Okeee!

akhirnya selesai juga nih chapter...

udah dari minggu lalu nulisnya :p

Makasih buat semua yg fave, alert, baca dan review! :D

aku seneng nih, banyak yg suka... hehe

thnks to...

RIRINGO

SCORPY

YUKIKO NO NARITA-CHAN

CICS

DHEKYU

NEERVAL-LI (Makasih banget udah setia review fic-ficku! :D)

NANAKI KAIZAKI

TSUKIYOMI AORI HOTORI

MIKI-KOHAI

HIME

NAMIKAZE NARA

DWIDOBECHAN

AND ALL SILENT READERS! :D

PS: sori kalo ada nama yg salah kutulis...

warnings: oc, ooc berat! (buat Sasuke), typos, bahasa indo yg agak ancur? dll lah :p

disclaimers: Masashi Kishimoto

Enjoy! :D


15-YEAR-OLD (Part 2)

.

.

.

.

.

"Misaki, aku menyukaimu!" Sang lelaki tampan di dalam televisi berbisik lirih.

"Oh, Toujo! Benarkah? Aku juga menyukaimu!" Sang wanita meremas pelan tangan lelaki itu. Matanya berkilauan karena dipenuhi air mata.

Sasuke menyipitkan mata. Dia mengusap mata sesaat, tidak tahan menonton drama cinta konyol itu. Untuk kesekian kalinya, dia menyesal, sungguh-sungguh menyesal, karena mau-maunya mengikuti drama sialan ini. Dia melirik ibunya yang sekarang menyedot hingus, menangis terharu. Dia melirik ke arah Itachi yang mendengkur pulas. Sambil menghela napas, dia melirik ke arah Sasuke-neko yang masih mendesis marah ke arahnya. Sasuke menggertakkan gigi. Sambil menarik napas dalam-dalam, dia menyodorkan benang wol kesukaan si kucing, namun Sasuke-neko mendesis semakin menjadi-jadi, tidak lupa dia menambahkan luka cakaran baru di wajah Sasuke,

"Apa maumu, kucing gila!" Sasuke meledak, dengan emosi meluap-luap, dia melempar benang wol itu ke arah Sasuke-neko, namun tentu saja kucing itu bisa mengelak dengan mudah.

"Sasuke! Jangan bertengkar dengan dirimu sendiri!" Mikoto menegur. Wanita itu mengulurkan tangannya dan di detik itu juga Sasuke-neko melompat di pelukan Mikoto sambil mengeong sedih. "Ooohhh, kucing yang malang!"

Di detik itu juga, urat kesabaran Sasuke putus. Dengan gaya yang sangat tidak keren, dia berteriak nyaring, menendang meja sekuat tenaga. Meja itu langsung terbalik bersama semua isinya, menimpa Itachi yang masih tertidur di lantai. Lelaki malang itu langsung melompat kaget ketika teh panas membasahi wajahnya.

.

.

.

.

.

"Ada apa denganmu?" Lelaki dua puluh tahun yang super sabar itu menatap adiknya dengan prihatin. Setelah mendinginkan wajahnya dengan air es, dia sadar bahwa adiknya sudah agak 'gila' sejak dia pulang sekolah tadi. Tidak hanya bolos dari sekolah, ada laporan dari ketua sekolah kalau dia bertengkar dengan anak kelas lain. Selain itu, dia membawa pulang Sasuke-neko yang biasanya dirawat oleh Naruko. Tidak heran sejak tadi kucing itu mengeong dan mendesis ke arah Sasuke. Memang, Sasuke cuma beberapa kali membawa si kucing pulang. Itu ketika ayah mereka sedang dinas ke luar negeri, sehingga dia bisa bergantian mengurusi kucing itu. Tapi tentu saja, hubungan Sasuke-manusia dengan Sasuke-kucing tidak pernah akur.

Itachi masuk ke dalam kamar Sasuke tanpa permisi. Matanya terbelalak sesaat ketika melihat Sasuke yang duduk termangu di atas kasur, masih memakai seragam. Itachi sudah khawatir kalau kening Sasuke akan terbelah dua gara-gara kerutan di dahinya. Diam-diam, dia menghitung luka goresan merah di wajah adiknya. Sebelas. Adikku yang malang. Tidak heran dia jadi gila sesaat tadi. Itachi Uchiha menggeleng kepala. "Sasuke. Kau tidak menjawabku."

"Tidak apa-apa." Sasuke menjawab ketus. Dia langsung melempar diri di atas ranjang dan bersembunyi di balik selimut.

Itachi menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali Sasuke bertingkah seperti ini. Ketika umurnya tujuh tahun? Ketika dia hendak kembali ke Amerika sehingga Sasuke mengambek? Tapi sekarang aku ada di sini, dan tidak akan ke mana-mana. Sasuke tidak mungkin mengambek karena dirinya. Lima tahun lalu juga Sasuke pernah mengambek. Ketika Naruko terlalu dekat dengan…

Naruko.

Seakan-akan terdengar bunyi klik di kepalanya, Itachi mulai mengerti apa yang terjadi.

Sambil menghela napas, dia mendekati Sasuke. Dia tahu kalau adiknya sudah bertingkah semakin mirip dengan dirinya dan Fugaku. Dingin, tenang dan pendiam. Tapi tetap saja… Sasuke yang suka mengambek dan minta digendong itu tidak pernah menghilang. "Hei," Itachi menyibak selimut Sasuke dengan kasar. "Kau apakan cewek pirang itu?"

"Tidak apa-apa." Sasuke menjawab ketus lagi, memalingkan wajahnya. Tanpa sadar, bocah itu menggigit bibirnya.

"Oohh," Itachi begumam pelan, berusaha menyembunyikan senyuman. Jika dipikir-pikir, sudah sejak tadi dia menggigit bibir, padahal dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. "Kau cium dia?"

Sasuke langsung terbatuk. Dia beranjak dari ranjang, melotot ke arah Itachi.

"Benar ya tebakanku?" Itachi bertanya dengan nada datar, memasang wajah tak berdosa. "Hei. Aku tidak akan bilang siapa-siapa."

Sasuke terdiam, mata onyx-nya masih melotot.

Adik menyusahkan. Itachi menghela napas. "Sasuke. Kau bisa pegang kata-kataku," Itachi menjentikkan kening Sasuke, membuat pemuda itu melotot semakin menjadi-jadi. "Aku sudah tunangan. Pastinya aku bisa memberi saran tentang hal ini."

Sasuke masih terdiam. Namun, matanya yang melotot itu perlahan-lahan berubah ke sosok asalnya. "Naruko populer. Banyak yang mengincarnya."

"Lalu?"

"Aku tidak suka." Sasuke kembali terdiam. Dia membuka mulut, namun tidak ada kata-kata yang keluar. Dia kembali menutup mulutnya. Itachi menunggu dengan sabar. Dia tahu kalau Sasuke payah dalam mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. "Aku tarik dia keluar dari sekolah. Lalu kami ke pondok, mengunjungi kucing garong itu."

"Sasuke." Itachi membenarkan. Biar begitu, dia cukup suka dengan Sasuke-neko.

"Kucing garong."

Mereka saling melotot untuk sesaat.

"Aku bilang pada Naruko kalau aku menyukainya." Sasuke melanjutkan. "Dia kira aku cuma suka dengannya sebagai teman. Aku kesal…" Dia berhenti lagi. "Aku marah. Lalu, aku menariknya. Langsung menciumnya."

"Kenapa tiba-tiba begitu?" Itachi tidak menyangka Sasuke bisa seceroboh itu.

"Drama."

Itachi nyaris menepuk keningnya.

Memang, sejak lima tahun lalu, Mikoto selalu menyeretnya dan Sasuke menonton bersama untuk memperkuat 'ikatan ibu dan anak'. Tapi selalu saja drama percintaan yang ditonton Mikoto. Itachi selalu tertidur, namun sepertinya Sasuke memperhatikan setiap adegan dengan sepenuh hati. "Lalu, Naruko mematung." Sasuke melanjutkan lagi. "Wajahnya merah padam. Dia mendorong wajahku sekuat tenaga," pemuda itu menunjuk ke arah wajahnya, di mana bekas telapak tangan Naruko ter-cap di pipinya samar-samar. "Aku terjatuh, menimpa kucing garong…"

"Sasuke."

"… lalu dia mencakarku tiba-tiba sambil mendesis seenaknya," Sasuke mengabaikan Itachi. "Ketika aku sadar apa yang terjadi, Naruko sudah lari dariku." Pemuda itu menyusupkan jari-jari di balik rambut ravennya dengan frustrasi. "Aku harus bagaimana, nii-san?"

Mereka berdua terdiam. Sasuke menatap Itachi dengan sepasang mata onyx yang lebar. Mau tak mau, Itachi langsung berkeringat dingin menerima tatapan seperti itu.

Dia menunggu jawaban.

Itachi meneguk ludah. Apa yang harus kukatakan?

"Aku hanya ada satu saran, Sasuke."

Mata Sasuke melebar. Dia langsung membenarkan posisi duduknya, memperhatikan Itachi. "A-apa?"

Itachi terdiam, mengerutkan kening. Berpikir sekuat tenaga. "Jangan…"

"Jangan?" Sasuke mencondongkan tubuh, tidak sabar mendengar saran Itachi.

"Jangan pernah lagi menonton drama pilihan Ibu."

"…"

Mereka berdua kembali terdiam.

Di detik kemudian, Sasuke meraih bantal di ranjangnya dan melempar bantal itu ke wajah Itachi.

.

.

.

.

.

Mood Sasuke semakin memburuk. Dia sudah memutuskan untuk berbicara dengan Naruko, dan menjelaskan alasan kenapa dia menciumnya kemarin. Namun, ketika dia menginjakkan kaki di sekolah, tiga orang guru langsung menyeretnya masuk ke dalam bus sekolah. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman guru-guru gila itu, namun salah satu guru yang menyeretnya adalah guru olahraga, Gai.

"Oh anak muda! Kau tidak bisa lari lagi!" Lelaki berambut ala mangkuk itu tertawa kencang. "Kau HARUS ikut lomba antar sekolah!"

"Tiga hari lomba dengan Suna High? Tidak!" Sasuke meronta lagi.

"Ibumu sudah memberi ijin. Dia sudah mengirim pakaianmu untuk tiga hari." Kakashi tersenyum dari balik maskernya. Sasuke hanya bisa mendelik tajam. Dia tidak menyangka wali kelasnya bisa mengkhianatinya sampai seperti ini. "Ayolah, Sasuke. Lomba ini sangat penting untuk menaikkan nama sekolah kita."

"Dan bertemu trio menyebalkan dari Suna?" Sasuke mendelik semakin menjadi-jadi.

"Kau harus pergi," Kakashi kembali berkata. "Perintah kepala sekolah."

Sasuke didorong masuk ke dalam bus. Dia nyaris saja menjerit marah. Dia memang terlihat tenang dan dingin, tapi dia tidak bisa menguasai emosinya sebaik Itachi. Sasuke tidak jadi menjerit ketika dia melihat sekeliling bus ini. Shikamaru yang terikat di pojok bus, Neji yang bergerutu kesal tentang 'kebebasan untuk menolak' dan semacamnya. Ternyata bukan hanya dia saja yang dipaksa.

Mata onyx Sasuke beralih ke arah seorang gadis yang duduk di sebelah Neji. Hinata Hyuuga menatapnya dengan tatapan prihatin. Gadis itu cepat-cepat menundukkan kepala ketika mata mereka bertemu. Sepertinya gadis itu sadar kalau mood dia sedang kacau.

"Sasuke-kun! Kau di sini juga!" jeritan girang Sakura membuat kerutan di kening Sasuke kembali muncul.

Tentu saja.

Sakura salah satu jenius di sekolah.

Sakura beranjak, dengan semangat dia menarik lengan Sasuke, memaksa pemuda itu untuk duduk di sebelahnya. "Lepas," dia menggeram pelan. Sakura tersentak, melepaskan lengan Sasuke.

"Ada apa denganmu hari ini?" gadis berambut pink itu menaikkan sebelah alisnya. Memang, selama ini Sakura terkadang menyeretnya, namun Sasuke tidak pernah seketus itu. Mau bagaimana pun, Sakura adalah salah satu sahabatnya sejak umur mereka masih lima tahun. Biasanya, Sasuke hanya akan menghela napas, membiarkan Sakura menyeretnya. Namun kali ini, dia mendelik ke arah Sakura, seakan-akan mau menerkam gadis itu.

"Tidak ada apa-apa."

Kening Sakura semakin berkerut. "Ngomong-ngomong, kemarin aku bertemu Naruko. Dia kembali ke sekolah untuk mengambil tasnya yang tertinggal."

Mata Sasuke langsung melebar ketika mendengar nama Naruko.

"Kau apakan dia? Dia terlihat seperti nyaris menangis." Sakura menyipitkan mata, menatap Sasuke dengan tatapan menuduh kali ini. Pemuda berambut raven itu menggigit bibir.

Sakura tahu.

Sakura tahu kalau dia menyukai Naruko. Gadis tajam itu bahkan sudah tahu sebelum Sasuke sadar akan perasaannya sendiri.

"Aku…" Sasuke terdiam, menatap Sakura dalam-dalam. Sakura menatapnya bingung. Sasuke menghela napas. Dia merasa ingin gantung diri sekarang. Meminta saran pada Sakura? Tapi sekarang hanya Sakura yang tahu betul apa yang harus dilakukannya. Ego Sasuke yang super tinggi tidak mengijinkannya untuk membuka mulut. Namun, wajah Naruko yang nyaris menangis mulai terlintas di kepalanya.

Aku… melukainya?

Sasuke mengigit bibir. Sebelum dia sadar apa yang terjadi, mulutnya sudah terbuka, menceritakan kejadian kemarin.

.

.

.

.

.

Tiga hari berlalu dengan cepat.

Sasuke merasa kalau kesialannya mulai berkurang ketika tim Konoha berhasil mengalahkan trio Suna yang menyebalkan itu.

Memang, mereka kalah di bidang Matematika. Sampai sekarang, Asuma-sensei masih menghela napas, tidak mengerti kenapa Shikamaru sengaja mengalah pada Temari. Tapi di bidang bahasa Ingris, dia, Sakura dan Neji berhasil menendang Gaara dan dua saudaranya.

Masih menenteng piala-nya, dia keluar dari bus, diikuti Sakura. Diam-diam, Sasuke merasa kalau Sakura tidak seburuk dugaannya. Dia tidak menjerit-jerit seperti yang ditakuti Sasuke. Gadis itu memberinya beberapa saran untuk menghadapi kepolosan Naruko. Dia juga berjanji untuk tidak akan memberi tahu Naruto. Mereka berdua tahu betul apa yang akan dilakukan kakak kembar protektif itu jika dia mendengar bahwa Sasuke mencium paksa Naruko.

"Ingat ya," Sakura berbisik. "Nanti sampai di kelas, jangan langsung membicarakan soal ciuman itu. Naruko itu polos. Jadi ada kemungkinan dia sudah lupa. Atau buat dia lupa." Sasuke menganggukkan kepala, menggenggam gantungan kunci berbandul kucing hitam yang sengaja dibelinya untuk membuat Naruko lupa.

"Ini dia! Murid-murid jeniusku!" Jiraiya, yang sejak tadi menunggu di depan gerbang, berlari ke arah mereka. Sakura dan Sasuke cepat-cepat mengelak, dan dengan diam-diam langsung bergegas menuju kelas mereka. Namun, Gai dengan gesit menangkap mereka berdua.

"Oh-ho! Tidak bisa anak-anak muda! Aku tahu kalau kalian mau membanggakan piala kalian pada teman-teman sekelas kalian! Tapi kalian harus melapor ke ruangan kepala sekolah dulu!"

"Sensei!" Sakura meronta. Sasuke hanya bisa menggeram pelan. Dia sudah membuang banyak waktu. Dia tidak ada waktu untuk meladeni pidato terima kasih dari kepala sekolah. Namun lagi-lagi kekuatannya tidak bisa mengalahkan Gai yang dengan mudah menyeret mereka berdua.

"Ini pahlawan kita!" Gai dengan girang membanting pintu ruangan kepala sekolah. "Ayo! Kita harus mengadakan pest… Loh?" Gai menaikkan sebelah alisnya, bingung ketika melihat lima murid yang sedang berdiri di depan Hiruzen Sarutobi. Salah satu pemuda yang dipenuhi memar di wajah mendelik tajam ke arah empat murid lain.

"Naruto?" Sakura langsung mengenal pemuda berambut pirang itu. "Kenapa kau terluka seperti itu? Lho? Kok…?" Gadis berambut pink itu melongo ketika melihat Honda dan tiga teman satu gengnya.

Naruto masih menggeram. Tangannya terkepal, seakan-akan siap untuk melempar tinjuan. Honda Arashi balas mendelik, namun dia langsung terlihat ciut ketika dia melihat sosok Sasuke yang terpaku di depan mereka.

"Oh, kalian sudah tiba." Hiruzen menghela napas. "Maaf, seharusnya aku menjemput kalian dengan senyuman. Tapi situasinya sedang tidak baik sekarang…"

"Dia yang mulai duluan! Saya tidak bersalah, sensei!" Honda mengancungkan telunjuk ke arah Naruto.

"Diam! Kau melukai adikku, dattebayo!" Naruto meraung, nyaris saja dia menghantam pemuda yang ada di depannya kalau saja Kakashi tidak bergegas menahan Naruto.

Melukai?

"Sasuke-kun!" Sakura langsung menahan lengan Sasuke. Pemuda itu nyaris melempar piala di tangannya ke arah Honda.

"Apa yang terjadi, sensei?" Kakashi bertanya kepada Hiruzen dengan nada yang tenang. Kepala sekolah itu menghela napas.

"Menurut saksi, Honda mengata-ngatai Sasuke Uchiha tadi." Hiruzen menatap tajam ke arah Sasuke sesaat, membuat pemuda itu tersentak. "Karena Sasuke 'mempermalukan' dia di depan umum, dia mulai menjelek-jelekkan Sasuke di depan kelas untuk membalasnya. Sudah tiga hari dia melakukan itu dengan bantuan tiga temannya."

Tiga hari.

Ketika dia tidak ada di sekolah karena mengikuti lomba.

"Pengecut! Berani-beraninya menjelek-jelekkan Sasuke-kun ketika dia tidak ada di sekolah!" Sakura mendesis marah.

"Lalu?" Kakashi bertanya lagi.

"Tadi siang, Naruko Namikaze menampar Honda di depan kelas." Hiruzen menghela napas. "Lalu…"

"Dia memukul Luuko, dattebayo!" Naruto menggeram. Di saat bersamaan, tubuh Sasuke menegang.

"Aku mendorongnya saja! Salah dia sendiri karena dia memukulku duluan!"

"Jangan bohong, dattebayo! Kalau begitu kenapa bibir Naruko bisa pecah dan pipinya memar begitu?"

"I-itu…" Honda meneguk ludah. Dia semakin menciut ketika melihat kumpulan murid-murid 'juara' yang melotot ke arahnya. Dia lupa dengan fakta kalau mereka semua sahabat Naruko. "S-salah dia sendiri! Jangan mentang-mentang dia cantik dan dia bisa menamparku sesukanya! Aku sudah cukup dipermalukan! Aku tidak…"

Ucapan Honda terputus ketika terdengar suara piala yang terjatuh.

Sakura tidak bisa menahan lengan Sasuke lagi.

Pemuda berambut raven itu menyabet kerah baju Honda dan mendaratkan tinjuan yang sejak tadi sudah dikepalnya. Honda berteriak kesakitan. Dia memohon ampun berkali-kali, namun Sasuke tidak berhenti. Pemuda itu tidak berteriak marah, tidak menyumpahi Honda seperti Naruto. Bibirnya terkatup rapat, mata onyx-nya mendelik tajam, berkilat-kilat karena amarah. Dia mengangkat tinjunya lagi, dan menghantam mulut Honda. Kali ini, bahkan Gai-sensei tidak bisa menghentikannya.

Ketika melihat dua pasang gigi depan yang terjatuh di lantai, Naruto menyeringai lebar.

Ini pertama kalinya dia merasa ingin memeluk Sasuke dan menciumi sahabatnya itu.

"Oi! Hentikan!" Salau satu teman Honda mendorong Sasuke, menendang kakinya, membuat Sasuke meringis kesakitan.

"Merepotkan saja!" Shikamaru menggerutu. Dia berlari ke arah cowok itu, dan mendorongnya.

"Jangan macam-macam dengan tim Honda ini!" teman yang lain meraih vas bunga terdekat dan nyaris menghantam kepala Sasuke dengan itu, namun Neji dengan gesit mendorong jatuh cowok berambut cokelat itu.

"Dan kalian jangan macam-macam dengan tim Naruto, dattebayo!" Naruto berhasil melepaskan diri dari genggaman Kakashi. Sambil melompat, dia kembali menghajar Honda.

"Ckckck, anak-anak muda yang bergairah!" Gai tertawa keras.

"Hajar, Naruto! Yak! Benar! Kiri! Bukan, bukan di situ! Hajar hidungnya!" Jiraiya menyemangati.

Hiruzen hanya bisa menghela napas pelan. "Kakashi, panggil Tsunade."

Mendengar nama Tsunade, semua tinjuan, tendangan, lemparan, sorakan langsung terhenti.

.

.

.

.

.

"Kalian berdua ini memang gila." Naruko mendesis pelan. "Di-skors. Seminggu. Kalian bisa saja dikeluarkan!"

Sakura mengangguk setuju. Dengan sengaja dia menekan luka di wajah Naruto dengan alkohol, membuat Naruto meraung kesakitan.

"Cowok brengsek itu melukaimu." Sasuke balas mendesis. Mata onyx-nya masih mendelik. Kali ini dia melotot ke arah bibir Naruko yang koyak dan wajahnya yang memar.

"Iya datteba… Arrgghh! Sa-Sakura-chan… yang lembut dong… Arrgghh!"

"Dia cuma memukulku sekali! Dan kalian berdua membuatnya kehilangan dua gigi depan!"

"Tiga. Aku menghilangkan satu gigi gerahamnya." Naruto menyeringai. Dia mengulurkan kepalan tangannya, dan Sasuke langsung membenturkan kepalan tangannya ke arah Naruto. "Yeah, dattebayo! Aduuhh! Sakit, Sakura-chan!"

Sasuke cepat-cepat meraih kapas dan menyeka luka pukulan Tsunade di pipinya. Daripada Sakura yang merawatnya, lebih baik dia merawat dirinya sendiri.

"Ah, alkoholnya habis." Sakura mendengus. "Ayo, Naruto. Kita minta Tsunade-sensei." Sakura menyeret Naruto.

"Apa? Tidak, dattebayo! Tidak! Tidak!" Dia terus menjerit, namun Sakura tidak peduli. Dia menyeret Naruto pergi dari kebun sekolah itu.

Sesaat, suasana menjadi hening. Sasuke sadar bahwa Sakura sengaja memberinya waktu berduaan dengan Naruko.

"Kenapa kau menamparnya tiba-tiba?" tanya Sasuke, memecahkan keheningan. Entah mengapa, dia tiba-tiba marah akan tindakan Naruko. Kalau saja gadis itu tidak menampar Honda, Naruko tidak akan terluka seperti itu.

"Dia mengejekmu."

"Lalu? Aku sudah terbiasa diejek sejak dulu."

"Aku marah." Naruko bergumam pelan. "Aku tampar dia. Aku tidak sadar kalau dia langsung memukulku. Ino langsung cepat-cepat memanggil nii-chan."

"Dan Naruto menghajar si brengsek."

"Ya. Tapi nii-chan kalah jumlah. Sebelum Kiba sempat membantunya, nii-chan sudah dihajar tiga teman Honda."

Sasuke terdiam. Dan situasinya kembali hening. Naruko menunduk, tidak berani menatap Sasuke yang masih mendelik. Gadis itu tersentak ketika dia merasakan jari Sasuke yang menyentuh dagunya, mendongakkan wajahnya. Sasuke mengerutkan kening ketika melihat Naruko yang mengigit bibirnya.

"Jangan menangis."

"Aku tidak nangis."

"Kau selalu mengigit bibir kalau sedang menahan tangis."

"Itu dulu."

"Sekarang juga." Sasuke berbisik pelan. Jarinya mengusap pelan bibir Naruko yang koyak. "Jangan menangis… oke?" Sasuke meneguk ludah, mulai panik ketika melihat air mata yang mulai menggenang di sepasang mata biru langit itu. Naruko terisak pelan. Dia menempelkan tangannya di dada Sasuke. Pemuda itu mulai berdebar, teringat akan adegan drama, di mana gadis-gadis menangis di dada lelaki yang mereka cintai.

Namun lagi-lagi reaksi Naruko sama sekali tidak bisa ditebaknya.

"Baka! Teme! Kenapa kau berbicara seperti itu!" Naruko mendorong Sasuke dengan keras, membuat pemuda itu nyaris terjatuh dari kursi taman. Sasuke nyaris saja melongo. Naruko tidak pernah memanggilnya 'teme' seperti Naruto. "Sudah kubilang aku tidak menangis! Kau ini menyebalkan!"

"Apa salahku, dobe!" tanpa sadar, Sasuke menggeram kesal.

Sudah cukup.

Dia benar-benar tidak bisa mengerti wanita.

"Banyak! Kau membuatku jadi aneh!" Naruko menjerit. "Aku tidak ada napsu makan selama tiga hari ini! Karena menunggu penjelasanmu!" Dia menunjuk ke arah bibirnya yang koyak.

Sasuke langsung terpaku.

Jadi Naruko ingat.

"Aku SMS sudah berapa kali, tapi kau tidak jawab, dattebane!"

"HP kami semua disita." Sasuke mengerutkan kening.

"Lalu, apa jawabanmu!"

"Apa pertanyaannya dulu?"

Nyaris saja Naruko melempar tasnya ke wajah Sasuke. Namun, wajahnya langsung merona. "K-kenapa…" dia meneguk ludah. "K-kenapa kau menciumku?"

"Sudah kubilang aku menyukaimu." Sasuke mengusap rambutnya, frustrasi. "Lebih dari teman."

"Kau menyukaiku lebih dari teman?"

"Iya."

Mereka kembali terdiam. "Apa maksudnya suka yang melebihi persahabatan?" Naruko mengerutkan kening.

Sasuke terdiam.

Apa maksudnya? Apa artinya?

Dia tidak tahu.

"Aku berteman dengan Sakura, Ino," Sasuke terdiam, mengingat semua gadis yang dia anggap sebagai teman. "Ten-Ten, Hinata."

"Lalu?"

"Hanya kau yang selalu kupikirkan." Sasuke kembali terdiam, memeras otaknya. "Ketika bangun tidur. Dan sebelum tidur. Wajahmu yang muncul di kepalaku."

Lagi-lagi suasananya langsung hening.

"Dari semua teman cowok yang kumiliki…" Naruko memecahkan keheningan. "Cuma kau yang bisa membuatku kehilangan napsu makan. Apakah itu artinya aku menganggapmu lebih dari teman, dattebane?"

"Mungkin."

"Dari semua teman, cuma kau yang bisa membuatku senang dan sedih setengah mati. Apakah itu artinya kau spesial?"

"Mungkin."

Lagi-lagi tidak ada suara yang menyelinap dari mulut mereka.

"Berarti aku menyukaimu juga." Naruko tersenyum tiba-tiba.

Sasuke melongo.

"Kenapa wajahmu seperti itu, dattebane?" Gadis berkuncir dua itu tertawa riang. Kedua matanya berseri-seri, menatap pemuda yang terpaku itu.

Di detik itu, Sasuke merasa kalau jantungnya bisa meledak karena berdetak terlalu cepat. "Sungguh?"

Naruko menyeringai. "Aku masih kurang mengerti apa maksudnya menyukai… atau mencintai cowok…" dia menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Tapi aku tahu kalau Sasuke spesial… Aku marah kalau ada yang mengejekmu… Wajahmu muncul terus sebelum aku tertidur… Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya tapi…"

"Itu sudah cukup." Sasuke memotong gadis itu. "Aku cukup puas dengan itu." Dia tersenyum, membuat Naruko meringis lagi. "Aku beli sesuatu." Dia merongoh kantongnya, mengeluarkan gantungan kucing hitam yang dibelinya. Naruko menjerit girang, membuat Sasuke tertawa. Entah sudah berapa lama dia tidak tertawa seperti ini.

Ajaib, batinnya.

Hanya dengan melihat senyum Naruko dia bisa merasa seperti ini.

Memang, sesuai yang Naruko ucapkan. Gadis itu masih belum benar-benar mengerti seperti apa perasaan. Tapi dia yakin akan satu hal.

Naruko menyukainya juga. Dia sudah cukup puas.

"Ayo pulang," Sasuke meraih tas Naruko.

"Ah! Tunggu!" Naruko tiba-tiba berjinjit, dia membenturkan bibirnya di pipi Sasuke. "Makasih!" Sambil meringis lebar, dia menyondorkan gantungan kunci itu. Sasuke merasa kalau wajahnya terbakar. "Wajahmu merah, dattebane!" Naruko tertawa girang, mengulurkan tangannya.

"Diam, dobe." Sambil bergerutu, Sasuke meremas tangan gadis itu.


TBC

Yahh... segitu dulu :p

bagaimana pendapat para pembaca? aku agak susah nulis chapter ini...

aku suka nulis adegan Sasuke sama Itachi, tapi pas adegan 'menyatakan cinta' ancur abis-abisan... haha

ada saran? kemungkinan chapter depan bakalan 17 atau 18 tahun... (spoiler)

ngomong-ngomong, aku sebentar lagi ujian =='

sampai 28 agustus. Tapi, setelah itu, liburannya sampai bulan oktober! :D

bagi pembaca yang baca fiction2 yang lain, harap sabar la :)

pasti ku-update semua!

okeee, segitu dulu.

makasih udah baca! sori kalo tidak memuaskan...

Ada saran? Saran? Saran? :D

#plak!