Aku akan memberitahumu. Ayo kita masuk. Kau juga kedinginan." Sehun pun menggenggam Jaejoong dan menuntun kakak iparnya untuk segera masuk ke dalam apartemennya agar merasa lebih hangat.

"Aku akan mengantar kalian pulang sebentar lagi. Biarkan Haowen tidur sebentar sementara minumlah ini. Kau akan merasa lebih baik."

Sehun memberikan Jaejoong secangkir cokelat panas dan pria bermata bulat didepannya itu menerimanya dan kemudian menyesapnya dengan cepat. "Sehun..."

"hmmh.."

Sehun yang sedang fokus pada laptopnya pun sedikit melirik Jaejoong dan tersenyum sebelum kembali fokus pada laptop didepannya.

"Pulanglah."

"Pulang kemana hyung? Aku sudah pulang saat ini."

"Kau tahu maksud kedatanganku kesini kan? Aku tidak tahan melihat keluargaku terpisah."

"Keluargamu tidak terpisah hyung."

"Tapi kau pergi Sehunna."

Jemari Sehun berhenti mengetik saat menyadari perubahan suara Jaejoong yang kini bergetar dan tertunduk dengan suara yang kentara sekali memohon. Pria yang lebih muda itu pun menghela dalam nafasnya dan menutup perlahan laptop yang sedang ia gunakan lalu kemudian berpindah duduk ke samping pria cantik yang merupakan istri kakak kandungnya tersebut. "Kenapa nona cantik ini menangis hmm." Sehun sedikit menangkup wajah Jaejoong dan mengusap air mata kakak iparnya lalu kemudian meletakkan kepala Jaejoong bersandar di bahunya.

"Aku akan pulang hyung." Gumamnya mengecup lembut pucuk kepala Jaejoong.

"Kapan?"

"Entahlah hyung." Gumam Sehun menatap kosong kedepan dengan tangan yang terus mengelus sayang punggung kakak iparnya.

Jaejoong yang mendengar jawaban adik dari suaminya itu pun refleks melepas pelukan Sehun dan menatap adik iparnya penuh harap "Pulanglah Sehun. Aku mohon jangan membenci kakakmu."

Sehun menatap lama wajah Jaejoong sebelum akhirnya dia tertawa lirih mendengar pernyataan Jaejoong "Aku tidak membenci Yunho."

"Tapi kau menghindarinya sejak hari dimana Luhan pergi. Kau terlalu marah dan membenci suamiku Sehunna."

"Aku mohon percayalah hyung, aku tidak membenci Yunho hyung. Aku hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Aku tidak bisa berada di sekitarnya untuk sementara waktu, karena setiap melihat wajah Yunho aku teringat Luhan. Dia membiarkan aku kehilangan Luhan untuk yang kedua kalinya. Aku-..."

Sehun tak bisa melanjutkan ucapannya, dia hanya menatap kosong dengan kepala tertunduk sementara rasa mual sudah kembali ia rasakan. Sungguh jika ada yang bertanya kenapa dia meninggalkan rumahnya dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya terlalu kecewa pada hyungnya. Sehun kemudian mengusap kasar wajahnya dan tak lama kembali menatap kakak iparnya "Aku tidak mau membahasnya lagi hyung. Aku akan membangunkan Haowen dan mengantar kalian pulang. Kau bersiaplah."

Jaejoong hanya bisa tertunduk merasa terlalu jauh mengganggu Sehun, dia hanya bisa memperhatikan punggung adiknya yang semakin menjauh dan bertanya-tanya kapan keluarganya akan kembali berkumpul seperti dulu dan tak terpisah lagi seperti saat ini. Jaejoong kemudian menghapus cepat air matanya dan menyadari satu-satunya yang bisa membuat kedua kakak beradik itu kembali bersama adalah Luhan.

Karena semenjak kepergian Luhan beberapa bulan yang lalu, Sehun memutuskan untuk angkat kaki tidak hanya dari rumahnya melainkan dari perusahaan miliknya. Sementara Yunho?-...suaminya hanya bisa menikmati perasaan bersalah yang sengaja ia biarkan menghimpit dan membuat sesak nafasnya setiap hari agar tidak pernah lupa bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas penderitaan yang dirasakan baik untuk adik kandungnya maupun Luhan.

..

..

..

"Masuklah sebentar Sehun. Kakakmu ada didalam sana."

Jaejoong masih mencoba membujuk Sehun saat adik iparnya mengantar dirnya dan Haowen pulang kerumah. Dia menyadari perubahan raut wajah Sehun yang menatap rindu kerumahnya sendiri, namun lagi-lagi Jaejoong harus mendesah frustasi menyadari Sehun dan Yunho-...kedua kakak beradik itu memiliki sifat yang sama kerasnya.

"Lain kali saja hyung. Cepat bawa Haowen masuk, dia sudah kedinginan."

Sehun tersenyum sekilas dan tak lama membukakan pintu untuk Jaejoong yang sedang memangku putranya "Aku pamit hyung. Sampai nanti."

Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Sehun kemudian kembali memasuki mobilnya dan bergegas pergi dari tempat tinggalnya sendiri.

"Sayang kau darimana saja?"

Jaejoong sedikit menoleh dan tersenyum mendapati suaminya yang berjalan mendekat menghampirinya "Aku pergi menemui Sehun."

Yunho yang sedang membawa Haowen ke pelukannya sedikit terdiam dan tak lama merangkul pinggang istrinya menolak untuk menatap Jaejoong saat ini "Benarkah? Apa adikku sehat?"

"hmm adikmu sehat."

"Syukurlah. Aku senang dia baik-baik saja." Balas Yunho menggenggam tangan istrinya dan segera membawanya untuk masuk kedalam rumah.

"Aku ingin kau membawa Sehun pulang. Aku mohon."

Yunho tak menjawab apapun hanya terus menggendong putranya dan menggenggam erat jemari istrinya, hatinya terlalu sakit menyadari kalau dirinya bahkan tidak bisa menjaga adik kecilnya dengan baik. Alih-alih menjaga dia bahkan menjadi penyebab utama kepergian Sehun dari rumah mereka sendiri.

"Yunho."

Yunho sedikit menoleh menatap istrinya kemudian sekilas tersenyum membawa Jaejoong ke pelukannya "Aku akan membawa adikku pulang. Aku janji." Gumamnya mencium kening Jaejoong dan berharap segera bisa menemukan Luhan dan kembali membawa Luhan ke tengah-tengah keluarganya lagi.

..

..

..

Hari ini adalah hari Minggu yang dengan alasan tertentu menjadi hari yang di benci oleh Sehun. Karena selain tidak memiliki kegiatan apapun, Sehun kerap kali diberikan kabar yang sama oleh penjaganya yang mengatakan mereka belum bisa menemukan keberadaan Luhan. Hal itu tak jarang menyulut emosi Sehun dengan cepat, membuatnya kerap kali memukuli siapapun yang selalu memberikannya kabar buruk.

Seperti pagi ini misalnya, beberapa penjaga Sehun datang ke apartemennya dengan kabar yang sama seperti sebelumnya. Mereka tidak menemukan Luhan dan kesabaran seorang Oh Sehun telah sampai pada batasnya. Kamar apartemen Sehun penuh dengan barang-barang yang dibanting dan dirusak dengan sengaja, terlihat pria itu terengah dengan tangan mengepal dan mata yang menatap penuh kemarahan pada sekumpulan orang bodoh yang selalu bekerja sangat lambat untuknya.

"Kami akan menemukannya tuan muda. Beri kami sedikit tambahan waktu, kami selalu menemukan siapapun yang kau inginkan pada akhirnya." Terlihat satu pria yang sudah berlumuran darah memohon pada Sehun yang masih mengepalkan erat tangannya.

"AKU TIDAK BISA BERSABAR LEBIH LAMA LAGI SIALAN"

Ting tong….!

Ting Tong..!

Kemarahan Sehun sempat teralihkan dengan suara bel apartemennya yang berbunyi, dia awalnya ingin mengabaikan seseorang yang mengganggu kesenangannya sampai akhirnya dia menggeram marah dan melempar asal tongkat pemukul yang sedari tadi berada di tangannya

Ting tong…!

Ting-…!

Sehun sedikit bergegas membuka pintunya dan

cklek…!

"Apa yang kau lakukan kenapa lama sekali membuka pintu?"

Sehun menautkan kedua alisnya dan bertanya-tanya mengapa Kai saat ini sedang berdiri didepan pintu apartemennya dengan wajah yang sepertinya menahan kesal "Tahu darimana aku tinggal disini?"

Pria yang diberi pertanyaan itu pun sedikit terkekeh dan menatap pria didepannya dengan meremehkan "Aku seribu kali lebih baik darimu jika menyangkut keberadaan seseorang."

"Apa maksudmu?"

"Apa aku harus mengatakannya didepan pintu seperti ini? Biarkan aku masuk."

Kai menyeruak masuk kedalam apartemen Sehun dan cukup terkejut mendapati tiga orang pria dalam keadaan babak belur dengan darah di sekujur tubuh mereka.

"Apa yang kau lakukan pada mereka Oh Sehun?" Kai mendesis bertanya pada Sehun yang hanya melewatinya dan mengambil minuman keras dari kulkasnya.

"Aku akan membunuh mereka kalau kau tak datang mengganggu."

"Bajingan sialan." Geramnya dan menghampiri ketiga pria yang sepertinya sudah tersengal kesulitan bernafas.

"Cepat pergi darisini dan obati luka kalian. Aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi." Gumam Kai memberikan beberapa lembar uang pada ketiga pria yang menjadi korban kemarahan Sehun. Ketiga orang suruhan Sehun itu pun lantas bergegas keluar dan sedikit berterimakasih karena Kai datang tepat waktu dan menyelamatkan hidup mereka.

"Kau sangat menyedihkan."

Sehun terkekeh mendengar penuturan adik dari kakak iparnya tersebut dan berjalan mendekati Kai yang sudah duduk di sofa berusaha tak mempedulikan apapun yang akan ia dengar setelah ini.

"Terserahmu mau berkata apa. Aku tidak peduli. Aku frustasi asal kau tahu." Gumam Sehun memberikan Kai sekaleng bir yang langsung dijauhkan Kai begitu saja.

"Aku tidak minum."

"hmm baiklah." Gumam Sehun yang langsung mengambil kaleng bir milik Kai, membukanya sekilas dan meneguk sampai setengah kaleng bir tersebut.

"haah~Minuman ini sangat nikmat asal kau tahu."

"Kau benar-benar berantakan Sehun."

"Sudahlah. Sudah banyak yang mengatakan itu, aku bosan mendengarnya."

Kai sedikit menatap lama pria yang berada didepannya, dan mempelajari raut wajah Sehun yang terlihat sangat menderita bahkan terdengar jelas di suaranya yang bergetar mengakui kalau dirinya memang sangat hancur.

"ah-…Aku dengar Kyungsoo sedang mengandung anakmu. Selamat untukmu Kai. Kau akan menjadi seorang ayah. Kau pasti sangat bahagia."

"Aku bahagia. Tapi jika kau katakan aku sangat bahagia kau salah. Aku juga sama sepertimu. Memikirkan kepergian pria yang menolong keponakanku malam itu. Aku juga mencarinya sepertimu tapi bedanya aku menemukan dimana Luhan berada."

Sehun yang sedang meminum kaleng birnya otomatis menoleh melihat ke arah Kai dan berharap dirinya tidak salah mendengar apa yang dikatakan Kai padanya "Kau bilang apa?"

Kai mengeluarkan selembar kertas dan mengambil cepat kaleng bir yang berada di tangan Sehun "Aku bilang aku menemukan Luhan. Aku menemukan pria yang menolong keponakanku dari kebakaran malam itu."

Nafas Sehun terasa tercekat mendengar kabar baik dari adik kakak iparnya tersebut, jantungnya berdebar dan seketika suhu tubuhny menjadi dingin berharap kalau dirinya tidak bermimpi saat ini. "Ba-bagaimana bisa kau menemukannya?"

"Choi Seunghyun?"

"Apa maksudmu?"

"Kau melakukan kesalahan selama ini. Kau tidak bisa menemukan Luhan dimanapun dia berada jika kau tetap mencarinya. Kau harusnya mencari Seunghyun. Pria itu cukup berpengaruh di Jepang. Dan jika kita menemukan dimana Seunghyun itu artinya Luhan tak berada jauh darinya kan?"

"Jadi kau mencari Seunghyun?"

"Ya."

"Dan kau mendapatkan keberadaanya?"

"Ya."

Sehun terlihat tertawa bodoh dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Kai yang juga menatapnya saat ini. "Aku selalu melakukan kesalahan."

"Kau tidak sepenuhnya salah Sehunna. Kau memang mencari Luhan jadi wajar jika kau fokus padanya. Tapi tidakkah kau berpikir jika kau melakukan segala cara untuk menemukan Luhan makan Seunghyun juga akan melakukan segala cara untuk menjauhkan Luhan darimu?"

Sehun memejamkan matanya erat dan merasa begitu tersiksa dari ucapan Kai yang sepenuhnya benar. Seunghyun benar-benar menyembunyikan Luhan dari jangkauannya. Dia tidak membiarkan apapun mengenai Luhan untuk mudah ia temukan, membuatnya harus terus menerus mencari tanpa tahu kapan akan bisa kembali bertemu dengan Luhan.

Sehun mengusap kasar wajahya dan menatap Kai dengan frustasi "Beritahu aku dimana Luhan."

..

..

..

"Luhan….."

Yang dipanggil namanya pun menoleh dan sedikit tersenyum saat seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan tergesa "Ada apa nyonya cantik?" katanya menggoda sekertaris yang mungkin berusia sama dengan paman Kang jika dia masih berada di Seoul saat ini.

"Ada yang mencarimu."

Luhan melihat sekilas arlojinya dan mengernyit bingung "Apa masih ada klient yang harus aku tangani?"

Wanita didepannya itu menggeleng cepat dan tersenyum menatap Luhan "Apa kau terburu-buru? Aku bisa memberitahunya untuk datang lain kali."

"Sepertinya iya. Seunghyun sudah menungguku."

"Baiklah. Aku akan memberitahunya kalau kau sudah pulang."

Luhan mengangguk bersemangat dan mencium sekilas wanita yang sangat membantunya dalam banyak hal selama ia menjabat sebagai penasihat di perusahaaan Seunghun sebulan belakangan ini "Gomawo cantik." Katanya tersenyum senang dan tak lama meninggalkan sekertaris kepercayaan Seunghyun di tempatnya bekerja.

"Luhan.."

Luhan pun berhenti dan kembali menoleh "Ada apa bi?"

"Jangan lupa untuk membeli obatmu. Kau sudah terlihat lebih baik saat ini."

Luhan tersenyum dan tak lama mengangkat kedua ibu jarinya "Siap. Aku pergi dulu." Dia pun kembali berjalan meninggalkan ruangannya untuk segera bertemu dengan Seunghyun.

Tiga bulan berada di tempat asing untuknya membuat Luhan sedikit sulit beradaptasi. Seperti bulan pertama dirinya berada di Tokyo contohnya, dia merindukan Seoul dengan cepat bahkan sebelum hari pertama berganti, membuat dirinya harus berkali-kali meminum obat tidur agar beristirahat sampai akhirnya Seunghyun mengetahuinya dan dengan sabar membuat Luhan menjadi terbiasa dengan lingkungan di sekitarnya.

Luhan sangat bersyukur karena Seunghyun tak pernah meninggalkan dirinya sendiri, pria itu selalu dengan sabar menemaninya, bahkan memberikan pekerjaan untuknya. Dan semua itu lantas tak membuat Luhan menjadi seseorang yang dianggap memanfaatkan Seunghyun. Dirinya bisa berada di tempatnya saat ini karena usahanya sendiri, dia mengikuti serangkaian tes dan wawancara lalu berakhir menjadi penasihat perusahaan di tempat Seunghyun karena kualifikasinya yang memenuhi syarat.

Tak hanya sampai disitu, Luhan bisa kembali berjalan normal dan tak terlalu terlihat kesulitan berjalan itu semua tak lepas dari bantuan Seunghyun yang mengenalkannya pada dokter spesialis luar biasa yang tak hanya membantunya menjalankan serangkaian terapi namun juga selalu mendengarkan keluhannya membuat Luhan kembali dapat mengekspresikan dirinya. Sungguh-…semua hal baik tentang dirinya beberapa bulan ini berasal dari Seunghyun dan seluruh kebaikan pria itu pada dirinya.

Dan Seunghyun-…dia tidak pernah meminta apapun dari Luhan, dia melakukan semuanya untuk Luhan dengan tulus. Seunghyun hanya meminta hal-hal kecil dari Luhan seperti makan bersama atau sekedar menonton film. Seperti siang ini misalnya, dia memiliki janji untuk makan siang bersama Seunghyun lalu kemudian menghabiskan waktu berdua bersama.

Semuanya sudah berjalan dengan semestinya dan tak ada yang membuatnya ragu kecuali satu keadaan saat dimana dirinya sangat merindukan Sehun. Dan jika hal itu sedang terjadi, maka Luhan memilih untuk menjauh dari Seunghyun tak ingin membuat pria yang selalu menatapnya lembut itu menjadi kecewa mengetahui dirinya belum bisa sepenuhnya melupakan pria yang pernah mengisi hatinya tersebut.

Dan hal itu terjadi pada siang ini, entah kenapa pikirannya tiba-tiba tertuju pada Sehun. bertanya-tanya apa Sehun hidup dengan baik atau bahkan sudah menikah atau-….entahlah. dia sendiri tidak mengerti dan hanya tersenyum meyakinkan dirinya sendiri kalau saat ini Sehun pasti sudah berbahagia dengan pilihannya. Dan sungguh-…tak ada yang lebih ia inginkan daripada kebahagiaan pria yang pernah sangat ia cintai itu.

"Bagus Luhan. Kau selalu terlambat."

Luhan masih berjalan agak terburu-terburu sesekali mengecek arlojinya menyadari kalau dia sudah terlambat datang ke tempat dirinya dan Seunghyun membuat janji untuk makan siang bersama.

"Luhan…"

Luhan sedikit menoleh dan mendapati sepupu Seunghyun memanggilnya "Kau datang?" katanya bertanya pada Seungri yang tersenyum lebar menatapnya.

"Aku ada urusan disini. Kau mau kemana?"

"Aku ada janji makan siang dengan Seunghyun. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Kita bertemu nanti malam."

Pria yang memiliki wajah selalu tertawa itu pun mengangguk cepat dan tersenyum menatap Luhan "Baiklah baiklah. Aku tidak akan mengganggu kencanmu dengan Seunghyun."

"Berhenti menggodaku."

"Aku tidak melakukannya. Dah Luhan. Jangan berciuman di tempat umum ya."

"yak LEE SEUNGRI!"

Luhan berteriak dan tak lama tertawa konyol karena selalu termakan godaan Seungri yang memang selalu menggodanya sejak pertama kali Seunghyun .

"Astagaaa aku benar-benar terlambat." Gumamnya dan tak lama kembali melangkah pergi berharap segera mendapatkan taksi

"Luhan…"

Langkah Luhan kembali terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar dan terlalu ia kenal. Tubuhnya merespon suara yang diam-diam selalu ia rindukan di setiap malamnya membuat Luhan membeku di tempatnya lalu tak lama menggelengkan kepalanya cepat sedikit tersenyum lirih menyadari kebodohannya.

"itu tidak mungkin dirinya."

Dia pun memutuskan untuk kembali berjalan, namun kali ini menjadi lebih lambat karena jantungnya masih berdegup kencang tak mempercayai pendengarannya sendiri

"Luhan…"

"Jangan menoleh. Itu tidak mungkin dirinya."

Kali ini dia mempercepat langkahnya berharap suara itu menghilang dengan cepat, namun semakin cepat dia melangkah maka suara itu pun akan semakin terdengar untuknya.

"Luhan."

"itu tidak mungkin dirinya. Tidak mungkin Sehun ada disi-…."

Grep!

"Kenapa kau terus menghindariku? Kenapa kau selalu berlari menjauh dariku."

"Sehun….?"

Kali ini Luhan benar-benar merasa jantungnya berhenti berdetak menyadari benar siapa pria yang saat ini sedang memeluknya erat dan terus memanggil namanya berulang, aroma yang tak pernah berganti, dekapan yang selalu membuatnya terjatuh semakin dalam, suara berat yang selalu menjadi kesukaannya kini secara nyata benar berada didepannya dan kembali ia rasakan.

"Syukurlah aku menemukanmu. Aku menemukanmu Luhan."

Pria yang sedang memeluknya erat ini terdengar bergetar mengucapkan seluruh kalimatnya membuat Luhan menyadari satu hal secara pasti

"Ini benar-benar Sehun."

..

..

..

"Kau terlihat baik."

Keduanya saat ini berada di kafe yang berada tak jauh dari tempat Luhan bekerja. Dan tak ada yang bersuara selama beberapa menit sampai akhirnya Sehun memutuskan untuk bertanya terlebih dulu membuat Luhan sedikit merespon.

"Ya seperti yang kau lihat."

"Kakimu-..."

"ah...Aku memasang pen di kakiku. "

"Apa kau akan kembali berjalan normal setelah pen itu dilepas?"

Luhan menaikkan kedua bahunya dan menatap Sehun sekilas "Tergantung."

"Tergantung bagaimana maksudmu?"

"Jika saat pen ini dilepas aku tidak merasa kesakitan itu artinya aku sembuh total. Tapi jika pen ini dilepas dan aku masih tidak merasakan kakiku. Itu artinya tidak ada harapan untukku kembali berjalan normal."

Suasana pun kembali menjadi canggung saat Luhan menjawab pertanyaan Sehun, keduanya kembali tak bersuara dengan posisi dimana yang satu menatap tak berkedip pria didepannya sementara yang satu terus memalingkan wajahnya agar tidak terjadi kontak mata dengan pria yang pernah menjadi satu-satunya pria yang dirinya cintai.

"Sehun/Luhan."

Keduanya bersamaan memanggil nama masing-masing, membuat suasana kembali canggung karena secara bersamaan pula keduanya kembali terdiam.

"Kau ingin bicara apa?" Sehun bertanya membuat Luhan memutuskan untuk menyudahi kecanggungan di antara mereka.

"Kenapa kau bisa ada disini? Apa kau sedang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan?"

Sehun menggeleng cepat membuat Luhan sedikit mengernyit "Lalu untuk apa?" katanya kembali bertanya.

"Aku mencarimu."

"Apa kau bilang?"

"Aku mencarimu Luhan."

Luhan kembali memalingkan wajahnya dan tak lama tertawa lirih menatap pria yang berada didepannya saat ini "Mencariku untuk apa? Apa kau masih begitu marah dan membenciku Sehunna?"

Sehun menggeleng cepat dan berusaha menggenggam kedua tangan Luhan namun Luhan menolaknya dengan cepat "Aku mohon jangan seperti ini. Aku mencarimu karena banyak yang ingin aku katakan padamu Luhan. Tapi sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu."

Sehun sendiri menyadari telah kembali menyinggung Luhan, terdengar dari dari Luhan yang menghela kasar nafasnya dan terlihat begitu resah dengan mata yang berkaca-kaca saat ini "Meminta maaf untuk apa? Karena membuatku cacat? Harus berapa kali aku bilang ini bukan salahmu atau Yunho. Lupakan kebakaran itu dan hiduplah dengan caramu sendiri Sehun. Kau membunuhku perlahan jika terus seperti ini!" Luhan menghapus cepat air matanya dan menatap penuh kekecewaan pada Sehun.

"Maaf."

"BERHENTI MEMINTA MAAF."

Teriakan Luhan saat ini seperti flashback yang begitu jelas terekam di ingatan Sehun. Luhan pernah berteriak padanya untuk berhenti meminta maaf, namun Sehun terus menerus melakukannya karena sangat mengetahui Luhan sama sekali belum memaafkannya.

Sama seperti Sehun, Luhan juga sangat mengingat pernah berteriak seperti ini sebelumnya, membuatnya sedikit menyesal dan tak berniat menyakiti pria didepannya saat ini

"Sehun sudahlah. Kita tidak boleh terus seperti ini. Aku mohon."

"Ya aku tahu. Aku hanya ingin berbicara denganmu."

"Kalau tak ada yang ingin dibicarakan lagi aku permisi. Aku harus bertemu dengan seseorang."

"Dengan Seunghyun maksudmu?"

Luhan menautkan kedua alisnya menyadari nada tak suka yang diberikan Sehun saat menyebut nama Seunghyun "Ya dengan Seunghyun tentu saja."

"Jangan pergi."

"Sehun kau-.."

"Aku mohon tetap disini bersamaku. Jangan pergi."

"Aku rasa percuma bicara denganmu. Aku pergi dulu."

"Aku ingin mengembalikan ini padamu."

Luhan yang sudah bersiap pergi terpaksa kembali duduk didepan Sehun saat pria didepannya itu mengeluarkan benda yang sangat tak asing untuknya. "Ambillah ini milikmu."

Luhan menggenggam erat liontin yang pernah menjadi miliknya sesaat lalu tak lama mengembalikannya ke genggaman Sehun "Mengingat kita tak lagi bersama, liontin ini milikmu Sehunna. Aku harusnya mengembalikan liontin ini lebih awal padamu. Maaf membuatnya menjadi sulit untuk kita berdua." Gumamnya memberitahu Sehun yang kembali menunjukkan wajah kecewanya.

"Seperti katamu." Luhan menggenggam jemari Sehun dan menatap wajah tampan yang terlihat pucat didepannya dengan senyum yang sama terlukanya "Dari awal hubungan kita hanyalah kesalahan. Kau dan aku-….kita berdua tidak ditakdirkan untuk bersama dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk itu." Katanya bergetar menatap Sehun yang hanya memandangnya tak berkedip.

"Aku bersyukur mengenalmu dan Yunho dalam hidupku. Aku bersyukur pernah menjadi seseorang yang sangat kau cintai. Aku bersyukur karena pernah memiliki kekasih sebaik dirimu. Tapi itu semua hanya masa lalu, mari berhenti saling menyakiti dan hidup bahagia dengan pilihan kita masing-masing hmm."

"Aku mencintaimu."

Luhan memejamkan erat matanya saat kata cinta tiba-tiba terlontar dari pria yang selalu mengatakan benci padanya beberapa waktu yang lalu. Dia sama sekali tidak merasa bahagia sebaliknya dia merasa sesak dan terlalu marah pada Sehun saat ini.

"Sehun kau lihat apa ini?" Luhan mengangkat telapak tangan kirinya dan menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.

Sehun mengernyit merasa mual secara tiba-tiba saat menebak apa yang akan Luhan katakan selanjutnya "Ada sebuah cincin yang melingkar di jariku. Dan kau tahu siapa yang memberikannya?"

Sehun tak menjawab sama sekali, wajahnya sudah memucat dan diam-diam tangannya mengepal erat dibawah sana "Seunghyun yang memberikannya. Apa kau tahu kenapa dia memberikan cincin ini?" suara Luhan semakin meninggi menadakan dirinya sudah mulai tak tahan dengan situasi ini, dia tidak tahan menyakiti Sehun begitu banyak seperti saat ini.

"Seunghyun melamarku Sehunna. Dan aku menerimanya. Kami berdua-…Kami berdua akan menikah minggu depan. Jadi berhenti membuatku menyakitimu seperti ini. aku mohon." Luhan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak kencang disana, dia menyesal menyakiti Sehun dengan kabar pernikahannya dengan Seunghyun.

Sehun sendiri hanya kembali memejamkan erat matanya, Luhan mengatakannya terlalu jelas membuat sesuatu dari bagian tubuh Sehun merespon dengan cepat dan mengeluarkan rasa sakit yang begitu menghimpit di hatinya saat Luhan mengatakan kabar pernikahannya.

Sehun membuka matanya perlahan dan merasa bersalah saat melihat Luhan yang sedang terisak pilu didepannya dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya, dia kemudian menggenggam tangan Luhan dan memaksa Luhan untuk menatapnya.

"Kau tidak akan menikah dengan Seunghyun."

"Sehun." Luhan terisak frustasi mendengar ucapan Sehun yang begitu terdengar terluka.

"Kita berdua akan memulai semuanya dari awal. Aku akan melakukan apapun untuk memperbaiki kesalahanku padamu, aku akan melakukan apapun agar kau kembali padaku Luhan. Beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku mohon."

Ya tentu….aku akan memberikan bukan hanya satu tapi banyak kesempatan padamu Sehunna. Tapi kenapa?-….kenapa semua ini begitu terlambat dan mempermainkan kita berdua. Aku tidak tahan menyakitimu seperti ini Sehunna. Maafkan aku.

"Aku mohon beri aku kesempatan Luhan."

Luhan semakin terisak tertunduk saat mendengar semua ucapan Sehun, batinnya memberontak dia ingin mengatakan ya tentu saja aku akan kembali padamu. Tapi kemudian bayang wajah Seunghyun saat melamarnya terekam disaat bersamaan dengan Sehun yang meminta untuk memulai semuanya dari awal.

"Aku tidak bisa Sehun. Maaf." Lirihnya tak berani menatap wajah Sehun yang terlihat sangat menderita dengan tangan yang menggenggamnya erat saat ini.

"Aku akan membawamu pergi. kita akan memulainya dari awal, tak ada yang akan mengusik kita termasuk Seunghyun atau Yunho sekalipun. Kau mau kan?"

Luhan tertawa pahit menyadari Sehun terlalu bermain-main dengan ucapannya. Dia kemudian melepas paksa genggaman Sehun dan menghapus cepat air matanya dan menatap Sehun dengan lembut "Maaf aku harus mengatakan hal ini, tapi lusa aku kembali ke Seoul. Pernikahan kami digelar di rumah Seunghyun minggu depan. Jika kau merasa sakit melihatnya, menetaplah di Tokyo untuk beberapa waktu. Dan pulanglah saat kau merasa siap, aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan padamu Sehunna" Ujarnya yang kemudian memutuskan kontak mata mereka saat Sehun menatapnya dan tak lama berdiri dari kursinya.

"Aku sudah mendapatkan kebahagiaanku Sehunna. Kau juga harus mencari kebahagiaanmu. Kau harus berbahagia. Aku pergi."

"tidak….jangan pergi lagi Luhan. Jangan pergi lagi." Sehun yang memang sudah sangat kelelahan hanya bisa menggumam pelan saat Luhan terus menerus menolaknya dan secara berulang selalu pergi meninggalkannya.

"kembali Luhan. aku mohon kembali padaku, kau tidak bahagia bersamanya. kau tidak berbahagia, aku bisa merasakannya." Gumamnya mengepalkan erat tangannya dan

"arghhhhhhhhh…"

Sehun membanting gelas minuman yang sebelumnya ia pesan bersama Luhan, membuat para penjaga berdatangan dan terpaksa mengamankan Sehun yang sepertinya sedang mengalami depresi berat saat ini.

..

..

..

Hari ini sudah memasuki hari kelima saat terakhir Luhan dan Sehun bertemu di Tokyo, itu artinya Luhan sudah berada di Seoul saat ini, dan ya-…Luhan memang sudah berada di Seoul sejak dua hari yang lalu, dirinya bahkan sudah berada di kediaman Choi sejak kemarin malam untuk menghadiri pembukaan proyek baru yang akan dilakukan ayah Seunghyun dan sekaligus akan menjadi acara yang mengumumkan pernikahan putra sulung keluarga Choi dengan Luhan. hal ini tentu saja sedikit banyak membuat Luhan gugup karena bisa menebak siapa saja yang akan hadir di pesta pengumuman pernikahannya malam ini.

"Hey apa kau gugup?"

Luhan menoleh saat sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya dia sedikit tersenyum mendapati Seunghyun yang begitu tampan dengan jas hitam yang dilengkapi dengan tuxedo merah miliknya. "Ya…aku sedikit gugup Seunghyunna."

"Kau tidak perlu khawatir. Aku menjagamu." Seunghyun membawa Luhan bersandar di pelukannya sesekali mengecup pucuk kepala Luhan.

"Mereka akan datang Lu."

"Mereka siapa?"

"Yunho dan Sehun. Ayahku mengundang mereka"

Seunghyun semakin mengeratkan pelukannya menyadari tubuh Luhan menjadi sedikit menegang karena apa yang dia ucapkan, membuatnya merasa bersalah karena berpikir Luhan sudah tidak mempedulikan kedua kakak beradik tersebut.

"Apa kau baik-baik saja?"

Luhan menggeleng sebagai jawaban, dia memeluk erat Seunghyun berusaha mencari perlindungan di pelukan pria yang akan segera menjadi suaminya tersebut "Aku takut."

Seunghyun berani bertaruh jika kalimat takut yang Luhan lontarkan memiliki arti bahwa pria dipelukannya ini bisa saja berubah pikiran jika salah satu dari Sehun ataupun Yunho berhasil membuatnya berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka. Mmebuatnya bersumpah tidak akan membiarkan kedua bersaudara Oh itu mengganggu pernikahannya dengan Luhan. Dia sudah menunggu lama sampai akhirnya Luhan mengatakan bersedia menikah dengannya dan dirinya tak akan membiarkan siapapun mengacaukan pernikahannya dengan Luhan. Tidak siapapun-…termasuk Sehun dan Yunho.

"Kau tidak perlu takut sayang. Aku disini." Gumamnya mengecup sayang kening Luhan sampai terdengar suara langkah kaki mendekati keduanya.

"Tuan muda. Acaranya sudah dimulai dan sebentar lagi pernikahan anda akan diumumkan."

Seunghyun tersenyum pada penjaganya dan kemudian menangkup wajah Luhan "Apa kau siap?"

Awalnya Luhan terlihat sangat takut dan tak yakin namun saat menyadari tatapan Seunghyun padanya begitu hangat membuatnya mengangguk sebagai jawaban "Aku siap."

Seunghyun kembali tersenyum dan tak lama menggenggam erat tangan Luhan menuju ruang utama tempat diselenggarakannya pertemuan dengan seluruh tamu undangan. Keduanya melangkah beriringan sampai akhirnya Seunghyun membuka pintu ruang pertemuan dan merangkul pinggang Luhan berjalan menuju ke podium tempat ayahnya berdiri saat ini.

"Luhan…"

Luhan bisa mendengar jelas suara Jaejoong yang memanggilnya, membuatnya sedikit menoleh dan menatap rindu kedua wajah yang saat ini menatapnya terkejut. Disana berdiri Yunho dan Jaejoong dengan Haowen di pelukan mereka yang sedang memandangnya tak berkedip dan sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa calon pasangan Seunghyun yang sedari tadi disembunyikan adalah Luhan.

Luhan sendiri hanya bisa menundukan kepalanya sekilas untuk menyapa Yunho dan Jaejoong, lalu dalam hitungan detik hatinya begitu sakit melihat Sehun juga berada disana dengan Kai dan Kyungsoo yang menemaninya. Sehun menatapnya dengan tatapan terluka, tak berkedip namun terlihat memohon saat kedua mata mereka bertemu, membuat Luhan merasa semakin bersalah karena membiarkan Seunghyun mengundang keluarga Oh dan keluarga Kim di acara pertemuan malam ini.

"Dan malam ini saya juga akan menyampaikan kabar gembira yang berasal dari putra sulung saya Choi Seunghyun. Dia dan kekasihnya Lu Han akan melangsungkan pernikahan mereka."

Terdengar seluruh tamu undangan bertepuk riuh memberikan ucapan selamat. Semuanya bertepuk kecuali keluarga Oh, keluarga Kim yang secara refleks memandang bergantian Sehun dan Luhan yang tidak menunjukkan ekspresi apapun saat ini.

"Dan pernikahannya akan diselenggarakan minggu depan di kediaman kami."

"Tidak mungkin."

Jaejoong hampir terjatuh kalau saja Yunho tak menopangnya, dirinya sama sekali tak menyangka kalau Luhan akan berbuat sejauh ini untuk membalas suami dan adik iparnya. Luhan bahkan terlalu tega saat mengumumkan pernikahannya didepan Sehun dan suaminya.

Luhan sendiri tak berani menatap satupun keluarga Kim atau keluarga Oh. Dia terus menundukkan kepalanya sampai dia menyadari kalau saat ini Sehun sedang berjalan meninggalkan ruang pertemuan.

..

..

..

"Kau belum pergi?"

Sehun yang memang memutuskan untuk mencari udara segar di luar sedikit menoleh dan mendapati Seunghyun yang sedang berjalan mendekatinya.

"Minumlah." Seunghyun memberikan segelas champagne pada Sehun yang langsung menerimanya dan langsung meminumnya dalam sekali teguk.

"Aku tidak akan pergi, aku akan membawa milikku bersamaku." Ujar Sehun membanting kesal gelas yang diberikan Seunghyun padanya membuat Seunghyun tertawa meremehkan Sehun.

"Milikmu? Kau sudah membuangnya dan menghancurkan semua yang Luhan miliki. Aku-…aku yang mengembalikannya pada Luhan secara perlahan. Jadi katakan padaku bagaimana bisa dia menjadi milikmu? Luhan sudah menjadi milikku saat ini."

Kali ini Sehun yang tertawa meremehkan dan sedikit menatap tajam pria yang saat ini berada didepannya "Kau bermain licik. Kau memaksa Luhan untuk menerimamu saat dirinya sedang frustasi, dia butuh tempat bersandar dan kau menawarkan segalanya. Aku tahu dia ketakutan dan kau datang untuk membuatnya bersandar padamu. Kau sangat licik Choi Seunghyun."

"Anggap saja itu benar. Dan sebentar lagi Luhan akan menjadi milikku."

Sehun mengepalkan erat tangannya dan mencengkram kasar kemeja Seunghyun "Aku akan melakukan segala cara untuk kembali mendapatkan Luhan."

"Kalau begitu lakukanlah sebelum pernikahan kami berlangsung. Karena jika Luhan sudah resmi menjadi istriku, aku tidak akan membiarkan dia bertemu denganmu walau hanya dalam mimpi kalian,"

Seunghyun melepas kasar cengkraman Sehun dan kembali berjalan masuk ke rumahnya dan meninggalkan Sehun yang saat ini terduduk di tanah terlihat begitu putus asa menyadari pernikahan Luhan dan Seunghyun hanya tinggal menghitung hari.

Sementara itu…

"Luhan…."

Luhan segera menoleh dan tersenyum canggung melihat Jaejoong kini berjalan menghampirinya.

"Hyung…" Jaejoong pun memeluk Luhan erat sebelum akhirnya kembali menatap Luhan dengan senyum yang dipaksakan.

"Luhan apa aku boleh berbicara denganmu?"

"Tentu saja hyung."

Luhan pun membawa Jaejoong ke balkon atas yang terdapat di lantai dua rumah Seunghyun. Dan sesampainya disana baik Luhan maupun Jaejoong tak ada yang bersuara, keduanya memejamkan mata menikmati semilir angin malam menerpa wajah mereka.

"Syukurlah kau baik-baik saja Luhan."

Luhan membuka matanya dan tersenyum menyadari Jaejoong yang sedang menatapnya lembut saat ini "Aku juga senang kau baik-baik saja hyung."

Jaejoong menghela dalam nafasnya membuat Luhan sedikit bertanya-tanya "hyung apa kau baik-baik saja?"

Jaejoong menoleh sekilas ke arah Luhan lalu kemudian kembali menatap kosong melihat pemandangan dari balkon rumah Seunghyun "Entahlah Lu."

Luhan yang merasa tak sopan jika terus bertanya akhirnya memutuskan untuk diam dan melakukan hal yang sama dengan Jaejoong, menatap kosong ke depan tanpa tahu harus berkata apa.

"Luhan lihatlah mereka." Jaejoong menunjuk Yunho yang sedang menggendong Haowen lalu kemudian beralih menunjuk Sehun yang berada tak jauh dari Yunho namun keduanya sama sekali tidak berinteraksi.

"Apa kau menyadari ada sesuatu yang aneh pada Yunho dan Sehun?"

Luhan kembali melihat Yunho dan Sehun bergantian lalu kembali menatap Jaejoong "Aku tidak mengerti maksudmu."

"Mereka berada dengan jarak sedekat itu tapi tidak saling menyapa."

Luhan kembali menatap Sehun dan Yunho sekali lagi namun tetap tak menemukan keganjalan yang Jaejoong coba katakan padanya.

"Apa kau masih belum mengerti?" Jaejoong bertanya dan Luhan menggeleng cepat sebagai responnya.

"Yunho dan Sehun-…mereka berdua sudah tidak berbicara satu sama lain sejak tiga bulan yang lalu."

"a-Apa maksdumu hyung?"

"Sehun memutuskan untuk angkat kaki dari rumah di hari yang sama saat kau pergi. Dia begitu kecewa pada kakaknya karena membiarkanmu pergi untuk yang kedua kalinya. dan untuk melupakan rasa kecewanya Sehun memutuskan pergi meninggalkan Yunho sendiri. Sementara suamiku deia sengaja membiarkan dirinya menderita dengan perasaan bersalah yang sampai saat ini dia rasakan karena telah membuatmu dan Sehun berpisah."

Luhan begitu lemas mendengar penuturan Jaejoong tentang betapa buruknya hubungan Yunho dan Sehun saat ini, Yunho dan Sehun tak pernah terpisahkan sebelumnya. Keduanya selalu bersama dan menjadi kuat karena terus bersama. Yunho paling tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu atau berbicara dengan Sehun bahkan hanya untuk sehari, dan membanyangkan hubungan keduanya merenggang karena dirinya membuat Luhan kembali merasa harus bertanggung jawab telah membuat Yunho dan Sehun saling menjauh.

Luhan pun memilih untuk diam sambil berpikir sebelum Jaejoong kembali bertanya

"Apa kau benar-benar akan menikah dengan Seunghyun?"

Luhan merasa tak siap jika salah satu dari keluarga Oh menanyakan tentang hal ini padanya karena sebanyak apapun dia mempersiapkan jawaban, maka sebanyak itu pula dia akan gagal untuk menjawab tanpa harus menyakiti semua yang mengenalnya di masa lalu.

"ya hyung. Aku akan menikah dengan Seunghyun."

"Apa kau tidak bisa membatalkannya?"

"hyung."

"Aku mohon Luhan." ujarnya begitu lirih memandang Luhan yang menolak untuk menatapnya.

"Aku tidak bisa hyung."

"Apa kau mencintai Seunghyun."

"…."

"Luhan."

"ya hyung. Tentu saja aku mencintainya."

"Luhan aku mohon. Kau membalas Sehun terlalu kejam Luhan. Dia tidak akan bisa menerimanya" Jaejoong menyatukan kedua tangannya memohon dengan sangat pada Luhan untuk membatalkan pernikahannya dengan Seunghyun.

Luhan merasa dirinya terdesak saat ini, kurang dari tujuh hari dirinya sudah membuat dua orang menangis kecewa karena keputusannya. Membuatnya hanya bisa diam dan menolak segala kontak mata yang bisa membuat dirinya dapat merubah keputusannya.

"Seunghyun oppa mencarimu. Cepat masuk."

Terlihat Sulli yang juga menentang acara pernikahan ini memberitahu Luhan dengan tak suka membuat Luhan hanya bisa tersenyum simpul memakluminya "ya…aku akan segera masuk."

Sepeninggal Sulli, Luhan dengan segera membawa Jaejoong ke pelukannya, menenangkan Jaejoong yang terisak semakin keras merasa kecewa pada keputusan Luhan "Maafkan aku hyung, aku tidak bermaksud menyakiti siapapun. Aku minta maaf." Gumamnya bergetar mendongakan wajahnya ke atas mencegah air matanya terjatuh sementara tangannya terus mengusap lembut punggung Jaejoong.

"Maafkan aku hyung. Aku harus segera masuk." Luhan menangkup wajah Jaejoong dan tak lama tersenyum memeluk sekilas pria yang mungkin saja akan menjadi kakak iparnya juga kalau saja hubungannya dan Sehun tak menjadi seburuk ini.

"Aku permisi hyung." Gumam Luhan menghapus cepat air matanya meninggalkan Jaejoong yang semakin terisak menyadari kalau adik iparnya tidak akan bisa menanggung semua ini terlalu jauh.

..

..

..

Dan hari ini pun tiba, hari dimana Luhan dan Seunghyun akan melangsungkan pernikahan mereka di pagi yang cerah ini. Semua terlihat berbahagia dan menanti kedatangan hari ini dengan senyum menghiasi wajah masing-masing. Kebahagiaan juga terlihat di wajah kedua pengantin, jika Seunghyun terlihat bersemangat dan tak sabar mengucap janji. Maka Luhan sedang merasa batinnya tertekan karena terlalu banyak yang ia sakiti dengan pernikahan ini.

Luhan berada di ruangannya saat ini, menunggu seseorang menjemputnya dan mendampinginya berjalan menuju altar dengan pikiran yang entah berada dimana. Bertanya-tanya apakah Sehun akan datang ke upacara pernikahannya atau tidak. Pikirannya kacau sejak semalam dia terus berdoa pada Tuhan agar Sehun tidak datang. Dia tidak sampai hati melihat wajah Sehun yang begitu terluka dengan semua ini.

"Apa aku benar-benar tidak memiliki harapan lagi?"

Luhan menoleh ke asal suara dan begitu terkejut mendapati wajah Sehun yang terlihat sangat pucat berjalan mendekat ke arahnya.

"Sehun-…."

"Aku harus bagaimana kalau kau menikah nanti? Aku mohon pergi denganku. Ini belum terlambat." Sehun memaksa memeluk tubuh Luhan membuat Luhan sedikit kesulitan bernafas karena pelukan Sehun yang sangat erat.

"Sehun aku mohon jangan seperti ini." Luhan melepas pelukan Sehun dan menangkup wajah Sehun yang begitu terlihat kacau.

"hey dengarkan aku. Kau tidak harus melakukan apapun. Kau hanya perlu menjalani hidupmu seperti biasa Sehunna."

Sehun menggeleng cepat menyanggah semua ucapan Luhan "Aku tidak bisa Luhan. Aku mengingnkanmu. AKU MENGINGINKANMU LUHAN."

"LALU KENAPA KAU MEMBUANGKU SEHUNNA. KAU-….Kau yang membuangku, kau mencampakan aku dan menganggapku sampah selama beberapa tahun ini. Aku harus hidup merasakan kebencian dan kemarahanmu padaku. Aku lelah bertahan."

Sehun merasa seperti dihujam dengan benda tajam tepat dihatinya saat Luhan terlihat begitu kecewa dan kelelahan. Dia merasa begitu putus asa menyadari ini semua berawal dari keangkuhan dan keegoisan yang ia miliki, Luhan sama sekali tidak bersalah dia hanya korban kebencian tanpa alasan yang Sehun berikan untuknya. Sehun dibutakan oleh kebenciannya dan berakhir harus kehilangan satu-satunya pria yang bisa membuatnya hidup seperti pria normal pada umumnya.

Dia menyesal-…namun dia tahu itu semua tidak berguna saat ini. Dia semakin membuat Luhan menderita karena apa yang dilakukannya saat ini

"Maafkan aku Luhan….Maaf."

Sehun berjalan menjauh meninggalkan ruangan Luhan dengan gontai, dia tidak mau membuat Luhan marah dan memutuskan untuk segera pergi menyaksikan upacara pernikahan Luhan dan Seunghyun.

"Aku akan menunggu diluar, aku akan menyaksikan upacara pernikahanmu Luhan. Aku akan-…"

Mphhhhh…

Sehun sedikit terkejut saat Luhan dengan tiba-tiba menarik lengannya dan kini sedang mengecup lembut bibirnya. Pria cantiknya itu juga melingkarkan tangannya di lehernya membuat Sehun dengan secara otomatis merengkuh pinggang Luhan mendekat.

Sungguh-…ciuman yang mereka lakukan saat ini seperti ciuman perpisahan, tak ada nafsu yang menggebu-gebu hanya ada air mata yang terus menetes di sela ciuman panas mereka. Hati keduanya terasa seperti diremat oleh bendak tajam, merasa sesak yang begitu menghimpit menyadari setelah ciuman ini terlepas, itu artinya hubungan mereka benar-benar berakhir.

"Hiduplah dengan baik. Jika kau tidak bisa melakukannya untuk dirimu sendiri maka lakukanlah untukku. Aku mohon" gumam Luhan sedikit terengah menyatukan kedua kening mereka dan menatap kedalam mata Sehun.

"Aku tidak bisa Luhan."

"Kau bisa Sehunna. Kau bisa."

Sehun menggeleng cepat sementara Luhan sedikit berjinjit mencium paksa kening Sehun cukup lama "Kau bisa hidup tanpa diriku. Selamat tinggal Sehun."

Dan setelah mengucapkan kalimat perpisahan untuk Sehun, Luhan segera bergegas berjalan menuju pintu keluar sebelum Seungri masuk dan menemukan Sehun didalam ruangannya.

"Apa kau siap?" Seungri yang bertugas menemani Luhan ke altar mengulurkan lengannya dan disambut cepat oleh Luhan yang sedang membersihkan air mata disekitar pelipis matanya.

Luhan pun mengangguk dan dengan pasrah mengikuti Seungri menuju altar dimana Seunghyun telah menunggu. Ingin rasanya matanya hanya menatap pada Seunghyun yang berada didepan altar tapi dia tidak bisa, dia selalu menemukan tatapan-tatapan terluka di sepanjang perjalanannya menuju altar dan yang paling menyakitkan adalah saat matanya bertemu dengan Yunho. Yunho menyatukan kedua tangannya memohon pada Luhan di tempatnya berada, membuat Luhan dengan berat hati harus memalingkan wajahnya sebelum keinginannya berlari ke pelukan pria yang sudah seperti kakak kandungnya tersebut benar-benar ia lakukan.

Sampai pada akhirnya Seungri menyerahkan tangan Luhan pada genggaman Seunghyun. Keduanya saling menatap sebelum akhirnya Seunghyun membawa Luhan menghadap ke pendeta agar segera meresmikan pernikahan mereka.

"Apa kalian siap?" Pendeta Lee bertanya baik pada Seunghyun maupun Luhan. Seunghyun mengangguk dengan semangat sementara Luhan mengangguk perlahan merasa sangat mengkhawatirkan keadaan Sehun saat ini.

"Baiklah kita mulai."

"Apakah anda Choi Seunghyun bersedia menjaga dan mencintai Xi Luhan seumur hidupmu, di saat senang maupun susah, sehat ataupun sakit. Sampai maut memisahkan kalian?"

Seunghyun tersenyum menatap Luhan sekilas dan tak lama kembali menatap pendeta Lee didepannya "ya….saya bersedia."

Sang pendeta tersenyum dan kali ini menatap ke arah Luhan "Dan apakah anda Xi Luhan bersedia…."

Sehun berada disana saat pendeta mulai bertanya pada Luhan, dirinya bersandar di dinding yang berada di deretan paling belakang, tangannya terlipat di atas dada sementara hatinya terus berdenyut sakit masih berharap ada keajaiban untuknya. .

"Menjaga dan mencintai Choi Seunghyun seumur hidupmu, di saat senang maupun susah, sehat ataupun sakit. Sampai maut memisahkan kalian?"

"Luhan?" Pendeta Lee menegur Luhan yang hanya diam tak bicara membuat Luhan menoleh sekilas lalu kembali tertunduk "Apa kau bersedia?"

Katakan tidak….aku mohon katakan tidak.

Katakan tidak Luhan-….aku mohon.

Terdengar gumaman dua suara yang berasal dari Yunho dan Sehun di tempatnya masing-masing, keduanya juga tertunduk merasa putus asa menunggu jawaban apa yang akan diberikan Luhan.

"Saya ulangi…." Pendeta Lee memberitahu Luhan yang terlihat tak fokus lalu kemudian kembali membacakan janji pernikahan suci kedua pasangan didepannya

"Apakah anda Xi Luhan bersedia menjaga dan mencintai Choi Seunghyun seumur hidupmu, di saat senang maupun susah, sehat ataupun sakit. Sampai maut memisahkan kalian?"

Luhan menggigit kencang bibirnya dan terdiam cukup lama sampai dia merasa Seunghyun menggenggam erat tangannya, menatapnya dengan memohon membuat Luhan merasa sangat bersalah pada Seunghyun saat ini.

Katakan tidak-…Aku mohon Luhan.

Luhan pun menghela dalam nafasnya lalu kemudian menatap pendeta Lee dengan berkaca-kaca "ya….Aku bersedia."

Sehun memejamkan erat matanya mencoba memproses apa yang Luhan katakan. Hatinya begitu sakit membuatnya secara refleks mencengkram dadanya sementara pikirannya menolak apapun yang telah Luhan katakan beberapa detik lalu, sampai akhirnya dia menyerah dan membuka matanya perlahan, dia menatap kedua sosok yang kini sedang berciuman lembut di depan altar dengan hati yang terasa dicabik begitu kasar sehingga ia merasakan sakit yang tak bisa diungkapkan membuatnya kesulitan bernafas.

Sehun menghapus cepat air matanya dan berjalan gontai meninggalkan rumah Seunghyun dengan seluruh bagian dirinya yang telah hancur berkeping-keping, dia terus berjalan gontai membiarkan dirinya terjatuh lalu tersenyum miris menyadari satu hal.

Hari dimana dia membiarkan Luhan pergi adalah hari dimana dia kehilangan hidupnya-….seluruh bagian hidupnya.


*masihtbc*


ingatkan gue kalau maincast restart itu Hunhan bukan SeungHan *pundung*

.

udalah fix diamuk massa gue :"" gue lagi kepincut TOP jadi sarap sendiri nikahin luhan ama TOP... jiwa vip gue keluar masa kkkkkk

.

ah pokonya gitu...happy reading n review ;)

.

next update : Entangled