Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OC, OOC, typos, alur cepat, dont like dont read!

AN: thanks buat yang udah fave, alert, review, dll...

thanks to...

Yu, crimson virion, Anagata Lady Okita, Chiriyuki Hikaru, riringo, Minakushi Namikaze, NonoUnnie, sydc, Neerval-li, Mikiraa, Nanaki Kaizaki, naMIKAze nara, guest, dwidobechan, Scorpy.

Makasih banyak yaa! :D

enjoy! :)


18-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

"Eh, kalau ada yang bilang bahwa aku adalah seekor kucing di masa lalu. Apakah kau percaya?"

Sasuke mendongak sesaat, menatap gadis pirang yang duduk di atas ranjangnya itu. Gadis itu memeluk erat bantal tidur miliknya, dia menggesekkan wajahnya di permukaan bantal itu, seakan-akan hendak menguji kelembutan bantal miliknya. "Tentu." Sasuke mendengus. Dia tahu kalau Naruko suka menggesekkan wajah di permukaan bantal. Itu kebiasaan Naruko sejak kecil. Tapi bantal yang sekarang dipeluk gadis itu adalah bantalnya. Sasuke menghela napas. Dia tidak akan bisa tidur dengan adanya aroma Naruko yang menempel di bantal itu.

"Kenapa begitu?" gadis delapan belas tahun itu beranjak dari ranjang Sasuke dan berdiri di belakang pemuda itu. Mata birunya menatap majalah yang sejak tadi dibaca Sasuke. "Teropong? Kau mau membeli teropong?" Sebelum Naruko sempat menyabet majalah itu dari tangannya, Sasuke memasukkan majalah itu di balik laci meja belajarnya.

"Bukan apa-apa."

"Kenapa begitu? Kau tidak mau memberitahuku?" Kening Naruko berkerut. Sasuke meringis melihat kerutan itu.

"Kau ini selalu mau ikut campur…" dia menarik tangan Naruko, memaksa gadis itu duduk di pangkuannya. Senyuman Sasuke melebar ketika melihat wajah Naruko yang mulai terbakar. "… neko-chan?" bibirnya berbisik pelan di telinga Naruko.

"Sasuke! K-Kau terlalu dekat!" Naruko mencoba menjauh dari pemuda itu, namun lengan Sasuke sudah terkunci erat di pinggangnya.

"Kalau kau kucing, aku ini apa?" tanya pemuda berambut raven itu, mengabaikan Naruko yang masih menggeliat pelan. Pertanyaan Sasuke membuat gadis itu terpaku.

"Apa ya?" dia kembali mengerutkan kening. Sasuke mencoba untuk menahan senyumannya ketika melihat Naruko berpikir keras. Perhatian gadis itu gampang sekali teralihkan. "Oh! Aku tahu! Elang!"

"Elang? Kenapa?"

"Karena matamu selalu tajam. Lalu, kau selalu melihat ke arah jendela, menatap langit biru."

Sasuke terpaku. Dia tidak menyangka kalau Naruko bisa sadar akan kebiasaannya itu.

"Selain itu kau suka memanjat pohon kan? Waktu kita masih SD dulu, kau selalu menolak ajakan nii-chan untuk memanjat pohon. Tapi aku tahu kalau kau diam-diam memanjat pohon yang sama," Naruko meringis. "Sampai sekarang."

Sasuke hanya terpaku. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Naruko bisa tahu akan kebiasaan rahasia miliknya.

"Shikamaru suka tidur-tiduran di rumput sambil melihat langit! Kalau Sasuke suka memanjat ke tempat yang tinggi lalu melihat ke arah langit kan?" Cengiran Naruko melebar.

Sasuke masih terpaku. Memang, dia sangat suka melihat ke arah langit. Dia suka melakukan itu sejak kecil. Dia terlalu sering menengadah ketika melihat Itachi jauh lebih tinggi darinya. Tanpa sadar, dia jadi suka menengadah dan menatap ke arah langit. Salah satu alasan kenapa dia semakin menyukai langit karena mata biru milik Naruko.

Naruko meringis, dia menempelkan punggungnya ke dada Sasuke. "Aku benar kan…" Gadis itu memalingkan wajahnya sehingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Sasuke. "… taka-kun?"

Sasuke meringis. "Neko dan taka itu musuh bebuyutan." Dia berbisik pelan, matanya menempel pada bibir Naruko. Tanpa sadar, Sasuke menjilat bibirnya yang entah kenapa terasa kering.

"Kalau begitu kita adalah neko dan taka pertama yang berteman…" Naruko mendesis. Jarak bibirnya hanya tinggal beberapa senti dengan bibir Sasuke. Entah kenapa, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Sasuke mempererat pelukannya di pinggang gadis itu.

"Mau ciuman?" Sasuke berbisik pelan, mengangkat tangannya dan mengusap pelan bibir Naruko. Gadis berambut pirang itu memejamkan mata, merasakan tekstur jari Sasuke yang menari di atas bibirnya. Dia mengangguk pelan, dan di detik kemudian, bibir Sasuke bertemu dengan bibirnya.

.

.

.

.

.

Sasuke memejamkan mata. Berbaring di hamparan rumput di taman pribadi milik keluarganya. Tidak jauh dari tempat mereka berbaring terletak kuburan Sasuke-neko. Lima tahun lalu, kucing hitam itu akhirnya meninggal dunia, meninggal karena usia tua. Sampai sekarang, Naruko menatap kuburan kucing peliharaan mereka dengan pandangan sedih.

"Apa yang akan kau lakukan di masa depan?"

Pertanyaan Sasuke membuat Naruko menoleh dari makam sang kucing. Dia sengaja mengalihkan perhatian pacarnya. Dia membawa Naruko ke tempat ini bukan untuk melihatnya bersedih. Gadis itu menatap langit biru, merasakan angin lembut yang menerpa wajahnya. "Aku masih belum yakin… Tapi aku ingin sekali menjadi guru TK."

Sasuke tidak menjawab, hanya memainkan rambut Naruko dengan jari-jarinya.

"Kau tahu kan kalau aku pernah kerja sambilan menjadi guru pengganti di TK Konoha?" Wajah gadis itu berseri-seri. "Anak-anak di sana lucu sekali, dattebane! Mereka memanggilku sensei dan suka memberiku permen mereka! Selain itu…"

Sasuke tersenyum simpul, mencoba untuk mengepang rambut panjang gadis itu. Naruko masih berbicara panjang lebar, mengabaikan rambutnya yang sudah berbeda style sekarang. "… kalau kau apa?"

Pertanyaan Naruko membangunkan Sasuke dari konsentrasi tingginya. "Apa?"

"Kau mau jadi apa di masa depan?" Naruko mendengus. "Sebentar lagi sensei akan memberi daftar-daftar universitas lokal kan?"

Sasuke hanya terdiam. "Aku mungkin…"

"Apa?"

Sasuke tidak menjawab, masih mengepang rambut Naruko.

"Hei!" Gadis berambut pirang itu mulai kehilangan kesabaran, dia menyentakkan rambutnya yang acak-acakkan dari tangan pacarnya itu. "Kau mungkin apa?"

Sasuke menatap mata Naruko dalam-dalam. "Aku mengirim aplikasi ke Taka College."

Naruko berkedip. Taka? Kalau tidak salah itu… "Sekolah khusus untuk pilot? Yang ada di Osaka itu?"

Sasuke mengangguk. Tanpa sadar, dia mengalihkan matanya dari tatapan Naruko. Dia tidak tahu bagaimana Naruko akan bereaksi. Dia merasa bersalah karena menyembunyikan hal ini dari Naruko. Dia sudah memikirkan masa depannya masak-masak. Dia ingin menjadi pilot, melihat dunia. Dan satu-satunya sekolah pilot yang terpercaya adalah Taka College yang ada di Osaka.

Sasuke tidak pernah ragu akan jalan yang dipilihnya. Namun, entah sejak kapan Naruko selalu ada di dalam jalan itu. Bayangan dirinya yang terpisah dengan Naruko membuat Sasuke sempat meragukan cita-citanya.

"Kau baru bilang padaku sekarang?" Pertanyaan Naruko membuat Sasuke memejamkan mata. "Tapi yah… aku sudah menduga kau tertarik untuk masuk Taka College." Ucapan Naruko itu langsung membuat mata Sasuke terbuka. "Osaka ya… hmmm, oke. Kau mau tinggal di mana nanti?"

Sasuke tidak bisa mempercayai pendengarannya. Dia mengerutkan kening, menatap senyuman ceria Naruko. Mau bagaimana pun juga, senyuman cewek itu tidak dipaksakan. Naruko benar-benar terlihat senang atas pilihannya. "Aku akan menyewa apartemen. Aku punya cukup uang dari kerja sambilan." Dia tidak mau menggunakan uang orang tuanya.

"Oh, begitu. Keren dong!" Naruko terlihat bersemangat.

"Kau tidak keberatan?"

"Keberatan? Kenapa?" Naruko menaikkan sebelah alisnya. "Kan keren jadi pilot! Aku bisa membanggakan ke semua teman-temanku nanti kalau aku punya pacar pilot!" Dia tertawa.

Sasuke tidak bisa berkata apa-apa. Sampai sekarang, Naruko selalu berhasil untuk membuatnya kehabisan kata-kata. Sasuke sudah menyiapkan hati dan jiwa raga untuk menerima amukan Naruko, atau lebih parahnya, kalimat 'ayo putus!'. Chouji memutuskan untuk ke luar kota melanjutkan pendidikan dan Ino, pacarnya, mengamuk habis-habisan. Cewek itu menangis tersedu-sedu, mengadu ke Sakura dan teman-teman lainnya.

Sasuke kira kalau Naruko akan bereaksi seperti itu juga. Namun ternyata…

"Kenapa Sasuke? Kau diam saja dari tadi." Naruko tertawa, menjetikkan jarinya di kening Sasuke.

Sasuke tidak bisa tidur dalam beberapa hari ini, memikirkan masa depannya dengan Naruko. Dia akan merasa sangat kesepian tanpa kehadiran gadis itu. Dia akan sangat merindukan gadis itu.

Tapi Naruko sama sekali tidak peduli.

Sasuke menggertakkan gigi, beranjak. "Aku pulang dulu." Pemuda itu meninggalkan Naruko yang mengerutkan kening, bingung.

.

.

.

.

.

"Jadi, kau merasa sedih karena Naruko tidak mempedulikanmu?"

"Aku tidak sedih." Sasuke menggeram di HP-nya. Seorang Uchiha tidak pernah dan tidak akan merasa sedih. "Aku hanya… keberatan." Sasuke mengangguk, merasa puas akan pilihan katanya.

"Adikku. Semakin lama kau semakin menyedihkan." Sasuke bisa membayangkan sosok Itachi yang menggelengkan kepala sambil berdecak. Sebelum Sasuke sempat membantah, Itachi kembali berbicara. "Kapan kau akan pindah ke Osaka?"

"Enam bulan lagi." Sasuke menghitung dalam kepalanya. Ujian akhir akan tiba empat bulan lagi, besok mereka sudah harus memberitahu sekolah apa pilihan utama mereka. Setelah itu tinggal menunggu hasil ujian keluar dan…

Berpisah dengan Naruko.

"Jadi, waktumu bersama si pirang itu semakin singkat." Sasuke menggeram, entah kenapa Itachi selalu bisa membaca pikirannya. "Apa sekolah pilihan pacarmu itu?"

"Konoha University." Sasuke mendengus. "Naruto akan melanjutkan ke sana juga."

Setidaknya ada Naruto yang bisa menjaga Naruko dari cowok-cowok lain. Tapi tetap saja…

"Kau yakin tidak ada cowok yang akan mengerubungi Naruko-chan?"

Sasuke menggeram lagi. "Itachi. Kau yakin kau tidak bisa baca pikiran?"

"Sayangnya adikku, aku tidak bisa." Sasuke bisa membayangkan Itachi yang sekarang menyeringai lebar. Jangan-jangan otak mereka berdua tersambung? "Kapan kau akan ke sini?"

"Aku tidak akan mengunjungimu. Buang harapanmu jauh-jauh."

"Kejam sekali kau." Itachi berdecak.

Sudah setahun sejak Itachi pindah ke Kyoto untuk menjadi direktur perusahaan Uchiha di cabang Kyoto. Fugaku masih berusaha untuk membuat Sasuke meneruskan jejaknya juga, tapi Sasuke menolak mati-matian. Sudah mimpinya sejak dulu untuk menjadi pilot. "Itachi, aku ada urusan."

"Kau masih saja dingin. Jangan heran kalau Naruko kabur."

"Aku tidak peduli." Sebelum sempat mendengar balasan dari Itachi, Sasuke sudah mematikan HP-nya. Masih mengerutkan kening, lelaki itu menghempaskan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata. Dia tidak habis pikir kenapa Naruko bisa sedingin itu. Apakah gadis itu tidak peduli dengannya? Atau karena Naruko sudah bosan dengannya karena sifat Uchiha-nya itu?

Peduli setan.

Aku tidak peduli kalau dia mau pergi dariku.

Masih menggeram, Sasuke memejamkan matanya erat-erat, memaksakan dirinya untuk tidur. Mungkin besok, Naruko akan menjadi lebih perhatian.

Mungkin.

.

.

.

.

.

Untuk pertama kalinya, Sasuke salah besar.

Tidak. Untuk hal yang menyangkut Naruko, Sasuke selalu salah besar.

Sasuke selalu mengira kalau Naruko adalah cewek yang tidak peduli dengan pelajaran, namun beberapa bulan ini, cewek itu dengan sengaja menjauhinya dan mengunci diri di perpustakaan, belajar. Sasuke tahu kalau Naruko bisa masuk Konoha University dengan mudah meski standard gadis itu pas-pasan. Gadis itu seharusnya ditawari beasiswa karena berhasil menyabet piala di pertandingan karate di pertandingan seluruh Jepang.

"Kenapa Naruko tiba-tiba sibuk belajar? Kau tidak tahu kalau standard untuk masuk Konoha University sudah naik sekarang? Memangnya cuma Naruko yang berhasil memenangkan pertandingan se-Jepang? Di sekolah kita saja masih ada Ten-Ten yang menang lomba panah se-Jepang. Atau si Naruto yang berhasil menang juara judo..." Sakura mencibir, kembali membenamkan wajahnya di balik buku. "Sudah, Sasuke-kun. Jangan ganggu aku belajar."

Sasuke nyaris saja melongo ketika melihat cewek berambut pink itu. Sakura tidak pernah… tidak pernah bersikap sedingin itu terhadapnya. Lagipula untuk apa Sakura dengan giat belajar sampai seperti itu? Dia yakin kalau cewek itu bisa merebut peringkat pertama di semua pelajaran.

"… Shikamaru sialan… kukira dia akan pergi ke Suna University menyusul Temari…" Sakura menggeram pelan, membolak-balik buku yang dibacanya. "… tidak akan kubiarkan si malas itu menjadi juara pertama, shannaro!"

Sasuke mendengus. Pantas saja.

Shikamaru Nara adalah satu-satunya murid yang bisa menjadi juara satu meski dia tidur di kelas sepanjang hari.

Tidak mau mendekati Sakura yang sedang 'berkobar-kobar', Sasuke keluar dari perpustakaan, berjalan menuju kelas Naruko. Siapa tahu gadis itu butuh bantuannya untuk belajar. Namun, lagi-lagi dia salah.

"Sasuke? Kau mau mengajariku?" Naruko menaikkan sebelah alis. "Tidak mau ah. Aku tidak bisa konsen. Kau sering menciumku tiba-tiba."

"Apa, teme?!" Naruto melempar bukunya, di detik kemudian, dia sudah menggulung lengan seragamnya. "Kau macam-macam dengan adikku?!"

"Dia pacarku." Sasuke menggeram.

"Dan dia adikku, dattebayo!"

Di detik kemudian, dua sahabat-tapi-rival itu sudah berguling-guling di lantai, saling menghantam wajah masing-masing.

.

.

.

.

.

Jika masa-masa sebelum ujian adalah waktu yang mengenaskan bagi Sasuke, maka masa-masa ujian lebih mengenaskan lagi.

Di dua minggu itu, Naruko benar-benar mengabaikannya. SMS Naruko yang biasanya super panjang itu sekarang hanya berupa satu kata SMS. Sejak kapan gadis itu terkena virusnya? Apakah ini tanda-tanda putus seperti yang dibicarakan teman-temannya?

Sasuke menggeram, menulis jawaban di kertas ujian dengan kekuatan penuh, membuat kertas tersebut nyaris berlobang.

Kakashi menggelengkan kepala ketika melihat sikap Sasuke. Tentu saja dia tahu apa yang terjadi antara Sasuke dan Naruko. Seluruh anak-anak di sekolah sudah membicarakan mereka, tentang Naruko yang membuang Sasuke. Dia juga tahu kalau emosi Sasuke sekarang sudah berkobar-kobar, karena Naruko mengacuhkan lelaki itu dan karena fans Sasuke yang sempat pensiun kembali mengincar Sasuke lagi.

Kakashi berjalan di sekitar kelas, dengan sengaja melirik ke arah kertas ujian Sasuke. Ternyata meski dikuasai oleh emosi super tinggi, Sasuke tetap menulis jawaban yang sempurna. Dasar anak setan. Kakashi menggelengkan kepala.

"Sensei." Sasuke tiba-tiba mengangkat tangannya, membuat salah pengawas ujian dari sekolah lain tersentak. Meski dia tidak mengajar di Konoha High School dia tahu akan Sasuke Uchiha. Siapa yang tidak tahu dengan Uchiha yang menguasai 70 persen ekonomi di Jepang?

"A-ada apa Uchiha-san?" Guru pengawas itu cepat-cepat mendekati Sasuke.

"Usir guru bermasker ini. Dia mengganggu konsentrasiku." Sasuke menggeram.

"Begitukah?" Sang guru langsung berdehem, mengumpulkan semua wibawanya. "Hatake-sensei, silahkan keluar dari kelas. Iruka-sensei akan menggantikanmu."

Kakashi hanya bisa terpaku, menatap Sasuke untuk terakhir kalinya sebelum dia keluar dari kelas. Dia berani bersumpah kalau dia melihat Sasuke menyeringai mengejek.

Memang anak setan.

.

.

.

.

.

Seusai ujian, tidak ada sekolah selama dua bulan. Pada saat itu, Sasuke yang sudah terlanjur patah hati tu menjauhi Naruko. Tidak, Sasuke Uchiha tidak pernah patah hati, hanya 'kecewa'. Dia tidak peduli meski Naruko berlari-lari ke arahnya dengan wajah berseri-seri. Dia tidak peduli meski Naruko mulai memanggang kue tart tomat lagi. Dia sudah terlanjur… 'kecewa' untuk mendekati Naruko.

"Oi, cowok emo! Sampai kapan kau mau seperti ini?!" Naruko mengetuk pintu kamarnya dengan kasar. "Kau tahu, cewek-cewek fans-mu itu mulai mengancamku lagi karena aku mendekatimu! Aku kan pacarmu, hei! Buka pintunya, dattebane!"

Sasuke menggeram, dengan sengaja membekap telinganya dengan guling. Jika Itachi melihatnya dalam kondisi ini, pasti cowok itu sudah tertawa terbahak-bahak dengan ooc-nya. Tapi saat ini Itachi tidak ada dan Sasuke bebas untuk merajuk sepanjang hari.

Tidak. Dia tidak merajuk. Dia hanya membekam-diri-di-kamar-untuk-menghindari-seseorang .

"Kau tahu, salah satu dari fansmu nekat untuk melukaiku, mereka sepertinya lupa kalau aku ini menang pertandingan karate se-Jepang." Naruko mendengus, masih mengetuk pintu Sasuke.

Mendengar kata terluka, Sasuke melepaskan gulingnya, menatap pintu kamarnya.

Naruko terluka?

"Padahal aku kan pacarmu. Kenapa mereka begitu ya?" Naruko berhenti mengetuk pintu, mendengus kencang.

Sasuke menggertakkan giginya. Di detik kemudian, dia sudah membuka pintunya, mendelik ke arah Naruko. "Kenapa mereka begitu? Kenapa kau tidak tanya pada dirimu sendiri?" Dia menggeram. Dia menatap Naruko lekat-lekat, memperhatikan wajah gadis itu. Setelah sekian lama tidak melihat Naruko, Sasuke baru sadar bahwa poni pirang gadis itu sudah panjang. Sasuke menggertakkan gigi. "Kau masih mau mengaku menjadi pacarku?"

Naruko tersentak. "Apa maksudmu? Tentu saja aku paca…"

"Aku akan pindah ke Osaka dalam waktu satu setengah bulan."

Tepatnya 45 hari 25 jam lagi.

Naruko terpaku sesaat, menatap Sasuke yang mengerutkan kening. "Lalu?" Dia menyeringai lebar.

Sasuke mengerang, tidak mempercayai pendengarannya. Di detik kemudian, dia langsung membanting pintunya di depan wajah Naruko, membuat gadis itu melongo.

.

.

.

.

.

Dalam waktu sebulan itu, Sasuke dengan sengaja mengabaikan telepon dari dua orang. Naruko dan Itachi. Dia sudah muak mendengar ejekan Itachi dan Naruko yang…

Masih menggeram, Sasuke melempar semua buku-bukunya ke dalam kardus. Setelah mendapat nilai ujian yang akan keluar beberapa minggu lagi, dia harus cepat-cepat ke Osaka untuk mengambil tes lagi dari Taka College. Dia tidak bisa bersantai-santai dan harus mulai bersiap-siap untuk tes itu. Peduli amat meski Naruko tidak akan merindukannya. Peduli amat kalau Naruko tidak memperhatikannya. Toh, dia seorang Uchiha. Uchiha tidak akan peduli dengan hal sekecil…

"Sasuke, Naruko-chan datang lagi tuh."

Suara ibunya membuat Sasuke mengerang. Tentu saja dia tidak bisa membantah ibunya. Dengan enggan, Sasuke membuka pintu kamarnya. Matanya melebar ketika melihat Naruko yang menyeringai dengan wajah berseri-seri. "Aku punya hadiah perpisahan untukmu!"

Urat kesabaran Sasuke serasa akan putus.

"Oh, jadi kau mau mengusirku sekarang?" Dia nyaris saja menutup pintu lagi kalau bukan karena Naruko yang mengerahkan seluruh kekuatannya mendorong pintu Sasuke, membuat pemuda itu nyaris terjatuh.

"Aku tahu kalau kau akan pergi beberapa minggu lagi, tapi masa aku tidak boleh kasih kado perpisahan?!" Naruko mendengus. Gadis itu melompat ke arah Sasuke, menggesekkan wajahnya di dada pemuda itu. "Aku kangeeen padamu!"

Sasuke terpaku. Dia sama sekali tidak sadar kalau pintu kamarnya masih terbuka lebar, memberi Mikoto kebebasan untuk melihat mereka berdua. Ibunya meringis, menaikkan jari jempolnya, membuat Sasuke mengerang. Pemuda itu cepat-cepat menutup pintu kamarnya.

"Jadi? Kau ke sini cuma mau memberiku kado?" Sasuke mendengus. Namun, kerutan di keningnya menghilang ketika sadar bahwa Naruko masih tidak melepaskannya. Sambil menghela napas, Sasuke menepuk kepala Naruko, membuat gadis itu cekikikan.

Melihat Naruko yang seperti ini, semua kemarahan Sasuke menghilang tanpa jejak.

"Kau tidak akan merindukanku?" Dia bertanya pelan, mengusap rambut Naruko.

"Pertanyaan bodoh apa itu?" Naruko tersentak, melepaskan pelukannya sambil mendelik ke arah Sasuke. "Tentu saja aku akan kangen padamu! Aku kan tidak bisa terpisah darimu lama-lama! Paling lama juga sebulan!" Dia merengut, kembali mengusapkan wajahnya di dada Sasuke, membuat cowok itu meringis sesaat.

"Kau benar." Dia menunduk, dengan sengaja menjajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Wajah Naruko langsung merona. Dia tahu kalau Sasuke secara tidak langsung meminta ciuman. Sambil memejamkan mata erat-erat, dia mengecup bibir Sasuke, membuat pemuda itu tersenyum singkat. "Mana kadoku?"

Naruko menyeringai, menyodorkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sasuke terpaku sesaat, menaikkan sebelah alisnya. "Benih pohon?" Dia menatap pot berwarna kecoklatan itu.

Naruko menyeringai, menundukkan kepala. "Kau kan suka memanjat pohon untuk melihat langit, jadi aku memberimu pohon! Nanti kau tanam ya sampai di Osaka!"

"Kau lupa kalau aku tinggal di apartemen? Tidak ada kebun di sana."

Naruko melongo, nyaris saja menjatuhkan potnya kalau Sasuke tidak dengan gesit menangkap kado perpisahan itu. "Aku lupa…" dia menggerutu, memanyunkan bibirnya. "Padahal itu kado yang bagus…"

Sasuke hanya bisa tersenyum mengejek. "Kenapa bagus?"

"Kau tahu, meski kita berpisah, kita tetap menatap langit yang sama." Naruko menatapnya dengan sepasang mata biru yang bundar. "Jadi, aku tidak akan merasa kesepian. Yah… aku pasti merasa kesepian, tapi kalau aku melihat ke arah langit, aku akan merasa lebih ceria karena aku tahu kau juga sedang menatap langit yang sama…" Dia memanyunkan bibir lagi, menatap pot yang dipegang Sasuke. "… melalui pohon itu…"

Sasuke terdiam, menatap Naruko yang masih menggerutu, menyumpahi kebodohannya. "Kalau begitu ayo tanam sekarang."

"Eh?"

"Kita tanam di dekat pondok. Di dekat danau." Sasuke tersenyum singkat, menggandeng tangan Naruko. "Tapi kau janji untuk merawat pohonku ini?"

Naruko menyeringai. "Tentu saja, dattebane!"

"Aku akan melihat langit lewat pesawat…"

"… dan aku akan melihat langit melalui pohon itu!" Naruko menyelesaikan ucapan Sasuke. Pemuda berambut raven itu menundukkan kepala, mengecup pelan bibir Naruko.

"Deal."

Dalam hati, dia masih bersyukur karena Itachi tidak ada di situ. Kalau Itachi ada di sini, sang kakak berjiwa iblis itu pasti sudah tertawa terbahak-bahak karena kegombalannya.

Tidak. Tidak. Sasuke Uchiha tidak pernah gombal.

Hanya berkalimat manis saja.

.

.

.

.

.

Sasuke memutar tubuh, menyibak selimut di tubuhnya. Sudah sebulan sejak dia pindah ke Osaka. Tes yang dia jalani selama tiga minggu itu akhirnya usai juga. Dia tidak menyangka kalau kehidupan di Taka bisa separah itu. Dia bertemu teman-teman baru, Suigetsu yang selalu bertengkar dengan Karin; cewek menyebalkan yang selalu menggodanya, dan Jugo yang entah kenapa bisa mengamuk secara tiba-tiba; cowok itu langsung dipanggil Hulk dalam hari pertama.

Sasuke mengabaikan ponselnya yang bergetar. Dia kembali menyelimuti tubuhnya, siap untuk tidur lagi. Tidak ada yang bisa mengganggunya di hari Minggu ini. Namun ponsel itu kembali bergetar. Dia menggertakkan gigi. Orang yang membangunkannya dari tidurnya akan mendapat 'imbalan' yang setimpal. "Apa?!" Dia membentak di telepon.

"Adikku, meski matahari bersinar dengan cemerlang, sifatmu itu…"

Sebelum Itachi sempat menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah mematikan ponselnya. Dia sudah tidak tahan dengan Itachi. Sejak dia pindah, kakaknya itu selalu menelponnya tanpa alasan yang jelas. Tentu saja Sasuke yang sibuk dengan ujiannya tidak mempedulikan kakaknya.

Sasuke memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk tidur lagi. Namun, bel rumahnya yang terus berbunyi membuatnya kembali menggertakkan gigi. Sambil menggeram, sang Uchiha itu berjalan sambil menghentakkan kaki, membuka pintu rumahnya dengan kasar.

"Pergi sekarang ju… Naruto?!"

Pemuda pirang di depannya menaikkan sebelah alis. "Hoh… jadi begini caramu menyambut tetangga baru hah, teme?! Aku kecewa padamu!" Tangan Naruto sudah gatal untuk melempar kue pindahan di tangannya ke wajah Sasuke. Namun, Naruto langsung menyeringai puas ketika melihat wajah Sasuke yang mematung.

"Tetangga? Apa maksudmu?"

"Tetangga. Rinjin. Neighbour. Bonjour."

"Bonjour bukan tetangga, dobe."

"Peduli amat, itu satu-satunya kata prancis yang aku tahu." Naruto mendengus, langsung masuk ke dalam rumah Sasuke tanpa diundang. Dia meletakkan kue di tangannya di meja terdekat dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. "Capek sekali! Teme, aku mau minum jus. Kau ada minuman apa di sini?"

"Kenapa kau ada di sini?" Sasuke mengabaikan Naruto. "Kau pindah ke sini?"

"Kau kira apa? Tentu saja aku pindah di sini! Aku kan sudah diterima di Konoha University, dattebayo!" Naruto menepuk dadanya dengan bangga.

"Konoha University ada di Tokyo." Sasuke mulai bertanya-tanya ulat apa yang menggerogoti otak Naruto sekarang.

"Mereka ada cabang baru di Osaka. Kau tidak tahu?"

Sasuke terpaku. "Apa?"

"Kau benar-benar tidak tahu?!" Naruto melongo. "Kau terlalu sibuk untuk masuk Taka sih! Mereka baru saja buka cabang baru. Cuma murid-murid dengan nilai di atas rata-rata yang bisa masuk." Dia mendengus.

Sesaat, mata Sasuke terpaku pada kue tart tomat di meja itu.

Naruko.

"Kau… kau datang bersama siapa?"

Naruto menaikkan sebelah alis. "Siapa lagi kalau bukan… hei! Kau mau ke mana?!"

Pantas saja Naruko belajar dengan giat.

Pantas saja Naruko tidak peduli kalau Sasuke akan pergi ke Osaka.

"Naruko!" Dia menendang pintu rumah di sebelah rumahnya. Matanya terbelalak ketika dia melihat gadis berambut panjang yang sedang membereskan rumah.

"Hei, Sasuke! Ada a… ehmp!" Ucapan gadis itu terhenti ketika Sasuke memeluknya dengan erat. "Hei, aku keringatan loh." Dia menepuk punggung Sasuke, namun pemuda itu tidak melepaskan pelukannya.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan ke Osaka juga?" Sasuke berbisik pelan.

"Aku tidak mau bilang sampai aku pasti bisa masuk ke Konoha University yang ada di Osaka." Naruko tertawa. "Aku tidak yakin aku bisa lulus, tahu. Tapi ternyata aku lulus, dattebane! Setelah itu… Itachi tahu kalau aku mau ke Osaka. Soalnya aku minta bantuan dia untuk mencari rumah di apartemenmu ini."

Itachi sialan.

"Ini alasannya kenapa kau tidak histeris ketika tahu aku akan ke Osaka?"

Naruko tertawa lagi. "Iya. Tapi aku tetap merindukanmu. Kita sudah terpisah selama sebulan. Sudah kubilang kan? Aku cuma tahan berpisah padamu selama sebulan saja. Sebulan ini aku kangen sekali padamu."

"Bagaimana dengan kado perpisahan itu?"

"Jaga-jaga kalau aku tidak lulus."

Sasuke meringis, mengecup pipi Naruko. "Siapa yang mengurus pohon itu sekarang?"

"Tenang, pohon kan tubuhnya alami. Tiga tahun lagi pasti sudah besar." Naruko menaikkan sebelah alisnya. "Itachi bilang padaku untuk tidak memberitahu kau kalau aku sudah diterima di Konoha University di Osaka. Maaf, kau marah?"

Sasuke menggelengkan kepala. Dia kembali memeluk Naruko. Perasaan gembiranya membuat kemarahannya terhadap Itachi lenyap. Namun, itu tidak berarti kalau dia tidak akan balas dendam terhadap kakaknya. Diam-diam, dia mulai memikirkan cara seperti apa untuk membunuh Itachi. Namun, dia membuang pikirannya jauh-jauh ketika Naruko mengecup pelan pipinya.

Naruko ada di sini, di sisinya. Dan itu sudah cukup untuk meredamkan amarah Sasuke.


TBC

AN: chapter berikutnya akan jadi chapter terakhir :)