Previous...

"Apakah anda Choi Seunghyun bersedia menjaga dan mencintai Xi Luhan seumur hidupmu, di saat senang maupun susah, sehat ataupun sakit. Sampai maut memisahkan kalian?"

Seunghyun tersenyum menatap Luhan sekilas dan tak lama kembali menatap pendeta Lee didepannya "ya….saya bersedia."

Sang pendeta tersenyum dan kali ini menatap ke arah Luhan "Dan apakah anda Xi Luhan bersedia…."

Sehun berada disana saat pendeta mulai bertanya pada Luhan, dirinya bersandar di dinding yang berada di deretan paling belakang, tangannya terlipat di atas dada sementara hatinya terus berdenyut sakit masih berharap ada keajaiban untuknya. .

"Menjaga dan mencintai Choi Seunghyun seumur hidupmu, di saat senang maupun susah, sehat ataupun sakit. Sampai maut memisahkan kalian?"

"Luhan?" Pendeta Lee menegur Luhan yang hanya diam tak bicara membuat Luhan menoleh sekilas lalu kembali tertunduk "Apa kau bersedia?"

Katakan tidak….aku mohon katakan tidak.

Katakan tidak Luhan-….aku mohon.

Terdengar gumaman dua suara yang berasal dari Yunho dan Sehun di tempatnya masing-masing, keduanya juga tertunduk merasa putus asa menunggu jawaban apa yang akan diberikan Luhan.

"Saya ulangi…." Pendeta Lee memberitahu Luhan yang terlihat tak fokus lalu kemudian kembali membacakan janji pernikahan suci kedua pasangan didepannya

"Apakah anda Xi Luhan bersedia menjaga dan mencintai Choi Seunghyun seumur hidupmu, di saat senang maupun susah, sehat ataupun sakit. Sampai maut memisahkan kalian?"

Luhan menggigit kencang bibirnya dan terdiam cukup lama sampai dia merasa Seunghyun menggenggam erat tangannya, menatapnya dengan memohon membuat Luhan merasa sangat bersalah pada Seunghyun saat ini.

Katakan tidak-…Aku mohon Luhan.

Luhan pun menghela dalam nafasnya lalu kemudian menatap pendeta Lee dengan berkaca-kaca "ya….Aku bersedia."

Sehun memejamkan erat matanya mencoba memproses apa yang Luhan katakan. Hatinya begitu sakit membuatnya secara refleks mencengkram dadanya sementara pikirannya menolak apapun yang telah Luhan katakan beberapa detik lalu, sampai akhirnya dia menyerah dan membuka matanya perlahan, dia menatap kedua sosok yang kini sedang berciuman lembut di depan altar dengan hati yang terasa dicabik begitu kasar sehingga ia merasakan sakit yang tak bisa diungkapkan membuatnya kesulitan bernafas.

Sehun menghapus cepat air matanya dan berjalan gontai meninggalkan rumah Seunghyun dengan seluruh bagian dirinya yang telah hancur berkeping-keping, dia terus berjalan gontai membiarkan dirinya terjatuh lalu tersenyum miris menyadari satu hal.

Hari dimana dia membiarkan Luhan pergi adalah hari dimana dia kehilangan hidupnya-….seluruh bagian hidupnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Life is the only game which has no pause, no resume and norestart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

Hari terus berganti dengan cepatnya sementara waktu terus berlalu dan tak bisa mengembalikan apapun yang menjadi penyesalan seorang pria yang terlihat hancur menjalani hidupnya sendiri saat ini. Sudah satu bulan berlalu semenjak dirinya menjadi saksi atas kehidupan baru yang akan dijalani oleh satu-satunya pria yang ia cintai. Tapi slama sebulan pula bayangan wajah Luhan yang begitu cantik untuknya tak bisa ia hilangkan dari ingatannya bahkan hanya untuk sedetik. Sebanyak apapun dia mencoba melakukan rasa rindu dan penyesalan yang dia rasakan akan lebih banyak menguasai akal sehatnya. Dan jika Luhan sedang membalas semua perbuatan Sehun-...maka dirinya berhasil karena pria bernama Oh Sehun sudah sepenuhnya hancur baik jiwa maupun raganya.

Sehun ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri yang telah dengan bodohnya membuang Luhan seperti sampah, mengabaikan penyesalan yang berkali-kali Luhan lontarkan kala itu, menampik fakta bahwa Luhan tidak pernah terlibat atas hal keji yang menimpa kedua orang tuanya. Luhan bahkan berkali-kali membuktikan bahwa dirinya begitu tulus membantu baik dirinya maupun Yunho. Namun semuanya berakhir dengan cacian dan hinaan yang semakin membuat Luhan untuk melepasnya sampai hari itu terjadi-...hari dimana Luhan memilih untuk hidup bersama pria lain dan meninggalkan Sehun dengan seluruh penyesalan yang akan ia rasakan seumur hidupnya.

Cklek...!

Seorang pria berkulit tan yang terlihat tampan namun memancarkan aura dingin berjalan mendekati adik kakak iparnya yang terlihat berkebalikan darinya. Jika dirinya begitu bahagia karena tak lama lagi akan menjadi seorang ayah, maka pria yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup dengan pria yang dia cintai dan tak berani membayangkan lebih dari itu karena saat kembali ke kehidupan nyatanya dia akan kembali terluka dan itu sudah ia rasakan secara berulang beberapa bulan belakangan ini.

"Apa kau sibuk?"

Sehun yang memang sedang menyibukkan diri sedikit menoleh pada Jongin dan kemudian kembali fokus pada layar laptopnya "Seperti yang kau lihat." Gumamnya memberitahu Kai yang kini menarik kursi duduk didepannya.

"Kau terlalu memaksakan dirimu Sehunna."

"Memaksakan diri bagaimana?"

"Apa kau sudah bercermin?"

"Sudah. Dan seperti biasa, aku tampan."

"ck. Kau terlihat sangat berantakan. Kau bahkan kehilangan banyak berat badanmu. Kenapa kau tidak mencoba bertemu dan berbicara dengannya."

"dengannya?"

"Dengan Luhan. Aku dengar dia masih berada di Seoul saat ini."

Sehun menghentikan kegiatannya, dan memandang Kai sejenak "Untuk apa aku menemuinya? Untuk mendengarkan ceritanya bahwa dia telah melewati malam panas bersama Seunghyun sementara aku menderita karenanya? Hatiku sudah cukup hancur asal kau tahu." Gumam Sehun mendesis dan selalu merasakan sakit mengingat Luhan dan Seunghyun setiap malam menghabiskan malam panas mereka berdua.

"Kau mulai membencinya lagi?"

"Membencinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."

"Kalau begitu temui Luhan dan bicaralah dengannya."

"Untuk apa? Dia hanya akan tertawa mengasihaniku."

"Dasar pengecut."

Brak...!

Sehun menggebrak mejanya dengan kasar merasa Kai sudah terlampau jauh bertanya apa yang dia rasakan saat ini "Jangan ikut campur urusanku. Jika tak ada yang ingin kau bicarakan sebaiknya pergi darisini."

"Kau memang terlihat seperti seorang pengecut saat ini."

"KIM JONGIN!"

Kedua pria itu kini saling menatap tajam, menyalurkan kemarahan masing-masing dimana yang satu begitu iba melihat adik kakak iparnya begitu hancur sementara yang satu merasa semua yang dikatakan Jongin adalah benar-...dia pengecut.

"Bagaimana bisa aku membencinya jika setiap aku memejamkan mata hanya ada wajahnya di benakku? Aku sudah gila karena terlalu menyesal dan saat ini aku sangat merindukannya." Gumam Sehun tertawa lirih dan sedang menikmati rasa sakit yang kembali ia rasakan.

"Aku bisa membuatmu bertemu dengannya. Bahkan menghabiskan beberapa hari dengannya."

Sehun secara refleks melihat ke arah Jongin dan menautkan kedua alisnya tak mengerti maksud ucapan Jongin saat ini "Apa maksudmu?"

"Baca proposal proyek ini."

Kai memberikan dokumen yang sedari tadi ia genggam pada Sehun dan Sehun langsung membaca cepat dokumen yang diberikan Jongin padanya. Matanya membaca proyek rencana pembangunan hotel di selatan Buamdong yang belakangan ramai akan wisatawan asing dan proyek ini berusaha tidak membuang kesempatan dan memutuskan bekerja sama dengan Choi coorp. Sehun masih mempelajari proposal tersebut sampai nama penasihat dan perencanaan dari Choi coorp adalah

"Choi Luhan?"

"Apa Choi Luhan disini adalah Luhan?"

"hmm...Itu Luhan."

"dia bahkan sudah memakai nama marga Seunghyun." Gumam Sehun tertawa getir dan kemudian menyerahkan lagi dokumen tersebut pada Jongin.

"Aku masih tidak mengerti maksudmu."

"Proyek pembangunan hotel ini akan bekerjasama dengan Choi coorp. Mereka yang akan menjalankan kegiatan operasional disana sementara kita memantau tempat dan memastikan kalau hotel yang akan kita bangun banyak dikunjungi wisatawan asing, mengingat Buamdong kini dipenuhi tempat wisata."

"Lalu?"

Kai menghela nafasnya dan menatap Sehun dengan serius "Lalu aku ingin kau yang turun ke lapangan dan memantau tempat untuk pembangunan hotel dan memastikan tempat tersebut telah memiliki izin dan semua pihak tak ada yang keberatan."

"Itu bukan tugasku."

"Aku tahu. Itu tugas Manager perencanaan kita, Kim Jongdae. Awalnya memang dia yang akan berangkat."

Sehun mengangkat kedua bahunya dan kembali fokus pada layar laptopnya "Lalu kenapa kau memintaku turun ke lapangan?" gumamnya bertanya pada Jongin dengan tangan yang kembali sibuk pada keyboard laptopnya.

"Karena perwakilan dari Choi coorp adalah Luhan. Dia yang akan turun langsung ke lapangan dan memantau semua proyek pembangunan ini selama lima hari di Buamdong."

Jemari Sehun secara refleks berhenti mengetik dan tak lama ia kembali menatap Jongin "Apa Luhan tahu kalau mereka bekerjasama dengan kita?"

"hmm dia tahu. Dan dia tidak menjadikan kerjasama ini sebagai masalah walaupun tahu aku yang memimpin proyek ini. Tapi dia tidak tahu kalau kau sudah bergabung denganku hampir enam bulan ini."

"Dan jika dia tahu dia akan membatalkan keberangkatannya." Gumam Sehun membuyarkan harapannya sendiri.

"Kita akan tetap menggunakan nama Jongdae."

Sehun kembali terdiam lalu menatap Jongin dengan ragu "Kau tahu ini ide buruk kan?"

"Aku tahu. Aku hanya mencoba membantumu Sehunna. Semua terserah kepadamu." Gumam Jongin memberitahu Sehun yang masih berpikir menerima atau tidak saran Jongin untuknya.

Sehun hanya terus terdiam sampai akhirnya dia tertawa getir mencengkram erat tangannya. "Aku tidak tahu harus bagaimana."

"Jika kalian ingin berpisah maka lakukanlah dengan cara yang benar. Jangan saling membenci seumur hidup kalian. Bagaimanapun kalian pernah saling mencintai, pernah saling memiliki, pernah saling membenci dan sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan. Jadi berhentilah menyakiti diri kalian sendiri. Bicaralah dengannya Sehun."

"Aku tidak bisa lagi mengucapkan kalimat perpisahan padanya. Aku mencintainya." Sehun berbicara terlalu pelan namun masih bisa didengar oleh Jongin yang kini memegang pundak sahabatnya.

"Tapi jika seperti ini, kau tidak akan pernah bisa berbicara lagi dengannya."

"Kau benar." Balas Sehun tertawa lirih merasa hatinya begitu dihimpit saat ini.

"Memang sulit jika sudah berurusan dengan takdir, sekuat apapun kau menginginkannya kau tidak akan pernah mendapatkannya jika dia bukan untukmu. Tapi jika kau mencoba merelakannya namun takdir mengatakan kalian harus bersama. Maka tak perlu saling menyakiti lagi kalian akan bersama. Percayalah Sehunna. Aku dan Kyungsoo pernah mengalami hal yang sama dengan yang kau dan Luhan rasakan. Bedanya aku tak membiarkan Kyungsoo jatuh ke pelukan pria lain tentu saja." Ujar Kai yang terdengar setengah meyakinkan Sehun namun selebihnya juga terdengar menyindir Sehun.

"Dan semua keputusan ada di tanganmu saat ini. Aku menunggu jawabanmu besok pagi. Jika kau setuju lusa kau berangkat. Tapi jika tidak-...Jongdae yang akan berangkat. Aku pergi dulu." Gumam Kai yang memutuskan untuk meninggalkan Sehun dan perlahan berjalan keluar dari ruangan Sehun memberikan waktu untuk Sehun agar bisa mempertimbangkan tawarannya sampai.

"Kai.."

Kai kembali menoleh dan menatap Sehun yang kini terlihat serius menatapnya.

"Aku terima tawaranmu. Biarkan aku yang mengerjakan proyek kali ini."

Kai tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya dan sedikit mengerling Sehun yang terlihat yakin dengan keputusannya kali ini "Kalau begitu selamat bekerja Presdir Oh." Gumam Kai tersenyum sangat bahagia dan tak lama meninggalkan Sehun yang juga tersenyum saat ini.

..

..

..

"hmm… aku akan baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku."

"Apa perlu aku pulang dan menemanimu sayang? Aku sangat khawatir"

"aniya. Aku hanya pergi lima hari bukan lima tahun. Aku bisa menjaga diriku sendiri"

"Kau yakin?"

"Sangat yakin Seunghyunna. Yasudah aku tutup panggilanmu. Aku harus bersiap, sepertinya perwakilan dari direktur Kim sudah datang."

"Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu minggu depan. Aku mencintaimu."

Luhan selalu merasa bersalah setiap kali Seunghyun mengatakan cinta padanya dia tidak bisa membalasnya langsung. Ada sesuatu dari diri Luhan yang belum mengijinkan kalimat itu terucap begitu saja. Membuatnya semakin merasa bersalah karena harus kembali mengecewakan Seunghyun.

"hmm...aku tahu."

Dan seperti biasanya selama satu bulan ini, kalimat cinta yang diucapkan Seunghyun kembali tak mendapat balasan. Dan Luhan sebagai pihak yang tidak bisa membalas hanya bisa berharap Seunghyun mau mengerti keadaan nya saat ini.

"Manager Choi. Perwakilan dari Kim coorp telah datang. Harap kau menyambutnya mengingat yang turun lapangan secara langsung adalah salah satu pemilik dari Kim coorp."

"Kim Jongin?" Luhan sedikit menebak dan kemudian bertanya pada sekertarisnya.

"Apa Presdir Kim Jongin?"

Asistennya tampak menggeleng membuat Luhan mengernyit bingung "Nama yang tertulis disini Manager Kim Jongdae. Tapi asisten pria itu mengatakan kalau presdirnya yang akan turun langsung ke lapangan. Sebaiknya kau temui dulu perwakilan dari Kim coorp."

Luhan mengangguk dan tak lama berjalan ke ruang tunggu di perusahaan ayah mertuanya. Sedikit mempercepat langkahnya berharap kalau Jongin yang benar datang untuk proyek ini agar Luhan tak perlu susah payah menjelaskan semuanya dari awal sampai.

Cklek..!

Luhan membuka pintunya dan berjalan memasuki ruangan sebelum langkahnya terhenti karena seseorang yang sedang menunggunya kini berbalik menatapnya dan membuat seketika pergerakannya terhenti.

"K-kau?!"

Sungguh tak ada yang lebih mengejutkan untuk Luhan saat ini karena pria yang masih bisa membuatnya menggila kapan saja tengah berdiri menatapnya tak berkedip saat ini.

"Selamat pagi Luhan." Pria yang memiliki wajah tampan dengan tubuh tinggi ideal tersebut terlihat mengancingkan kemeja jas nya dan kini menyapa Luhan yang terlihat membeku.

Suaramu… aku mendengarnya lagi.

Jika Luhan tak bisa menahan diri, mungkin saat ini dirinya telah berlari ke pelukan pria yang diam-diam selalu ia rindukan. Pria yang wajahnya selalu mengganggu hampir setiap malam yang dia lalui. Luhan mungkin akan memeluknya erat dan bersandar di dada bidang yang selalu menjadi favoritnya saat mereka bersama.

Namun Luhan tahu dia tidak bisa melakukan hal itu. Dia sekuat tenaga menahan diri dan berakhir dengan menatap tajam pria yang selalu bisa mengacaukan pikirannya hampir seumur hidupnya.

"Sepertinya anda salah tempat presdir Oh. Kami tidak bekerja sama dengan perusahaan anda." gumam Luhan memberitahu Sehun yang masih menatapnya tak berkedip.

"Aku tidak salah tempat." katanya bersuara memberitahu Luhan yang tampak bingung.

"Tapi kami bekerjasama dengan Kim coorp. Bukan dengan perusahaan anda."

"Aku bagian dari Kim coorp. Jika kau tidak mempercayainya kau bisa memeriksanya." katanya memberitahu Luhan yang terlihat tak percaya.

"Yong dae. Lihat susunan petinggi Kim coorp dan cari tahu apakah nama Oh Sehun terdaftar disana atau tidak." Luhan memberi perintah dan dalam sekejap asistennya langsung mencari tahu.

"Nama Oh Sehun terdaftar di deretan nomor dua setelah Kim Jongin. Dan keduanya memiliki jabatan sebagai Presdir dan Wakil Presdir Kim coorp. Manager Choi" katanya memberitahu Luhan yang kembali menatap Sehun dengan sedikit bertanya-tanya.

Luhan melihat dengan jelas Sehun sedang tersenyum khas ke arahnya, membuatnya menyadari ada yang salah dari Sehun, dia tidak seharusnya berada di tempat Kai. Hal itu sedikit banyak membuat Luhan semakin bertanya-tanya dan memutuskan untuk bertanya langsung pada pria didepannya.

"Tinggalkan aku dan presdir Oh berdua untuk sementara."

Mendengar instruksi dari Luhan baik asistennya maupun asisten Sehun. Keduanya langsung bergegas keluar meninggalkan Sehun dan Luhan yang tampaknya ingin berbicara empat mata.

Dan sepeninggal asisten mereka. Keduanya hanya diam saling menatap beberapa saat sampai akhirnya Sehun tersenyum dan berjalan mendekati Luhan.

"Apa kabarmu Luhan? Ah-... apakah aku harus memanggilmu Choi Luhan saat ini?" gumam Sehun tertawa pahit menelan ucapannya sendiri.

"Sebenarnya ada apa denganmu?" Luhan terlihat frustasi bertanya pada Sehun.

"Aku kenapa?"

"Kau seharusnya berada di perusahannmu. Bukan di tempat Presdir Kim. Jika kau ada di Kim coorp. Bukankah Presdir Oh menjalankan semuanya sendiri?"

Sehun memandang Luhan cukup lama sampai terlihat seringaian dari wajah Sehun saat ini "Apa kau mengkhawatirkan Yunho?"

"Aku-...Bukan begitu. Hanya saja -..."

"Aku sudah mengundurkan diri dari tempatku sebelumnya."

Luhan kembali menatap cemas dan menyadari perubahan suara Sehun yang terdengar lirih. "Sejak kapan?" katanya bertanya menahan diri sekuat tenaga untuk tidak terlalu menarik perhatian Sehun.

"Sejak dia membiarkanmu pergi dari bandara hari itu. Aku-... Aku tidak bisa menatap dan berbicara dengan Yunho semenjak hari dimana dia membiarkanmu pergi untuk yang kedua kali." Katanya memandang Luhan dengan penuh penyesalan namun Luhan membalasnya tatapannya begitu marah.

"Demi Tuhan itu bukan salah Yunho."

"Aku tahu. Aku hanya tidak tahu harus bersikap apa padanya. Jika hari itu dia tidak memintamu pergi mungkin ceritanya akan berbeda. Kau tidak akan bertemu dengan Seunghyun dan kau tidak akan menikah dengan Seung-..."

"SEHUN CUKUP!"

Wajah Luhan memerah, tangannya mengepal erat dan suaranya sudah bergetar tak tahan dengan seluruh penuturan Sehun untuknya yang sudah sangat terlambat. Dia menghapus cepat air matanya dan menatapnya dengan tatapan yang terluka "Penyesalanmu tidak akan merubah apapun. Semua terlambat dan kita sudah cukup terluka karena kisah cinta kita sendiri. Jadi aku mohon berhenti menyalahkan siapapun termasuk dirimu." gumam Luhan membuat Sehun tertawa lirih mendengarnya.

"Aku tidak bisa. Semakin aku mencoba melupakanmu rasa rinduku akan semakin besar untukmu."

"Jangan seperti ini Sehunna. Aku mohon. Aku sudah memiliki Seunghyun saat ini." katanya memohon frustasi pada Sehun yang terus menggelengkan kepalanya.

Luhan menghela dalam nafasnya dan kembali menatap Sehun cukup dalam "Kalau begitu perjalanan ini bukan ide bagus untuk kita berdua. Aku secara resmi mengundurkan diri dari proyek ini." gumamnya berniat meninggalkan Sehun sebelum Sehun mencengkram erat lengannya.

"Lepaskan tanganku presdir Oh." gumam Luhan mendesis membuat Sehun menatapnya putus asa saat ini.

"Kenapa kau mengundurkan diri? Apa kau takut kembali mencintaiku atau-..."

"Atau kau memang masih mencintaiku."

Luhan sedikit terbelalak saat Sehun merengkuh pinggangnya dan meniadakan jarak diantara mereka dengan menempelkan dahinya ke dahi Luhan dan menatap Luhan dengan tatapan khasnya membuat Luhan melemas seketika tak bisa membalas.

"Aku sudah tidak mencintaimu Oh Sehun."

"Benarkah? Aku bahkan mendengar suaramu bergetar saat ini." ujar Sehun menantang membuat Luhan memalingkan wajahnya enggan menatap Sehun.

Sementara Sehun hanya diam memandang Luhan cukup lama sampai akhirnya dia melepas rengkuhannya dari Luhan "Jangan mengundurkan diri dari proyek ini. Masing-masing dari perusahaan kita telah mengeluarkan banyak uang untuk proyek ini. Jadi bekerjalah dan jangan hiraukan aku."

"Aku tidak bisa melakukannya. Suamiku akan marah jika-..."

"DIA TIDAK AKAN TAHU JIKA KAU TAK MEMBERITAHUNYA."

"ah-....maaf berteriak. Aku hanya terlalu sakit mendengar kau memanggilnya dengan sebutan suami. Seperti ada sesuatu yang mencengkram kuat disini" gumam Sehun menunjuk ke arah dadanya lalu meremat kasar dadanya dan berkata lirih tak menatap Luhan yang mungkin sedang menatapnya iba saat ini "Maaf Luhan."

Luhan benar-benar ingin menangis saat ini. Dia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Sehun dengan ucapannya. Sedari awal melihat Sehun, Luhan sudah merasakan kehancuran yang sama dengan yang Sehun rasakan. Hanya saja jika Luhan bisa menyembunyikannya dengan baik, maka tidak dengan Sehun yang terlihat berantakan didepannya saat ini. Membuat Luhan begitu tak tahan karena harus terus menerus menyakiti Sehun setiap kali mereka bersama.

"Sehun aku-..."

Cklek…!

"Manager Choi. Jika anda Presdir Oh sudah siap. Silahkan turun ke bawah. Mobil yang akan kalian gunakan sudah siap."

Luhan ingin membuka suaranya untuk membatalkan perjalanannya. Namun dirinya menjadi ragu saat melihat Sehun menatapnya dengan memohon. Membuat Luhan hampir menjerit karena tak tahu harus membuat keputusan apa saat ini. Sampai akhirnya dia menatap sekertarisnya dan

"Kami akan segera turun. Kalian juga sebaiknya bersiap."

Sungguh Sehun tak bisa menyembunyikan kebahagiannya saat ini. Dia tersenyum begitu lega dengan pandangan yang tak pernah berkedip menatap pria cantiknya saat ini. Sampai kedua mata tersebut kembali bertemu namun dengan cepat Luhan mengalihkan pandangannya menolak untuk bertatapan dengan Sehun.

"Yongdae…" Luhan memanggil asistennya sebelum pria seumurannya dengannya itu kembali meninggalkan ruangan.

"Ya manager Choi."

"Kim Jongdae."

"eh?"

"Perwakilan dari Kim coorp tetap Kim Jongdae. Presdir Oh hanya mengawasi selama kita disana dan namanya tak perlu disebut jika kita membahas hasil kunjungan di rapat nanti. Apa kau mengerti?"

Asisten Luhan pun mengangguk dengan cepat membuat Luhan sedikit tersenyum semantara hari Sehun kembali memelas karena kehadirannya kembali tak dianggap oleh Luhan. Namun saat ini Sehun tidak menjadikannya sebagai masalah karena untuknya bisa bersama Luhan adalah hal yang hampir mustahil ia dapatkan saat ini.

"Kita bersiap presdir Oh."

Luhan berjalan meninggalkan Sehun yang masih menatapnya tak berkedip dengan hati yang begitu sakit karena Luhan terus menolak kehadirannya.

..

..

..

"Jadi bagaimana rasanya menikah?"

Saat ini Sehun dan Luhan berada di dalam mobil yang sama menuju tempat tujuan mereka dan bertemu dengan beberapa warga untuk memberi sambutan agar tidak terjadi kericuhan selama pembagunan hotel di kawasan tempat wisara itu.

Dan mengikuti instruksi Luhan yang menginginkan satu mobil dengan Sehun tanpa perlu menggunakan supir, maka disinilah keduanya duduk bersebelahan didalam satu mobil, dimana yang satu fokus menyetir sementara yang lain berusaha membuat dirinya sibuk. Tak ada yang mengeluarkan suara sampai akhirnya Sehun memecah keheningan karena mulai bosan dengan perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam lebih dari Seoul tersebut.

"Begitulah." balas Luhan seperlunya.

Sehun sedikit medecak dan melirik Luhan yang sepertinya malas berbicara dengannya "Apa kau bahagia?" katanya bertanya pada Luhan yang diam-diam juga melirik ke arah Sehun.

"Tentu saja."

"Lalu apa bercinta dengan Seunghyun sehebat saat bercinta denganku?" Sehun bertanya sedikit mencengkram kemudi mobilnya bersiap untuk mendengar jawaban Luhan.

"Jaga mulutmu." geram Luhan merasa Sehun terlalu berani menanyakan hal yang terlalu intim kepadanya.

"Aku juga tidak ingin menanyakannya asal kau tahu. Setiap kali membayangkan wajahmu menikmati sentuhan Seunghyun hatiku sangat sakit. Aku bahkan berdoa agar Tuhan segera membuatku bertemu dengan kedua orang tuaku."

Belum Sehunna. Seunghyun belum menyentuhku sama sekali. Setiap kali dia ingin melakukannya, wajahmu selalu terbayang di benakku. Aku selalu teringat dirimu dan tak bisa mebiarkan diriku disentuh pria selain dirimu.

Ingin rasanya Luhan berteriak dan mengatakan kenyataan itu pada Sehun. Kenyataan dimana dirinya selalu menolak sentuhan Seunghyun bahkan di malam pertama mereka. Membuat Seunghyun kembali harus mengerti dan berjanji memberikan waktu untuk Luhan membiasakan diri dan melupakan Sehun sepenuhnya selama tiga bulan. Karena setelah tiga bulan Seunghyun akan kembali membawa Luhan untuk menetap di Tokyo dan melupakan semua masa lalunya yang berada di Seoul. Semua-... terutama tentang Sehun.

"Luhan aku-..."

"Apa kau hidup dengan baik?"

Sehun tertawa kecil dan menatap Luhan sekilas "Hidup yang baik itu seperti apa?"

"Ada apa denganmu Sehun? Kemana Sehun yang begitu berkuasa? Sehun yang membenci Luhan? Sehun yang sepenuhnya melupakan Luhan? Kemana Sehun yang sangat tidak mengiginkan Luhan dalam hidupnya?"

Ckit...!

Sehun menghentikan mobilnya bersamaan dengan pertanyaan Luhan yang begitu menyakitkan. Dia terdiam cukup lama sampai kemudian matanya menatap Luhan dengan tatapan yang begitu hancur membuat hati keduanya berdenyut sakit saat ini.

"Sehun yang kau kenal itu-...dia sudah lama mati Luhan. Dia mati karena penyesalannya sendiri." Gumamnya tersenyum lirih lalu kemudian menatap kosong ke depan.

"Maaf mengecewakanmu lagi ...tapi saat ini-... hanya ada Sehun yang menyedihkan didepanmu. Sehun yang tak lagi berkuasa. Sehun yang begitu mencintai Luhan. Sehun yang begitu rapuh mengharapkan Luhan dan Sehun yang begitu putus asa ingin mendapatkan kembali Luhan nya."

"Tidak bisakah kita mengulang semuanya dari awal lagi Luhan? aku hancur tanpamu." Sehun kembali menatap Luhan, membiarkan air matanya yang begitu frustasi mengalir jatuh membasahi pipinya. Sampai akhirnya dia tahu dia sudah membuat Luhan merasa kembali tersakiti terlihat dari wajah Luhan yang kini memucat. Sehun pun menghela nafasnya kemudian menghapus cepat air matanya dan

Blam...!

Dia kemudian keluar dari mobil terlebih dulu untuk memantau lokasi pembuatan hotel meninggalkan Luhan yang kini terisak pilu menyembunyikan kedua tangannya di wajahnya saat ini "kenapa semua menjadi seperti ini Tuhan. Kenapa kau membuat kami terus menderita dengan perasaan ini. ini begitu sesak dan menyakitkan untuk kami. Apa yang kau rencanakan untuk kami? Aku mohon berhenti membuatku menyakiti pria kecilku, priaku yang selalu membuatku ingin terus menjaganya dengan hidupku, aku mohon buat pria kecilku bahagia Tuhan...aku mohon" Luhan bergumam sangat pelan bersamaan dengan hatinya yang teriris seperti tersayat oleh pisau secara perlahan namun sangat menyakitkan.

..

..

..

Tak terasa malam akhirnya sampai ke peraduannya. Terlihat wajah-wajah lelah yang masih harus tersenyum saat beberapa warga di sekitar tempat mereka mengajak para pemuda yang tampan yang terlihat menawan mengikuti pesta penyambutan yang sengaja mereka buat.

Luhan dan beberapa rekan kerjanya serta Sehun dengan beberapa anak buahnya saat ini tengah duduk membentuk sebuah lingkaran besar dimana Sehun duduk tepat didepan Luhan yang berada di sebrangnya dan menatap tak berkedip pria cantik yang selalu mengalihkan tatapannya saat kedua mata mereka bertemu.

"Apakah kita bisa memulai pesta kecilnya?"

Salah satu warga yang terlihat begitu antusias bertanya pada rombongan kedua perusahaan yang mau tak mau ikut bersemangat karena pesta kecil yang dibuat warga sekitar begitu sederhana namun terlihat menarik.

Dan tak lama mereka membakar kayu kecil yang kemudian berubah menjadi besar ke atas membentuk api unggun yang indah. Semua bernyanyi dan bersorak penuh semangat walau cuaca tampak mendung ditandai dengan hawa yang dingin dan bunyi suara gemuruh yang mulai bersahutan berlomba dengan suara nyanyian mereka.

Luhan yang sedang ikut bernyanyi tak sengaja menatap Sehun yang kini hanya memandang kobaran api dalam diam. Dia sangat tahu kalau mantan kekasihnya tersebut memiliki trauma yang mendalam jika melihat kobaran api dalam jarak dekat. Membuatnya terus memperhatikan Sehun dan tak lama memutuskan untuk berjalan memutar mendekati Sehun yang terlihat ketakutan saat ini. Luhan membuka jas putihnya dengan tatapan tak lepas dari Sehun, jujur dia selalu mengkhawatirkan Sehun jika Sehun mulai mengingat masa kecilnya yang menakutkan itu dan tak ada yang Luhan inginkan selain membuat pria yang pernah menjadi segalanya untuknya ini merasa lebih baik.

Karena disaat semua bernyanyi gembira maka tidak dengan Sehun yang terlihat ketakutan saat ini. Pria yang memiliki pengalaman buruk tentang api itu terlihat memucat seolah api unggun yang indah itu akan menyakitinya. Jantungnya mulai berdebar kencang tatkala kayu ditambahkan membuat kobaran api semakin besar. Tangannya mulai berkeringat dan ingatan-ingatan menakutkannya sewaktu kecil mulai merasuki pikirannya sedikit demi sedikit. Sehun semakin mencengkram erat tangannya mulai merasa sesak namun tak bisa menghindar karena seluruh tubuhnya mati rasa. Dia hanya bisa membiarkan semua kenangan menakutkannya mengusai dirinya sampai

Sret….!

Sampai dia merasa pandangannya menjadi gelap dan tak lama terdengar suara yang begitu ia sukai berbisik lembut di telinganya.

"Jangan memaksakan dirimu Sehunna. Kau tidak bisa melihat api dalam jarak dekat. Ikut denganku."

Sehun merasa seluruh ketakutannya seketika hilang saat Luhan membisikan kalimatnya yang begitu menguatkan dirinya saat ini. Dan secara refleks Sehun mengangguk menggenggam tangan Luhan karena saat ini Luhan menutup wajahnya dengan jas kerja yang ia gunakan.

Blam….!

Terdengar seseorang membuka pintu mobil lalu tak lama kembali menutupnya dan menyerahkan secangkir cokelat hangat pada pria yang masih terlihat memucat disampingnya.

"Apa kau masih berdebar?"

Luhan bertanya membuat Sehun sedikit menoleh dan tak lama tersenyum getir melihat kosong ke depan "hmmm."

"Minumlah cokelat hangat ini. Kau selalu merasa lebih baik setelahnya."

"Terimakasih Luhan."

Sehun kembali menatap Luhan penuh arti dan mengambil cokelat hangat yang dibawakan untuknya.

"Jika kau pikir aku masih mengingat semua ketakutanmu karena aku masih memiliki perasaan padamu maka kau salah menebak Sehunna."

Sehun berhenti menyesap cokelatnya tersenyum lirih dan merasa dirinya bahkan lebih sakit daripada saat melihat api dalam jarak dekat beberapa menit lalu "Apa kau benar-benar tidak memiliki sedikit perasaan cinta lagi padaku." katanya bertanya terdengar sangat menyakitkan untuk Luhan.

Senyuman miris juga terlihat di wajah Luhan, dia kemudian juga menatap kedepan dan menghela dalam nafasnya "Bohong jika aku mengatakan tidak memiliki perasaan cinta lagi padamu Sehun. Karena sampai saat ini jantungku masih berdebar menggila saat berdekatan denganmu." gumam Luhan yang memutuskan untuk tidak membohongi dirinya lagi dan berniat membuat Sehun sedikit lebih baik saat ini.

Dan tak ada yang lebih menyenangkan untuk seorang Oh Sehun selain pernyataan cintanya yang masih terbalas walau hanya sedikit karena pada akhirnya dia mendengar suara Luhan yang terdengar begitu tulus ketika mengatakan masih memiliki perasaan untuknya.

Setelahnya tak ada yang berbicara, keduanya hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sama-sama menatap kedepan dan diam-diam berdoa agar Tuhan tidak menjadikan hari cepat berganti sampai akhirnya Luhan kembali bersuara.

"Jika kau sudah merasa lebih baik, aku akan bergabung dengan yang lain." gumamnya memberitahu Sehun sebelum Sehun kembali menggenggam erat lengan Luhan mencegah Luhan pergi.

"Aku mohon temani aku disini. Aku tidak akan membuatmu marah lagi. Hanya tolong temani aku sebentar lagi."

Luhan bisa saja langsung menolak dan tetap bergabung dengan yang lain. Namun melihat wajah Sehun yang terlihat begitu kelelahan membuatnya memutuskan untuk menemani pria yang sampai detik ini masih sangat ia cintai.

"Baiklah. Aku akan menemanimu sedikit lebih lama." gumam Luhan sedikit menggenggam tangan Sehun membuat Sehun tersenyum lega saat ini "Terimakasih Luhan."

Luhan hanya mengangguk dan kembali menatap ke depan melihat bagaimana seluruh warga yang terlihat menyambut proyek pembangunan hotel dengan antusias sedang tertawa bahkan sesekali mengajak asistennya maupun asisten Sehun untuk bernyanyi bersama tanpa permasalahan berarti.

Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan hujan sedang mengguyur deras tempat yang awalnya dibuat berpesta beberapa jam yang lalu. Semua sudah kembali ke penginapan masing-masing dan mungkin sudah bersembunyi dibalik tebalnya selimut saat ini.

Namun hal itu tidak berlaku untuk kedua insan yang sepertinya tidak terganggu oleh suara gemuruh dan suara hujan yang begitu deras dan malah tertidur didalam mobil dengan posisi pria yang terlihat cantik bersandar di bahu pria tampan sementara si pria tampan bersandar menempelkan kepalanya di atas kepala pria cantik yang bersandar padanya.

Posisi itu sudah terjadi hampir selama dua jam. Secara tak sadar keduanya sama-sama terpejam sambil menikmati pemandangan api unggun didalam mobil dan berakhir dengan posisi seperti ini sedari awal keduanya tertidur. Dan jangan lupakan tangan kekar si pria tampan yang melingkar sempurna di pinggang pria cantiknya yang terlihat tertidur sangat nyaman di pelukannya. Maka tidak heran jika keduanya tidak merasa kedinginan karena saat ini keduanya sedang berbagi rasa hangat membuat suara gemuruh tidak ada artinya dibanding kenyamanan yang tak bisa terulang yang sedang terjadi saat ini.

Sampai akhirnya kenyamanan itu harus segera berakhir saat pria yang terlihat cantik menggeliat membuka perlahan matanya dan merasakan pelukan tangan seseorang yang terasa sangat familiar untuknya. Aroma yang begitu ia sukai sedang tercium ke indera penciumannya, membuat Luhan ingin berlama-lama dalam posisi ini.

Andai saja mereka masih sepasang kekasih, mungkin Luhan akan membiarkan tangan kekar itu terus memeluk pinggangnya tapi jika mengingat status Luhan yang telah resmi menjadi milik pria lain, membuatnya harus segera melepas pelukan pria disampingnya. Membuat Sehun secara refleks membuka matanya dan menyadari ada yang aneh di tingkah Luhan yang terlihat merona menatapnya.

"Luhan kau ke-..."

"eh... Hujan?"

Sehun tiba-tiba mengubah pertanyannya saat melihat hujan turun dengan derasnya sementara Luhan hanya melihat ke segala arah dan tak menemukan satupun rekan kerjanya yang lain.

"Sehun aku rasa semua sudah pergi ke penginapan. Sebaiknya kita segera menyusul."

Sehun yang melihat Luhan sedikit cemas pun sedikit memakluminya kalau Luhan benar-benar tak ingin berdua saja dengannya. Sehun pun mengangguk dan tak lama menyalakan mobilnya mengabaikan rasa pegal dan nyeri di lengannya yang sangat terasa.

"Kau benar...sebaiknya kita juga beristirahat." Gumam Sehun menjalankan mobilnya menuju ke penginapan yang telah dipesan oleh asisten Luhan sebelumnya.

..

..

..

"Apa maksudmu semua kamar sudah penuh? Kami sudah memesannya di awal."

Terdengar Luhan yang sedang dibuat kesal oleh pemilik penginapan yang mengatakan kamar yang mereka pesan sebelumnya telah disewakan ke orang lain dengan harga tinggi sementara hujan turun semakin lebatnya malam ini.

"Maaf tapi anda belum memberikan uang muka. Jadi saya menyewakannya pada wisatawan asing yang bersedia membayar tinggi."

"Lalu bagaiman dengan rombonganku?"

"Sebagian mendapatkan kamar dan sebagian lagi pergi ke penginapan sebelah. Jika kau mau mencoba ada sebuah penginapan tak jauh darisini. Tapi kau tidak bisa membawa kendaraan, tempatnya sedikit terpencil."

"Tapi aku tetap mau kamar di-..."

"ahjussi bisa kau beritahu dimana tempatnya?" Sehun sedikit meniup tangannya dan memotong ucapan Luhan yang masih terdengar kesal pada pemilik penginapan.

"Hanya membutuhkan waktu lima belas menit darisini. Tempatnya ada disebelah kanan."

"Luhan daripada berdebat dan mati kedinginan disini, lebih baik kita cari penginapan lain." Gumam Sehun memberitahu Luhan yang terlihat lucu dengan wajah kesalnya.

"Aku tetap mau disini." Katanya masih tak mau mengalah.

"Tapi kamar disini penuh. Kau juga sudah kedinginan. Ayo kita pergi." Katanya berusaha membujuk Luhan yang sedang berpikir saat ini.

"Bagaimana kita mau kesana? Hujan nya masih lebat."

"ah-... anak muda. Aku memiliki satu payung. Gunakanlah untuk kalian berdua."

Sehun pun menyambut antusias payung yang dipinjamkan padanya dan sedikit memaksa Luhan yang masih kesal untuk segera pergi dari penginapan tersebut "Kami akan mengembalikan payungnya besok pagi."

Sehun memberitahu pemilikbpenginapan yang merasa lega karena Sehun telah membawa Luhan pergi dari penginapan miliknya.

"Bagaimana bisa dia menyewakan pada orang lain. Aku sudah memesan enam kamar untuk kita semua."

Sehun hanya terus mengimbangi jalan Luhan yang sangat terburu-buru, mencegah air hujan mengenai tubuh Luhan sementara Luhan masih terus menggerutu saat ini.

"Yongdae selalu saja ceroboh seperti ini." gumamnya sedikit menoleh dan menyadari setengah tubuh Sehun sudah basah karena ulahnya saat ini.

"Ke-kenapa kau basah Sehunna?"

"Aku? Ah... ini karena tuan putri sedari tadi menggerutu."

"ish. Aku bukan tuan putri." Gumam Luhan menggerutu dan tak lama

Sret...!

Dia menarik lengan Sehun kemudian merangkulnya, meniadakan jarak diantara keduanya yang sama-sama berdebar saat ini "Aku rasa itu penginapannya. Cepat kita kesana." Ujar Luhan yang terlihat gugup namun tetap merangkul Sehun berusaha mengabaikan pandangan Sehun yang kini terus menatap ke arahnya.

Sampai akhirnya keduanya sampai di tempat penginapan yang sangat berbeda dari penginapan yang pertama. Penginapan yang direkomendasikan oleh ahjussi di tempat pertama terlihat sangat kecil dan sepertinya hanya ada beberapa kamar yang tersedia mengingat tempatnya yang terlihat kecil.

"Ada yang bisa saya bantu nak?"

"Kami ingin memesan dua kamar. Apa tersedia?" Sehun bertanya sementara Luhan masih melirik keadaan penginapan yang terlihat seperti flat kecil yang pernah ia tinggali semenjak keluar dari rumah Sehun saat itu.

"dua? Aku pikir kalian pasangan."

Sehun tersenyum pahit sambil menoleh ke arah Luhan sekilas "Aku juga berharap seperti itu bi. Umm...Jadi bagaimana? Apa ada dua kamar tersedia?" gumam Sehun kembali bertanya.

"Sebentar aku lihat dulu. Kami hanya memiliki satu kamar."

"ah begitukah?"

"Semua tamu tampaknya terpaksa menginap di tempat kami mengingat hujan turun dengan derasnya." Kata nyonya si pemilik penginapan memberitahu Sehun yang tampak berpikir dan mengangguk mengerti.

"ummh Luhan..."

Luhan yang masih mengenang masa-masa di tempat kecilnya dulu langsung menoleh saat Sehun memanggilnya dan terlihat memintanya untuk mendekat.

"Ada apa?"

"Di tempat ini hanya ada satu kamar. Kau tidurlah disini."

Luhan tampak menautkan kedua alisnya dan tak lama kembali bertanya pada Sehun "Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan mencari tempat lain. Jika tidak mendapatkan tempat tinggal malam ini aku akan tidur di mobil sementara."

Luhan hanya diam tak menjawab Sehun sementara Sehun yang mengira Luhan setuju kembali berbicara dengan pemilik penginapan "Aku ambil kamar yang tersedia." Gumam Sehun mengeluarkan dompetnya dan tak lama menyelesaikan pembayarannya sementara Luhan terus menatap Sehun yang sudah terlihat kedinginan saat ini.

"Ini kuncinya. Apa mau aku antar?"

Luhan mengangguk dengan cepat membuat Sehun sedikit tersenyum dan berjalan mendului Luhan untuk menuju kamar yang akan Luhan tempati.

"Ini kamarmu. Kau harus segera beristirahat, besok pagi aku akan menjemputmu." Katanya memberitahu Luhan yang masih tak berbicara menjawab semua ucapan Sehun,

"Aku tahu kau lelah. Aku pergi dulu. Selamat malam Luhan."

Sehun pun melangkahkan kakinya membuat Luhan semakin ragu dengan keputusannya sampai akhirnya

"SEHUN!"

Sehun menoleh dan sedikit mengernyit melihat Luhan berjalan menghampirinya "Ada apa Lu?"

"Tinggal bersamaku malam ini."

"eh?"

"Besok pagi-pagi sekali kita harus kembali survey tempat. Aku tidak mau kau terlambat. Lagipula hari masih hujan, kau bisa sakit jika berada di luar terlalu lama. Jadi kau boleh tidur satu tempat denganku malam ini." gumam Luhan memberitahu Sehun dan tak lama kembali mendahului Sehun berjalan kekamarnya.

"Cepatlah Presdir Oh. Hari semakin larut."

Sehun pun sedikit tertawa senang dan tak lama mengikuti Luhan yang sudah masuk kedalam kamar yang ia sewa saat ini.

"Buatlah dirimu nyaman. Mengingat hanya satu tempat tidur disini, jadi aku rasa kau bisa tidur di sofa sementara aku tidur di ranjang, kau tidak keberatan kan?" tanya Luhan sambil memberikan handuk dan kaos yang tersedia di lemari pakaian kamar yang Sehun sewa.

"Tentu saja aku tidak keberatan." Katanya kembali tersenyum sedikit bersyukur Luhan masih sedikit peduli padanya.

"Kalau begitu cepat bersihkan tubuhmu dan segera tidur."

Sehun pun mengangguk mengikuti semua keinginan Luhan dengan segera membuat Luhan menghela nafasnya menyadari Sehun saat ini adalah Sehun yang sama yang pernah menjadi kekasihnya beberapa waktu yang lalu "apa aku sedang merindukan Sehunnie ku saat ini?" gumam Luhan bertanya lirih pada dirinya sendiri.

..

..

..

Sehun baru saja selesai membersihkan diri dan sedang mengeringkan rambutnya melangkah menuju sofa sebelum suara Luhan yang terdengar sedang berbicara mesra dengan seseorang di ponselnya terdengar dan membuat hatinya kembali memelas karena harapan Luhan masih peduli padanya hanyalah sebatas keinginan egois dirinya sendiri.

Hmmm.. disini sangat menyenangkan sayang. Aku bahkan membuat pesta api unggun belum lama tadi.

Tentu saja aku sangat senang disini.

Sehun meletakkan handuknya di tempat pengering dan tak lama berjalan ke sofa yang tak berada jauh dari tempat tidur Luhan lalu kemudian segera berbaring membuat Luhan menyadari kehadiran Sehun dan secara refleks mengecilkan suaranya.

Iya sayang, kita akan bertemu minggu depan. Sekarang apakah boleh aku beristirahat. Aku sangat lelah. Kau juga sebaiknya segera beristirahat.

Aku-...aku juga merindukanmu Seunghyunna. Selamat malam.

Tak lama Luhan menutup sambungannya dengan Seunghyun dan meletakkan ponselnya di atas meja.

"Aku iri sekali mendengar kau memanggilnya begitu mesra." Ujar Sehun tertawa lirih melihat kemesraan Luhan dan Seunghyun didepan matanya langsung.

"Wajar saja kan? Seunghyun sua-..."

"Aku tahu dia suamimu Luhan. Kau tak perlu mengatakannya dengan begitu jelas. Aku tidak bisa mendengarnya langsung darimu." Gumam Sehun yang entah kenapa seperti akan menangis membuat Luhan sedikit menyesal kembali menyakiti perasaan Sehun.

"Sebaiknya kau cepat tidur. Besok pagi kita akan sibuk." Katanya memberitahu Luhan yang menatapnya iba saat ini.

"hmm baiklah. Kau juga cepat tidur Sehun." Katanya berusaha mencairkan suasana dan sedikit mengernyit melihat Sehun mengambil kotak kecil dari saku jas kerjanya.

"Apa yang kau minum?"

Sehun sedikit tersentak dan menoleh ke arah Luhan yang kini sedang menatap kotak obat yang ia genggam.

"ah-...Ini hanya vitamin." Ujar Sehun sedikit gugup dan menenggak beberapa pil langsung lalu kemudian berbaring di sofa dengan mata yang menatap ke langit-langit.

"Selamat malam Luhan." katanya bersuara membuat Luhan tak punya pilihan lain

Luhan tampak mengangguk mengerti dan kemudian menyusul Sehun berbaring di ranjangnya "hmm Selamat malam Sehun."

Dan setelahnya hanya suara hujan yang terdengar. Kedua mata itu belum terpejam karena masih bergelut dengan pikirannya masing-masing. Ada perasaan gundah yang menggerogoti keduanya merasa takdir begitu kejam mempermainkan mereka. Mereka begitu dekat saat ini, tapi sebuah status dan kesalahan di masa lalu harus kembali menjadi penghalang di antara keduanya. Membuat kedua raga itu ingin memberontak namun saat pikiran mengambil alih. Keduanya harus menerima takdir yang mempermainkan mereka saat ini.

"Luhan..."

"hmm.."

"Apa seperti ini rasanya saat aku menyakitimu?"

"Kau bicara apa?" gumam Luhan sedikit bersandar ke kepala ranjang tempat tidurnya dan melihat Sehun yang masih menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

"Aku hanya ingin tahu apa kau merasakan hatimu berdenyut sakit seolah ada sesuatu yang menusukmu berkali-kali tepat dihatimu saat aku mengabaikanmu?"

"Saat aku berteriak padamu?"

"Saat aku menolak kehadiranmu?"

"Saat aku menyakitimu Luhan?"

Sehun bertanya dan terdengar semakin samar di setiap pertanyaannya. Terdengar sekali jika saat ini pria yang selalu berkata kasar pada Luhan saat itu sedang menahan rasa penyesalan teramat yang menghimpit hatinya

Sementara Luhan sedikit tertegun mendengar pertanyaan Sehun yang membuatnya mengingat luka lama yang sangat menyakitkan untuknya. Membuat bibir tipis itu tersenyum pahit dan mengenang saat dimana Sehun benar-benar tidak menginginkannya "Ya...Hatiku sakit saat kau mengabaikan aku. Rasanya seperti ada yang dicabut secara paksa dari hatimu tapi kau harus bertahan dengan kuatnya mengabaikan rasa sakit itu." Katanya tertawa lirih membuat Sehun duduk menatapnya di sofa saat ini.

"Aku bisa menerima siapapun membenciku. Entah itu Yunho, Jaejoong, Kai maupun Kyungsoo aku tidak peduli. Tapi saat kau yang mengatakannya-...Aku hancur Sehunna. Aku kesulitan bernafas setiap kau menolak kehadiranku. Aku mencintaimu tapi kau-..."

Luhan terisak menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya tiba-tiba merespon cepat bagaimana saat Sehun menolaknya dan membencinya saat itu. "Tapi kau terus mengatakan kalau hubungan kita adalah sebuah kesalahan. Aku bahkan masih membencimu sampai saat ini karena telah mengatakan hal itu." Gumam Luhan menghapus cepat air matanya dan menatap kosong kedepan.

"Kalau begitu aku sudah mendapatkan hukumanku." Ujar Sehun terlampau bergetar membuat Luhan kembali menoleh menatapnya.

"Aku tidak bisa menjaga kekasihku dengan baik. Aku membuat raganya terluka, aku secara keji membuat batinnya menderita. Aku membuatnya berkali-kali menangis dan merasa terhina. Aku bahkan pernah berbuat kasar padanya. Sampai akhirnya dia direbut dariku dan sudah berbahagia dengan pria lain sementara aku hanya bisa berpura-pura merelakannya dengan hati yang begitu sesak setiap kali aku bernafas. Aku-..."

"Aku merindukan kekasihku Luhan-...Aku merindukanmu."

Sehun menghapus cepat air matanya dan tak lama kembali berbaring di sofa. Dia membelakangi Luhan tak sanggup lagi melihat wajah Luhan yang begitu ia rindukan. Sementara Luhan hanya bisa menatap punggung yang selalu terlihat kokoh itu bergetar saat ini.

Melihat Sehun menangis adalah salah satu kelemahan terbesar Luhan, karena setiap pria tampan itu terlihat terluka maka Luhan akan merasakan luka yang jauh lebih besar dari yang Sehun rasakan. Dan Luhan menyesal karena saat ini, dirinyalah yang membuat punggung itu terus bergetar tanpa bisa menenangkannya.

Aku juga merindukanmu Sehunna.

Luhan secara diam-diam pun terisak begitu pilu menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara, dia juga berbaring membelakangi Sehun memukul berkali-kali dadanya agar tidak merespon rasa sakit secara berlebihan sambil terus menggigit kencang bibirnya agar tak mengeluarkan suara.

Batin keduanya memberontak saat ini. Bertanya-tanya kenapa kisah cinta mereka serumit dan sesakit ini. Merasa marah karena tak pernah mendapat jawaban hingga akhirnya mereka harus kembali saling kehilangan. Sehun mungkin yang terlihat paling menderita saat ini, namun menjaga dua hati seperti yang Luhan lakukan saat ini tidaklah mudah. Karena dia akan menjadi yang paling hancur jika salah satu hati itu terluka.


tobecontinued...


gaisssss... gabisa lima belas chapter nih kayanya...lebihin dua chapter gpp deh ya...

.

Part 14 ini dibagi dua yak... part b nya bakal di update lagi hari minggu. Tadinya mau langsung tapi gw give up...words nya kebanyakan pusyingggg barbie!.. Part B diperkirakan bakal lebih panjang dari part sekarang. Jadi tunggu dua hari lagi yyaaa..

.

Okay happy reading n review...

.

Rencana update: Next : Restart ...disusul tdf end chap...terus mungkin restart lagi biar dua itu end dulu... baru yang masih ongoing termasuk Totally captivated sama Our tomorrow buat yang masih setia nungguin dua ff yang super hiatusnya kaya nunggu lebaran monyet itu :" maapin yak

.

Seee yaaaaaaa soon :)