Previous
"Terimakasih sudah datang menemukanku Sehun. Aku begitu takut. Jangan pergi lagi dariku."
Sehun menggeleng cepat dan tak lama kembali menatap Luhan dengan menyesal "Terimakasih karena kau bertahan Luhan. Terimakasih karena sudah memilih bayi kita. Terimakasih sayang."
Sehun terasa sesak kembali membayangkan bagaimana Luhan dihadapkan dengan pilihan sulit saat itu dan saat memilih calon bayi mereka, Luhan harus kembali merasakan diperlakukan tak layak. Membuat semua kenangan saat dia memperlakukan Luhan secara keji tiba-tiba berputar di benaknya. Sehun pernah membuang Luhan dan hari itu saat dia membuang Luhan adalah hari yang menjadi penyesalannya seumur hidup dan dia bersumpah untuk tidak pernah menyakiti Luhan lagi.tidak lagi
Dia kemudian menatap Luhan cukup lama sebelum akhirnya menarik tengkuk Luhan dan mengecupnya lembut, membagi rasa hampa yang keduanya rasakan dan saling menguatkan di antara lumatan lembut yang terasa sangat membahagiakan untuk keduanya.
Sampai akhirnya tautan bibir dan lidah mereka terlepas membuat keduanya saling menatap lembut saat ini. Sehun menyatukan kedua kening mereka tanpa melepas tatapannya dari Luhan, dia sedikit mengusap lembut bibir Luhan sebelum kembali tersenyum menatap wajah cantik Luhan yang terlihat semakin membuatnya menggila.
"Seperti yang pernah aku katakan dimalam perpisahan kita saat itu.Kau hanya perlu tahu aku mencintaimu dan akan seperti itu selamanya.Aku mencintaimu Luhan" gumam Sehun membuat Luhan memejamkan erat matanya kembali menikmati perasaan cinta yang begitu tulus dari seseorang. Dan kali ini perasaan cinta itu sama besar dan sama kuat seperti yang ia rasakan untuk pria yang kini kembali melumat lembut bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Life is the only game which has no pause, no resume and norestart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
"Lu-Lulu ileona…"
Mendengar namanya dipanggil serta pipinya dikecupi beberapa kali pun membuat pria yang terlihat masih sangat kelelahan itu terpaksa membuka kedua matanya. Dan seperti sihir, rasa lelah pria cantik yang kini kembali ke keluarganya yang lama tiba-tiba menghilang menyadari kehadiran pangeran kecil yang sedang membangunkannya sambil terus menciumi pipinya tanpa henti.
Pria kecil yang merupakan putra pertama pasangan Yunho dan Jaejoong itu pun seperti tersihir oleh wajah Luhan yang masih tertidur. Membuatnya tanpa sadar terus menciumi wajah Luhan walau kedua mata Luhan sudah membuka dan tengah menatap lucu ke arahnya saat ini.
"Haowen…"
Terdengar suara Jaejoong memasuki kamar Sehun dan sedikit memarahi putranya yang terlihat terus mengganggu Luhan "eomma. Lulu!"
"Eomma tahu nak. Sekarang cepat kemari anak nakal." Jaejoong memaksa menggendong Haowen membuat putra sulungnya merengut kesal karena tidak diperbolehkan duduk di dekat Lulu-nya lagi.
"Waeyooo.." Jaejoong sedikit tertawa saat melihat wajah galak putranya dan mencium berkali-kali bibir mungil putranya. "Kau tidak boleh duduk di perut Lulu lagi. Kau bisa membuat adik bayi kesakitan sayang."
Haowen mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya kembali menatap Luhan "lulu mianhae. Jangan malah pada Haowen." Katanya menyesal membuat baik Jaejoong maupun Luhan sedikit tertawa,
"Lu, apa kau tidur dengan baik?"
Luhan yang sedang memandang Haowen sedikit mengerjap sebelum akhirnya kembali memandang Jaejoong yang terlihat mengkhawatirkannya saat ini.
"Aku sudah merasa lebih baik hyung."
"Kau masih pucat Lu. Apa masih sangat mual?"
Luhan mengangguk perlahan namun senyum tak pernah hilang dari wajahnya yang memucat "Setidaknya sekarang aku tahu kalau dia benar-benar bersamaku saat ini." katanya memberitahu Jaejoong dan sedikit mengelus lembut perutnya yang membesar.
"Aku sudah baik hyung. Sungguh"
Wajah khawatir Jaejoong pun tampak berubah menjadi senyum saat memandang Luhan "Kalau begitu kau mau sarapanmu di antar di kamar atau sarapan bersama kami?"
"Aku ingin sarapan bersamamu hyung."
"Baiklah aku dan Yunho menunggumu dibawah. Kau bersiap-siap dulu hmm."
"Ya hyung."
Jaejoong pun tersenyum dan segera berjalan meninggalkan Luhan untuk bersiap sebelum kakinya kembali berhenti melangkah untuk kembali melihat Luhan yang terlihat bingung saat ini.
"Ada apa hyung?"
Jaejoong menggeleng dan tak lama menatap sendu wajah Luhan yang terlihat bertanya "Aku tahu kau akan bosan mendengar ini. Tapi terimakasih sudah kembali pulang kerumah Luhan. Aku sangat berterimakasih." Gumamnya dan kali ini benar-benar meninggalkan Luhan yang selalu terdiam saat Yunho dan Jaejoong selalu bergantian berterimakasih padanya.
Luhan sudah berada di rumah Yunho hampir empat belas hari lamanya. Dan selama dua minggu ini dia masih belum bisa berinteraksi dengan baik dan masih mencoba beradaptasi untuk berbicara dengan Yunho maupun Jaejoong, karena mau bagaimanapun semua kejadian yang pernah membuatnya dan keluarga Oh begitu merenggang masih sedikit banyak mempengaruhinya. Ditambah dirinyaa pernah membuat Sehun terluka dan hampir celaka saat dirinya memutuskan untuk hidup bersama Seunghyun beberapa waktu yang lalu.
Dan bicara tentang Seunghyun, Luhan menebak kalau mantan suaminya itu sudah tahu tentang dirinya yang masih berada di Seoul, dan hanya tinggal menunggu waktu sampai Seunghyun kembali menemukannya dan mengancamnya akan kembali menyakiti Sehun maupun calon buah hatinya.
Setiap mengingat itu, Luhan selalu tak bisa bernafas dengan baik, tubuhnya bergetar ketakutan sementara bayangan kemarahan Seunghyun selalu terekam jelas di benaknya. Luhan menoleh ke tempat dimana Sehun selalu berbaring jika mereka tidur bersama di kamarnya. Dia menyesap dalam-dalam aroma Sehun yang semakin memudar karena sang pemilik kamar sampai hari ini masih menolak untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Sehun memang selalu datang mengunjunginya setiap hari, mereka akan sarapan bersama, makan siang bersama, dan tak pernah melewatkan makan malam bersama dengannya. Sehun bahkan selalu berbaring di tempat tidurnya untuk menemani Luhan sampai dia tertidur. Tapi entah alasan apa yang membuat Sehun tetap enggan pulang kerumahnya bahkan saat Luhan dan calon bayinya sudah kembali menetap bersama kakaknya dirumah mereka.
Luhan kemudian kembali mencium aroma Sehun di selimut yang Sehun gunakan untuk memeluknya semalam sampai akhirnya dia memutuskan bersiap untuk segera turun dan sarapan bersama dengan Yunho dan Jaejoong.
..
..
..
"Selamat pagi Lu."
Luhan yang sedang berjalan menuju meja makan pun sedikit gugup karena saat ini tangan Yunho merangkul bahunya membuatnya sedikit canggung membalas sapaan pria yang entah bagaimana selalu menemukannya di saat yang tak terduga.
"Selamat pagi direktur." katanya menjawab dan tanpa sadar mendengar helaan nafas Yunho yang tampak kecewa.
"hyung. Selamat pagi hyung." katanya mengulang membuat wajah disampingnya kini tersenyum sangat bahagia.
"Kau tahu Luhan. Aku benar-benar merindukan kehadiranmu dirumah ini. Terimakasih sudah kembali hmm." gumam Yunho mengusak lembut rambut Luhan dan berjalan menuju mendului Luhan menuju meja makan.
Luhan tak tahu harus membalas apa, dia hanya bisa tersenyum hangat menyadari kalau dirinya telah diterima kembali dirumah yang sudah ia tempati sejak kecil.
Hatinya menghangat bisa kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga yang hampir tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Semua sudah terasa benar dan lengkap untuknya. Mungkin akan benar-benar lengkap jika Sehun memutuskan untuk tinggal kembali dirumahnya.
"Lulu kemari!"
Luhan yang sedang melamun mau tak mau tersenyum saat keponakan Sehun memanggilnya dan menepuk kursi yang kosong disampingnya.
"Sepertinya kau cinta pertama putraku Lu." gumam Jaejoong tertawa saat Luhan menarik kursi disamping Haowen dan dihadiahi kecupan-kecupan basah dipipinya.
"Luhan cinta pertama Haowen? Ayolah… yang benar saja anak nakal. Kau mau bersaing dengan paman?"
Semua mata tertuju pada sosok tampan dengan kemeja putih yang menampilkan lekuk sempurna dari yang sudah dua minggu ini selalu datang untuk sarapan bersama dan makan malam bersama namun tetap menolak untuk kembali menetap dirumahnya sendiri walau Luhan dan calon buah hatinya sudah tinggal bersama kakaknya.
"Samchon!"
Haowen pun memekik senang menyambut kedatangan Sehun sementara Luhan, seperti biasa hanya menyembunyikan wajahnya yang terasa panas setiap kali Sehun menatapnya atau berbicara lembut padanya.
"Kau duduk disana ya? Paman mau berbicara dengan lulu." gumam Sehun mencium bibir Haowen dan tak lama memindahkan Haowen ke pangkuan ayahnya. Sementara dirinya kembali berjalan menghampiri Luhan dan menarik kursi disampingnya.
"Apa kau tidur dengan baik malam tadi."
Merasa Sehun bertanya padanya pun secara otomatis membuat Luhan mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Apa masih mual?" katanya bertanya khawatir pada Luhan yang belum juga menatapnya.
"Sedikit. Tapi sudah lebih baik."
Sehun tersenyum lega sambil mengusap lembut kepala Luhan "Sehabis makan bersiaplah."
Karena penasaran pun Luhan menoleh dan memberanikan diri bertanya "Kita mau kemana?"
"Ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaaan bayiku dan ibunya."
Luhan pun kembali menundukan kepalanya merasa jantungnya berdegup tak beraturan dengan rasa panas di wajahnya membuat Sehun tertawa kecil mengabaikam tatapan kedua kakaknya yang kini menggodanya.
..
..
..
"Bagaimana?"
Saat ini Sehun dan Luhan sedang bertemu dengan Minseok, dokter kandungan yang merupakan teman kedua Luhan dirumah sakit tempatnya dirawat beberapa waktu lalu. Keduanya terlihat menegang karena sedari tadi Minseok hanya diam sambil melihat hasil usg Luhan.
"Bayi kalian sehat. Tidak perlu tegang seperti itu." Katanya menyerahkan hasil usg pada Luhan dan menatap kedua pasangan yang kini berada didepannya.
"Apa kau yakin? Kau sudah memeriksanya dengan benar?" Sehun bertanya memastikan pada dokter yang juga menangani Kyungsoo selama masa kehamilan Kyungsoo.
"Lebih baik kau mengkhawatirkan ibunya, dia terlihat kelelahan." Gumam Minseok membuat Luhan sedikit membelalak sementara Sehun menatap Luhan khawatir saat ini.
"Aku baik." Gumam Luhan menyanggah membuat Minseok menghela nafasnya.
"Yasudah aku akan berikan resep vitamin lagi untukmu. Kau harus kembali kesini tiap bulan Lu. Kau mengerti kan?"
Luhan mengangguk mengerti dan tak lama mengambil resep yang diberikan Minseok untuknya "Kalau begitu kami permisi dulu dokter Kim." Luhan berjalan keluar mendului Sehun yang tersenyum lirih mengetahui Luhan selalu menghindar jika dokter tengah membicarakan kesehatan dirinya.
"Dia hanya mengalami sedikit trauma dan depresi ringan. Semua akan kembali normal seiring berjalannya waktu." Minseok memberitahu Sehun yang masih menatap kepergian Luhan, membuat pria yang selalu terlihat sempurna dengan kemeja putihnya itu hanya bisa kembali tersenyum lirih.
"Apa yang harus aku lakukan? Setidaknya agar dia kembali tertawa. Kenapa terasa sulit sekali."
"Menurut hasil kesehatan jiwanya, semua akan kembali normal jika dia sudah merasa nyaman dan tidak ketakutan. Luhan hanya butuh waktu Tuan Oh. Luhan tidak boleh mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan, dan ada baiknya jika kau tidak memaksakan sesuatu yang tidak dia inginkan sementara ini. Jika semua sudah membuantnya nyaman, Luhan akan segera kembali menjadi Luhan yang lebih berekspresi. Begitu yang tertulis disini." Katanya memberitahu Sehun yang sudah tampak lebih lega sekarang.
"Baiklah aku mengerti. Aku akan menjaga Luhan dengan baik. Kalau begitu aku permisi dulu."
Minseok pun mengangguk mengerti dan tak lama melihat kepergian Sehun yang terlihat terburu-terburu menyusul kemana Luhan pergi.
Sementara Sehun sedikit mengernyit saat melihat Luhan sedang berbicara serius dengan pria asing. Membuatnya sedikit kesal dan berniat menghampiri pria cantiknya yang semakin terlihat cantik dengan perutnya yang membesar. "Luhan.."
Luhan menoleh dan tersenyum menghampiri Sehun yang terlihat menautkan kedua alisnya "Dia siapa?"
"Kau tidak ingat dia?"
"Memangnya dia siapa?" gumam Sehun menarik Luhan ke pelukannya dan bertanya tentang pria yang mempunyai tinggi hampir sama dengannya namun terlihat idiot karena terus tersenyum.
"Sehunna dia Park Chanyeol. Pebisnis muda yang selalu aku ceritakan padamu saat kita di bangku kuliah dulu."
"Aku tidak peduli siapa dia. Tapi darimana kau mengenalnya."
Luhan menatap tak enak hati pada Chanyeol dan kini memandang sebal pada pria tampan disampingnya "Aku mengenal Chanyeol saat aku bekerja di tempat Yunho hyung. Jadi jangan memandangnya seperti itu."
"hahaha…Kau pasti Oh Sehun kan? Direktur Oh dan Luhan seringkali membicarakan tentangmu. Dan aku rasa ini pertama kalinya kita bertemu kan? Park Chanyeol." Chanyeol mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Sehun namun diabaikan oleh Sehun yang masih tidak suka Luhan berbicara terlalu akrab dengan pria lain selain dirinya.
Sehun bahkan berniat langsung mengajak Luhan segera pergi, kalau matanya tak sengaja melihat Luhan yang sedang memandangnya kesal saat ini. Dia kemudian menghela nafasnya dan menjabat uluran tangan Chanyeol "Ya ini pertama kalinya kita bertemu, dan aku harap ini juga terakhir kalinya kita bertemu. Oh Sehun." gumam Sehun dengan nada dinginnya membuat baik Chanyeol maupun Luhan tertawa saat ini.
"Oia yeol. Kenapa kau ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"yeol?" Sehun mendesis mendengar Luhan memanggil pria tersebut terlalu akrab.
"Maksudku Chanyeol." Katanya dengan cepat mengubah cara memanggilnya pada Chanyeol.
"Aku tidak sakit Lu. Aku kesini menjenguk kekasihku."
"Kekasihmu sakit?"
"Ani. Kekasihku dokter bedah di-…"
"ASTAGA LUHAN MENJAUH DARI MANIAK ITU!"
Luhan sedikit terperangah saat Baekhyun tiba-tiba menariknya ke belakang membuat Sehun mendengus kesal karena Luhannya terlalu banyak disentuh orang asing tepat didepan matanya.
"Maniak? Siapa yang maniak?" Luhan bertanya pada Baekhyun yang kini sedang memandang geram pria didepannya yang terus tersenyum seperti idiot.
"Aku menang taruhan kan? kau tidak akan bisa menolak pesonaku." Gumam Chanyeol tersenyum senang karena beberapa saat lalu Baekhyun baru saja mengusirnya pergi kini sudah kembali berada didepannya.
"cih. Percaya diri sekali. Aku kesini untuk menyelamatkan temanku dari maniak sepertimu."
"Baekhyun dia bukan maniak. Dan kenapa kau memanggilnya maniak?"
"Itu karena pria idiot yang selalu tersenyum ini terus mengikutiku kemanapun aku pergi. kau tahu alasan kenapa aku jarang pulang ke apartemenku? Itu karena pria ini terus berada didepan apartemenku dan menolak pulang sebelum aku mengijinkannya masuk."
"Aku kekasihnya." Timpal Chanyeol membuat wajah Baekhyun benar-benar geram saat ini.
"YAK! BAGAIMANA BISA AKU KEKASIHMU. DASAR PARK IDIOT!"
Luhan yang dengan cepat mengerti keadaan ini pun hanya tertawa sekilas sebelum dirinya mendekati Baekhyun untuk berbisik "Aku mengenal Chanyeol cukup lama Baek. Dia pria baik dan sangat romantis, aku bahkan iri padamu jika kalian ternyata benar menjadi sepasang kekasih. Coba buka hatimu dan biarkan dirimu jatuh cinta. Seperti yang pernah aku bilang tidak selamanya jatuh cinta itu indah. Tapi mencobalah. Lagipula Chanyeol itu CEO yang sangat tampan. Kau menang banyak Baek." Gumam Luhan dan tak lama merangkul lengan Sehun untuk meninggalkan kedua temannya yang sepertinya memang harus diberi banyak waktu untuk berdua.
"cih. Menang banyak apanya-…." Gumam Baekhyun dan tak lama menyadari sesuatu "Luhan kenapa kau pergi?" katanya memekik membuat Luhan sedikit menoleh dan menjawan teriakan dokter cantiknya.
"Hari ini bukan jadwal check up Baek. Aku akan datang minggu depan. Semoga beruntung." Katanya melambai dan kembali merangkul Sehun yang diam-diam tersenyum melihat Luhan seperti biasa selalu bersemangat untuk menyatukan orang-orang yang menurutnya sangat cocok jika berjalan bersampingan.
"Kau belum berubah Lu." Gumam Sehun menggenggam erat jemari Luhan yang terasa hangat di genggamannya.
"Apanya?" katanya sedikit menoleh menatap Sehun dan lagi-lagi seperti tersihir oleh ketampanan Sehun saat ini
"Yunho hyung dan Jaejoong hyung. Kai dan Kyungsoo. Mereka semua menikah karena ada campur tangan darimu kan? Mungkin Baekhyun dan Chanyeol sebentar lagi akan menyusul menikah."
"Aku akan sangat bahagia jika seperti itu." Katanya menjawab bangga ucapan Sehun yang terasa menyenangkan untuknya sampai
"Lalu kapan giliran kita yang berbahagia."
Jantung Luhan serasa berhenti berdetak saat ini, kakinya berhenti melangkah membuat Sehun memejamkan matanya mengetahui kalau ia terlalu terburu-buru pada Luhan saat ini terbukti dari tangan Luhan yang mulai terasa dingin di genggamannya saat pertanyaan yang ia lontarkan begitu mengejutkan untuk Luhan.
"Aku hanya bercanda Lu." Katanya mengecup kening Luhan dan memeluk tubuh yang kini terasa kaku di pelukannya "Aku hanya ingin kau tahu kalau aku selalu bermimpi berakhir di pelaminan bersamamu. Entah itu bisa terwujud atau tidak tapi yang jelas aku akan terus menunggu dan berusaha, maaf membuatmu terkejut." Gumamnya mencium tengkuk Luhan membuat Luhan semakin merasa bersalah pada Sehun saat ini.
Sehun berharap Luhan mengatakan sesuatu-…apa saja agar keduanya tidak merasa canggung lagi seperti ini. Sampai Sehun merasa Luhan semakin melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun dan bergumam lirih memeluk erat pria tampannya "Maaf Sehun-..Aku belum bisa mengatakan apapun padamu." katanya menyesal membuat Sehun sedikit lega dan juga memeluk erat pria yang mengalami banyak hal baik saat dia hidup dengannya atau hidup bersama Seunghyun beberapa waktu lalu.
"Aku akan menunggumu hingga kau siap Lu."
Luhan tersenyum dan semakin bersandar di pelukan Sehun yang terus menepuk pelan punggungnya saat ini "Gomawo Sehunna." Ujarnya bersyukur dan sudah merasa lebih baik saat ini.
"Oia Lu."
"Ada apa?"
"Beberapa hari ke depan aku mungkin akan sangat sibuk. Jadi mungkin aku tidak bisa terlalu sering mengunjungimu dirumah. Berjanjilah kau akan menjaga dirimu dan bayi kita selama aku pergi nanti. Kau mau kan?"
Luhan sedikit meremat kemeja Sehun saat dengan jelas mendengar kalau Sehun tidak akan menemuinya beberapa hari ini. Rasanya ingin sekali dia mengatakan jangan pergi pada Sehun, sedikit menjadi egois menginginkan Sehun terus bersamanya sepanjang waktu. Anggaplah ini permintaan bayi mereka, tapi kemudian dia akan membuat Sehun kebingungan dan kembali merasa bersalah. Dengan senyum yang dipaksakan, Luhan semakin memeluk erat Sehun dan menganggukan kepalanya menyetujui permintaan Sehun. "Aku mau." Gumamnya begitu pelan namun cukup terdengar oleh Sehun yang tersenyum senang karena bisa bekerja tanpa harus mengkhawatirkan keadaan Luhan.
..
..
..
Malam ini kembali seperti malam-malam sebelumnya. Haowen akan secara rutin menemani lulunya sepanjang hari. Lalu setelah Jaejoong selesai menyiapkan makan malam Luhan akan bergabung untuk makan malam bersama dengan kedua orang tua Haowen. Luhan juga sudah mulai membuka diri dan banyak berinteraksi baik dengan Jaejoong maupun Yunho. Hal itu tentu membuat senang pemilik rumah yang perlahan tapi pasti mendapatkan kembali adiknya yang dulu selalu tersenyum hangat tanpa harus merasa canggung satu sama lain.
Yah, semuanya tak ada yang berbeda. Kecuali ketidakhadiran Sehun selama lima hari ini sedikit banyak membuat Luhan khawatir dan bertanya-tanya apakah ayah dari calon buah hatinya makan dengan baik atau tidak. Sehun memang selalu menuliskan pesan untuknya, tapi dia sama sekali tak pernah menjawab jika Luhan bertanya apa yang sedang Sehun kerjakan yang membuat dirinya tak bisa mengunjunginya dirumah.
"Oia Lu. Apa kau ada rencana besok pagi?"
Luhan yang sedang mengunyah perlahan makanannya dengan Sehun yang berada di pikirannya sedikit menoleh menatap Jaejoong dan menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Kalau begitu apa kau mau ikut denganku untuk menemani Kyungsoo berbelanja pakaian untuk calon bayinya besok siang? Kau juga bisa sekalian membeli barang-barang untuk bayimu Lu."
Luhan mengangguk bersemangat dan tersenyum sangat senang "Aku mau hyung."
"Baiklah kita pergi setelah makan si-..."
"Aku rasa itu ide buruk."
Yunho menyela pembicaraan kedua pria cantik didepannya dengan nada serius yang mengkhawatirkan rencana istrinya.
"Apa yang ide buruk Yun?"
"Kau, Kyungsoo dan Luhan. Aku rasa kalian tidak bisa pergi bersama. Tidak tanpa pengawasanku, Kai atau Sehun."
"Kenapa tidak bis-...?"
"Baby Jongieee dengarkan aku. Kyungsoo sedang hamil besar sekarang. Dia bisa kapan saja melahirkan. Itu berbahaya untuknya berkeliaran diluar. Kau juga pasti akan membawa Haowen. Putra kita sedang lincah-lincahnya jika melihat sesuatu yang baru. Kau akan kerepotan sayang lagipula…" katanya yang kini menatap Luhan yang juga tampak kesal dengan ucapannya.
"Kau tidak terlihat sehat Luhan. Jadi katakan pada Kyungsoo kau membatalkan rencana kalian. Tunggu sampai salah satu dari aku, Kai atau Sehun bisa menemani kalian."
"Tapi kami akan baik-baik saja."
"Jongie aku mohon jangan membantah."
Jaejoong menatap kesal pada Yunho dan tak lama berdiri dari kursinya "Kau mau kemana?" Yunho bertanya pada istrinya yang terlihat merajuk saat ini.
"Kemana lagi? Aku harus memberitahu Kyungsoo besok kami tidak jadi pergi kan?"
"Saranghae Jongie cantik." katanya tersenyum gemas setiap kali Jaejoong menuruti ucapannya dengan wajah yang masih kesal.
"Aku tahu." gumam Jaejoong pergi untuk memberitahu Kyungsoo meninggalkan Luhan dan Yunho berdua dimeja.
"Kau juga kesal padaku?"
Merasa ditanya oleh Yunho, membuat Luhan kembali menoleh dan menggelengkan cepat kepalanya.
"Kenapa diam saja kalau begitu?"
"Aku hanya merindukan Sehun. Apa kau tahu dia sedang sibuk melakukan apa hyung?"
Yunho tampak berpikir sebelum akhirnya meletakkan sendok dan garpunya untuk menatap Luhan "Sepertinya sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan hotel." katanya memberitahu Luhan yang raut wajahnya berubah memucat saat ini.
"Ada apa Lu?"
"h-hotel? Apa yang kau maksud hotel yang berada di Buamdong?"
Yunho kembali mengangguk dan tak lama menjawab pertanyaan Luhan "Sepertinya begitu. Entahlah aku juga tidak tahu terlalu banyak Lu-..."
"Luhan kau mau kemana?"
Yunho sedikit terkejut saat tiba-tiba melihat Luhan berlari ke kamarnya dengan terburu-buru dan wajah yang begitu ketakutan. Dia bisa saja menyusul Luhan kekamarnya dan bertanya ada apa. Tapi dia mengurungkan niatnya karena jika itu menyangkut Sehun, maka sudah dipastikan dia tidak bisa ikut campur.
Luhan sendiri seperti ingin menjerit saat ini, bagaimana bisa dia melupakan kerjasama yang dilakukan Kim corp dan Choi corp untuk pembangunan hotel yang pernah menjadi tanggung jawabnya. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, Hatinya begitu takut membayangkan apakah Sehun dan Seunghyun bertemu disana. Apakah Sehun baik-baik saja dan masih banyak yang ia takutkan membuat tangannya gemetar saat mencari nama Sehun di kontak ponselnya.
"Luhan? Ada apa?"
Luhan mendesah sangat lega mendengar suara Sehun saat ini. Suara khasnya yang selalu ia rindukan terdengar baik-baik saja membuat dirinya perlahan mengatur nafasnya.
"Aku hanya ingin mendengar suaramu."
"Ah-... Sudah merindukan aku ya?"
"Sehun…."
"hmmmm.."
"Kau sedang berada dimana?"
"Aku masih berada di kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Apa kau masih mengerjakan proyek pembangunan hotel di Buamdong?"
Sehun yang sedang menandatangani beberapa dokumen tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan lebih memilih untuk menenangkan Luhan yang terdengar bergetar. Dan ini adalah alasan kenapa dirinya tak pernah menjawab apa yang sedang ia kerjakan karena mau bagaimana pun Luhan pernah menjadi bagian dari proyek besar ini.
"Iya Lu. Aku baru pulang dari Buamdong kemarin malam. Tapi sekarang aku sudah di Seoul. Kau tidurlah sayang. Aku akan datang besok pagi."
"Apa kau bertemu dengan Seunghyun?"
Sehun secara refleks mengepalkan erat tangannya saat nama Seunghyun didengar dan diucapkan langsung oleh Luhan. Membuatnya memijat pelan kepalanya yang tak sakit dan begitu pahit menyadari yang Luhan khawatirkan adalah Seunghyun.
"Aku tidak bertemu dengannya."
Luhan sendiri begitu terkejut mendengar perubahan suara Sehun yang menjadi berat dan dingin. Membuat dirinya meremang dan menyadari kalau dia salah bertanya dan salah mengungkapkan maksudnya.
"Sehun aku tidak bermaksud untuk-..."
"Tidak apa Lu. Aku tahu kau masih merindukan dia. Aku akan terus menunggu seperti yang aku lakukan saat ini. Sekarang beristirahatlah, aku akan datang besok pagi."
"Sehun kau salah pa-.."
Pip!
Mata Luhan seketika berkaca-kaca saat Sehun begitu saja memutuskan sambungan telepon mereka. Dia tahu Sehun sedang marah dan membayangkan wajah Sehun yang kembali bersikap dingin padanya sungguh sangat membuat Luhan ketakutan.
"Aku harus bicara dengan Sehun. Dia salah paham dan tidak boleh dibiarkan seperti itu. Bagaimana ini." gumam Luhan yang berjalan mondar mandir dikamar yang dulu selalu dipenuhi dengan aroman pria tampannya sampai tak sengaja dia melihat jaket tebalnya bertengger di lemari Sehun. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah lemari pakaian dan
Sret…!
Luhan mengambil asal jaketnya dan secara diam-diam pergi meninggalkan rumah untuk bisa bertemu dengan Sehun malam ini.
..
..
..
"Presdir Oh. Sudah pukul sepuluh malam. Sebaiknya anda bersiap dan segera pulang."
Sehun yang diingatkan sekertarisnya pun melihat ke arlojinya dan sedikit mengumpat karena waktu berlalu dengan cepatnya. Dia kemudian melepas kacamatanya dan melihat ke sekertarisnya yang tampaknya memang sedang menunggu dirinya bergegas pulang agar bisa cepat kembali berkumpul bersama keluarganya.
"Apa putramu menunggumu dirumah paman?" katanya bertanya pada sekertaris Lee yang langsung mengangguk bersemangat "Ya direktur. Dia tidak mau makan jika bukan ayahnya yang menyuapi."
Sehun terlihat berpikir dan tak lama tersenyum membayangkan bagaimana kelak darah dagingnya juga akan melakukan hal yang menggemaskan seperti yang dilakukan putra sekertaris Lee. Dan entah mengapa hanya membayangkannya saja membuat dirinya sangat bersemangat dan berniat menemui Luhan secepatnya besok pagi.
"Kalau begitu kau pulanglah paman. Aku akan segera menyusul."
Sekertaris Lee kemudian tersenyum dan mengangguk cepat menyetujuinya "Mobil anda sudah menunggu di lobi. Jadi silakan pulang dan beristirahat direktur."
"Aku akan melakukannya. Sampai besok paman."
"Saya permisi direktur."
Dan tak lama pria paruh baya yang berusia sama dengan sekertaris Kang itu pun terlihat meninggalkan ruangan Sehun disusul sang pemilik ruangan yang memutuskan untuk segera tidur dan datang kerumahnya besok pagi untuk melihat Luhan dan calon buah hatinya.
"Selamat malam direktur."
Sehun hanya membalas sekilas saat petugas keamanan membukakan pintu mobil untuknya. Dia meletakkan tas kerjanya ke bangku penumpang sebelum beralih ke bangku pengemudi.
Dia kemudian memakai seatbelt nya sambil menikmati suasana malam yang begitu menyenangkan di kantornya sampai matanya tak sengaja menatap sosok mungil yang sangat familiar untuknya sedang berdiri di gerbang pintu tak jauh dari lobi utama di kantornya berada.
Sehun semakin memicingkan matanya dan begitu bergetar mengetahui pria yang sedang meniup kedua tangannya disana adalah benar Luhan. Dia tidak habis pikir apa yang Luhan lakukan di luar sana di tengah malam seperti ini tanpa berniat masuk kedalam kantornya.
Memikirkan berapa lama pria cantiknya berdiri kedinginan disana membuat hatinya sesak bercampur kesal luar biasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sehun kemudian menjalankan mobilnya dan
Brrmmm…!
Dia dengan cepat meninggalkan lobi kantornya dan tak lama berhenti di gerbang masuk kantor keluarga Kim
BLAM…!
"LUHAAAN!"
Luhan yang masih melirik kedalam dan berharap Sehun segera keluar kantor pun sedikit tersentak saat suara yang ia tunggu terdengar sangat marah saat ini.
"Se-sehun?"
"Kau pikir apa yang kau lakukan disini? Kau KEDINGINAN LU!"
Sehun semakin tak bisa mengontrol emosinya dan terus berteriak membuat Luhan yang memang sudah kedinginan sejak satu jam yang lalu semakin merasa dingin karena Sehun terus berteriak padanya.
"Sehun aku baik-baik saja." katanya bergetar menjawab wajah Sehun yang terlihat begitu marah dan terus memakaikan jaket tebal ke tubuhnya saat ini.
"Sehun aku ingin bicara dengan-..."
"CEPAT MASUK!"
Seketika Luhan tertunduk, tak menjawab apapun yang diteriakkan Sehun untuknya. Dia harusnya tahu kalau pria didepannya ini adalah benar Sehunnya. Sehun yang selalu berteriak marah kalau dirinya bertindak ceroboh atau nekat. Sehun yang selalu berteriak mengumpat karena tak bisa mengekspresikan kekhawatirannya dengan benar. Ini Sehunnya dan sama sekali tak berubah semenjak mereka mencoba menjadi pasangan beberapa waktu yang lalu.
Tapi bukankah harusnya Sehun juga mengerti kalau saat ini dirinya tengah mengandung darah dagingnya? Membuat semua didalam tubuh Luhan begitu sensitif terutama hatinya. Dia ingin sekali berteriak .seperti itu pada Sehun. Tapi karena terlalu terkejut karena reaksi Sehun membuat semua ucapannya tercekat di tenggorokannya.
Sehun masih terus berusaha membawa Luhan kedalam mobil sampai dia merasa Luhan menghempas tangannya membuatnya semakin kesal kemudian menoleh dan sangat terkejut mendapati Luhan sedang terisak tertunduk kencang saat ini.
"Jika-...hkss.. Jika ingin bertengkar disini saja. Aku tidak mau bertengkar di-hkss- dalam mobil. Terakhir aku bertengkar didalam mobil semua itu berakhir dengan menakutkan. Aku tidak mau merasakan sakit di kepalaku la-hkss-lagi."
Kemarahan Sehun seketika begitu saja terganti dengan rasa sesak yang teramat. Bukan hanya karena dia telah membuat Luhan menangis. Tapi karena dia juga telah membuat Luhan mengingat kembali kecelakaan mengerikan yang dia dan Seunghyun alami belum lama ini.
Sehun mengusap kasar wajahnya dan tak lama menenangkan dirinya sebelum berbicara pada Luhan yang begitu terlihat ketakutan saat ini.
"Luhan-.."
"Jangan berteriak lagi pada-hikss-padaku."
Sehun menggigit kencang bibirnya sebelum kembali menangkup wajah Luhan memaksa tubuh yang bergetar kedinginan dan ketakutan bersamaan itu untuk menatap kepadanya "Aku menakutimu ya?"
Luhan mengangguk cepat dan sedikit mencengkram kuat kemeja Sehun untuk memberitahunya kalau dia memang sedang ketakutan saat ini.
"Maafkan aku Luhan-…Aku begitu marah melihatmu berdiri di luar di tengah malam seperti ini. Maaf hmm." Sehun memaksa untuk memeluk Luhan dan mengecupi berulang pucuk kepala Luhan sebagai rasa penyesalannya.
"Sekarang katakan padaku kenapa kau berada disini?" gumam Sehun menyatukan kedua dahi mereka dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggang Luhan.
Luhan kemudian mengatur nafasnya sebisa mungkin dan tak lama menatap kedalam mata Sehun berniat menjelaskan alasan kenapa dirinya bisa berada didepan kantor Jongin pada tengah malam seperti ini.
"Aku tidak mau kau salah paham." Katanya menggigit sekilas bibirnya dan mulai menolak mulai menghindari kontak mata dengan Sehun yang melihatnya begitu tajam namun terasa begitu hangat sampai ke hatinya.
"Salah paham karena apa?"
"Seunghyun."
Luhan merasa nafas Sehun seketika memburu saat nama Seunghyun kembali ia ucapkan, membuatnya memeluk cepat pria yang memiliki tinggi di atas rata-rata itu dengan erat agar tak kembali berteriak padanya.
"Bukan tanpa alasan diriku berada di bandara dua minggu yang lalu. Kepergianku hari itu semua adalah rencana Seunghyun."
Sehun sedikit tersentak mengetahui kenyataan baru tentang bagaimana Seunghyun mengatur Luhan untuk menjalani hidupnya, dia kemudian lebih memilih untuk tidak merespon dan berharap Luhan akan berbicara lebih banyak.
"Dia memintaku untuk memilihnya atau bayi kita saat kami dirumah sakit. Aku menangis meminta pilihan lain namun dia tetap hanya memberiku dua pilihan itu. Aku-…Katakan padaku bagaimana bisa aku membunuh bayiku saat aku berharap akan melihat wajahmu di bayi kita nanti. Aku mungkin egois Sehunna. Tapi aku juga ingin memilikimu walau hanya bisa aku lihat di wajah anak kita kelak." Gumam Luhan mencengkram erat punggung Sehun dengan wajah yang ia sembunyikan semakin dalam di dada yang begitu nyaman untuknya saat ini.
"Tapi saat aku memilih bayi kita. Seunghyun juga tetap pada keputusannya untuk bercerai dariku. Aku tidak memiliki pilihan lain selain menerima semua keputusannya. Dan dihari yang sama aku menemukanmu terbaring lemah di tempat yang sama denganku Sehunna. Aku meminta Paman Kang untuk mengijinkanku berbicara padamu. Dan saat itu aku begitu marah padamu karena kau terus berbohong padaku. Kau bilang kau akan baik-baik saja. Tapi aku hampir kehilanganmu lagi saat itu. Aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu yang buruk terjadi padamu Sehun."
Luhan tiba-tiba terisak mengingat dengan jelas bagaimana wajah Sehun saat terbaring lemah dirumah sakit saat itu, dan bayangan Seunghyun mengancam akan menyakiti Sehun saat ini semakin membuatnya ketakutan dan berharap Sehun mengerti keadaannya.
"Dan tak ada yang membuatku sangat bahagia selain melihatmu sadarkan diri hari itu. Yunho hyung bahkan sudah berteriak padamu." gumam Luhan tersenyum memberitahu Sehun apa yang dilihatnya.
"Lalu kenapa kau tidak datang menemuiku lagi?" katanya bertanya pada Luhan yang kini menggeleng lemah di pelukannya.
"Aku ingin tapi aku butuh waktu. Saat itu aku baru resmi bercerai dan berniat memberitahumu tentang bayi kita setelah aku menjalani masa pemulihan. Aku juga baru tahu kau berteman dengan Baekhyun di hari yang sama saat Seunghyun kembali datang menemuiku."
"Lu-.." Sehun memanggil Luhan yang kembali terisak entah karena dia merindukan Seunghyun atau ada hal lain yang begitu membuatnya ketakutan.
"Aku sudah berjalan ke arahmu saat itu. Tapi dia menarik lenganku dan mengatakan tidak akan membiarkan kita bersama apapun alasannya. Dia bilang padaku akan menyakitimu Sehun-….DIA TIDAK SEGAN MENYAKITIMU JIKA AKU KEMBALI BERJALAN KE PELUKANMU. AKU TAKUT KAU TERLUKA SEHUNNA."
"Aku takut kau terluka, aku takut Sehun-…" katanya semakin menggila mengingat semua yang Seunghyun katakan padanya.
"Jadi karena menggunakan namaku dia memintamu pergi? dia memintamu pergi ketempat yang bahkan tak pernah kau kunjungi?" Sehun bertanya berusaha tenang namun sama sekali tak berhasil karena hanya rasa marah yang menguasainya saat ini.
"Ya-…Harapanku ada pada Baekhyun saat itu. Aku mengiriminya surat agar dia bisa memberitahumu. Aku ingin kau datang untuk membawaku pergi Sehun. Aku tidak mau hidup sendirian. Aku takut." Katanya bergetar dan memberitahu Sehun semua yang ia rasakan saat itu.
"Kalau Yunho hyung tak datang terlebih dulu, aku kehilangan dirimu lagi Lu." Gumam Sehun tersenyum pahit dan begitu ketakutan membayangkan kemungkinan terburuknya adalah dia tidak bisa menemukan Luhan dan tak bisa melihat buah hatinya tumbuh besar.
"Aku tidak mau kau salah paham. Aku bertanya tentang Seunghyun padamu bukan karena aku merindukannya. Aku mungkin merindukannya sebagai seseorang yang pernah sangat menjagaku dan memperlakukanku dengan sangat baik-…Tapi aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu marah Sehun. aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Ucapan Luhan mungkin terdengar tak jelas untuknya saat ini karena dia mengatakannya sambil terisak dan begitu ketakutan saat ini, tapi apapun yang berusaha Luhan katakan membuat hati Sehun begitu menghangat karena perlahan dia benar-benar kembali mendapatkan Luhan seutuhnya-…Luhan yang selamanya hanya akan menjadi miliknya.
"Jadi kau mau bilang kedatanganmu kesini karena takut aku salah paham dan kembali marah padamu?" katanya menangkup wajah Luhan dan sedikit menggoda pria cantiknya yang masih terisak pelan.
"Ya Sehun."
"Kenapa manis sekali." Katanya mencium lembut bibir Luhan membuat Luhan sedikit tercengang saat ini.
"Hari dimana kau kembali ke rumahku dua minggu yang lalu, adalah hari dimana aku bersumpah untuk tidak pernah melakukan kesalahan yang sama yang bisa membuatmu pergi lagi dariku. Aku tidak akan marah pada apapun yang kau lakukan Luhan. aku janji."
Luhan sedikit memicingkan matanya dan menatap tak percaya pada Sehun "Kau selalu berbohong padaku." Katanya menyindir Sehun yang terlihat tak terima dengan pernyataan Luhan.
"Aku tidak berbohong."
"Kalau kau tidak lupa. Kau baru saja berteriak padaku sepuluh menit yang lalu." Katanya mengingatkan Sehun yang menggaruk tengkuknya saat ini.
"Aku hanya terkejut melihatmu berkeliaran di malam dingin seperti sekarang Lu."
"Tidak ada alasan. Kau tetap berteriak dan membuat bayimu menendangku dengan keras beberapa saat lalu."
Sehun menatap Luhan dengan cemas dan tak lama kembali mendekati Luhan dan mencoba mengusap lembut perut Luhan yang memang terasa tegang "Ayah bersalah padamu nak. Maafkan ayah bodohmu ini." katanya sedikit mengecup perut Luhan dan tak lama kembali memeluk Luhan dengan erat.
"Aku senang kau sudah lebih terbuka padaku. Terimakasih karena kembali mempercayaiku sayang."
"Aku hanya berpikir harus mengatakannya."
"hmm..kau benar. Kau harus mengatakan semua hal kecil yang kau rasakan padaku mulai saat ini." katanya memberitahu Luhan yang hanya bersandar nyaman di pelukannya. Sehun kemudian mengecupi berulang tengkuk Luhan sebelum kembali menyatukan kedua dahinya bermaksud memberitahukan keputusannya pada Luhan.
"Dan untuk masalah Seunghyun." Katanya mengusap lembut pipi halus Luhan yang terdapat tanda gores bekas kecelakaan yang ia alami, namun sama sekali tak membuat kecantikan dan pesonanya menghilang begitu saja, justru sebaliknya semua itu terasa semakin kuat membuat seorang Oh Sehun terus menerus kembali terjatuh ke dalam pesona pria cantik didepannya.
"Aku akan berbicara dengan Seunghhyun."
Raut wajah Luhan kembali memucat membuatnya menggeleng cepat mencegah rencana konyol Sehun saat ini "Kau tidak bisa melakukannya Sehun. Dia bersungguh-sungguh akan menyakitimu. Aku tidak mau kau bertemu dengannya."
"ssst….Tenang Lu-.." Sehun mengecup sekilas bibir Luhan sebelum kembali menatap Luhan yang terlihat ketakutan saat ini.
"Saat kalian menikah kalian melakukannya dengan cara kalian, begitu juga saat kalian berpisah kalian kembali melakukannya dengan cara kalian. Sekarang giliranku untuk mendapatkanmu tanpa harus membuatmu ketakutan dengan caraku. Aku akan berbicara dengan Seunghyun, dia pasti akan mengerti." Ujar Sehun mencoba meyakinkan Luhan walaupun ia sendiri sama sekali tak yakin dengan ucapannya.
"Tapi Sehun-…"
"Kali ini biarkan aku yang menyelesaikan semua permasalahan yang membuat kisah cinta kita begitu rumit. Percaya padaku hmm." Katanya memaksa Luhan menatapnya dengan kedua dahi mereka yang terus menyatu membuat deru nafas masing-masing begitu terasa.
Luhan sendiri entah mengapa begitu takut membayangkan akan seperti apa kemarahan Seunghyun saat dia mengetahui kalau Luhan masih berada di Seoul-…Bukan hanya berada di Seoul. Luhan bahkan telah menetap dirumah Sehun dan bertemu dengan Sehun hampir setiap hari.
Tapi saat Sehun mengatakan akan menyelesaikan semua masalah mereka dengan caranya sendiri, entah mengapa hatinya begitu terasa hangat dan seketika memutuskan untuk kembali bersandar dan bergantung pada Sehun-…. Pria yang kini sudah menjadi sangat dewasa bahkan melebihi dirinya sendiri. Pria tampan yang jika Tuhan berikan kesempatan untuk mereka bersama mungkin akan menjadi pendampingnya kelak.
Sehun mempercayai Luhan begitupun Luhan yang memutuskan untuk kembali mempercayai Sehunnya seperti dulu. Membuat bibir mungil itu tersenyum dan menganggukan perlahan kepalanya "Aku percaya padamu." katanya tersenyum membuat Sehun mendesah lega dan kembali membawa Luhan ke pelukannya.
"Kau yang terbaik Luhan." gumam Sehun menatap cukup lama wajah cantik didepannya, sebelum kembali membawa Luhan ke dalam ciuman hangatnya. Awalnya kedua bibir itu hanya menempel berusaha saling menghangatkan, namun saat Luhan melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun dan mulai menggerakan bibirnya. Maka dengan cepat ciuman hangat itu berubah menjadi lumatan yang saling menuntut.
Mereka sepasang kekasih? Jawabannya bukan
Mereka sepasang suami istri? Jawabannya juga bukan
Lalu apa mereka?
Percayalah-….mereka hanya kedua pasangan yang saling mencintai dengan takdir yang terus mempermainkan mereka.
Saling menyakiti,
saling melepaskan,
dan harus saling kehilangan
dan entah berapa banyak rasa sakit yang harus keduanya rasakan untuk bisa bersama dan saling memeluk seperti malam ini
"Terimakasih sudah kembali padaku." Gumam Sehun mengusap lembut bibir Luhan yang masih terengah dan tak lama mencium kening Luhan dengan sayang. Dia memejamkan matanya cukup erat dan seketika terisak mengingat semua yang dan Luhan alami dan perjuangkan untuk bisa bersama seperti malam ini. Berapa banyak rasa sakit yang keduanya rasakan, berapa banyak rasa rindu yang harus mereka tahan dan berapa banyak air mata yang harus menetes di pipi mereka hanya untuk bisa bersama seperti malam ini.
Membuat Sehun diam-diam terisak pelan dan bersumpah kalau dirinyaa tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi dengan melepas pria yang sudah memiliki sebagian hidupnya.
*sayangnyainimasihtbc
kepanjangan lagi...dibagi dua lagi...My Bad..
.
wait for the last... soon...
.
Next update : ?
.
tunggu tanggal 12. pokonya mau apdet... entah itu apa... pokonya tanggal 12 :""
