Last chapter:
"baby, tak ada tapi-tapian. Dan sekarang, kau harus istirahat."ucap jongin sambil tersenyum. Perlahan ia melepaskan dekapannya lalu membaringkan kyungsoo di katilnya. Jongin beralih menatap wajah kyungsoo yang penuh airmata. Ia menyeka airmata kyungsoo dengan jarinya,
"tidurlah, aku akan menemanimu di sini" ujar jongin sambil menyelimuti tubuh kurus istrinya istrinya. lalu mengecup dahi kyungsoo dengan sayang.
'ya tuhan, berilah kyungsoo kesempatan hidup lebih lama lagi'-jongin
'ya tuhan, berilah aku kesempatan hidup lebih lama lagi.'-kyungsoo
'Aku masih ingin memberikan ketulusan dan kasih sayangku padanya'-jongin
'Aku masih ingin merasakan ketulusan dan kasih sayangnya'-kyungsoo
'Masih ingin memberikannya kehangatan ketika ia kedinginan'-jongin
'Masih ingin merasakan dekapan hangatnya ketika merasa dingin'-kyungsoo
'Masih ingin melindungi dan mendekapnya ketika ia rapuh'-jongin
'Masih ingin dilindungi dan didekapnya ketika ku rapuh'-kyungsoo
'Ya tuhan, aku mohon'-jongin dan kyungsoo
MISSING YOU CHAPTER 7
Seoul, 06.00 AM SKT.
Hari ini, merupankan hari minggu pagi yang sejuk nan hangat. Udara seoul masih terasa segar karena masih jarang kendaraan yang berlalu lalang. Di sebuah halaman belakang pada salah satu rumah, Terlihat seorang yeoja yang terduduk di atas kursi roda sambil memejamkan matanya. Sepertinya ia tengah menikmati suasana yang menenangkan itu. Tiba-tiba seseorang dengan sepasang lengan kekar mendekap tubuh kurusnya dari belakang.
"kyungie, apa yang kau lakukan disini? Tak tahukah kau, sedari tadi aku mencarimu" ucap jongin pada kyungsoo. jongin meloggarkan pelukannya pada kyungsoo, lalu menopang dagunya di ceruk leher sang istri. Sedangkan sang istri hanya tersenyum menerima pelukan hangat dari suaminya tercinta. Sesaat suasana terasa hening. Yang terdengar hanyalah suara kicauan burung serta suara gemercik air yang berasal dari sebuah kolam ikan kecil yang berada di pojok halaman ini
"jonginnie, bolehkah aku bertanya sesuatu?" ujar yeoja itu membuka percakapan
"apa itu, kyungie?"
"mengapa aku sudah boleh pulang?"
"kyungie, mianhae aku belum memberitahumu sebelumnya. Tapi untuk sementara ini, kemotheraphymu harus di hentikan. Karena tubuhmu menolak cairan obat-obatan tersebut. Kau masih kuat-kan?" bisik jongin pada istrinya. Sedangkan kyungsoo yang mendengarnya hanya tersenyun tipis sambil mengusap-usap pipi suaminya. Ia kembali memejamkan matanya. Lalu kyungsoo menganggukkan kepalanya, untuk menjawab pernyataan suaminya. Lalu ia merasakan suaminya itu merekatkan pelukannya.
'hangat dan nyaman, masih sama seperti dulu' batin kyungsoo. tanpa ia sadari, airmata jatuh dari mata indahnya itu. Masih teringat jelas di ingatannya kenangan bersama sang suami tercintanya itu, dari mulai mereka berkenalan, hingga mereka membangun rumah tangga yang rumit seperti ini. Ia merindukan semua masa itu. Masa di saat penyakit itu belum menyerang tubuh lemahya. Dan sekarang ia benar-benar takut. Bohong jika ia tidak takut akan penyakit yang menggerogoti tubuhnya itu. Sebenarnya ia sangat takut karena ia tahu kankernya itu sudah naik stadium.
'aku akan merindukan semua ini…'batinnya lagi.
JONGIN POV
Aku masih setia mendekapnya. Aku jujur sudah lama aku tidak mendekapnya seerat ini. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Merindukan sosok cerianya, sosok manjanya, sosok yang selalu membangunkanku dipagi hari, merindukan sosoknya yang bersemangat setiap saat,
Aku sangat merindukannya, merindukan Do Kyungsoo-ku
Aku bisa merasakan lengan kemejaku basah, aku selalu mengetahuinya jika ia menangis. Walaupun ia selalu berusaha untuk menutupinya dariku, tapi aku tahu. Aku selalu tahu apa yang ia rasakan. Aku selalu berusaha untuk menguatkannya, berusaha meghiburnya, dan juga.. berusaha menjadi kekuatannya.
Airmataku ikut menetes, aku benar-benar sedih jika mengingat kenangan indah kami. Rasanya nafasku menipis jika mengingatnya. Aku benar benar ingin kyungie ku sembuh seperti sediakala, tanpa penyakit yang membuatnya menderita seperti ini.
Setelah beberapa saat, aku tak merasakan adanya pergerakan dari tubuh mungil kyungsoo, hanya terdengar suara nafasnya yang teratur, serta suara dengkuran halus. menandakan ia tertidur. Aku bangkit dari posisi dudukku, bermaksud membawa kyungsoo ke kamar. Aku merasa sangat sedih dan takut jika melihat wajah polosnya ketika tidur, takut melihat sang pemilik wajah merasakan sakit yang biasa ia rasakan, takut sang pemilik wajah akan meninggalkanku.
Ya, Meninggalkanku..
Ia selalu megatakan bahwa aku harus kuat menerima apapun yang terjadi padanya, termasuk tentang ajalnya. Kadang aku mengatakan bahwa ia tidak boleh berkata seperti itu, tapi ia tak mengindahkan kata-kataku. Bahkan kadang mengelaknya dengan kalimat 'apapun yang akan terjadi, walaupun aku berusaha menjauhi takdirku, itu akan tetap terjadi. Tuhan sudah mencatat daftar itu dan mungkin sudah tertera namaku di daftar itu.' Ya, aku tahu apa yang ia maksud dengan 'daftar itu'. Dan aku benci saat kyungsoo menyebutkan kalimat itu, karena jika kyungsoo sudah mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya, ia pasti menangis. kalimat itu juga selalu memenuhi pikiranku. Seolah olah ia mengatakan padaku 'janganlah bersedih jika aku pergi nanti' secara tidak langsung.
Aku mulai mengangkat tubuh mungilnya, membawanya ke ruang tidur kami yang sudah lumayan lama tidak ia tempati. Membaringkannya dan memposisikan tubuh mungilnya agar ia merasa lebih nyaman. Aku duduk di sampingnya, tanpa kusadari, tanganku terayun dan mengelus rambut tipisnya, lalu beralih menelusuri wajah cantiknya. Cukup lama aku memandangnya. Tiba-tiba kyungsoo meringkukkan tubuhnya, membuatku tersadar.
"..jonginnie.. d-dingin.." ucapnya lirih sembari menatapku, aku tersenyum padanya. aku menarik selimut yang berada di ujung kasur, lalu menyelimutinya sebatas leher. Tak ingin mengganggu isirahatnya, aku bermaksud untuk keluar. Tetapi tanganku di tahan oleh kyungsoo.
".. jangan pergi.."ujarnya, ia memasang wajah memohonnya padaku
"…aku mohon, jonginnie disini saja, temani aku disini. A-aku takut.." lanjutnya. Tangan mungilnya masih memegang pergelangan tanganku. aku tersenyum lembut padanya. aku putuskan untuk menemaninya, aku pun duduk di sampingya, menyandarkan badanku di sandaran tempat tidur. Tanganku teralih untuk mengelus rambut hitamnya. Ia menatapku beberepa saat, lalu tersenyum lembut padaku.
"aku takkan pergi, sekarang tidurlah. Kau butuh istirahat" bisikku lembut. Ia menggangguk lalu memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, ia kembali tertidur. Dan lagi-lagi, aku menatap wajah cantiknya itu. Menghapus surai hitam yang menutupi setengah dari wajah indah itu. Mulai menghapus jarak antarku dengannya, kukecup dahinya dengan lembut, lalu mendekap tubuh ringkihnya. Tanpaku sadari, aku menangis untuk kesekian kalinya.
Ya tuhan….
Aku masih ingin menjaganya..
Aku mohon berilah aku kesempatan untuk itu…
END JONGIN POV
Setelah kyungsoo tertidur, jongin memutuskan untuk pergi ke balkon kamarnya. Ia mendudukkan dirinya di kursi santai yang biasa kyungsoo duduki, ia meraih kamera miliknya yang tersimpan rapi diatas meja kaca. Ia meyalakan kamera itu lalu menekan tombol 'view pictures'. Ia dapat melihat fotonya bersama kyungsoo dari mereka berpacaran, foto pernikahan mereka, dan semua momen-momen manis mereka. Sesekali ia tersenyum melihat foto-foto kyungsoo di kamera itu. tiba-tiba tangannya berhenti menekan tombol 'next' pada kamera itu, tangannya terhenti karena ia telah menemukan foto yang ia cari sedari tadi, yaitu foto mereka ketika meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. di dalam foto itu terlihat wajah kyungsoo yang merona ketika jongin mengecup dahinya. dan pada foto selanjutnya, jongin memeluk erat kyungsoo, terlihat sekali mereka sangat bahagia.
'tes'
jongin kembali menitikkan airmatanya ketika ia mengingat-ingat masa itu, masa ketika rasa bahagia merayapinya karena berhasil memenagkan hati kyungsoo, ia juga berhasil meyakinkan suho yang notabene adalah kakak kyungsoo agar bisa mempercayakan kyungsoo padanya.
'prang!'
terdegar suara barang yang pecah, membuat jongin tersadar dari lamunannya. ia menolehkan kepalanya, untuk melihat apa yang terjadi di kamarnya. dan saat itu juga ia membulatkan matanya, dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mendekatkan dirinya ke tempat tidurnya juga kyungsoo.
"j-jongin, a-aku ingin mengambil gelas itu, tetapi kenapa a-aku tak bisa menggenggamnya, dan berakhir dengan menjatuhkannya" lirih kyungsoo
"kyungsoo, kenapa kau tidak mengatakannya padaku jika kau haus? aku kan bisa membantumu. lihatlah, tanganmu sampai berdarah seperti ini karena beling gelas itu"nasehat jongin pada istrinya. sungguh ia sangat khawatir pada kyungsoo
"mianhae, aku hanya tak ingin merepotkanmu, jonginnie."lirihnya lagi. jongin yang sudah selesai membereskan pecahan gelas kaca tadi tersenyum tipis pada istrinya, lalu membawa yeoja yang ia sangat cintai itu kedalam pelukan hangatnya.
"kyung, listen. kau tidak merepotkan siapapun disini, termasuk aku. kami tidak merasa direpotkan olehmu, justru kami semua sangatlah senang membantumu. jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, ne?"jelas jongin pada kyungsoo. sedangkan kyungsoo hanya mengangguk paham.
KYUNGSOO POV
ya tuhan..
apa lagi yang terjadi padaku?
mengapa aku tak bisa menggenggam gelas itu?
mengapa gerakan refleksku berkurang?
ya tuhan..
aku benar benar tak ingin merepotkannya lagi
aku sudah tak ingin merepotkan semua orang di sekitarku lagi
ya tuhan..
aku mohon, sembuhkanlah aku
walaupun hanya unuk beberapa menit saja..
setidaknya aku tidak merepotkan mereka lagi..
aku mohon...
.
...
...
to be continued...
annyeong readersdeul..
mianhae, abyeol baru update lagi setelah 4 bulan lebih.
itu semua karena tugas abyeol yang sangat banyak, jadi abyeol baru bisa menyempatkan diri untuk update sekarang.
sekali lagi mianhae buat semua readers yang sudah menunggu dari lama.
dan gomawoo buat para readers yang sudah menyempatkan diri untuk membaca fict abal milik saya
sekali lagi gomawoo..
mind to review?
