Previous...
"Kalau begitu aku sudah mendapatkan hukumanku." Ujar Sehun terlampau bergetar membuat Luhan kembali menoleh menatapnya.
"Aku tidak bisa menjaga kekasihku dengan baik. Aku membuat raganya terluka, aku secara keji membuat batinnya menderita. Aku membuatnya berkali-kali menangis dan merasa terhina. Aku bahkan pernah berbuat kasar padanya. Sampai akhirnya dia direbut dariku dan sudah berbahagia dengan pria lain sementara aku hanya bisa berpura-pura merelakannya dengan hati yang begitu sesak setiap kali aku bernafas. Aku-..."
"Aku merindukan kekasihku Luhan-...Aku merindukanmu."
Sehun menghapus cepat air matanya dan tak lama kembali berbaring di sofa. Dia membelakangi Luhan tak sanggup lagi melihat wajah Luhan yang begitu ia rindukan. Sementara Luhan hanya bisa menatap punggung yang selalu terlihat kokoh itu bergetar saat ini.
Melihat Sehun menangis adalah salah satu kelemahan terbesar Luhan, karena setiap pria tampan itu terlihat terluka maka Luhan akan merasakan luka yang jauh lebih besar dari yang Sehun rasakan. Dan Luhan menyesal karena saat ini, dirinyalah yang membuat punggung itu terus bergetar tanpa bisa menenangkannya.
Aku juga merindukanmu Sehunna.
Luhan secara diam-diam pun terisak begitu pilu menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara, dia juga berbaring membelakangi Sehun memukul berkali-kali dadanya agar tidak merespon rasa sakit secara berlebihan sambil terus menggigit kencang bibirnya agar tak mengeluarkan suara.
Batin keduanya memberontak saat ini. Bertanya-tanya kenapa kisah cinta mereka serumit dan sesakit ini. Merasa marah karena tak pernah mendapat jawaban hingga akhirnya mereka harus kembali saling kehilangan. Sehun mungkin yang terlihat paling menderita saat ini, namun menjaga dua hati seperti yang Luhan lakukan saat ini tidaklah mudah. Karena dia akan menjadi yang paling hancur jika salah satu hati itu terluka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Life is the only game which has no pause, no resume and norestart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
"Kau ada disini?"
Sehun yang sedang menyesap teh hangatnya di halaman depan penginapan mereka sedikit menoleh dan tersenyum mendapati Luhan yang sedang berjalan mendekatinya.
"Kau sudah bangun?"
"Aku bertanya lebih dulu." Katanya mengingatkan Sehun yang terlihat tersenyum
"hmm...Aku sedang menikmati pemandangan disini sambil menunggu kau bangun dari tidurmu."
"Kenapa tidak menunggu dikamar?"
"Kau tahu Luhan apa yang paling aku suka darimu saat kita masih bersama?"
Luhan sedikit mengernyit dan menggeleng lemah sebagai jawaban "Apa?" katanya bertanya membuat Sehun kembali tersenyum menatap beberapa wisatawan asing yang masih bersemangat melakukan perjalanan walau semalam hujan turun dengan derasnya.
"Saat kau tidur. Wajahmu selalu terlihat seperti malaikat cantik untukku. Dan aku tidak bisa melihatnya lebih lama lagi karena nanti kau akan merasa terganggu." Gumamnya memberitahu Luhan yang hanya diam tak merespon ucapan Sehun.
"ah-...Sebaiknya kita segera pergi. Kau sudah siap?" Sehun berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Luhan yang masih terdiam.
Luhan pun mengangguk dan tak lama mengikuti Sehun yang sudah berjalan menduluinya menuju ke tempat mereka akan mengadakan survey selanjutnya.
Dan tak lama keduanya sampai di tempat yang telah direncanakan sebelumnya. Luhan keluar dari mobilnya diikuti Sehun yang membuka kacamata hitamnya dan melihat beberapa orang karyawannya dan rekan kerja Luhan sedang berbincang bersama warga dan semua terlihat lancar untuk saat ini.
"Aku rasa proyek ini akan berjalan lancar." Katanya berdiri di samping Luhan yang mengangguk membenarkan ucapan Sehun "Aku juga merasa seperti itu."
"Manager Choi!"
Luhan sedikit mengernyit saat Yongdae berlari ke arahnya terlihat begitu panik. "Kau darimana saja? Sesuatu telah terjadi."
"Ada apa? Apa ada masalah dengan proyek kita?" katanya bertanya pada Yongdae yang terlihat ketakutan.
"Bukan proyek kita tapi Tuan dan nona Choi ada disini."
Sehun menyadari perubahan raut wajah Luhan yang terlihat memucat, dia kemudian sedikit mengerjap dan menatap Yongdae yang masih terlihat ketakutan "Dimana mereka?"
"Ada disana. Mereka sedang mencarimu."
Luhan sedikit menoleh ke arah Yongdae yang menunjuk dan tersenyum getir melihat adik lelaki dan adik perempuan dari Seunghyun yang sepertinya terlihat geram dan tak sabar untuk bertemu dengannya.
"Baiklah aku kesana." Luhan kemudian bersiap berjalan mendekati kedua kakak beradik yang tak pernah menyukainya itu melewati Sehun yang terlihat ingin bertanya.
"Sehun..." Luhan berhenti dilangkahnya dan memanggil Sehun yang masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Ada apa?"
"Jangan mendekatiku setelah ini dan jangan melakukan apapun saat kau melihat apa yang akan terjadi padaku sebentar lagi. Tetap disini dan aku mohon jangan sampai Sulli melihatmu." Ujarnya memberitahu Sehun tanpa menoleh ke arah Sehun dan kemballi berjalan mendekati kedua kakak dan adik iparnya yang terlihat geram saat ini.
Sehun masih tak beranjak dari tempatnya saat ini dan memperhatikan Luhan yang masih mendekati seorang pria yang tak ia kenal bersama Sulli yang terlihat memaki semua karyawan yang datang ke tempat ini bersama Luhan. Matanya terus memperhatikan Luhan dan tak lama membelalak saat melihat pria cantiknya seketika tersungkur ke tanah karena seseorang memukul telak wajahnya.
"BRENGSEK! KAU PIKIR KAU SIAPA BERANI MENGAMBIL ALIH PROYEK INI? PROYEK INI MILIKKU. DASAR SAMPAH!"
Sehun terlihat menggeram marah dan berjalan mendekati Luhan sampai asisten Luhan bersuara membuatnya kembali berhenti di tempatnya.
"Sebaiknya anda mendengarkan apa yang Manager Choi katakan. Jangan dekati dia dan hanya melihat apa yang terjadi saat ini."
"Siapa pria sialan itu?" geram Sehun bertanya dan semakin tak bisa menahan diri melihat Sulli juga memaki Luhan yang hanya diam tak membalas.
"Choi Minho. Putra kedua tuan Choi. Dia merupakan wakil direktur di Choi coorp saat ini. Obsesinya untuk menjadi pemilik perusahaan ayahnya membuatnya akan melakukan apapun untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya. Dan saat ini Luhan adalah salah satu pria yang mengganggu tujuannya karena Tuan besar menganggap dirinya masih belum bisa untuk menjalankan perusahaan melihat kemampuan Luhan yang tak bisa diremehkan jika menyangkut kerjasama dengan perusahaan lain sangat menguntungkan."
"Lalu kenapa kalian hanya diam? Kenapa kalian membiarkan mereka menyakiti Luhan?!"
"Itu karena jika kami menyakiti Tuan muda ataupun Nona Choi. Kami akan kehilangan pekerjaan kami. Percayalah padaku, Luhan tidak pernah diterima di keluarga Choi. Dia hanya dimanfaatkan."
Sehun semakin menggeram dan berniat menghentikan perbuatan gila kedua adik Seunghyun sebelum matanya bertatapan dengan mata Luhan yang kini memintanya untuk tetap berada disana dan tak melakukan apapun.
"sial!"
Sehun awalnya berniat mengabaikan peringatan Luhan sampai akhirnya dia tak bisa melakukan apapun karena Luhan menatapnya terisak saat ini.
Dan sepanjang hari itu dilalui oleh Sehun dan Luhan di tempat berbeda. Sehun memutuskan untuk tidak berada satu tempat dengan bajingan yang sudah berani menyakiti Luhan didepan umum, takut merasa tak bisa menahan diri sementara Luhan terus memintanya untuk tidak mendekatinya sepanjang hari ini.
..
..
..
Malam telah kembali peraduannya, namun rasa kesal dan marah belum hilang dan masih terlihat dari seorang pria tampan yang masih terlihat gusar sejak pagi tadi. Pria itu kini sedang berjalan mencari sosok mungil yang memintanya untuk menghindarinya sepanjang hari ini karena kedatangan keluarga barunya yang terlihat sangat membenci pria cantiknya. Membuat banyak pertanyaan di benak seorang Oh Sehun tentang bagaimana Seunghyun dan keluarganya memperlakukan Luhan di tengah-tengah mereka.
Dan karena hal itu pula, Sehun menggunakan sepanjang hari ini untuk mencari tahu tentang keluarga Choi lebih banyak dan sedikit terkejut mendapati kenyataan karena tak hanya Choi Minho yang membenci Luhan, Sulli dan ayah Seunghyun yang ternyata memanfaatkan Luhan untuk keperluan bisnisnya.
Sehun tak bisa membohongi dirinya kalau dia sangat marah mengetahui hal ini, membuatnya ingin bertanya langsung pada Luhan dan sedikit tertegun saat melihat pria mungil yang sedang ia cari kembali jalan terpincang dan terlihat kesakitan.
"Kalau begitu kita lakukan besok. Jangan memaksa warga, ucapan wakil direktur sepertinya sedikit banyak mempengaruhi mereka." Terdengar suara Luhan memberitahu asistennya dan asisten perwakilan dari Kim coorp agar menyudahi pekerjaan mereka hari ini.
"Apa menurutmu ini akan berhasil?"
Luhan kembali berjalan menuju kursi terdekat dengan sedikit terpincang dan kemudian tersenyum meyakinkan seluruh rekan kerjanya "Aku yakin ini akan berhasil, percaya padaku. Sekarang kalian boleh beristirahat."
Dan tak lama semua yang sedang berbicara dengan Luhan mengangguk mengerti. Satu persatu meninggalkan Luhan yang masih membereskan dokumennya sampai seseorang menarik kursi didepan Luhan.
"Kau mengagetkanku." Gumam Luhan saat melihat wajah Sehun yang sedang menatapnya tak berkedip saat ini.
"Kakimu sakit?"
Luhan sedikit terkejut dengan pertanyaan Sehun yang langsung bertanya mengenai kakinya. Sedikit bertanya darimana Sehun tahu kalau memang dirinya sedang merasa nyeri dibagian lututnya saat ini.
"ah...Kau melihatnya ya?"
"Kau tidak seperti ini sebelumnya. Apa mereka menyakitimu terlalu banyak?"
"Mereka siapa? Jika yang kau maksud Minho dan Sulli kau salah. Aku selalu seperti ini kalau merasa terlalu lelah."
"akh.." Luhan sedikit meringis saat Sehun tiba-tiba berjongkok didepannya dan menekan lututnya kuat "Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Lututmu bahkan memar." Sehun menggeram menggulung celana Luhan sedikit kasar sebelum Luhan kembali menurunkan gulungan celananya untuk menutupi lututnya yang cacat.
"Aku baik-baik saja." Katanya membalas sebelum akhirnya kembali berdiri dan mulai mengutuk kakinya yang semakin terasa sakit karena belum lama tadi Sulli sengaja menginjak kencang lututnya yang cidera menggunakan heels yang ia gunakan.
"Apa kau sudah dapat penginapan lain?"
Merasa tak mendapat jawaban membuat Luhan sedikit menghela nafasnya dan mulai berjalan tertatih meninggalkan Sehun "Kalau belum aku tidak keberatan kembali berbagi kamar lagi denganmu." Ujarnya kembali berjalan dengan Sehun yang sudah mengikutinya dibelakang.
Sehun sendiri hanya memperhatikan Luhan yang sedang berjalan didepannya. Merasa begitu sesak mengira Luhan sudah sepenuhnya bisa kembali berjalan normal tanpa harus kembali merasa kesakitan lagi seperti yang sedang ia lihat saat ini.
"Luhan..."
Sehun sedikit berlari membantu Luhan yang terlihat kelelahan, dia memegang lengan Luhan tapi Luhan kembali menolak bantuan dari Sehun dengan tersenyum lembut "Aku bisa sendiri Sehun."
"Tapi kau kesakitan. Biarkan aku membantumu berjalan."
"Jika aku membiarkanmu membantuku berjalan, kau akan kembali merasa bersalah, dan aku tidak mau kau kembali menyalahkan dirimu sendiri." Katanya memberitahu Sehun dan mencoba kembali berjalan ke tempat penginapan yang sialnya hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
"haahh-...Kenapa tempatnya jauh sekali." Gumam Luhan terkekeh menyadari bahkan belum setengahnya dia berjalan tapi kakinya sudah begitu keram dan mati rasa.
Luhan sama sekali tidak bermaksud menolak bantuan Sehun, hanya saja jika ia membiarkan dirinya terlihat lemah didepan Sehun, itu hanya akan membuat mereka berdua kesulitan untuk tidak merasa bersalah satu sama lain.
Kalau saja kakinya tidak terus berdenyut sakit, mungkin Luhan akan membiarkan Sehun membantunya berjalan. Tapi karena rasanya semakin sakit dia khawatir Sehun akan melihatnya dan mulai berbicara menyalahkan dirinya dan Luhan tak mau mendengar kalimat penyesalan dan rasa bersalah lagi dari Sehun. Karena dia yakin Sehun-nya sudah sangat menderita dengan keputusan yang ia buat beberapa bulan lalu dan tak berniat untuk menambah penderitaan Sehun mengenai kondisi fisiknya saat ini.
Luhan masih terus berjalan perlahan sampai dirinya sedikit terkejut saat Sehun memegang lengannya dan tiba-tiba berjongkok didepannya.
"Naiklah ke punggungku. Aku akan membantumu berjalan."
Sungguh-...melihat punggung Sehun yang begitu kekar dan terlihat sangat nyaman membuat Luhan sedikit tergoda untuk segera menyerah dan membiarkan Sehun membantunya, tapi kemudian dia hanya bisa tertawa lirih sambil menggigit kencang bibirnya.
"Kau tidak pernah berubah Sehunna." Katanya berusaha tak menyakiti Sehun dengan ucapannya dan berjalan melewati Sehun yang masih berjongkok didepannya saat ini.
"Kau membuatku merasa bersalah jika hanya membiarkan aku melihatmu berjalan kesakitan seperti itu."
Luhan menghentikan langkahnya saat mendengar penuturan Sehun mengenai apa yang dia rasakan saat ini. Dia kemudian membalikan badannya dan sedikit meringis melihat betapa menderitanya wajah Sehun saat ini.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" katanya bertanya pada Sehun yang berjalan mendekatinya dan kembali berjongkok didepannya.
"Biarkan aku membantumu sekali ini saja. Naiklah ke punggungku."
"Aku mohon Luhan."
Luhan terdiam cukup lama sampai akhirnya dia menghela nafasnya dan memutuskan menyerah dan mengalah pada keinginan Sehun.
"Jika aku naik ke punggungmu apa kau tidak akan merasa bersalah lagi?"
"Ya."
"Baiklah. Kau menang hari ini." gumam Luhan dan tak lama melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun membuat Sehun sedikit tersenyum dan perlahan berdiri saat Luhan sudah berada di punggungnya.
"Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini." gumam Sehun membuat Luhan yang sedang bersandar di tengkuk Sehun sedikit bertanya dengan bingung.
"Melakukan apa?"
"Membawamu di punggungku. Aku selalu melakukan ini saat kau kesal padaku dan dalam sekejap kau akan memaafkan aku."
Luhan diam-diam tersenyum membenarkan kenangan indah itu, kenangan dimana Sehun selalu melakukan segala cara untuk menarik perhatian dirinya dan memaafkannya saat mereka bertengkar.
Luhan baru saja akan membalas ucapan Sehun sebelum menyadari ponselnya bergetar. Dia kemudian mengambil ponselnya di saku jasnya dan tersenyum mendapati nama Seunghyun tertera disana.
Sehun yang menyadari perubahan deru nafas Luhan pun hanya bisa tersenyum lirih menebak kalau Seunghyun lah yang sedang menghubungi Luhan saat ini. "Seunghyun menghubungiku." Gumam Luhan memberitahu Sehun.
"Angkatlah. Aku tidak akan bersuara."
Luhan pun melingkarkan tangan kanannya semakin dalam ke leher Sehun sementara tangan kirinya menggeser slide ponselnya dan menjawab panggilan pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
"Seunghyunna..."
"Sayang apa kau baik-baik saja? Aku dengar Minho dan Sulli datang ke tempatmu. Apa mereka menyakitimu."
Luhan ingin sekali menjawab iya dengan lantang mendengar pertanyaan Seunghyun. Tapi kemudian dia tahu itu sama saja membuat Seunghyun dan keluarganya kembali bertengkar hanya karena dirinya.
"hmm..Mereka datang menemuiku pagi ini. Tapi mereka tidak melakukan apapun padaku."
"Apa kau sedang menyembunyikan kesalahan mereka? Aku dengar mereka menyakitimu."
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu sayang. Aku baik-baik saja."
Sehun sendiri tersenyum getir karena dua hal mendengar percakapan Seunghyun dan Luhan. pertama Luhan masih pembohong yang buruk, kedua mendengar sapaan mesra Luhan untuk Seunghyun membuat dadanya merasa rematan kecil yang datangnya terus berulang dan tak mau hilang dengan cepat.
"Aku sudah beristirahat di penginapan. Kau sedang apa disana. Apa Tokyo sedingin Seoul malam ini?"
"Aku juga baru selesai mengurus beberapa kerjasama dengan klientku. Aku ingin sekali pulang ke Seoul dan menemui istriku."
"Kita akan segera bertemu sayang. Sekarang lebih baik kau beristirahat. Kau pasti lelah."
"Kau juga harus beristirahat Lu."
"Aku akan melakukannya."
"Kalau begitu sampai bertemu. Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu. Selamat malam Seunghyunna." Gumam Luhan menutup ponselnya dan secara tak langsung mendekap erat pria yang sedang menggendongnya seolah meminta maaf membuatnya mendengarkan percakapan yang pasti membuat hati Sehun sakit saat ini.
"Disini juga ada yang mencintaimu Lu."
Luhan meletakkan ponselnya kembali ke saku dan kembali bersandar di tengkuk Sehun yang terdengar sedih "Jangan mengatakannya terlalu jelas Sehunna. Kau membuatku merasa bersalah saat ini."
"Aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya."
"Terimakasih sudah mencintaiku kalau begitu."
Sehun hanya bisa kembali menghela nafasnya menahan untuk tidak terlalu memperlihatkan rasa cemburunya pada Luhan, dia kemudian memutuskan untuk mengakhiri suasana canggung ini dengan bertanya tentang Seunghyun pada Luhan.
"Apa keluarga Choi tidak menyukaimu?"
"hmmm...Hanya karena aku menikah dengan Seunghyun bukan berarti aku menjadi bagian keluarganya kan?"
"Lalu kenapa kau berbohong pada Seunghyun?"
"Tentang apa?"
"Tentang kedua adiknya."
"Aku tidak bisa memberitahunya bahwa kedua adiknya datang dan memperlakukanku seperti sampah kan? Seunghyun akan sangat marah jika tahu."
"Aku juga akan melakukan hal yang sama."
Luhan sedikit tersenyum mendengar penuturan Sehun yang sepenuhnya telah kembali menjadi Sehun yang pernah sangat mencintainya saat mereka bersama "Aku tidak mau membuat sebuah keluarga bertengkar karena diriku. Aku tidak menyukainya." Katanya sengaja memberitahu Sehun untuk mengingatkan bahwa hubungan Sehun dan Yunho juga menjadi renggang karenanya.
"Apa Seunghyun berada di Tokyo?"
Sehun yang tahu kemana arah pembicaraan Luhan selanjutnya langsung mengalihkan pembicaraan karena tak ingin membahas masalah Yunho saat ini.
"hmm.. Dia sedang memiliki pekerjaan disana dan sedang mengurus kepindahan kami untuk menetap disana nantinya."
Sehun berhenti melangkah saat mendengar penuturan Luhan mengenai dirinya akan menetap untuk selanjutnya " A-apa kau akan pergi lagi dari Seoul?" katanya bertanya sebiasa mungkin pada Luhan.
"Seunghyun bilang akan lebih baik untukku jika tidak menetap di Seoul."
Sehun tertawa pahit dan mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju penginapan mereka yang kini sudah terlihat. Membuat Luhan merasa tak tahan dengan keheningan ini dan memutuskan untuk memberikan sebuah tawaran pada Sehun.
"Hey Sehun..." Luhan memanggil Sehun dan semakin mengeratkan pelukannya di leher Sehun membuat Sehun sedikit menoleh ke arahnya.
"Ada apa?"
"Kenapa kita tidak berteman saja? Aku rasa kita akan cocok menjadi teman."
Permintaan Luhan saat ini bahkan lebih menyakitkan untuk Sehun, dia lebih memilih mendengar Luhan mengatakan cinta pada Seunghyun daripada harus menerima permintaan Luhan yang mengatakan ingin berteman dengannya.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa? Bukankah bagus jika kita berteman? Kita tidak perlu merasa canggung satu sama lain dan lagi kita bisa se-..."
"Aku tidak bisa berteman dengan pria yang aku cintai. Jadi simpan saja tawaranmu untukku."
Seketika bibir Luhan menutup saat Sehun dengan jelas mengatakan alasan kenapa dia menolak tawarannya untuk menjadi seorang teman karena Sehun mencintainya.
"Aku lebih memilih menjadi mantan kekasihmu daripada harus berpura-pura melupakan semuanya dan menjadi temanmu." Katanya memberitahu Luhan yang kini menyembunyikan wajahnya semakin dalam di tengkuk Sehun.
"Kau membuat posisi kita semakin sulit Sehunna." Gumam Luhan mulai sedikit terisak dengan meremat kencang leher Sehun yang kini memerah.
Sehun pun memilih diam tak menjawab dan hanya terus berjalan memasuki kamar mereka lalu membaringkan Luhan di tempat tidurnya secara perlahan. Sehun kemudian berjalan kekamar mandi dan mengambil air hangat serta alkohol untuk mengompres memar di kaki Luhan.
"Ini akan sedikit sakit. Tahan sebentar." Katanya memberitahu Luhan yang masih diam tak menatapnya.
"nghh..." Luhan sedikit meringis saat Sehun menekan kencang memar biru di lututnya menggunakan handuk kecil dan sedikit alkohol.
"Apa kau sudah memeriksakan kembali kakimu?"
Luhan menggeleng lemah dan menatap Sehun yang terlihat tampan karena berkeringat hingga membasahi kemejanya yang kini menampilkan lekuk tubuhnya. "Belum...Jadwalku tiga bulan lagi untuk melakukan check up."
Sehun menatap Luhan agak lama dan baru tersadar kalau bekas luka bakar itu terlihat membekas di sekitar leher Luhan "Apa ini sakit?" katanya bertanya menyentuh leher Luhan dan sedikit mengusap lembut leher yang terasa tegang saat ini "Sudah tidak lagi Sehun."
"Maaf membuatmu memiliki bekas luka seperti ini."
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu meminta maaf." Gumam Luhan menggenggam tangan Sehun yang masih mengusap lembut lehernya.
"Kapan kau pergi?"
"eh?" Luhan bertanya bingung saat Sehun mengubah topik pembicaraan mereka dengan cepat.
"Tokyo-...Kapan kau akan pindah kesana."
"Aku pikir kau sudah tidak mau membahasnya."
"Hanya ingin tahu."
"Tiga bulan dari sekarang aku akan pindah bersama Seunghyun."
Sehun kemudian hanya diam tak merespon, dirinya kembali fokus pada memar di kaki Luhan, sedikit memijat lembut sampai akhirnya semua pergerakannya berhenti total membuat Luhan tahu ada yang menganggu pria didepannya.
"Sehun apa kau baik-..."
"Jangan pergi lagi Lu."
Luhan sedikit membeku saat melihat Sehun yang kini menatapnya begitu putus asa dan terlihat memucat.
"Sehun.."
"Jangan pergi terlalu jauh dariku lagi. Waktuku hanya tinggal dua hari lagi bersamamu. Setelah itu aku yakin kau tidak akan mau bertemu lagi denganku. Itu tidak masalah untukku selama kau berada di tempat yang sama denganku. Aku diam-diam akan menemuimu tanpa menyapamu hanya untuk sekedar melepas rinduku."
"Tapi jika kau menetap di Tokyo semua itu akan semakin sulit untukku. Aku-...aku tidak mau kehilanganmu lagi Luhan. Aku janji tidak akan mengganggumu, aku bahkan tidak akan menunjukkan wajahku didepanmu. Hanya menetap dan jangan pergi lagi da-..."
Sehun sedikit terkejut saat Luhan tiba-tiba menarik lengannya, lalu beralih menahan tengkuk lehernya dan kemudian mencium lembut bibir Sehun yang terus mengucapkan kata-kata yang menyakitkan untuknya.
Sesaat keduanya hanya terdiam. Luhan tahu harusnya dia tidak melakukan hal ini pada Sehun. Dia tak seharusnya memberi harapan pada Sehun, tapi dia tidak tahan melihat Sehun menangis dan memohon seperti itu padanya, membuatnya ingin merengkuh erat tubuh yang terlihat rapuh didepannya saat ini.
Luhan semakin melingkarkan lengannya di leher Sehun dan perlahan dia menggerakan bibirnya untuk kembali membuat bibir Sehun yang bergetar menjadi sedikit lebih hangat. Sehun yang masih terdiam tak menyangka Luhan akan menciumnya ini pun diam-diam merengkuh pinggang Luhan agar mendekat dan mulai membalas lumatan-lumatan kecil Luhan untuknya. Sampai akhirnya Luhan melepas pagutan mereka dan menangkup wajah Sehun yang sangat ia rindukan ini.
"Aku benci saat kau menangis dan memohon padaku. Kenapa kau seperti ini?" Gumam Luhan yang tanpa sadar juga meneteskan air matanya membuat Sehun juga menangkup wajahnya dan mencium kening pria cantiknya cukup lama.
"Aku mencintaimu Luhan." Katanya membuat sesuatu dalam diri Luhan ingin memberontak dengan mata yang memanas ingin sekali menjawab ucapan cinta Sehun untuknya.
"S-Sehun aku..."
"Aku mencintaimu Luhan." Air mata Luhan pun kembali terjatuh saat mendengar ucapan cinta Sehun, dia tersenyumlirih dan terlihat sangat putus asa. Membuat Sehun tersenyum menatap Luhan.
"Tidak apa jika kau tidak membalas rasa cintaku, aku hanya terlalu bahagia bisa mendekapmu seperti ini lagi Lu-..."
Luhan terisak merasa sangat bingung dengan semua ucapan cinta yang akhir-akhir ini selalu ia dengar dari dua orang yang berbeda, membuat hatinya begitu merasa bersalah pada dua pria yang terlihat begitu tulus mencintainya. "Se-..sehun aku-.."
"sst...Jangan menangis sayang, aku tidak bisa membuatmu terus menangis." Gumam Sehun menangkup wajah Luhan dan menghapus air mata Luhan dengan cepat.
Keduanya berpandangan cukup lama sampai akhirnya Sehun kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan, deruan nafas mereka pun sangat terasa satu sama lain, Luhan memejamkan matanya saat bibir Sehun menyentuh bibirnya, jantung Luhan berdegup sangat cepat, masih berfikir bahwa semua yang ia dan Sehun lakukan adalah satu kesalahan, namun tubuhnya berkata lain, tubuhnya merespon setiap sentuhan Sehun membuatnya kehilangan akal sehatnya karena terlalu merindukan pria yang saat ini sedang mendekapnya erat di pelukannya.
Sehun sendiri masih sekedar menyatukan bibirnya dan bibir Luhan tanpa menggerakannya. Ia membiarkan perasaan mereka terbiasa dulu saat ini. Segala perasaan yang masih bergelut dalam pikiran masing-masing yang mungkin akan menjadi penyesalan setelahnya. Mengabaikan kenyataan bahwa mereka akan menyakiti banyak hati termasuk hati mereka sendiri, namun saat ini keduanya benar-benar menyerah pada rasa rindu mereka.
Untuk Sehun , dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat kembali bisa mendekap Luhan seerat ini, mencium aroma khas Luhan yang selalu membuatnya menginginkan untuk menyentuh pria cantiknya lagi dan lagi. Sementara Luhan dia juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya mengetahui seluruh rasa cinta Sehun masih untuknya dan itu begitu besar.
Sehun mulai menghisap bibir bawah Luhan, mata mereka masih terpejam, tangan Luhan pun dengan ragu menyentuh dada bidang Sehun, terasa sangat jelas oleh Luhan nafas Sehun yang tak teratur saat Luhan menyentuh dadanya. Perasaan Sehun sangat kacau. Sehun melepas ciuman tersebut dan menatap Luhan saat ini.
"Mengapa? Mengapa rasanya sakit?" Ujar Sehun bergetar membuat Luhan tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang sama dengan yang Sehun rasakan saat ini.
"Aku tahu ini salah. Tapi biarkan malam ini menjadi malam terakhir yang indah untuk kita berdua. Aku-...Aku juga merindukanmu Sehunna."
Sehun memejamkan erat matanya saat kata rindu dari Luhan terasa mencabik hatinya, merasakan sakitnya menjadi berkali lipat saat suara isakan Luhan begitu menuntut seakan menyalahkannya karena Sehunlah yang bertanggung jawab atas perpisahan yang membuat hubungan mereka benar-benar berakhir.
Suara isakan Luhan terdengar begitu memilukan untuk Sehun. Membuat Sehun menyadari kalau dirinya terus menerus menyakiti Luhan tanpa henti.
"Aku benar-benar menyesal Luhan. Seharusnya aku tidak melepaskanmu. Aku tidak tahu kalau rasanya bisa sesakit ini. Maaf membuatmu terus menangis dan merasakan sakit. Seharusnya kau sudah berbahagia saat ini, tapi aku terus datang mengganggu. Aku-.."
"Kita berdua sama-sama mengambil keputusan yang salah. Kita berdua bersalah atas apa yang terjadi pada hubungan kita Sehunna. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini Sehunna."
Luhan menghapus air mata Sehun dan mendekatkan wajahnya mengecup bibir Sehun sekilas, matanya pun terpejam merasa begitu sakit di setiap sentuhan yang mereka lakukan.
"Aku minta maaf karena tak bertahan sedikit lebih lama untuk menunggumu. Aku juga bersalah. "
Sehun melihat Luhan memejamkan matanya secara paksa, dia tahu hati Luhan sedang kacau dan merasa sakit saat ini, membuatnya tersenyum lirih menangkup wajah Luhan dan kembali mencium bibir tersebut, mereka mengabaikan rasa penyesalan yang saat ini sedang dirasakan keduanya.
Kecupan-kecupan itu pun telah berubah menjadi lumatan, Sehun menikmati bibir manis Luhan, rasanya ia sangat merindukan bibir ini, bibir yang selalu tersenyum menatapnya, selalu memperhatikannya dan bibir yang beberapa tahun ini selalu ia buat menangis terisak karena kejahatannya sendiri. Sehun sedikit kehilangan kendalinya dan melumat bibir Luhan sedikit kasar karena terlalu merindukan Luhan dan segala tentang dirinya.
"Mmpphhh…" Desahan Luhan pun terdengar di sela ciuman tersebut, suara ini pun suara yang sangat Sehun rindukan, Sehun semakin tidak bisa menghentikan sentuhannya pada tubuh Luhan. Sementara tangan lembut Luhan mulai mengusap lembut dada bidang Sehun, dalam ciuman tersebut mereka menarik nafasnya, setiap sentuhan ini menimbulkan kerinduan mendalam.
Sehun melepas ciuman tersebut dan menatap Luhan, tangannya pun menyentuh wajah cantik Luhan.
"Aku mencintaimu." Bisik Sehun, Luhan pun hanya bisa terisak begitu kacau karena terus menahan perasaannya sendiri.
"Kau hanya perlu tahu aku mencintaimu Luhan." gumamnya menatap Luhan dan kembali menikmati bibir milik Luhan.
Sehun sedang melucuti seluruh kemeja Luhan saat ini sampai akhirnya dia bisa menikmati setiap inci tubuh Luhan yang tak terhalangi sehelai benang pun. Tangannya terus bekerja sementara bibirnya sibuk mengecup, menjilati, bahkan menghisap bahu hingga dada Luhan dan meninggalkan beberapa warna merah keunguan, membuat pandangan Luhan semakin samar dan mendesahkan nama Sehun tanpa henti.
"hmph...Sehun-...nghh" Luhan memejamkan matanya merasakan nikmat yang ia rasakan, tangannya meremas rambut Sehun dan menekan dalam kepala tersebut agar Sehun semakin memperdalam kecupannya.
Tangan Sehun pun tak mau berdiam saja, selain meremas dada Luhan, tangannya yang lain memanjakan milik Luhan membuat sang pemilik terus mendesah nikmat. Membuat Sehun sedikit tersenyum karena Luhan sudah mulai membuka dirinya ditandai dengan banyaknya cairan yang Luhan keluarkan membasahi tangannya.
Sehun beranjak menuju bibir Luhan, ia kecup sekilas bibir mungil tersebut dan menatap Luhan, ia melihat wajah Luhan yang penuh keringat dengan nafasnya yang terengah membuatnya terlihat begitu seksi di mata Sehun.
"Kau hal terindah yang pernah aku miliki Luhan." gumam Sehun dan tak lama kembali mengecup dan melumat bibir Luhan, sementara tangannya meremas bokong Luhan dan secara perlahan jari telunjuk Sehun pun mulai memasuki hole Luhan membuat Luhan seketika membelalak menahan perih.
"Mmmmppkkhh."
Sehun melihat mata Luhan menahan sakit karena jari telunjuk Sehun mulai memasuki tubuhnya, Sehun kembali melumat bibir Luhan berusaha mengalihkan rasa sakit yang sedang Luhan rasakan dan membiarkan jari telunjuknya berada di dalam sana agar Luhan membiasakan dirinya.
Setelah merasa Luhan mulai terbiasa, Sehun mulai menggerakan jarinya keluar masuk kedalam lubang sempit itu membuat ekspresi kenikmatan di wajah Luhan.
"Sehunna-...hnghhhhh..." Luhan benar-benar di buat mabuk oleh jari telunjuk Sehun, membuat bibir tipis itu tersenyum puas "Terus mendesahkan namaku sayang." Ujar Sehun berbisik di telinga Luhan.
"Se-..hmphhhhh"
Mendengar erangan kenikmatan Luhan, membuat Sehun tanpa ragu menambahkan kedua jarinya sekaligus membuat Luhan kembali tersentak karena merasa sangat penuh di bagian bawahnya saat ini
"Aaakkkhhhh...Sehunna.. akhhh."
"Bersabarlah sayang. Sakitnya akan hilang" gumam Sehun memberitahu Luhan membuat Luhan memejamkan matanya, berusaha menikmati sentuhan yang sudah lama tak lagi ia rasakan.
Sehun sedikit menggeram saat lubang Luhan menjepit rapat jari-jarinya membuatnya tak sabar untuk segera menyatukan tubuh mereka saat ini. Dia pun kembali memasukkan jari-jarinya ke dalam hole Luhan membuat lubang sempit itu melebar, dan tak lama tersenyum karena suara desahan Luhan kembali terdengar.
Merasa cukup melakukan pemanasan pada tubuh Luhan, Sehun mengeluarkan seluruh jarinya membuat Luhan mendesah frustasi. Dan tak lama kemudian ia membuka lebar paha Luhan, membuat Luhan sedikit melirik ragu pada Sehun yang sudah mepersiapkan miliknya pada lubang Luhan.
"Aku akan melakukannya Lu..." Ujarnya memberitahu Luhan dan tak lama Luhan pun mengangguk. Jantungnya berdegup dengan cepat saat ini. Sehun menarik nafas dan mulai menuntun miliknya memasuki lubang Luhan. Sampai akhirnya
"Sehun ini sa-...akhhhhh..." Luhan mencengkram kuat sprei dan menggigit kencang bibirnya menahan perih yang kembali ia rasakan. Sementara Sehun masih sedikit memaksa agar miliknya masuk pada lubang Luhan tetapi sepertinya ini butuh banyak waktu, membuatnya sedikit berpikir kenapa bagian bawah tubuh pria cantiknya terasa seperti belum dijamah untuk waktu yang lama.
"Ssshhhh… sebentar sayang. Sakitnya hanya akan sebentar" Ujar Sehun dengan salah satu tangannya meremas milik Luhan, Sementara kejantanannya terus berusaha menerobos lubang sempit tersebut, ini bahkan belum setengahnya tapi hole Luhan menjepitnya dengan begitu kuat membuat Sehun semakin menggila. Sehun pun menggeleng menyadari akan terus membuat Luhan kesakitan seperti ini, ia pun mengeluarkan miliknya dan menekan kuat miliknya ke hole Luhan dalam satu kali hentak.
"Se-Sehuun...akhhhh."
Luhan memekik saat tubuhnya menyatu dengan tubuh Sehun. Sungguh-...rasanya terlalu menyakitkan saat ini, namun saat Sehun kembali mengecupi lembut wajahnya, membuatnya menyadari kalau dia memang sangat merindukan sentuhan Sehun pada tubuhnya.
"Maafkan aku Luhan." Ujar Sehun mengecup kedua mata Luhan bergantian membuat Luhan sedikit lebih tenang karenanya.
"Boleh aku mulai bergerak?" katanya bertanya pada Luhan yang kemudian mengangguk sebagai jawaban.
Sehun tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat Luhan memberikan persetujuan untuknya, dia kemudan menggerakan kejantannya secara perlahan dan mulai mencari sesuatu didalam tubuh Luhan yang akan membuatnya mengerang merasakan nikmat pada akhirnya.
Sehun masih menggerakan perlahan miliknya dengan tatapan yang tak pernah lepas dari wajah Luhan, sedikit tersenyu saat menyadari wajah Luhan yang meringis sakit kini mulai berganti menjadi sedikit lebih rileks dengan desahan yang tanpa sengaja keluar dari bibir mungil miliknya.
Keduanya pun masih menggerakan tubuh mereka masing-masing. Dimana Sehun menghentak cukup kencang mengenai bagian yang bisa membuat Luhan menggelinjang dan terus ia lakukan berulang sampai akhirnya
"akhhhmphhhh.."
Keduanya mengerang saat mencapai kenikmatan bersama. Saling memandang cukup lama sampai akhirnya Luhan terisak memeluk kencang leher Sehun "Apa kau menyesal melakukannya denganku."
Luhan menggeleng cepat dan hanya memeluk Sehun dengan kedua tubuh mereka yang masih menyatu "Aku-...aku masih sangat menginginkanmu Sehunna. Aku merindukanmu."
Sehun kemudian menangkup wajah Luhan dan mencium telak bibir Luhan yang masih terisak pilu "Apa kau yakin?"
Luhan mengangguk sebagai jawaban, membuat Sehun sedikit tersenyum dan sepertinya malam ini akan berakhir panjang untuk kedua insan yang masih saling merindukan kehangatan satu sama lainnya.
..
..
..
Keesokan paginya Sehun perlahan membuka matanya, sedikit merasa kehilangan karena tak ada tubuh mungil yang ia dekap seperti saat malam tadi seusai keduanya melakukan percintaan dengan segala rasa putus asa dan rasa bersalah yang keduanya rasakan saat gairah mengusai diri mereka masing-masing.
Sehun masih mengingat dengan jelas betapa dirinya dan Luhan begitu saling merindukan malam tadi, entah berapa banyak erangan yang keduanya lontarkan bersama saat mencapai kepuasaan yang membuat mereka menginginkan lebih dan lebih. Dan tak ada yang bisa membuat Sehun tersenyum selain kenyataan bahwa dia mendapatkan Luhannya kembali. Setidaknya untuk malam tadi-..dia dan Luhan bisa merasakan kembali kebahagiaan mereka saat menjadi sepasang kekasih, tanpa harus merasakan penyesalan yang mungkin sedang Luhan rasakan saat ini.
"Hey paman. Apa kau melihat pria yang bersamaku semalam?"
Setelah membersihkan dirinya, Sehun dengan segera keluar dari kamarnya dan tak sengaja berpapasn dengan pemilik penginapan berharap paman tersebut melihat kemana Luhan pergi.
"ah-..Kekasihmu pagi tadi meninggalkan tempat ini terburu-buru. Sepertinya dia mendapat panggilan penting karena tadi pergi sambil memegang ponsel di telinganya."
Sehun tampak mengernyit dan kemudian bertanya-tanya hal apa yang membuat Luhan pergi dengan terburu "Baiklah. Aku permisi paman." Sehun pun tak lama pergi meninggalkan penginapan untuk segera menemui Luhan dan bertanya langsung padanya.
Blam...!
Mata Sehun langsung mencari keberadaan Luhan sesaat setelah ia keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Melihat setiap keramaian yang terjadi didepannya dengan teliti sampai akhirnya dia menemukan sosok Luhan yang terlihat menawan seperti biasa sedang berbicara serius pada asistennya, membuat senyum terukir di wajah tampan Sehun yang kini menatap Luhan tak berkedip.
"Syukurlah kau terlihat baik-baik saja." Gumamnya dan memutuskan berjalan mendekati Luhan sampai kemudian langkahnya terhenti dan seketika matanya memanas karena hatinya begitu sakit melihat apa yang terjadi didepannya saat ini.
Kenyataan bahwa Seunghyun berada di Buyamdong dan sedang melumat lembut bibir Luhan di depan matanya saat ini cukup membuat Sehun tertohok dan seketika merasa sesak karena tak bisa melakukan apapun. Membuat dirinya tertawa pahit mendongakan kepalanya dan tak lama menatap pemandangan menyakitkan itu sekali lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk menjauh pergi dan tak mau terlihat hancur di depan kedua pasangan yang sedang membagi cinta mereka saat ini.
Luhan memejamkan erat matanya melihat dengan jelas bagaimana hancurnya wajah Sehun beberapa saat yang lalu. Membuatnya diam-diam terisak menyadari betapa hebatnya dia menghancurkan perasaan seseorang tanpa bisa melakukan apapun untuk membuat Sehun merasa lebih baik.
"maaf Sehun..maafkan aku."
Sementara itu Sehun memutuskan melupakan serangkaian adegan yang membuat hatinya berdenyut sejak pagi. Dia mulai menyibukkan dirinya dengan semua dokumen yang harus ia tanda tangani dan memutuskan untuk berada di tenda Kim coorp sepanjang hari, enggan untuk keluar bahkan hanya untuk sekedar makan siang karena tak mau membuat bagian tubuhnya merasa sakit melihat bagaiman Seunghyun mendekap Luhan dan tak membiarkan siapapun berbicara dengan Luhan walau untuk membicarakan pekerjaannya.
"Paman..." Sehun yang sedang mempelajari dokumen perjanjian resmi dengan Choi coorp memanggil sekertaris Jongin yang terlihat sedang menyiapkan beberapa dokumen lain untuk Sehun.
"Ya direktur. Ada apa?"
"Hubungi Jongin dan katakan padanya ada beberapa kesepakatan dengan Choi coorp yang aku tolak."
"Kesepakatan apa yang anda tolak direktur?"
"Disini dikatakan kita hanya akan menerima 40% dari laba bersih yang akan diterima pada hari ketujuh pembukaan resmi hotel. Aku menolaknya. Paling tidak sebulan pertama peresmian pembukaan hotel harus kita dapatkan sama rata."
Sekertaris Han pun mengerti keinginan Sehun dan tak lama menganggukan kepalanya untuk segera menghubungi Jongin seperti permintaan Sehun "Saya akan segera menghubungi Presdir Kim dan memberitahu tentang usulan anda direktur."
"hmm.. Lakukan dengan cepat. Sepertinya hari ini hari terakhir kita bisa bernegoisasi dengan mereka."
Sekertaris Han pun segera meninggalkan tenda dan berniat menghubungi Jongin meninggalkan Sehun sendirian yang kini terlihat kembali sibuk dengan pekerjaannya sampai perhatiannya terganggu karena seseorang masuk kedalam tenda miliknya.
"Ternyata benar kau ada disini."
Sehun mengenali benar suara berat milik pria yang menyapanya, membuatnya sedikit menoleh dan hanya tersenyum getir menatap Seunghyun yang kini berjalan mendekatinya.
"Ya aku disini." Gumam Sehun mengulurkan tangannya untuk menjabat Seunghyun namun diabaikan Seunghyun yang lebih tertarik menarik kursi didepan Sehun.
"Aku tidak bisa percaya Luhan tidak memberitahuku tentang keberadaanmu." Katanya tersenyum pahit dan kini menatap tajam Sehun dengan tatapan khas miliknya.
"Jangan salahkan Luhan. Dia tidak tahu apapun mengenai keberadaanku pada awalnya."
"Aku tahu sialan. Aku yakin kau sengaja melakukan ini. Kau memanfaatkan Jongin untuk bisa bertemu dengan Luhan."
"Ya aku sengaja melakukannya untuk bertemu dengan Luhan." Katanya mendesis dan menatap Seunghyun tak kalah tajam saat ini.
Keduanya masih bertatapan tajam sampai akhirnya Seunghyun tertawa meremehkan segala ketidakberdayaan Sehun untuk menemui Luhan menggunakan caranya.
"Kau terlihat menyedihkan asal kau tahu."
"Aku tahu, sudah banyak yang mengatakannya. Kau tak perlu repot-repot memberitahuku." Gumam Sehun yang berusaha mengabaikan kedatangan Seunghyun dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aku akan membawanya pergi hari ini."
Kegiatan Sehun yang sedang menandatangani beberapa dokumen terhenti dan dengan sangat berat hati harus kembali menatap wajah Seunghyun yang kini memandangnya tajam dan terdengar serius saat ini.
"Aku melakukan kesalahan dengan membiarkan Luhan bertemu denganmu dan aku bersumpah itu tidak akan pernah terulang lagi." Geramnya memberitahu Sehun yang seketika memucat mendengar ancaman Seunghyun untuknya.
"Kau tidak bisa melakukan itu-...Kau akan membuat Luhan terlu-..."
"TENTU SAJA AKU BISA!"
Seunghyun menggebrak meja Sehun dan menatap Sehun berkilat saat ini "Aku akan membawanya sejauh mungkin darimu. Dan jangan berharap bisa menemuinya walau hanya dalam mimpi." Ujarnya mendesis dan tak lama meninggalkan Sehun yang terlihat mengepalkan erat tangannya dan tubuhnya mulai merespon segala ucapan Seunghyun dengan memberikan rasa sakit terutama di bagian hatinya.
"Luhan..." gumam Sehun yang secara refleks menggumamkan nama Luhan berharap rasa takutnya akan segera hilang namun semua itu percuma. Dia butuh bicara dengan Luhan-... hanya Luhan yang ia inginkan saat ini "Luhann.." bisikannya berubah menjadi teriakan tertahan saat ini sampai akhirnya Sehun sedikit terisak menyadari mungkin malam tadi adalah benar hari terakhirnya bisa bersama dengan Luhan. Dia mengepalkan erat tangannya merasa begitu marah dan
"arggghhhhhhhhhh...!"
..
..
..
Sepanjang hari Sehun melewati harinya dengan kegundahan luar biasa yang ia rasakan. Dia sama sekali tak bisa menemukan dimana Luhan berada, dia bahkan sudah bertanya pada Yongdae berharap asisten Luhan yang tidak terlalu bermasalah dengannya itu bisa memberitahunya tapi yang ia dapatkan hanya tatapan menyesal karena juga tidak mengetahui kemana Seunghyun membawa Luhan pergi.
Sehun berjalan gontai menuju ke penginapannya. Dia sudah lelah-..tubuh dan hatinya sudah lelah. Dia hanya ingin berbaring dengan harapan esok pagi masih bisa bertemu dengan Luhan.
Sehun memikirkan bagaimana keadaan Luhan saat ini. Dia benar-benar mengkhawatirkan Luhan karena seharian ini mereka belum bertemu dan berbicara, dia hanya berharap jika memang Luhan akan kembali pergi dia ingin sekali melihat wajahnya mungkin untuk yang terakhir kalinya. Karena jika Luhan pergi tanpa berpamitan dengannya. Maka sudah dipastikan dirinya akan kembali hancur entah untuk yang ke berapa kalinya dalam waktu kurang dari satu bulan ini. Sehun tersenyum miris menyadari keadaannya yang begitu menyedihkan, bahkan hanya untuk berpamitan dengan Luhan pun dia tidak bisa.
Sampai akhirnya langkahnya terhenti, matanya mengerjap beberapa kali dan begitu tak percaya mendapati Luhan tengah duduk di anak tangga yang menjadi jalan ke penginapan mereka selama tiga malam ini. Sehun masih berdiri di tempatnya memandang sosok mungil yang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya dan tanpa sengaja keduanya tersenyum saat mata mereka bertemu.
"Sehun..." Luhan berusaha berdiri tetapi kembali terduduk karena rasa dingin dan rasa nyeri di kakinya yang belum sepenuhnya hilang.
"Kenapa kau tidak masuk kedalam hmm..Kau kedinginan Luhan."
Sehun berlari mendekati Luhan dan mengambil kedua tangan Luhan lalu sedikit meniupnya agar Luhan merasa lebih hangat.
Luhan pun menggelengkan kepalanya dan menangkup wajah Sehun yang terliihat berantakan hari ini "Aku hanya ingin berpamitan padamu."
Wajah Sehun tiba-tiba memanas mengetahui kemana arah pembicaraan Luhan saat ini, membuatnya ingin sekali meminta pada Luhan untuk menghentikan ucapannya namun dia tahu dia akan membuat Luhan menangis karenanya.
"Apa kau akan pergi malam ini?" gumam Sehun bertanya dengan suara bergetar yang berusaha ia sembunyikan.
Luhan sendiri hanya menunduk tak berani menatap Sehun sambil mengangguk perlahan membenarkan pernyataan Sehun.
Sehun melihat tubuh Luhan mulai bergetar membuatnya tak tahan untuk tidak mendekap tubuh mungil yang selalu menangis karenanya "Kenapa menangis hmm.." Katanya bertanya pada Luhan yang hanya membalas pelukan Sehun begitu erat.
"Aku-...Aku mengkhawatirkanmu Sehunna. Aku minta maaf membuatmu selalu merasa kesakitan." Katanya terisak kencang di pelukan Sehun yang kini semakin erat memeluknya dan sesekali mengelus lembut punggungya yang terasa tegang.
"Kau tidak salah sayang. Kau sama sekali tidak bersalah. Jangan meminta maaf hmm." Sehun memejamkan matanya erat dan menghela nafasnya lalu kemudian menangkup wajah Luhan merasa hancur dengan keputusan yang akan ia buat sebentar lagi.
"Aku merelakanmu." Katanya tersenyum sedih menatap Luhan yang masih terisak saat ini.
"Pergilah sayang. Berbahagialah dengan Seunghyun. Aku tidak akan membuatmu merasa menyesal dengan keputusanmu kali ini. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu sampai aku berhenti bernafas. Pergilah sayangku."
"SEHUNNAAAAAA..."
Luhan menangis terisak kencang mendengar penuturan Sehun yang begitu menyakitkan untuknya saat ini. Sehun mungkin sudah membuat keputusan benar tentang hubungan mereka. Tapi berpisah dengan Sehun untuk selamanya membuat Luhan sangat ketakutan dan terlalu menyakitkan untuknya saat ini.
"Luhan kau menyakitiku jika seperti ini." gumam Sehun mengecupi tengkuk Luhan yang kini bergetar hebat di pelukannya.
"Dengarkan aku sayang." Sehun kembali menangkup wajah Luhan dan menatap Luhan sama terlukanya dengan yang Luhan rasakan saat ini.
"Kau hanya perlu tahu aku mencintaimu dan akan seperti itu selamanya." Ujarnya menghapus air mata Luhan lalu mengecup kening Luhan cukup lama, kemudian beralih mencium lembut kedua mata Luhan dan berakhir mengecup lembut bibir Luhan yang sedari tadi bergetar menangis dengan pilu.
"Aku tidak ingin mengatakan ini Luhan-...tapi..." Sehun mulai tak bisa mengendalikan emosinya dan ikut menangis bersama Luhan merasa terlalu sesak saat ini.
"Kau adalah hal terindah untukku dan hidupku. Aku sangaat men-...aku sangat mencintaimu. Selamat tinggal Luhan."
Untuk terakhir kalinya Sehun mencium kening Luhan dan kemudian menghapus cepat air matanya lalu memutuskan untuk mengakhiri kepedihan yang baik dirinya maupun Luhan rasakan. Dia meninggalkan Luhan yang terdengar semakin terisak disana. Hatinya tak kuat jika harus kembali menoleh ke belakang. Dia terlalu lelah membuat Luhan menderita dan ini mungkin adalah akhir dari segala kisah cinta mereka.
"SEHUNNAAAAAA...!"
Luhan berteriak frustasi membuat Sehun yang masih mendengarnya diam-diam terjatuh terduduk saat Luhan tak bisa lagi melihatnya. Dia memperhatikan pria cantiknya begitu hancur saat ini, mengutuk dirinya yang terus menjadi alasan untuk semua air mata yang Luhan keluarkan.
"Luhan...Luhaaaaan." Sehun kemudian ikut terisak membiarkan dirinya merasa begitu hancur sama seperti yang dia lakukan pada Luhan saat ini.
..
..
..
Tiga bulan kemudian...
Tak terasa hari terus berganti dan waktu telah berlalu dengan cepatnya. Semua terasa benar untuk kehidupan yang Luhan jalani saat ini. Dia sudah mulai menerima seutuhnya Seunghyun namun tak pernah benar-benar melupakan pria pertama dalam hidupnya. Dia terus membuat Sehun hidup jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Selama tiga bulan ini dia dan Sehun benar-benar tak berhubungan, semua kabar tentang Sehun seperti mustahil untuk Luhan dapatkan mengingat Seunghyun akan selalu terlihat marah jika Luhan mulai membicarakan semua yang berkaitan dengan Sehun. Membuatnya harus merindukan Sehun secara diam-diam agar tidak ada yang mengetahui dirinya bahkan hampir putus asa karena merindukan cinta pertamanya.
"Hey..."
Luhan tersenyum saat merasakan tangan kekar yang melingkar di pinggangya. Dia kemudian membiarkan pria yang merupakan suaminya ini mengecupi tengkuknya dan sedikit mengganggu kegiatan Luhan yang sedang menyiapkan makan malam untuknya.
"Kau sudah pulang?"
"hmm...Aku merindukan istriku."
"Jangan menggombal dan cepat bersihkan dirimu. Kita makan malam bersama."
Seunghyun terdengar terkekeh dan semakin merapatkan dirinya dengan tubuh Luhan "Aku menginginkanmu sayang."
Luhan hanya tersenyum sekilas mendengar permintaan Seunghyun. Memang dirinya sudah mulai melayani Seunghyun layaknya istri yang memenuhi kebutuhan fisik suaminya. Luhan tidak lagi membatasi dirinya pada Seunghyun, terhitung sudah sebulan yang lalu dia mulai membiarkan Seunghyun menjamah dirinya tanpa harus mendapat penolakan lagi dari Luhan.
"Aku tahu. Tapi setidaknya kita harus makan terlebih dulu. Lagipula aku masih sakit." Katanya memberitahu Seunghyun yang semakin tak bisa menahan diri saat ini.
"Kau benar-benar membuatku menggila Luhan." gumamnya berbisik dan tak lama menggendong paksa Luhan dan membawa Luhan segera masuk kedalam kamar mereka.
"Omo! Seunghyun..."
Dan malam ini akan seperti malam-malam sebelumnya. Malam dimana Luhan akan menyerah pada keinginan Seunghyun yang selalu menginginkan Luhan tanpa bisa menahan dirinya lagi.
Keesokan paginya Luhan terbangun dengan Seunghyun yang mendekapnya erat, dia sedikit tersenyum dan memutuskan untuk membuat sarapan membiarkan Seunghyun beristirahat lebih lama karena keduanya memang akan kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing di tempat yang berbeda.
Luhan menyibak selimutnya dan berusaha berdiri meninggalkan kamar sebelum akhirnya kembali terduduk karena merasa kepalanya berputar dengan rasa mual yang begitu terasa. Membuatnya menghela kasar nafasnya karena jika dipikir-pikir sudah hampir beberapa minggu ini dia terus mengalami sakit kepala dan rasa mual yang berlebihan.
Tak ingin membuat tidur Seunghyun terganggu, Luhan pun kembali memaksakan diri untuk berjalan keluar dengan sedikit terhuyung karena kepalanya benar-benar berputar saat ini.
"Kau terlihat pucat Lu. Apa kau sakit?"
Tak lama Luhan selesai menyiapkan sarapan, dia membangunkan suaminya dan kini keduanya sudah berada di meja makan lengkap dengan pakaian mereka yang menunjukkan akan segera beraktivitas setelah ini.
"Aku tidak enak badan, kepalaku pusing. Tapi nanti juga hilang."
"Kalau begitu nanti siang aku menjemputmu. Kita pergi ke dokter."
Luhan menggeleng lemah dan memaksakan diri untuk mengunyah roti yang berada didalam mulutnya "Tidak perlu sayang. Nanti akan hilang dengan sendirinya."
"Kau yakin?"
"Aku yakin." Katanya tersenyum memberitahu Seunghyun yang terlihat mencemaskannya.
"Mungkin kau kelelahan karena mempersiapkan kepindahan kita ke Tokyo seminggu lagi. Maaf tidak sempat membantumu membenahi barang."
"Jangan meminta maaf. Itu tugasku." Gumam Luhan terkekeh dan menarik gemas hidung Seunghyun.
"Bicara tentang kepindahan kita, Ibumu terlihat sangat marah saat tahu kita akan pindah. Dia pikir aku yang memaksamu. Apa kita akan benar-benar meninggalkan Seoul?"
Luhan merubah suaranya dan bertanya mengingat bagaimana ibu Seunghyun beserta Sulli memakinya belum lama ini didepan para pemegang saham di Choi coorp. Membuatnya harus mati-matian menahan malu karena tak ada satupun yang membelanya dan berakhir harus mendapat tatapan diremehkan dari beberapa rekan bisnis ayah mertuanya.
"Ini hidupku dan kau istriku. Aku yang mengatur bagaimana kita menjalani hidup, abaikan keluargaku dan kita akan hidup bahagia berdua. Kau mau kan?"
Luhan memandang Seunghyun sejenak, lalu tak lama menghela dalam nafasnya kemudian tersenyum dengan hati yang begitu nyeri mengetahui tak lama lagi dirinya benar-benar akan meninggalkan Seoul dan seluruh kenangannya disini "Aku mau."
Seunghyun pun tersenyum dan mengusak lembut rambut Luhan "Kita bertemu nanti malam. Aku pergi dulu, Yongdae sudah menunggumu diluar. Dah sayang." Seunghyun mengecup bibir Luhan sekilas dan tak lama meninggalkan Luhan yang semakin terlihat memucat karena benar-benar merasa tak enak badan saat ini.
..
..
..
Dan pada akhirnya, Luhan memutuskan untuk pulang lebih awal. Sepanjang hari ini sakit kepala yang ia rasakan tak kunjung reda walau sudah beberapa kali meminum pil penghilang rasa sakit. Beberapa temannya menyarankan untuk segera beristirahat dan Luhan menerima usulan mereka untuk pulang lebih awal walau langit sudah mulai gelap menandakan malam akan segera datang.
"Cepat beristirahat Luhan. kau terlalu bekerja keras belakangan ini."
Luhan tersenyum melihat Yongdae yang mulai menceramahinya sepanjang perjalanan mengantar Luhan pulang ke rumahnya "Aku akan beristirahat. Terimakasih sudah mengantarku." Gumam Luhan dan tak lama keluar dari mobil Yongdae dan berjalan masuk kerumahnya.
Harapannya adalah setelah masuk kedalam rumah, dia akan mencuci muka sekilas, kembali meminum pil penghilang rasa sakit lalu berbaring nyaman di tempat tidurnya berharap sakitnya akan hilang besok pagi. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi dengan mudah malam ini melihat mobil yang terByunir di halaman rumahnya begitu familiar.
Luhan tersenyum getir dan mempersiapkan diri karena pasti dia dan keluarga Seunghyun kembali akan bertengkar malam ini.
Cklek...!
Luhan membuka pintunya perlahan dan masuk sedikit takut kedalam rumahnya sendiri sampai sebuah suara kembali menghinanya.
"Lihat si jalang sudah pulang."
Luhan berusaha mengabaikan kehadiran seluruh keluarga Seunghyun saat ini dirumahnya.
"Sulli jaga bicaramu. Biar bagaimanapun si jalang ini tetap membantu pekerjaan ayah."
Luhan tertawa getir dan melihat sekumpulan keluarga yang kini memandang benci padanya "Jika kalian ingin mencari masalah sebaiknya jangan malam ini. Seunghyun akan pulang cepat dan kalian akan dalam masalah jika dia tahu kalian menyakiti aku lagi."
"ck...Percaya diri sekali kau."
Minho menarik paksa lengan Luhan dan membawa Luhan duduk di sofa dengan kasar "Kau ini hanya jalang yang mengambil kesempatan saat keluarga Oh membuangmu. Mereka bahkan lebih menjijikan daripada kelihatannya."
"Jaga mulutmu. Jangan membawa keluarga Oh dalam masalah keluarga yang menjijikan ini." geram Luhan memperingatkan Minho dan tak lama
Plak...!
Dia merasa pipinya memanas saat Sulli menampar keras dirinya tanpa peringatan "AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU SIALAN! SEHUN SELALU MENOLAKKU KARENA MASIH MENGINGATMU BAHKAN SAMPAI SAAT INI. MENJIJIKAN!"
Luhan entah kenapa senang saat Sulli menamparnya, karena dengan begitu dia bisa mengetahui Sehunnya masih bertahan dengan baik dan sama sepertinya-...Sehun juga masih mengingatnya dengan baik.
"Syukurlah Sehun menolakmu. Pendampingnya kelak harus wanita berhati lembut, bukan wanita menjijikan sepertimu." Gumamnya mendesis membuat Sulli begitu geram dan mengangkat tangannya untuk kembali menampar Luhan sebelum ibunya menghalau tangannya.
"Jangan buang-buang waktu pada sialan ini. Dia masih memiliki Seunghyun kita. Kita tidak boleh membiarkan Seunghyun memiliki alasan untuk membenci kita." Gumam nyonya Choi yang bertindak sedikit lebih pintar menurut Luhan.
"Dengarkan aku sialan. Aku ingin kau membujuk Seunghyun untuk membatalkan kepindahan kalian ke Jepang. Jika putraku menetap disana hanya karena ingin menjauhkan dirimu dari pria bernama Oh Sehun itu, maka aku akan membencimu seumur hidupku." Katanya memperingatkan Luhan yang hanya diam tak menjawab
"JAWAB AKU!"
"Aku sudah mencobanya dan Seunghyun menolak. Kami akan pindah minggu depan. Dan aku senang karena bisa membawa putra kalian bersamaku." Katanya yang sengaja membalas seluruh perlakuan keluarga Choi dan memilih untuk terus bertahan agar tak terus menerus diperlakukan seperti sampah oleh keluarga Seunghyun.
"K-KAU!"
Minho mengambil alih dengan menarik kencang kemeja Luhan dan mulai mencekik Luhan dengan kencang. Dia semakin kesal karena wajah Luhan malah tersenyum seakan mengejeknya membuat tangannya semakin mencekik erat dan merasa senang melihat wajah Luhan yang memerah sebelum
"CHOI MINHO!"
Terdengar suara Seunghyun yang begitu marah membuat Minho dalam sekejap melepas cekikannya pada Luhan yang kini terbatuk dan mencari nafas sebanyak mungkin.
Uhuk...
Luhan semakin terbatuk membuat Seunghyun menggeram semakin marah di tempatnnya sebelum tangannya mengepal erat "BRENGSEK APA YANG KAU LAKUKAN PADA LUHAN?"
Bugh...!
Seunghyun menghampiri adiknya dan memukul telak wajah Minho lalu kemudian menatap geram ke seluruh keluarganya "PERGI KALIAN SEMUA!"
"Sayang...ini tidak seperti yang kau lihat... Kami tidak-..."
"CEPAT PERGI!"
Semuanya tahu kemarahan Seunghyun kali ini tidak main-main. Membuat mereka tak punya pilihan lain selain menatap benci pada Luhan dan memutuskan untuk segera pergi sebelum Seunghyun kembali geram pada mereka.
"Luhan...sayang...kau tidak apa-apa kan? Maaf...maafkan aku."
Luhan tersenyum masih menetralkan nafasnya menangkup wajah Seunghyun "Aku baik sayang. Aku baik-baik saja." Gumam Luhan berusaha mendekat tapi seketika merasa lemas karena kepalanya terus berputar dan berakhir jatuh di pelukan Seunghyun yang kini menyeka keringat pada dahinya.
"Luhan..." Seunghyun menggumam panik saat nafas Luhan mulai tak beraturan dan tubuhnya terasa begitu dingin saat ini. Dia kemudian membawa Luhan kekamar dan memutuskan untuk menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Luhan.
..
..
..
Satu jam kemudian Luhan kembali membuka matanya, dia mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya menyadari ada jarum infus di tangan kirinya. Dia kemudian perlahan bersandar ke tempat tidurnya dan sedikit bingung mendapati Seunghyun hanya berdiri didepan pintu kamar mereka menatap Luhan dengan tatapan yang terasa begitu dingin untuknya.
"Seunghyun kenapa kau disana?"
Seunghyun hanya diam tak menjawab masih menatap Luhan tak berkedip
"Hey kenapa kau menatapku seperti itu? Aku sakit apa? Kenapa aku diinfus?"
"Kau kelelahan dan mengalami dehidrasi."
Luhan menghela nafasnya dan sedikit tertawa karenanya "Pantas saja aku merasa lemas dan mual. Aku pikir aku-.."
"Kau hamil Luhan."
Bibir Luhan terasa kaku, jantungnya terasa berdegup kencang untuk menjawab saat Seunghyun memberitahukan berita kehamilannya. Luhan sendiri tak bisa menyembunyikan kebahagiannya dan memutuskan untuk bertanya pada Seunghyun saat ini
"A-apa kita akan memiliki seorang anak?"
"Bukan kita tapi kau."
"Apa maksudmu?" Luhan bertanya tak mengerti saat Seunghyun berjalan mendekati meja kerjanya dan menuang air lalu meminumnya tergesa.
"Awalnya aku juga sangat senang mendengar berita kehamilanmu. Tapi ketika dokter memberitahu usia kandunganmu sudah memasuki bulan ketiga. Aku rasa bayi itu bukan darah dagingku."
Wajah Luhan memucat mengerti kemana arah pembicaraan ini dan apa yang ada di pikiran Seunghyun saat ini.
"Bukankah usia kandunganmu sama seperti saat terakhir kau dan si brengsek itu bertemu?" katanya tertawa mengerikan melihat wajah Luhan memucat saat ini.
"Seunghyun aku-..."
"APA KAU BERBUAT GILA DENGANNYA SAAT ITU?"
Luhan begitu ketakutan saat ini. Dia belum bisa memproses semuanya secepat ini. Pikirannya masih terbagi dan saat ini adalah kali pertama Seunghyun terlihat marah dan membentaknya seolah ingin membunuhnya saat ini juga.
"Seunghyun aku mohon dengarkan aku. Aku-..."
"JAWAB AKU LUHAN!"
Luhan benar-benar ketakutan saat ini. Tangannya terus mencengkram keras perutnya seolah menolak kehadiran bayi yang mungkin bisa membuat kehidupannya kembali hancur saat ini.
Dia hanya bisa terisak tertunduk dan membuat Seunghyun semakin menggeram marah meyakini kalau Luhan dan Sehun memang melakukan sesuatu yang gila di belakangnya.
"Aku akan membunuh pria sialan itu."
Luhan begitu tersentak melihat kepergian Seunghyun dan mendengar keinginan Seunghyun untuk menyakiti Sehun begitu terdengar menakutkan. Dia kemudian melepas paksa jarum infus yang ia gunakan dan mengejar Seunghyun yang saat ini sedang berjalan menuju ke mobilnya.
"SEUNGHYUN…." Luhan meraih lengan Seunghyun dan berlutut memohon pada suaminya untuk tidak melakukan sesuatu yang mengerikan pada Sehun.
"Menyingkir…." desisnya memberitahu Luhan yang sudah menangis hebat saat ini.
"Aku mohon maafkan aku. Jangan sakiti Sehun. Dia tidak bersalah." katanya menangis terisak memegang kencang kaki Seunghyun membuat pria didepannya semakin menggeram.
"Jadi benar kalian berbuat gila malam itu. kenapa-.. KENAPA KAU TEGA SEKALI PADAKU LUHAN…"
"AKU MINTA MAAF SEUNGHYUN. AKU TIDAK TAHU AKAN SEPERTI INI JADINYA. AKU MINTA MAAF." Luhan berteriak frustasi saat Seunghyun kembali mendorongnya dan tetap berjalan ke arah mobilnya.
"Aku benar-benar akan membunuh Oh Sehun." geramnya membuat Luhan kembali berdiri dan berlari gontai menghadang Seunghyun.
"Bunuh aku Seunghyun. Aku yang memintanya malam itu. BUNUH AKU DAN JANGAN LIBATKAN SEHUN LAGI." Ujarnya begitu ketakutan melihat sorot mata Seunghyun yang memang tak akan segan membunuh siapa saja yang menghalanginya malam ini.
"Kau benar…. Aku harus membunuhmu juga. Kalau begitu kalian berdua harus mati ditanganku." katanya mendesis dan menarik paksa Luhan masuk kedalam mobil sebelum akhirnya Seunghyun menjalankan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.
"SEUNGHYUN AKU MOHON DENGARKAN AKU. MAAFKAN AKU SEUNGHYUNNA."
Luhan berteriak menangis ketakutan saat Seunghyun semakin cepat menjalankan mobilnya mengabaikan keselamatan mobil-mobil lain yang berlalu lalang di sekitarnya. Dia kemudian menatap Luhan begitu marah dan semakin menginjak gas mobilnya hampir mencapai kecepatan penuh.
"MAAF KAU BILANG? AKU SUDAH SANGAT BAIK PADAMU LUHAN. TAPI INI BALASAN YANG AKU DAPATKAN? KAU MENGHIANATIKU DISAAT KAU SUDAH BERJANJI PADAKU. JADI KATAKAN PADAKU BAGAIMANA BISA AKU MEMAAFKANMU?"
"Seunghyun aku mohon kita bisa bicara baik-baik. Jangan seperti ini sayang." gumam Luhan berusaha mengambil alih kemudi mobil sebelum Seunghyun kembali mendorong kasar dirinya tak sudi disentuh oleh Luhan.
"AKU BERSUSAH PAYAH MENJAUHKANMU DARI SEHUN. TAPI KEMUDIAN DIA MENGIKATMU DENGAN JANIN MENGERIKAN ITU. AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHNYA!"
Tin….Tinnn….
Seunghyun membunyikan klakson mobilnya pada siapa saja yang menghalangi jalannya.
"Seunghyun aku mohon maafkan a-..."
"SEUNGHYUN AWAS…!"
Gelap…..semuanya menjadi gelap.. bayang wajah Sehun dan Seunghyun bergantian muncul di ingatannya.
Luhan mengingat terakhir kali ia melihat Sehun dia membuat pria tampannya begitu menderita. Dan saat ini- … dia melakukannya lagi pada Seunghyun. Dia melihat Seunghyun menatapnya penuh rasa kecewa dan marah bahkan disaat nyawa keduanya hampir terenggut.
Membuatnya ingin meraih wajah Seunghyun tapi semua begitu gelap dan berubah menjadi samar untuknya. Luhan terisak ketakutan sebelum akhirnya menggumamkan kalimat penyesalannya dalam hati. Aku bersalah padamu Sehun . Aku juga bersalah padamu Seunghyunna…
maafkan aku.
..
..
..
tit….tit…
tit...tit..
Terdengar bunyi monitor detak jantung memenuhi satu ruangan sepi yang hanya dihuni oleh pria cantik yang mengalami kecelakaan seminggu yang lalu. Mobil yang ditumpanginya menabrak trotoar jalan dan berguling terbalik ke tengah jalan raya membuat kedua pria yang sedang berada didalamnya harus mengalami kondisi kritis. Keduanya selamat namun ini sudah memasuki hari kedelapan dan belum ada tanda-tanda pria cantik itu sadarkan diri.
"omo! Pasien sadarkan diri." terdengar suster yang sedang mengecek kondisi Luhan memekik senang saat Luhan mulai menggerakan jari-jarinya. Dia kemudian berlari memanggil dokter bersamaan dengan Luhan yang kini perlahan membuka matanya.
Entah sudah berapa lama dia berbaring disana, tapi yang jelas kepalanya terasa sakit, seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan dan hatinya mulai memanas mengingat semua kejadian mengerikan itu perlahan memaksa masuk kedalam ingatannya. Luhan yang baru sadarkan diri ini tiba-tiba menangis ketakutan membuat dokter yang sedang memeriksanya begitu panik melihat kondisi Luhan.
"Luhan…. Namamu Luhan kan? Aku Byun Baekhyun dokter yang menanganimu. Kau harus tenang. Tubuhmu masih belum merespon seutuhnya."
Luhan melihat samar pria yang sedang mengajaknya berbicara itu. Sampai akhirnya dia mengangguk dan berusaha untuk tenang walau semuanya terasa begitu menakutkan saat ini.
"Tarik nafasmu dan tenanglah."
Luhan mengikuti seluruh saran dari dokter yang bernama Byun Baekhyun tersebut dan merasa cukup tenang untuk sementara.
"s-suamiku. Bagaimana keadannya? Apa dia baik-baik saja?"
Dokter Byun sedikit mengernyit sebelum akhirnya menyadari apa yang sedang dibicarakan Luhan saat ini "Apa maksudmu Tuan Choi Seunghyun?"
Luhan mengangguk lemah sebagai jawaban dan mendapat senyuman dari pria didepannya saat ini "Dia sudah berada di kamar perawatan dan sedang dalam masa pemulihan."
Luhan tersenyum lirih sebelum akhirnya merasa matanya kembali berat untuk dibuka "Syukurlah dia baik-baik saja" gumam Luhan yang merasa semakin samar melihat wajah dokter didepannya saat ini.
"Aku menyuntikkan obat penghilang rasa sakit dan sedikit obat penenang kedalam cairan infusmu. Kau akan kembali tidak sadarkan lagi saat ini dan setelah kau bangun kau akan merasa lebih baik."
Luhan tersenyum mengerti dan masih berusaha melawan rasa kantuknya sampai dokter itu kembali bersuara "Aku lupa memberitahukan ini tapi calon bayi anda selamat. Dia bertahan dari kecelakaan itu."
Luhan masih bisa mendengar dengan jelas saat dokter itu kembali berbicara, membuatnya kembali merasa sesak menyadari bahwa semua kejadian mengerikan ini berawal dari berita kehamilan Luhan beberapa hari yang lalu. Luhan secara refleks memegang perutnya sampai kemudian menyerah pada efek obat yang diberikan padanya, dan sebelum tak sadarkan diri, dirinya kembali terisak tidak tahu harus melakukan apalagi setelah ini
Kenapa kau bertahan nak? Kau hanya akan merasakan sakit dan menderita jika bertahan hidup bersamaku.
..
..
..
Lima hari kemudian Luhan juga sudah diperbolehkan pindah ke ruang perawatan. Dirinya mengalami progress yang cukup melegakan mengenai masa penyembuhannya saat ini. Dia tidak mengalami luka berarti, hanya benturan kencang di kepalanya yang membuatnya harus memakai perban dan beberapa pecahan kaca yang menambah bekas luka di tubuhnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Kedatangan dokter yang menanganinya saat ini membuat Luhan merasa tidak terlalu merasa sepi karena sama sekali tidak ada yang mengunjunginya. Dia pun mengangguk sebagai jawaban dan sedikit tersenyum ke arah dokter muda itu "Aku sudah merasa lebih baik. Terimakasih."
"Itu sudah tugasku. Tidak perlu berterimakasih." Gumamnya memeriksa cairan infus Luhan dan tak lama menggantinya dengan yang baru.
"Kau terlihat bersiap. Apa ada yang akan datang mengunjungimu?"
Luhan tersenyum pahit sebelum kembali menggelengkan kepalanya "Aku ingin menemui suamiku. Aku ingin melihatnya langsung."
Luhan sedikit mengernyit saat tiba-tiba Baekhyun menarik kursi disampingnya saat ini "Apa kau yakin akan pergi ke ruangan itu?"
"Tentu saja. Aku ingin melihat kondisi suamiku."
"umhh...Kau terus mengatakan dia suamimu. Tapi saat aku memeriksanya dia terus mengatakan tidak mengenal dirimu."
Luhan kembali tersenyum pahit karena kenyataan yang baru saja ia dengar. Dia tahu akhirnya akan seperti ini. Seunghyun akan membencinya dan meninggalkan dirinya.
"Lagipula pihak keluarganya juga seperti menyembunyikan dirimu. Mereka terus bertanya dimana Luhan tapi keluarga Choi mengatakan kalau putra mereka tidak bersamamu. Mereka bahkan mengatakan kau tidak peduli pada Choi Seunghyun."
Kali ini Luhan tertawa mendengar penuturan dokter didepannya yang terlihat penasaran dengan kehidupan seperti apa yang Luhan jalani.
"Mereka memang tidak pernah menyukaiku."
"Apa maksudmu? Apa kalian menikah diam-diam?"
Luhan menggeleng cepat dan kemudian sedikit tersenyum "Mereka berpikir aku menguasai putra mereka. Itulah alasan kenapa mereka tidak menyukaiku."
"Lalu kenapa suamimu selalu mengatakan tidak mengenalmu."
Luhan hanya diam tak menjawab merasa terlalu mual mengingat bagaimana mereka bisa berakhir berbaring di rumah sakit saat ini "Kau tidak perlu menjawabnya. Maaf aku terlalu banyak bertanya." Gumam Dokter Byun dan berniat meninggalkan Luhan di ruangannya.
"Kau boleh menjenguknya saat cairan infusmu habis. Suster jaga akan menolongmu."
Luhan kembali menatap dokter yang merawatnya dan sedikit tersenyum ke arahnya "Terimakasih dokter."
"Panggil aku Baekhyun. Aku rasa kita seumuran dan karena kau tidak memiliki pengunjung. Mulai saat ini aku pengunjung tetapmu."
Luhan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya mengetahui kalau dokter yang selalu menceramahinya dengan berbagai pepatah itu bersedia menjadi temannya "Terimakasih Baekhyun." Gumamnya perlahan namun masih terdengar oleh Baekhyun yang kini mengerling ke arahnya.
..
..
..
Dan tak lama disinilah Luhan, di depan kamar Seunghyun yang mulai terlihat sepi. Dia sudah berada disana hampir satu jam lamanya. Tapi mengingat masih banyak orang yang menjenguk Seunghyun ditambah ibu Seunghyun yang tak pernah pergi. Membuat Luhan harus menunggu sedikit lebih lama, sampai akhirnya kamar perawatan mewah itu sepi dan hanya ada Seunghyun didalamnya.
Luhan kemudian perlahan membuka pintu kamar perawatan Seunghyun dan berjalan masuk kedalam. Sedikit tersenyum melihat Seunghyun yang terlihat baik-baik saja dengan sebuah majalah yang berada di tangannya.
"Eomma aku bilang aku tidak mau diganggu lagi."
"Seunghyun...ini aku."
Terlihat sekali kalau raut wajah Seunghyun berubah menjadi dingin, dia perlahan menutup majalahnya dan menatap sosok yang terlihat memucat dan harus menggunakan perban di kepalanya.
"Untuk apa kau disini?"
Luhan hanya tersenyum memaklumi dan perjalan tertatih menarik kursi disamping Seunghyun "Aku mengunjungimu. Aku senang kau baik-baik saja."
"Benarkah kau senang? Aku pikir kau berharap aku mati."
"Tidak-...tentu saja tidak. Kenapa kau berbicara seperti itu." Luhan sudah mulai terisak karena terlalu sedih tak pernah melihat Seunghyun sedingin ini padanya.
"Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu."
"Apa kau benar-benar tidak ingin membicarakan ini?"
"Membicarakan apa? Aku tidak ingin berbicara dengan-.."
"Aku mohon beri aku kesempatan. Aku mohon Seunghyun. Maafkan kesalahanku."
Luhan memegang kedua tangan Seunghyun dan terisak pilu menundukkan kepalanya. Sungguh dia tidak ingin rumah tangganya yang baru berjalan selama empat bulan harus hancur seperti ini. Luhan juga ingin memiliki kehidupan bahagia yang seperti Yunho dan Jaejoong atau Kai dan Kyungsoo jalani. Selalu bersama dengan pasangannya dan berbahagia sampai akhir. Tapi melihat kebencian Seunghyun saat ini membuatnya tak yakin kalau semua ini akan bertahan lebih lama.
Seunghyun sendiri merasa tak tega melihat Luhan memohon seperti ini padanya. Dia bisa saja melupakan kesalahan Luhan dan memulai semuanya dari awal. Tapi mengingat Luhan mengandung darah daging Oh Sehun, membuatnya kembali menggeram marah dan melepaskan tangan Luhan yang menggenggamnya.
"Apa kau benar-benar ingin kembali hidup bersamaku?"
"Tentu saja sayang, aku-...aku akan melakukan apapun agar kau memaafkan aku."
"Apapun?"
"Ya apapun."
"Aku ingin kau menggugurkan kandungan itu. Setelahnya kita akan kembali hidup bersama."
Luhan harusnya tahu kalau satu-satunya yang mengganggu Seunghyun adalah bayi yang ada di kandungannya saat ini. Dia juga harusnya tahu kalau yang Seunghyun inginkan adalah semua yang berkaitan dengan Sehun tidak pernah ada di tengah-tengah mereka.
Tapi bagaimana mungkin dia membunuh bayi tak berdosa ini. dia dan bayi yang ada didalam perutnya secara tidak langsung sudah bersama selama tiga bulan ini. Secara tak langsung keduanya membangun ikatan batin yang begitu kuat. Karena saat Luhan merasa kesakitan bayinya akan merespon dan begitupula sebaliknya. Luhan menyadari semua itu sekarang, hanya saja dia tidak pernah menyangka kalau bayinya telah bertahan sendirian begitu lama didalam sana dan tak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.
"Aku tidak bisa-...Aku tidak bisa membunuh bayi ini Seunghyunna. Tidak adakah cara lain agar kau memaafkan aku?"
Seunghyun tertawa getir dan kembali menatap Luhan dengan benci "Kenapa? Apa karena bayi sialan itu adalah darah daging Oh Sehun, huh?"
"Dia tidak sialan. Dan bukan karena dia darah daging Oh Sehun. Bagaimana mungkin aku membunuh anakku sendiri. Aku tidak akan melakukannya."
"Kalau begitu tidak ada alasan lagi kita untuk bersama."
"Seunghyun aku mohon beri aku kesempatan lagi. Aku mohon." Luhan menangis memohon saat ini, tapi Seunghyun mengabaikan dirinya dan terus menatap kosong kedepan.
"Pergilah. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku tidak akan bersabar dua kali untuk tidak membunuh bajingan itu jika melihatmu lagi."
"Aku mohon maafkan aku. Beri aku kesempatan sekali la-.."
"PERGI!"
Luhan sedikit tersentak dan tak lama pintu terbuka menampilkan ibu Seunghyun yang begitu geram melihat Luhan mengganggu putranya.
Plak...!
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI SIALAN. "
Luhan mengabaikan rasa panas di pipinya dan terus memohon pada Seunghyun yang tak mau menatapnya. Dia merasa sangat frustasi dan sangat takut kehilangan Seunghyun saat ini.
"CEPAT PERGI..."
Ibu Seunghyun menarik paksa lengan Luhan sementara Luhan masih meronta minta dilepaskan sambil terus berteriak memohon pada Seunghyun.
"MAAFKAN AKU SEUNGHYUNNA. BERI AKU KESEMPATAN. AKU MOHON..."
Luhan di dorong keluar oleh nyonya Choi. Dan sebelum nyonya Choi menutup pintunya kedua mata Luhan dan Seunghyun bertemu. Saling bertatapan dimana yang satu menatap memohon sementara yang satu hanya menatap kosong penuh kebencian.
"CHOI SEUNGHYUUUUUNNNNNN...!"
Luhan meraung begitu hebat tak bisa menerima jika semua ini berakhir begitu saja. Dia menangis begitu pilu dibalik pintu kamar Seunghyun. Dia terus berharap jika pintu itu kembali terbuka dan Seunghyun datang mendekapnya. Seperti yang selama ini ia lakukan untuk Luhan. Luhan semakin terisak menyadari pintu itu tak pernah lagi terbuka. Dia menatap cukup lama pintu itu dengan seluruh kebencian Seunghyun yang masih terbayang di ingatannya. Merasa kembali hancur entah untuk yang keberapa kalinya saat ini.
Karena bersamaan dengan pintu yang tertutup itu maka berakhirlah sudah kebahagiaan singkat yang pernah dirasakan oleh Seunghyun dan Luhan.
tobecontinued...
gerah...gerah..gerahhhhhh...!
.
Ini masih hari minggu kan pemirsah? Promise is a promise... syudah di update ya :)...makasih banyak yang udah nungguin walopun udh tengah malem gini hksss
.
Buat SeungHan ceritanya hanya sampai disini karena next nya back to Main pair...
.
disini yang sakit itu bukan yang main di restart tapi kita yang baca sm yg nulis...greget gw juga...mau dirampungin juga ga kena-kena. Ntar alurnya kecepatan jadinya ngaco...biar ngalir aja deh ya... banyak yang ganjel kalo gw paksain juga hksss..
.
Niway part B nya beneran 10k loh...pedes jari aing...tapi puwaaaasss udh ontime.
.
Okelah...Happy reading and review kesayangan... seeyousoon.
.
Next update : antara TDF II sama entangled ya...pokonya antara dua itu. Seeyou love :*
