Last chapter:
Ya tuhan,
Aku mohon padamu, sembuhkanlah istriku ini
Biarkanlah ia hidup dalam ketentraman, tanpa penyakit yang menyiksanya
Sungguh, aku tak sanggup melihatnya menderita seperti ini.
Biarkan ia tetap merasakan cinta tulusku dan rasa sayang yang ku berikan kepadanya..
Aku mohon..
.
..
...
MISSING YOU CHAPTER 6
Sudah enam hari setelah kemotheraphy, tetapi kyungsoo belum sadarkan diri. Hal ini membuat keluarganya, maupun rekan-rekan terdekatnya mengkhawatirkan keadaan kyungsoo. dan selama enam hari itupun, jongin tidak pernah meninggalkan kyungsoo. ia terlalu khawatir pada istrinya, semua kesibukannya di kantor ia tinggalkan. bahkan hampir semua pekerjaan yang ia tinggalkan di kerjakan oleh kakak iparnya, suho.
Sebenarnya bukan hanya jongin yang menunggu kyungsoo di rumah sakit. kedua orangtuanya, orang tua jongin, dan teman teman kyungsoo termasuk yixing juga menunggunya. Dan semua orang-orang yang menunggunya berharap agar kyungsoo segera membuka matanya. Berharap kyungsoo bisa segara pulih.
JONGIN POV
Sudah enam hari setelah kemotheraphy, tetapi mata bulatnya masih tertutup rapat. Hidung mancung dan bibir cherrynya di tutupi oleh masker oxygen yang membantunya bernafas. Rambut hitam nan lebat itu, kini menipis karena efek dari obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh mungilnya. Pipi chubbynya juga telah menirus. Tubuhnya yang sudah kehilangan ber kilo-kilo beratnya.
Benar-benar mengenaskan.
Tapi itulah kenyataannya, keadaan kyungsoo memang sangat jauh dari kata 'baik-baik saja'.
Aku masih terduduk di bangku yang berada di samping katil kyungsoo. masih menunggunya, hingga manik obsidiannya terbuka. Berharap agar ia cepat puli-anni, cepat sembuh.
Ku genggam tangannya. Panas. Ya, memang selalu begitu. Tetapi aku tahu bahwa sebenarnya kyungsoo merasa dingin.
"jongin-ah, kau tidak makan siang?" tiba tiba suara key eomma (eomma kyungsoo) membuatku tersadar dari lamunanku.
"ani, aku tak lapar. Eomma" jawabku seadanya
"arraseo, jika kau mulai lapar, makanlah. Aku sudah membawakanmu makanan. Aku menyimpannya di meja makan"
"gomawo, eomma" ucapku singkat.
Aku kembali menolehkan kepalaku kearah kyungsoo yang masih menutup matanya. Kuhapus surai yang menutupi matanya. Tanpa terasa, air mataku jatuh mengenai pipiku. Aku benar benar tak kuat melihatnya seperti ini. Aku ingin melihatnya seperti dulu lagi. Kini ku genggam tangannya erat.
Ya tuhan,
Aku mohon, jangan ambil kyungsoo dariku..
Aku mohon…
JONGIN POV END
.
..
Terlihat seorang yeoja berkulit pucat yang tebaring lemah di atas katilnya. Hidung mancung dan bibir cherrynya tertutupi oleh masker oxygen yang membantunya untuk bernafas. Secara perahan, yeoja itu membuka matanya, menerjapkan matanya berkali kali,agar matanya terbiasa dengan biasan cahaya lampu yang tepat di atasnya. Sepasang mata bulat nan indah itu menangkap siluet namja berkulit tan yang tertidur sambil menggenggam tangan kanannya. Ia tersenyum lemah ketika melihat suaminya, tangan mungilnya mencoba untuk mencapai pucuk kepala sang suami yang berada di sampingnya. Mengelus pucuk kepala sang suami yang sangat ia cintai. Ia merasa kasihan pada jongin yang selalu menjaganya di rumah sakit. walau ia kelelahan, tetapi ia tetap menjaga kyungsoo di rumah sakit.
"jonginnie, mianhae.." lirih kyungsoo seraya mengecup pucuk kepala jongin, tanpa ia sadari airmatanya jatuh dari matanya. Sejenak ia terlarut dalam pikirannya, mengingat saat ia pertama kali masuk ke rumah sakit. saat itu, jongin lah yang selalu mengurusnya, mengingat saat itu eomma dan appanya berada di luar kota. Setiap jongin pulang kantor, ia akan langsung menuju rumah sakit untuk menjaga kyungsoo. setiap kali ia menjalani theraphynya, jongin juga selalu menemaninya. Walaupun pekerjaannya menumpuk, tetapi ia selalu menyempatkan dirinya untuk menemani kyungsoo.
Kyungsoo terlalu larut dalam pikirannya sehingga tak menyadari jongin telah bangun dari tidurnya. Sementara jongin yang baru terbangun bingung karena melihat mimic istrinya yang terlihat serius.
"baby, gwenchana?"Tanya jongin pada kyungsoo, yang membuat kyungsoo tersadar dari lamunannya
"jongin, kau sudah bangun?" bukannya menjawab, kyungsoo malah bertanya balik pada suaminya, berusaha untuk mengalihkan perhatian sang suami. Jongin mengangguk sebagai jawabannya. Kyungsoo tersenyum melihat respon dari suaminya.
"baby, gwenchana? Apa sudah merasa baikan?" kini, pertanyaan itu keluar dari bibir suaminya. Jongin memang sangat menghawatirkan istri tercintanya ini. Kyungsoo tersenyum kecil ketika melihat mimic dari wajah jongin, terlihat sekali bahwa jongin mengkhawatirkannya.
"nan gwenchana, jonginnie. Aku merasa lebih baik" ujar kyungsoo sambil tersenyum pada suaminya itu. walaupun kyungsoo menjawab seperti itu, jongin tetap mengkhawatirkannya karena wajah kyungsoo sangatlah pucat. Yah, bisa di bilang seperti mayat hidup.
"kyungsoo, kau yakin kau tak apa-apa?" Tanya jongin lagi, yang hanya di balas anggukan yakin oleh kyungsoo. setidaknya membuatnya sedikit lebih lega. Tetapi, jongin baru menyadari bahwa kyungsoo belum makan. Jongin tahu kyungsoo lapar, karena kyungsoo selalu memegangi datarnya.
"kyungsoo, apa kau ingin makan? Tadi key eomma membawakan kita bubur" Tanya jongin. kyungsoo menggelengkan kepalanya lembut. Menandakan wanita itu menolak tawaran suaminya.
"kenapa? Kau itu belum makan, nanti kau akan drop jika jarang makan, soo-baby"dan ia dapatmelihat kyungsoo menggeleng.
"anniyo jonginne, bubur itu untukmu. Tak mungkin aku memakannya. Lagipula aku tak lapar, jadi kau saja yang makan"ujar kyungsoo. jongin menghela nafas lelah, menyuruh kyungsoo untuk makan saat ia sedang sakit adalah hal tersusah. Ia sedikit memaksa kyungsoo agar mau makan. Dan akhirnya kyungsoo menurut, ia mau makan asalkan jongin mau menyuapinya dan langsung disetujui oleh jongin. Jongin tersenyum, 'rasanya sudah lama sekali kyungsoo tidak kusuapi' batinnya sambil mengarahkan sesendok bubur untuk menyuapi istri tercintanya itu. Tiba tiba, pintu ruang rawat kyungsoo terbuka. Terlihat seorang suster yang memasuki ruangan itu.
"mianhae mengganggu anda jongin-shi, tapi anda di tunggu oleh jung uisanim di ruangannya. Selamat siang" ucap sang suster lalu meninggalkan ruangan itu.
"baiklah kyungsoo, sementara kau suap sendiri dulu ya. aku harus menemui jung uisanim dahulu. Aku akan kembali" ucap jongin sambil tersenyum. Mendengar jongin mengatakan 'suap sendiri' membuat kyungsoo mempoutkan bibirnya. Berusaha memasang puppy eyes agar jongin menyuapinya bubur lagi. Sedangkan jongin tertawa tanpa suara karena melihat tingkah istrinya yang tumben sekali bermanja dengannya.
"baiklah, nani aku akan menyuapimu lagi, soo" ujar jongin sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang. Lalu melangkahkan kaki jenjangnyanya keluar dari ruang rawat itu. Kyungsoo memandang punggung jongin dengan senyum miris, tak lama setelahnya ia mengambil sebuah foto, yang lebih tepatnya adalah foto pernikahannya dengan jongin. lagi lagi Kristal bening itu terjatuh dari manik obsidiannya. Lalu ia menatap plafon yang berwarna putih bersih itu.
"jonginnie, mianhae.." lirihnya
.
..
"jadi, apakah ada perkembangan uisanim? Dan mengapa bekas infus dan betisnya membiru? " Tanya jongin bertubi pada jung uisanim, karena tadi saat membantu kyungsoo membetulkan posisinya sebelum makan, ia tak sengaja melihat detis kyungsoo terdapat memar.
"mianhae jongin-shii, tetapi yang terjadi adalah penurunan yang lumayan drastis. Karena daya tahan tubuhnya sudah tak sebaik dulu lagi. Inilah yang membuatnya tak sadarkan diri Selama 6 hari saat itu. Ditambah lagi, kemarin tubuh istri anda menolak cairan obat itu. Yang membuat bekas infus dan beberapa tempat di tubuhnya membiru. Saya sarankan kemotheraphy ini sementara di hentikan. Dan sepertinya kankernya mulai kebal dengan obat obatan itu "jelas sang dokter. Jongin terlihat sedikit kaget mendengar penjelasan dokter yang sudah setengah tahun menangani istrinya itu. Ia mencoba menahan tangisnya. Ia benar benar takut kehilangan istri tercintanya itu
"saya benar benar minta maaf atas ini semua, tetapi inilah kehendak tuhan. Kita hanya bisa memohon padanya."sambungnya
"ya, anda memang benar. Ini semua memang tergantung pada takdirnya" lirih jongin seraya keluar dari ruangan itu. Melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang rawat istrinya.
..
..
Terlihat jongin yang memasuki ruangan kyungsoo, ia melihat ke arah istrinya, entah apa yang ia pegang (lebih tepatnya didekap), posisi kyungsoo sedang duduk meringkuk. Jongin mendekati istrinya itu.
"kyungie, gwenchana?" Tanya jongin seraya mengelus punggung istri tercintanya itu. Perlakuannya itu membuat istrinya menengadahkan wajahnya, terlihat jejak jejak airmata di wajah manisnya . Sekilas jongin melihat benda yang sedari tadi di pegang oleh istrinya. Sebuah figura kecil berisikan foto pernikahan mereka setahun lalu. Seolah mengerti apa yang dirasakan istrinya, jongin langung mendudukkan dirinya di pinggir katil lalu memeluk kyungsoo dengan erat.
"mengapa kau menangis sayang? Bukankah saat itu adalah saat yang paling indah? Saatpetama kali kita mengucapkan janji suci itu bersama? Saat kita memulai kehidupan baru kita?" Tanya jongin lembut, kyungsoo menggeleng pelan.
"a-aku tak apa. Hanya saja.."kyungsoo menghela nafas sebentar.
"hanya saja aku merindukan masa itu, dimana saat itu aku masih sehat. Dimasa saat aku tidak sering merepotkanmu, Disaat aku masih berguna, disaat aku masih bisa mengurusmu, di-disaat.."kalimatnya terputus. kyungsoo tak kuasa lagi menahan tangisnya. Jongin mengeratkan dekapannya, lalu tangannya mulai mengelus rambut kyungsoo. seperti biasa, ia menemukan rambut kyungsoo yang rontok akibat efek dari obat obatan kemotheraphynya.
"baby, listen. Kau sama sekali tidak pernah merepotkanmu. Malah aku yang lebih sering merepotkanmu. Dan satu lagi, aku tak pernah memandang perbedaanmu antara dahulu dan sekarang. Karena Kyungsoo yang dulu dan yang sekarang tetaplah sama, tetap kyungsoo yang kucintai dan yang mencintaiku."
"t-tapi jongin, tetap saja aku yang dulu berbeda dengan sekarang. Sekarang aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, karena penyakit ini akan terus menggerogoti tubuhku. Dan secara otomatis aku akan menambah beban di pundakmu, dan mungkin aku tinggal menunggu 'waktu'nya tiba" ucap kyungsoo yang masih terisak di dekapan jongin
"kyungie, bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu, kau tidak boleh berkata seperti itu. Aku yakin tuhan masih memberimu kesempatan hidup lebih lama" jongin berusaha menenangkan istrinya yang masih terisak.
"t-tapi.."
"baby, tak ada tapi-tapian. Dan sekarang, kau harus istirahat."ucap jongin sambil tersenyum. Perlahan ia melepaskan dekapannya lalu membaringkan kyungsoo di katilnya. Jongin beralih menatap wajah kyungsoo yang penuh airmata. Ia menyeka airmata kyungsoo dengan jarinya,
"tidurlah, aku akan menemanimu di sini" ujar jongin sambil menyelimuti tubuh kurus istrinya. lalu mengecup dahi kyungsoo dengan sayang.
'ya tuhan, berilah kyungsoo kesempatan hidup lebih lama lagi'-jongin
'ya tuhan, berilah aku kesempatan hidup lebih lama lagi.'-kyungsoo
'Aku masih ingin memberikan ketulusan dan kasih sayangku padanya'-jongin
'Aku masih ingin merasakan ketulusan dan kasih sayangnya'-kyungsoo
'Masih ingin memberikannya kehangatan ketika ia kedinginan'-jongin
'Masih ingin merasakan dekapan hangatnya ketika merasa dingin'-kyungsoo
'Masih ingin melindungi dan mendekapnya ketika ia rapuh'-jongin
'Masih ingin dilindungi dan didekapnya ketika ku rapuh'-kyungsoo
'Ya tuhan, aku mohon'-jongin dan kyungsoo
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
Anyeong haseoo!
Mian abyeol baru update lagi, soalnya abyeol bener-bener banyak tugas. Bayangin aja seminggu harus presentasi 2kali, belum lagi dengan tugas lainnya.
Ohiya, gimana ffnya? Jelek yaa?
Sebenernya chapter ini udah selesai dari kapan, tapi abyeol gaada waktu buat ngepublisnya. Sekali lagi mian karna baru update lagi.
Makasih juga yang udah mau ngefollow atau ngeriview cerita ini. Maaf abyeol blom bisa bales reviewnya. Tapi abyeol udah baca semuanya kok. Abyeol juga berterima kasih pada silent readers udah nyempettin baca ff abalan milik abyeol
Sekali lagi gomawoo #bow with jongsoo
