Saya bukan pemilik Naruto atau One Peice!

Naruto The White Tiger – Chapter 2


-7 Tahun Setelah Eksekuse Raja Bajak Laut, Gol D. Roger-

~Negeri Wano, Dunia Baru~

Negeri Wano berada dalam kawasan laut di Dunia Baru, dan memiliki kawasan pulau yang cukup luas. Hamparan hutan rindang masih mengelilingi bagian pulau tempat negeri ini berdiri, serta beberapa gunung dan dataran tinggi menghiasi lapisan daratan negeri ini. Negeri Wano diperintah oleh sistem Keshogunan, pemerintahan diktator selayaknya pemerintahan kerajaan.

Negeri Wano terdiri dari beberapa kota sebagai pusat aktifitas masyarakat, mengingat luasnya wilayah nageri. Salah satu kota tersebut adalah Niigata, yang berlokasi di dekat tepi laut. Kota ini cukup ramai, karena sebagai tempat utama bersandarnya kapal-kapal yang pemiliknya ingin memasuki negeri ini.

Negeri Wano merupakan negeri yang berada di luar kendali Pemerintahan Dunia, negeri independen tempat para samurai terkuat di dunia. Penduduk negeri ini umumnya menggunakan pakaian kimono dan memiliki rambut yang di kuncir pada bagian atas atau belakang.


~Perbukitan Kin, Wilayah Kota Niigita, Negeri Wano, Dunia Baru~

TRANG

TRANG

TRANG

Sara besi yang saling terbentur.

"Pompa kembali, Bocah!" Perintah Pria paruh baya, yang sedari tadi sedang memukuli lempengan besi panas di depannya.

Pria paruh baya itu memiliki tubuh yang tinggi dan kekar, dengan rambut hitam panjang yang dikuncir. Memiliki mata beriris merah, wajah yang mulai menunjukkan sedikit kekeriputan, peluh bercucuran membasahi kulit wajahnya karena terlalu lama berada di dekat panas api. Menggunakan kimomo pendek berwarna abu-abu dengan bagian lengannya diikat oleh kain untuk menggulungnya dan dililitkan pada leher bagian belakang. Celana panjang sampai di atas mata kaki berwarna sama dengan kimono yang dipakai. Dia adalah Miyamoto Kyo seorang samurai hebat pada masanya yang memilih menjadi pandai besi di hari tuanya.

"Ya... Ya... Pak Tua." Sahut Sang Bocah setelah menerima perintah dari Pria Tua itu. Sambil menarik tuas pompa bambu, untuk meniup tungku yang penuh dengan api membara agar membuat api labih besar sehingga panas tungku bertambah.

"Kenapa aku melakukan ini lagi? Lebih baik aku keluar dari sini dan melatih tubuhku serta teknik pedangku." Gerutu bocah yang umurnya sedang menginjak tahun ke-9.

Bocah memiliki rambut putih/silver panjang hingga di punggungnya, dan diikat pada bagian belakang lehernya, serta cambang rambut yang panjang di bagian depan telinganya juga diikat. Bocah ini menutupi dahinya dengan mengikatkan kain putih (menyerupai rambut Ootsutsuki Ashura hanya saja bagian belakangnya menyerupai milik Jiraiya), bermata biru, serta berkulit tan dan memakai pakaian versi kecil yang dipakai Pria Tua tadi.

"Tch... kalo tidak ikut bekerja ditempatku ini, kau sudah mati kelaparan diluar sana Bocah." Tukas Kyo sambil menghentikan pukulannya pada besi panas di depannya dan mulai menyiraminya dengan air. Dia teringat kembali bagaimana pertemuannya dengan Bocah keras kepala di dekatnya itu.

Saat itu adalah tahun ke-3 sejak Miyamoto Kyo berhenti bergabung dengan kemiliteran samurai di Negeri Wano semenjak kematian istrinya Miyamoto Yoshi, dan menekuni kehidupannya sebagai pandai besi. Kyo dan Yoshi tidak dikaruniai keturunan lagi semenjak kegagalan kandungan istrinya pada saat masih muda, hingga hari kematiannya akibat penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter.

Hari itu Kyo berniat menikmati indahnya matahari tenggelam di tepi pantai, tempat biasanya dia meghabiskan waktu sore bersama istrinya, Yoshi. Akan tetapi hal itu terhenti saat Kyo melihat seorang pria di atas peraku kecil menuju kearah yang di tempatinya, mengenakan seragam Angkatan Laut yang hancur. Kyo berniat mengabaikannya, karena dia tahu pemilik peraku kecil itu adalah anggota organisasi yang dilarang masuk ke Negeri Wano.

Sampai Kyo menyadari bahwa pria di perahu itu tidak sendiri, suara tangisan bayi yang membuat keputusan awalnya berubah dan segera menolong menepikan perahu. Di situlah pertama kali Kyo bertemu dengan bocah asuhannya.

Bayi bocah itu berada di pelukan ayah kandungnya yang mendapatkan luka parah. Pria berumuran sekitar pertengahan 30, bernama Panther D. Kato yang memiliki rambut hitam pendek, dan mata biru seperti yang dimiliki anaknya. Menggunakan seragam Angktan Laut yang compang camping, dan jubah dengan tiga garis hitam pada bagian pangkat jubah yang berlatarkan warna merah. Menunjukkan bahwa Kato berpangkat Wakil Admiral saat itu.

Kato menyampaikan bahwa ingin menamai bayinya dengan nama Panther D. Lightning Naruto, karena dalam pertarungannya yang terakhir dia diselamatkan oleh pusaran air laut yang besar (Maelstrom) sehingga bisa meniggalkan pertempurannya dan membawa anaknya yang baru lahir ketempat aman. Kato sempat memberikan Kyo fotonya bersama seorang wanita cantik berambut putih/silver seperti Naruto, dengan mata violet gelap dan berkulit tan dari saku jubahnya. Sebelum kematiannya, Kato sempat mengatakan bahwa ibu dari Naruto bernama Lightning Masa. Serta meminta Kyo agar menyampaikan kepada Naruto untuk mencari wanita bernama Shakuyaku jika nantinya ingin mendengar cerita tentang ibunya. Sebelum Kyo pergi membawa bayi Naruto kerumahnya, dan menguburkan Kato dia melihat kotak kecil yang biasa dijadikan tempat penyimpanan harta di atas perahu kecil yang dinaiki Kato tadi.

"Ya... Ya... Kau tidak perlu mengatakan hal itu lagi Pak Tua." Naruto memperlambat pemompaan yang dilakukannya.

"Makanya jangan menanyakan hal yang sama juga setiap kali kau ada di tempat kerja ini, Bocah!"

TRANG

TRANG

Kyo mulai menempa batang emas lagi setelah tersadar dari lamunannya.

"Tch..." Naruto mendecih sambil mengingat bagaimana dia bisa berada di dimensi ini, dan bagaimana dia harus menjadi pekerja Pak Tua Kyo di depannya.


-3 Tahun Setelah Perang Dunia Shinobi ke-4, 3 Hari Setelah Kepulangan Uzumaki Naruto Dari Perjalanan Latihan-

~Kantor Hokage, Konohagakure no Sato, Fire Country, Element Nation~

"APA?" Terdengar teriakan kencang dari tower Hokage, bahkan sejenak sempat menghentikan kegiatan keseharian penghuni di sekitar bangunan tersebut.

Di ruang Hokage telihat pemuda berambut kuning berdiri di hadapan sang Pemimpim Desa, pemuda tersebut terlihat terkejut dan marah. Duduk di kursi, di depan pemuda kuning itu adalah Hokage keenam Hatake Kakashi. Serta seseorang lagi berdiri di belakang bagian kanan sang Hokage keenam, Senju Tsunade mantan Hokage kelima.

"Tenanglah Naruto!" Sang Hokage berusaha menenangkan Ninja Penuh Kejutan yang berdiri di depannya itu. "Aku bisa menjelaskan kenapa memutuskan hal ini. Keputusanku juga sudah tidak bisa di ubah, walaupun tadi sempat terjadi perselisihan di ruang pertemuan bersama tetua." Sang Pimpinan Desa ninja itu mencoba meyakinkan pemuda tadi bahwa keputusannya sudah mutlak.

"Jadi apa alasanmu Hokage-sama?" Naruto memasang wajah serius, dan tetap berusaha menenangkan dirinya dari kemarahannya. Dia tidak ingin melakukan hal yang mungkin akan dia sesali nantinya.

"Tenangkan sedikit dirimu Naruto!" Tsunade terlihat sedih sambil melirik pewaris kursi Hokage miliknya setelah mendengar ucapannya dengan nada yang sedikit tinggi.

Sedangkan Naruto hanya memandang pasif, tanpa menunjukkan keceriaan yang biasanya.

"Naruto," Hokake keenam memulai pembicaraan sambil mepernyaman duduknya, mencondongkan badannya ke depan dan menggunakan siku tangannya sebagai sandaran, kedua jari-jari tangan saling mengisi celah-selahnya. "Setelah melihat perkembanganmu semenjak kembali dari latihan, aku merasa kau belum siap. Hokage tidaklah harus ninja yang terkuat, tetapi ninja yang mampu memikirkan apa yang harus dilakukan untuk memajukan desa, mampu menangani politik baik di dalam maupun di luar desa. Cerdas dan memiliki kesabaran yang tinggi, apalagi sekarang kita dalam keadaan damai. Dan kau belum memiliki itu semua." Kakashi memandang serius murid didikannya itu.

"Tch... belum siap?" Naruto mendecih sambil memandang mantan gurunya dengan pandangan tidak percaya, serta tangan yang tergenggam erat. "Katakan saja kau tidak ingin memilihku dan tidak mempercayaiku. Kau memilih Sakura karena dia cerdas, tetapi aku bisa menggunakan penasehat untuk membantuku mempelajari yang tidak kuketahui. Kau memilih Sakura karena dapat menangani masalah politik desa, sedangkan sebagian besar aliansi Konoha dengan desa lain itu terjadi karena jasaku. Gadis yang mau melakukan apapun demi perhatian seorang pria, bahkan berniat meninggalkan desa dikatatakan lebih pantas menjadi Hokage?" Naruto beranjak meninggalkan ruang Hogake, tanpa sadar melepaskan sebagian chakranya karena marahannya.

KRAK

KRAK

Lantai kayu milai retak karena chakra yang dilepaskan oleh naruto.

"Dan soal kesabaran, coba lihat berapa kali laporan Sakura menghancurkan bangunan di Konoha? Tch..." Naruto menutup pintu kantor Hokage, meninggalkan Hokage yang hanya diam dan menatap perginya sang murid.

Naruto segera kembali ke apartemennya begitu meninggalkan ruang Hokage, kepalanya mulai terasa pusing setelah mendengar berita yang di sampaikan sang Hokage.

Naruto membaringkan badan ke kasur miliknya, kemarahannya sudah mulai mereda. Dia sempat berpikir jika kepergiannya berlatih di gunung Myoboku selama enam bulan sia-sia saja. Ditambah lagi dengan satu tahun berlatih seni berpedang di Negeri Besi.

Baru saja dia bisa menerima keputusan Hinata untuk menerima lamaran Kiba, sekarang impiannya juga direnggut. Dulu dia berfikir dengan diangkatnya gurunya menjadi Hokage, dia bisa berlatih dan menjadi lebih kuat lagi agar bisa melindungi orang-orang yang berharga untuknya. Mempersiapkan diri untuk menjadi hokage, tetapi sepertinya hal itu tidak cukup dihadapan Sang Guru. Rencana berlatih untuk menjadi kuat karena tidak ingin lagi kehilangan orang-orang berharganya seperti Hyuuga Neji dulu, justru kehilangan impiannya serta gadis yang mulai mengisi hatinya.

Naruto bangkit dari kasurnya dan mengambil posisi meditasi, sepertinya dia ingin perlu nasehat kepada temannya yang bersifat netral terhadap permasalahannya. Tidak lama kemudian sekeliling mata Naruto mulai berwarna oranye, menandakan dia telah telah menyerap energi alam.

-oOo-

-Kawasan Yang tidak Diketahui-

"Suzaku." Naruto menatap mahkluk yang hanya dianggap legenda oleh manusia.

Naruto melihat burung yang bulunya menghasilkan kobaran api berwarna emas, memiliki ukuran tubuh lebih besar dari pada Gamabunta sang Pemimpin Klan Hewan Katak. Makhluk tersebut merupakan burung Phoenix atau Vermillion, salah satu hewan Penjaga Keseimbangan Dunia.

Pertemuan pertama mereka terjadi karena Naruto bermaksud tidak hanya menyerap energi alam, tetapi menyatukannya dengan chakra miliknya. Dia berharap hal itu dapat memperkuat chakranya setelah energi alam dilepaskan dari dalam tubuhnya. Sehingga dia dapat memiliki kekuatan chakra setara dengan saat berada dalam Mode Petapa, bila chakra dalam tubuhnya menyatu dengan chakra alam dan berharap dapat mempermudah saat menyerap energi alam lagi.

Setelah itu tubuh bagian dalam milik Naruto terasa seberti terbakar, dan membuat Naruto menghentikan rencananya. Saat Naruto membuka matanya dia sudah berada di hadapan Suzaku, dan meminta Naruto menjelaskan kelancangannya memasuki wilayah penjagaannya. Setelah itu Suzaku menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Naruto merupakan tindakan berbahaya, karena dapat membunuhnya. Kalaupun hal itu berhasil maka dia tidak akan lagi menjadi manusia.

Sejak saat itu Naruto sering mengunjunginya sekedar untuk berbagi pengalaman kehidupan, dan menemani Suzaku. Seperti sekarang ini, menceritakan permasalahannya berharap sang teman mampu memberikan saran dan jalan keluar.

"Lama tidak berkunjung Naruto." Ini memang sudah beberapa bulan sejak terakhir kali Naruto mengunjungi Suzaku, terakhir setelah menceritakan masalah Hinata yang menerima lamaran Kiba.

"Yah," Suzaku dapat melihat Naruto tidak lagi bersemangat seperti bisasanya saat berkunjung. "Apa kau punya waktu untung mendengarkan ceritaku, dan aku mohon bantuanmu untuk mencari solusi yang baik, karena kau berada dalam keadaan netral." Naruto memandang Suzaku penuh harap.

"Hem..." Naruto dapat melihat temannya seakan memikirkan sesuatu. "Saat ini aku memiliki banyak waktu untukmu Naruto, jadi apa yang terjadi? Mulailah dari awal cerita seperti biasanya." Suzaku menundukkan kepalanya, menatap Naruto.

"Ini masalah setelah aku pulang ke Konoha..."

-oOo-

Naruto membuka kembali matanya dan segera berdiri, dia beranjak meninggalkan tempat tidurnya' dan mempersiapkan semua apa yang diperlukan untuk rencana yang dibuatnya bersama Suzaku. Setelah semuanya selesai, dia meninggalkan apartemennya dan menuju Kantor Hokage.

Saat Naruto membuka pintu kantor Hokage, dia dapat melihat bahwa Hokage keenam sedang mendiskusikan sesuatu dengan beberapa orang, termasuk rekan setimnya yang ditunjuk menjadi Hokage ketujuh, Haruno Sakura.

"Oh," Naruto mulai mundur untuk menutup pintu kantor kembali. "Aku akan datang saja lagi nanti."

"Tidak masalah Naruto, masuklah!" Kakashi masih memantap naruto sejak terbukanya pintu kantornya. "Urusan kami juga sudah selesai. Jadi ada keperluan apa kau menemuiku sekarang?" Lanjutnya sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Hem..." Naruto menatap semua orang di ruangan Hokage. Mulai dari nenek Koharu, Kakek Homura, ketua Klan Hyuuga Hiashi, rekan setimnya Haruno Sakura dam kembali ke arah Hokage. "Karena aku sudah tidak diperlukan lagi di desa saat ini, maka aku akan menggunakan hakku sebagai murid Jiraiya dan setatus sebagai pahlawan PDS-4 untuk meninggalkan desa dan melakukan pengembaraan seperti guruku dulu." Semua yang mendengarkan pernyataan Naruto hanya bisa melebarkan matanya karena keterkejutan.

"Apa kau serius Naruto?" Kakashi menatap tajam Naruto, " Aku tidak bisa memberikan izin padamu untuk meninggalkan desa lagi Naruto, kau baru saja kembali. Kami membutuhkanmu dalam beberapa misi." Ucap sang Hokage dengan nada serius, Kakashi bermaksud Naruto memahaminya.

"Yah..." Celah Sakura, "...Memangnya kenapa kau mau pergi? Jangan hanya karena tid..." Sakura menghentika perkataannya saat chakra Naruto mulai keluar dan aura membunuh memenuhi ruang kantor Hokage. Semua yang ada di ruangan itu mulai sulit bernapas, terutam Sakura.

"Bagus jika kau bisa diam, aku sedang berbicara dengan Hokage." Naruto menatap tajam Sakura, dan mulai menarik kembali chakranya.

"Kau tidak perlu malakukan hal seperti itu Naruto!" Kakashi yang sudah kembali tersadar dari tekanan chakra yang dilepaskan muridnnya.

"Aku dan guru Jiraiya memiliki mimpi yang sama, yaitu untuk mencari perdaimaian. Sekarang kelima desa besar ninja sudah damai, tetapi diluar sana masih banyak daerah lain yang belum merasakan kedamaian jadi aku bermaksud untuk berpetualang memperbaikinya. Desa ini sudah damai, dan aku sudah tidak diperlukan lagi. Setidaknya diluar sana aku bisa berguna dan mempelajari sesuatu yang baru." Naruto mengatakan alasannnya dengan serius, berharap sang hokage mengerti dan mengizinkannya.

"Maaf Naruto tapi aku tidak bisa meng..."

"Aku kesini tidak datang untuk meminta izin" Naruto memotong perkataan Kakashi karena sudah tahu kemana arah pembicaraannya. Sekali lagi dia membuat semua yang ada di ruang kantor Hokage terkejut dengan pernyataannya.

"Apa maksudmu Naruto? Memberitahukan kami bahwa kau ingin pergi meninggalkan desa. Lantas menyatakan bahwa kau datang kesini bukan untuk meminta izin, sedangkan pemimpin desa ini adalah Hokage dan kau bukan seorang Hokage." Koharu mamandang Naruto dengan pandangan bingung.

"Seperti yang aku katakan, aku kesini hanya memberitahukan Hokage saja bahwa aku akan pergi meninggalkan desa. Aku menggunakan hak sebagai murid sekaligus penerus guruku Jiraiya, bahwa aku bisa meninggalkan desa kapanpun selama desa tidak dalam keadaan perang." Naruto mulai beranjak menuju pintu keluar.

"Maaf Naruto, tapi aku tidak bisa membiarkanmu meninggalkan desa ini saat ini. Kau baru saja pulang setelah meninggalkan desa selama 2 tahun." Naruto dapat melihat dirinya telah di kelilingi oleh anggota ANBU.

"Maaf Naruto, jika kau meninggalkan desa sekarang sedangkan Sakura belum mendapat kepercayaan dari desa lain maka hal itu akan memperparah keadaan. Tetapi jika kau masih tinggal di desa sampai semua desa mengakui kepemimpinan Sakura baru aku bisa membiarkanmu pergi. Aku bukannya melarangmu pergi berkelana, hanya saja tidak sekarang." Batin Kakashi sang Hokage keenam.

"Uh... Huh." Naruto haanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

" Pertama Hinata menerima lamaran Kiba, kemudian impianku diserahkan kepada Sakura, sekarang kebebasanku mau direnggut juga? Yang benar saja." Naruto menatap matan gurunya sekaligus pimpinan desa Konoha yang sama sekali tidak menunjukkan keinginannya untuk menarik kembali anggota ANBU miliknya. "Tch... Selamjutnya apa lagi? Apa aku akan di usir dari dunia ini juga?" Dia masih tetap diam dan memandang Kakashi yang terlihat benar-benar serius.

"Kalau begini terus bisa-bisa terjadi pertempuran. Kakashi tidak mau kalau aku meninggalkan desa, tapi aku mau pergi. Kalau aku menerobos, pasti akan terjadi pertarungan. Kalaupun aku bisa memenangkan pertarungan dan kabur, dia pasti akan mengutus Tim Perburu untuk mengikuti jejakku. Hem... jalan satu-satunya hanyalah jurus Hiraishin, agar tidak meninggalkan jejak sehingga aku bisa tenang tanpa dikejar-kejar nantinya." Tanpa sadar Naruto mengeluarkan kunai Hiraishin miliknya. Tentu saja hal itu tidak lepas dari mengamatan sang Hokage sehingga segera memberikan perintah penangkapan. "Tetapi aku belum menyempurnakannya, aku juga belum sempat menandai tempat manapun karena belum sempurna. Nah... "

"Tangkap dia!" Lamunan Naruto terhenti saat mendengar suara perintah penangkapan untuk dirinya.

'Hiraishin no jutsu' Tanpa sadar Naruto mengaktifkan jurusnya karena keterkejutannya. Kemudian cahaya terang menyilaukan mata semua orang, dan hilanglah Naruto bersama cahaya tersebut.

-oOo-

Saat Naruto membuka matanya dia kembali bertemu lagi dengan Suzaku, dia melihat Suzaku memandanginya seolah tidak percaya. Ternyata Naruto terlempar di celah antar dimensi, dan saat itu tubuhnya sudah mulai mengalami kerusakan yang akan membunuhnya dalam waktu singkat. Tetapi sebelum Naruto mati Suzaku sebagai Penjaga Keseimbangan Dunia berhasil menarik jiwanya. Jika tidak maka jiwa Naruto akan berada di celah deminsi sendirian sampai akhir jiwanya, karena saat itu belumlah waktunya Naruto untuk meninggal.

Suzaku memberikan pilihan pada Naruto untuk menemaninya hingga akhir jiwanya, atau terlahir kembali karena masa hidupnya belum habis. Tetapi tidak bisa hidup atau lahir kembali di Element Nation karena seharusnya dia masih hidup tetapi kenyataannya dia sudah mati. Sehingga walau dengan bantuan Suzaku, Naruto tetap tidak bisa terlahir kembali di Element Nation sebelum waktu kematiannya tiba. Dia tidak bisa menuju ke dunia setelah kematian karena seharusnya dia belum mati. Sehingga Naruto memilih untuk dilahirkan kembali di dimensi lain, dan berkat bantuan Suzaku Naruto dapat terlahir kembali di dimensi terdekat dari Element Nation sebagai putra dari pasangan Panther D. Kato dengan Lightning Masa.

Walaupun Naruto harus merasakan kesedihan saat kehilangan Kurama, karena Suzaku tidak bisa menyelamatkannya. Tetapi Suzaku menyampaikan bahwa Kurama akan hidup kembali di Element Nation dalam 9 atau 10 tahun lagi.


-Sekarang-

~Perbukitan Kin, Wilayah Kota Niigita, Negeri Wano, Dunia Baru~

"Hei...Bocah. Kenapa kau berhenti lagi memompanya?" Kyo memandingi Naruto yang terlihat terkejut atas perkataannya.

"Tch... dasar Pak Tua merepotkan." Sambil kembali memompa pompa angin tungku pembakaran.


Cerita Berakhir


Niigita : Selamat Datang

Kin : Emas

Kyo : Varian "Kyou", yang berarti pohon aprikot, modal, kerjasama

Ryo : Berarti kecerahan, jauh, realitas, menyegarkan

Yoshi : Nama singkat Jepang awalan Yoshi-, artinya "benar, baik"


Jangan lupa tinggalkan reviews!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya...

Salam... Deswa