Previous :
"Dan untuk masalah Seunghyun." Katanya mengusap lembut pipi halus Luhan yang terdapat tanda gores bekas kecelakaan yang ia alami, namun sama sekali tak membuat kecantikan dan pesonanya menghilang begitu saja, justru sebaliknya semua itu terasa semakin kuat membuat seorang Oh Sehun terus menerus kembali terjatuh ke dalam pesona pria cantik didepannya.
"Aku akan berbicara dengan Seunghhyun."
Raut wajah Luhan kembali memucat membuatnya menggeleng cepat mencegah rencana konyol Sehun saat ini "Kau tidak bisa melakukannya Sehun. Dia bersungguh-sungguh akan menyakitimu. Aku tidak mau kau bertemu dengannya."
"ssst….Tenang Lu-.." Sehun mengecup sekilas bibir Luhan sebelum kembali menatap Luhan yang terlihat ketakutan saat ini.
"Saat kalian menikah kalian melakukannya dengan cara kalian, begitu juga saat kalian berpisah kalian kembali melakukannya dengan cara kalian. Sekarang giliranku untuk mendapatkanmu tanpa harus membuatmu ketakutan dengan caraku. Aku akan berbicara dengan Seunghyun, dia pasti akan mengerti." Ujar Sehun mencoba meyakinkan Luhan walaupun ia sendiri sama sekali tak yakin dengan ucapannya.
"Tapi Sehun-…"
"Kali ini biarkan aku yang menyelesaikan semua permasalahan yang membuat kisah cinta kita begitu rumit. Percaya padakuhmm."Katanya memaksa Luhan menatapnya dengan kedua dahi mereka yang terus menyatu membuat deru nafas masing-masing begitu terasa.
Luhan sendiri entah mengapa begitu takut membayangkan akan seperti apa kemarahan Seunghyun saat dia mengetahui kalau Luhan masih berada di Seoul-…Bukan hanya berada di Seoul. Luhan bahkan telah menetap dirumah Sehun dan bertemu dengan Sehun hampir setiap hari.
Tapi saat Sehun mengatakan akan menyelesaikan semua masalah mereka dengan caranya sendiri, entah mengapa hatinya begitu terasa hangat dan seketika memutuskan untuk kembali bersandar dan bergantung pada Sehun-…. Pria yang kini sudah menjadi sangat dewasa bahkan melebihi dirinya sendiri. Pria tampan yang jika Tuhan berikan kesempatan untuk mereka bersama mungkin akan menjadi pendampingnya kelak.
Sehun mempercayai Luhan begitupun Luhan yang memutuskan untuk kembali mempercayai Sehunnya seperti dulu. Membuat bibir mungil itu tersenyum dan menganggukan perlahan kepalanya "Aku percaya padamu." katanya tersenyum membuat Sehun mendesah lega dan kembali membawa Luhan ke pelukannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Life is the only game which has no pause, no resume and norestart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt
.
.
.
.
.
.
Triplet794 present new story
Restart
Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
drrt….drtt…
Suara getaran ponsel yang berada di atas meja tempat tidur pria tampan yang memutuskan untuk tetap tinggal di apartemennya begitu terdengar di kamar yang begitu gelap dan terasa dingin, membuat si pemilik kamar sedikit menggeliat namun berusaha mengabaikan sampai suara getaran itu seakan menuntut dan penting untuk ia jawab.
Drrtt...drrtt….
Merasa suara itu sangat mengganggu pria tampan itu pun sedikit mengeluarkan tangannya dari dalam selimut dan mencari-cari dimana ponselnya berada di atas meja. Sedikit menggerutu sampai akhirnya benda berukuran tipis yang terus bergetar itu berada di genggamannya
Sehun kemudian sedikit bersandar di kepala ranjang, sebelum akhirnya dia membuka sedikit matanya dan terlihat bertanya-tanya saat nama Yunho hyung berada di layar ponselnya.
Sret…!
Sehun menggeser slide ponselnya dan
"Hyung ada a-..."
"SEHUN..!"
..
..
..
BLAM….!
Terlihat Sehun yang hanya menggunakan piyama tidurnya begitu terburu-terburu memasuki rumahnya yang terasa begitu menakutkan untuknya saat ini.
Bagaimana tidak dirinya merasa ketakutan karena belum lama tadi Yunho menghubunginya dan mengatakan kalau Luhan terjatuh dari tangga dan mengalami pendarahan ringan belum lama tadi. Membuat seluruh pikirannya kosong dan hatinya begitu takut membayangkan hal buruk kembali terjadi pada Luhan didalam sana.
"Selamat malam tuan muda."
Sehun mengabaikan seluruh sapaan untuknya dan hanya terus berjalan menuju ke tempat yang dulu menjadi kamarnya.
Degup jantungnya semakin tak beraturan bersamaan dengan langkah kakinya yang memasuki kamar yang berada di lantai dua tersebut.
Cklek..!
"LUHAN!"
Sehun sedikit berteriak saat dirinya masuk ke dalam kamar dan begitu panik melihat selang infus kini dipakaikan di tangan kiri Luhan sementara pria cantik itu terlelap dengan nafas yang begitu tenang.
"Kau sudah datang."
Sehun mengabaikan sapaan Yunho dan terus berjalan mendekati ke tempat tidur Luhan, menatap cemas pada wajah Luhan yang masih memucat namun sepertinya sudah baik-baik saja terdengar dari suara nafasnya yang teratur.
Dia kemudian duduk disamping pria cantiknya dan mengusap lembut dahi Luhan sebelum akhirnya dia menunduk dan mengecup sayang kening yang terasa dingin di bibirnya.
Sehun masih terus berusaha mengontrol amarahnya sampai kemudian dia menatap nyalang kedua kakaknya serta kepala rumah tangga mereka yang berdiri dalam diam tak jauh dari tempat tidur Luhan.
"Katakan padaku apa yang terjadi?" Sehun bertanya sepelan mungkin namun nada suara yang dilontarkan begitu menyalahkan semua penghuni dirumahnya saat ini.
"Sehun-..." Jaejoong membuka suaranya untuk menjelaskan pada Sehun, namun terhenti karena saat ini Yunho menarik dirinya ke belakang sementara dirinya mulai bersuara menjelaskan pada adiknya.
"Luhan terjatuh karena menolong Haowen untuk mengambil minuman ke dapur. Keadaan gelap saat itu. Dan saat menuruni anak tangga ketiga kakinya tak sengaja tergelincir membuatnya yang sedang menggendong Haowen terjatuh. Luhan memang menglami pendarahan kecil tapi dokter mengatakan Luhan dan bayinya baik-baik sa-..."
"BAGAIMANA BISA HAOWEN MENGGANGGUNYA DI TENGAH MALAM SEPERTI INI."
Dugaan Yunho tak meleset sedikit pun mengenai reaksi yang akan diberikan adiknya. Dia sudah bisa menebak kalau adiknya akan menyalahkan siapapun tanpa mau mendengar penjelasan apapun karena saat ini emosinya begitu terlihat.
Yunho masih berusaha bersabar saat dengan jelas mendengar kalau putranya sedang disalahkan. Membuatnya sedikit merasa menyesal pada Haowen yang kini tengah menangis ketakutak di pelukan istrinya karena pamannya sedang berteriak menyebut namanya dengan marah.
"Apa kau tidak bisa lihat? Putraku juga terluka. Lengannya memar dan kakinya sedikit terkilir. Ini kecelakaan Sehun." katanya berusaha memberitahu Sehun yang terlihat memandang Haowen sekilas lalu kembali menjadi egois tentang semua yang berkaitan dengan Luhan.
"Kecelakaan ini tidak akan terjadi kalau Haowen tidak mendatangi Luhan dikamarnya. Kau harusnya menjaga putramu hyung. Dia hampir membuat Luhan dan bayiku terlu-..."
"OH SEHUN!"
Habis sudah kesabaran Yunho. Jika dirinya yang dihina mungkin dia akan berusah bersabar. Tapi yang sedang terjadi saat ini adalah Sehun terus menerus menyalahkan putranya dan sebagai seorang ayah tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat putranya dihina oleh seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya.
"eomma Haowen takut. Hkksss"
Haowen menangis begitu ketakutan saat ini, dan bersamaan dengan tangisan Haowen yang begitu memilukan perlahan kedua mata Luhan membuka. Dia merasa tak nyaman karena mendengar suara teriakan yang begitu menakutkan.
Membuatnya sedikit mengerjapkan mata sebelum akhirnya sedikit tersenyum mendapati Sehun di sampingnya, namun memiliki perasaan buruk karena menngenal benar raut wajah tegas dan menakutkan itu yang menandakan kalau dirinya sedang terlalu marah saat ini.
"Sehun…" paraunya memanggil nama kesukaanya yang terlihat sedang bersitegang dengan kakaknya. Membuat si pemilik wajah tak berekspresi itu sedikit menoleh dan seketika tersenyum lega melihat Luhan kembali membuka matanya.
"Hey sayang. Apa kau baik-baik saja?"
Sehun mengecup bibirnya sekilas sementara Luhan mengangguk sebagai jawaban memberitahu Sehun.
"Bagus kalau begitu. Aku akan membawamu pergi dari sini."
"eh? Apa maksudmu?"
Luhan bertanya namun diabaikan Sehun yang kini bergerak mencari tas besar didalam lemarinya dan kemudian memasukkan asal seluruh pakaian Luhan kedalam tas tersebut, membuat Luhan sama sekali tak mengerti apa yang dilakukan Sehun sebelum akhirnya menyadari situasi apa yang sedang terjadi dikamarnya saat ini.
Jaejoong terus mendekap erat putranya sementara Haowen memandang takut pada pamannya dan terakhir Yunho. Pria yang begitu Luhan kagumi itu tampak tertawa menakutkan melihat apa yang dilakukan adiknya membuat Luhan tersenyum lirih menyadari kalau dirinya kembali menjadi alasan hubungan keluarga Oh kembali merenggang.
Luhan tak tahu harus melakukan apa saat ini, membuatnya sedikit memandang menyesal pada Jaejoong yang kini menatapnya terisak dengan putranya yang terus menangis ketakutan di pelukannya.
Luhan berusaha mengalihkan pandangannya pada Jaejoong dan tak sengaja melihat ke tempat Yunho berada saat ini. Dan sama seperti dia mengenal baik Sehun. Luhan juga mengenal baik siapa Yunho. Kedua kakak beradik itu memiliki temperamen yang cukup buruk jika keduanya sedang emosi. Membuat Luhan sedikit waspada daat dengan jelas melihat Yunho mengepalkan erat tangan dan berjalan menghampiri Sehun yang masih memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam tas.
"KAU PIKIR KAU MAU MEMBAWA LUHAN KEMANA?!"
Yunho mencengkram lengan Sehun dan merebut kasar tas yang ada di pegangan Sehun membuat Sehun menatap marah pada kakaknya.
"Berikan padaku." Katanya mendesis namun diabaikan Yunho yang kini tertawa menyeringai melihat adiknya.
"Dengarkan aku. Luhan akan tetap tinggal dirumah ini dan dia tidak akan pergi kemana-kemana." Gumam Yunho menggeram dan sengaja membuang tas yang berisi pakaian Luhan jauh dari jangkaun Sehun, membuat pria yang lebih muda itu terlihat begitu marah menatap kakak kandungnya.
"cih. Harusnya dari awal aku tidak membawa Luhan kesini. Aku menyesalnya membiarkan dia kembali terluka di tempat ini."
"Satu-satunya yang membuat Luhan terluka adalah KAU. KAU YANG TAK PERNAH MENJAGANYA DENGAN BAIK!"
"HYUNG!"
Kedua bersaudara itu saling menatap tajam dan mengeluarkan emosi yang sedari sudah tak mereka coba sembunyikan. Tak ada yang mengalah sampai akhirnya Yunho tertawa menyadari kebodohannya membuat sang adik semakin tak akan pulang kerumahnya lagi.
"Dengarkan aku." Gumam Yunho mendesis sedikit mencengkram lengan Sehun.
"Jika kau ingin bersama Luhan. kembalilah ke rumah kita. Jaga dia tanpa harus membawanya pergi lagi dari rumah kita. Sehun dengarkan aku-.."
"Terimakasih untuk tawaranmu tapi aku tidak tertarik." Katanya menghempas tangan Yunho dan kembali memungut tas yang dibuang Yunho dan dengan sengaja menabrak bahu kakaknya yang terlihat sangat menyesal saat ini.
"sehun.." Luhan tak tahan lagi melihat pemandangan yang begitu menyesakkan didepan matanya, jika tak ada Jaejoong dan Haowen mungkin Luhan akan membiarkannya, tapi saat ini Jaejoong dan Haowen menatap takut pada pertengkaran yang mungkin baru pertama kali mereka lihat.
Luhan pun memaksa mencabut selang infusnya dan berjalan gontai menghampiri kedua kakak beradik yang mungkin akan kembali bertengkar sebentar lagi karena saat ini Yunho mulai kembali menghampiri Sehun dan berniat merebut tas yang saat ini berada di tangan Sehun. Tidak perlu menebak apa yang terjadi setelahnya. Karena dipastikan mereka akan kembali saling berteriak membuat keadaan semakin menakutkan.
"Oh Sehun aku bilang berhenti."
"Sehun…" Yunho sedikit menggeram karena adiknya terus mengabaikannya. Dia merasa putus asa sampai akhirnya melihat Luhan yang sedang kesulitan berjalan menghampiri Sehun dan merasa tak punya pilihan lain selain menggunakan Luhan saat ini.
Dia berjalan mendekati Luhan dan sedikit mencengkram pergelangan tangan Luhan kemudian membawa Luhan mendekati adiknya yang masih terlihat egois saat ini.
"Sehun..!"
Sehun membelalak terkejut saat menyadari Luhan berada tepat didepannya. Dia hampir saja mendorong Luhan karena mengira Luhan adalah Yunho. Membuat Sehun menatap marah pada kakaknya "Apa yang kau lakukan?" katanya mendesis menyalahkan Yunho yang juga terlihat memucat saat ini.
"Sehun hentikan aku mohon." Katanya mendekap Sehun dan memohon pada pria yang terlihat sangat marah saat ini.
"Maafkan aku membuatmu ketakutan. Aku akan membawamu pergi darisini hmm." katanya mengusap lembut wajah Luhan sebelum kembali merapikan beberapa pakaian yang biasa Luhan kenakan selama masa kehamilannya.
"Sehun.."
Luhan sedikit mencengkram tangan Sehun membuat Sehun sedikit menoleh dan kembali menatap Luhan yang semakin mencengkram erat lengannya.
"Pulanglah sayang"
"Apa maksudmu Lu?"
"Maksudku…" katanya mendekati Sehun dan memeluk pria tampannya yang masih terlihat sangat emosi terasa dari deru nafasnya yang masih tak beraturan dan tubuhnya yang terasa sangat tegang.
"Kau bilang ini rumahku. Lalu kenapa aku harus pergi lagi dari rumahku? Apa kau kembali mengusirku dari rumah ini?"
Luhan sedikit tersenyum saat kedua tangan Sehun dengan cepat memeluknya. Pria tampan itu bahkan menggelengkan cepat kepalanya dan menciumi pucuk kepala Luhan membuat Luhan merasa sangat nyaman.
"Luhan... bukan begitu maksudku sayang. Aku akan membawamu pergi dari sini. Kita akan tinggal bersama dan aku sendiri yang akan menjagamu."
Kali ini Luhan yang menggelengkan kepalanya dan semakin mendekap erat pria tampan didepannya "Jika kau ingin menjagaku dan bayi kita kau harus kembali kesini. Hidup bersamaku dirumahmu. Aku mohon pulanglah."
Wajah Sehun terlihat mengeras, dia bahkan sama sekali tak bisa menjawab permintaan Luhan yang memintanya untuk kembali ke rumahnya sendiri.
"Sehun aku mohon."
Sehun semakin memejamkan matanya saat untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mendengar permintaan Luhan begitu memberatkan untuknya.
Sehun bisa saja langsung mengiyakan permintaan Luhan jika tak ada kakaknya yang kini menatapnya penuh kekecewaan. Membuat sekelibat ingatan tentang bagaimana dirinya berteriak malam itu pada kakaknya begitu membuatnya merasa bersalah ditambah sikapnya yang kembali arogan kembali terulang malam ini. dia kemudian menatap ke arah keponakan dan kakak iparnya yang menghindari kontak mata dengannya, membuat Sehun menyadari kalau dia kembali diluar batas malam ini.
"Kembalilah Sehun, demi bayi kita."
Sehun sedikit menghela nafasnya sebelum akhirnya memeluk Luhan dan mencium dalam aroma yang begitu menenangkannya, dia berpikir sebentar sampai akhirnya kepalanya mengangguk membuat tak hanya Luhan melainkan Yunho dan Jaejoong begitu bahagia dan berterimakasih pada Luhan karena akhirnya setelah hampir setahun lamanya Sehun meninggalkan rumah dia menyetujui untuk kembali kerumahnya sendiri.
"Aku akan kembali dan menjagamu disini Lu-...di rumah kita." Gumamnya membuat Luhan diam-diam terisak karena terlalu bahagia dengan pernyataan Sehun. semua ini seperti mimpi untuk Luhan. Hari dimana dia pergi meninggalkan rumah adalah hari dimana dia kehilangan segalanya. Keluarganya, kenangannya dan cintanya. Semua itu seperti tak mungkin Luhan dapatkan kembali, tapi malam ini Sehun membuatnya menjadi nyata. Membuatnya semakin terisak pelan membuat piyama tidur Sehun menjadi basah karenanya.
"Terimakasih Sehun-..Terimakasih." katanya terus bergumam membuat Sehun semakin mendekapnya erat.
Luhan kemudian sedikit merasa bersalah karena saat ini Yunho dan keluarga kecilnya perlahan meninggalkan kamar Sehun dengan wajah mereka yang begitu pilu setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Membuatnya melepas pelukannya pada Sehun dan segera memanggil keluarga yang selalu terlihat bahagia dan membuatnya sedikit iri karena keharmonisan keluarga kecil dari kakak pria yang ia cintai.
"Hyung..."
Yunho yang sedang merangkul pinggang istrinya kembali menoleh dan tersenyum lembut ke arah Luhan "Ada apa Lu?"
"Tunggu sebentar." Katanya dan kembali menatap Sehun yang juga masih canggung pada keluarganya sendiri saat ini.
"Sehun, apa kau tahu kenapa aku bisa terjatuh dari tangga malam ini?"
Sehun mengangguk dan sedikit takut membayangkan apa yang terjadi pada Luhan beberapa saat lalu "Kau membantu Haowen mengambil air didapur."
Luhan menggeleng dan tak lama tersenyum pada balita yang kini berusia empat tahun didepannya "Haowen yang membantuku untuk mengambil air."
Pernyataan Luhan tak hanya membuat Sehun sedikit tercengang namun kedua orang tua Haowen yang kini terlihat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi malam ini.
"Aku terbangun karena haus, dan tak sengaja memanggil namamu. Saat itu Haowen sedang berjalan didepan kamarku dan bertanya aku kenapa. Dan saat aku bilang aku haus, Haowen mengatakan akan menemaniku ke dapur. Awalnya semua baik-baik saja, tapi karena aku salah memijakkan kaki membuat kami berdua terjatuh. Harusnya aku yang minta maaf karena membuat Haowen terluka. Kau tidak boleh memarahi Haowen Sehunna." Gumam Luhan memberitahu kejadian sebenarnya membuat Sehun merasa bersalah pada keponakannya sementara Yunho dan Jaejoong tersenyum bangga pada putra mereka yang selalu menjaga Luhan disaat pamannya tak bisa menemani Lulunya.
"Kau harus minta maaf pada Haowen sayang." Gumam Luhan memberitahu Sehun membuat Sehun menatap menyesal pada Haowen yang kini tak mau melihat ke arahnya.
"Haowen." Sehun memanggil keponakannya. Namun balita empat tahun itu hanya semakin bersembunyi dipelukan ibunya tak mau bertatapan dengan pamannya yang menakutkan saat ini.
"Haowen jagoan paman. Paman minta maaf." Gumam Sehun yang sebelum mengambil Haowen dari pelukan Jaejoong. Dia menatap menyesal pada kakak iparnya. Membuat Jaejoong hanya tersenyum lega karena setidaknya Sehun sudah kembali menjadi paman yang begitu menyayangi keponakannya.
"Haowen-...'
Sehun berhasil membawa Haowen ke pelukannya namun Haowen terus berusaha menghindari kontak mata dengan Sehun membuat Sehun merasa sangat jahat pada keponakan kecilnya "Terimakasih sudah menjaga Lulu untuk paman. Haowen mau kan terus membantu paman menjaga Lulu dan adik bayi?"
Meskipun balita empat tahun itu masih tak mau menatap pamannya, tapi dia mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Sehun membuat Sehun benar-benar mengutuk dirinya saat ini karena telah berteriak menyalahkan keponakannya.
"Paman minta maaf Haowen. Paman bersalah padamu. Paman menyayangi Haowen-...sangat menyayangi Haowen" gumam Sehun mencium tengkuk Haowen
"samchon salanghae." Gumaman Haowen membuat Sehun semakin mendekap erat keponakannya dengan sayang. Entah setan apa yang merasukinya sehingga dengan tega membuat dirinya membentak malaikat kecil didepannya. "Paman juga mencintai Haowen. Maafkan paman nak," gumamnya begitu menyesal membuat ketiga pasang mata yang melihatnya mau tak mau menyunggingkan senyum melihat betapa seorang paman dan keponakan begitu saling menyayangi.
Yunho mendekap erat istrinya sementara tangan kanannya dia gunakan untuk merangkul pinggang Luhan. Membawa adik kecilnya merasakan kembali keutuhan sebuah keluarga dan tak berniat lagi memisahkan apa yang harusnya menjadi miliknya. Yunho mengusap lembut surai Luhan sebelum akhirnya mengecup sayang pucuk kepala pria yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya secara utuh "Terimakasih untuk segalanya Luhan, aku benar-benar menyayangimu."
Luhan sendiri secara refleks memeluk Yunho, merasa begitu bahagia karena pria yang selalu ia kagumi sedari kecil kini kembali menerimanya. Membuat Luhan rela menukar apapun yang ada di hidupnya hanya untuk tidak dibenci oleh kedua bersaudara Oh. Karena baik Sehun maupun Yunho-..keduanya sudah memiliki tempat sendiri di hidup Luhan.
..
..
..
"Samchoon...Lulu...ileonaaa…"
Kedua orang dewasa yang dipanggil itu pun sedikit menggeliat sebelum akhirnya kembali saling mendekap dan kembali tertidur nyaman di pelukan masing-masing.
Membuat sang keponakan begitu kesal karena diacuhkan dan berniat membangunkan paman serta Lulunya entah menggunakan cara apa lagi kali ini.
Ini adalah hari ketujuh saat Sehun memutuskan untuk kembali kerumahnya. Dan tak ada hal yang berubah dari kebiasaan keluarga kecil yang kembali mendapatkan secara utuh jumlah keluarganya.
Sehun dan Luhan cenderung akan bangun lebih lama dari kepala keluarga dengan alasan keduanya tidak bisa tidur di malam hari.
Karena semenjak kepulangan Sehun ke rumahnya. Bayi yang berada didalam perut Luhan seakan tahu kalau ayahnya kini berada dekat dengannya. Dan seolah tak mau membuang kesempatan, bayi kecil yang sedang tumbuh didalam sana akan secara aktif mengganggu Luhan di malam hari membuat Luhan sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Jika Luhan tak bisa memejamkan matanya maka secara otomatis membuat Sehun harus menemani kemauan darah dagingnya. Semua itu sudah berlangsung kurang lebih seminggu ini membuat kedua calon orang tua muda itu terlihat kelelahan di pagi hari.
"Lulu~..."
Kali ini Luhan sedikit merespon panggilan dari keponakan kecilnya, membuatnya sedikit menggeliat di pelukan Sehun dan mengusap lucu matanya sebelum mencari asal suara Haowen yang memanggilnya.
"Haowen." gumam Luhan memanggil serak keponakan Sehun yang terlihat senang menyapanya pagi ini.
"Lulu ileona."
Luhan pun mengangguk tersenyum dan mendongak menatap wajah pria tampan yang tangannya masih melingkar sempurna di pinggangnya dengan sedikit tersenyum menyadari kalau Sehun terlihat sangat kelelahan.
"Aku bersiap kebawah dengan Haowen. Apa kau masih ingin tidur." katanya bertanya mencium sekilas bibir Sehun sebelum kembali mengagumi wajah tampan didepannya.
"Lima belas menit lagi aku menyusulmu Lu."
"Baiklah kalau begitu. Istirahat yang banyak sayang. Malam nanti belum tentu kau bisa kembali tidur." katanya terkekeh memberitahu Sehun yang tersenyum dalam tidurnya. "Tidak masalah untukku." gumam Sehun menjawab dan kembali memejamkan matanya yang masih tak mau membuka sempurna.
Luhan mengusap sayang dahi Sehun dan sedikit menundukkan wajahnya untuk mencium kening Sehun cukup lama sebelum kembali tersenyum dan bersyukur karena bisa diberikan kebersamaan dengan cinta pertamanya walau tak ada status yang mengikat keduanya. "Selamat ulang tahun Sehunna." katanya kembali mencium Sehun dan tak lama bersiap untuk sarapan bersama Haowen dan kedua orang tua Haowen.
Luhan yang masih duduk di tepi ranjang dan sedang memakai sandal rumahnya cukup terkejut saat tangan kekar Sehun tiba-tiba melingkar di pinggangnya dan wajah Sehun sedang mencium sayang perutnya yang mulai terlihat membuncit membuat Luham sedikit menggeliat karena Sehun menciumi perutnya berkali-kali tak berniat berhenti.
"Sehun apa yang kau lakukan hmm?" gumam Luhan mengusap sayang rambut Sehun dan membiarkan Sehun terus menciumi perutnya saat ini.
"Si kecil belum mengucapkan selamat ulang tahun pada ayahnya. Aku akan memberikan hukuman dengan ciuman lima puluh kali pagi ini." gumamnya masih sibuk memaju mundurkan kepalanya untuk mencium perut Luhan yang membuncit seksi membuat si pemilik tubuh terkekeh dan menggeliat karena merasa geli.
"Mengingat hari ini hari ulang tahunmu, aku akan membiarkan melakukan apapun yang kau mau." gumam Luhan yang kini meminta Haowen duduk disampingnya dan melihat bagaimana paman tampan kesayangannya sedang menciumi berkali-kali adik bayi yang berada didalam sana.
"Samchon adik bayi bisa sakit." protes Haowen membuat Luhan mengusap sayang kepala Haowen.
"Haowen jangan khawatir. Adik bayi tidak akan sakit justru sebaliknya adik bayi senang jika ayahnya mencium adik bayi."
"empat puluh sembilan. Lima puluh. Selesai!"
Sehun berteriak dan membaringkan kepalanya di paha Luhan, sedikit terengah sebelum tersenyum karena Luhan kini menatapnya "Benar sudah selesai?"
Sehun mengangguk perlahan sambil mengusap lembut perut Luhan "Adik bayi sudah diberi hukumannya." gumam Sehun tertawa konyol karena tingkahnya sendiri.
"Kalau begitu apa aku boleh turun sekarang."
Sehun memicingkan matanya dan tak lama menarik tengkuk Luhan untuk kembali menciumnya sebelum pergi.
"Perhatikan langkahmu saat menuruni tangga." gumam Sehun memindahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur dan memberitahu Luhan yang kini mengangguk mengerti.
"Aku akan berhati-hati." gumam Luhan yang kini bersiap dan menggandeng tangan mungil keponakannya.
"Hari ini hari ulang tahunmu. Jangan terlalu lama berada dikamar. Oke?"
"Oke. Aku akan turun dalam lima belas menit."
Luhan pun tertawa renyah dan mengiyakan apapun yang dikatakan Sehun saat ini. "Baiklah aku menunggu." katanya yang kini berjalan keluar kamar dengan Haowen berjalan yang berada di genggamannya.
..
..
..
Dan bukan seorang Oh Sehun jika ucapannya bisa dipegang. Pria muda yang sebentar lagi akan menjadi ayah ini benar-benar masih harus beradaptasi tentang apapun yang diinginkan Luhan dan bayinya. Dirinya selalu terlihat kelelahan secara berlebihan walaupun hanya untuk menemani Luhan yang tidak bisa tidur sambil berceloteh panjang lebar pada calon darah dagingnya setiap malam sudah hampir tujuh hari ini. Membuatnya harus memiliki waktu ekstra untuk tidur di pagi atau siang hari karena saat dirinya belum tentu bisa tidur nyenyak seperti ini di malam hari.
tuuuuut...tuuuutt..
Si pria tampan yang sedang tertidur lelap itu tampak terkejut mendengar suara alarm dari ponselnya, membuatnya sekejap terbangun dan segera mematikan alarmnya karena terkejut melihat jam yang tertera di ponselnya "oh shit." gumamnya mengumpat dan segera bersiap karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang yang artinya dia sudah tertidur selama hampir tiga jam sejak dia mengatakan akan menyusul Luhan lima belas menit lagi.
"hyung."
Yang disapa pun menoleh dan mendapati adik kandungnya sedang menuruni tangga dengan pakaian yang rapi lengkap dengan jas nya dan mata yang mencari ke seluruh ruangan.
"Mana Luhan?" katanya bertanya menarik kursi disamping kakaknya yang sedang membaca koran.
"Luhan dan Jaejoong ke rumah sakit."
"Bukan Luhan-.." timpal Yunho membaca dengan baik bagaimana ekpresi wajah Sehun yang langsung berubah seketika saat nama Luhan disebutkan.
"Kyungsoo diperkirakan akan melahirkan malam ini. Jaejoong dan Luhan sudah pergi kesana untuk membantu. Kita akan menyusul mereka setelah kau menghabiskan sarapanmu yang sangat terlambat." katanya kembali berbicara panjang lebar sebelum adiknya berteriak karena marah dan salah paham.
"Baiklah aku akan menghabiskan sarapanku dan menjemput Luhan untuk makan siang bersama." katanya tersenyum tersipu membuat Yunho sedikit tak sabar melihat adiknya begitu lambat untuk urusan cintanya.
"Karena ini adalah hari ulang tahunmu. Kenapa kau tidak mengajak Luhan makan malam romantis diluar."
"Aku memang sudah menyiapkannya untuk nanti malam."
"Hanya makan malam?"
Sehun mengangguk sambil mengunyah roti yang ada di mulutnya. "hmmm." gumamnya memberitahu Yunho yang terlihat kesal dan kembali menarik kursi disamping adiknya.
"Dengarkan aku Sehun." katanya dengan suara berat yang menunjukkan kalau dirinya sedang menahan kesal saat ini.
"Kau tahu aku sudah menjadi seorang ayah dan seorang suami kan?"
"hmm."
"Kai juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah dan sudah menjadi seorang suami."
"Lalu?"
"Astaga Sehun.." Yunho memijat asal kepalanya sebelum melihat kesal pada adiknya.
"Lalu apa kau hanya akan menjadi seorang tanpa menjadi seorang suami untuk Luhan? Apa kau akan membiarkan Luhan pergi begitu saja jika kau tidak mengikatnya? Jangan bodoh Sehunna." gumam Yunho dalam satu tarikan nafas membuat Sehun yang sedang menyesap kopinya sedikit terdiam dan merasa dihantam tepat di hatinya merasa sangat bodoh membiarkan Luhan bisa pergi kapan saja jika dia tidak mengikat hubungan yang kuat sebagai suami dan istri dengan Luhan.
Jantung Sehun berdegup dengan kencang sementara tangannya bergetar membayangkan Luhan kembali berjalan pergi meninggalkannya. Dia sudah pernah kehilangan Luhan dan rasanya sangat menyesakkan sampai membuatnya harus mati-matian bertahan hidup. Dan saat dia mendapatkan Luhan kembali ke pelukannya, dia bersumpah untuk tidak kehilangan cinta pertamanya lagi. Tidak lagi.
"Apa yang harus aku lakukan hyung?"
"Cobalah untuk melamarnya malam ini. Dan jika Luhan bersedia, aku akan membuat kalian menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri minggu depan. Sebelum buah hati kalian lahir."
"Kau mau kemana?" Yunho sedikit berteriak melihat adiknya tiba-tiba berdiri dan mencari kunci mobilnya.
"Aku harus mencari cincin kan? Doakan aku hyung." katanya menjawab pertanyaan Yunho yang terlihat mati-matian menahan rasa senangnya karena adiknya mungkin akan segera mendapatkan kebahagiaan seutuhnya dengan Luhan.
"semoga beruntung dan selamat ulang tahun adik kecil." Gumam Yunho menghapus cepat air matanya menyadari adik kecilnya kini benar-benar telah kembali menjadi adik kecilnya secara utuh.
Yunho membuka cepat dompetnya dan mengambil selembar foto tua dengan dirinya dan Sehun yang masih kecil tertawa bahagia bersama kedua orang tuanya.
"Hari ini Sehun kecil kita kembali mengulang tahun. Dia sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah,kalian akan menjadi nenek dan kakek dari anak-anak kami." gumam Yunho menatap kosong wajah ayah dan ibunya yang tersenyum bahagia di foto. Dia kemudian memejamkan matanya tak kuat merasakan rindu yang begitu dalan pada dua sosok yang terlalu ia cintai di hidupnya.
"Aku harap aku tidak mengecewakan kalian lagi. Maaf karena pernah membuat adik kecilku pergi dari rumah ini dan membenciku. Aku akan melakukan segala cara untuk kebahagiannya. Aku janji." gumam Yunho mengusap lembut wajah kedua orang tuanya yang begitu ia rindukan. Membiarkan dirinya berperan kembali sebagai seorang anak saat ini. Karena semenjak kematian kedua orang tuanya. Yunho sudah dipaksa dewasa sebelum waktunya dan harus menjadi ayah, ibu dan kakak untuk adik kecilnya. Dia tidak pernah mengeluh hanya saja terkadang dia merasa lelah dan ingin menjadi Yunho yang sebenarnya. Yunho kecil maupun Yunho dewasa yang membutuhkan istirahat tanpa harus takut menghadapi apa yang akan terjadi esok hari.
..
..
..
"Paman kenapa kita kesini? Kau bilang Sehun ingin menemuiku?" katanya bertanya pada sekertaris Kang yang membawanya ke sebuah hotel dan hanya tersenyum saat Luhan terus menerus bertanya tanpa henti di sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju tempat mereka sekarang.
"Silahkan."
Seorang pegawai menekan tombol lift untuk sekertaris Kang dan Luhan yang masih tak mengerti kenapa mereka berada di hotel mewah saat ini.
"Paman sebenarnya kita mau kemana?"
"Ke lantai tiga puluh. Kau akan makan malam disana Lu."
"Aku? Dengan siapa? Dengan Sehun?"
"Ya dengan wakil direktur." katanya membuat Luhan semakin mengernyit.
"kenapa harus di hotel mewah seperti ini?" katanya sedikit menggerutu membuat sekertaris Kang tertawa melihat Luhan "Ah-...sebelum aku lupa. Seulgi menitipkan pesan untukmu."
"Seulgi? Apa pesannya?" katanya bertanya dengan semangat pada ayah sahabatnya.
"Putriku bilang dia akan segera menemuimu. Jadi kau tidak boleh pergi lagi."
"Memangnya Seulgi dimana?"
"Dia sedang melanjutkan sekolah designya di Jepang. Bulan depan dia akan pulang. Jadi sebaiknya kau tidak pergi lagi Luhan. Karena aku juga tidak akan membiarkan kau pergi lagi."
"Ah-...aku"
Ting…!
Pintu lift terbuka membuat ucapan Luhan sedikit terpotong karena saat ini Sekertaris Kang sedang tersenyum ke arahnya.
"Sudah sampai. Aku akan menunggu di lantai dasar. Nikmati makan malam indahmu Luhan." gumam Sekertaris Kang yang setelah mengantar Luhan ke tempat yang diminta Sehun segera kembali memasuki lift dan meninggalkan Luhan sendirian disana.
"Paman aku harus kemana?" katanya berteriak namun hanya senyum penuh arti yang diberikan Sekertaris Kang saat pintu lift tertutup membuat Luhan menggigit kecil bibirnya karena tak tahu harus kemana setelah ini sampai sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan aroma yang begitu ia kenal begitu saja menguar ke indera penciumannya.
"whoaaa..Kenapa aku jadi gugup seperti ini?"
"Kalimat itu harusnya jadi milikku." protesnya membuat Sehun tertawa dan membuat Luhan mendekat ke dekapannya.
"Aku memang mengambil kalimatmu Lu. Tidak perlu gugup sayang. Aku hanya ingin makan malam bersama denganmu." katanya membawa Luhan berjalan ke meja yang telah ia pesan sebelumnya.
"Kenapa kita makan disini?" katanya berbisik saat Sehun menarik kursi untuknya.
"Langsung ke menu utama. Priaku sudah lapar."
Sebelum menjawab Luhan, Sehun memberi instruksi pada pelayan untuk membawakan menu utama dan kembali menatap Luhan setelahnya.
"Ini ulang tahunku. Aku ingin membuatnya spesial malam ini."
Luhan memicingkan matanya dan tak lama mendekatkan wajahnya ke dekat wajah Sehun "Aku tahu tuan muda. Tapi kau merusak rencanaku. Aku berniat memasak untukmu malam ini."
"Kalau begitu kita pulang saja."
"Ditolak. Aku sudah terlanjur suka dengan suasana di restaurant ini." gumam Luhan menatap ke luar jendela dan mengagumi pemandangan indah dari restaurant mahal ini sebelum menyadari satu hal
"Tapi kenapa hanya ada kita berdua?"
Sehun yang sedang mengamati wajah cantik Luhan pun sedikit terkekeh dan melipat kedua tangannya di atas dada
"Mungkin mereka sudah tidur dan tidak berniat makan di restaurant mahal ini." gumamnya tertawa asal memberitahu Luhan, dia tidak mungkin mengatakan pada Luhan kalau dia sudah menyewa semua meja yang ada di restaurant ini hanya untuk makan malam berdua dengannya.
"Kau benar. Restaurant ini sangat mahal." gumam Luhan mengangguk setuju karena tak sengaja melihat daftar harga dari menu makanan yang disediakan di hotel ini.
Dan tak lama saat keduanya tertawa, makanan yang dipesan oleh Sehun pun datang. Membuat Luhan menatap lapar pada makanannya namun sedikit mendengus sebal karena makanan yang disajikan untuknya dan Sehun terlihat sangat berbeda.
"Kenapa kau memakai alkohol didagingmu sementara aku tidak?" katanya bertanya membuat Sehun kembali tertawa.
"Kau tahu perbedaanya?"
"Tentu saja. Dari aroma saja sudah tercium berbeda. Steakmu lebih harum dan menggoda daripada steak milikku."
"Kau benar-benar mengerikan jika menyangkut soal makanan Lu." gumam Sehun mengusak sayang rambut Luhan dan memotong sedikit dagingnya untuk diberikan pada Luhan.
"Ini cobalah sedikit. Nanti jika adik bayi sudah lahir, aku janji akan mengajakmu kembali kesini dan dagingmu boleh dimasak menggunakan alkohol agar lebih terasa enak."
Wajah Luhan tiba-tiba menghangat mendengar alasan kenapa dagingnya tak senikmat milik Sehun. Membuatnya sedikit tersenyum mengetahui jika perhatian Sehun benar-benar sudah terbagi namun tetap sama besar untuknya maupun untuk calon buah hati mereka.
"Sebaiknya kau tepati janjimu." gumam Luhan yang mulai memotong daging steaknya dan memakannya dengan lahap membuat Sehun tertawa karena merasa lega Luhan menyukai menu pilihannya.
"Bersulang Lu."
Luhan kembali harus mendengus pasrah karena disaat Sehun mengangkat gelas wine nya dia hanya diperbolehkan minum orange juice yang sudah dipesankan Sehun untuknya.
"Nanti setelah adik bayi lahir kau boleh minum sebanyak yang kau mau." katanya terkekeh memberitahu Luhan yang kembali memicingkan matanya.
"Tepati janjimu lagi kalau begitu."
"Aku akan menepatinya sayang."
"Selamat ulang tahun Sehunna. Maaf aku belum bisa memberikanmu hadiah. Aku-..."
"Tahun ini kau dan adik bayi adalah hadiah untukku. Jangan meminta maaf." gumamnya memotong ucapan Luhan membuat Luhan terdiam seketika.
"Kau tak perlu merona Lu. Habiskan makananmu." katanya mengusap sayang rambut Luhan membuat Luhan mengangguk dan kembali menghabiskan makanannya dengan Sehun yang terus menatapnya tak berkedip.
Dan tak beberapa lama kemudian, makanan penutupmu disajikan untuk Sehun dan Luhan. Dan seakan tak ada habisnya, Luhan terus menatap lapar pada cheesecake dan ice cream yang disajikan di meja. Membuat dirinya yang sudah tak canggung lagi berada di restaurant mahal ini melahapnya tanpa ragu "Ini kemauan adik bayi. Bukan kemauanku." katanya memberitahu Sehun yang sudah tak sanggup lagi memakan apapun dan hanya memutuskan untuk memperhatikan Luhan yang terus melahap habis makanannya.
"Kalau begitu buat adik bayi senang. Kau boleh menghabiskan semuanya."
"Benarkah?" Luhan bertanya bersemangat dengan mulut yang penuh kue dan ice cream membuat Sehun kembali tertawa dan mengangguk dengan cepat "Tentu saja cantik. Makan sebanyak yang kau mau. Aku senang melihatnya." katanya memberitahu Luhan yang mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban dan mengabaikan tatapan Sehun yang sedari tadi terus menatapnya tak berkedip seolah memikirkan sesuatu namun ragu untuk melakukannya.
..
..
..
"Ah kenyang sekali."
Luhan sedikit mengusap perutnya dan tak lama bersender di kursi super nyaman yang hotel sediakan untuk memanjakan para pengunjungnya.
"Hey nak, kau harus berterimakasih pada ayahmu, Appa sangat tampan-umhh- maksud eomma sangat baik malam ini." gumam Luhan mengoreksi membuat Sehun sedikit tersenyum mendengarnya.
"Terimakasih Sehunna."
"Aku akan mengajakmu makan malam disini setiap hari jika kau mau."
"ish. Ini tempat mahal. Kau tidak bisa sembarangan setiap hari makan disini."
"Hotel ini milik Chanyeol. Aku hanya membayar makanannya. Tempatnya dia pesankan khusus untuk kita"
"Chanyeol? Park Chanyeol?" Luhan bertanya sedikit terkejut mendengar kurang dari seminggu lalu Sehun dan Chanyeol tidak saling mengenal namun saat ini keduanya begitu dekat bahkan untuk dua orang yang tak saling mengenal seperti Sehun dan Chanyeol.
"umhh Park Chanyeol. Atas saran Yunho hyung akhirnya aku pergi menemuinya dan belajar banyak mengenai Management hotel mengingat aku yang bertanggung jawab atas bisnis pembukaan hotel di Buyamdong. Aku hanya ingin sukses untuk kali ini."
"Kau dengar itu nak? Ayahmu bahkan sangat profesional dalam bekerja saat ini." gumam Luhan kembali memberitahu bayinya dan menatap bangga pria tampan didepannya.
"Dan berbicara tentang Kai. Sebaiknya kita segera kembali ke rumah sakit, Kyungsoo mungkin sudah melahirkan saat ini." gumam Luhan melihat arlojinya dan mengingatkan Sehun untuk menyambut keponakan barunya yang akan segera bergabung dengan keluarganya.
"Sebelum kita ke rumah sakit. Aku ingin memberikan sesuatu padamu." gumam Sehun mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan memberikannya pada Luhan yang tampak bingung melihatnya.
"Ini apa?"
"Bukalah." Katanya sedikit bergetar meminta pada Luhan.
"Kau yang berulang tahun kenapa aku yang dapat hadi-..." gumam Luhan sedikit menggerutu sambil membuka kotak merah kecil tersebut sebelum menyadari apa yang ada didalam kotak itu dan kembali menatap Sehun saat ini.
"Sehun apa ini?"
"Maaf cincin ini tidak begitu indah, tapi aku harap kau menyukainya." Sehun mengambil cincin yang ia beli siang tadi dan memakaikannya langsung di jemari Luhan.
Luhan sendiri sudah memucat menyadari benar apa yang sedang Sehun katakan dan akan lakukan setelah ini, jantungnya begitu berdebar dan sedikit berharap Sehun tidak mengatakan hal yang ia pikirkan sampai akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Sehun dengan suara yang bergetar.
"Luhan maukah kau menikah denganku?"
Waktu terasa berhenti dan seketika Luhan merasakan mual dengan hati yang begitu sakit karena kalimat permintaan yang seolah menggodanya untuk segera menjawab aku mau dengan segera. Jika Luhan boleh menjadi egois, dia akan langsung menerima lamaran dari Sehun untuknya. Tapi sayangnya dia tidak bisa. Dia masih memikirkan Seunghyun secara tidak langsung. Bayangan kehancuran pernikahannya dengan Seunghyun masih sering berdatangan di mimpinya membuat semacam trauma sendiri untuk Luhan.
Air mata sudah berkali-kali jatuh di pelipis mata Luhan seiring dengan semakin erat genggaman tangannya di jemari Sehun, nafasnya tersengal dan hatinya begitu sakit. Dia tidak menyangka makan malam yang awalnya dipenuhi tawa dan kebahagiaan untuk pria tampan yang sedang mengulang tahunnya ini akan kembali membuat prianya menitikkan air mata karena semua hal yang akan ia katakan sesaat lagi.
Luhan kembali membuka matanya dan begitu tak tega melihat wajah frustasi Sehun yang sedang meminta, membuatnya kembali menjadi pemeran antagonis untuk kisah cintanya sendiri. Luhan sedikit menghela dalam nafasnya sebelum kembali menatap Sehun dengan terisak.
"aku tidak bisa."
Jawaban itu terdengar sangat pelan, namun Sehun bisa dengan jelas mendengarnya membuat pria tampan yang memiliki banyak harapan akan jawaban Luhan hanya bisa memejamkan matanya erat menahan rasa kecewa dan sedih yang teramat yang sangat ia rasakan di hari kelahirannya ini.
"Sehun-..."
Suara Luhan yang begitu lembut membuat Sehun perlahan membuka matanya dan menyadari kalau kalimat penolakan Luhan bukan sepenuhnya keinginan Luhan, ada sesuatu di mata Luhan yang membuatnya harus menolak dan menyadari hal itu membuat Sehun semakin merasa bersalah karena kembali membuat semuanya menjadi sulit untuk Luhan.
"Tidak bisakah Lu?"
Luhan menggigit kencang bibirnya sebelum kembali menghapus cepat air matanya mencoba memberi pengertian untuk Sehun "Aku dan Seunghyun-...Kami berdua baru lima bulan bercerai. Dan seluruh kegagalan pernikahanku dengannya terus menghantuiku dan membuatku merasa bersalah dan bertanya-tanya bagaimana Seunghyun menjalani harinya setelah kami bercerai. Apa dia makan dengan baik? Apa dia hidup dengan baik? Apa dia membenciku? Apa dia membencimu? Banyak sekali yang mengganggu pikiranku yang membuatku sangat ketakutan." Katanya berusaha tenang memberitahu Sehun yang kini mendengarkannya putus asa.
"Aku juga ingin memiliki keluarga yang utuh bersamamu. Tapi aku mohon beri aku sedikit waktu. Ini semua terlalu mendadak dan membuatku sangat bingung." Luhan kembali menundukkan kepalanya dan menangis terisak begitu menyayangkan menolak kebahagiaan yang ada didepan matanya.
"Aku rasa aku akan pergi kerumah sakit lebih dulu, kita bertemu disana hmm." Gumam Luhan kembali menghapus cepat air matanya dan tersenyum menatap Sehun yang hanya diam memucat saat ini.
"Cincin ini sungguh indah. Tapi-..." gumamnya tercekat melepas cincin yang baru saja dipakaikan Sehun untuknya "Tapi aku tidak bisa memakainya sekarang. Maafkan aku Sehun." gumam Luhan dan tak lama berjalan cepat pergi meninggalkan Sehun yang kini hanya menatap kosong pada cincin yang tergeletak di mejanya saat ini.
Sehun masih terdiam cukup lama sampai akhirnya dia menyembunyikan wajahnya di atas meja dan tak lama tertawa hampa karena Luhan baru saja menolak lamaran yang ia lakukan, membuatnya semakin putus asa dan tak tahu harus melakukan untuk membuat dirinya dan Luhan terus bersama tanpa harus mengungkit masa lalu yang begitu menyakitkan untuk keduanya.
Sementara Luhan-...tak jauh berbeda dari Sehun sepanjang perjalanannya menaiiki lift dia terus terisak sambil mencengkram kuat dadanya. Dia sungguh tak tahan melihat wajah Sehun yang begitu menderita, membuatnya sedikit egois untuk tidak mau ikut menderita karena melihat wajah Sehun dan hanya berjalan pergi secepat mungkin berharap kalau besok semua akan kembali baik-baik saja.
Ting...!
Luhan segera berjalan cepat keluar dari dalam lift, mencari keberadaan sekertaris Kang sebelum Sehun mengejar dirinya dan membuat semua semakin sulit untuknya. Dia berjalan ke arah lobi sampai langkahnya terhenti karena seseorang mencengkram kuat lengannya membuatnya memejamkan mata dan sedikit menoleh untuk memberi pengertian pada Sehun.
"Sehun aku mohon, aku-.."
Seketika suara permohonan Luhan tercekat. Pria yang kini mencengkram erat lengannya bukan Sehun melainkan pria yang menjadi alasan mengapa Luhan menolak lamaran Sehun belum lama tadi. Seketika tubuhnya melemas saat cengkraman itu semakin kuat dan tatapan itu semakin mengerikan seolah bisa membunuhnya kapan saja jika dia memaksakan diri untuk melihatnya.
"Seung-Seunghyun.." lidahnya terasa kelu memanggil nama yang kini begitu menakutkan untuknya membuat seluruh pergerakannya benar-benar membeku dan tak tahu harus berlari kemana lagi setelah ini.
"Kenapa kau masih berada di Seoul?" desisnya terdengar begitu menakutkan membuat batin Luhan menjerit dan memanggil nama Sehun berkali-kali saat ini.
"Seunghyun aku-.."
"KENAPA KAU MASIH BERADA DISINI."
"Sehun tolong aku. Sehun" Luhan sedikit tersentak saat Seunghyun berteriak, membuat tubuhnya bergetar dan hanya menunduk sambil memanggil nama Sehun. Berharap Sehun segera datang untuk menolongnya.
"IKUT AKU!"
"tidak-...tidak lagi. aku tidak mau pergi lagi. sehun!"
Luhan membelalak dan menggelengkan kuat kepalanya karena saat ini Seunghyun sedang membawanya pergi. Dia terus menangis memohon agar ada seseorang yang menolongnya. Namun rasa takutnya semakin menjadi saat Seunghyun membawanya ke basement dan menariknya menuju ke mobil yang entah akan membawanya pergi kemana.
"LEPASKAN AKU!"
Luhan mengumpulkan segala keberaniannya dan dengan sekuat tenaga menghempas kasar cengkraman tangan Seunghyun di lengannya.
"Kau!" Seunghyun semakin menggeram mendapati Luhan yang sudah berani melawannya. Membuat Luhan semakin takut karena saat ini Seunghyun kembali mencoba menarik tangannya lagi.
"AKU TIDAK AKAN PERGI-...TIDAK LAGI SEUNGHYUNNA!"
Luhan menjerit mengabaikan seluruh mata yang kini memandangnya. Dia bahkan berharap salah satu dari orang itu menolongnya dan segera membawanya pergi dari hadapan Seunghyun yang terlihat menakutkan saat ini.
"Kau tahu akibatnya jika kau tidak pergi dari sini kan?" katanya mulai mengancam Luhan yang semakin memucat dan menoleh ke segala arah berharap menemukan Sehun secepatnya.
"SEHUN AKAN BAIK-BAIK SAJA. KAU TIDAK BISA MENYAKITI SE-.."
BUGH...!
Luhan memejamkan erat matanya saat melihat Seunghyun hendak memukulnya. Dia sudah bersiap untuk merasakan panas dipipinya dan sedikit bertanya-tanya kenapa rasa sakitnya tak kunjung ia rasakan meski terdengar suara pukulan didepannya.
"JANGAN PERNAH MENYENTUH LUHAN LAGI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN KEDUA TANGANKU SENDIRI!"
Luhan secara refleks membuka matanya karena begitu bahagia mendengar suara Sehun berada didepannya saat ini.
"BRENGSEK!"
Luhan baru saja akan berjalan mendekati Sehun sampai matanya membelalak karena saat ini Seunghyun balik memukul telak wajah Sehun. membuat Sehun tersungkur seketika di lantai
"SEHUN!"
Sehun yang masih mengembalikan kesadarannya hanya melihat samar wajah Luhan yang kini menjerit ketakutan. Dia tidak bisa membiarkan Luhan lebih lama merasa ketakutan seperti ini karena sedikit banyak akan mempengaruhi kondisi buah hatinya didalam sana.
Sehun berusaha bangun sampai kembali tersungkur karena Seunghyun kembali menghajarnya, membuat wajah Luhan semakin ketakutan sementara Sehun berusaha memberitahunya kalau dia baik-baik saja.
"Direktur-..Luhan-.."
"Paman bawa Luhan pergi dari sini dan tunggu sampai aku datang"
Sehun langsung memberikan instruksinya saat Sekertaris Kang datang ke Basement dan meminta Luhan untuk segera dibawa pergi saat ini juga. Luhan pun meronta di pelukan Sekertaris Kang saat pria paruh baya ini berusaha membawanya pergi dan meninggalkan Sehun dan Seunghyun yang sedang saling memukul didepannya.
"CEPAT!"
"tidak Sehun...SEHUUN! SEHUUUN!"
Luhan pun masih berusaha meronta namun sia-sia karena Sekertaris Kang terus membawanya pergi menjauh dari Seunghyun dan Sehun yang kembali saling memukul tanpa ada yang bisa menghentikan mereka saat ini.
..
..
..
"Minumlah ini."
Wajah memar, bagian sudut bibir berdarah, pakaian berantakan dan nafas tersengal. Begitulah keadaan dua pria tampan yang baru saja saling memukul beberapa menit yang lalu.
Dan setelah saling memukul hampir dua puluh menit lamanya. Kedua pria yang sama-sama masih sangat mencintai Luhan itu memutuskan untuk mencoba berbicara dengan kepala dingin. Menyingkirkan emosi mereka dan berusaha menemukan jalan terbaik untuk semua masalah yang begitu membuat hidup mereka menderita saat ini.
"Aku hampir memukul Luhan. Aku-.." Seunghyun menatap kosong kedua tangannya dan begitu ketakutan menyadari kalau dia hampir saja kembali membuat Luhan terluka.
"Luhan baik-baik saja." Timpal Sehun menenggak cepat segelas bir yang ia pesan.
Seunghyun tertawa lirih dan tak lama ikut menenggak cepat bir yang diberikan Sehun untuknya "Aku rasa kita sudah tahu siapa yang akhirnya memenangkan hati Luhan." katanya mencengkram erat gelas kecil itu dengan sekuat tenaga. Berusaha merelakan namun masih terlalu marah untuk menerima kenyataan kalau Luhan telah kembali ke dekapan Sehun lagi saat ini.
"Kau pikir aku memenangkan hati Luhan?" Sehun bertanya hampa pada Seunghyun yang kini menatapnya tak mengerti.
"Hari ini hari ulang tahunku. Dan hari ini aku mencoba melamar Luhan untuk menikah denganku, dan kau tahu apa jawabannya?"
Seunghyun menolak memandang Sehun dan tertawa pahit karena merasa Sehun sedang mengejeknya saat ini.
"Dia menolak lamaran yang aku lakukan."
Dan jawaban Sehun seketika membuat Seunghyun kembali menatapnya. Seunghyun melihat wajah Sehun yang begitu menderita tengah mengusap kasar wajahnya saat ini.
"Dan kau tahu apa alasan dia menolak lamaranku?" gumam Sehun kembali menuang bir ke masing-masing gelas kosong mereka saat ini.
"Apa?"
"Dia bilang dia masih memikirkanmu. Apa kau makan dengan baik setelah kalian berpisah. Apa kau hidup dengan baik. Apa kau membencinya. Dia masih memikirkanmu dan tak ingin menyakitimu dengan pernikahan kami." Katanya tertawa lirih dan kembali menenggak kasar minumannya.
Seunghyun sendiri hanya terdiam tak menyangka kalau Luhan masih memikirkannya setelah apa yang dia lakukan pada pria cantiknya. Membuat hatinya meremat begitu sakit dan sangat menyesal karena dengan bodohnya melepaskan satu-satunya pria yang begitu ia cintai.
"Setiap hari dia ketakutan jika suatu saat nanti kau menemukannya masih berada di Seoul. Dia mengalami mimpi buruk yang membuatnya berkeringat di tengah malam. Kecelakaan malam itu bersamamu. Perceraiannya denganmu. Semua itu sedikit banyak mempengaruhi kondisi psikis Luhan."
Seunghyun kembali mencengkram erat gelas kecil yang berada di tangannya dan tak lama tertawa lirih menyadari kalau dirinya dan Sehun sama sekali tak berbeda "Kenapa kita beruda terus menyakiti Luhan." ujarnya menggeram dan menenggak cepat bir yang berada di gelasnya kemudian sedikit terengah menatap Sehun.
"Kisah cinta kita begitu rumit. Kita bertiga berputar terlalu jauh hanya untuk kembali ke awal. Bedanya semuanya terasa semakin sulit karena masa lalu terus menghantui dan membuat kita terus menyesal semakin jauh."
Sehun membalas tatapan Seunghyun. Tak ada kemarahan lagi di tatapan kedua pria tampan itu. Hanya ada luka yang bisa dilihat di masing-masing pandangan karena untuk mereka mencintai pria seperti Luhan bukanlah sesuatu yang mudah. Pria cantik mereka begitu rapuh namun terus bertahan di atas kedua kakinya bahkan setelah semua hal mengerikan yang ia alami.
"Apa aku boleh meminta Luhan darimu?" gumam Sehun terdengar memohon dan putus asa.
"Apa aku boleh menjaganya dengan hidupku?"
"Apa aku boleh membuat hanya kebahagiaan yang ia rasakan setelah semua kejadian menyedihkan yang pria cantik kita alami? Apa aku-.."
"Lakukanlah."
Sehun yang sedang mencoba memohon pada Seunghyun seketika menoleh saat pria disampingnya memberikan jawaban.
"Lakukanlah Sehun. Buatlah Luhan kita bahagia. Dari awal semua kisah cinta ini bermula. Luhan memang hanya milikmu. Jadi jangan meminta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf." Gumam Seunghun yang kini menatap kosong kedepan
"Maaf karena datang ke kehidupan kalian dan membuat kalian begitu kesakitan dan kesulitan untuk bersama. Aku menyesal menyakitinya disaat aku masih sangat mencintainya. Setiap hari aku hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan dalam hidupku. Aku menyesal karena membiarkannya pergi dari hidupku. Aku bersalah karena terus mengancamnya. Aku seperti psikopat gila yang tak bisa melihat pria yang aku cintai berbahagia dengan orang lain. Tapi mendengar bagaimana dia masih mengkhawatirkan aku membuatku merasa sangat bahagia." Katanya kembali menuang bir di gelasnya dan menenggaknya dengan cepat.
Seunghyun berdiri dari kursinya dan kembali sedikit menghela dalam nafasnya sebelum akhirnya memegang bahu Luhan "Sampai saat ini aku masih mencintai Luhan. Dan aku beritahu kepadamu satu hal, tidak semua orang memiliki kesempatan kedua sepertimu, jadi jangan sia-sia kan kesempatanmu untuk mendapatkannya kembali." Katanya tertawa getir memberitahu Sehun dengan seluruh ketidakrelaan didalam hatinya.
"Aku merelakan Luhan untukmu. Dan jangan lakukan kesalahan yang sama yang pernah kita lakukan padanya. Pastikan dia tersenyum dan tertawa kali ini. Aku pergi,"
Sehun sendiri hanya diam dan tak menjawab apapun. hatinya begitu berat bahkan untuk mengucapkan terimakasih pada Seunghyun. Dia tahu benar apa yang saat ini Seunghyun rasakan karena dia pernah berada di posisi Seunghyun. Dia pernah merelakan Luhan untuk berbahagia dengan Seunghyun. Kosong, hampa dan begitu tersesat serta rasa rindu yang begitu hebatnya namun menyadari tak bisa melakukan apapun karena Luhan bukan milikny lagi. Seperti itulah hari yang Sehun jalani tanpa Luhan disisinya.
Sehun kembali menuang bir di gelasnya dan tak lama kembali menenggaknya, sedikit terengah sebelum akhirnya sedikit tersenyum dan berterimakasih karena hari ini hari ulang tahunnya "Terimakasih Seunghyun-ssi. Aku akan menjaga pria cantik kita mulai saat ini." katanya tersenyum dan memutuskan untuk menyusul Luhan yang pasti sudah menunggunya dengan cemas.
..
..
..
Luhan yang berhasil melarikan diri dari Sekertaris Kang pun kembali berlari ke tempat dimana Sehun dan Seunghyun saling memukul beberapa saat lalu.
"Sehun..." gumamnya merasa frustasi karena tak menemukan Sehun di tempat sebelumnya membuat jantungnya berdegup kencang memikirkan yang tidak-tidak dan sedikit ingin berteriak sebelum
"Aku sudah bilang tunggu didalam mobil. Kenapa kau kembali berada disini?"
Luhan menoleh dengan cepat dan begitu lega melihat Sehunnya kini tengah berdiri di hadapannya. Tersenyum tampan seperti biasa walau kondisi wajahnya memar dan terdapat darah di sekitar sudut bibirnya.
"Sehunna." Gumamnya berlari dan memeluk cepat tubuh tegap yang selalu memberikan rasa nyaman untuknnya. "Syukurlah kau baik-baik saja." Katanya terisak dan bersembunyi di dada Sehun membuat Sehun mengusap lembut punggung yang terus bergetar dipelukannya.
"Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Seung-.."
Ucapan Luhan terpotong saat tiba-tiba Seunghyun kembali muncul tak jauh dari tempatnya dan Sehun berada. Membuat Luhan secara refleks kembali memeluk Sehun tanpa melepaskan pandangannya dari Seunghyun.
Luhan sedikit menaikkan kedua alisnya menyadari perubahan tatapan Seunghyun untuknya, biasanya mantan suaminya itu akan selalu menatap marah padanya. Namun saat ini yang Luhan rasakan adalah tatapan yang biasa Seunghyun berikan untuknya sebelum perceraian itu terjadi. Tatapan yang begitu lembut namun penuh luka itu membuat Luhan merasa tiba-tiba begitu sesak dan memutuskan untuk melepask kontak mata dengan Seunghyun yang berjalan memasuki mobilnya.
"Sehun sebenarnya apa yang terjadi?" Luhan kembali bertanya saat memastikan Seunghyun sudah pergi.
"sst..Jangan terlalu memikirkan banyak hal saat ini. aku akan menceritakannya lain kali. Sekarang kita pergi kerumah sakit hmm."
"Rumah sakit? Apa kau terluka parah?"
Seketika Luhan langsung memeriksa tubuh Sehun membuat Sehun menangkup wajah cantik itu dan melumat pelan bibir Luhan karena bibirnya saat ini sedang terluka sebelum kembali menatap wajah cantik didepannya "Bukan aku. Tapi Kyungsoo."
"Kyungsoo?"
"hmm. Kyungsoo dan Kai sudah resmi menjadi orang tua saat ini. Anak mereka seorang anak laki-laki yang tampan."
Wajah Luhan seketika berbinar dan tak bisa menyembunyikan kebahagiannya "Pria dua belas april ku bertambah satu hmm." Katanya menggoda Sehun membuat Sehun mau tak mau tertawa walau hatinya masih sedikit memelas karena tak bisa menjadi orang tua secara utuh untuk calon buah hatinya.
..
..
..
"Hyuung."
Yunho yang sedang menunggu di luar ruangan pun tersenyum mendapati kedua adiknya berjalan cepat menghampirinya saat ini.
"Bayinya ada di dalam. Kalian cepatlah masuk."
Luhan mengangguk cepat dan sedikit mengernyit saat Sehun melepas genggaman tangannya "Kau masuklah lebih dulu. Aku ingin membersihkan wajahku Lu."
Luhan yang juga masih merasa bersalah karena membuat Sehun begitu sedih di hari ulang tahunnya mengangguk mengerti dan tersenyum menatap pria tampannya "Aku menunggumu didalam." Katanya sedikit mencium pipi Sehun sebelum berlari kedalam untuk segera melihat little Kyungsoo didalam sana meninggalkan kedua bersaudara Oh di luar saat ini.
"Kenapa wajahmu memar. Coba aku lihat."
Yunho memaksa untuk melihat wajah Sehun, namun Sehun menghindar menolak untuk dilihat oleh kakaknya. Namun karena sedikit paksaan Yunho membuat Sehun sedikit pasrah dan membiarkan kakaknya memeriksa wajahnya.
Sehun masih membiarkan Yunho melihat wajahnya dari dekat, membuatnya menyadari hampir setahun ini dia tidak pernah lagi melihat wajah Yunho dari dekat. Wajah yang selalu berusaha tenang saat bersamanya, wajah yang yang selalu dipaksakan tersenyum hanya untuk membuatnya tak menangis. Wajah yang selalu menyayanginya hampir seumur hidupnya, membuatnya tiba-tiba merasa ketakutan kalau suatu saat nanti terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya.
"Hyung." Katanya memanggil Yunho yang masih memeriksa dengan teliti wajahnya.
"hmm." Katanya menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya pada memar Sehun
"Hyung."
"Ada apa? Bicaralah."
"Hyung."
Yunho sedikit mengernyit dan memutuskan untuk menatap adiknya yang terlihat menyedihkan saat ini "Ada apa hmm." Gumam Yunho menghapus air mata adiknya yang tiba-tiba terisak.
"Hanya ingin memanggilmu saja." Gumam Sehun tercekat berniat menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan pada kakaknya namun gagal karena selamanya Sehun hanya akan menjadi adik kecil untuk Yunho.
"Bagaimana Luhan? apa kau sudah melamar Luhan?"
Sehun menunduk dan mengangguk sebagai jawaban "Lalu apa dia menerimanya?"
Sehun hanya kembali terdiam dan menggigit kencang bibirnya sebelum kembali menatap kakaknya "Luhan tidak menerimanya. Dia bilang dia membutuhkan waktu. Dia masih trauma dengan apa yang terjadi padanya dan Seunghyun. Dia-.."
Yunho dengan cepat mendekap erat tubuh adiknya yang kini bergetar hebat. Kembali merasa bersalah karena dia juga merupaka salah satu penyebab atas semua penderitaan yang adik kecilnya rasakan.
Yunho mendongakan wajahnya, diam-diam menangis begitu tak tega menyadari kebahagiaan seperti jauh untuk adiknya, dia mengusap lembut punggung Sehun dan membiarkan adiknya menangis dan mengeluarkan semua rasa sesak yang saat ini ia rasakan "Bagaimana jika selamanya Luhan tidak mau menikah denganku. Bagaimana jika suatu saat dia pergi lagi hyung."
"sst... Sehun adik kecilku jangan seperti ini. Luhan hanya membutuhkan waktu, dia mengalami trauma dan perlu waktu karena pernah gagal dalam pernikahannya. Kau harus bersabar. Aku janji kita tidak akan kehilangan Luhan lagi hmm."
"hyung"
"Aku disini Sehunna."
"hyung..."
"Maafkan aku Sehun." Gumam Yunho semakin mendekap erat tubuh yang biasanya selalu berdiri tegap dan tak terlihat tak pernah goyah sekalipun. Adiknya sudah mencapai batasnya bersabar dan wajar jika Sehun perlu mengeluarkan rasa gundahnya. Dia hanya ingin hidup berbahagia dengan Luhan selamanya. Tapi akan selalu ada hal yang membuat keduanya selalu terpisah dengan berbagai cara.
"hyung..."
"hyuuuuuung arghhh!"
Dan saat ini tidak ada yang lebih diinginkan Sehun selain memanggil sebanyak-banyaknya kakak yang sudah berperan menjadi banyak hal untuknya. Membiarkan dirinya lemah agar Yunho tak memiliki alasan untuk meninggalkannya. Selamanya dia membutuhkan Luhan dan Yunho. Dua orang yang sudah menjadi bagian hidupnya. Dua orang yang selalu bersabar menghadapinya. Dan dua orang yang selalu menerimanya kembali setelah banyak hal buruk yang ia lakukan.
"maafkan aku Sehun. maaf membuat ini kembali sulit untuk kita, aku mohon berikan aku sedikit waktu."
Luhan ingin sekali berjalan mendekati Sehun dan mengatakan semua rasa penyesalannya pada Sehun saat ini. Tapi saat Yunho tersenyum dan memberi isyarat bahwa Sehun akan-akan baik saja bersamanya. Membuat Luhan mengangguk mengerti dan memutuskan untuk tidak mengganggu kedua bersaudara yang sejak awal Luhan mengenal mereka selalu membuatnya iri karena begitu saling menjaga dan saling menyayangi satu sama lain.
..
..
..
*again...inimasihtbc."
.
.
gw rasa gw emang spesialis 19 chapter deh :". dari dulu bikin cerita klo ga 19 kaya engap. ah sudahlah. deal-dealan. chap 19 tanggal 20 . oke!
.
btw gw kemaren ga janji updet restart tanggal 12 loh ya. gw janji bakal apdet. tapi gatau apa. maka lahirlah MFC. jadi itu yang marah cium nih :*
.
Happy reading n review.
