Yo!

Deswa Hyoton kembali lagi.

Chapter ini sebenarnya mau di terbitkan hari Jumat lalu, tapi saya tunda, karena terlihat terlalu panjang bagi selera. Sehingga pada akhirnya saya bagi dua, hampir setengah bagiannya di terbitkan di chapter berikutnya. Meskipun update selanjutnya harus nunggu, sebab ada plot yang berubah setelah di bagi.

Jawaban Pertanyaan :

Khairil Anwar253 : Scane untuk Konoha harus nunggu beberapa chapter lagi.

Ryan69 : Naruto masih sendiri kok. Eh, ada temannya sekarang, meskipun dia tidak setuju untuk di temani. Naruto tidak bergabung dengan Topi Jerami, sebelumnya ia mengatakan 'akan menemui' Luffy jika harga buronan pemuda itu lebih tinggi dari miliknya. Dia hanya ingin melihat/memantau perkembangan Luffy. Lebih tertarik ke aliansi daripada bergabung.


Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Naruto The White Tiger – Chapter 8


Tashigi, gadis yang menginjak usia dua puluhan, merupakan prajurit marinir dengan pangkat Kepala Opsir Bintara [Chief Petty Officer]. Dia datang ke Granline untuk menangkap Bajak Laut Topi Jerami di bawah perintah Kapten Smoker. Namun saat ia dihadapkan dengan bajak laut itu, ketika semua kru dalam keadaan tidak sadarkan diri, hati kecilnya tidak tega melakukan penangkapan.

Awalnya Tashigi dan juga Kapten Smoker berencana untuk meringkus kru asal East Blue itu ketika sampai di Negeri Alabasta setelah mendapatkan informasi hasil penyadapan komunikasi antara Mr.0 dengan bawahannya melalui Den Den Mushi hitam. Namun semua berubah sebab ia bisa melihat dengan jelas tindakan bajak laut itu, Kru Topi Jerami yang ia kira menyandra Penerus Kerajaan Alabasta dan bekerjasama dengan Crocodile ternyata justru bertindak sebaliknya.

Bajak Laut Topi Jerami menyelamatkan Vivi-hime dan membantu memadamkan kobaran Perang Sipil yang memanas di negeri berpasir itu, bahkan kapten dari kru tersebut mengalahkan salah satu dari Shicibukai untuk meneyelamatkan Alabasta.

Kini Tashigi tahu maksud peringatan yang disampaikan Kapten Smoker, untuk membuka mata lebar-lebar guna memahami kebenaran dibalik semua kejadian di negeri gersang itu. Dia sadar, salah satu kewajiban seorang marinir adalah menangkap bajak laut, akan tetapi sulit rasanya ia melakukan hal tersebut terhadap Kru Topi Jerami. Terutama setelah ia secara tersirat meminta bantuan pada mereka untuk mengalahkan Crocodile serta Nico Robin. Dia memang tidak mengucapkannya secara langsung, tapi kenyataan tidak bisa dipungkiri, kalau ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kedua kriminal yang hendak menguasai Alabasta.

Dan ia membantu Monkey D. Luffy menemukan Crocodile dan Nico Robin dengan harapan kapten bajak laut asal East Blue itu dapat mengalahkan keduanya.

Terpaksa atau tidak, ia telah membantu dan bekerjasama dengan Bajak Laut. Tidak dapat dipungkiri lagi, itulah kenyataan yang terjadi.

Meskipun seorang marinir, bukan berarti ia bisa menghentikan semua tindak kriminalitas. Sebab saat ini ia masih jauh dari kata 'kuat'.

Tashigi juga telah membaca beberapa laporan mengenai aktivitas Topi Jerami semasa masih aktif di East Blue. Jika merujuk pada setiap catatan, semua tindakan yang di ambil oleh Topi Jerami tidak ada satu pun yang membuat kelompok itu mendapatkan julukan sebagai Bajak Laut. Terkecuali laporan yang berasal dari Kapten Nezumi, tapi ia bisa mengabaikannya, karena semua orang dari jajaran marinir kini mengetahui bagaimana korupnya pria mantan pemegang pangkat kapten itu.

Nezumi merupakan kapten marinir yang tidak jauh berbeda dari Kapten Morgan, keduanya sama menyalahgunakan jabatan mereka sebagai petinggi marinir untuk melakukan tindak kriminalitas. Namun ironisnya, keduanya juga pernah dihajar oleh Topi Jerami.

"Tashigi-san, sekarang kesempatan kita menangkap mereka." Tutur beberapa marinir bawahan Tashigi begitu mereka melihat kondisi Kru Topi Jerami.

"Tidak. Aku tidak akan menangkap mereka sekarang." Gumam pelan Tashigi. "Tidak setelah apa yang mereka lakukan terhadap negeri ini." Dia tidak mampu mengucapkan kalimat terakhir itu mengingat dirinya adalah bagian dari kesatuan marinir.

"Tapi..."

Tashigi menatap tajam semua bawahannya. "Tidak, kita..."

SLASH

Semua marinir langsung terdiam ketika melihat sebuah energi putih dengan bentuk menyerupai bulan sabit mendekati para kru Bajak Laut Topi Jerami.

BOMMM

Ledakan terjadi akibat benturan energi putih tadi dengan dataran pasir, dan menyisakan sayatan berupa garis panjang yang memisahkan letak Kru Topi Jerami dengan pasukan marinir.

"Aku tidak tau apa yang sedang marinir lakukan di sini. Bukankah lebih baik jika kalian segera membawa Crocodile kembali ke markas dan menjebloskan pria pasir itu ke Impel Down?" Semua pasukan marinir mengarahkan pandangan ke sumber suara, mereka mendapati seorang pria berambut perak tengah duduk di atas salah satu rumah milik penduduk sambil menikmati sebuah apel. "Lagian kalian juga tidak bisa menangkap bocah-bocah gila itu..." Pria tadi terlihat mengarahkan pandangan ke tempat terbaringnya Kru Topi Jerami. "...sebab aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."

Sedangkan Tashigi terihat melebarkan mata, karena gadis itu mengenali pria yang baru saja angkat bicara. "Kau... apa yang kau lakukan di sini, pria mesum?"

Pria mesum yang dipanggil Tashigi yaris jatuh dari tempat duduknya begitu mendengar perkataan gadis marinir itu. "Oh~ ayolah. Kau tidak perlu marah seperti itu, Shigi-chan."

Tashigi kini terlihat begitu geram. "Jangan panggil namaku seperti itu!"

"Huh... aku kira kita memiliki hubungan dekat setelah apa yang terjadi beberapa hari lalu..."

"Apa maksudmu?" Gadis manirini itu menaikkan alisnya.

"...kau tidak mengingatnya? Padahal saat itu kau begitu agresif. Aku masih ingat bagaimana ekspresi wajahmu yang memerah, kau terlihat sangat imut waktu itu Shigi-chan..."

"A-ap..." Wajah Tashigi nampak memerah.

"EHHH?" Teriak penuh keterkejutan pasukan marinir.

"...yah, saat kau menggunakan kakimu untuk..."

"Oh~ apa semua itu benar-benar terjadi Tashigi-san?" Tanya salah satu marinir pada Tashisi.

Tashigi terlihat semakin memerah, tapi tetap berusaha mengingat kejadian yang dikatakan oleh sang pria mesum. Setelah beberapa saat, semburat merah di wajahnya menghilang. Dia menundukkan wajah, sehingga membuat sebagian wajah gadis itu tertutupi oleh poni rambut. "Ya. Aku menggunakan kakiku..."

"Benar, kau melakukannya di depan Kapten... Sumo... Suck... em... Smock... Smoker? Ah, Kapten Ubanan kalian." Tukas pria yang di panggil mesum sambil tersenyum. Dia lantas turun dari tempatnya terduduk, dan mendekati tergeletaknya Kru Topi Jerami.

"Ewww~ Tashigi-san melakukannya di depan Kapten Smoker/Ubanan... HEI, KEPALAMU JUGA UBANAN PRIA MESUM." Teriak para marinir terkecuali Tashigi yang terlihat semakin mengeratkan genggaman tangan.

Pria mesum tadi mengulas seringai tipis. "Otak kalian lambat... seperti Kapten kalian."

"Kenapa kalian justru mendengarkan perkataan pria mesum ini?" Bentak Tashigi pada pasukan marinir sambil menyuguhkan tatapan tajam. "Pria mesum uba... pria dihadapan kalian ini adalah kriminal, Naruto si Harimau Putih [Naruto the white tiger]."

"Eh?" Teriak semua marinir.

Tashigi langsung mencabut katananya. "Tangkap dia, untuk memastikan tidak akan ada lagi wanita yang menjadi korban kemesumannya."

"Siap!" Ucap semua bawahan Tashigi.

"Maaf Shigi-chan. Aku tau kau ingin menangkapku agar bisa memilikiku seorang diri, tapi tidak hari ini." Tutur Naruto sambil menyeringai. Dia mengunakan tangan kanan untuk mengangkat dua kru milik Luffy, begitu pula tangan kirinya. Sedangkan di pundak kiri dan kanannya terbaring Luffy dan pria berhidung panjang.

"Tangkap dia, jangan biarkan pria mesum sepertinya kabur." Perintah Tashigi. Gadis itu langsung berlari mendekati Naruto dan siap mengayunkan katananya.

Blash

Tapi sebelum para marinir berhasil mendekati Naruto, gelombang energi cukup besar menyelimuti mereka. Menekan keberanian, keinginan, serta semangat sehingga membuat para marinir terjatuh. Sebagian dari mereka kini tidak sadarkan diri, meskipun begitu segelincir yang masih sadar hanya mampu terduduk dengan tubuh yang bergetar.

"A-apa yang kau lakukan pada kami?" Tukas Tashigi penuh geram, sedangkan matanya terlihat masih melebar.

"Ho~ ternyata banyak juga dari kalian yang bisa menahan Houshoku no Haki milikku. Yah, walaupun aku tidak menggunakannya dengan kekuatan penuh." Gumam Naruto.

"Houshoku?" Pikir para marinir yang masih sadarkan diri.

"Ada yang ingin aku katakan padamu, Shigi-chan." Tutur Naruto dengan serius. "Bocah ini... bukan, Bajak Laut Topi Jerami... selamat dari kejaran marinir bukan karena marinir melepaskan mereka, tapi mereka ditolong kriminal lain sebelum marinir dapat meringkusnya. Jadi... em... aku lupa." Dia mengangguk pelan. "Sampai jumpa lagi."

'Jump'

Naruto menghilang.

Tashigi masih membuka lebar mulutnya. Perkataan yang hendak ia ucapakan terhenti di tenggorokan bersamaan dengan hilangnya pria yang telah mempermalukannya.

Pasukan marinir mengerjapkan mata berkali-kali. "Dia menghilang."

Hening.

Tidak ada satupun dari marinir yang tahu harus berbuat apa terhadap situasi mereka.

"Em... Tashigi-san, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya salah satu marinir.

"Kita bawa Crocodile ke kapal di Nanohana, dan... bantu rekan kalian yang masih pingsan." Jawab Tashigi sambil menggertakkan gigi.

"Siap!" Ucap bawahan Tashigi bersamaan.

Saat pasukan marinir mulai bergerak, salah satu dari mereka sempat berhenti dan menatap Tashigi dengan serius. "Tashigi-san, bagaimana dengan Topi Jerami dan Harimau Putih?"

"Kita serahkan mereka pada Kapten Hina. Dia akan menggantikan kita menangkap mereka, sedangkan kita harus segera mentransfer Crocodile ke markas, lalu Impel Down."

"Oh." Marinir tadi mengangguk pelan. "Tashigi-san..."

"Ya?"

"...apa semua yang dikatakan Harimau Putih tadi..."

Slash

Klik

Marinir tadi langsung terdiam karena Tashigi menebas topi yang ia kenakan. Dia bisa melihat tatapan atasannya menajam, dengan tangan yang siap mencabut kembali katana jika dirinya tidak berhenti bicara. "...aku... aku akan membantu yang lain." Marinir tadi langsung berlari menyusul rekannya tanpa sekalipun menoleh kebelakang.

Tashigi mendesah panjang. "Aku akan menangkapmu, Mesum Ubanan. Kapten Smoker akan terus mengejar Topi Jerami, jadi Roronoa Zoro dan katananya bisa menanti. Jika aku tidak salah, katana yang dimiliki Mesum Ubanan itu merupakan Murasame, salah satu dari 12 Saijo O Wazamono Grade Swords. Kukuku~ akan aku merebut katana itu setelah menginjak-injak wajahnya... sebagai ganti tindakan yang dia lakukan padaku hari ini." Pikir gadis marinir itu sambil menyeringai lebar. "Kukuku~ aku tidak sabar menginjak-injak wajah tampannya itu..." Seringai di wajah Tashigi kini menghilang.

"Marinir-san..." Seorang wanita bersurai biru menepuk pelan pundak gadis marinir tadi.

"Tampan... Huh?" Gumam Tashigi karena terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.

"Tampan?" Tutur gadis yang menghampiri Tashigi dengan ekspresi bingung.

Sedangkan Tashigi terlihat melebarkan mata. "Bukan apa-apa, Vivi-hime." Ucapnya sambil menggelengkan kepala, dan berusaha menyembunyikan semburat merah di wajah. "Ada perlu apa anda menemuiku, hime?"

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Ini mengenai Naruto-san..."

Twich

Urat-urat di dahi Tashigi terlihat menebal. "Kenapa hari ini terasa begitu melelahkan?" Batinnya sambil menengadahkan wajah menatap langit gelap. Rintik hujan mulai mengguyur Alabasta, seakan menemani tangisan hati sang gadis marinir.


[Dua hari kemudian]

[Alubarna - Istana Alabasta]

.

Tawa lirih, keluar dari mulut kecil putri Raja Kerajaan Alabasta.

Nefertari Vivi terkikik melihat interaksi kru Topi Jerami, terlebih saat kapten kru tersebut telah sadarkan diri. Kapten bajak laut yang telah menyelamatkan Negeri Alabasta itu pingsan selama beberapa hari semenjak kemenangan melawan Crocodile, dan bertingkah layaknya tidak ada apapun yang terjadi.

Vivi mengulas senyum lembut. Dia merasa bahagia dipertemukan dengan Kru Topi Jerami, dan bangga memanggil mereka teman. Mereka ada ketika ia dalam kesulitan, dan kini mau berbagi tawa saat semua kesulitan telah sirna.

Indahnya sebuah persahabatan.

Tapi berlahan senyuman Vivi menghilang, ia kehilangan keberadaan Naruto setelah pria itu membawa Luffy dan kru-nya ke istana. "Pria misterius. Seingatku pertama kali kita bertemu ketika berada di Rainbase. Namun entah kenapa setiap berada di sisinya, aku bisa mersa aman dan nyaman." Dia lantas mengalihkan pandangan ke jendela ruangan, menatap cakrawala biru.

Alabasta kembali cerah, setelah sehari-semalam diguyur hujan.

Vivi bisa melihat seseorang terbang mendekati jendela... terbang?

Crash

Jendela ruangan kini hancur, karena tubuh orang yang terbang tadi menabrak jendela dengan keras. "Yo... Vivi-hime." Tukas pria tadi penuh ceria. "Huh? Kau bangun juga akhirnya, bocah."

"Naruto-san?" Gumam pelan Vivi.

Bocah yang dipanggil Naruto menatapnya binggung. "Paman Silver, apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak akan menyerahkan Nami padamu. Sudah aku katakan kalau Nami adalah navigator sekaligus teman berhargaku. Tapi jika masih ingin bayaran, kau boleh bergabung dengan Bajak Laut Topi Jerami."

"Luffy, kau tau kan kalau dia mengincarku?" Bentak gadis yang di panggil Nami oleh Luffy. Gadis itu memiliki rambut oranye, dengan iris mata berwarna coklat madu.

"Hem..." Luffy mengangguk pelan pada Nami.

"Lantas kenapa kau menawari pria itu menjadi bagian dari kru?"

"Karena dia orang yang menarik."

"Bagaimana kalau itu merupakan bagian dari rencananya agar mempermudah rencanaya untuk menculikku?"

"Dia tidak akan melakukannya, dia itu orang baik." Tutur Luffy penuh keyakinan.

"Dari mana bisa mengetahuinya? Dan kenapa kau terlihat begitu yakin?"

"Aku mempercayainya."

"Aku tahu." Nami menarik napas dalam-dalam. "TAPI BAGAIMANA KAU BISA MEMPERCAYAINYA BEGITU SAJA?" Teriak gadis Navigator itu.

Suasana ruangan menjadi hening.

"Hem..." Luffy tampak sedang berpikir keras, sedangkan oran lain yang berada di ruangan terlihat penasaran dengan jawaban bocah pemakan Buah Iblis Gomu-Gomu no Mi. "Dia sudah menyelamatkan kita dari penjara Crocodile. Dia orang baik."

"Hahaha..." Tawa lepas keluar dari mulut pemuda berambut hijau.

Sedangkan pemuda berambut pirang yang tengah asik menghisap rokok melepaskan desahan panjang. "Pria Karet berengsek."

"Argumennya kembali lagi ke awal." Tukas pemuda berhidung panjang. "Nami, lebih baik kau menyerah saja."

Nami langsung manatap tajam pemuda berhidung panjang tadi. "Kau mengatakan sesuatu Usopp?"

Pemuda yang di panggil dengan nama Usopp berlahan melangkah mundur. "Ti-tidak."

"Sanji, Nami menakutkan." Gumam pelan Rusa kecil yang kini bersembunyi di balik pemuda berambut pirang.

"Luffy..."

Perkataan Nami terhenti saat tiba-tiba melihat ekspresi serius Luffy. "Nami, ada pepatah mengatakan : mata adalah jendela jiwa. Saat menatap mata Paman Silver, aku bisa tahu kalau dia cocok dan pantas untuk bergabung dengan Kru Topi Jerami." Suasana ruangan kembali hening.

Gerrr

"Aku lapar." Rintih Luffy setelah perutnya bernyanyi.

Brak

Semua orang terjatuh kelantai begitu mendengar perkataan terakhir Luffy.

"Fufufu~ karisma yang dimiliki Luffy-san kembali hilang." Tutur Vivi yang sedari tadi hanya terdiam.

Nami memijat keningnya, lantas menatap Naruto meskipun ekspresinya terlihat nerfes. "Um... Paman... Silver?"

"Huh?" Naruto menatap kosong gadis yang memanggilnya. "Naruto. Namaku Panther D. Naruto."

"Baiklah, Naruto-san." Ucap Nami. "Meskipun aku tidak setuju dengan keputusan Luffy, tapi pria bodoh itu tetap tidak akan merubah keputusannya. Jadi aku akan terus mengawasimu, dan jangan pernah mencoba untuk menculikku. Kru Topi Jerami cukup kuat. Kau sudah tau kalau Luffy mampu mengalahkan Crocodile. Aku yakin sanji bisa menendangmu dengan mudah..."

"Tentu saja Nami-swann~" Tukas Sanji sambil menari-nari.

"...Zoro adalah pendekar pedang. Dia kuat, mungkin lebih kuat darimu. Jadi..."

"Em... Penyihir. Aku rasa pria yang kau ancam lebih kuat dariku. Dia mungkin sejajar kuatnya dengan Mihawk, salah satu Sichibukai." Gumam Zoro sambil memalingkan wajahnya, menghindari tatapan semua orang. Sebelumnya ia tidak pernah mengakui kehebatan orang lain secara langsung, meskipun dapat mengetahuinya begitu melihat dan merasakan aura seseorang semenjak kekalahan melawan Mihawk.

Zoro merupakan pria yang memiliki harga diri tinggi, tapi ia juga sadar seberapa besar batas kemampuan dirinya. Dia berjanji pada Luffy, untuk tidak pernah lagi kalah dengan orang lain. Jika bertarung dengan Naruto sekarang, ia tahu dirinya pasti akan kalah. Tapi lain ceritanya jika bertarung di lain waktu, setelah kemampuan berpedangnya meningkat. Setidaknya ketika sudah sejajar dengan Mihawk. Dia mungkin bisa mengalahkan Naruto, atau setidaknya mengimbangi dan tidak mengalami kekalahan.

"...Nah kau dengar perkataan Zo... huh?" Sejenak Nami melebarkan mata. Dia lantas menatap Zoro, berharap pria itu mau mengklarifikasi ucapan dan meyakinkan diri kalau apa yang ia dengar merupakan kesalahan. "Zoro... kau..."

"Ya. Itu kenyataan." Gumam pelan Zoro. Pemuda bersurai hijau itu lantas beranjak meninggalkan ruangan, dan bersiap untuk latihan lebih berat lagi.

Luffy yang sedari tadi terdiam sambil mengorek hidung karena mendengar percakapan membosankan, kini mengarahkan pandangan ke arah Vivi. "Em... Vivi, kau punya makanan?"

"Huh?" Vivi mengerjapkan mata berkali-kali. "Ya, karena kau sudah sadar, aku rasa pesta bisa segera dimulai."

"YOSH! PESTA." Teriak Luffy penuh semangat. "Aku harap kau punya banyak daging, Vivi." Perkataan itu seakan berfungsi sebagai pemanas, sehingga mampu mencairkan ketegangan di dalam ruangan.

"Tentu saja. Terracotta-san akan menyiapkan semua, kau tidak perlu khawatir Luffy-san." Tukas Vivi.

"Hem~" Tiba-tiba Luffy terdiam, wajahnya menampakkan ekspresi serius. "Sepertinya ada yang kurang. Hem... hem~"

"Apa lagi yang kau inginkan, Luffy?" Tanya Nami dengan nada kesal.

Kapten bajak laut tadi tersenyum lebar. "Kita berpesta untuk merayakan bergabungnya Paman Silver ke dalam Kru Topi Jerami."

Naruto menatap tajam Luffy. "Aku menolak! Aku sama sekali tidak tertarik bergabung dengan kru bajak lautmu."

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan bagiku bergabung dengan kumpulan bocah seperti kalian." Tukas Naruto.

Luffy menatap Naruto dengan serius. "Kau... kau bisa bertemu dengan Nami setiap hari, karena hidup dalam satu kapal."

"EH?" Teriak Nami, Usopp dan seekor Rusa bersamaan. Ketiganya menampakkan raut terkejut setelah mendengar perkataan Luffy. "Luffy, kau..."

"Kau pria seperti Sanji kan, Paman Silver." Ucapan Luffy terkesan sebagai pernyataan dan bukan pertanyaan.

Twich

Alis perak Naruto nampak berkedut. "Bah~ jangan samakan diriku dengan Mesum Perjaka itu. Aku bukan mesum renda..." Perkataan samurai pengembara itu terhenti di tenggorokan, mata birunya terlihat melebar setelah sadar dengan apa yang hendak ia ucapkan. "Ehm... lupakan apa yang barusan aku katakan, terkecuali bagian aku menolak tawaranmu menjadi bagian dari kru Topi Jerami. Hem~ aku harus segera pergi, masih ada urusan yang belum terselesaikan."

Vivi memandang sendu Naruto. "Seperti bertemu dengan seorang wanita?"

Sedangkan pria yang ditanyai terus melangkah meninggalkan ruangan. "Mungkin." Gumamnya pelan.


[Markas Pusat Marinir]

.

"...berdasarkan semua catatan yang ada, 100.000.000 berri untuk Mugiwara no Luffy dan Pirate Hunter Zoro dengan 60.000.000 berri merupakan harga buronan yang pantas untuk mereka." Tukas pria berambut hijau dan mata yang tersembunyi dibalik kacamata hitam. Dia mengenakan setelan kemeja bermotif garis dengan warna putih dan biru dan bawahan berupa celana berwarna pink. Tidak lupa jubah marinir berwarna putih terpajang menutupi punggung sedangkan bagian pundaknya menunjukkan simbol pangkat pria itu sebagai Wakil Komandan [Lieutenant Commander/ Shōsa ].

"Ya, kami setuju denganmu Brannew." Tukas beberapa petinggi angkatan laut yang hadir dalam rapat.

"Terimakasih. Tapi bukan hanya itu yang menjadi permasalahan. Kap... Commodore Smoker juga melaporkan bahwa Shiroi Tora no Naruto juga berada di Alabasta ketika peperangan terjadi. Menurut laporan Ensign Tashigi, Shiroi Tora lah yang menyelamatkan Mugiwara dari kepungan marinir saat hendak menangkap bajak laut itu ketika seluruh kru tidak sadarkan diri setelah mengalahkan 'Baroque works' dan Crocodile." Lanjut Brannew.

Crack

Sepasang sumpit yang digenggang seorang gadis dengan jabatan Commodore [Junshō] patah. Wajah cantiknya tampak tertutupi oleh bayangan rambut ungunya, sehingga membuat tatapan dari iris ungu kemerahan gadis itu terlihat begitu tajam. Bibir tipis gadis itu mengulas seringai, sedangankan tangan putihnya menggenggam erat katana.

"Ada sesuatu yang mengganggumu, Ikeda-san?" Tanya marinir yang duduk di samping gadis bernama Ikeda itu.

"Tidak ada." Suara merdu keluar dari mulut mungil gadis bersurai ungi tadi. "Kau boleh melanjutkan presentasimu, Brannew-san."

"Baiklah. Shiroi Tora no Naruto, menurut laporan Commodore Smoker mapun Ensign Tashigi merupakan pengguna haki. Sejauh ini, diketahui kalau dia bisa menggunakan Busoshoku dan Houshoku..."

Brannew menghentikan presentasinya untuk sejenak, karena sekarang para petinggi marinir justru saling berbicara satu sama lain setelah mendengar kalau kriminal yang tercatat memiliki harga buronan cukup kecil ternyata mampu menggunakan Houshoku no Haki.

"Apa informasi itu akurat, Brannew?" Tanya salah satu Wakil Admiral yang datang di pertemuan.

"Ya. Commodore Smoker menyaksikan sendiri bagaimana Shiroi Tora menggunakan Busoshoku pada katananya untuk memotong lempengan batu laut, dan Ensign Tashigi menyaksikan bagaimana dirinya nyaris pingsan oleh energi yang berasal dari tubuh pria itu, bahkan mampu membuat pingsan sebagian besar bawahannya. Shiroi Tora sendiri juga mengkonfirmasi dengan mengatakan : 'Ho~ ternyata banyak juga dari kalian yang bisa menahan Houshoku no Haki milikku. Yah, walaupun aku tidak menggunakannya dengan kekuatan penuh.' pada Ensign Tashigi."

"Jika semua itu benar, maka harga buronan 50.000.000 berri sangatlah kecil bagi pria seperti Shiroi Tora." Tukas salah satu petinggi marinir.

"Tapi catatan kriminalitas pria itu adalah meniduri ist..."

"Kau tidak perlu mengatakan hal itu di sini."

"...ah~ baiklah. Intinya, harga 50.000.000 berri sesuai dengan tingkat kriminalitasnya saat itu."

"Hem~"

"Brannew, berasal darimana Shiroi Tora? Kenapa kriminal dengan harga serendah itu bisa menggunakan dua jenis haki? Dan kita baru mengetahuinya saat ini."

Brannew mendesah panjang begitu mndengar pertanyaan dari salah satu Rear Admiral. "Awalnya kita kesulitan mendapatkan informasi tentang asal usulnya, tapi pada akhirnya kita berhasil menguaknya saat Commodore Ikeda Miya [Sekirei/Asama Miya] mendengar bahwa kita sedang mencari informasi mengenai Shiroi Tora. Shiroi Tora no Naruto berasal dari Negeri Wano, Dunia Baru. Dia juga tercatat sebagai kriminal di negerinya sendiri, ia membantai anggota keluarga Ikeda dan hanya menyisakan satu orang gadis kecil berusia lima tahun. Negeri Wano menghargai kepalanya hidup atau mati sebesar 376.000.000 berri, sedangkan keluarga Ikeda sendiri menghargai 590.000.000 berri dalam kondisi hidup."

"Hem~ itu merupakan informasi yang mengejutkan. Ikeda..."

Brannew membenarkan letak kacamatanya. "Ya. Commodore Ikeda Miya juga berasal dari Negeri Wano, dan dia merupakan gadis yang selamat itu."

"A-apa? Brannew, kau bilang tadi gadis yang selamat masih berumur..."

"Dia berumur 11 tahun." Ucap Ikeda Miya dengan nada dingin.

Hening.

Bukan hal baru bagi petinggi marinir mendengar seorang anak berusia 11 tahun melakukan tindak kriminalitas, ataupun pembunuhan. Tapi yang membuat mereka terkejut dan kehilangan kata adalah bocah berumur 11 tahun itu membantai keluarga Ikeda.

Keluarga Ikeda terkenal dengan teknik pedangnya yang hebat, mereka merupakan keluarga yang berkuasa di kota Niigata, sekaligus algojo saat hukum penggal dilakukan di Negeri Wano.

Lantas keluarga yang terkenal kuat dan memiliki pengaruh besar itu dibantai oleh anak berusi 11 tahun, seorang diri.

Tok

Tok

Srek

Pintu rapat petinggi marinir itu terbuka, dan menampakkan seorang pria bertubuh kekar dengan kulit hitam.

Brannew menatap tajam pria berpangkat Kapten itu. "Kapten Rocky, kenapa kau datang ke sini?"

Kapten Rocky langsung berdiri tegak. "Pak. Dua jam lalu, Kapten Souichiro, dia pergi meninggalkan G-9 sambil membawa 5 kapal perang dan 1000 pasukan elit menuju Alabasta. Dia mengabaikan semua perintah begitu mendengar informasi kalau Shiroi Tora no Naruto berada di negeri itu."

"Sial." Umpat Brannew. "Aku tidak menyangka kalau Kapten Souichiro akan melakukan hal seperti ini. Dia..."

Tap

Brannew menghentikan ucapannya saat melihat Commodore Ikeda Miya berdiri.

Tap

Brak

Pintu ruang rapat terbuka semakin lebar dengan datangnya seorang Kapten Marinir. "Ada apa Kapten Meynarez?"

Seperti kapten sebelumnya, Meynarez langsung berdiri dengan tegap. "Pak. Kapten Souichiro mendapatkan laporan dari Alabasta kalau Shiroi Tora no Naruto menculik Nerferati Vivi, Putri Raja Kerajaan Alabasta."

Hening.

Crack

Kacamata yang dikenakan Brannew retak. Pria pemegang jabatan Wakil Komandan itu kini memperlihatkan eskpresi penuh frustasi.


[Tiga Hari Kemudian]

[Pelabuhan Timur Alabasta]

.

Byur

Suara ombak yang menatap tepian pantai Pelabuhan Timur Alabasta mengisi kesunyian antara tiga mahkluk, dua manusia dan satu hewan, tengah berada di atas kapal dengan ukuran sedang [Kapal Caravel].

"Aku akan tinggal, dan menyerahkan diri pada marinir." Tutur Naruto penuh kemalasan.

"Sebegitu tidak inginnya kah kau aku ikuti?" Vivi kini terlihat cemberut, lantas mengalihkan pandangan ke lautan sambil menggunakan teropong. "Hem~ sepertinya para marinir sudah datang, Naruto-san. Huh? Aneh... kenapa wajah kapten yang memimpin mereka terlihat begitu geram ya?"

Naruto menaikkan alisnya sebelah. "Berikan teropongnya padaku!" Melalui teropong, Naruto bisa melihat kapten yang memimpin prajurit mariniritu. Dia merupakan pria paruh baya bertubuh kekar, memiliki rambut hitam kelam, mata beriris oranye dengan sorot tajam, dan kulit tan. Tidak lama setelah itu iris biru pria bersurai perak tadi nampak melebar. "Oh~ tidak! Itu... itu Kapten... Souichiro."

"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tukas Vivi sambil mengulas senyum penuh kemenangan. "Tidak sia-sia aku meminta informasi mengenai Naruto-san pada Tashigi-san. Terlabih lagi Tashigi-san mau memberikan nomor Den Den Mushi markas tempat Kapten Souichiro bertugas. Naruto-san terlihat begitu panik setelah melihat suami dari wanita yang pernah ia tiduri."

"Mau tidak mau, aku harus melarikan diri." Gumam pelan Naruto setelah menyadari siapa kapten yang memimpin pasukan marinir. "Jika menyerahkan diri, bisa-bisa aku dikebiri."

Vivi mengulas senyum tipis setelah mendengar perkataan pria di sampingnya. "Kapal yang kau naiki sekarang adalah milikku. Aku tidak keberatan jika kau ingin menggunakannya untuk kabur dari kejaran mereka, tentunya selama kau mau membawaku bersamamu."

"Huh..." Naruto menyeringai tipis. "Kau lupa dengan kemampuan Jump-ku ya, Hime?"

Senyuman Vivi masih belum luntur meskipun mengetahui maksud perkataan Naruto. "Apa kau lupa dengan katana dan wakizashi-mu?"

Sejenak Naruto melebarkan kembali mata, lantas ia memandang tajam Vivi. Benar juga, tidak lama setelah ia datang di pelabuhan putri Alabasta itu meminjam katana miliknya dengan alasan ingin mengamati keindahan bentuk yang dimiliki. Namun hal itu ternyata adalah bagian dari rencana gadis bersurai biru di kekatnya, gadis itu menjadikan Murasame dan Shinsoo sebagai sandra. "Aku akan mencarinya..."

"Hem~ Sepertinya kapal para marinir terlihat semakin dekat." Potong putri dari Raja Kerajaan Alabasta itu sambil mengamati datangnya kelima kapal marinir menggunakan teropong.

Naruto hanya bisa menggertakkan gigi, menahan amarah setelah mendengar perkataan Vivi. Dia lantas mendesah panjang, dan kembali manatap tajam gadis bersurai biru tadi. Tidak tahu kenapa semua bisa terjadi, tapi situasi yang saat ini ia hadapi jelas-jelas bukanlah bagian rencananya. "Kenapa kau bersikeras sekali mengikuti?"

"Tentu saja karena aku calon istrimu." Tukas Vivi penuh ceria. "Kau tidak akan menjilati ludah yang sudah kau keluarkan 'kan, Naruto-san?" Dia kembali mengulas senyum kemenangan. "Kau telah menyelatkan Alabasta dan juga diriku, jadi sekarang adalah giliranku membantumu. Menghilangkan kesedihan, kesendirian, dan keputusasaan seperti yang dipancarkan oleh mata birumu. Aku ingin melihat kembali senyum dan tawa manismu seperti yang sempat kau tunjukkan ketika kita berpesta bersama kru Topi Jerami, meskipun saat itu kau hanya menunjukkanya dalam sekilas. Aku... aku juga ingin mengenalmu lebih jauh... entah kenapa saat aku berada di..."

"Lakukan apa yang kau inginkan sesukamu!" Kalimat itu lah yang menyadarkan Vivi dari gelut pikirannya. Gadis itu sekilas melihat seringai tipis terukir di wajah Naruto. "Kita lihat jika kau masih ingin bersamaku setelah ini." Setelah itu pria yang sedari tadi di ajak Vivi berdebat melompat dari kapal lantas berpijak pada angin? Putri Kerajaan itu tidak yakin. Namun yang jelas, pria tadi terlihat melayang.

"Fufufu~ untung aku sudah banyak belajar cara bernegosiasi dengan orang-orang seperti Naruto-san dan Luffy-san dari Nami-san." Batin Vivi.

"Sekarang aku setuju dengan Shikamaru, wanita itu merepotkan." Tubuh Naruto membesar kemudian berubah menjadi Harimau Putih berceloreng hitam, ukurannya terlihat berkali lipat lebih besar daripada saat ia berubah di Alubarna [seukuran Gamabunta/tinggi 17 meter]. Terlihat angin menyelimuti tubuh Harimau raksasa itu, bulu pada bagian kaki dan kepala terlihat lebih panjang dari bagian lain. Gigi taring panjang yang mencuat keluar tampak menambah kesan kebuasan, sedangkan iris birunya memiliki pupil vertikal berwarna hitam.

Panther D. Naruto, dalam bentuk perubahan Harimau Putih raksasa mengangkat kaki depan sebelah kanan. "Angin dan udara adalah wilayahku." Seketika itu kaki yang terangkat terselimuti oleh pusaran angin kencang. "Aku harap kalian tidak mati setelah ini." Dia latas mengayukan kaki tadi ke arah datangnya kelima kapal marimir.

'Tenkūsen'

Di kejauhan, Kapten Souichiro yang melihat teknik milik Naruto tampak membelalakkan mata. "Tinggalkan kapal!" Teriaknya setelah sadar dari keterkejutan dan mengetahui seberapa luas serta besarnya daya serangan Naruto.

BOMMM

Pusaran angin kencang tadi melaju kencang dan telak mengenai empat dari lima kapal milik marinir, mengakibatkan terjadinya ledakan besar. Sedangkan satu-satunya kapal yang selamat lansung terhantam oleh gelombang tinggi air laut hasil dari dorongan ledakan menuju tepi daratan Alabasta.

"Tahan napas kalian!" Teriak Naruto yang masih dalam bentuk Harimau Putih raksasa sambil menghirup udara di sekitarnya.

"ROARRR"

BLASHHH

Raungan kencang keluar dari mulut Naruto, menciptakan pusaran angin lebih besar dari serangan sebelumnya. Akan tetapi serangan kali ini hanya memiliki dampak dorongan lebih besar sehingga mendorong jauh para marinir yang berenang karena meninggalkan kapal saat serangan pertama Naruto besarta kepingan kapal yang hancur.

Sejenak suasana menjadi sunyi, hanya terdengar bunyi ombak yang menuju tepian daratan Alabasta.

Menyadari masalah sudah teratasi, tubuh Harimau raksasa tadi mulai menyusut. "Selesai." Bahkan suaranya menjadi ringan, dan tidak lama setelah itu menampakkan kembali tubuh asli dalam bentuk manusia.

Para prajurit marinir yang selamat dari serangan yakin tidak akan pernah melupakan wajah pria penghancurkan kapal dan rekan-rekan mereka. Pria itu mempunyai rambut berwarna perak [silver] panjang, beriris biru dan memiliki kulit putih. Wajah tampan, atau menakutkan? Terhiasi oleh luka sayatan vertikal pada tepi bibir sebelah kanan.

"Vivi, kembangkan seluruh layar kapal!" Itulah kalimat terakhir yang didengar oleh para marinir dari sosok penghancur kapal mereka sebelum berlayar menjauhi Alabasta.


[Beberapa hari kemudian]

[Pulau Bersalju - West Blue]

.

"BHAHAHA..." Tawa keras terdengar dari sebuah pulau kecil di West Blue.

"Hei Benn, lihatlah ini! Lagi-lagi Bocah Ubanan itu menggait seorang gadis, dan kali ini dia tidak tanggung-tanggung, menculik Putri dari Kerajaan Alabasta." Tukas Pria berambut Merah.

"Benarkah?" Tanya pria yang dipanggil dengan nama Benn. "Bisa aku lihat korannya, Kapten? Aku ingin membacanya langsung."

"Aku juga." Sahut pria gendut yang memakai koas bermotif gadis hijau dan putih.

"Tangkap." Ucap pria berambut merah yang di panggil kapten oleh Benn. "Harga buronannya juga naik, dari 50.000.000 berri menjadi 376.000.000 berri. Kenaikan yang luar biasa setelah menghancurkan empat kapal perang milik marinir. Sama seperti Luffy, dari 30.000.000 berri menjadi 100.000.000 berri setelah mengalahkan Crocodile." Gumam Pria tadi sambil memandang langit biru.

"Apa kira-kira penyebabnya sehingga Bocah Ubanan itu menunjukkan kekuatannya? Padahal sebelumnya dia bersikeras menjauhkan diri dari mata Pemerintah Dunia. Apa mungkin karena Putri Kerajaan Alabasta itu? Jika iya, gadis itu pasti merupakan pendamping yang cocok untuknya." Batin pria bersurai merah tadi sambil membayangkan Bocah Ubanan tengah meringkuk di pojok sebuah ruangan dan menerima banyak makian dari seorang gadis misterius. "BHAHAHA... rasakan itu Bocah Ubanan!" Dia masih mengingat semua penderitaan yang dialaminya dengan jelas selama Bocah Ubanan itu berlayar bersama kru-nya.

"Kapten/Shanks?" Semua orang di dekat pria yang di panggil Shanks itu nampak bingung, pasalnya kapten mereka terlihat senyum-senyum sendiri dengan sorat mata kosong.


Cerita Berakhir


Tenkūsen [Sky Drill] teknik kendali angin Naruto yang di dapat dari kemampuan Buah Iblis dengan membuat angin berputar kencang dalam dua lapisan dan berlawanan arah, sehingga membentuk pusaran angin yang memiliki tekanan dan daya hancur besar ketika diarahkan ke sasaran serang.

Ikeda Miya merupakan Asama Miya dari Sekirei, tapi karakternya masih seperti saat ia berada di Pulau Kamikura. Miya merupakan gadis yang serius dengan tatapan mata tajam dan dingin, memendam perasaan lainnya demi misi melindungi seluruh sekirei.

Souichiro merupakan karakter dengan nama lengkap Souichiro Takagi dari Highschool of The Dead. Kalian pasti sudah tahu istri dan anak gadisnya, iya kan?


Jangan lupa tinggalkan reviews!

Salam... Deswa