Yo, muncul kembali. Baru bisa update fic. ini.
Jawaban pertanyaan :
Billy [Guest] : Meskipun kemampuannya seperti itu, tingkat kriminalitas Naruto masih rendah, dan pihak Marinir masih belum mengetahui semua kemampuan Naruto. Di chapter ini Kapten Smoker mulai mengetahui kesalahan pihak marinir dalam pemasangan harga buronan Naruto.
Ae Hatake : Naruto bukanlah orang yang suka memanipulasi. Dia tidak mungkin mengumpulkan orang lantas di ajak bunuh diri. Menghadapi Kaido bukanlah hal mudah, dia itu monster dan memiliki banyak pasukan [kru]. Lain halnya jika Naruto menemukan seseorang yang memang berkeinginan menjatuhkan Kaido, maka dia bisa ikut bergabung dengan mereka meskipun memiliki tujuan lain. Seperti Bajak Laut Topi Jerami yang kaptennya bermimpi ingin menjadi Raja Bajak Laut. Jadi mau tidak mau, Luffy akan menghadapi Kaido Juga pada akhirnya. Selain itu, Naruto juga melihat semangat, keinginan dan potensi yang besar dari Luffy setelah pertemuannya di Restoran Baretie.
HanyaGuest [Guest] : Terimakasih atas infonya.
Terimasih buat para reader yang telah me-review, follow, ataupun favorite fic. ini.
Selamat membaca dan menikmati chapter 7.
Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!
Naruto The White Tiger – Chapter 7
"Straight Flush!" Tukas seorang pemain poker sambil membuka kelima kartu miliknya. "Hehehe... kali ini kau tidak bisa berkutik bocah, 200.000.000 berri jadi milikku." Pemain poker yang merupakan seorang pria tua gendut kini langsung berdiri dan berusaha meraup tumpukan chip.
Tap
Namun sebelum tangan pria tua gendut tadi menggapai tumpukan chip, tangannya lebih dulu terhenti oleh genggaman erat pemuda yang menjadi lawannya. "Kenapa kau bisa seyakin itu, Pak Tua?" Pria gendut itu bisa melihat seringaian terulas di wajah lawannya.
"A-apa maksudmu, Naruto? Dan jangan panggil aku Pak Tua, aku baru memasuki usia ke-48." Pria itu memandang tajam Naruto.
"Oh~ jadi usia 48 tahun belum termasuk tua ya? Aku sama sekali belum tau soal itu." Batin Naruto, meskipun alis peraknya nampak berkedut setelah mendengar pengakuan lawannya mengenai usia yang dimiliki. "Asal kau tahu, Rob. Kartuku..." Dia berlahan membuka kartu miliknya.
"Ro-royal Flush!" Ucap Rob dengan terbata, dan mata yang melebar.
"Yap! Jadi, silangkan pulang. Kau sudah kehabisan uang 'kan?" Naruto segera menarik semua chip.
Naruto menang telak setelah bermain beberapa kali melawan Rob. Dia saat ini berada di Rumah Judi milik Sir. Crocodile yang berlokasi di kota Rainbase, Kerajaan Alabasta. Setelah berhasil keluar dari penjara kapal milik Kapten Smoker lima hari yang lalu, Naruto langsung mencari tempat perjudian untuk menambah dana kehidupan yang akan digunakan dalam petualangan selanjutnya. Jadi dengan terpaksa, Naruto harus melakukan perjalanan dari Nanohana ke Rainbase agar bisa berjudi dengan taruhan lebih besar. Dia sudah dua hari bermain poker di tempat milik salah satu Sichibukai itu. Meskipun hanya siang hari saja dia bermain, tetapi Naruto berhasil meraup uang sebesar 400.000.000 berri dengan modal 100.000 beri yang dicuri dari salah satu anggota Millions, Baraque Works, saat kabur dari penjara kapal milik Kapten Smoker.
"Fufufu~ Anda memiliki keberuntungan luar biasa, Shiro-san." Seorang gadis terkikik dengan suara merdu saat memasuki ruangan VIP tempat Naruto bermain poker.
"Ah, Anda siapa nona? Dan Shiro?" Tanya Naruto sambil terus mengamati gadis berambut hitam dan mata beriris hijau itu.
"Mi-miss All Sunday!" Rob kini terlihat begitu nerfes. Tampak rona merah menghiasi kedua sisi pipi pria tua itu.
Pandangan gadis tadi sesaat bertemu dengan Naruto, dan entah kenapa hal itu menghentikan kikitan pelan yang keluar dari mulut mungilnya. "Anda bisa memanggilku Miss All Sunday. Sedangkan Shiro, Anda White Tiger 'kan?" Miss All Sunday kini mengulas senyum lembut.
"Ah, aku tersanjung bisa dikenali oleh gadis secantik Anda..." Naruto mengulas senyum sambil sedikit membungkukkan tubuh. "... Miss Nico Robin."
Miss All Sunday atau kini dipanggil Nico Robin oleh Naruto sejenak melebarkan mata, terkejut seseorang mengenalinya dengan mudah. Namun dengan cepat wajahnya kembali datar, sambil menghiasi wajah dengan senyuman hambar. "Jadi Anda mengenaliku, Shi..."
"Naruto, Panther D. Naruto. Tapi anda bisa memanggilku Naruto, aku tidak begitu suka formalitas."
"D?" Kini Robin nampak tertarik setelah mendengar nama lengkap Naruto.
"Yah? Ada masalah dengan itu?" Naruto menaikkan alisnya sebelah karena bingung dengan ucapan gadis yang dikenal dengan julukan 'Devil Child' itu.
"Hem, tidak. Aku hanya teringat kalau Sir. Crocodile ingin mengundang anda, selaku tamu penuh keberuntungan untuk saling mengenal." Tutur Robin pada Naruto.
"Oh, baiklah. Tapi bisakah aku menukarkan chip-ku dulu? Aku yakin tidak akan memakan waktu lama."
"Baiklah. Kalau tidak keberatan, aku ingin menemani anda, Naruto-san."
"Tidak masalah." Naruto mengulas senyum cerianya.
"Oh, satu lagi. Kalau bisa, tolong panggil aku dengan nama Miss All Sunday saja." Pinta Robin pada Naruto sehingga membuat pemuda itu menghentikan langkah begitu mendekati pintu keluar ruangan VIP.
"Tidak mau." Jawab singkat Naruto.
"Apa? Tapi ke..."
"Nico Robin lebih cocok untukmu. Orang bodoh seperti apa yang memberimu nama Miss All Sunday? Aku akan menghajarnya ketika kita bertemu. Beraninya dia mengganti nama yang cocok untuk gadis cantik sepertimu." Gerutu Naruto panajang lebar, tanpa menyadari bahwa gadis pemilik nama yang dikomentari mengulas senyum tipis.
Setelah itu keduanya menuju counter penukaran chip sambil terus saling berbincang, baik tentang kehidupan keseharian sebagai sesama buronan maupun keadaan Kerajaan Alabasta. Naruto di pandu oleh Robin menuju ruang perjamuan milik Sir. Crocodile, tetapi ronin muda itu harus menunggu karena pemilik Rumah Judi [Casino] tengah ada urusan mendadak.
Sedangkan Robin bergegas meninggalkan ruangan karena harus segera menjalankan tugasnya yang lain, dan meninggalkan Naruto seorang diri.
Pada akhirnya, Naruto meninggalkan ruangan setelah menunggu seorang diri selama satu jam tanpa adanya tanda-tanda kedatangan Crocodile. Dia sama sekali tidak ingin lagi menunggu seseorang tanpa adanya kejelasan, karena hal itu mengingatkan kenangan perih tentang matan gurunya, Hatake Kakashi. Terlebih lagi dia bisa merasakan kehadiran beberapa orang yang dikenali berada di dalam Rumah Judi.
"Heh... Kakashi ya?" Naruto mengulas senyum pahit. "Bagaimana keadaan Konoha sekarang, setelah berada di bawah kepemimpinan Sakura? Hokage. Di kesempatan keduaku sekarang, aku justru tidak jadi apa-apa. Tidak memiliki mimpi, bukan royalty, jadi buronan negara sendiri, bahkan dendamku belum terpenuhi. Hah... setidaknya aku ingin melihat apa yang disuguhkan dunia terlebih dahulu." Kini muncul awan hitam di atas kepala Naruto yang menunduk lesu, mengikutinya kemanapun ia berjalan.
Bugh
"Ahhh~" Naruto bisa mendengar pekik lirih seorang gadis.
"Ah, maaf. Kau tidak apa-apa nona?" Tutur Naruto yang sudah keluar dari mode murungnya.
Naruto bisa melihat seorang gadis muda terduduk di lantai berlapiskan karpet merah, mengenakan jubah berwarna ungu dengan pinggiran putih, wajah cantik berkulit putih terpajang karena tersibaknya tudung jubah. Gadis cantik itu memiliki rambut biru muda panjang yang dikuncir, dengan mata hitam kelam.
Melihat gadis tadi berusaha berdiri, Naruto segera mengulurkan tangan. "Izinkan aku membantumu."
Sedangkan sang gadis hanya memandang pemuda di hadapannya dalam diam. Dia bisa melihat pemuda dengan wajah tampan yang disertai dengan mata biru indah itu menatap teduh dirinya, rambut perak panjang yang dimiliki nampak terkuncir. Tanpa disadari, pipinya mulai menghangat, menampakkan semburat tipis merah.
"Te-terima kasih." Balas gadis tadi sambil menerima uluran tangan sang pemuda.
"Maaf, tadi aku sedang melamun." Jelas Naruto yang tidak lupa mengulas senyum pada gadis tadi.
"Ah, tidak apa-apa. Aku tadi sedang terburu-buru, sehingga tidak terlalu memperhatikan sekitarku. Jadi kita sama-sama salah dalam hal ini."
"Oh, ya. Aku Naruto, Panther D. Naruto."
"Aku... Vivi." Ucap gadis bernama Vivi itu dengan sedikit ragu. "Kenapa aku langsung menyebutkan nama asliku? Bagaimana kalau dia mengenaliku?" Batin gadis itu.
Vivi semakin gugup saat melihat Naruto terus memandangnya, bahkan tangannya belum dilepaskan dari genggaman erat pemuda yang memiliki luka sayatan vertikal pada sisi bibir bagian kanan.
"Ano... bisakah kau melepaskan tanganku sekarang?" Tanya Vivi sambil tersenyum nerfes.
Naruto mengerjapkan mata berkali-kali, terkejut dengan pertanyaan Vivi. Dia lantas melihat bahwa tangannya masih menggenggam erat tangan gadis cantik di depannya. "Ah, maaf." Dia segera melepaskan genggaman tangannya. "Aku melamun lagi. Tapi, sepertinya aku pernah mendengar namamu. Apa kita pernah bertemu? Atau mungki kau..."
"Tidak... tidak! Kita belum pernah bertemu, aku juga tidak terkenal. Jadi tidak ada kemungkinan kalau aku ini merupakan putri dari Raja Kerajaan Alabas..."
"Alabasta!" Naruto menyelesaikan perkataan Vivi.
Sedangkan Vivi hanya bisa melebarkan mata, sambil menutup mulutpi menggunakan kedua telapak tangan. "Bagaimana ini? Kenapa aku bisa keceplosan? Ini sama dengan kejadian sewaktu di Whiskey Peak, saat aku membocorkan identitas Mr. 0." Pikir Vivi penuh kepanikan.
"Hahaha... kau gadis yang menarik Vivi-hime." Ucap Naruto sambil terus menatap iris hitam Nerfertari Vivi.
"Huh?" Vivi kini menunjukkan ekspresi bingung, namun sejenak kemudian wajahnya kembali serius. "Ah~ aku harus segera pergi, Panther-san."
"Naruto."
"Huh?"
"Panggil saja aku Naruto. Aku tidak begitu menyukai formalitas."
"Baiklah, Naruto-san." Gumam pelan Vivi. Gadis itu lantas beranjak dari tempatnya menunju pintu keluar Rumah Judi [Casino] milik Crocodile dan kembali menutupi kepalanya dengan tudung jubah yang ia kenakan.
"Gadis yang menarik." Gumam Naruto sebelum melangkah menuju asal aura seseorang yang sebelumnya pernah ia temui beberapa waktu lalu. "Vivi-hime, kau mengingatkanku dengan Sara, Ratu kerajaan Rōran dari Elemental. Teman lamaku yang pernah terlupakan." Yah... Naruto kembali mengingat keberadaan Sara setelah dikirim ke dunia yang di tempatinya sekarang oleh Suzaku The Phoenix, salah satu hewan yang menjaga keseimbangan dunia. "Aku harap pertikaian yang terjadi saat ini mampu membantumu untuk membuka mata tentang warna dunia, sehingga membuatmu lebih bijak ketika kau menjadi ratu bagi rakyat Alabasta nantinya."
Naruto berjalan menyusuri korididor yang menuntunnya mendekati aura yang ia kenali. Akan tetapi sesampainya di tempat yang ia tuju, dirinya justru dikejutkan dengan keadaan semua orang. Bocah yang ia kenali bersama dengan beberapa orang lainnya tengah berada dalam penjara yang nampak terbuat dari metal.
"Paman Silver?" Teriak Luffy dengan nada penuh kebahagiaan ketika pandangannya mendapati orang yang cukup ia kenali.
TWICH
Alis perak Naruto terlihat berkedut. Lagi-lagi bocah abisius yang belum lama pernah ditemui memanggilnya Paman Silver. "Smoker lebih tua daripada aku, Bocah."
Namun yang diajak bicara justru mengindahkan perkataan Naruto. "Hei... hei... Paman Silver, tolong tebas penjara ini. Agar aku bisa keluar dan menendang pantat Buaya sialan itu."
TWICH
"Kau bicara apa Luffy? Mana ada orang yang bisa memotong besi penjara ini. Terlebih lagi menurut Crocodile penjara ini terbuat dari Batu Laut, sehingga memiliki ketahanan layaknya intan." Tukas pemuda berhidung panjang. "Kau tidak bisakan memotong penjara ini, Tuan... Samurai?"
"Hem?" Naruto terlihat tengah mengorek telinganya selama mendengar ocehan pemudah berhidung panjang tadi. "Tentu saja bisa. Memangnya kenapa?"
Pemuda tadi langsung menunjuk Luffy yang sedang mengorek hidungnya. "Dengar itu Luffy! Aku bilang juga a-aaa... KAU BISA MEMOTONGNYA?" Teriak pemuda yang sedari tadi terus berbicara. Dia terlihat begitu terkejut, begitu pula dengan semua orang yang berada dalam penjara milik Crocodile, terkecuali Luffy.
Pemuda berambut hijau terlihat mengeratkan genggaman tangan di ganggang sebuah katana miliknya yang berwarna putih.
Gadis berambut oranye terlihat membelalakan mata, dengan mulut yang terbuka.
Seekor rakun? Atau rusa? Terlihat bersembunyi dibalik punggung pemuda berambut hijau dengan mulut yang terbuka lebar.
Sedangnya satu-satunya orang yang terlihat bukan termasuk dari kru Bajak Laut Topi Jerami mengedipkan mata berkali-kali.
"Kalian selalu mengabaikan perkataanku, meskipun aku ini kapten kalian." Gumam Luffy sambil menyentilkan jari yang memiliki kotoran hidung kearah mulut pemuda berhidung panjang yang terbuka lebar.
"BLEH... KOTORAN HIDUNGMU MASUK KEMULUTKU, LUFFY BRENGSEK!" Teriak pemuda behidung panjang tadi sambil mencekik leher Luffy.
"Kau... kenapa kau berada di sini? Bukannya Tashigi sudah memenjarakanmu dalam penjara kapal milikkku?" Bentak Smoker yang sudah mengenali siapa sebenarnya Naruto.
"Kerja otakmu lambat, Smoker." Gumam Naruto sambil menyeringai. "Kalau untuk keluar dari penjara kapalmu, tentu saja aku... memotongnya."
"Diam kau, Shiroi Tora! Setelah aku keluar dari sini, aku akan segera menangkapmu kembali." Bentak Smoker penuh amarah.
Seringai di wajah Naruto semakin melebar. "Oh~ tapi bagaimana caramu keluar?"
"..." Smoker hanya terdiam. Dia lantas kembali duduk dalam diam.
"Bagaimana jika aku yang mengeluarkanmu dari penjara ini, tapi kau harus berhenti menangkapku setalah itu? Kau setuju 'kan, Smoker?" Tukas Naruto.
"Aku lebih memilih mati."
"Oh~ baguslah kalau begitu. Jadi tidak ada lagi yang akan menangkapku dalam waktu dekat ini. Lihatlah, air di sini mulai meninggi, dan sebentar lagi tempat ini akan dipenuhi air dan tenggelam." Naruto kembali menyeringai tipis melihat mata Kapten Marinir tadi melebar, bahkan genggaman tanganya tampak semakin mengerat.
"Hei... Paman Silver, cepat potong penjaranya." Teriak Luffy yang terlihat sudah tidak sabaran.
Sejenak Naruto menatap tajam Luffy, lentas mendesah panjang. "Kalau begitu bantu aku membujuk Smoker untuk menyetujui permintaanku."
Luffy segera mengalihkan pandangan ke arah Smoker. "Hei Smokey, seteleh kita dilepaskan oleh Paman Silver kau tidak boleh menangkapnya dan juga seluruh kru-ku. Eh, maksudku untuk hari ini. Kau boleh mengejar kami lagi besok." Melihat Kapten marinir itu hanya terdiam, Luffy mengangguk pelan dan kembali menatap Naruto. "Dia sudah setuju, kau boleh memotongnya sekarang."
"DIA TIDAK MENGATAKAN APA-APA, LUFFY!" Bentak pemuda berhidung panjang dan gadis berambut oranye bersamaan.
Luffy memandang kedua kru-nya dengan tatapan datar. "Tch, kalian tidak pernah dengar ungkapan yang mengatakan : Diam itu berarti setuju?"
"KAU SENDIRI YANG MEMBUATNYA 'KAN!" Kedua kru Topi Jerami kembali membentak Luffy.
"Shishishi..." Sedangkan Luffy hanya tertawa lirih melihat tingkah kedua temannya.
"Kau yang bertanggungjawab jika dia tidak memenuhi janjinya, Bocah." Tukas Naruto.
"DIA MEMPERCAYAI LUFFY." Teriak kedua remaha yang meneriaki Luffy tadi, diikuti dengan hewan rusa atau rakun? Secara bersamaan.
"Ya." Balas Luffy dengan serius, dan mengabaikan teriakan ketiga temannya.
Mendengar jawaban Luffy, Naruto segera melangkah mendekati penjara. "Hei Luffy, Smoker berjanji tidak akan menangkapku setelah aku keluarkan dari penjara. Kalau kau? Apa yang akan kau berikan untukku?" Ucap Naruto. "Aku tidak akan menolak jika kau memberikan gadis berambut oranye itu padaku."
"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan Nami pada siapapun. Tapi kau boleh bergabung dengan kru-ku." Balas Luffy dengan serius.
"Hahaha... jadi kau menyukainya? Nami? Sehingga kau tidak mau memberikannya padaku."
"Tentu saja..." Mendengar jawaban Luffy, kedua sisi pipi gadis bernama Nami itu terlihat merona. "...dia adalah namaka-ku yang berharga. Aku selalu menyukai semua nakama-ku." Setelah Luffy menyelesaikan ucapannya, semburat di pipi Nami langsung menghilang dan urat-urat di pelipisnya terlihat menebal.
Mendengar jawaban Luffy dan melihat ekspresi Nami, Naruto lantas mengulas senyum lembut. "Seperti diriku saat masih muda." Batin sang ronin. Dia lantas menggengam erat Murasame.
KLIK
BLAMMM
Pemuda berambut hijau yang sedari tadi terdiam kini melebarkan matanya ketika melihat pergerakan Naruto yang begitu cepat saat memotong pintu penjara. "Cepat. Pria ini, Naruto, sangat kuat. Dia memiliki aura seperti Mihawk. Benar juga, saat di Baratie pria ini datang bersamaan dengan datangnya Mihawk." Pria itu terus memperhatikan Naruto. Mencoba memahami semua yang telah dilihatnya, lantas pandangannya tertuju pada katana yang terselip di pinggul Naruto. "Katana itu, sama dengan Kitetsu milikku. Katana yang terkutuk, bahkan aura haus darahnya begitu kuat, melebihi Kitetsu." Pikirnya sambil menggengap erat katana berganggang merah. "Tapi wakizashi-nya memiliki aura yang menyerupai Wado Ichimonji"
"Haki?" Batin Smoker setelah melihat bagaimana cara Naruto memotong pintu penjara. "Kenapa kriminal dengan kemampuan menggunakan Haki memiliki harga buronan begitu kecil? Hanya 50.000.000 berri." Sang kapten dari satuan marinir; tidak pernah sekalipun melepaskan pandangan dari Naruto. "Tunggu dulu, jika dia bisa menggunakan Haki lantas dari mana asal julukan Harimau Putih itu? Apa mungkin dia juga pemakan Buah Iblis? Tapi di poster buronan hal itu tidak tercantumkan. Tidak mungkin 'kan kalau julukan ituu ia dapatkan karena kemampuannya di atas ranjang setelah meniduri istri dan anak gadis Kapten..."
"Hei Smokey, kau ikut keluar tidak?" Teriakan dari Kapten Bajak Laut Topi Jerami membuyarkan gelut pikiran Smoker.
"Ya. Kau tidak perlu memberitahuku, Topi Jerami." Gumam Smoker sambil beranjak dari tempat duduknya.
"YOSH..." Luffy menarik napas penjang. "CROCODILE AKU AKAN MENENDANG PANTATMU!"
"SHHH... JANGAN BERTRIAK BEGITU KERAS, CROCODILE KAN MENDENGAR SUARAMU." Teriak pemuda berhidung panjang dan rusa? Berhidung biru secara bersamaan.
KRAK
Kaca yang mengelilingi tempat semua orang berkumpul tampak mulai retak. "Luffy, gara-gara teriakanmu kacanya retak." Gumam Naruto.
"Maafkan aku." Tukas Luffy dengan wajah datar.
"WAJAHMU BERLAWANAN DENGAN APA YANG KAU UCAPKAN." Lagi-lagi kedua kru Topi Jerami meneriaki kapten mereka.
"Kalau begitu, aku duluan." Tukas Naruto. Tapi sebelum sempat meninggalkan tempatnya, pergerakannya terhenti saat merasakan kedatangan seseorang yang ia kenali.
"Luffy aku berhasil membawa Sanji-san." Teriak seorang gadis bersurai biru.
"Ah~ sampai jumpa lagi Bajak Laut Topi Jerami, kau juga Vivi-hime." Ucap Naruto sambil melambaikan tangannya. "Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu, Smoker."
"Aku juga." Bentak Smoker dengan geram.
Dalam sekejap Naruto menghilang dari pandangan semua orang.
Vivi mengerjapkan mata. "Naruto-san?" Gumamnya lirih.
"Huwaaa..." Naruto menguap lebar. Dia kini berada di atas tower Jam Alubarna, ia datang di kota ini saat pagi tiba bersama Niko Robin mengendarai buaya [dengan nama banci] berukuran besar. Naruto bertemu lagi dengan Nico Robin saat dalam perjalanannya ke Alubarna setelah kembali meraup banyak uang dari Rumah Judi [Casino] milik Crocodile. Alabasta mengingatkan Naruto dengan Desa Suna, Desa Ninja yang dipimpin oleh Sabaku no Gara, temannya saat masih hidup di Elemental.
Sedikit banyak, Naruto juga mulai mengenal Nico Robin. Gadis itu memiliki pengalaman hidup yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di masa kecil ketika masih di Elemental. Saat di perjalanan menuju Alubarna, keduanya berbagi cerita, bahkan berdepat mengenai banyak hal. Tapi ia berhasil membuat gadis kesepian itu tersenyum sebelum keduanya berpisah ketika sampai di Alubarna.
Namun kini Naruto merasa bosan setelah mengamati peperangan. Barbaring di atas atap tower tanpa ada kegiatan, ingin rasanya ia menghentikan peperangan yang terjadi di bawah, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia bukanlah orang yang memiliki nama besar seperti saat berada di Elemental, bukan pula pejabat dari Pemerintah Dunia yang memiliki pengaruh besar. Dia hanya kriminal kelas teri yang berpetualang tanpa tujuan, yah... meskipun ada seorang Kapten Marinir di luar sana yang menganggap dirinya sebagai penjahat besar setelah dirinya meniduri istri dan anak gadis sang kapten.
Sekalipun Naruto tidak menyukai peperangan, kedua tangannya terasa sudah terikat erat. Jika ia ikut campur tangan, siapa yang akan mendengarkan perkataannya? Dan jika ikut bertarung ia justru akan menambah banyak korban, namun bila ia membuat semua orang pingsan lantas apa mereka bisa mengambil pelajaran dari semua yang terjadi sekarang tanpa mengetahui akibat perbuatan masing-masing?
Sedangkan dalang dari itu semua kini sudah ditangani oleh bocah bodoh yang merupakan kapten dari Bajak Laut Topi Jerami. Bocah yang memiliki kepribadian mirip dengan miliknya di kehidupan sebelumnya.
"Menjadi Raja Bajak Laut, ya? Semoga anak itu bisa menggapainya. Aku harap teman-temanmu selalu setia mendampingi dan mendukungmu. Tidak seperti diriku yang gagal menjadi Hokage, hanya karena dipandang begitu bodoh untuk memegang jabatan itu. Kau memiliki sisi serius sepertiku Luffy, aku harap kau tidak selalu menyembunyikannya dari teman-temanmu. Karena hal itu akan membuat mereka sulit menghormatimu, aku sudah meresakannya." Batin Naruto sambil terus mengamati langit biru. Dia mengabaikan panasnya keadaan sekitar, karena larut dalam perang batin.
Naruto masih terus membaringkan tubuh di atas atap tower Jam Alubarna. Mengabaikan keributan di sekitarnya, dan lebih menikmati pemandangan langit tanpa awan yang menampakkan panorama biru layaknya safir. "Aku serahkan padamu urusan Alabasta Luffy. Aku ingin tahu seberapa besar semangat dan kegigihanmu untuk melindungi teman-temanmu." Dia lantas menutup matanya, bersiap untuk tidur dan berharap bisa diberikan mimpi yang indah.
"BERAPA KALI LAGI KAU HARUS MEMPERMALUKANKU HINGGA KAU MERASA PUAS?"
"Huh?" Iris biru kembali terbuka ketika mendengar teriakan keras. "Apa yang terjadi?" Tukas Naruto sambil beranjak dari tempat berbaringnya, dan segera mengaktifkan Kenbunshoku Haki miliknya.
"Vivi?" Gumam pelan pemuda bersurai perak itu.
'Air Walk'
Nefertari Vivi, putri dari Raja Kerajaan Alabasta kini meringkung penuh keputusasaan. Setelah beberapa tahun menyusup dalam organisasi yang membuat negeri-nya mengalami krisis dan pertikaian, ia berharap bisa memberikan solusi terbaik untuk itu semua. Namun ketika sudah berada di ambang kemenangan, kini ia justru disuguhkan dengan masalah lebih besar. Crocodile, Shicibukai yang hendak menguasai Alabasta bukan hanya ingin membuat kekacauan, tetapi juga berniat menghancurkan Ibu Kota Kerajaan dengan memasang bom yang mampu membinasakan semua penghuni Alubarna. Sedihnya, Vivi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jika aku melakukan ini, aku bisa menghentikan pemberontakan."
Wajah sang putri nampak begitu geram, linangan air mati tercucur deras membasahi pipi, semua emosi yang selama ini terpendam terasa meluap. Dia sudah menemukan tempat bom berada, tapi ia tidak memiliki kemampuan menghentikan aliran waktu yang semakin mendekati titik ledak. Dia sadar bahwa satu-satunya solusi adalah memindahkan bom itu menjauhi Alubarna, akan tetapi ia juga tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan solusinya.
"Jika aku melakukan itu, aku bisa menghentikan pemberontakan."
Lantas apa yang bisa ia lakukan?
Dia hanya ingin menghentikan pertikaian di Alabasta tanpa menumpahkan darah yang tidak berarti.
"Idealisme-mu itu membuatku jijik."
Dirinya merupakan putri dan calon penerus Kerajaan Alabasta yang dipenuhi dengan kelemahan, dan saat masa sulit datang ia tidak mampu melindungi negeri dan penduduknya. Lantas apa pantas ia menyandang gelar itu?
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu : Kau tidak akan bisa menyelamatkan negeri ini."
Kenapa? Kenapa semua harus terjadi padanya?
"CROCODILE!" Teriak Vivi penuh amarah.
"Heh, kenapa kau terlihat begitu depresi Hime?" Vivi menghentikan isak tangis ketika mendengar suara lelaki yang cukup ia kenali.
"Na-naruto-san?" Gumam Vivi. Dia memandang sendu pria di dekatnya, bahkan mengabaikan tetesan air mata yang masih mengalir deras membasahi kedua pipi putihnya. "Bom, bomnya tidak bisa dihentikan. Semua orang akan mati. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa ini semua terjadi? Aku begitu lemah untuk melindungi negeri-ku." Tangan gadis itu mengepal erat, hingga kukunya menusuk kulit telapak tangan dan mencucurkan darah.
Vivi tidak tahu apa yang harus dilakukan meskipun bom yang sedari tadi ia cari telah ditemukan. Bahkan bajak laut yang memberikan banyak harapan pada dirinya juga tidak bisa membantu. "Apa ini akhir dari semuanya? Kenapa aku begitu lemah? Mengapa peperangan harus terjadi? Kenapa orang seperti Crocodile ada di dunia ini? A-ku... aku..."
"Oh~ aku bisa mengatasi bom ini."
Waktu terasa terhenti. Iris hitam milik Putri Kerajaan Alabasta itu melebar, mendengar sebuah perkataan yang sangat ingin ia dengar. Hatinya yang gersang kini terasa seperti tersiram hujan, mengembalikan pupus-pupus tanaman harapan yang sebelumnya mulai layu. Bibir tipis gadis bersurai biru itu mulai bergetar, mata yang tadinya sendu kini terlihat dipenuhi cahaya harapan. "Be-benarkah?" Suara lirih keluar dari mulutnya.
"Ya." Jawab singkat Naruto.
"Tolong selamatkan negeri dan penduduk-ku, Naruto-san. Aku akan melakukan apapun untukmu, asal kau bisa melakukannya." Pinta Vivi dengan nada penuh memelas.
"Meskipun aku ingin kau menikah denganku, atau mungkin sedar menjadi budak seks-ku?" Tukas Naruto penuh canda.
"Ya." Jawab Vivi tanpa adanya keraguan. Meskipun tidak ada yang tahu apakah gadis itu paham dengan apa yang barusan ia setujui. Mungkin karena kepanikan ia menyetujui semua permintaan Naruto tanpa berpikir panjang, atau bisa juga gadis itu menyetujui karena keinginannya yang begitu besar untuk melindungi negeri dan penduduknya. Tapi yang jelas, Vivi terlihat tidak memahami bahwa Naruto tengah bercanda.
Sedangkan Naruto yang mendengar perkataan Vivi hanya bisa melebarkan mata, ia sama sekali tidak menduga jika gadis di depannya menyetujui permintaannya. Ketika ia menatap mata Vivi, yang terlihat adalah harapan dan ketulusan. Melihat itu semua, ia lantas mendesah panjang dan bergerak mendekati bom.
"Dia begitu mencintai negeri ini? Alabasta dan penduduknya sangat beruntung memiliki penguasa sepertimu, Vivi-hime. Huh, seperti Desa Suna yang memilikimu, Gara. Layaknya Konoha yang penduduknya mewarisi Semangat Api." Batin Naruto sambil mencengkram erat bom yang semakin mendekati waktu untuk meledak.
Vivi kembali melebarkan mata saat melihat Naruto mencengkam bom berukuran besar dengan mudah menggunakan satu tangan, namun hal yang lebih mengejutkan adalah tubuh pria itu mulai berubah. Tubuh Naruto kini bertambah besar, kulitnya mendadak terselimuti bulu putih yang berceloreng hitam, bahkan wajah tampannya terlihat berubah menjadi wujud Harimau. "Naruto-san merupakan pemakan Buah Iblis, seperti Pell dan Chaka." Batin Putri Raja Kerajaan Alabasta.
"Aku punya hadiah untuk pengikutmu, Kaido." Gumam pelan Naruto.
'Jump'
BLASHHH
Vivi mengerjapkan matanya.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
Naruto menghilang. Setelah mengucapkan 'Jump', dalam sekejab Naruto menghilang bersama bom di cengkraman. Vivi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia kini bisa merasa lega dengan melepaskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. "Alabasta terselamatkan." Batinnya.
Saat Vivi hendak bangkit untuk berdiri, tubuhnya tiba-tiba terjatuh. Dia menyadari bahwa Naruto pergi bersama bom di cengkraman, dan kini ia tidak mengetahui apakah pria yang telah menyelamatkan negeri-nya bisa selamat dari ledakan. Meskipun hingga saat ini ia masih belum mendengar adanya ledakan. "Aku mengorbankan nyawa seseorang untuk menyelamatkan Alabasta. Apa yang telah aku lakukan?" Guman pelan gadis bersurai biru itu.
"Yo."
"Huh?" Vivi menutupi mulutnya dengar telapak tangan, begitu melihat pria yang ia khawatirkan berdiri di depan mata tanpa adanya bekas luka. "Na-naruto-san?"
Naruto menaikkan alisnya. "Huh? Memangnya kau mengharapkan orang lain?"
"Y-ya." Tukas singkat Vivi sambil memalingkan wajahnya dan segera mengusap buliran air mata yang mulai membasahi pipi.
"A... sial, bahkan calon istriku sama sekali tidak mengharapkan kedatanganku." Gumam Naruto penuh canda. Meskipun jika dilihat dengan seksama, terlihat gumpalan awan kelam bertengger di atas kepalanya.
Wajah kusut Vivi langsung menghilang, tergantikan dengan keterkejutan. Pipi putihnya kini tanpak merona saat mendengar candaan Naruto mengenai 'calon istri'. "Ada apa denganku?" Batinnya penuh tanya.
Sedangkan Naruto mulai menunjukkan ekspresi khawatir, pasalnya gadis yang diajak bicara belum juga menanggapi. Dia lantas melangkah mendekati Vivi, dan meletakkan tangannya di atas pundak gadis bersurai biru itu.
"Eh?" Spontan tubuh Vivi nyaris melompat, terkejut dengan sentuhan Naruto saat ia sedang sibuk dalam perang batin.
"Vivi-hime, kau baik-baik saja?" Tukas Naruto dengan nama penuh kekhawatiran.
"Ya." Vivi hanya bisa mengangguk pelan. Namun ia kembali mengabaikan sekelilingnya ketika pandangannya bertemu dengan iris biru Naruto. Gadis itu hanyut dalam keindahan mata pria di hadapannya, tetapi berlahan semuanya sirna. Dia melihat kesedihan, kesendirian, amarah, dan keputusasaan dalam pancaran mata itu. Dia tidak tahu apa saja yang telah dilalui Naruto sehingga memiliki pandangan mata seperti itu, tapi ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong pria yang telah menyelamatkan negeri-nya dari kehancuran.
"Kalau begitu, ayo kita turun." Ajak Naruto dengan acuh.
"Tunggu, aku masih harus menghentikan peperangan yang terjadi." Ucap Vivi penuh keyakinan, tentu saja setelah perhatiannya telah kembali. "Tapi, dimana kau membawa bom tadi?"
"Dunia Baru." Jawan singkat sang ronin.
"Eh? Kyaaa..." Vivi terpeleset dari tempatnya berpijak begitu mendengar jawaban Naruto, dan terjatuh dari tower. "Naruto-san, tolong aku!"
Naruto mendesah panjang ketika melihat Vivi jatuh dari tower. "Gadis yang merepotkan."
'Air Walk'
Naruto langsung melompak keudara sambil menendangnya. Mendekati Vivi, lantas menagkap gadis itu dan membopongnya. "Kenapa kau selalu saja tidak bisa menyelesaikan masalahmu seorang diri?" Keluh Naruto sambil menatap tajam Vivi.
"Naruto-san." Vivi mencengkarm erat kain hakama milik Naruto.
"Hem?"
"Tidak." Tukas Vivi sambil membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang sekali lagi telah menyelamatkan dirinya. "Terimakasih." Gumam pelan Putri dari Raja Kerajaan Alabasta itu.
"Hem..."
"Hangat." Hanya itu yang terngiang di pikiran Vivi.
"Vivi-sama!" Terdengar teriakan dari seekor burung yang terbang tidak jauh dari kedua orang berbeda kelamin tadi.
Cerita Berakhir
'Jump' merupakan teknik perpindahan milik Naruto yang didapat dari Buah Iblis-nya. Naruto bisa berpindah ketempat yang pernah ia lihat tidak peduli seberapa jauh jaraknya, namun sayangnya baru bisa digunakan setelah dirinya berada dalam bentuk Zoan-nya.
Catatan : Sebagai buah Mythical Zoan sudah sewajarnya memiliki keunikan kekuatan, dan kemampuan lebih dari satu.
Jangan lupa tinggalkan reviews!
Salam... Deswa
