Previous
"Aku ingin kau menggugurkan kandungan itu. Setelahnya kita akan kembali hidup bersama."
Luhan harusnya tahu kalau satu-satunya yang mengganggu Seunghyun adalah bayi yang ada di kandungannya saat ini. Dia juga harusnya tahu kalau yang Seunghyun inginkan adalah semua yang berkaitan dengan Sehun tidak pernah ada di tengah-tengah mereka.
Tapi bagaimana mungkin dia membunuh bayi tak berdosa ini. dia dan bayi yang ada didalam perutnya secara tidak langsung sudah bersama selama tiga bulan ini. Secara tak langsung keduanya membangun ikatan batin yang begitu kuat. Karena saat Luhan merasa kesakitan bayinya akan merespon dan begitupula sebaliknya. Luhan menyadari semua itu sekarang, hanya saja dia tidak pernah menyangka kalau bayinya telah bertahan sendirian begitu lama didalam sana dan tak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.
"Aku tidak bisa-...Aku tidak bisa membunuh bayi ini Seunghyunna. Tidak adakah cara lain agar kau memaafkan aku?"
Seunghyun tertawa getir dan kembali menatap Luhan dengan benci "Kenapa? Apa karena bayi sialan itu adalah darah daging Oh Sehun, huh?"
"Dia tidak sialan. Dan bukan karena dia darah daging Oh Sehun. Bagaimana mungkin aku membunuh anakku sendiri. Aku tidak akan melakukannya."
"Kalau begitu tidak ada alasan lagi kita untuk bersama."
"Seunghyun aku mohon beri aku kesempatan lagi. Aku mohon." Luhan menangis memohon saat ini, tapi Seunghyun mengabaikan dirinya dan terus menatap kosong kedepan.
"Pergilah. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku tidak akan bersabar dua kali untuk tidak membunuh bajingan itu jika melihatmu lagi."
"Aku mohon maafkan aku. Beri aku kesempatan sekali la-.."
"PERGI!"
Luhan sedikit tersentak dan tak lama pintu terbuka menampilkan ibu Seunghyun yang begitu geram melihat Luhan mengganggu putranya.
Plak...!
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI SIALAN. "
Luhan mengabaikan rasa panas di pipinya dan terus memohon pada Seunghyun yang tak mau menatapnya. Dia merasa sangat frustasi dan sangat takut kehilangan Seunghyun saat ini.
"CEPAT PERGI..."
Ibu Seunghyun menarik paksa lengan Luhan sementara Luhan masih meronta minta dilepaskan sambil terus berteriak memohon pada Seunghyun.
"MAAFKAN AKU SEUNGHYUNNA. BERI AKU KESEMPATAN. AKU MOHON..."
Luhan di dorong keluar oleh nyonya Choi. Dan sebelum nyonya Choi menutup pintunya kedua mata Luhan dan Seunghyun bertemu. Saling bertatapan dimana yang satu menatap memohon sementara yang satu hanya menatap kosong penuh kebencian.
"CHOI SEUNGHYUUUUUNNNNNN...!"
Luhan meraung begitu hebat tak bisa menerima jika semua ini berakhir begitu saja. Dia menangis begitu pilu dibalik pintu kamar Seunghyun. Dia terus berharap jika pintu itu kembali terbuka dan Seunghyun datang mendekapnya. Seperti yang selama ini ia lakukan untuk Luhan. Luhan semakin terisak menyadari pintu itu tak pernah lagi terbuka. Dia menatap cukup lama pintu itu dengan seluruh kebencian Seunghyun yang masih terbayang di ingatannya. Merasa kembali hancur entah untuk yang keberapa kalinya saat ini.
Karena bersamaan dengan pintu yang tertutup itu maka berakhirlah sudah kebahagiaan singkat yang pernah dirasakan oleh Seunghyun dan Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Life is the only game which has no pause, no resume and norestart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari ke empat belas Luhan berada di rumah sakit. Dirinya masih belum diijinkan pulang karena harus melakukan beberapa CT-Scan untuk memastikan bahwa tidak ada cidera parah di bagian kepala Luhan. Baekhyun bersikeras memaksa Luhan untuk melakukan beberapa test karena Luhan selalu mengeluh merasakan sakit kepala secara tiba-tiba dan terkadang Luhan memuntahkan seluruh isi perutnya jika sakitnya tak bisa ia tahan lagi. Hal itulah yang membuat Luhan tak bisa mengelak dan harus menuruti permintaan dokter yang kini mengklaim menjadi teman dan pengunjung tetap untuk Luhan. Karena memang selain Baekhyun. Luhan tidak memiliki satu orang pun yang datang untuk mengunjunginya mengingat satu-satunya keluarga yang ia miliki kembali telah membuangnya dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk kembali memperbaikinya.
Dan berbeda dengan Luhan, Seunghyun sudah diperbolehkan pulang sekitar tiga hari yang lalu. Dan sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya untuk berpisah dengan Luhan karena sudah beberapa kali pengacara datang mengunjunginya untuk meminta Luhan menandatangani beberapa surat gugatan yang diajukan Seunghyun untuknya. Dan Luhan-...dia tidak memiliki alasan lagi untuk menolak semua keinginan Seunghyun karena tak ingin lagi melihat wajah mengerikan Seunghyun saat dirinya berteriak atau mengancam akan menyakiti Sehun dan bayinya lagi. Karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia akan melakukan apapun agar dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Sehun maupun bayi kecilnya.
Cklek….
Luhan membuka pintu ruangan Baekhyun dan tak lama memasuki ruangan dokter yang terlihat dipenuhi hiasan-hiasan lucu dan beberapa foto yang terpampang disana. Dia kemudian perlahan berjalan ke meja Baekhyun diikuti perawat yang baru saja membantunya untuk menyelesaikan CT Scan yang ia jalani.
"Hey Lu. Kau sudah selesai? Duduklah."
Luhan mengangguk dan tak lama menarik kursi didepan Baekhyun sementara Baekhyun menerima hasil CT Scan yang dibawa oleh perawat dan mulai membaca hasilnya.
"Bagaimana hasilnya?"
Baekhyun sendiri masih mempelajari hasil CT Scan Luhan dan tak lama mengernyit melihat hasilnya kemudian kembali menatap Luhan yang terlihat menunggu penjelasan darinya.
"Tidak ada masalah dengan kepalamu. Hanya saja benturan yang kau alami di bagian lobus sebelah kanan membuatmu sering mengalami sakit kepala tak tertahankan. Lihat bagian ini ukurannya menjadi lebih besar dari ukuran normalnya. Itu yang membuatmu tiba-tiba sering merasa kesakitan." gumam Baekhyun menunjukkan bagian yang bermasalah di bagian kepala Luhan.
"Aku tidak mengerti. Apa berbahaya?" katanya bertanya pada Baekhyun yang terlihat tersenyum.
"Tidak berbahaya Luhan. Kita akan menjalani beberapa terapi untuk meredakan memar di bagian kepalamu. Kau tidak perlu khawatir."
"Apa aku akan terus mengalami sakit kepala untuk waktu dekat ini?"
"hmm.. Jadi sampai memarmu hilang, kau harus banyak beristirahat dan tak boleh terlalu banyak berpikir. Kalau emosimu tidak stabil kau bisa mengalami rasa sakit berlebihan dan kau akan memuntahkan seluruh isi perutmu karena kau akan merasakan mual yang berlebihan."
Luhan hanya diam tak memberikan ekspresi sampai akhirnya dia kembali menatap Baekhyun "Lalu bagaimana dengan bayiku? Apa dia sehat?" katanya bertanya membuat Baekhyun kembali tersenyum.
"Aku akan mengajakmu bertemu dengan spesialis kandungan terhebat di rumah sakit ini. Dia sahabatku." gumamnya tersenyum dan tak lama menggenggam Luhan untuk segera bertemu dan berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk mengetahui kondisi bayinya.
"Bayimu sehat. Dia bahkan terlihat bergerak untuk merespon."
Kim Minseok, yang nerupakan dokter kandungan sekaligus sahabat Baekhyun kini tengah memeriksa Luhan yang sedang berbaring di tempat tidur pasien. Dia terlihat cemas dan menunggu sampai akhirnya tersenyum karena tahu bayinya dalam kondisi sehat.
"Kau boleh bangun Luhan." Minseok memberitahu Luhan yang kemudian segera berdiri dan menarik kursi didepan Minseok.
"Apa benar bayiku baik-baik saja? Aku tidak mengetahui keberadaanya selama tiga bulan ini. Aku tidak menjaga pola makanku dan terkadang mengkonsumsi obat tidur jika aku ketakutan. Apa kau yakin dokter Kim?" gumam Luhan bertanya dengan nada yang sangat cemas.
Minseok pun kembali tersenyum dan menggenggam tangan Luhan "Wajar jika kau tidak menyadari kau hamil. Perutmu tidak terlalu besar untuk bayi yang memasuki bulan keempat. Dan bayimu juga tidak merepotkan dengan tidak memberikan rasa mual dan sakit kepala di awal kehamilanmu. Tapi aku yakin kau bisa merasakannya kan? Dia tumbuh dengan sehat dan kuat walau hal buruk terus terjadi pada ibunya. Kau cukup beruntung Luhan." gumam Minseok tersenyum dan meyakinkan Luhan.
Mendengar penuturan Minseok pun membuat Luhan sedikit tenang dan hanya bisa berterimakasih pada dokter berperawakan cantik didepannya "Terimakasih dokter Kim."
"Itu sudah tugasku. Aku dengar kau masih akan dirawat disini seminggu kedepan. Jadi aku akan memberikan suplemen untuk seminggu. Nanti jika kau pulang aku akan memberikan suplemen untuk sebulan. Pastikan kau meminumnya dengan teratur." gumam Minseok menuliskan resep untuk Luhan.
"Kau mengerti kan?"
Luhan mengangguk dan menerima resep yang diberikan "Aku mengerti."
"Kau bisa menebus resep yang aku berikan saat keluar dari rumah sakit. Sementara aku akan meminta suster jaga untuk memberikan suplemen selama kau dirawat disini."
"Terimakasih sekali lagi dokter Kim."
Luhan menjabat tangan Minseok dan tak lama berdiri berniat meninggalkan ruangan Minseok "Aku permisi dokter Kim."
"Mmmh… Luhan…" Minseok memanggil Luhan yang kembali menoleh menatapnya.
"Ya?"
"Apa kau berteman dengan Baekhyun."
Luhan tampak tersenyum saat nama dokter yang merawatnya dengan baik itu disebut "Sepertinya begitu dokter Kim."
"Kalau begitu kau juga berteman denganku. Panggil aku Minseok. Oke?"
Luhan terdiam cukup lama sampai akhirnya mengangguk mengerti "Oke. Terimakasih Minseok."
Luhan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat kedua dokter yang baru saja ia kenal tiba-tiba mengatakan kalau mereka adalah teman Luhan. Membuat Luhan yang sudah tidak memiliki teman untuk waktu yang cukup lama mau tak mau tersenyum haru dan sangat bersyukur masih ada orang-orang baik di sekitarnya yang mau menolongnya tanpa mementingkan siapa dirinya dan apa yang telah ia alami di masa lalu.
Dan alih-alih kembali ke ruangannya. Luhan memutuskan untuk mengunjungi bagian administrasi mengingat dirinya tak lagi memiliki seseorang yang bisa membiayai hidupnya membuat dia sedikit khawatir karena pastinya jumlah tabungan yang ia miliki tidak akan mencukupi untuk membayar segala pengobatan yang ia dan bayinya lakukan.
Luhan kemudian menekan tombol lift setelah diberitahu bahwa ruang administrasi berada di lantai dasar. Dia menunggu cukup lama sampai dia merasa ada yang menendangnya dengan kuat didalam sana
"ouch…"
Luhan kemudian tersenyum dan baru menyadari kalau selama ini dirinya memang terkadang merasakan gerakan tak beraturan di dalam perutnya. Tapi dia tidak mau ambil pusing karena mengira itu hanya gerak refleks dirinya yang terkadang terlalu lelah atau terlalu memikirkan Sehun secara berlebihan.
"Aku benar-benar tidak sabar menantimu nak." Gumam Luhan mengusap lembut perutnya dan tak lama menaiki lift yang pintunya sudah terbuka.
Luhan masih fokus berinteraksi dengan bayinya dan tak menghiraukan orang disekitarnya yang kini memandang aneh padanya mengingat Luhan mengenakan pakaian rumah sakit yang menunjukkan dia adalah pasien dan tak harusnya berkeliaran seperti ini.
Sampai akhirnya pintu lift terbuka dan Luhan sedikit menoleh untuk mencari keberadaan ruang administrasi. Bibirnya sedikit tersenyum saat matanya menemukan tempat yang dia cari dan langsung berjalan lurus masih sesekali mengelus perutnya agar bayinya tahu kalau Luhan sudah mengetahui keberadaannya dan bayi kecilnya tidak perlu takut lagi karena sendirian.
"Kita akan menjenguknya setelah ini. Tapi kau harus bertemu dengan Minseok terlebih dulu. Kita harus mempersiapkan semuanya untuk kelahiran bayi kita sayangku."
Luhan sedikit iri mendengar suara seorang pria yang sedang membujuk istrinya untuk melakukan pemeriksaan pada bayi mereka.
"Aku merasa akan menjadi gila mengingat anak kita akan lahir dua bulan lagi."
Luhan berusaha mengabaikan percakapan pasangan suami istri tersebut sampai dia langkahnya terhenti menyadari suara siapa yang beberapa detik lalu ia dengar.
"Kyungsoo?"
Luhan dengan cepat menoleh dan benar seperti dugaannya. Itu suara Kai yang sedang membujuk Kyungsoo. Mereka berpapasan hanya saja terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai tidak menyadari kehadiran satu sama lain.
Luhan terus memperhatikan punggung kedua sahabatnya menjauh, menatap rindu pada dua orang yang selalu membelanya bahkan selalu menguatkannya disaat Sehun sama sekali tak mempercayainya lagi. Nafasnya tiba-tiba merasa sesak saat keinginannya untuk memanggil kedua temannya terhalang oleh rasa takut memikirkan apa yang setelahnya terjadi jika Kyungsoo dan Jongin mengetahui keberadaannya disini.
Matanya kemudian cukup membelalak saat kedua temannya tiba-tiba berhenti melangkah, membuatnya memutuskan untuk bersembunyi sebelum Jongin dan Kyungsoo melihat keberadaannya di rumah sakit yang sama dengan mereka.
"Ada apa sayang? Kenapa berhenti?"
Kai sedikit mengernyit melihat istrinya yang tiba-tiba berhenti melangkah dan kini menoleh ke belakang seperti mencari sesuatu, sementara Kyungsoo dia sepertinya merasa melihat sosok yang sangat familiar untuknya beberapa detik yang lalu, membuatnya segera berhenti melangkah berharap dia tidak salah mengenali orang.
"Luhan?"
"Kau bilang apa sayang?"
"Kai aku rasa aku melihat Lu-….ah Sudahlah. Mungkin dia sudah berada di Jepang saat ini."
"Kau membicarakan siapa?"
"Sudahlah, ayo kita temui Minseok. Aku lelah." Gumam Kyungsoo merangkul kembali lengan suaminya meninggalkan Luhan yang tersenyum miris menyadari kalau semua orang mungkin sudah mengira dirinya kini sudah berada di Jepang bersama Seunghyun.
Luhan kemudian menghela nafasnya dan kembali berjalan mendekati ruang administrasi sambil berpikir harus melakukan apa setelah ia keluar dari rumah sakit ini. Namun sedetik kemudian bibirnya kembali tersenyum pahit karena benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah keluar dari rumah sakit.
"Permisi."
Luhan menyapa seorang pegawai yang kini terlihat tersenyum ke arahnya "Selamat siang Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" katanya bertanya pada Luhan yang masih terlihat ragu.
"umm…Aku ingin melihat tagihan dari rumah sakit ini untuk pengobatanku. Apakah bisa?"
Pegawai tersebut kembali tersenyum dan mengangguk merespon pertanyaan Luhan "Tentu saja bisa. Siapa nama anda?"
"Choi Lu-…" Luhan sedikit membeku dengan ucapannya beberapa saat sebelum menyadari kalau dia tidak bisa lagi menggunakan marga Seunghyun didepan namanya. Dia kemudian sedikit tersenyum dan menghela nafasnya "Luhan-.. Namaku Xi Luhan."
"Kalau begitu sebentar tuan Xi." Pegawai wanita tersebut sedikit memeriksa status Luhan dan tak lama kembali menatap pasien yang tampaknya terlihat mencemaskan sesuatu.
"Semua pengobatan dan tindakan medis yang dilakukan atas nama anda sudah dalam status lunas. Jadi anda tidak perlu khawatir."
Luhan sedikit mengernyit sebelum akhirnya kembali bertanya "Apa kau yakin? Aku bahkan belum memberikan rekening atas namaku." Katanya kembali bertanya dan tak lama si pegawai wanita kembali memeriksa status Luhan.
"Seluruh biaya pengobatan anda telah otomatis dibayarkan melalui asuransi anda"
"Asuransi apa? Aku rasa asuransiku sudah lama expired."
"Asuransi pribadi anda yang setiap bulannya dibayarkan atas nama anda."
Luhan semakin tidak mengerti dan sedikit menoleh memaksa melihat ke data yang sedang dilihat pegawai wanita tersebut "Apa aku boleh tahu siapa yang membayarkannya?"
"Sebentar."
Pegawai rumah sakit itu kembali memeriksa dan kemudian kembali menatap Luhan dengan tersenyum "Asuransi pribadi anda masih aktif dan dibayarkan setiap bulan oleh Tuan Oh Sehun. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Sehun?"
Luhan sedikit membeku saat ini, jantungnya berdegup cepat saat nama Sehun yang sudah tidak ia dengar selama tiga bulan ini kembali ia dengar. Dan kenyataan bahwa Sehun masih mempedulikan dirinya bahkan disaat dirinya telah bersama orang lain membuat Luhan semakin merindukan pria yang merupakan ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.
"umhh…Terimakasih banyak untuk bantuanmu." Luhan sedikit membungkukan badannya dan kembali berjalan menuju ruangannya sampai kemudian matanya kembali menatap sosok yang tidak asing lagi untuknya sedang menunggu lift terbuka.
"Yunho hyung?"
Mungkin Luhan bisa memaklumi keberadaan Kai dan Kyungsoo di rumah sakit ini untuk memastikan keadaan calon bayi mereka dalam keadaan sehat. Tapi melihat Yunho berjalan dengan wajah pucat membuat Luhan sedikit bertanya-tanya dan diam-diam mengikuti pria yang selalu ia hormati dalam hidupnya. Luhan secara perlahan masuk kedalam lift yang sama dengan yang Yunho naiki, dia sesekali melirik ke arah Yunho dan menatap rindu pria yang pernah sangat menyanyanginya bahkan melebihi rasa sayangnya untuk adiknya sendiri.
Tring….!
Luhan sedikit terkesiap saat Yunho turun di lantai enam yang merupakan lantai yang sama dengan tempatnya dirawat. Membuat Luhan sedikit berkeringat takut mengetahui kedatangan Yunho adalah untuk menemui dirinya sebelum dahinya kembali mengernyit saat Yunho berjalan ke arah berlawanan dengan ruangan Luhan dan saat ini pergi ke kamar VIP dengan Sekertaris Kang yang tengah berdiri didepan ruangan tersebut.
"Direktur anda sudah datang?"
Luhan sedikit bersembunyi untuk mendengarkan percakapan antara sekertaris Kang dengan Yunho membuatnya bertanya-tanya siapa yang berada di ruangan itu hingga wajah pucat terlihat sekali di wajah Yunho.
"Bagaimana keadannya?"
"Tuan muda mengalami kejang beberapa waktu yang lalu. Tapi dokter mengatakan itu reaksi wajar yang diberikan dalam masa pemulihan."
"Sehun?"
Jantung Luhan mulai berdegup kencang menyadari siapa yang kini tengah dibicarakan oleh Yunho dan sekertaris Kang.
"Reaksi wajar kau bilang? Hampir sebulan dia berbaring disana dan tak kunjung membuka matanya. Aku harus melakukan apa agar dia kembali membuka matanya?" Yunho meremat kasar rambutnya dan bertanya frustasi pada Sekertaris Kang yang hanya diam tak menjawab.
"Hyung?"
Yunho sedikit menoleh saat mendapati kedua adik iparnya baru keluar dari ruangan tempat dimana Sehun berbaring didalam sana.
"Kalian disini?"
"hmmm. Dia masih tidak memberikan respon." Gumam Kyungsoo memeluk sekilas kakak iparnya yang terlihat marah dan frustasi karena keadaan adiknya.
"Aku tahu. Paman Kang baru memberitahukan keadaannya padaku." Gumam Yunho menatap lirih Kyungsoo
"Sebaiknya kalian segera pulang. Haowen juga sedang demam. Aku akan segera pulang setelah ini. Paman Kang yang akan menjaga Sehun malam ini."
Baik Kai dan Kyungsoo hanya bisa mengangguk perlahan. Keduanya pun sedikit menatap Sekertaris Kang sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan Sehun melewati Luhan yang masih bersembunyi di belakang dinding yang terdapat sebagai pembatas ruangan VIP dan ruang perawatan biasa.
"Sehunna ada apa denganmu?" Gumam Luhan yang mulai tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya dan memutuskan untuk berdiri disana sampai akhirnya Yunho terlihat berpamitan pada Sekertaris Kang yang terus memberikan semangat padanya.
"Hubungi aku jika ada kemajuan dari kondisi adikku."
"Pasti direktur-….saya akan segera menghubungi anda. Sekarang pulang dan beristirahatlah, putra anda menanti."
Yunho kemudian tersenyum berterimakasih sebelum akhirnya berjalan meninggalkan ruangan Sehun dan kembali melewati Luhan yang masih bersembunyi tak jauh dari ruangan Sehun. Sedikit ragu apakah dia harus berjalan mendekati Sekertaris Kang atau hanya kembali ke ruangannya dan bertanya pada petugas rumah sakit mengenai pasien yang berada di ruang tersebut sampai akhirnya tanpa sadar Luhan berjalan gontai mendekati paman Kang yang terlihat sedang berbicara di ponselnya.
"Kau makanlah yang banyak sayang. Appa tidak akan pulang hari ini. Dengarkan ayah Kang Seul-…"
"Paman…"
Sekertaris Kang secara refleks menoleh saat ada yang memanggilnya dan begitu terkejut mendapati Luhan berdiri didepannya saat ini. Dia pun mengabaikan suara Seulgi yang sedang memanggilnya di ponsel dan berdiri cepat menatap pria yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
"Luhan? Asaga-….Kau benar-benar Luhan?"
Sekertaris Kang tersenyum senang dan memeluk Luhan sekilas sebelum akhirnya kembali menatap Luhan dengan cemas "Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu padamu?" katanya bertanya khawatir melihat perban yang ada di kepala Luhan dan membawa Luhan untuk duduk karena sepertinya Luhan terlihat kelelahan saat ini.
"Aku baik-baik saja paman. Bagaimana kabarmu?"
"Apa kau mengalami kecelakaan? Kenapa kau terlihat pucat?" paman Kang mengalihkan pembicarannya dan masih bertanya khawatir pada Luhan.
"Paman..." Luhan juga berusaha mengabaikan pertanyaan Sekertaris Kang karena saat ini pikirannya sedang tidak fokus dan merasa sangat cemas memikirkan apa yang terjadi pada Sehun.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apapun Luhan. Kau boleh bertanya apapun."
"Apa yang terjadi pada Sehun?"
..
..
..
"Aku tidak tahu kapan pastinya ini terjadi, tapi dokter mengatakan bahwa Tuan muda terlalu banyak mengkonsumsi obat penenang dalam jumlah banyak yang menyebabkan kerusakan pada fungsi ginjal dan hatinya. Direktur sendiri tidak menyangka kalau adiknya akan sampai menyakiti dirinya seperti ini. Dan kau tahu apa yang sangat membuat direktur sangat marah pada dirinya sendiri Luhan?"
"Karena tak ada satupun dari kami yang mengetahui kondisi Sehun sudah separah ini. Kami bahkan tidak diberitahu kalau ternyata Tuan muda sudah beberapa kali dirawat di rumah sakit."
Seluruh penjelasan Sekertaris Kang kini terus terngiang di telinga pria cantik yang kini berjalan gontai memasuki ruangan Sehun yang terasa gelap dan sangat dingin, namun dia mengabaikan semua perasaan takutnya dan tanpa berkedip menatap tubuh pria tampannya yang sedang terkulai lemas dengan wajah yang terlihat begitu pucat. Luhan secara refleks mengepalkan erat tangannya karena merasa hatinya kembali tersayat melihat pria yang selalu terlihat berkuasa kini hanya terbaring tak berdaya dengan seluruh alat bantu di tubuhnya.
"Sudah berapa lama Sehun berada disini?"
"Minggu ini sudah memasuki minggu ketiga Wakil direktur berbaring di tempat tidurnya. Dokter sudah melakukan detoksifikasi pada hatinya dan semua seharusnya sudah kembali normal kalau saja tubuh Sehun tidak menolak segala pengobatan yang diberikan oleh tim medis."
"Apa maksud paman?"
"Kondisi vital tuan muda saat ini sudah berfungsi normal. Hanya saja dokter mencurigai kalau tuan muda sengaja menekan alam bawah sadarnya untuk tidak merespon apapun yang diberikan oleh dokter atau siapapun."
"Aku sungguh tidak mengerti paman."
"Dokter mengatakan Tuan muda mengalami tekanan batin yang cukup mempengaruhinya untuk menolak menerima kesadarannya. Dia sengaja membuat dirinya terus terbaring lemah disana Luhan. Dia tidak mau membuka matanya."
"Kenapa tidak mau?" gumam Luhan bertanya dan tak berkedip memandang wajah yang sangat ia rindukan selama tiga bulan ini. Wajah yang diam-diam selalu terbayang di benaknya bahkan saat dirinya sedang menjalani tugasnya sebagai istri untuk Seunghyun.
"Bicaralah padanya Luhan. dokter mengatakan Sehun bisa mendengar apapun yang kita ucapkan, dia hanya tidak ingin meresponnya dan menyerah pada keadaannya saat ini."
"Se-Sehun..."
Luhan begitu merasakan sesak yang tak wajar saat nama Sehun kembali ia sebutkan dengan penuh kerinduan didalamnya. Dia pun menghapus cepat air mata dan tak lama menarik kursi didepan Sehun dan kembali memandang pria tampannya yang selalu terlihat menawan bahkan saat alat bantu pernafasan dan selang infus bertengger di tubuh kekarnya.
"Aku baru saja mengatakan aku merindukanmu dan tanpa perlu menunggu lama aku bisa melihat wajahmu." Gumam Luhan tersenyum bersyukur karena tak perlu merindukan Sehun terlalu lama sampai senyuman di wajahnya kembali menghilang digantikan tatapan pilu yang begitu menusuk karena merasa begitu marah dan kecewa pada pria yang kini berbaring tak berdaya didepannya.
"Tapi kenapa seperti ini?" katanya tersenyum lirih dan tak lama tertunduk tak bisa menatap Sehun lebih lama lagi.
"Kenapa kau terus membohongiku Sehunna. Kau bilang kau sudah merelakan aku. Kau bilang kau akan hidup dengan baik. Kau bilang-..."
Luhan menggigit kencang bibirnya dan mengepalkan erat tangannya. Sejenak dia membiarkan dirinya terisak hebat begitu takut membayangkan bagaimana jika pria didepannya ini tak pernah lagi membuka matanya.
Nafas Luhan mulai tersengal sampai akhirnya dia menghapus cepat air matanya lalu kembali menatap Sehun dan menggenggam jemari tangan kanan Sehun yang terasa dingin.
"Cepat buka matamu dan temukan aku. Ada banyak hal yang ingin aku beritahu padamu Sehun. Terlalu banyak hingga aku tidak tahu harus memulainya darimana. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini. Aku-..."
tes...!
Air mata Luhan begitu saja lolos mengenai telapak tangan Sehun yang masih terasa dingin di genggamannya. Dia begitu putus asa memejamkan erat matanya karena Sehun masih diam tak merespon segala ucapannya.
"Aku begitu ketakutan disini. Aku mohon cepat buka matamu. Aku ingin mendengar suaramu OH SEHUN!"
Sesaat semuanya menjadi hening, hanya terdengar suara isakan Luhan dan jam dinding yang terus berdetak. Luhan terus menggenggam erat tangan Sehun yang terasa dingin sampai kemudian dia merasa pandangannya mulai kabur karena rasa sakit di kepalanya mulai terasa. Luhan terus menguatkan dirinya, tak berniat meninggalkan Sehun sampai akhirnya dia menyerah pada rasa sakitnya.
Luhan menatap Sehun cukup lama, mengagumi ketampanan Sehun yang begitu sempurna tanpa cela lalu kemudian dia dengan gugup dan ragu mengarahkan tangan Sehun ke perutnya yang mulai sedikit membesar "Disini adik bayi sedang menanti bertemu dengan ayahnya. Jadi cepat buka matamu dan temui kami.aku merindukanmu. Aku tahu tidak pantas aku mengatakan ini. Tapi aku merindukanmu-...Aku merindukanmu sayang." Gumamnya kembali terisak sebelum merasa benar-benar mual dengan keadaan dirinya yang juga belum sepenuhnya pulih.
"Aku lelah Sehun. Aku juga harus beristirahat. Tapi aku janji akan kembali lagi melihatmu. Kau juga harus berjanji saat aku datang kembali kau sudah membuka matamu hmm.." Luhan sedikit mengusap lembut dahi Sehun sebelum akhirnya mengecup kening Sehun dan kembali tersenyum menatap wajah tampan yang terlihat pucat saat ini.
"Aku menunggumu Sehun." Katanya menghapus cepat air matanya dan tak lama kembali berjalan gontai meninggalkan ruangan yang masih terasa dingin untuknya saat ini.
"Luhan..."
Sekertaris Kang menyapa Luhan dan sedikit khawatir menatap wajah Luhan yang berkeringat hebat menandakan pria didepannya ini jelas sedang kesakitan.
"Paman apa boleh aku kembali meminta sesuatu darimu?"
"Ya tentu saja Luhan."
"Kedatanganku hari ini. Anggap kau tidak pernah melihatnya." Ujarnya kembali berjalan gontai meninggalkan Sekertaris Kang yang hanya bisa menatap iba pada Luhan. Pria baruh baya itu hanya bisa tersenyum lirih menyadari dirinya juga menjadi saksi betapa kejam takdir mempermainkan perasaan kedua insan yang saling mencintai.
"Aku merelakanmu."
"Pergilah sayang. Berbahagialah dengan Seunghyun. Aku tidak akan membuatmu merasa menyesal dengan keputusanmu kali ini. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu sampai aku berhenti bernafas. Pergilah sayangku."
"Kau berbohong padaku. Kau tidak pernah merelakan aku Sehun."
Saat ini Luhan masih berjalan gontai menuju ke kamar perawatannya. Dan di sepanjang perjalanannya semua kalimat perpisahan dari Sehun tiba-tiba menyeruak ke ingatannya dan perlahan berputar bagai video kenangan menyakitkan untuk Luhan. Dan bayang-bayang wajah pucat Sehun yang terbaring lemah disana, membuat rasa sakit itu terasa sangat menyesakan.
Luhan masih berusaha mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Tapi semakin dia mengabaikannya penglihatannya juga semakin memudar. Membuat tubuhnya seketika melemas dan tiba-tiba terjatuh karena tak bisa memaksa dirinya lebih jauh lagi. Luhan masih mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum lirih menyadari satu hal.
"Aku juga tidak pernah merelakan kepergianmu Sehunna."
Gumamnya dan tak lama benar-benar menyerah pada rasa sakitnya yang seolah meminta mata itu agar segera terpejam. Karena memang setelahnya, Luhan merasa matanya sangat sulit untuk membuka dan hal terakhir yang ia dengar adalah suara teriakan dari beberapa penjaga yang memanggil namanya sebelum akhirnya semua menjadi sunyi dan tak ada suara lagi yang terdengar memanggil namanya.
..
..
..
Saat ini Luhan merasa tubuhnya tak memiliki tenaga bahkan hanya untuk mengangkat ibu jarinya saja dia tidak bisa melakukannya. Tapi perlahan mata itu membuka dan yang pertama kali ia lihat adalah sosok dokter yang terlihat canti sedang menatapnya cemas dan terlihat menghitung tetesan cairan infus menggunakan arlojinya.
"Baekhyun..?"
Yang dipanggil namanya pun menoleh dan tiba-tiba memekik tak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat Luhan sudah kembali sadarkan diri.
"Aku pikir kau sengaja membuat dirimu kesakitan." Katanya menyindir Luhan yang tampak terkekeh.
"Kenapa aku harus melakukannya?" gumam Luhan bertanya dengan suara yang terdengar sangat lemas.
"Siapa juga yang akan bertahan jika menjadi dirimu, kau sedang hamil dan suami mu menceraikanmu, Semua orang pasti akan berbuat gila karena hal itu." Katanya memberitahu Luhan yang kini memucat mendengar celotehan dokter yang merawatnya.
"ah Luhan-...Aku tidak bermaksud berbicara seperti itu." Gumam Baekhyun menyesal membuat Luhan berusaha menggenggam jemari Baekhyun dan mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja." Gumam Luhan membuat Baekhyun kembali memicingkan matanya.
"Apanya yang baik-baik saja?! Kau mengalami dehidrasi hebat Luhan. jadi aku mohon jangan terlalu lama meninggalkan tempat tidurmu dan berhenti menangis. Kau benar-benar menyakiti dirimu sendiri."
"Bayimu bahkan lebih kuat dari ibunya. Jadi kau tidak perlu khawatir." Katanya memberitahu Luhan karena menyadari perubahan raut wajah Luhan yang mengkhawatirkan calon bayinya.
"Terimakasih Baekhyun. Kau sudah banyak menolongku. Aku-.."
"Selamat siang." Baekhyun dan Luhan otomatis menoleh ke asal suara dan keduanya tampak tak menyukai kedatangan pria tua yang merupakan pengacara yang disewa keluarga Choi untuk mengurus perceraian Luhan dan Seunghyun.
"ish. Kau lagi!"
"Luhan-ssi. Apa kita bisa berbicara sebentar?"
"Apa kau tidak lihat pasienku sedang beristirahat?" Baekhyun yang merasa tak dianggap di ruangan Luhan memotong ucapan pria tua didepannya yang terlihat sangat angkuh.
"Saya tidak berurusan dengan anda."
"Tapi kau berurusan dengan pasienku!" katanya menyalak begitu kesal selalu bertengkar dengan pengacara Lee sedari awal pertemua mereka.
"Dokter Byun..." Luhan memanggil Baekhyun yang otomatis menoleh kesal padanya.
"Aku akan berbicara dengan pengacara Lee. Sebentar saja." Katanya meyakinkan Baekhyun yang kini menatapnya cukup lama sampai akhirnya terdengar suara helaan nafas dari pria cantik didepan Luhan saat ini.
"Baiklah. Dan demi kepentingan pasien, aku akan berada disini sebagai saksi."
Luhan pun mengangguk menyetujui membuat Baekhyun tersenyum senang karenanya.
"Ada apa pengacara Lee?" Luhan berusaha sebiasa mungkin menyapa pengacara yang di bayar oleh keluarga Choi untuk mengurus perceraiannya dengan Seunghyun.
Pengacara Lee pun hanya membalas tatapan Luha sekilas sebelum akhirnya mengeluarkan beberapa dokumen dari tas hitam yang ia bawa.
"Ini adalah surat terakhir yang harus kau tanda tangani." Katanya memberitahu Luhan yang kini bersandar di kepala ranjang dengan bantuan dari Baekhyun.
"Lalu setelah itu apa?"
"Setelah ini kau dan Tuan Choi resmi bercerai dan kau tak berhak menuntut apapun karena kau tidak mendapatkan sepeser pun harta yang dimiliki Tuan Choi beserta keluarganya. Baik berupa deposit, rumah ataupun asuransi yang menggunakan namamu akan dihapuskan"
"Apa Seunghyun sudah menandatanganinya?" katanya bergetar dan bertanya pada pengacara Lee.
"Tentu saja sudah. Kau bisa melihat dengan jelas tanda tangan ini adalah milik Tuan Choi."
Luhan memperhatikan goresan pena tersebut sebelum akhirnya kembali tersenyum membenarkan bahwa itu adalah asli tanda tangan dari Seunghyun.
Baekhyun sendiri entah mengapa menjadi berkaca-kaca saat nafas Luhan yang begitu tersengal tanda pria itu menahan tangisnya begitu terdengar di telinganya. Membuatnya mengingat pepatah yang mengatakan jika kau jatuh cinta maka semua akan menjadi indah, tapi sekalinya terluka itu akan terasa seperti neraka.
"Terimakasih untuk segalanya Seunghyun."
Itu adalah kalimat yang begitu menyakitkan yang didengar Baekhyun sebelum akhirnya dia menjadi saksi perpisahan yang terjadi antara Luhan dan mantan suaminya. Dia membiarkan Luhan terisak beberapa saat setelah selesai menandatangani surat yang menyatakan bahwa keduanya telah bercerai saat ini.
Diam-diam pria yang gemar memakai eyeliner itu mendongak mencegah air matanya terjatuh tak tega mendengar suara isakan Luhan yang begitu memilukan sampai
Sret...
Baekhyun mengambil paksa dokumen yang sedari tadi digenggam Luhan dan memberikannya secara kasar pada pria angkuh yang secara resmi memenangkan kasus perceraian antara Luhan dan kliennya.
"Cepat pergi darisini. Pasienku harus beristirahat."
"Kau tahu kau melakukan hal yang benar. Seorang seperti Tuan Choi tidak pantas bersama sampah seperti-..."
"CEPAT PERGI!"
Baekhyun berteriak membuat pengacara Lee tersenyum meremehkan sebelum akhirnya membereskan dokumennya dan pergi meninggalkan ruangan Luhan.
"Luhan..."
"Aku baik. Aku baik-baik saja dokter Byun. Aku baik."
Luhan menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya dan terus mengatakan dia baik-baik saja.
Dan untuk Baekhyun. Dia hanya bisa menatap lirih punggung Luhan yang tampak bergetar saat ini, karena Ini bukan kali pertamanya Baekhyun melihat pengacara angkuh itu datang dan memperlakukan Luhan seperti seonggok sampah. Dia sudah melihatnya beberapa kali selama Luhan dan suaminya menjalani proses perceraian mereka. Dan hari ini adalah puncak dimana Luhan bisa bertahan dari semua proses yang ia jalani. Karena Luhan sudah secara resmi berpisah dari Seunghyun setelah menandatangani surat perceraian resmi mereka beberapa saat lalu.
"Aku tahu kau baik Luhan. beristirahatlah." Gumam Baekhyun mencoba menguatkan Luhan yang masih enggan untuk menatapnya saat ini.
"Luhan...!"
Sementara itu dikamar yang tak berbeda jauh dari ruangan Luhan, seseorang menggerakan jarinya sebagai tanda dia merespon apa yang dia rasakan. Rasa rindu dan gundah yang sedikit terobati membuatnya tak memiliki alasan untuk terlelap lebih lama. Sampai akhirnya kedua mata itu terbuka dan
"Luhan."
Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan pria yang sudah hampir tiga minggu itu terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya. Dan entah mengapa saat membuka matanya dia memiliki perasaan yang begitu gundah dan terasa begitu menyesakan. Memanggil nama seseorang yang jelas tak akan pernah ia temui lagi membuatnya begitu hampa dan hanya tertawa lirih mengasihani dirinya yang begitu hancur disaat dia mengatakan merelakan kepergian cintanya.
..
..
..
"Luhaaannnn…"
Merasa namanya dipanggil secara refleks membuat pria yang sedang berbaring dengan selang infus yang masih terpasang di tangan kirinya pun sedikit menoleh dan tersenyum mendapati dokter yang mungkin memiliki usia yang sama dengannya terlihat begitu bahagia pagi ini.
"Kenapa kau terlihat bahagia?"
"ish! Lalu kenapa kau terlihat tidak bersemangat."
"Aku sudah bilang ingin mengunjungi seseorang di rumah sakit ini. Tapi kau terus menambah kantung infus di tanganku."
Baekhyun terlihat terkekeh menyadari kalau pasiennya benar-benar terlihat menggemaskan bahkan saat wajahnya memucat karena mengalami dehidrasi berat.
"Kau masih kekurangan cairan Luhan. Mungkin tidak masalah untukmu, tapi itu bisa berbahaya untuk bayimu. Lagipula- …" katanya mulai mengernyit menatap Luhan dengan curiga.
"Siapa yang ingin kau temui hmm? Apa dia kekasih barumu?" katanya menggoda Luhan yang kini memalingkan wajahnya karena malu.
"Ayolah cerita padaku. Setelah kau cerita aku akan memberikan kabar baik untukmu."
"Kabar baik apa?"
"Kau harus beritahu siapa yang ingin kau temui terlebih dulu." katanya bersikeras tak mau kalah dengan Luhan.
"Yasudah kalau kau tidak mau memberitahuku. Aku pergi dulu, sampai nanti Lu-..."
"Ayah dari calon bayiku."
"eh?"
Luhan kemudian tersenyum lirih menoleh menatap Baekhyun yang terlihat bertanya-tanya "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Tapi dia disini. Pria yang aku cintai dan ayah dari calon bayiku. Dia sedang dirawat disini."
Baekhyun ingin sekali bertanya siapa pria yang Luhan maksud. Karena mungkin orang itu juga merupakan salah satu pasien yang ia rawat. Tapi melihat wajah Luhan yang tampak kosong membuatnya kembali menahan diri untuk bertanya tentang siapa pria beruntung yang bisa merasakan cinta yang begitu besar yang Luhan berikan untuk pria tersebut.
"Aku memiliki dua kabar gembira untukmu kalau begitu."
"Aku mendengarkanmu" gumam Luhan menatap Baekhyun dengan sedikit tak sabar
"umhh... Pertama. Setelah cairan infusmu habis, kau boleh menemui priamu. Dan kedua. Jika kondisimu stabil. Lusa kau sudah boleh keluar dari rumah sakit."
Senyuman di wajah Luhan sedikit demi sedikit memudar. Bukan karena dia tidak menyukai kabar baik yang Baekhyun sampaikan. Hanya saja jika ia diperbolehkan pulang dia merasa sedikit bingung harus kemana mencari tempat untuk menetap.
"Kenapa? Kau tidak suka mendengar kabar baik dariku?"
Luhan menggeleng cepat dan tersenyum menatap dokter yang selalu tertawa dan tak pernah terlihat sedih.
"Tentu saja aku senang. Terimakasih untuk segalanya Baekhyun." gumam Luhan membuat Baekhyun kembali memicingkan matanya.
"Kau akan tinggal dimana setelah keluar dari sini?"
Luhan sedikit terdiam dengan pertanyaan Baekhyun yang seperti mengetahui kekhawatirannya.
"Tentu saja dirumah."
"Rumah siapa?"
Luhan kembali terdiam dan tak lama tertawa meyakinkan Baekhyun "Aku akan mencari tempat yang layak untuk diriku. Tidak perlu khawatir."
"Kau bisa tinggal di apartemenku. Aku banyak menghabiskan waktu di asrama rumah sakit. Jadi tidak ada yang menempati apartemenku. Kau bisa tinggal disana sementara sampai kau mendapatkan tempat tinggal."
Luhan kembali terkekeh dan menggenggam jemari Baekhyun dengan lembut "Aku bisa mengurus diriku sendiri. Sungguh." katanya meyakinkan Baekhyun membuat Baekhyun sedikit menghela nafasnya.
"Berjanjilah jika kau membutuhkan bantuan. Aku adalah orang pertama yang kau hubungi."
"Aku janji."
"Kau harus rutin melakukan terapi. Dan hanya boleh dilakukan disini. Denganku."
Luhan kembali tersenyum dan mengangguk tanpa ragu "Tentu saja."
Baekhyun yang sedikit banyak menjadi saksi bagaimana keluarga mantan suami Luhan memperlakukannya kini menatap iba pada pria cantik yang jelas memaksakan diri untuk tersenyum, membuatnya sedikit merasa bersalah karena tak bisa melakukan apapun untuk membantu pasien yang entah kenapa menjadi istimewa untuknya.
"Jaga dirimu Luhan."
"Aku akan menjaga diriku. Jangan khawatir." katanya mengusap pergelangan tangan Baekhyun seolah menguatkan dirinya sendiri kalau semua memang akan baik-baik saja.
Dan beberapa jam kemudian Baekhyun menepati janjinya untuk memperbolehkan Luhan pulang dan bertemu dengan pria yang ingin ia temui. Membuat wajah Luhan sedikit berwarna karena tak sabar ingin menemui Sehun yang dirawat tak jauh dari ruangannya. Dia berdoa dalam hati agar kondisi Sehun sudah menjadi lebih baik dan sedikit mengernyit mendapati ruangan Sehun yang terlihat sepi tak seperti saat pertama kali dia mengunjungi Sehun.
Merasa penasaran, Luhan pun segera mendekati ruang kamar Sehun dan membuka pintu ruangan tersebut secara perlahan sebelum
"KAU BOLEH MEMBENCIKU SELAMA YANG KAU MAU! TAPI JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK MEMBUAT DIRIMU TERLUKA SEHUNNA. KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU MARAH!"
Sebelum Luhan mendengar suara teriakan yang begitu familiar di telinganya, dan saat ini terlihat Yunho yang sedang memaki Sehun dengan seluruh emosinya sementara pria yang dua hari lalu masih terbaring tak berdaya di ruangannya. Kini tampak baik-baik saja dan mengabaikan teriakan kakaknya karena terlalu fokus bermain bersama keponakannya.
"Ya aku minta maaf."
Luhan sendiri tak bisa berkedip menatap semua yang berada di ruangan Sehun saat ini. Membuat bibirnya tanpa sadar tersenyum dan menatap rindu keluarga yang tampak berbahagia didalam sana. Keluarga yang pernah ia miliki sebelum semua kesalahpahaman beberapa tahun lalu terjadi.
Dan tanpa sadar air mata itu menetes. Perasaan emosi yang bercampur rasa lega dan bersyukur kembali menguasai Luhan. Dia begitu senang melihat Sehun sudah terlihat baik-baik saja, dia bahkan tertawa saat bermain bersama dengan Haowen. Dan tak ada yang membuat Luhan bahagia selain melihat Sehun tertawa tanpa harus merasa menyesal atau menangis saat bersamanya.
Luhan masih menatap Sehun tak berkedip sampai tak sengaja dirinya dan Sekertaris Kang bertatapan. Sekertaris Kang sedikit terkejut dan hampir berjalan mendekati Luhan sebelum Luhan memberi isyarat untuk diam dan tetap berada di tempatnya.
Awalnya Sekertaris Kang tetap berniat menyapa Luhan dan membuat seluruh keluarga Oh tahu tentang keberadaanya tapi saat dia melihat Luhan menatapnya dengan memohon membuat Sekertaris Kang tak punya pilihan lain selain tetap diam di tempatnya melihat serangkaian adegan yang begitu kontras dimana keluarga Oh berkumpul dengan berbahagia sementara disana Luhan hanya mengintip dan menatap rindu pada satu keluarga yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Luhan menghapus cepat air matanya dan tak lama kembali bertatapan dengan Sekertaris Kang yang masih memandang lirih ke arahnya. Luhan tersenyum sekilas padanya dan sedikit melambai berpamitan sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menutup pintu dan berusaha untuk tidak mengganggu kebahagiaan keluarga Oh saat ini.
..
..
Waktu terus berganti dengan musim dingin yang seolah enggan pergi dari kota seindah Seoul malam ini. Membuat siapa saja yang sedang berlalu lalang di luar pada malam hari harus menggunakan jaket tebal kalau tidak mau berakhir kedinginan di tengah cuaca dingin seperti ini.
Dan sama seperti orang-orang pada umumnya. Pria cantik yang sudah meninggalkan rumah sakit kurang lebih dua minggu yang lalu ini, tengah menyembunyikan kedua tangannya di kantong jaket tebal miliknya. Sesekali dia meniup tangannya yang terasa membeku sebelum akhirnya memasuki salah satu toko obat untuk menebus resep yang diberikan dokter spesialis kandungan untuknya.
Ah...dan berbicara tentang kandungan. Usia bayi yang berada di perutnya saat ini sudah menginjak bulan keempat dan Luhan sudah semakin terbiasa bahkan terlalu siap menyambut kehadiran calon buah hatinya dengan atau tanpa Sehun mendampinginya. Berbicara tentang Sehun, Luhan memang berniat untuk menemui pria tampannya itu dan memberitahukan segalanya. Tapi dia menunggu waktu yang tepat, setidaknya tanpa perban yang masih melilit di kepalanya dan sedikit menunggu keadaan Sehun yang sepertinya semakin membaik karena Sehun sudah diperbolehkan pulang lebih awal dari kepulangan Luhan hari itu.
"Selamat malam." Luhan menyapa penjaga toko dan melepas topi jaket yang ia kenakan sebelum menyerahkan selembar resep obat yang diberikan Minseok untuknya.
"Selamat malam tuan. Ada yang bisa saya bantu."
"hmmm. Aku ingin menebus seluruh obat yang ada di resep itu." Katanya masih melihat ke sekeliling dan tiba-tiba tertarik pada gulali yang dijual di toko obat tersebut.
"Dan ini." gumam Luhan tersenyum menunjukkan gulalinya membuat si penjaga mau tak mau ikut tersenyum.
"Baiklah tuan. Tunggu sebentar."
Luhan pun mengangguk dan tak lama membuka jaket tebalnya agar bisa melihat perutnya yang tak terlihat karena jaket tebal tersebut menyembunyikan perutnya yang membesar.
"Kau mendapatkan gulali malam ini sayang." Katanya sedikit tertawa dan kembali menutupi perutnya sebelum penjaga itu kembali datang dan menyerahkan vitamin yang dibutuhkan Luhan.
"Total semuanya dua puluh ribu won."
Luhan mengangguk dan mengeluarkan dompetnya lalu tak lama kembali mengambil satu gulali yang tersisa disana "Aku tambah gulali satu." Katanya memberikan gulali tersebut dan tak lama membayar semua belanjaanya.
"Terimakasih nona." Gumam Luhan tersenyum dan kembali memakai topi jaketnya dengan satu tangan yang ia sembunyikan di kantong jaket sementara tangan yang lain memegang belanjaan yang ia bawa.
Drrtt...drrt...
Luhan yang sedang berjalan menuju halte bis segera mengambil ponselnya dan sedikit tersenyum mendapati nama dokter Byun memanggilnya. Dan tak menunggu lama Luhan menggeser slide ponselnya dan
"Kenapa lama sekali...!"
Luhan tak bisa menyembunyikan tawanya mendengar suara Baekhyun yang begitu tak sabar.
"Maaf. Aku sedang diluar."
"Astaga Luhan...ini sudah malam. Sedang apa kau diluar?"
"Aku membeli vitamin untuk calon bayiku. Lagipula ini masih pukul delapan, ini belum malam dokter Byun." Balas Luhan yang mulai merasa kedua tangannya sedingin es saat ini.
"Ada apa meneleponku Baek?"
Terdengar suara Baekhyun mendengus kesal di seberang sana "Ada apa aku menghubungimu? Kau bercanda bertanya seperti itu padaku? Tentu saja aku merindukanmu."
"Besok aku ke rumah sakit dan kita akan bertemu."
"Syukurlah kau ingat harus melakukan terapi."
"Aku tidak ingin membuat dokterku yang cantik kesal padaku."
"Katakan lagi dan aku akan menculik bayimu jika dia sudah lahir nanti."
"Setidaknya aku tahu ada yang menyayanginya saat dia lahir nanti." Gumam Luhan membuat suasana seketika menjadi tenang karena Baekhyun tiba-tiba saja tak bersuara.
"Lu..."
"Ada apa Baek?"
"Apa kau ingin aku menemanimu malam ini?"
Luhan kembali tersenyum dan ingin sekali bertemu dengan teman baru yang entah kenapa seperti keluarga untuknya saat ini "Tidak perlu. Kita akan bertemu besok."
"haah~ baiklah kalau begitu. Kau berhati-hatilah dijalan dan segera tidur setelah meminum vitamin untuk adik bayi."
"Aku akan melakukannya. Kau juga beristirahatlah Baek."
"hmm...sampai besok Luhan."
"Sampai besok Baekhyun."
Pip...!
Dan tak lama kedua sambungan itu terputus membuat Luhan kembali tersenyum karena sangat bersyukur di pertemukan dengan banyak orang baik disaat dia merasa semua orang terlalu jahat padanya.
Dia kemudian tersenyum simpul dan masih terus berjalan menuju halte sampai
Sret...!
Sampai seseorang menarik kencang lengannya dan membuatnya sedikit tersentak dan tak lama membelalak menyadari siapa yang kini tengah mencengkram kuat lengannya.
"Luhan?"
Luhan merasa jantungnya berdebar kencang saat suara bass itu memanggilnya dan tatapan elang yang begitu mengintimidasi semakin menambah ketakutannya karena saat ini pria yang pernah sangat membencinya kini tengah berdiri menatapnya tak berkedip.
"Direktur Oh."
..
..
..
Tak ada yang lebih membuat jantung Luhan berdebar kencang selain harus duduk berdua dengan kakak kandung dari mantan kekasihnya di kafe yang berada tak jauh dari halte bis saat ini. tangannya yang sudah terasa dingin semakin dingin dan bibirnya yang sudah membeku semakin kaku untuk membuka sampai akhirnya Yunho yang lebih dulu membuka suaranya.
"Aku pikir kau sudah berada di Jepang Luhan." katanya membuka percakapan membuat Luhan mau tak mau menoleh menatapnya.
Luhan sendiri tidak tahu harus mengatakan apa pada Yunho saat ini. Ini semua diluar skenario yang ia rencanakan. Karena jika memakai caranya maka Sehun lah orang yang pertama yang mengetahui tentang keberadaannya di Seoul dan juga calon buah hati mereka yang saat ini sedang tumbuh besar didalam kandungannya.
Tapi saat ini Yunho yang bertanya, dan pria didepannya ini menunjukkan nada suara yang sukar dimengerti oleh Luhan yang selalu merasa takut setiap berhadapan dengan putra pertama keluarga Oh ini.
"Ada sedikit masalah, dan aku menunda keberangkatanku ke Jepang."
Yunho sedikit mengernyit sebelum akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan Luhan "Ada apa Luhan? Kenapa kau menggunakan perban di kepalamu? Apa kau mengalami kecelakaan?" katanya bertanya membuat Luhan benar-benar tak bisa menatap Yunho saat ini.
"y-ya kecelakaan kecil direktur."
Yunho kemudian tersenyum samar menyadari Luhan masih takut dan enggan berbicara padanya, membuat bagian dari hatinya begitu sakit dan menyesal tengah membuat pria didepannya begitu ketakutan padanya bahkan hingga saat ini.
"Tapi apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik direktur." Katanya membalas cepat dan tak sengaja melihat tatapan sendu Yunho yang ditujukan untuknya.
"Sehun pasti senang mengetahui kau masih berada di Seoul." Gumamnya tercekat membuat Luhan mau tak mau menatapnya.
"Dia juga sedang dalam masa pemulihan, dia sempat mengalami koma beberapa waktu lalu. Tapi semuanya sudah baik untuknya saat ini. hanya saja dia tetap menolak kembali kerumah dan kembali hidup bersama kakaknya. Dia begitu membenciku Luhan." Yunho menghapus cepat air matanya dan sedikit tertunduk sebelum akhirnya kembali menatap Luhan.
"Harusnya malam itu aku tidak turun ke ruang bawah tanah. Harusnya malam itu aku tidak memintamu pergi Luhan. Harusnya aku-..."
"yunho..." Luhan bergumam khawatir melihat Yunho yang terlihat lebih terluka dibanding dirinya maupun Sehun.
"Maukah kau bertemu dengan Sehun? Sekali saja sebelum kau benar-benar pergi meninggalkannya."
Luhan ingin sekali berteriak kalau dia tidak akan pergi kemanapun saat ini. tapi dia tahu benar siapa Yunho. Yunho dan Sehun memiliki sifat yang tak berbeda jauh, dan jika mereka sudah sangat menyayangi, keduanya akan menyayanginya dengan hidup mereka. Tapi jika mereka sudah membenci maka kemarahan dan kebencian yang akan dirasakan oleh siapapun yang membuat mereka marah.
"Luhan?"
Luhan sedikit tersadar dari lamunannya dan kembali melihat Yunho yang kini menatap memohon padanya.
"Kau mau kan bertemu dengan Sehun?"
Luhan sedikit menghela nafasnya dan tak lama giliran dia yang memberanikan diri menggenggam tangan Yunho "Aku mau bertemu dengannya. Hanya saja biarkan aku melakukannya dengan caraku."
Yunho mengangguk cepat dan tak bisa menyembunyikan kebahagiannya karena keputusan Luhan saat ini"Tentu saja Luhan." katanya membalas genggaman tangan Luhan dan menatap seseorang yang selalu mencoba untut terus membantunya bahkan saat dirinya membuang pria didepannya seperti sampah. "Terimakasih Luhan."
Yunho sedikit mengernyit saat Luhan tiba-tiba melepas genggamannya dan tengah berdiri dari kursinya saat ini "Maaf direktur, tapi aku harus segera pergi. Itu adalah bis terakhirku."
Yunho kembali menoleh ke arah halte bis dan bertanya-tanya bagaimana bisa Seunghyun membiarkan Luhan naik bis di malam dingin seperti ini "Luhan aku bisa mengantarmu."
"Tidak perlu direktur. Saya permisi, selamat malam."
Luhan membungkukan sekilas tubuhnya dan berjalan meninggalkan kafe dengan sedikit terburu sampai
"Luhan?"
Dia kembali berpapasan dengan Sekertaris Kang yang hendak masuk kedalam kafe. Luhan pun hanya tersenyum membungkukan badannya sebelum kembali mengejar bis terakhirnya yang sudah berada di halte saat ini.
Sementara Sekertaris Kang sedikit membelalak menyadari beberapa waktu lalu saat Yunho menghubunginya dia mengatakan sedang bertemu dengan orang penting dan memintanya ikut bergabung. Membuatnya sedikit berjalan cepat menemui Yunho karena baru menyadari orang penting yang dimaksud Yunho adalah Luhan.
"Direktur..." Sekertaris Kang memanggil Yunho yang pandangannya terus memperhatikan Luhan diluar sana.
"Paman.."
"Ya direktur."
Yunho kemudian sedikit menghela nafasnya melihat bisa yang Luhan tumpangi sudah pergi dan tak lama kembali menatap pria paruh baya didepannya.
"Aku ingin kau mencari tahu tentang Luhan. Aku ingin kau mencarinya secara detail dan tak satupun terlewatkan. Semua tentang Luhan dan kehidupan yang ia jalani saat ini." katanya menatap kosong ke depan merasa ada yang terlewat saat dia berbicara dengan Luhan beberapa saat yang lalu.
..
..
..
"Whoaa...Jadi kau bertemu dengan kakak calon ayah dari bayimu?"
"Iya Baekhyun. Aku sudah mengatakannya berulang kali pagi ini."
"Lalu apa kau bahagia?"
Luhan sendiri yang memang sudah memutuskan untuk menemui Sehun mau tak mau tersenyum dan tak bisa menyembunyikan kebahagiannya "Direktur tidak membenciku. Itu yang paling saat ini." gumam Luhan tersenyum sangat cantik membuat Baekhyun yang baru selesai menemaninya melakukan terapi terus menggodanya.
"Direktur akan segera menjadi kakak ipar. Jangan khawatir Lu."
"ish! Kau ini! berhenti menggodaku." Gumam Luhan merasa kesal membuat Baekhyun semakin bersemangat menggoda pasiennya.
"dokter Byun. Hasilnya sudah keluar."
Dan acara Baekhyun menggoda Luhan pun terpaksa berhenti saat perawat Kim masuk ke ruangan Baekhyun dan memberikan hasil terapi Luhan untuknya.
"Bagaimana?" Luhan bertanya sedikit penasaran karena raut wajah Baekhyun menjadi serius.
"Luhan, jika aku memegang bagian ini. Apakah sakit?"
"Akhhh.." Luhan sedikit meringis saat Baekhyun memegang bagian belakang kepalanya yang berdekatan dengan tengkuk lehernya.
"Ternyata benar. Kau juga mengalami memar di bagian ini." gumam Baekhyun yang kini meraba pelan bagian tengkuk Luhan
"Apa berbahaya?" katanya bertanya serius pada Baekhyun
Baekhyun menggeleng dan tersenyum menatap Luhan "Tidak berbahaya Luhan. hanya saja kau akan sering mengalami sakit kepala."
"Itu pasti menyebalkan." Katanya melipat kedua tangannya dan kesal.
"Astaga kau bahkan seperti bayi saat ini." gumam Baekhyun tertawa dan tak lama berjalan mendekati Luhan.
"Kau akan baik-baik saja."
Luhan kembali tersenyum dan memegang tangan Baekhyun yang berada di pundaknya "Tentu saja aku akan baik-baik saja. Aku memiliki dokter paling berpengalaman yang merawatku."
"Kau benar. Aku ini berpengalaman dan terlalu ahli hanya untuk mengurusmu."
Luhan memicingkan matanya dan kemudian menatap Baekhyun dengan berbinar "Apa kita bisa makan siang bersama?"
Baekhyun pun menggigit kencang bibirnya sebelum akhirnya kembali berjalan menuju kursinya "Aku ingin. Tapi pasienku banyak hari ini Lu. Bagaimana kalau makan malam?"
"Lain kali saja kalau begitu. Kau tahu aku tidak nafsu makan di malam hari."
"Hey jangan merajuk."
"Aku tidak merajuk. Aku-..."
Cklek...!
"Dokter Byun. Apakah anda sudah selesai? Pasienmu yang selanjutnya sudah menanti."
Luhan dan Baekhyun keduanya pun sedikit memicingkan matanya sebelum akhirnya kembali tertawa menatap asisten Baekhyun yang terlihat memucat saat ini.
"Aku sudah selesai dengan pasien istimewaku dan akan ke ruang terapi sebentar lagi. Cepat pergi."
Asisten Baekhyun pun tampak mengangguk dan tak lama kembali menutup pintu ruangan Baekhyun.
"Kau lihat kan? Aku sangat sibuk."
"Aku tahu. Kalau begitu aku pergi dulu, jangan lupa makan Baek."
Baekhyun sedikit tertawa sebelum akhirnya mencubit kencang pipi Luhan "Aku merasa punya kekasih semenjak berkenalan denganmu."
"Jangan menyukaiku, nanti kau kesakitan." Gumam Luhan tersenyum pahit dan tak lama berdiri dari kursinya.
"Kau ini. bagaimana mungkin mencintai seseorang bisa kesakitan."
"Kalau begitu temukan kekasih dan rasakan sendiri bagaimana rasanya jatuh cinta. Tidak selamanya cinta itu menyenangkan." Gumam Luhan menggerutu membuat Baekhyun benar-benar tertawa kali ini.
"Aku tahu kau berpengalaman."
"Iya berpengalaman di campakkan. Ah sudahlah-...Aku pergi dulu. Sampai nanti Baekhyun."
"Luhan jangan lupa kau harus menebus obat yang aku berikan." Baekhyun mengingatkan Luhan sebelum Luhan menutup pintu ruanganyya.
"Aku ingat dokter Byun. Sampai nanti dan hubungi aku jika kau merasa kesepian." Katanya mengerling Baekhyun dan tak lama benar-benar pergi meninggalkan Baekhyun yang kini memijat kepalanya.
"Kau yang kesepian Luhan. Bukan aku." Katanya tersenyum lirih memperhatikan kepergian Luhan sebelum akhirnya kembali harus bekerja dan bertemu kembali dengan pasiennya.
..
..
..
"Pengambilan obat atas nama Luhan."
Merasa namanya dipanggil pun membuat Luhan kembali berdiri dan menghampiri ruang pengambilan obat untuk mengambil beberapa obat yang diberikan Baekhyun untuknya. Dan selagi petugas menjelaskan cara pakai obat, Luhan tak sengaja menatap dari cermin yang terdapat di toko obat tersebut dan segera menoleh untuk memastikan kalau matanya tak salah melihat pria yang kini tengah berjalan masuk kedalam lobi rumah sakit dengan wajah yang terlihat masih memucat seperti saat terakhir ia melihatnya.
"Sehun?"
"Apa ada yang ditanyakan tentang cara pemakaian obatnya tuan?"
Luhan segera mengambil obatnya dan tak lama sedikit tersenyum berterimakasih pada petugas yang memberikan obatnya "Aku sudah mengerti. Terimakasih." Gumamnya dan tak lama berniat memastikan kalau pria yang sedang duduk di lobi rumah sakit adalah benar Sehun.
Karena jika benar itu Sehun, Luhan sudah memutuskan kalau hari ini dia akan berbicara dan berniat memberitahu semua tentang keadaan dirinya dan calon bayi yang kini semakin membesar didalam perutnya pada Sehun.
Jantung Luhan kembali berdebar cepat saat langkahnya semakin mendekat dengan pria yang benar adalah Sehun. Wajah tampannya yang terlihat semakin tampan walau sedikit memucat. Dan suaranya yang terdengar saat dirinya bertanya pada beberapa petugas mengenai jadwal check up nya membuat Luhan menyadari kalau keberadaan Sehun disini juga untuk memeriksakan kesehatannya.
"Kau terlambat Sehun."
Langkah Luhan terhenti saat melihat sosok dokter yang sedari awal merawatnya dengan baik kini menyapa Sehun yang terlihat tersenyum dan berdiri memeluk sekilas pria cantik didepannya.
Pikiran Luhan menerawang jauh dan sedikit terkejut karena ternyata selama ini Baekhyun mengenal Sehun, membuatnya sedikit tersenyum menyesal karena tak pernah menyebut nama Sehun didepan Baekhyun. Mungkin ceritanya akan berbeda jika Luhan bercerita siapa Sehun pada Baekhyun lebih awal. Baekhyun pasti akan membantunya bertemu dengan Sehun dan mungkin dirinya dan Sehun sudah bisa bersikap biasa bahkan sudah mulai kembali berinteraksi seperti sebelumnya. Tapi tentu saja itu hanya sepotong adegan harapan Luhan yang berada di benaknya.
"Aku sibuk. Aku saja lupa jika hari ini jadwalku check up kalau kau dan Yunho hyung tidak terus menggangguku."
Bibir Luhan secara refleks tersenyum mendengar alasan Sehun yang begitu mengobati kerinduannya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mendekati kedua pria yang terlihat akrab dan berniat menjelaskan segalanya sebelum lengannya dicengkram kuat membuatnya harus menoleh dan sangat terkejut mendapati mantan suaminya kini sedang menatapnya tajam.
"Hai Luhan."
Dan seketika Luhan merasa begitu ketakutan saat untuk pertama kalinya mendengar suara Seunghyun setelah perceraian mereka beberapa waktu lalu.
"Kenapa? Terkejut melihatku?" katanya menyeringai dan tak lama menarik paksa Luhan untuk menjauh dari keberadaan Sehun saat ini.
"Duduk."
Seunghyun menarik kasar kursi yang berada di kafe rumah sakit lalu meminta Luhan untuk segera duduk dengan tak sabar. Setelahnya dia menarik kasar kursi didepan Luhan dan menatap Luhan dengan memburu dan terlihat marah.
"Lihat aku." Katanya memerintah namun Luhan hanya tertunduk ketakutan saat ini.
"Luhan lihat aku." Desisnya mengepalkan tangan karena Luhan tak juga meresponnya membuat kesabarannya habis dan
"LUHAN!"
Luhan secara refleks menoleh dengan mata berkaca saat Seunghyun berteriak dan mengabaikan semua orang yang kini menatap ke arahnya.
"Begitu lebih bagus. Aku merindukan mata indahmu." Gumam Seunghyun bersandar di kursinya dan menatap Luhan dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
"Seunghyun aku-.."
"Pikirmu pertemuan kita adalah sebuah kebetulan? Tidak Luhan-...Aku tahu kau akan kesini dan aku sengaja datang kesini untuk berbicara denganmu."
Luhan sedikit takut menatap Seunghyun sebelum akhirnya kembali menenangkan dirinya agar Seunghyun tak berteriak.
"Untuk apa?"
Seunghyun tertawa sekilas dan tak lama memandang tajam ke arah Luhan "Aku ingin tahu apa kau terluka atau bahagia saat berpisah denganku. Tapi aku begitu muak saat menyadari bajingan itu juga berada disini dan kau menatapnya lapar seperti ingin berbicara dengannya."
"Apa kau senang kita berpisah?" katanya bertanya pada Luhan yang kini tak menolak tatapan Seunghyun.
"Kau yang senang bukan aku." Gumam Luhan membalas membuat Seunghyun kembali tertawa.
"Benarkah hanya aku yang senang?" katanya bertanya mengejek pada Luhan lalu menopang dagunya dengan tangan kanannya yang berada di meja.
"Lalu coba jelaskan padaku apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mencengkram lenganmu? Apa kau akan memberitahu bajingan itu tentang keberadaan bayi sialan itu. Lalu setelahnya dia akan memilikimu selamanya. Apa itu yang kau inginkan?"
Luhan membalas tatapan Seunghyun yang begitu mengintimidasi dengan tangan yang mengepal begitu erat saat Seunghyun terus mengatakan hal yang begitu kejam pada Sehun dan calon bayinya.
"Sehun bukan bajingan dan bayiku bukan sialan. Satu-satunya yang bisa kau hina dan kau salahkan adalah aku Seung-..."
BRAK...!
Seunghun memukul kencang mejanya begitu marah mengetahui Luhan masih membela Sehun didepannya membuat Luhan sedikit tersentak namun tak mengalihkan tatapannya pada Seunghyun "Kau sungguh menyedihkan Luhan. Kita baru bercerai selama satu bulan dan kau sudah ingin kembali mengemis cinta pada Sehun? Apa kau tahu kau ini seperti sampah, jika Sehun membuangmu aku yang memungutmu. Lalu jika aku yang membuangmu Sehun yang akan memungutmu. Kau sampah Luhan." gumamnya menyalang penuh kebencian pada Luhan yang terlihat tersenyum saat ini.
"Aku setuju. Aku memang sampah yang menyedihkan."
Seunghyun mengepalkan erat tangannya dan tak lama melihat Luhan begitu marah "Apa kau pikir aku akan membiarkan kalian bersama? Demi Tuhan Luhan...Aku ingin sekali menghabisi bajingan itu."
Pandangan Luhan berubah menjadi ketakutan saat Seunghyun mengatakan dengan jelas ingin menyakiti Sehun dengan seluruh hidupnya.
"Kau tidak bisa melakukannya."
"Percayalah aku bisa. Aku bisa sangat kejam menghabisinya bahkan bayi sialan itu."
"Seunghyun-...harus berapa kali aku bilang bayi ini tidak bersalah? Apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti mengancamku? Aku mohon jangan salahkan Sehun atau bayiku, mereka tidak tahu apapun."
"Kau benar. Mereka tidak tahu apapun. Kalau begitu buat mereka tidak tahu apapun se-la-ma-nya."
Wajah Luhan mulai memucat dan diam-diam semakin mengepalkan erat tangannya sebelum kembali menatap Seunghyun untuk bertanya "Apa maksudmu?"
..
..
..
"Pergilah..."
"Pergi?"
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Tempat untuk kau tinggal dan beberapa uang yang bisa kau gunakan nantinya." Seunghyun mengeluarkan selembar cek dan tiket lengkap dengan passport Luhan lalu kemudian menyerahkannya pada Luhan yang masih diam tak menjawab.
"Kau harus mengingat ini Luhan. Jika aku tidak bisa hidup bersamamu. Maka bajingan itu juga tidak bisa hidup bersamamu. Jika kau menolak untuk pergi, aku tidak bisa menjamin keselamatan Sehun karena aku masih terlalu marah saat ini. Jadi cepat pergi dan jangan kembali lagi ke Seoul."
"Seunghyun aku-..."
"Aku memberimu waktu tiga hari untuk bersiap. Dan setelahnya aku tidak ingin melihatmu lagi. Jika aku melihatmu atau kau kembali bersama dengannya. Aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk tidak menyakitinya Luhan. ingat itu!"
Dan disinilah Luhan sedang duduk di ruang tunggu menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya menuju ke tempat yang diinginkan Seunghyun. Luhan sudah berada di bandara hampir satu jam lamanya dan masih harus menunggu lagi selama dua jam untuk segera pergi ke tempat yang tertulis didalam tiketnya.
Jika pria cantik itu mendongakan wajahnya akan terlihat mata sembabnya dengan wajahnya yang begitu pucat. Luhan tidak bisa tidur selama tiga hari ini, semua yang terjadi padanya sungguh membuatnya begitu marah dan tersiksa. "Se-Sehunn..."
Dia terus mengepalkan erat tangannya dan terisak kecil mengusap berulang perutnya yang terasa menegang karena dirinya benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Luhan sesekali melirik ke perutnya dan menggumamkan maaf karena membuat bayinya begitu ketakutan didalam sana. "Maafkan aku nak. Kau harus kuat sayang." Gumamnya memejamkan matanya erat dan tak lama kembali terisak ketakutan membayangkan hidup seperti apa yang akan ia jalani nantinya jika tak ada satupun tempat untuknya bersandar.
"Sehunnn.."
Dan menyebut nama Sehun seolah memberikannya kekuatan tersendiri yang bisa membuatnya sedikit bernafas saat ini.
Sementara itu di kediaman keluarga Oh, terlihat Sekertaris Kang keluar dari mobilnya dengan wajah begitu pucat karena baru saja mengetahui betapa mengerikan hidup yang Luhan jalani saat ini. Pria paruh baya itu bahkan mengabaikan Jaejoong yang baru saja menyapanya, sedikit merasa bersalah pada Jaejoong namun kembali berjalan menuju ruangan Yunho dan membuka kasar pintu ruang kerja Yunho di kediamannya.
"Direktur!"
Yunho yang sedang menandatangani beberapa dokumen dibuat mengernyit tak mengerti kenapa sekertarisnya begitu terlihat ketakutan dan memucat saat ini "Ada apa paman?"
Sementara itu...
"Sehun...!"
Yang dipanggil namanya pun sedikit terkejut saat Kai masuk kedalam ruangannya dengan wajah memucat dan terlihat cemas menatapnya, membuat Sehun menaikkan kedua bahunya dan tak lama kembali fokus pada pekerjaannya. "Ada apa Kai?"
"Luhan."
Mendengar nama Luhan disebut membuat seketika jemari Sehun berhenti bergeak. Bukan hanya jarinya, melainkan seluruh dari bagian tubuhnya terasa kaku karena sudah tidak mendengar nama pria cantiknya disebut beberapa bulan belakangan ini. Membuatnya secara refleks menoleh menatap Kai dan berdoa agar tidak ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi pada Luhan "Ada apa dengan Luhan?" katanya bertanya dan merasa begitu kelu dengan hati yang begitu sakit.
"Begini." Kai menarik kursi didepan Sehun dan menunjukkan beberapa dokumen pada Sehun.
"Tiga bulan yang lalu nama Luhan masih menjadi manager yang bertanggung jawab atas kerjasama pembangunan hotel dengan perusahaan kita. Walau dia tidak pernah menghadiri rapat tapi dia masih memantau tentang kemajuan pembangunan hotel yang sedang kita kerjakan."
"Lalu?"
"Lalu sekitar sebulan yang lalu, aku merasa ada yang janggal dengan susunan penanggung jawab dari perusahaan Choi. Mereka begitu saja menghapuskan nama Luhan dari daftar dan dari seluruh kegiatan yang merupakan tanggung jawabnya. Hal itu membuatku sedikit ingin tahu dan meminta salah satu pegawaiku untuk mencari tahu. Dan kau tahu apa berita apa yang aku dapatkan?" gumam Kai bertanya dengan nada bergetar menatap Sehun.
"Apa?"
Kai menghela nafasnya dan sedikit mengusap kasar wajahnya sebelum kembali menatap Sehun "Luhan dan Seunghyun-...Mereka sudah resmi bercerai satu bulan yang lalu."
"A-apa Maksudmu Kai?"
"KAI JAWAB A-.."
Cklek...!
Baik Kai dan Sehun kini menatap ke pintu ruangan yang terbuka dan keduanya sedikit mengernyit mendapati Baekhyun dengan wajah terisak sedang berjalan menggenggam sesuatu di tangannya.
"Baekhyun? Apa yang kau lakukan disini?" gumam Sehun bertanya merasa Baekhyun datang disaat yang tidak tepat.
"Sehun-...Sehun..." Baekhyun mendekati Sehun dan mencengkram kerah Sehun terlampau kencang membuat Sehun kesulitan bernafas saat ini.
"Hey dokter Byun. Tenangkan dirimu." Kai melepas paksa cengkraman Baekhyun pada Sehun dan menatap Baekhyun yang entah kenapa malah semakin terisak saat ini.
"Baek ada apa?"
"Luhan..."
"eh?"
"Apa kekasihmu yang sering kau ceritakan padaku bernama Luhan?" katanya bertanya menatap Sehun dengan putus asa.
Sehun sendiri sedikit memucat mendengar Baekhyun menyebut nama yang tak pernah ia beritahukan sebelumnya. Membuat perasaan khawatir dan takut seketika Sehun rasakan saat dirinya mengetahui ada banyak yang ia lewatkan.
"Bagaimana kau bisa tahu nama Luhan?"
"tentu saja aku tahu-...TENTU SAJA AKU TAHU DIA PASIENKU DAN AKU SUDAH BERTEMAN DENGANNYA SEBULAN INI."
Dan tak ada yang bersuara saat Baekhyun mulai terlihat menjerit dan jatuh terduduk di lantai saat ini dengan menggenggam selembar kertas yang terlihat sudah tak berbentuk "Kau tidak tahu hidup yang ia jalani selama satu bulan ini Sehun. Kau tidak tahu bagaimana dia menderita selama satu bulan ini. Kau tidak tahu bagaimana cara Luhan bertahan hidup satu bulan ini. Kau-...LUHAAAAAAN..."
Baekhyun kembali menjerit membuat baik Kai maupun Sehun terlihat semakin memucat saat ini. dan karena tidak ingin bertanya-tanya lebih lama lagi, Sehun ikut berjongkok didepan Baekhyun dan memaksa teman yang merupakan dokter yang juga menanganinya untuk menatapnya.
"Ceritakan padaku. Aku mohon."
..
..
..
"Tepatnya sebulan yang lalu Luhan mengalami kecelakaan mobil bersama suaminya. Dia sempat mengalami kritis namun kemudian bertahan dan mulai menjalani proses penyembuhannya secara perlahan."
Sehun sudah berada di mobilnya saat ini, dia melajukan cepat mobilnya dengan emosi yang menguasai karena begitu ketakutan akan kembali kehilangan Luhan entah untuk yang keberapa kalinya.
"Dan penderitannya dimulai selagi ia menjalani proses penyembuhannya. Suaminya menggugat cerai dirinya tanpa sekalipun datang mengunjunginya. Luhan sekarat dan tak ada satupun yang memberikan semangat untuknya. Dia sendiri dan begitu dibenci oleh keluarganya sendiri."
"Luhan...sayangku." Sehun menghapus cepat air matanya begitu perih membayangkan bagaimana Luhan kembali diperlakukan seperti sampah dan merasa begitu kesepian.
"Awalnya aku tidak tahu alasan apa yang membuat suaminya ingin bercerai darinya. Luhan tidak pernah bercerita sampai akhirnya dia memutuskan untuk bercerita dan kau tahu Sehun? Apa alasan yang membuat suaminya menceraikan Luhan?"
Ckit...!
Sehun mengerem mendadak merasa tak kuat mengingat seluruh ucapan Baekhyun. Tangannya menggenggam erat kemudi mobilnya dan seketika terisak merasakan hatinya begitu sakit dengan nafas tersengal tak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya menjadi Luhan.
"Luhan dinyatakan hamil dan calon bayi yang ia kandung adalah darah daging kekasihnya , bukan suaminya."
"Apa maksudmu?"
"Dia mengandung darah dagingmu Sehun. Luhan lebih memilih mempertahankan darah dagingmu daripada mempertahankan pernikahannya. Luhan bisa saja mempertahankan pernikahannya tapi suaminya memberi syarat untuknya agar menggugurkan kandungannya. Tapi Luhan menolak dan memilih untuk berpisah dari suaminya."
"Anakku...Luhan aku mohon jangan pergi." Gumam Sehun terisak ketakutan masih belum bisa mengontrol emosinya saat ini.
"Dan setelah resmi bercerai, Luhan tinggal sendiri dan memutuskan untuk terus bertahan dan memberitahumu jika waktunya tepat. Tapi dia tidak bisa melakukannya Sehun. Luhan-.."
"Kenapa? Kenapa Luhan tak bisa memberitahuku."
"ITU KARENA DIA SUDAH PERGI DARI SEOUL HARI INI. AKU MENEMUKAN INI DI APARTEMENKU. INI SURAT PERPISAHAN DARI LUHAN. DIA MEMINTA MAAF PADAMU KARENA TAK BISA MEMBUATMU BERTEMU DENGAN DARAH DAGINGMU. DIA PERGI SEHUN...!"
"Tidak-...Tidak lagi Luhan. Kau tidak boleh pergi lagi dariku." Gumam Sehun menghapus cepat air matanya dan tak lama
Brrmmmmm...!
Dia kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap tak kembali kehilangan Luhan lagi saat ini. tidak lagi.
"LUHAAAAAN."
..
..
..
Luhan secara refleks menoleh merasa namanya dipanggil lalu tersenyum pahit menyadari kalau itu hanya khayalannya saja. Dia kemudian melihat ke arlojinya dan kembali terisak menyadari kalau ini saatnya ia pergi. Dia masih tertunduk cukup lama sampai kemudian dia menghela nafasnya dan berdiri untuk segera pergi sebelum
"Tidak lagi Luhan...Kau tidak bisa pergi lagi."
Sebelum sebuah suara yang terdengar familiar sedang berdiri didepannya. Jantung Luhan berdegup kencang sebelum akhirnya dia mendongak dan begitu ingin menjerit melihat Yunho kembali berdiri didepannya saat ini.
"direktur?"
Semuanya terasa seperti dejavu untuk Yunho dan Luhan. Mereka pernah berada dalam posisi ini, Luhan yang bersiap pergi dan Yunho yang memohon agar Luhan tetap tinggal. Tapi saat itu, Yunho kehilangan Luhan karena Luhan memutuskan untuk pergi, dan dia bersumpah untuk tidak kehilangan Luhan lagi saat ini.
Yunho yang masih terengah karena berlari mengejar Luhan kini berjongkok didepan Luhan membuat Luhan sedikit terkejut. Dia kemudian memberanikan menggenggam tangan Luhan sebelum akhirnya kembali menatap Luhan dengan memohon.
"Kau tidak bisa pergi Luhan. Tidak dengan keponakanku yang masih berada didalam sana. Kau tidak bisa memisahkan adikku dengan darah dagingnya. Kau tidak bisa melakukan itu Luhan. Aku mohon."
Hati Luhan begitu teriris saat Yunho menangis tertunduk didepannya. Dan bukan hanya Yunho, tepat didepannya dan tak jauh dari tempatnya berada Jaejoong, Kyungsoo, Paman Kang juga terisak memohon padanya. Sementara Haowen terus meronta di pelukan Jaejoong meminta untuk bertemu dengan Lulunya.
"hyung..."
Yunho secara refleks menatap Luhan saat panggilan hyung akhirnya kembali terdengar dari bibir Luhan setelah sekian lama. Dan melihat Luhan yang begitu rapuh saat ini membuat dirinya bersumpah untuk melindungi adik kecilnya sampai kapanpun. Entah Luhan akan bersama Sehun atau tidak. Dia akan tetap menjaga adik kecilnya sampai kapanpun
"hmm.." gumamnya menjawab panggilan Luhan yang menatapnya terisak saat ini.
"Aku takut hyung. Aku takut hidup sendiri, aku merindukan kalian tapi aku begitu takut. Arghhh." Luhan menggeram menggigit kencang bibirnya dan terisak pilu disana, membuat Yunho memejamkan matanya merasa tak kuat membayangkan apa yang sudah Luhan lewati selama ini.
"hey Little Lu. Adikku Luhan." Yunho menangkup wajah Luhan dan menghapus air mata ketakutan itu dengan begitu perlahan. Dia menatap wajah Luhan cukup lama sebelum akhirnya kembali menggenggam tangan Luhan "Tidak ada yang perlu kau takutkan Luhan. Aku menjagamu adik kecil. Kau tidak perlu lagi hidup sendiri. Kau akan pulang kerumah Lu. Rumah kita." Katanya tersenyum begitu lirih menyesali karena membutuhkan waktu yang begitu lama untuk membawa Luhan pulang kerumah.
"Kau mau kan pulang bersamaku? Kita akan merawat adik bayi bersama. Kau tidak perlu ketakutan Luhan. kami semua bersamamu. Haowen akan memiliki dua adik kecil dari kau dan Kyungsoo. Dan bayimu-...dia tidak akan pernah merasa kesepian kau mau kan?"
Luhan benar-benar ingin menjerit bahagia saat mendengar tawaran Yunho yang menjamin bayinya tidak akan kesepian. Dia ingin sekali mengatakan iya tapi kemudian ancaman Seunghyun terngiang dan membuatnya kembali merasa ketakutan sebelum matanya bertemu pandang dengan Jaejoong dan Kyungsoo yang benar-benar terisak hebat memohon padanya.
"Aku mohon beri aku kesempatan Luhan. Aku sudah kehilangan Sehun karena saat ini adik kecilku begitu membenciku. Aku tidak mau kehilangan adikku lagi. Biarkan aku menjagamu dan keponakanku Luhan, Aku mohon jangan pergi lagi. Aku mohon." Gumamnya kembali terisak tertunduk merasa putus asa karena Luhan tak kunjung memberikan jawaban.
"Aku mohon pulanglah kerumah Luhan. rumah kita. Aku mohon Lu-..."
"Aku mau."
Yunho kembali menatap Luhan dan memastikan kalau dirinya tidak salah mendengar kalimat yang begitu melegakan untuknya.
Sementara Luhan menggigit kencang bibirnya sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum lirih menatap Yunho "Aku mau pulang hyung. Aku sudah merindukan rumahmu." Katanya terisak memberitahu Yunho yang langsung memeluk Luhan dan mendekap erat tubuh adik kecilnya.
"Itu rumahmu Luhan. itu rumahmu. Terimakasih adik kecil, terimakasih kau mau kembali." Gumam Yunho mengecup pucuk kepala Luhan dan semakin memeluk Luhan dengan erat membiarkan tubuh mungil itu bergetar dan berusaha menenangkannya.
"Syukurlah...Terimakasih hyung, terimakasih Luhan...sayangku."
Dan tak jauh dari tempat Luhan berada. Seorang pria tampan yang terlihat kacau dengan nafas terengah hanya bisa terduduk lemas mendengar setengah percakapan yang begitu membuatnya menyesal karena telah menyia-nyiakan keluarganya.
Dia bersembunyi namun bisa melihat dengan jelas betapa keluarganya begitu mencintainya dan tak pernah meninggalkannya. Dia menatap pria cantiknya yang masih terlihat begitu ketakutan sementara kakaknya terus berusaha menenangkannya. Dan tak ada yang lebih membahagiakan untuknya selain melihat dua orang yang paling ia cintai begitu saling menjaga seperti saat ini.
Sehun masih mengatur nafasnya, sampai akhirnya dia merasa memiliki sedikit tenaga untuk bergabung dengan keluarganya. Dia kemudian berjalan gontai mendekati kerumunan itu menatap Luhan tak berkedip sampai suara keponakannya memanggil dirinya.
"samchoon.."
Jaejoong pun semakin terisak mengetahui keberadaan Sehun disana, sementara Kyungsoo berlari menghampiri suaminya yang berjalan tak jauh dibelakang Sehun, membuat Luhan membuka matanya dan begitu sesak melihat pria nya kini menatapnya lembut persis dengan tatapan yang sama saat terakhir kali mereka bertemu.
Yunho pun ikut menoleh dan tersenyum mendapati adiknya berada disana. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju istrinya berpapasan dengan Sehun yang masih terlihat mengabaikannya.
"Terimakasih hyung. Terimakasih."
Seketika mata Yunho terpejam begitu menikmati suara adik kandungnya yang tak lagi penuh kebencian. Dia kemudian membuka matanya dan menghapus cepat air matanya memegang pundak adiknya "Harusnya aku melakukan ini dari awal. Maaf terlambat membuatmu bahagia Sehunna." Gumamnya dan tak lama memeluk Jaejoong dengan erat dan mengambil alih putranya dan memperhatikan Sehun yang kini terus berjalan mendekati Luhan.
Kedua jantung mereka berdegup kencang saat ini, keduanya saling menatap rindu dengan emosi yang begitu kuat yang sedang keduanya rasakan.
Dan tak lama Sehun berlutut menyamakan posisinya dengan Luhan. Tak berbicara dan hanya mengambil banyak-banyak rekaman wajah Luhan takut sewaktu-waktu Luhan kembali pergi dari hidupnya sampai akhirnya dia membuka suara .
"Maaf tidak datang mencarimu. Maaf membuatmu begitu ketakutan dan kesepian. Maaf membuatmu selalu menderita Luhan. Maaf aku-.."
Sehun tertunduk tak berani menatap Luhan lebih lama. Dia merasa begitu menyesal merelakan Luhan malam itu, dan merasa begitu marah karena hanya penderitaan yang Luhan dapatkan.
Sementara Luhan semakin memejamkan erat matanya tak menyangka kalau Sehun akan merasa bersalah seperti ini, dia kemudian membuka matanya dan sedikit menunduk untuk menangkup wajah pria tampannya.
"Kau sudah berada disini Sehun. Aku sudah tidak ketakutan lagi. Jangan menangis hmm. Nanti adik bayi akan sedih melihat ayahnya menangis" Luhan memberanikan diri mencium kening Sehun dan berharap bisa berbagi rasa hangat dengan pria tampannya.
"Aku akan menjadi seorang ayah? Benarkah? Seperti Kai dan Yunho hyung? Benarkah Luhan?'
Luhan mengigit kencang bibirnya dan membawa tangan Sehun untuk menyentuh perutnya yang sudah sedikit membesar. Dia kembali memejamkan matanya menikmati bagaimana bayinya merespon sentuhan lembut yang pertama kali ia rasakan setelah empat bulan lamanya "Ayahmu disini nak. Akhirnya kalian bertemu-...maaf membuat kalian berpisah begitu lama. Maaf membuat kalian saling-..."
"Luhan!"
Sehun dengan segera membawa Luhan ke pelukannya, mendekapnya erat dan menyesal membuat Luhan begitu kesepian untuk waktu yang lama, dia membiarkan tubuh mungil itu bergetar hebat menyalurkan rasa takut yang sudah lama ia rasakan sendiri. Sementara dirinya terus mengusap lembut punggung Luhan dan sesekali mencium tengkuk Luhan yang begitu dingin.
"Terimakasih sudah datang menemukanku Sehun. Aku begitu takut. Jangan pergi lagi dariku."
Sehun menggeleng cepat dan tak lama kembali menatap Luhan dengan menyesal "Terimakasih karena kau bertahan Luhan. Terimakasih karena sudah memilih bayi kita. Terimakasih sayang."
Sehun terasa sesak kembali membayangkan bagaimana Luhan dihadapkan dengan pilihan sulit saat itu dan saat memilih calon bayi mereka, Luhan harus kembali merasakan diperlakukan tak layak. Membuat semua kenangan saat dia memperlakukan Luhan secara keji tiba-tiba berputar di benaknya. Sehun pernah membuang Luhan dan hari itu saat dia membuang Luhan adalah hari yang menjadi penyesalannya seumur hidup dan dia bersumpah untuk tidak pernah menyakiti Luhan lagi. tidak lagi
Dia kemudian menatap Luhan cukup lama sebelum akhirnya menarik tengkuk Luhan dan mengecupnya lembut, membagi rasa hampa yang keduanya rasakan dan saling menguatkan di antara lumatan lembut yang terasa sangat membahagiakan untuk keduanya.
Sampai akhirnya tautan bibir dan lidah mereka terlepas membuat keduanya saling menatap lembut saat ini. Sehun menyatukan kedua kening mereka tanpa melepas tatapannya dari Luhan, dia sedikit mengusap lembut bibir Luhan sebelum kembali tersenyum menatap wajah cantik Luhan yang terlihat semakin membuatnya menggila.
"Seperti yang pernah aku katakan dimalam perpisahan kita saat itu.Kau hanya perlu tahu aku mencintaimu dan akan seperti itu selamanya.Aku mencintaimu Luhan" gumam Sehun membuat Luhan memejamkan erat matanya kembali menikmati perasaan cinta yang begitu tulus dari seseorang. Dan kali ini perasaan cinta itu sama besar dan sama kuat seperti yang ia rasakan untuk pria yang kini kembali melumat lembut bibirnya.
*inimasihtbc
.
Bingung ya kenapa Restart yang update? Karena Restart next chap END
Entangled sama ICY di keep dulu. sampai tulisan END di TDF sama Restart.
...ga kuat lagi gw ama Restart...emosiaan gilaaaak :"
.
Happy reading and review dan mohon abaikan typo karena ini 11k *ceritanya curhat
.
Next update : TDF last chap
