Hai semua! :D

Sori lama update!

jujur, bahasa indoku makin hancur. hiks...

jadi kalau ada salah apa jangan ragu2 bilang ya...

(tambahan lagi, aku gak cek fic ini. langsung publish :p)

oh yaa, makasih buat...

dobechan

anna clover

noella marsha

rin miharu-uzu

neerval-li

moku-chan

yuna claire vessalius kusanagi

AND ALL SILENT READERS! LOVE YOU GUYS! :DDD

makasih juga yang udah fave sama follow! :D

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: banyak salah, typo, OOC, OC(s), dont like dont read!

OC: Naruko Namikaze. Kurama (pacar Itachi)

OKAY, ENJOY!


It's so rare to find a friend like you

Somehow when you're around the sky is always blue


10-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

Sasuke Uchiha mulai menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Naruko Namikaze memang sering dimarahi guru karena sering lupa mengerjakan PR atau membawa buku, namun akhir-akhir ini kecorobohan Naruko semakin menjadi-jadi.

"Kau tidak membeli ramen?" Sakura Haruno melongo, tidak mempercayai pendengarannya sendiri. "Ada apa dengan adik kembarmu, Naruto?" dia nyaris menjerit. Memang, sudah seminggu Naruko sama sekali tidak membeli ramen di kantin sekolah.

"Iya, ada apa denganmu, dattebayo?" Naruto menaikkan sebelah alisnya.

"Eh, tidak ada apa-apa," gadis sepuluh tahun itu menggaruk kepalanya sambil meringis. "Aku tidak lapar." Di detik bersamaan, perut Naruko berbunyi. "Aduh! Aku baru ingat kalau aku harus menyapu kelas, dattebane! Aku pergi dulu!" Naruko langsung lari meninggalkan teman-temannya yang masih terlihat bingung.

"Naruko-chan!" Sakura hendak menghentikan teman sekelasnya itu, namun gadis berkuncir dua itu sudah berlari keluar dari kantin. "Padahal hari ini bukan hari piketnya…" Gadis berambut pink itu mengerutkan kening bingung.

"Memang ada yang aneh dengan Luuko." Naruto memainkan sumpit di tangannya.

Sasuke tanpa sadar mengerutkan kening ketika mendengar nama panggilan itu. Memang, sejak kecil Naruto sudah memanggil adiknya dengan nama kecil 'Luuko'. Tapi sekarang mereka sudah sepuluh tahun. Mereka sudah bukan bocah-bocah yang berlidah cedel lagi. Entah mengapa, dia tidak suka dengan nama panggilan itu.

"Nama dia Naruko." Sasuke berhenti mengunyah telurnya. "Kenapa kau masih memanggilnya Luuko?" Mata onyx-nya menatap tajam.

"Memangnya kenapa, teme?" Naruto meletakkan sumpitnya, mulai merasa tertantang akan tatapan tajam Sasuke. "Suka-sukaku mau memanggil adikku dengan nama apa! Apa urusanmu, dattebayo?"

Sasuke menggertakkan gigi sesaat. Dia hendak membalas Naruto, namun pertanyaan sahabat-namun-rival-nya itu menusuk dadanya. Apa urusanku? Nama panggilan itu hanya boleh dipakai oleh Naruto. Naruko bukan milik Naruto, karena itu…

Sasuke tersentak. Karena itu… apa? Wajahnya memanas seketika. Hal ini bukan urusannya. Suka-suka Naruto jika dia mau memanggil adiknya dengan panggilan sayang seperti itu.

Bukan urusannya.

Sakura mulai panik ketika melihat kening Sasuke berkerut. "Eh, makanan kalian berdua nanti dingin loh."

Naruto dan Sasuke mendengus di saat bersamaan.

"Aku sudah kenyang." Sasuke berdiri, mengangkat piring omelette-nya yang hampir tak disentuh itu. Sakura hanya bisa menatap kepergian Sasuke dengan cemas sedangkan Naruto mendengus lagi, melahap ramen-nya tanpa mempedulikan Sasuke.

"Dasar teme aneh! Selalu saja berlebihan kalau menyangkut Luuko!"

"Apa boleh buat. Soalnya Sasuke-kun kan su…"

Sasuke sudah tidak bisa mendengar ucapan kedua temannya lagi. Dengan kesal dia melangkah keluar dari kantin. Ada apa dengannya? Akhir-akhir ini emosinya suka meledak. Dia mulai tidak suka jika melihat Naruko yang terlalu akrab dengan orang lain.

Dia tidak suka ketika melihat Naruko yang tidur-tiduran di samping Shikamaru.

Ketika Naruko berbagi makanan dengan Chouji.

Ketika Naruko mengerjakan PR bersama Neji.

Ketika Naruko memanjat pohon bersama Lee.

Dia bahkan tidak senang ketika melihat gadis itu menempel terus di sisi Naruto.

"Hei! Sasuke!"

Bocah sepuluh tahun berambut raven itu menoleh ke belakang, "Naruko di mana?" tanya Kiba, membuat kerutan di kening Sasuke menjadi-jadi. Dia juga. Sasuke menggertakkan gigi. Akhir-akhir ini Kiba dan Naruko suka bermain bersama ketika sedang istirahat.

"Mana kutahu." Dia menjawab ketus.

Kiba tersentak sesaat. "Tumben kau tidak tahu. Biasanya kan dia selalu bersamamu. Ya sudah." Dia melambai, mengabaikan Sasuke yang mendelik tajam ke arahnya.

Selalu bersama?

Yang benar saja.

Akhir-akhir ini Naruko selalu bersama Kiba.

Sasuke terdiam, dia tidak mengerti kenapa dia bisa kesal ketika melihat Naruko menghabiskan waktu bersama teman-teman lainnya. Dia selalu bermain denganku, batin bocah itu. Dia suka bermain dengan Naruko. Gadis itu tidak pernah mengajaknya bermain masak-masakkan seperti Sakura atau Ino. Dia tidak menangis ketika dia terjatuh karena berlomba lari dengannya. Naruko juga tidak berisik, tidak menjerit betapa 'keren' atau 'tampan' wajahnya. Naruko selalu tahu kapan dia merasa kesal atau kecewa karena Fugaku. Di saat-saat seperti itu, gadis itu tidak bertanya apa-apa. Hanya menggenggam tangannya dengan erat, seakan-akan mengatakan 'aku di sini, jangan sedih'.

Karena itu dia suka bermain dengan Naruko.

Hanya di depan Naruko dia bisa tertawa. Ketika Naruko terperosok ke dalam lumpur. Ketika dia menang lomba lari, membuat Naruko cemberut kesal. Ketika Naruko mengejar ayam-ayam peliharan sekolah, membuat ayam-ayam itu berkokok panik, mengibaskan sayap mereka sehingga Naruko dilapisi bulu-bulu ayam.

Entah sudah berapa kali gadis itu membuatnya tertawa terbahak-bahak.

Cuma Itachi dan Naruko yang bisa membuatnya tertawa.

"Sasuke!" Tangannya tertarik ke belakang secara tiba-tiba. Sasuke tersentak. Kerutan di keningnya menghilang ketika dia mengenal jari-jari hangat yang melingkar di tangannya. Mata onyx-nya terpaku pada sosok gadis berambut pirang panjang di sisinya. "Mau ke mana?" Naruko menyeringai. Napas gadis itu terengah-engah, dia mengusap peluh di keningnya. Sasuke langsung tahu kalau Naruko berlari mengejarnya tadi.

Sasuke tidak bisa menahan senyuman. Kekesalannya menghilang begitu saja. "Aku…" Tunggu. Dia mau ke mana? Dia tidak tahu. Kakinya berjalan tanpa arah. Mata biru Naruko melebar, mulai bingung. "Kelas," jawab Sasuke cepat.

"Tapi kelasnya di sana. Sudah lewat jauh, dattebane!"

Nyaris saja Sasuke menepuk keningnya.

"Maaf tadi aku tidak ikut makan," Naruko meringis. Sasuke menggeleng pelan, mulai lega karena Naruko tidak bertanya lebih lanjut. Mereka berdua memutar tubuh, mulai berjalan menuju kelas. Naruko masih belum melepaskan tangannya, namun Sasuke tidak peduli. Dia malah meremas pelan tangan Naruko, entah kenapa senang karena gadis itu berlari-lari mencarinya.

"Tadi kau di mana?"

"Oh, main bersama Kiba sebentar!"

Kaki Sasuke langsung berhenti melangkah. Dia melotot ke arah Naruko.

"Kenapa bermain dengan dia?"

"Karena aku suka bermain dengannya." Naruko menjawab polos.

"Kau kan bisa bermain denganku."

"Iya. Aku suka bermain denganmu juga, dattebane!" Gadis berkuncir dua itu meringis. Sasuke mengerang pelan, menggaruk rambutnya tanpa sadar. Juga?

"Sudahlah, kalau kau bermain dengannya, jangan bermain denganku lagi." Bocah berambut raven itu menyentakkan tangan Naruko dan berjalan pergi.

.

.

.

.

.

"Kau itu super possessive."

"Possessive?" Sasuke mengerutkan kening. "Apa itu?" Sejak Itachi pulang dari Amerika, dia terkadang berbicara dalam bahasa ingris tanpa dia sadari. Sasuke sering kesal. Apakah kakaknya tidak tahu kalau bahasa ingrisnya masih terbatas? Memang, dia senang karena kakaknya bisa pulang. Namun sepertinya dia pulang ke Jepang karena dipaksa ayahnya. Sepertinya ada perjodohan untuk kakaknya.

Itachi dengan wajah tenang meraih kamus tebal di meja belajarnya. "Nih, cari sendiri."

Sasuke mendengus kesal, mengundang senyum Itachi. Tidak lama kemudian, Sasuke langsung menemukan makna dari kata itu. "Posesif? Sikap mengontrol atau mendominasikan seseorang?" Sasuke nyaris saja melongo membaca makna yang ada di sana.

"Iya. Terhadap Naruko." Itachi tidak bisa menyembunyikan cengirannya. "Dan terhadapku juga."

Sasuke mengerutkan kening. Memang, dia akui kalau dia cukup posesif teradap kakaknya. Dia tidak suka kalau kakaknya menolak bermain hanya karena mau kencan. Tapi dia sama sekali tidak sadar kalau dia posesif terhadap Naruko.

"Kau mungkin sudah lupa. Tapi sejak dulu, kau selalu membicarakan Naruko di telepon." Itachi menyeringai. "Dia teman pertamamu, kan?"

"Harusnya sih begitu." Sasuke menutup kamus di pangkuannya dengan kasar. "Akhir-akhir ini kami tidak seakrab dulu. Dia sekarang bermain dengan anak-anak lain."

"Mungkin ada alasan tertentu."

"Entahlah." Bocah itu menghempaskan tubuhnya di ranjang Itachi. Keningnya berkerut. "Seandainya aku seperti-mu, Nii-san. Kau selalu terlihat tenang."

"Tidak juga. Aku tidak suka kalau pacarku mendekati cowok lain."

"Si Kurama?" Sasuke membayangkan tunangan kakaknya yang berambut merah itu. "Tapi Naruko bukan pacarku. Dia…" Sasuke terdiam. Apa? Teman? Sahabat? Adik? Apa?

"Kau masih bocah," Itachi mendekati Sasuke, duduk di sisi adiknya. "Kau jauh lebih cerdas dan dewasa dari yang lain. Kau pasti mengerti."

"Tidak. Aku tidak mengerti."

"Soon, you will." Itachi menjentik kening Sasuke.

Sasuke mengeluh. "Nii-san! Kau masih juga suka menjentikkan keningku! Aku sudah besar!" Dia melempar bantal ke arah Itachi, namun dengan mudah kakaknya mengelak. Itachi meraih kamusnya, memasang ancang-ancang untuk melempar, membuat Sasuke melompat kaget. Itachi tertawa kencang, membuat Mikoto tersenyum geli dari balik pintu.

.

.

.

.

.

Entah sudah berapa hari dia menghindari Naruko. Dengan sengaja dia menghindari tatapan bingung Naruko. Memang, hari-harinya terasa hancur tanpa tawa Naruko di sisinya. Namun bocah ber-ego tinggi itu tidak peduli.

Di hari ketiga, ketika Sasuke hendak pulang, dia tidak bisa menemukan sepatunya di locker. Dia hanya bisa menemukan secarik kertas. Dia langsung tahu kalau itu bukan surat cinta biasa yang sering menumpuk di lockernya. Tulisan acak-acakkan yang familiar di kertas itu membuatnya terpaku sesaat.

TO: Naruko Namikaze yang MARAH
FROM: SASUKE JELEK!

Aku culik sepatumu, dattebane! Datang ke halaman belakang, kalau tidak sepatumu akan kulempar di sungai!

Sasuke melongo sesaat. Dia membaca surat 'ancaman' itu untuk kedua kalinya. Di detik kemudian, tawanya meledak, membuat cewek-cewek yang mengintainya ternganga lebar.

Selain ancaman yang konyol dan bahasa yang kekanak-kanakan itu, Naruko salah menggunakan 'to' dan 'from'. Yah… setidaknya dia sudah tidak memanggilku Sosuke lagi, seperti lima tahun lalu. Sasuke meringis sebelum mengantongi surat itu. Dia membuka tas-nya dan mengeluarkan sepatu olahraga yang dibawanya. Sejak kemarin, Naruko melotot ke arah sepatunya, membuat Sasuke mendengus. Dia sudah tahu kalau Naruko punya siasat jahat terhadap sepatunya ini. Hari ini dia sengaja membawa sepatu cadangan. Dia bisa saja mengabaikan Naruko dan pulang ke rumah.

Masih mengulum senyum, Sasuke berjalan menuju halaman belakang.

.

.

.

.

.

"Mau apa memanggilku?" Dia mencoba untuk memasang wajah dingin di depan Naruko.

"Kenapa tidak mau bermain denganku?" Gadis berambut pirang itu langsung bertanya, tanpa basi-basi.

Sasuke terdiam sesaat. "Karena kau bermain dengan yang lain."

"Iya. Tapi aku mau main denganmu juga, dattebane!" Naruko mengerutkan kening.

"Kau lebih suka bermain dengan dia, kan?" Sasuke meneguk ludah. "Dengan Kiba."

"Tidak. Aku lebih suka bermain denganmu." Naruko langsung menjawab, tanpa basa-basi lagi. Sasuke tidak bisa menahan rasa senangnya. Namun, dia bingung sendiri.

"Lalu? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu bermain dengannya?"

Kali ini giliran Naruko yang terdiam. Gadis polos itu memiringkan kepalanya, bingung. "Kenapa? Soalnya dia membantuku!"

"Bantu apa?" Sasuke semakin bingung. Selama ini, selalu dia yang membantu Naruko. Mau dalam pelajaran atau hal lainnya.

"Dia memberiku susu setiap hari, dattebane!" Naruko menyeringai lebar.

Sasuke mengerutkan keningnya. "Susu?"

"Makanan juga!"

"Hah?"

"Oh iya, benang wol juga!"

"Apa?" Sasuke merasa kepalanya nyaris meledak.

"Dia bantu mengurus Sasuke ketika aku harus piket, dattebane!"

"Apa-apaan sih!" Meledak sudah kesabarannya. "Sejak kapan maniak anjing itu mengurusku?"

Kali ini giliran Naruko yang mengerutkan kening, bingung. "Kiba tidak pernah mengurusmu! Dia mengurus Sasuke, dattebane!"

"Makanya! Sudah kubilang…"

"Naruko!" teriakan Kiba menghentikan ucapan Sasuke. "Kenapa kau ada di sini? Bukannya kita janjian untuk ketemuan di rumahku?" Kiba berlari ke arah Sasuke dan Naruko. Seperti biasa, jaketnya menyembul keluar. Akamaru. Dasar maniak anjing, pikir Sasuke. Kiba melirik ke arah Sasuke sesaat sebelum berpaling ke arah Naruko. "Sasuke merindukanmu tuh!"

Sasuke merasa wajahnya terbakar seketika. "Siapa yang…"

"Maaf, aku lupa!" Naruko mengulurkan tangannya. Kiba mendengus kesal dan membuka jaketnya. Di detik kemudian, seekor kucing melompat ke dada Naruko. "Hai, Sasuke. Maaf karena meninggalkanmu di rumah Kiba!" Naruko tertawa ketika kucing hitam itu mengeong girang.

Kucing?

"Akamaru sampai kesal karena aku terlalu lama mengurus Sasuke." Kiba mengeluh.

Sasuke? Si kucing?

"Maaf, maaf, dattebane!"

Kiba meringis. "Ya sudah. Sampai besok!" Dia melambai dan berlari pergi, meninggalkan Sasuke yang kebingungan dan Naruko yang sibuk menghibur kucing hitamnya yang masih mengeong kesal.

"Sasuke?" tanya Sasuke pelan. "Kucing itu?"

Naruko mengangguk girang. "Aku menemukannya minggu lalu! Dia kelaparan, jadi aku meminta Kiba untuk menyediakan makanan untuknya. Kiba kan punya toko binatang," Naruko meringis. "Tapi habis uangku membayar makanan Sasuke…"

Oh. Pantas saja.

Naruko tidak pernah lagi jajan sembarangan. Dan dia menghabiskan waktu bersama Kiba untuk mengurus kucing itu. Sasuke menghela napas lega. Tunggu. "Tapi kenapa nama kucing itu Sasuke? Dan kau tidak memberitahuku soal kucing itu." Dia mulai kesal lagi.

"Soalnya kau tidak suka kucing." Naruko mengerutkan kening. "Aku juga tidak memberitahu yang lain. Soalnya bahaya kalau ketahuan sensei, dattebane!" Gadis itu mulai mengelus bulu 'Sasuke', membuat kucing itu mendengkur senang. "Lucu kan? Warna bulunya mengingatkanku padamu. Jadi aku menamainya Sasuke!"

Seenaknya saja. Sasuke mendengus. Dia hendak memarahi Naruko lagi karena dia tidak meminta ijin darinya. Namun ucapannya terhenti ketika dia teringat sesuatu. "Warna rambut Kiba juga hitam," gumamnya, membuat Naruko menoleh ke arahnya. "Rambut Shikamaru juga. Neji juga. Lee juga. Kenapa kau malah menamai kucing itu dengan namaku?"

Naruko terdiam, terlihat bingung. "Kiba menanyakan hal yang sama…" Dia menggaruk kepalanya, bingung. "Aku juga tidak tahu... Entah kenapa aku langsung teringat akan Sasuke dulu…"

Sasuke terpaku. Matanya menatap kucing hitam yang sekarang memakai namanya itu. Anak kucing itu menatapnya sesaat.

Biru.

Sama seperti Naruko.

Bibir Sasuke membentuk senyuman. Naruko masih terlihat bingung, tidak mengerti kenapa nama 'Sasuke' melintas di kepalanya duluan. "Sudah. Aku tidak butuh jawaban." Sasuke meringis sambil berjongkok sehingga dia bisa menyentuh kucing itu. Jika kucing ini betina, dia juga pasti akan langsung menamainya 'Naruko' karena warna biru itu langsung mengingatkannya akan Naruko. "Aku tidak benci kucing. Mau memeliharanya bersamaku?" Dia tersenyum simpul ke arah Naruko. "Kita bisa memeliharanya diam-diam di pondok dekat danau pribadi keluargaku itu."

Tawa girang Naruko sudah cukup membuat Sasuke meringis. "Deal." Mereka berdua meraih kaki depan Sasuke-si-kucing. Sambil meringis lebar, dua bocah itu menyalami kaki depan kucing yang kebingungan itu.

"Meooww?"


TBC

yaaahh... segitu dulu deh. Sori kalau membosankan :p

Aku terinspirasi sama kenangan masa laluku sndiri :)

pas TK dulu, sahabatku cowok. Aku cuma temenan sama dia. Akrab banget. Main sama-sama terus. gandengan lah, pelukan lah. Tapi waktu aku main sama temen lain, dia marah. Dia bilang 'kalau kau main sama mreka, jangan maiin sama aku. Pilih, aku atau mereka."

aku ingat, aku pilih mereka. Makanya sejak itu kami gak pernah main lagi. Aku dikacangin gitu... Terus gara2 pas SD udah beda kelas jadi udah gak temenan lagi deh... #curcolgaje.

Kalo diingat-ingat, dia cowok pertama yg kusuka deh... haha (agak nyesel gak milih dia waktu itu)

Pas SD, ada satu cowok yg suka aku. Dia gak suka aku main sama temen lain juga. Cowok ini lebih jahat lagi deh. Dia sengaja bayar temen2 ku uang 5 ribu gitu sambil bilang gini. "jangan main sama Agata (nama asliku), nanti tiap hari kalian kukasih 5 ribu".

Jadi mau gak mau aku cuma main sama dia. HUH

#curcol gaje lagi.

Haha... intinya, aku cuma mau bilang kalo anak kecil pun bisa ada 'puppy love' yang bisa jealous hanya karena cewek kesayangannya main sama orang lain ;)

yah... ini ceritaku sih... terinspirasi dari ini. (Kalo dipikir2 lucu juga masa kecil)

yaaahh... any suggestion or request? :)

sori kalo Sasuke-nya OOC abis... gak biasa nulis dia... haha

oh ya! PS: lirik lagu di atas itu lagu barbie deh... aku kurang tau apa... kalo gak salah DIAMOND CASTLE. sepupuku yg masih SD nyanyiin itu buat aku (sweet!)

Liriknya cocok buat Blue Sky. Jadi kukutip dari sana :)