Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: alur cepat, time-skip, OOC, OC, typos, dll, dont like dont read! If you read it already and dont like it... thats too bad. Your fault :p

Very very SLIGHT ItachixfemKurama, NarutoxSakura.

AN: Makasih buat yang nunggu chapter terakhir ini! I had a great time writing this fiction :)

Makasih buat yang udah fave, review, alert dan semacemnyaa

thanks to...

anonchan, kirei-neko, yuuchan, maiiank maharonoo, Hyuuga Ara ET, Neerval-Li, zhegaa, Arum Junnie, Guest, Nanaki Kaizaki, hanazawa kay, DheKyu, Aristy, fajar jabrik, NaMIKAze Nara, Guest

Here's the last chapter. Enjoy! :)


24-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

"Marry me."

Naruko menaikkan sebelah alisnya. "Apa-apaan kau? Sok gaya orang Amerika. Sejak jadi pilot internasional kau melihat banyak adegan seperti ini?"

Sasuke menahan diri untuk tidak melompat dari jembatan. Dia menggertakkan gigi. Padahal posisi dan lokasinya sudah pas. Dia memang mengajak Naruko berjalan-jalan di Paris. Akhir-akhir ini Naruko sibuk bekerja sampai malam. Jadi susah sekali baginya untuk berlibur dengan Naruko. Namun, akhirnya saat yang tepat telah tiba. Sekarang mereka berdua sedang berdiri di depan Eiffel Tower. Sejak tadi dia memperhatikan Naruko. Wajah wanita itu berbinar-binar, menatap menara yang berkilauan dalam kegelapan malam. Naruko Namikaze sudah tidak pernah lagi menguncir rambutnya menjadi dua kunciran. Biasanya wanita itu menguncir rambutnya menjadi gaya ekor kuda. Namun karena malam ini dingin, Naruko tidak menguncir rambutnya, membiarkan rambutnya yang panjang menutupi syal yang diberi Sasuke.

Meski mempunyai panggilan 'raja-setan', Sasuke yang dingin itu ingin sekali-kali membuat Naruko menjerit-jerit girang seperti wanita normal lainnya. Memang, dia tidak suka dengan wanita yang menjerit-jerit ketika melihatnya, namun Sasuke ingin melihat Naruko menjerit girang karenanya. Makanya, setelah 'meminta ijin' dari Naruto, Naruto menyuruh Sasuke untuk berkonsultasi pada Sai, sang penulis buku 'Bagaimana Cara Membuat Wanita Tergila-Gila Padamu'. Sai menyarankan untuk melamar Naruko di tempat yang paling romantis di dunia.

Maka disinilah Sasuke, melamar dengan berlutut satu kaki sambil menyodorkan cincin berlian di depan muka Naruko. Tapi ternyata reaksi Naruko jauh berbeda dari apa yang dibayangkannya.

"Lagipula apa-apaan dengan 'marry me'? Kesannya kau memerintah begitu. Tapi yah… khas Uchiha sih. Kau seharusnya bilang 'will you marry me', dattebane!"

Sasuke benar-benar speechless. Dia masih menundukkan kepala. Tangannya masih terangkat, memegang cincin berlian yang sudah dibelinya dari setahun yang lalu.

"Hei… kok kau tidak menjawabku?"

Sasuke terpaku sesaat, menatap Naruko yang sekarang sudah berjongkok di depannya, menatapnya dengan sepasang mata biru yang bundar. "Aku sepertinya kelewatan ya…" Dia menggaruk kepalanya, wajahnya merona. "Sasuke…" Naruko meraih kantong di jeansnya. Dia menyodorkan sebuah kotak, menunjukkan cincin emas putih yang sederhana. "Emm… mungkin cincin ini jauh lebih murah dari cincin yang kau tunjukan tadi. Tapi aku kerja lembur untuk membeli ini…" Wajah Naruko memakin terbakar. "Maaf ya! Nii-chan tidak bisa menjaga rahasia dan bilang padaku kalau kau mau melamar! Jadi… aku pikir… aku juga mau melamarmu…" Naruko meringis. "Jadi Sasuke… will you marry me?"

Naruko benar-benar tidak bisa ditebak.

Wanita dengan kejutan nomor satu.

"Yes." Sasuke menjawab dengan nada parau. Dia membenturkan keningnya ke kening Naruko, mengecup pelan bibir kekasihnya.

"Aku juga yes deh!" Naruko tertawa.

Di detik kemudian, suara siulan dan tepuk tangan meriah dari orang-orang di sekitar mereka membuat Naruko melompat kaget. Wajahnya terbakar. Dia sama sekali tidak sadar bahwa semua orang memperhatikan mereka. Namun, rasa malu Naruko hanya berlangsung selama lima detik. Di detik kemudian, dia sudah melompat, menundukkan kepala sambil berseru-seru, "Thank you! Merci! Gracias! Xie xie!"

Sasuke perlahan-lahan beranjak, memutar bola matanya melihat tingkah Naruko. Sekarang, lelaki berambut raven itu sedang dilanda dilemma. Apakah dia harus berterima kasih pada Naruto? Atau membunuhnya?

xxx

Sasuke memang melamar Naruko. Tapi karena mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka memutuskan untuk menunda pernikahan mereka.

Sekarang, sang pilot muda itu sedang dilandai masalah yang sangat besar.

Sasuke memang melamar Naruko.

Naruko bilang 'yes'.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya adalah, Sasuke lupa meminta ijin Minato.

Memang, Sasuke sudah meminta ijin pada Naruto. Naruto itu adalah kakak yang paling protektif yang pernah dikenalnya. Jadi, meminta ijin dari Naruto itu sama sulitnya dengan membuat Itachi memakai bando berwarna pink. Setelah satu jam saling membentak (Naruto yang bentak-bentak, Sasuke hanya ber'hn'), beradu tinju, bertukar tendangan dan saling lempar bantal, akhirnya Naruto menganggukkan kepala.

Gara-gara Naruto setuju, Sasuke sudah terlanjur 'senang' dan melamar Naruko.

Lelaki raven itu lupa akan seorang ayah dengan 'penyakit' father-complex yang melebihi brother-complex-nya Naruto.

Jika meminta ijin dari Naruto sama susahnya seperti membuat Itachi memakai bando, maka meminta ijin dari Minato sama 'gila'nya seperti mencoba untuk membuat Fugaku memakai bando.

"Jadi." Minato mendelik, membuat Sasuke menggeser tempat duduknya satu senti lebih jauh dari Minato. "Kau melamar putriku?"

Sasuke mengangguk. Dia memperhatikan Minato sesaat. Dia bisa melihat kerutan di wajah dan kening Minato. Rambut Minato yang sebelumnya pirang itu sudah mulai memutih. Namun, sorot mata lelaki itu tetap tajam. Sejak tadi Minato melotot ke arah Sasuke. "Kau tahu kan kalau Naruko masih muda."

"Namikaze-san. Usia Naruko sudah cukup untuk meni…"

"Jangan memotongku."

Bukankah dia yang baru saja dipotong? Tapi di depan Minato, Sasuke yang judes itu memutuskan untuk menjadi pendiam dan penurut.

Demi Naruko. Demi Naruko.

"Kau akan tinggal di mana nanti kalau menikah dengan Naruko?"

"Di danau dekat sekolah." Sasuke mengingat pondok di dekat danau, tempat dia dan Naruko menghabiskan waktu bersama di masa sekolahnya dulu. "Di sana ada pondok. Rencananya dalam waktu setahun, Naruto akan mengubah pondok itu dengan design yang dibuatnya."

Naruto menjadi arsitek. Sampai sekarang Sasuke tidak bisa percaya.

"Aku sudah melihat design-nya." Minato menyeruput tehnya, namun matanya tidak pernah lepas dari mata Sasuke. "Rumahnya terlihat besar. Kau mau menjadikan rumah itu rumah tingkat dua kan?"

"Iy..."

"Kau tahu kalau Naruko hamil nanti dia akan susah naik tangga?"

Apa?

"Tantang hal itu…"

"Bagaimana dengan bersih-bersih rumah? Siapa yang akan membersihkan rumah sebesar itu?" Minato memotong lagi.

Sasuke yang berego tinggi itu mulai menggertakkan gigi. "Aku akan menyewa pemban…"

"Pembantu? Hah. Mau jadi suami macam apa kalau kau tidak bisa mencuci baju atau mengepel lantai? Bagaimana dengan memasak? Apakah kau mengharapkan Naruko untuk memasak setiap hari?"

Tentu saja dia tidak akan membuat Naruko memasak. Wanita itu parah dalam memasak makanan lain. Naruko cuma hebat memasak makanan yang manis-manis seperti cake. Bisa-bisa Sasuke yang benci makanan manis itu tewas kalau setiap hari dia membiarkan Naruko memasak. "Sebenarnya, selama ini aku yang memas…"

"Selain itu, bagaimana dengan…"

"DIAM, Minato! Sejak umur Sasuke tujuh tahun, aku sudah tahu kalau suatu hari nanti dia akan melamar Naruko dan aku menyuruhmu siap-siap! Di mana nyali-mu, dattebane?!" Suara bentakan Kushina dari dapur membuat mulut Minato terkatup rapat.

Sesaat, Minato dan Sasuke hanya saling menatap tanpa bicara apa-apa. Sasuke sudah menahan senyuman mengejeknya sejak tadi. Ternyata Minato tidak pernah berubah. Tetap menurut perkataan istrinya. "Kapan kalian akan menikah?" Minato akhirnya bertanya.

"Belum tahu. Kami mau berkonsultasi padamu dulu." Sasuke menjawab dengan jujur.

Mendengar itu, Minato menghela napas lega. Perlahan-lahan, senyumannya muncul. "Naruko terkadang bisa kambuh jiwa isengnya. Jadi kau harus siap-siap."

"Naruto tidak bercerita padamu apa yang Naruko lakukan ketika aku melamarnya?"

Minato menyeringai lebar. "Itu belum apa-apa. Jangan kabur kau kalau suatu hari dia menukar semua garam dengan gula dan menukar semua tomat di kulkas dengan coklat dan ramen."

Sasuke memucat sesaat.

Melihat raut wajah Sasuke, Minato tertawa. Namun, perlahan-lahan, tawanya menghilang. "Kau tahu, Sasuke-kun. Aku menyukaimu. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri."

Sasuke terdiam. Dia teringat akan kenangan Minato yang mengajaknya memancing, mengajarinya berenang, bermain di pantai… Minato adalah 'ayah' yang tidak pernah dia miliki. "Hn."

"Aku juga tahu kalau kau akan melamar Naruko suatu saat. Tapi… aku tidak siap, kau tahu…" Minato tertawa pelan. "Aku tidak pernah meragukanmu. Tapi… terkadang aku berpikir, apakah kau calon suami yang baik untuk Naruko. Calon yang baik untuk… anak Naruko."

Sasuke tidak menjawab. Dia tahu apa maksud Minato. Sejak kecil, Sasuke dibesarkan dengan keras. Dia tidak tahu dengan yang namanya kasih sayang dari ayah. "Aku tidak tahu cara menjadi ayah yang baik." Sasuke mulai berbicara.

Dia pernah membayangkan dirinya menjaga anak kecil.

Bayangan itu terlalu mengerikan sehingga dia tidak pernah mengingat-ingat hal itu lagi.

Bagaimana kalau dia menjadi seperti Fugaku? Menelantarkan anaknya? Melupakan istrinya? Dia teringat akan Mikoto yang setiap malam menangis. Teringat akan raut kebencian di wajah Itachi.

"Namun, Naruko bilang padaku kalau semuanya akan baik-baik saja. Naruko akan menjadi ibu yang menutupi kekuranganku. Dan aku akan menjadi ayah yang menutupi kekurangannya."

Minato terdiam sesaat. "Kau tahu, itu kalimat terpanjang yang kudengar dari mulutmu." Dia tersenyum, memainkan cangkir tehnya. "Meski aku menyayangi putriku, kali ini aku harus setuju kalau Naruko punya banyak kekurangan. Dia tidak punya rasa tanggung jawab. Dia akan sulit untuk mengajari anak-anak kalian cara bertanggung jawab. Aku selalu cemas bagaimana dengan sifat cucuku nanti." Minato meringis. "Tapi aku sudah bisa tenang. Ada kau, Sasuke."

"Kau tidak cemas kalau cucumu akan menjadi sepertiku?"

Minato mendengus. "Masa? Pendiam? Judes? Dingin sepertimu?" Minato tertawa. "Tidak mungkin. Naruko akan membuat anak itu menjadi anak yang banyak omong. Astaga. Jangan-jangan nanti akan menjadi gabungan kalian berdua? Banyak omong dan judes?"

Sasuke menyeringai. "Mungkin." Bayangan anak berambut hitam bermata biru yang judes sekaligus banyak omong membuat dadanya terasa hangat.

"Sasuke, aku tidak tahu anak 'menggemaskan' seperti apa yang akan kalian berdua hasilkan…" Minato tersenyum, menatapnya lekat-lekat. "Tapi aku akan menyayangi anak itu, tidak peduli bagaimana sifatnya."

Lelaki berambut raven itu hanya terdiam. Dari semua kalimat yang ingin diucapkannya, tidak ada satu pun yang keluar. Tenggorokannya terasa tercekat. Dia tidak mau kalau suaranya bergetar. Mau bagaimana lagi, ego Uchiha-nya terlalu tinggi. Namun, Minato mengerti Sasuke lebih dari yang Sasuke kira. "Jadi intinya, aku setuju akan pernikahan ini." Dia tersenyum. "Dengan syarat, kau memberiku cucu secepatnya. Aku mau minimal tiga." Minato mengulurkan tangan. "Deal?"

Sasuke meringis. "Deal." Dia menjabat tangan Minato.

Dari balik dapur, Kushina mengintip dan menguping semua percakapan suami dan calon menantunya. Wanita setengah baya itu tersenyum girang, cepat-cepat mengirim SMS pada Naruto.

To: Naruto
From: Ibumu yang pengertian
Subject: Melamar

Semuanya sukses. Sasuke berhasil merebut hati ayahmu. Sekarang, giliranmu merebut hati Kizashi Haruno.

Cheers! ;)

Kushina cekikikan. Dia bisa membayangkan sosok Naruto yang sekarang sudah kalang kabut meminta saran dari Sasuke.

xxx

26-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

Wanita hamil itu akan menjadi dua kali lipat lebih mengerikan.

Sasuke sudah mendengar kalimat itu dari banyak orang. Minato, Itachi, Kiba, dan Shikamaru. Tapi, mendengar saja tidak cukup. Dia benar-benar mengerti setelah menjalaninya.

Menghadapi Naruko yang hamil itu seperti menghadapi tsunami dari depan, tornado dari belakang.

Naruko menjadi dua kali lebih cerewet.

Dua kali lebih rakus.

Dua kali lebih galak.

Lima kali lebih jahil.

Pagi ini dia bangun tidur dengan rambut pink.

Pink.

Sasuke menggertakkan gigi, menundukkan kepala sambil membenarkan posisi topi pilot di kepalanya.

"Rambut baru, kapten?" Suigetsu, asisten kapten, menaikkan sebelah alis.

Naruko, kau harus bahagia karena aku mencintaimu lebih dari mencintai nyawaku sendiri. Kalau tidak kau tidak akan hidup untuk melihat hari esok.

Sasuke yang malang hanya bisa menggeram dalam hati.

xxx

27-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

Semua pengorbanan menjalani sembilan bulan dengan rambut pink, biru, dan ungu itu akhirnya terbalas juga.

Sasuke terpaku, menatap bayi laki-laki yang dengan sejumput rambut hitam. Bayi itu menguap, perlahan-lahan membuka matanya, menatap Sasuke dengan sepasang mata biru yang jernih. Mata Naruko. Biru langit.

"Apa kubilang. Dia cowok." Naruko cekikikan. Dia terlihat lelah. Setelah menyusui bayinya, dia langsung tertidur pulas.

Sasuke tidak tidur malam itu.

Dia menghabiskan malam itu memperhatikan putra pertamanya, Sora Uchiha.

xxx

30-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

Sora Uchiha menjadi anak pertama yang dimanjakan semua orang di sekitarnya. Mau bagaimana lagi. Dia satu-satunya Uchiha yang bisa memanyunkan bibirnya. "Paman Itachi. Mau permen." Dia memanyunkan bibir, menatap pamannya dengan mata biru selebar bola pingpong.

Itachi langsung membelikan keponakannya coklat dan permen lollipop termahal.

"Dia memang anakku." Naruko tersenyum bangga, mengusap rambut hitam Sora.

"Mama, untukmu." Sora tersenyum lebar, menyuapi sepotong coklat di mulut Naruko.

"Benar-benar anakku, dattebane!" Naruko menjerit girang, menciumi anaknya tanpa henti.

"Mama, jorok. Jangan cium aku dengan mulut belepotan coklat." Sora mengerutkan kening, meraih tissue, membersihkan pipinya yang terkena noda coklat, membuat ibunya melongo.

"Kau bilang apa, Naruko?" Sasuke meringis, mengintip dari balik koran. Ayah muda itu mengusap rambut Sora yang sekarang duduk di pangkuannya, membuat Naruko mendelik.

"Biarin! Akan kumakan semua coklatmu, Sora!"

"Nanti Mama makin gendut."

"APA, dattebane?!"

Benar-benar anakku. Sasuke tersenyum simpul.

xxx

33-YEAR-OLD

.

.

.

.

.

Ciri khas seorang Uchiha adalah berambut hitam, bermata hitam, dingin bermuka patung.

Sasuke tahu bahwa Fugaku menginginkan cucu yang seperti itu. Itu alasan pertama kenapa dia tidak pernah membawa anak-anaknya ke rumah kediaman Uchiha. Mikoto nyaris setiap hari datang main ke rumahnya, mengunjungi cucu-cucunya. Namun, untuk pertama kalinya, Mikoto meminta pada Sasuke supaya Sasuke mau membawa Sora dan Aoi ke rumah utama.

"Fugaku mau melihat cucu-cucunya." Mikoto berujar pelan. "Dia tidak pernah bilang, tapi dia mau melihat Sora dan Aoi. Dia mencoba menyembunyikan hal itu dariku, tapi Ibu tahu kalau dia terkadang membuka album Sora dan Aoi. Kau kan tahu Ibu suka menyimpan foto mereka?"

Sasuke tidak pernah mengunjungi ayahnya sejak pernikahan dia dan Naruko.

"Ada Sano kan?" Sasuke dengan sengaja tidak menatap mata ibunya. Sano adalah putra Itachi. Menurut cerita Mikoto, Fugaku menyukai anak itu. Sano tidak kalah dingin dari Itachi. Atau lebih tepatnya, di depan Fugaku, Sano menjadi sangat dingin. Bocah berambut hitam jabrik itu selalu menjahili Sasuke, bersama-sama dengan Chiyo, putri Naruto yang tidak kalah jahil.

"Kumohon, Sasuke."

Ibunya tidak pernah memohon padanya.

xxx

"Kau tahu, kita harus mengunjungi ayahmu sesekali." Naruko menguncir rambut hitam Aoi. "Siapa tahu dia akan luluh melihat keimutan anak-anak kita."

"Kau tidak tahu seperti apa…"

"Sasuke." Naruko menempelkan bibirnya di bibir Sasuke, memotong ucapan suaminya. "Fugaku akan menyukai mereka."

Sasuke tidak mau percaya dengan Naruko. Namun mereka tetap datang di kediaman ayahnya. Fugaku tidak seperti apa yang diingatnya. Kerutan di wajah ayahnya menjadi semakin banyak. Rambut yang dulu hitam nyaris memutih seluruhnya.

Sasuke tidak tahu harus bicara apa. Dia mengalihkan tatapannya dari mata Fugaku. Tangan kirinya menggandeng tangan Sora. Aoi di tangan yang kanan. Dia mempererat genggamannya, tidak mau melepaskan anak-anaknya. Dia tidak tahu apa yang akan Fugaku perbuat pada kedua anak yang sangat dia sayangi ini.

"Hai, Ayah!" suara jeritan Naruko yang ceria membuat Sasuke tersentak. "Aku bawa kue buatanku sendiri. Mau coba?"

Fugaku tidak menjawab. Hanya mendelik ke arah Naruko.

"Aku yakin kau suka. Aku bawa ke dapur ya." Dia menyeringai. "Bocah-bocah, jangan bandel. Oke?" Dia mengedipkan mata ke arah dua anaknya. Sesaat, Naruko bertemu mata dengan Sasuke. Wanita itu tersenyum lebar, seakan-akan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja.

Sasuke memutuskan untuk percaya pada istrinya.

Pelan-pelan, dia melepaskan tangan Sora dan Aoi. Aoi, putrinya yang masih berusia tiga tahun itu langsung mendekati Fugaku, membuat Sasuke menahan napas. "Kamu kakekku?" Aoi mendekati Fugaku tanpa takut. Mata birunya menatap Fugaku dengan rasa penasaran.

Fugaku mengangguk.

"Kenapa rambutmu putih semua?"

Fugaku tidak menjawab, hanya memperhatikan Aoi.

"Papa juga punya rambut putih. Ada lima helai!" Aoi membentangkan lima jarinya. "Itu karena…" Aoi mengerutkan kening. "Sete… strre… see…"

"Stres." Sora memotong. Bocah enam tahun itu memutar bola matanya.

"Iya! Seteres." Aoi menganggukkan kepala dengan wajah serius. "Kakek seteres ya? Kata Mama harus banyak istirahat. Nanti rambutnya bisa hitam lagi." Dia tersenyum lebar.

"Atau, tinggal dicat saja." Sora kembali memotong.

"Mau cat warna apa? Ao yang cat ya. Pink boleh?" Aoi menatap Fugaku dengan mata bersinar-sinar. "Papa tidak keberatan aku cat rambutnya dengan warna pink."

Kalau ada lubang di depannya, Sasuke sekarang akan lompat ke lubang itu.

Fugaku hanya terdiam kaku. Tangannya masih terselip di balik kimono. "Mau ke taman? Ada ikan koi." Lelaki itu berujar pelan.

"Mau!" Aoi berseru semangat. Dia mengangkat kedua tangannya, melompat-lompat. Fugaku menganggukkan kepala. Dia mengulurkan tangannya dan tanpa ragu, Aoi menggenggam tangan Fugaku. Fugaku melirik ke arah Sora yang tetap berdiri di sisi Sasuke. Lelaki setengah baya itu mengulurkan tangannya ke arah Sora. Bocah enam tahun itu menatap Sasuke sesaat, seakan-akan meminta ijin pada ayahnya. Sasuke mengangguk. Di detik kemudian, Sora berjalan mendekati Fugaku, menggenggam tangan yang satu lagi.

Malam itu, Sora dan Aoi pulang dengan senyuman lebar di wajah mereka. Sora dibelikan mainan robot yang diinginkannya, raket tenis dan bola basket. Aoi mendapat semua boneka Barbie yang dia tunjuk. Selain hadiah-hadiah itu, dua bocah itu dengan bahagia menenteng coklat-coklat dan permen yang saking banyaknya bisa menghidupi satu kampung kecil di Afrika selama sebulan.

"Apa kubilang. Monster salju juga pasti meleleh melihat mereka berdua." Naruko meringis. "Lihat apa yang ayahmu beri untukku!" Naruko tertawa, memamerkan kimono biru yang terlihat mahal. "Aku akan pakai ini di kunjungan yang berikutnya. Kau suka hadiah dari ayahmu?"

Sasuke tidak menjawab, masih menatap Naruko dengan tatapan salut. "Kau tahu, terkadang aku benar-benar tidak bisa menebakmu, Naruko."

"Apa maksudmu, hah?" Istrinya mendengus. "Hahh, payah deh. Sudah tambah satu lagi kakek yang akan memanjakan dua bocah itu. Kau lihat saja. Mereka berdua akan menjadi bocah yang termanja dan tergendut yang pernah kau lihat."

Sasuke meringis, menggelengkan kepala.

Di hari berikutnya, Sasuke kembali kerja seperti biasa. Namun di balik jas pilotnya, terselip dasi biru pemberian Fugaku.

xxx

Sasuke Uchiha berbaring di dekat danau. Dia membuka matanya, menatap langit biru yang terhampar di depannya.

"Kau memikirkan apa?" Naruko mendekati Sasuke dengan senyuman lebar di wajahnya. Wanita itu terbaring di samping suaminya, menatap langit. "Kau tahu, pertama kali aku melihatmu, aku kira kau ini anak aneh. Orang mana yang suka melihat langit?"

Sasuke mendengus. Namun, dia tidak menjawab. Kalau Naruko tahu alasan kenapa Sasuke terobsesi pada langit biru, bisa-bisa istrinya itu tertawa terbahak-bahak.

Sasuke melirik ke arah rumahnya. Mikoto dan Kushina sedang tertawa, bergosip sambil memasang balon-balon di sekitar rumah. Fugaku dan Minato sedang berada dalam percakapan serius. Mereka berdua saling mengacungkan pakaian anak perempuan. Sasuke memutar bola matanya. Dari apa yang dia lihat, pasti kedua kakek itu sedang berdebat akan pakaian apa yang Aoi harus kenakan nanti malam di pesta ulang tahunnya yang ke-empat.

Itachi sedang mengusap perut Kurama yang sudah bulat sekarang. Mau tidak mau Sano harus belajar caranya untuk menjadi kakak. Bocah itu mengotot tidak mau punya adik. Sepertinya dia trauma akan Sora dan Aoi yang selalu bisa menarik hati orang dewasa dengan cara-cara 'licik' mereka.

Sakura sedang membacakan cerita untuk Chiyo. Naruto yang biasanya super berisik itu menyeringai tidak ada hentinya, memperhatikan istri dan putri kesayangannya.

"Rumah kita ramai ya?"

"Berisik." Sasuke mendengus. Tanpa sepengetahuan Naruko, lelaki berambut raven itu tersenyum tipis.

"Kau tahu… Aoi bilang padaku kalau dia mau mencoba untuk menjadi kakak. Anak itu semakin lama semakin licik saja. Kau tahu tidak kalau dia sengaja memanyunkan bibirnya, menatapku dengan lebar-lebar. Sora bahkan mengajarinya untuk meneteskan air dulu di matanya! Kau bisa bayangkan tidak, dattebane?!"

"Lalu?" Sasuke mengangkat kepalanya, meringis.

"Lalu…" Naruko berhenti berceloteh. Wajahnya merona. "Bagaimana menurutmu kalau kita punya Uchiha bermata biru lagi?"

"Kenapa tidak?" Sasuke mengangkat bahu. "Toh, aku sudah janji dengan ayahmu. Minimal tiga."


THE END

AN: seperti yang kubilang, i had a great time writing this. hahaha

aku suka cerita ini :) dan moga2 para reader suka jugaa

SPECIAL THANKS buat guest tanpa nama yang udah kasih saran buat interogasi. HAHAHA! Aku beneran ngakak pas baca review dari dia. Saran dari guest itu adalah Minato menginterogasi Sasuke di masa pacaran.

Oke, kenapa tidak? Idenya bagus. haha! Tapi aku jadiin pas udah mau kawin. Makasih ya Guest! :D

yaah, segitu dulu, Makasih atas dukungannya selama ini ya readers! :D

Sampai jumpa di fic yang lain :)