Halo semua..!
Chapter dua-nya datang. Semoga semuanya suka ya. Oh ya disini flashback, ceritanya dimulai setahun sebelum prolog. Jadi Taufan sama Yaya belum kenal. Ngerti kan? Semoga ngerti ya..
Silahkan dibaca..!
Disclaimer : BoBoiBoy milik Animonsta Studio
Genre : Friendship – Romance – Hurt/Comfort
Pairing : Taufan – Yaya
Rate : T
Warning : OOC (banget) – typo(s) – Bahasa kurang baku – Author-nya masih belajar.
DON'T LIKE DON'T READ
CHAPTER 1
Apa yang kau rasakan ketika kau menjadi murid baru? Senang? Malu? Gugup? Tidak terbiasa? Ya, mungkin sedikitnya itu yang akan dirasakan. Menjadi murid baru membuat kita harus bisa beradaptasi dengan sekolah baru. Guru-guru baru, teman-teman baru dan lingkungan sekolah baru. Yah, memang sedikit merepotkan.
Tapi menjadi murid baru bukan sesuatu yang buruk. Kita hanya perlu menyesuaikan diri dengan sekolah baru. Manusia yang diberi rasa penasaran cenderung akan mendekati sesuatu yang baru, apalagi sesuatu yang sebelumnya tidak mereka kenal. Disaat itulah menjadi murid baru akan membuat murid lain mendekatinya. Mereka yang penasaran seperti apa murid baru itu. Tinggal kita ingin bersikap seperti apa agar mereka senang berteman dengan kita.
Memiliki sifat periang dan pandai bergaul akan membuat orang-orang senang berteman dengannya. Seperti Taufan yang langsung memiliki banyak teman dihari pertama disekolah barunya yaitu SMA Pulau Rintis. Ditambah paras tampan dengan manik mata shappire dan penampilan yang keren dengan topi berwarna biru tua dengan corak putih yang dipakai menyamping dan jaket berwarna senada. Pemuda bernama lengkap Boboiboy Taufan ini langsung disukai oleh teman-teman sekelasnya. Terbukti ia yang langsung memiliki penggemar. Ia tidak segan berteman dengan siapa saja. Dari mulai murid yang terkenal pintar, popular sampai murid yang terkenal nakal.
Hari ini merupakan hari kedua Taufan di sekolah barunya. Saat ini ia tengah mengobrol dengan teman-teman sekelasnya. Menunggu bel masuk berbunyi mereka mengobrol tentang sekolah. Taufan yang belum begitu mengenal sekolahnya banyak bertanya. Sesekali mereka tertawa, nampak terlihat akrab. Mereka seperti sudah berteman bertahun-tahun.
Suasana pagi ini cukup cerah. Membuat murid-murid kelas XI 2 SMA Pulau Rintis bersemangat. Taufan yang mengobrol dengan teman-temannya, murid-murid perempuan yang saling memamerkan barang-barang baru mereka, beberapa murid yang membaca buku dan kegiatan lainnya yang membuat suasana kelas menjadi ramai.
Tiba-tiba masuk seorang gadis dengan ekspresi datar dan aura dingin. Ia memakai jaket berwarna hitam dengan sedikit corak merah yang dibiarkan terbuka, rok abu-abu yang sedikit diatas lutut namun tidak terlalu ketat dan sepatu kets dengan kaos kaki pendek. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Di lehernya tergantung sebuah headphone besar berwarna hitam dan merah.
Semuanya terdiam, menghentikan kegiatan mereka. Menatap gadis itu dengan pandangan horror yang membuat Taufan heran. Sampai akhirnya gadis itu duduk disebuah bangku di pojok ruang kelas dekat jendela. Ia menaruh tas punggungnya diatas meja kemudian memakai headphonenya dan menutup kepala dengan tudung jaket. Lalu ia bersandar pada tembok disampingnya dan menutup mata. Semuanya bernafas lega dan kembali melanjutkan kegiatan mereka. Taufan yang masih bingung dengan apa yang terjadi menanyakan pada teman-temannya.
"Dia siapa? Perasaan aku baru melihatnya," tanya Taufan pada teman-temannya seraya menoleh pada gadis tadi yang masih bersandar pada tembok.
"Namanya Yaya Halilintar. Kemarin dia memang tidak sekolah karna kakeknya sakit. Makanya kamu tidak melihatnya saat kamu pertama masuk sekolah ini," jelas salah satu temannya yang bertubuh besar dan kulit sawo matang, sebut saja dia Gopal.
"Oh.. Lalu kenapa semua menghentikan kegitannya ketika dia datang?" tanya Taufan yang heran melihat semuanya terdiam ketika gadis itu datang.
"Memang kau tidak merasakannya?" tanya Gopal tanpa menjawab pertanyaan Taufan.
"Merasakan apa?" Taufan semakin tidak mengerti. Ia mengerutkan keningnya pertanda bingung.
"Aura dinging dalam dirinya," jawab temannya yang lain, bertubuh kurus dan juga memakai kacamata bulat serta rambut klimis. Ia bernama Amar Deep.
Taufan menganguk-anggukan kepalanya pertanda mengerti. "Iya sih, aku sedikit merasakannya. Sepertinya ia gadis yang pendiam," tutur Taufan bermonolog.
"Iya, kau benar, dia memang gadis yang pendiam dan juga mengerikan," tutur temannya lagi yang bertubuh sedang dengan tinggi yang hampir sama dengan Taufan. Ia juga memiliki wajah oriental yang cukup tampan dengan kacamata berframe nila. Namanya Fang.
"Mengerikan? Maksudmu dia hantu?" tanya Taufan dengan wajah sedikit ketakutan seraya melihat gadis tadi dengan pandangan horror.
"Kau ini bicara apa," ucap Amar Deep yang sedikit kesal pada teman barunya ini yang berpikir diluar logika.
"Mana ada hantu bersekolah, sembarangan kamu," tambah Gopal yang juga kesal.
"Lho! Bukannya yang mengerikan itu hantu ya?" tanya Taufan dengan wajah polos yang sukses mendapat hadiah jitakan dari Fang dikepalanya. Membuat Taufan mengerucutkan bibirnya seraya mengusap bagian jitakan Fang.
"Bukan itu maksudku bodoh," ucap Fang datar.
"Lalu apa?" tanya Taufan setelah ia berhenti mengusap kepalanya.
"Dia itu ditakuti oleh seluruh murid di kelas, oh bukan, maksudku di sekolah ini, bahkan beberapa guru pun takut padanya," jelas Fang.
"Kenapa?" tanya Taufan penasaran sekaligus heran. Seorang gadis bisa ditakuti oleh seluruh murid sekolah bahkan oleh guru sekalipun.
"Dia tidak akan segan-segan menghabisi orang yang membuatnya marah. Kau ingat Adu Du murid kelas XII yang kuceritakan kemarin?" tanya Fang.
"Umm…Ya aku ingat, yang kau bilang anak pemilik sekolah yang nakal dan bergelar sabuk hitam di karate?" jawab Taufan setengah bertanya untuk memastikan.
"Yup…Dia pernah dikalahkan oleh gadis itu." Fang kemudian menunjukan gadis tadi yang kini tengah sibuk mengutak-atik smartphone-nya.
"Oh ya? Jujur aku kurang percaya," ucap Taufan yang juga melihat gadis tadi lalu kembali menatap teman-temannya. Gadis yang bisa dikatakan cantik itu bisa mengalahkan seorang pemuda yang bergelar sabuk hitam? Sungguh terdengar mustahil.
"Yah.. mungkin memang terdengar mustahil, tapi itu kenyataannya," sahut Gopal seperti membaca pikiran Taufan.
"Asal kau tau. Dia itu menguasai berbagai ilmu beladiri. Karate, taekwondo, pencak silat, judo, muai thai dan yang lainnya. Dia juga pandai menggunakan senjata. Pulpen sekecil ini jika ditangannya akan menjadi senjata yang mematikan," jelas Fang seraya menunjukan sebuah pulpen ditangannya.
"Dia juga merupakan ketua klub karate di sekolah ini. Tentunya dia juga sudah mendapatkan sabuk hitam, bahkan pelatih karate disekolah ini juga pernah dikalahkannya," tambah Amar Deep.
"Saran aku mendingan kamu jauhin dia. Kita semua juga tidak ada yang berani dekat dengannya. Dia sangat temperament," tutur Gopal. Namun Taufan hanya terdiam.
Taufan lalu menoleh dan menatap gadis yang bernama Yaya itu. Ia masih belum percaya jika gadis itu sebegitu mengerikannya. Ia terlihat seperti gadis remaja kebanyakan. Wajahnya cukup manis meski berekspresi datar dan menyebarkan aura dingin dan mencekam. Ia sungguh penasaran dengan gadis itu. Tiba-tiba gadis yang sedari tadi ia perhatikan menoleh kearahnya. Manik mata hazel-nya yang tajam membuat Taufan gugup dan salah tingkah. Ia pun segera berbalik menghindari tatapan tajam gadis itu. Meski ia belum percaya akan perkataan teman-temannya, namun ia cukup takut dengan pandangan tajam dan menusuk gadis itu.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Taufan bersyukur dalam hati. Dengan ragu ia kembali menoleh pada Yaya yang kini tengah melepaskan jaket hitam-merah yang tadi ia kenakan juga headphone dikepalanya. Taufan bersyukur gadis itu tidak lagi menatapnya.
Seperti yang ku katakan. Manusia memiliki rasa penasaran. Rasa yang membuat seseorang akan terus mendekati sesuatu yang membuatnya penasaran. Sama seperti Taufan. Ia sangat penasaran pada gadis beraura dingin yang bernama Yaya. Gadis itu seperti memiliki sesuatu yang membuatnya tertarik.
Entah Taufan yang terlalu 'kepo' atau memang karna gadis itu sangat aneh sehingga membuatnya begitu penasaran sampai ia selalu memperhatikannya.
Ia cukup percaya dengan perkataan teman-temannya tentang Yaya. Ia pernah melihat bagaimana Yaya menggunakan sebuah pisau untuk menjadikannya senjata ketika ia sedang berlatih. Ia melemparkan sebuah pisau kecil dengan jarak cukup jauh dan lemparannya akurat. Ia berhasil mendaratkan pisau itu sesuai sasarannya.
Bukan hanya itu, ia pernah melihat bagaimana Yaya sedang bertarung dengan segerombolan preman berbadan dua kali lebih besar darinya. Dan hebatnya ia berhasil mengalahkan mereka dengan tanpa terluka, meski ia tanpa menggunakan senjata apapun. Jujur ia takjub melihatnya namun juga takut. Tetapi bukan tanpa alasan Yaya bertarung dengan mereka. Ia menolong seorang pria paruh baya yang akan dirampok oleh mereka. Perbuatan yang sangat terpuji dan berani tentunya.
Kejadian itu membuanya bepikir bahwa Yaya tidak seburuk perkataan teman-temannya. Ia memang menakutkan dan mengerikan namun ia juga baik. Jadi sangat tidak adil jika Yaya dijauhi, meski ia terlihat tidak memperdulikannya. Ia bertarung dengan Adu Du pasti ada alasannya. Adu Du yang terkenal nakal dan biang onar pasti membuat Yaya marah besar sehingga ia bertarung dan mengalahkan Adu Du.
Taufan semakin penasaran sekaligus kasihan pada Yaya. Ia penasaran mengapa gadis itu bersikap seperti ini. Ia yakin pasti ada alasan Yaya bersikap dingin dan anti-sosial. Ia juga kasihan melihat Yaya yang dijauhi karna mereka takut terkena amukan Yaya. Mereka terlalu bodoh dengan menganggap orang yang dekat dengannya akan celaka. Tidak mungkin gadis itu akan menyerang orang yang tidak bersalah.
Karna kasihan itulah membuat Taufan bertekad untuk mendekati Yaya dan berteman dengannya. Ia ingin membantu Yaya. Entahlah. Ia juga bingung membantu untuk apa, yang pasti ia ingin membuat Yaya bahagia. Selama dua minggu ia memperhatikan Yaya, ia melihat gadis itu sepertinya tidak bahagia. Ia ingin membuat Yaya menjadi orang sosial bukan anti-sosial seperti ini dan cenderung apatis terhadap lingkungan sekitar.
Hari ini kelas XI 2 sedang sibuk menentukan kelompok. Pelajaran seni budaya mengadakan tugas kelompok membuat karya seni dari bahan-bahan daur ulang. Satu kelompok berisi empat orang. Dan anggota kelompok ditentukan sendiri dengan waktu lima menit. Semuanya sibuk menentukan kelompoknya masing-masing, temasuk Taufan. Anggota kelompoknya kurang satu orang sehingga membuat ia dan anggota kelompok yang lain yaitu Gopal dan Ying siswi pemalu yang merupakan salah satu murid terpintar bingung.
Tiba-tiba Taufan melihat Yaya yang duduk sendiri sambil menatap datar pemandangan ramai didepannya, tampak tak minat. Taufan pun menyarankan untuk mengajak Yaya masuk kelompoknya. Tentu saja Gopal dan Ying menolak. Namun Taufan tak memperdulikannya, ia tetap menghampiri Yaya.
"Hai.. kau sudah punya kelompok belum?" tanya Taufan sekedar berbasa-basi, meski ia sudah tahu jawabanya.
Yaya terdiam. Menatap pemuda didepannya dengan pandangan heran namun beberapa detik kemudian berubah menjadi datar kembali lalu menggeleng singkat.
Taufan tersenyum lebar melihatnya. Ia bersyukur Yaya meresponnya meski hanya gelengan kepala. Jujur saja selama dua minggu ini ia tidak pernah sekalipun berinteraksi dengan Yaya. Ia hanya sekedar memperhatikannya dari jauh. Sepertinya Yaya juga memang tidak berinteraksi dengan siapapun, mungkin karna semua murid takut padanya.
"Kalau begitu bagaimana jika kamu masuk kelompokku dengan Gopal dan Ying," tutur Taufan ramah seraya menunjuk Gopal dan Ying yang tengah menatap mereka dengan pandangan horror, kemudian ketika Yaya menatap mereka, mereka langsung berpura-pura sedang mengobrol. "Kebetulan kelompok kami kekurangan anggota. Bagaimana kau mau tidak?" tanya Taufan agak ragu. Ia sangat berharap Yaya akan menerima ajakannya.
Yaya mengangguk pertanda menerima ajakan Taufan. Taufan tersenyum lebar dan terlihat senang. Ia pun mengajak Yaya untuk berkumpul dengan Gopal dan Ying. Mereka tampak takut akan kehadiran Yaya. Ekspresi datar, aura dingin dan tatapan tajamnya membuat mereka bergetar ketakutan.
"Jika kalian tidak suka aku masuk kelompok ini, katakan saja," tutur Yaya datar namun membuat Gopal dan Ying tersentak.
"T..ti..tidak k..kami se..senang kamu m..masuk kelompok kami," ucap Ying dengan terbata seraya menundukan wajahnya enggan menatap mata tajam Yaya.
"I..iya i..itu ," timpal Gopal yang juga terbata. Kakinya bergetar sedari tadi pertanda ia ketakutan.
Yaya terdiam. Tak berminat untuk membalas. Ia hanya memutar mata seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Ya sudah kalau begitu kita susun kursi untuk kelompok kita!" seru Taufan mengalihkan pembicaraan. Semuanya hanya mengangguk kecuali Yaya yang hanya diam, lalu mereka mengambil kursi masing-masing kemudian mencari tempat untuk kelompok meraka.
Waktu pencarian kelompok pun selesai. Guru seni budaya langsung menjelaskan materi yang akan dijadikan tugas kelompok. Lalu membagikan bahan daur ulang untuk dijadikan sebuah karya oleh masing-masing kelompok. Karya yang paling bagus dan kreatif akan mendapat nilai tertinggi yaitu A+.
Taufan semakin bersemangat mendekati Yaya. Bisa satu kelompok dengan gadis itu membuatnya seperti mendapat harapan. Ya, ia sangat senang setidaknya kemarin Yaya mau meresponnya dan menerima ajakannya.
Namun mendekati gadis beraura dingin itu memang tidak mudah. Ia selalu menghindar setiap kali Taufan mencoba untuk mendekatinya. Berbagai cara dilakukan Taufan untuk bisa berinteraksi dengannya. Dari mulai mengajak Yaya ke kantin saat istirahat sampai mencoba mengobrol dengannya. Namun semua caranya tidak berhasil. Yaya tidak pernah memperdulikannya.
Taufan yang biasanya pandai bergaul sehingga membuatnya cepat akrab dengan banyak orang, sekarang begitu kesulitan untuk mengakrabkan dirinya dengan seorang gadis bernama Yaya. Sepertinya gadis itu memang sangat anti-sosial, berbanding terbalik dengannya yang justru orang yang sosial.
Kehidupan mereka memang berbanding terbalik, Taufan yang periang dan memiliki banyak teman dan Yaya yang pendiam dan hampir tidak memiliki teman. Atau mungkin ia memang tidak memiliki teman? Entahlah. Taufan tidak pernah melihat siapapun yang berinteraksi dengannya selain anggota klub karate.
Tunggu!
Klub karate?
Kenapa selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Klub karate adalah satu-satunya klub yang diikuti Yaya di sekolah ini. Meski tidak terlalu dekat, namun sedikitnya anggota klub karate masih 'berani' berinteraksi dengannya. Taufan sering melihat bagaimana Yaya melatih anggota klub karate junior dengan serius. Semuanya menurut, mungkin karna memang takut dengannya. Ia juga melihat Yaya yang berbaur dengan teman-teman karatenya saat istirahat latihan, meski kebanyakan ia menghabiskan waktu istirahatnya sendiri.
Ya, ia tau sekarang, bagaimana ia bisa dekat dengan Yaya. Meski tidak seratus persen berhasil namun apa salahnya ia mencoba.
"APA? KAU INGIN MASUK KLUB KARATE?"
Pertanyaan, oh tidak lebih tepatnnya teriakan tiga pemuda itu membuat Taufan menggosok-gosok telinganya seraya mendelik kesal pada ketiga temannya yang saat ini tengah menatapnya dengan penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan. Teriakan itu hampir membuat gendang telinganya pecah. Memang sedikit hiperbola, tapi itu memang kenyataannya.
"Tidak usah berteriak bisa kan? Gendang telingaku hampir pecah mendengar teriakan kalian itu," tutur Taufan setelah tidak mengosok-gosok telinganya lagi.
"Kau yakin masuk klub karate? Disanakan ada gadis dingin itu," ujar Fang dengan pandangan horror yang ditimpali angggukan dari Gopal dan Amar Deep.
"Justru aku masuk klub karate karena gadis itu," ucap Taufan dengan santainya disertai senyuman lebarnya, oh lebih tepatnya cengiran lebarnya sehingga menampilkan sederet gigi putihnya yang tertata rapi.
"HAH?" Fang, Gopal dan Amar Deep terkejut bukan main mendengarnya. Terbukti dengan mata mereka yang 'membola' dan mulut mereka yang 'menganga'. Terlihat sangat lucu. Jika Taufan tidak ingat mereka teman-teman baiknya, mungkin ia akan mengeluarkan handphonenya dan mengambil gambar ekspresi lucu mereka lalu mengupload-nya ke media social. Tetapi ia masih mempunyai rasa kasihan pada ketiga temannya itu. Tanpa memperdulikan mereka yang masih dengan ekpresinya tanpa bergerak layaknya patung, ia berjalan meninggalkan mereka sambil berusaha menahan tawa.
Taufan serius dengan keinginannya. Ia langsung mendaftar menjadi anggota klub karate. Meski sebenarnya ia tak sedikit pun tertarik untuk belajar beladiri karate, namun demi rasa penasarannya pada gadis beraura dingin bernama Yaya itu ia mau melakukannya.
Ternyata sangat mudah untuk mendaftar menjadi anggota klub karate, hanya perlu mengisi folmulir pendaftaran dan ditanyai kesungguhan serta tujuan masuk klub, ia langsung diterima. Untuk kesungguhan, sudah pasti ia bersungguh-sungguh masuk klub ini, bersungguh-sungguh untuk mendekati Yaya tentunya. Karna ia memang tidak berminat untuk mempelajari karate. Untuk tujuan sudah pasti ia berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan tujuan ia masuk klub karna ingin dekat dengan Yaya. Jadi ia mengatakan bahwa ia masuk klub karate untuk pertahanan diri.
Sudah dua minggu Taufan masuk klub karate tapi tetap tak ada perubahan. Yaya tetap menghindarinya. Setiap latihan Taufan selalu berusaha mengobrol dengan Yaya, namun Yaya tidak memperdulikannya. Ternyata semuanya tidak segampang yang ia kira.
Saat ini klub karate sedang latihan. Latihan hari ini adalah Sparring. Dimana dua orang saling bertarung, sampai ada yang kalah. Semuanya saling mencari pasangan sparring-nya masing-masing. Terkecuali Yaya yang hanya diam dengan wajah datarnya.
Selalu seperti ini, setiap latihan sparring tidak ada yang mau berpasangan dengan Yaya. Bahkan pelatih karate pun akan berpikir dua kali untuk mengajak Yaya sparring. Yah, seperti biasa ia akan sparring sendiri. Tapi sepertinya…
"Hai. Ayo sparring sama aku!"
…untuk kali ini tidak.
Ya, terdengar sebuah suara yang membuatnya sedikit tersentak. Ia pun menoleh kesamping kirinya, tempat timbulnya suara itu. Dan disana terdapat seorang pemuda yang tengah tersenyum lebar atau lebih tepat dikatakan menyeringai padanya. Pemuda yang selalu memakai topi berwarna biru tua dengan corak putih yang dipakai menghadap kesamping dan jaket bewarna senada. Taufan.
Dia lagi?
Kenapa pemuda menyebalkan ini selalu saja menggangguku?
Kurang lebih begitulah gerutuan batin Yaya. Ia paling tidak suka jika hidupnya di ganggu, apalagi oleh orang asing. Siapa dia? Entahlah. Yaya tidak begitu mengingat namanya. Meski seingatnya mereka sekelas. Selama ini dia memang selalu berusaha untuk… mendekatinya. Yah sepertinya memang begitu. Entah apa tujuannya, namun Yaya sangat tidak menyukainya. Apalagi saat pemuda ini mendaftar menjadi anggota klub karate. Dia semakin memiliki banyak kesempatan untuk mendekati, atau menurut Yaya mengganggunya seperti saat ini.
Eh, tunggu!
Apa yang ia bilang tadi? Sparring bersamanya? Baru kali ini ada yang berani mengajaknya sparring. Adu Du tidak dihitung, karna itu pertarungan sungguhan, bukan sparring yang hanya latihan. Apa ia tidak salah dengar? Atau pemuda ini memang nekad dengan mengajaknya sparring? Atau mungkin karna dia kurang pergaulan sehingga tidak tau siapa orang yang sedang ia ajak sparring?
Oh, coret yang terakhir. Karna itu sangat tidak mungkin. Meski ia tidak begitu mengenal pemuda itu, namun ia cukup tau kalau dia adalah orang yang pandai bergaul, terbukti dengan dia yang langsung akrab dengan anggota klub karate yang lain. Sepertinya ia juga tidak salah dengar, terbukti dengan terdengarnya bisikan-bisikan anggota klub yang lain, yang entah sejak kapan sudah mengerubungi mereka berdua.
"Sepertinya anak baru itu ingin bunuh diri."
"Iya, berani sekali dia mengajak Hanna sparring."
"Dia latihan saja sering salah dan jatuh, sekarang dia malah menantang orang yang paling jago karate. Sepertinya ia memang sudah bosan hidup."
Kurang lebih seperti itulah bisikan-bisikan mereka yang tidak ia perdulian sama sekali. Ia menatap pemuda disampingnya dengan ekpresi yang sulit diartikan. Entah heran atau tidak suka. Atau mungkin keduanya. Entahlah.
Seseorang yang juga merupakan anggota klub karate menarik tangan pemuda itu. Yaya mengenalnya, karna ia merupakan wakil ketua klub, Stanly. Mereka sedikit menjauh dari Yaya. Meski samar, Yaya mendengar Stanly berbicara pada dia.
"Kau ini bodoh atau memang cari mati? Berani-beraninya kau mengajak Yaya sparring. Pelatih karate kita saja tidak berani sparring dengannya, apalagi kau yang baru masuk klub karate dua minggu. Kau sama saja mengumpankan dirimu pada singa yang kelaparan," tutur Stanly dengan bisikan agar Yaya tidak mendengarnya, namun ia salah karna Yaya memang mendengarnya. Namun Yaya tidak memperduikannya. Ia hanya menatap datar kedua pemuda itu.
"Memangnya kenapa? Terserah aku mau sparring dengan siapapun." Pemuda itu lalu mengalihkan pandangannya dari Stanly kepada Hanna. "Dan kamu, kenapa diam saja? Jangan bilang kau tidak berani sparring denganku?" ucap pemuda itu dengan seringai-nya seraya melipat tangannya didada. Semua orang yang ada disana menatapnya tak percaya akan apa yang baru saja ia katakan.
Pemuda ini memang sepertinya nekad. Sebenarnya apa maksud ia melakukan semua ini? Apa benar karna dia ingin dekat dengannya? Tapi untuk apa? Atau ia hanya ingin mengganggunya? Tapi berani sekali dia sampai mengajaknya sparring. Sepertinya ia memang harus membuktikannnya sendiri.
Yaya mundur perlahan kearah lapangan tempat mereka latihan sekarang. Sedikit pemanasan kecil kemudian langsung mengambil posisi kuda-kuda karatenya. "Ayo." Suara dingin nan datarnya membuat semua yang ada disana tercekat, mereka seperti lupa cara bernafas apalagi ketika melihat Yaya yang tengah siap dengan kuda-kudanya. Mereka pun mengalihkan pandangan kearah pemuda itu yang kini tengah berkeringat dingin, namun dia tetap melangkah perlahan mendekati Yaya yang akan menjadi lawan sparring-nya.
Ketika berada sekitar dua langkah dihadapan Yaya, Taufan pun memposisikan diri dengan kuda-kuda karate seperti Yaya. Badannya sedikit gemetar, keringat dingin masih terus bercucuran diwajahnya, perasaannya campur aduk. Ia takut. Siapa yang tidak takut bertarung dengan seorang bergelar sabuk hitam karate? Tapi ia harus berani, karna ini cara agar ia bisa dekat dengan Yaya. Meski ia harus merelakan wajah tampannya yang akan babak belur nanti.
Sparring pun dimulai. Taufan melayangkan pukulan-pukulannya pada Yaya, namun ia dengan mudahnya mengelak. Sampai pukulan kelima yang hendak Taufan layangkan pada wajah Yaya, namun ia mencengkram tangan Taufan kemudian dengan secepat kilat ia memutar tangan itu membuat sang empunya tangan terbanting dengan cukup keras ke tanah lapangan yang dipenuhi oleh rumput hijau. Taufan meringgis kesakitan.
Glek
Semua orang yang menonton adegan itu menelan salivanya dengan susah payah. Pasti sangat menyakitkan. Kalimat itulah yang terpikir oleh mereka.
Taufan dengan susah payah bangun. Ia kembali melayangkan pukulannya pada Yaya, kali ini disertai dengan tendangan. Namun dengan lihainya Yaya mengelak. Ketika Taufan hendak melayangkan tendangan kearahnya, Yaya lebih cepat menendang perutnya. Membuatnya langsung tersungkur. Ia kembali meringgis sambil memegang perutnya yang teramat sakit akibat tendangan keras Yaya.
Sparring itu berlangsung dengan berat sebelah sepertinya. Pertarungan yang menampilkan bagaimana Taufan yang kewalahan menerima serangan Yaya yang sederhana. Pertarungan yang ditonton oleh seluruh anggota klub karate dengan pandangan ngeri, takut, horror, kasihan dan semacamnya. Pertarungan yang sudah pasti dimenangkan oleh Yaya.
Yaya hanya mengalami luka kecil dibagian sudut bibirnya yang sempat terpukul oleh Taufan dan sebuah memar kecil dibagian pelipis kanannya yang terkena sikut Taufan. Sedangkan pemuda itu, wajahnya penuh luka, tubuhnya pegal dan sakit, bahkan ia hampir pingsan. Beruntung teman-temannya langsung menolong Taufan ketika Yaya berkata bahwa sparring telah selesai.
Taufan merasakan linu diseluruh tubuhnya. Wajahnya yang penuh luka juga terasa perih dan sakit meski telah dikompres dan diobati teman-temannya. Entah apa yang harus ia katakan pada orangtuanya ketika melihat putra mereka babak belur seperti ini. Pasti mereka akan menduga bahwa ia habis berkelahi atau tawuran. Atau habis dipalak oleh preman. Entahlah. Ia pusing memikirkannya.
Hari semakin sore, ia yang baru keluar dari UKS berjalan dengan terseok-seok. Teman-temannya ia suruh pulang terlebih dahulu. Sebenarnya mereka menawarkan untuk mengantar Taufan pulang namun ia menolaknya karna tidak ingin merepotkan. Meski mereka memaksa namun Taufan bersikeras untuk tidak mau diantarkan pulang. Akhirnya mereka menyerah dan terpaksa pulang terlebih dahulu.
Karna tidak kuat berjalan lama, Taufan pun beristirahat di bangku taman sekolah yang saat itu sangat sepi. Karna memang semua murid dan guru-guru telah pulang. Penjaga sekolah pun sejak kemarin mengambil cuti selama seminggu karna pulang kampung. Jadilah ia sendiri disini.
Ia menyenderkan punggungnya pada senderan bangku kemudian memejamkan matanya. Mungkin cara itu akan membuat rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Pake ini!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Ia pun membuka matanya dan menoleh kesamping kanannya yang terdapat seorang gadis yang memakai celana training hitam dengan sedikit hiasan putih dan sebuah jaket berwarna hitam dengan corak merah menyala, serta headphone besar dilehernya. Manik hazel-nya menatap Taufan dengan tajam dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Yaya.
"Kamu…"
"Hei.. tanganku pegal tau," bentak gadis itu memotong ucapan Taufan. Ia baru sadar kalau sedari tadi dia menyodorkan sebuah botol kecil seperti botol minyak angin. Ia pun langsung mengambilnya seraya tersenyum kikuk.
"Ma..maaf.. hehehe," ucapnya seraya tertawa garing. Keadaan pun hening. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Yaya berdiri disamping Taufan sambil memandang langit, kedua tangannya ia masuk kesaku jaket yang dikenakannya. Seperti biasa wajahnya datar dan dingin. "Ehmm… ini untuk apa ya?" Tanya Taufan memecah keheningan. Ia sangat berharap Yaya mau menjawabnya. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap Yaya karna ia masih duduk di bangku taman.
Yaya menoleh kesamping kirinya. Manik hazelnya menatap manik shappire milik Taufan. Hazel bertemu Shappire. Tatapannya yang tajam dan dalam membuat Taufan gugup dan salah tingkah. Ia pun menundukan kepalanya enggan bertemu dengan mata tajam Yaya.
"K..ka..kalau ti..tidak.. jawab.."
"Untuk mengobati luka-luka di wajahmu," jawab Yaya akhirnya memotong ucapan terbata Taufan. Taufan mendongkakkan kepalanya menatap Yaya yang kini tak lagi menatapnya. Ia memandang kedepan.
"Aku juga memakainya ketika terluka sepertimu," sambungnya tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap kedepan.
"Owh.. terimakasih," ucap Taufan dengan senyuman tulusnya yang dibalas anggukan singkat dari Yaya.
Suasana kembali Hening. Taufan pun bingung. Ia yang biasanya selalu bisa memecahkan keheningan dan mencairkan suasana, namun ketika berada didekat Yaya ia jadi orang yang pendiam. Sejujurnya ia tidak suka suasana hening seperti ini. Tapi ia bingung apa yang akan menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Kenapa?"
Taufan terdiam. Ia menautkan kedua alisnya bingung. Kenapa? Kenapa apanya? Pertanyaannya sungguh ambigu. "Maksudnya?" Ia memberanikan diri untuk menanyakan.
"Kenapa kau selalu menggangguku?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada datar.
"Mengganggumu? Maaf sebenarnya aku tidak mengerti, memangnya aku pernah mengganggumu?" Tanya Taufan dengan hati-hati.
Hening sesaat sebelum gadis itu menjawab. "Kau selalu berusaha mendekatiku, mengajakku berbicara bahkan kau mengajakku sparring. Sebenarnya apa maksudmu? kau ingin mempermainkanku?" Jawaban serta pertanyaan dilontarkan gadis itu dengan nada cukup tinggi. Mata tajamnya memandang Taufan dengan aura mencekam.
"A..Aaku tidak bermaksud mempermainkanmu. Sungguh." Taufan berkata dengan mantab berharap gadis itu akan percaya.
"Lalu?"
Taufan kembali menautkan alisnya. Pertanyaan ambigu lagi. Tapi Taufan segera paham maksud pertanyaan itu. "Sebenarnya aku mendekatimu karna aku ingin berteman denganmu. Setiap hari aku selalu melihatmu sendiri, jadi ku pikir kau kesepian, makanya aku berusaha untuk menjadi temanmu. Setidaknya agar kamu tidak selalu sendirian. Maaf kalau sikapku mengganggumu. Aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi." Jelas Taufan kemudian menundukan kepalanya. Ia tak yakin, ia sanggup menepati janji itu. Ia sedih mengatakannya. Karna itu artinya harapan ia dekat dengan Yaya hancur sudah.
Tiba-tiba Yaya memegang dagu Taufan kemudian mendongkakkannya untuk menatap kearahnya. Ia memicingkan matanya, menatap mata Taufan dengan dalam dan tajam. Taufan kembali gugup, bukan hanya karna pandangan tajam Yaya melainkan karna jarak wajah mereka sangat dekat, membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Sampai akhirnya Yaya melepaskan dagu Taufan membuat sang empunya bernafas lega. Ia memang senang melihat wajah Yaya dari dekat yang terlihat jauh lebih manis, namun degup jantungnya membuat ia lemas.
"Ku antar kau pulang, tidak usah protes. Anggap saja ini sebagai tanggungjawabku karna aku yang menyebabkan kau seperti ini. Obat itu kau pakai di rumahmu saja," tutur Yaya yang membuat mata Taufan membulat seketika. Yaya mengantarkannya pulang. Masa laki-laki diantar pulang oleh perempuan. Harga dirinya bisa jatuh jika itu terjadi meski ia sebenarnya senang mendengarnya.
"Tapi..."
"Aku tidak menerima argument." Untuk kesekian kalinya Yaya memotong ucapannya. Sepertinya ia harus memberitahu gadis ini kalau itu perbuatan yang tidak sopan.
Dengan terpaksa Taufan menuruti perkataan Yaya. Sebenarnya tidak enak karna merepotkan tapi karna ia yang memaksa, jadi ya sudahlah. Lagipula hari ini Taufan tidak membawa motor ninja berwarna biru miliknya karna sedang di service. Berangkat sekolah tadi ia memakai kendaraan umum.
Yaya ternyata juga pecinta motor ninja sama sepertinya. Ia mengantarkan Taufan dengan motor ninja berwarna merah. Awalnya Taufan ingin ia yang membawa motor karna ia 'gengsi' jika harus dibonceng oleh perempuan. Namun Yaya dengan keras menolaknya.
Akhirnya mereka sampai di rumah mewah Taufan. Dihalaman depannya terdapat berbagai tanaman yang terawat. Sungguh indah.
"Terimakasih sudah mengantarkanku pulang," ucap Taufan dengan senyuman tulusnya namun hanya dibalas gumaman tanpa arti oleh yang bersangkutan.
"Oh ya, namamu siapa?" tanya Yaya yang membuat Taufan membulatkan matanya.
"Sebulan lebih aku sekolah denganmu, sekelas denganmu dan kau tidak tau namaku?" Taufan berteriak frustasi seraya memandang Yaya tak percaya, ia benar-benar terkejut dibuatnya.
"Tidak." Gadis itu membalas dengan santainya, tak perduli dengan teriakan frustasi Taufan.
Taufan mendengus kesal. Bisa-bisanya gadis ini tidak mengingat namanya. Jika bisa, ia ingin sekali menjitak gadis dingin didepannya ini. Sayangnya ia kasihan, kasihan pada nyawa-nya lebih tepatnya. "Namaku Taufan," ucap Taufan singkat.
"Owh.. nama yang aneh," katanya dengan nada meremehkan. Oke, ingatkan Taufan untuk mengajari gadis ini agar menjaga ucapannya. "Kalo begitu aku pulang dulu," pamit Yaya yang kemudian menaiki motornya.
"Iya, hati-hati," balas Taufan masih dengan senyumannya.
Yaya menghidupkan motornya, namun sebelum ia menjalankan motornya ia berkata "Kalau kau ingin menjadi temanku, tak apa." Setelah mengucapkan itu ia langsung menjalankan motornya meninggalkan rumah Taufan.
Taufan terdiam, berusaha mencerna perkataan Yaya tadi. Lalu ia tersenyum lebar dan…
"ITU ARTINYA KAU MAU MENJADI TEMANKU!"
Bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Ia berteriak karna bahagia sambil memandang punggung Yaya yang menjauh darinya.
Yaya yang mendengar teriakan Taufan hanya tersenyum tipis dibalik helm yang dipakainya.
Bersambung…
Chapter dua selesai…
Chapter depan terakhir. Semoga aja gak ada perubahan. Chapter ini berkali-kali lipat lebih panjang dari prolog kan.. Hehehe…
Disini Yaya OOC bangat ya, terus Taufan juga terkesan lemah dibawah Yaya. Gak Taulah saya juga bingung. Saya sih berharap semoga para readers suka dan bersedia review. Hehe… Yaya itu kalo berangkat sekolah pake celana training, kalo udah sampe sekolah diganti pake rok, soalnya kan Yaya berangkat sekolahnya pake motor. Susah gak bayanginnya, emang jauh banget sama sifat Yaya di Canon. Semoga feel-nya tetep dapet ya…
Saya seneng banget fic ini ada yang review, awalnya saya gak yakin ada yang suka. Soalnya ini fic pertama saya, terus prolog kemarin juga pendek, apalagi Yaya-nya OOC banget. Di review ada yang bilang kalo 'Sekolah Menengah Atas' di Malaysia namanya 'Sekolah Menengah Kebangsaan'. Tapi saya pake yang di Indonesia aja, soalnya saya gak tahu di Malaysia seragamnya kayak gimana. Semoga gak ada yang keberatan.
Sedikit bocoran, chapter depan bakal di ceritain kenapa Yaya bersikap dingin dan anti-sosial. Dan ada kenyataan yang mengejutkan juga…
Saatnya balas review…
Annisa Arliyani Wijayanti : Hai… salam kenal juga Annisa. Ini lanjutannya, semoga kamu suka ya.. Makasih udah mau review
coklatkeju : TauYa, emang agak langka sih. Jujur saya juga lebih suka HaliYaya. Tapi gak mungkin disini karakter cowoknya Halilintar, masa sifat dua-duanya sama. Iya emang pendek banget. Soalnya saya pengen bikin flashback kayak gini, makanya prolog-nya sedikit. Makasih kritik dan saran-nya. Saya suka kalo ada yang ngasih kritik dan saran di fic buatan saya, jadi saya bias memperbaiki kesalahannya. Ini sudah dilanjut, semoga kamu suka. Makasih sudah review, fav and follow
blackcorrals : Makasih sudah dibilang menarik. Ini udah di lanjut, semoga kamu suka. Salam kenal juga Corra. Makasih udah review
Edelweiss Lee : Iya, TauYa emang langka, makanya aku pikir banyak yang gak suka. Tapi seneng banget dapet respon positif dari readers. Dua belas jempol? Wow, itu jempol siapa aja ya.. (?) haha. Makasih udah review
tasha : Iya ini Taufan-Yaya. Ini juga pairing favorite saya yang kedua setelah HaliYaya. InsyaAllah bakal diterusin sampe tamat. Makasih sudah review
Nurul2001 : Makasih sudah dikasih tau. Tapi saya mau pake yang di Indonesia aja, soalnya saya kurang tau, jadi takut salah. Maaf tapi Yaya kayaknya harus OOC banget, soalnya keperluan cerita. Fic ini santai kok, saya gak pake konflik berat. Ini sudah dilanjut, semoga kamu suka. Makasih udah review
Guest : Iya, Yaya sifatnya kayak Halilintar. Kalo rebutan gak ada. Disini ceritanya Taufan berusaha untuk bisa deket sama Yaya. Ini sudah dilanjut, semoga kamu suka. Makasih udah review
Hanna Yoora : Makasih udah dibilang keren. Masa sih? Padahal aku belum pernah nonton sinetron itu lho. Jujur aku kurang suka sama sinetron itu. Hehe.. OOC banget ya Yaya-nya. Makasih semangatnya. Kalo update kilat, saya gak janji. Soalnya sekarang saya lagi sibuk untuk persiapan masuk kuliah, terus pengen sambil kerja juga. Eh kok malah curhat ya. Hehe… salam manis juga dari Anna. Nama kita hampir sama lho. hehe.. makasih udah review
Oke semua, sampai jumpa chapter berikutnya. Kemungkinan bakalan lama…
KRITIK DAN SARAN sangat di butuhkan..
Makasih udah baca
