Yo... baru bisa update potongan chapter sebelumnya. Yah, ini merupakan bagian dari chapter sebelumnya. Tapi karena terlalu panjang jadi saya bagi, dan baru bisa di post sekarang.


Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Naruto The White Tiger – Chapter 9


Langit biru.

Itulah yang nampak di pandangan Nefertari Vivi, Putri Kerajaan Alabasta. Dia terbaring di deck kapal dalam diam, peluh terlihat membasahi tubuh ramping gadis itu, kulit mulusnya kini dipenuhi luka dan memar akibat latihan bersama Naruto. Bokongnya terasa nyeri karena sering menjadi sasaran serang, ia masih tidak percaya kalau pria ubanan itu tega menyakiti gadis bahkan saat latihan.

Bukan... bukan menyakiti, tapi menyiksa.

Tangan kanan Vivi menggenggam erat 'aikuchi' tanto dengan tsuka berwarna biru muda. Pada pangkal tsuka tersebut terpasang rantai silver panjang yang ujungnya memiliki cincin dan kini tampak melingkar di jari tengah gadis bersurai biru tadi.

Senjata di tangan Vivi merupakan pemberian Naruto, dibuat oleh pria itu sendiri dengan bahan yang bercampur batu laut. Awalnya, Vivi selalu bingung karena pria yang ia ikuti hampir tiga hari penuh selalu menghilang; setiap malam, dan kembali menjelang pagi. Hingga seminggu yang lalu ketika ia hendak menanyakannya; ia langsung disuguhi kotak berisi senjata di genggamannya.

Senjata elegan, tapi juga mematikan.

Naruto memanggilnya Akisora, Langit Musim Gugur.

Semenjak Akisora diterima Vivi, tiada hari yang ia lalui tanpa penyiksaan. Dia dipaksa untuk berlatih, dengan harapan bisa melindungi diri sebab ia memilih mendampingi perjalanan seorang kriminal.

"Ugh~" Desahan lirih keluar dari mulut mungil putri Kerajaan Alabasta. Mata sayunya melirik pria bersurai perak yang kini duduk di deck atas kapal dan terlihat tengah menikmati sunyi.

Sudah dua minggu berlalu sejak Vivi memutuskan untuk mengarungi lautan, tapi ia masih jua belum bisa membuat pria tadi membuka diri. Terkadang ia merasa kalau usahanya tidak akan membuahkan hasil, dan mempertanyakan pilihan yang ia ambil. Tapi jika mengingat kembali, semua adalah kesalahan dirinya sendiri yang memaksa untuk mengikuti pria ubanan itu.

Berawal dari senyuman indah penuh ketulusan, serta kebenaran dari mata safir yang sempat terpancar ketika pesta bersama Kru Topi Jerami dan juga pemilik mata indah yang ia kagumi.


[Dua minggu lalu]

[Ruang makan Istana Kerajaan Alabasta]

Riuh.

Kata yang pantas untuk mendeskripsikan keadaan ruang makan istana. Pesta kecil untuk merayakan kebebasan Alabasta dari cengkraman Crocodile, serta kemenangan Luffy atas pertarungan melawan salah satu Shicibukai itu kini terdengar begitu meriah.

Trank!

Klank!

Ruangan dipenuhi oleh suara peralatan makan, perebutan berbagai jenis makanan karena ulah Luffy yang memiliki selera besar.

"HAHAHA~"

Tawa lepas juga terdengar dari tempat itu saat semua yang hadir disugi tarian lucu milik Usopp maupun seekor Rusa berhidung biru.

Keceriaan terlukis di wajah Raja Alabasta, putrinya, pasukan kerajaan, bahkan pelayan yang menyuguhkan makanan. Tentu saja hal itu juga terlihat di semua wajah kru Topi Jerami selaku pelopor terjadinya keramaian pesta.

Tidak terkecuali seorang pria bersurai perak yang datang tidak diundang, tapi diharapkan. Ekspresi bosan yang selalu ia pasang kini terlihat bergairah, dan tanpa disadari senyuman lembut penuh ketulusan terukir di wajahnya. Iris safir yang selalu sendu kini memperlihatkan percikan keceriaan.

Semua orang tampak sibuk dengan tawa masing-masing, sehingga nyaris tak ada satupun dari mereka yang melihat senyuman pria tadi berbeda dengan biasanya.

Tapi hal itu tidak terlewatkan oleh putri Kerajaan Alabasta.

Nefertari Vivi menghentikan tawa, ia nyaris melewatkan senyum indah Panther D. Naruto andai saja ia tidak menatap pria itu dengan seksama.

Waktu terasa terhenti.

Itulah yang dirasakan Vivi begitu melihat senyuman indah pria bersurai perak tadi. Ini kali pertama ia melihat Naruto mengulas senyum penuh ketulusan. Dan ketika matanya menatap iris safir pria itu, tubuh Vivi mematung.

Keindahan mata biru benar-benar terpancar, hilang sudah sorot kesedihan karena tergantikan oleh keceriaan, keputusasaan terhapus oleh semangat dan harapan, bahkan Vivi juga menemukan kebijaksanaan.

Gadis bersurai biru itu larut dalam keindahan mata biru layaknya safir. Dia mengabaikan keriuhan di sekitar, karena hati dan pikirannya seakan ingin menyelami keindahan safir yang tersuguh di hadapan.

Tapi sayang, keinginan Vivi tidak terkabulan. Semua menghilang begitu pria pemilik mata bertemu pandang dengannya.

Setelah Naruto mengedipkan mata, semuanya sirna.

Mata biru itu kembali seperti semula, terisi oleh kesedihan, kesendirian, keputusasaan, dan juga kemalasan.

Naruto yang menyadari tengah dipandangi oleh Vivi berlahan menaikkan alis, lantas mengacuhkannya dan kembali menikmati pertunjukan dari kru Topi Jerami. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena kebosanan menghampiri. Dia beranjak meninggalkan pesta, menuju kamar yang disediakan oleh pelayan atas perintah Raja Alabasta.


Vivi tersenyum lembut. Hatinya berharap bisa melihat senyuman dan mata indah itu lagi.


"Hem~" Naruto mendesah. Dia menengadahkan wajah, menatap bulan yang bercayaha remang.

Naruto menunda kepergian meninggalkan Alabasta untuk beberapa hari, berharap keadaan disekitar negeri berpasir ini mulai mereda. Saat ini masih banyak marinir yang bersiga di setiap pelabuhan milik Kerajaan Alabasta.

"Naruto-san?" Suara feminim menyadarkan Naruto dari lamunan.

Naruto mengalihkan perhatian pada sumber suara, mendapati gadis bersurai biru yang cukup ia kenali. "Vivi-hime, kau belum tidur?"

Sunyi.

Nefertari Vivi sejenak mengabaikan pertanyaan Naruto, memilih menerawang, melayangkan pandang pada rembulan yang telihat akan memasuki purnama dalam beberapa hari lagi. "Tidak bisa tidur. Pikiranku terus teringat dengan ajakan Luffy-san dan yang lainnya."

"Oh~ ajakan bergabung dan berlayar bersama mereka?" Tutur Naruto, kini ia terlihat mengalihkan pandangan pada gerlipnya bintang malam.

"Hem~" Vivi menganguk pelan. "Menurutmu... apa yang sebaiknya aku lakukan, Naruto-san?"

"Kau... Putri Kerajaan Alabasta atau Bajak Laut?"

Vivi langsung manatap tajam pria di sampingnya. "Itu inti pertanyaanku, Naruto-san."

"Lakukanlah yang seharusnya kau lakukan." Ucap Naruto, bibirnya mengulas senyum tipis.

Sedangkan Vivi justru menaikkan alisnya, ia melayangkan pandangan aneh pada pria bersurai perak tadi. "Maksudmu?"

"Lakukanlah yang seharusnya kau lakukan."

"Saran macam apa itu?" Gadis bersurai biru itu terlihat mengembungkan kedua pipi... cemberut.

Meskipun begitu, hatinya terasa senang. Alabasta kini sudah terbebas dari penindasan Crocodile, penduduknya dapat merasakan segarnya hujan seperti dulu. Dia mungkin tidak mampu menghentikan perang tanpa adanya korban, tapi setidaknya keluarga yang ditinggalkan kini bisa merasakan sejuknya rintik hujan.

Namun berlahan senyuman manis putri Alabasta tampak memudar.

Mengapa di dunia ini terdapat orang yang begitu mudahnya memanfaatkan kebaikan hati seseorang untuk menggapai tujuan mereka?

Bahkan kebaikan itu mereka balas dengan kejahatan dan kekerasan.

Kenapa terlahir seseorang seperti Crocodile yang mempermainkan nyawa manusia tanpa peduli bagaimana penderitaan orang yang ia permainkan?

Apa di luar sana masih terdapat orang-orang seperti Crocodile? Akankah mereka merasakan duka dan penderitaan layaknya Kerajaan Alabasta serta penduduknya.

Vivi ingin mengetahuinya... mengetahui lebih banyak warna yang disuguhkan dunia.

Dia tidak ingin lagi melihat Alabasta dikotori oleh warna aneh penyebar sengsara. Setidaknya, dengan mengenal lebih banyak warna ia bisa mengembalikan warna Alabasta kesediakala andai negeri-nya diwarnai jenis lain oleh orang-orang seperti Crocodile.

Tapi...

"Kau tau, aku memiliki teman yang begitu mirip denganmu." Vivi mengalihkan perhatian pada Naruto. Dia merasa tertarik dengan perkataan yang dilontarkan pria ubanan itu.

Vivi kini terlihat menggunakan telapak tangan kirinya untuk menyokong wajah. "Oh~ seberapa mirip."

"Dia gadis lugu sepertimu..."

"..."Senyuman di wajah Putri Kerajaan Alabasta berlahan luntur.

"...mudah dimanipulasi..."

"..." Pandangan Vivi tampak kosong.

"...tapi kalian berdua sama-sama memiliki tubuh menawan..."

Twich

"...tentunya dengan buah melon yang begitu menggiurkan..."

Greb

Gadis bersurai biru tadi mengeratkan kepalan tangan, napasnya terlihat memburu, sedangkan wajah cantiknya tampak memerah, dan mulut mungilnya mulai terbuka. "KA..."

"...dan kalian berdua memiliki senyuman indah." Perkataan itu membawa kembali kesadaran Vivi. Dia bisa melihat raut sedih terlukis di wajah pria di dekatnya. Berlahan, amarah yang mulai meninggi tadi terasa sirna.

"Dia Ratu Kerajaan Rouran, negeri yang terletak di tengah padang pasir layaknya Alabasta. Dia begitu mencintai Rouran, dan sangat membanggakan kedudukannya sebagai Ratu Rouran. Tapi bukan berarti dia arogan atau 'membusungkan dada'... meskipun... aku justru menyukainya jika dia mau..."

"Naruto-san." Potong Vivi ketika melihat iris biru Naruto berbinar dengan pancaran cahaya yang kini cukup ia kenali... cahaya kemesuman.

Pandangan kedua insan berlain kelamin tadi sempat bertemu, memperlihatkan seakan mereka tengah berargumen melalui pertemuan pandang iris hitam dan biru.

Tapi secara berlahan, Naruto memalingkan wajah. Mendesah panjang, mengarahkan pandangan manatap langit malam, lantas kembali membuka mulutnya. "Ya... bukan berarti dia arogan atau sombong, melainkan..."

Vivi mendengarkan cerita Naruto dengan seksama, mulai dari petemuan pria bersurai perak itu dengan Ratu Kerajaan Rouran, perjuangan mereka menyelamatkan penduduk negeri, pertarungan besar melawan Mukade, hingga perpisahan mereka.

Keduanya terdiam seusai berakhirnya cerita Naruto, mereka larut dalam pikiran masing-masing.

Naruto mencoba mengenang perjalanan hidupnya bersama Sara. Membawa dirinya mengingat kehidupan masa lalu, perjalanan yang ia lalui ketika masih menjadi ninja Desa Konoha...

Sedangkan Vivi sendiri tengah sibuk mencerna bagaimana kisah Sara, Ratu Kerajaan Rouran. Seorang gadis muda yang memikul tanggung jawab besar setelah kematian ibunya, berjuang seorang diri demi negeri dan penduduk tercinta. Bahkan tidak menyadari kalau dirinya tengah dimanipulasi oleh pihak luar yang berwajah dua. Vivi teringat dengan kisah hidupnya sendiri...

Hening.

Sesaat kedua insan berbeda kelamin tadi sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga pria berambut perak memutuskan untuk angkat bicara.

"Jadi kau tidak akan tertidur sebelum bisa memutuskan, menerima ajakan Luffy atau tidak?"

Gadis bersurai biru itu sedikit mengangkat bahunya, lantas menyilangkan kedua lengan di dada, mencoba menghangatkan tubuh setelah terkena terpaan dinginnya udara malam. "Kau sendiri... apa yang akan kau lakukan sekarang, Naruto-san?"

"Menulis novel dewasa..." Ucap Naruto lirih.

"..." Vivi menyipitkan mata, iris hitamnya terlihat penuh kritisi.

"...mungkin." Lanjut Naruto sambil mengulas senyum tipis.

Vivi menatap tajam Naruto, tidak lama setelah itu ia mulai mengulas seringi tipis. "Sudah aku putuskan. Aku memilih menjadi Bajak Laut, dan melakukan apa yang harusnya aku lakukan..."

"Oh~ jadi kau menanggalkan gelarmu sebagai seorang putri kerajaan?"

"Tidak. Banyak orang mengatakan kalau Bajak Laut merupakan mereka yang ingin menggapai kebebsan. Jika seperti, bukannya aku juga bebas begitu memilih menjadi Bajak Laut? Aku, Nefertari Vivi, Putri Kerajaan Alabasta yang menjadi Bajak Laut..."

"Putri kerajaan sekaligus Bajak Laut? Kau harus memilih salah satunya, Hime."

"Tidak mau. Aku ingin melihat warna dunia, itulah sebabnya aku menjadi Bajak Laut. Tapi jika terjadi sesuatu pada Alabasta, aku akan kembali ke negeri ini dan menyeretmu bersamaku untuk menyelesaikan masalah itu sebagaimana statusku sebagai seorang putri kerajaan."

Menyeremu... kenapa Vivi mengatakan itu? Seolah gadis itu ingin mengikuti dirinya.

"EH? Kenapa kau mengatakan akan menyeretku?" Tukas Naruto penuh kebingungan.

Vivi mengulas senyum penuh kemenangan. "Karena aku akan menjadi Bajak Laut... dengan mengikutimu."

Seseorang memilih mengikuti dirinya... seorang gadis mengikutinya...

Mengesankan!

Tidak, ini buruk. Sungguh suatu kenyataan buruk.

Dia seorang kriminal, meskipun dengan harga buronan rendahan. Tapi tetap saja, ia pasti akan diburu oleh para pemburu... marinir juga tidak terkecuali.

Belum lagi ia masih memiliki urusan yang belum terselesaikan dengan Kaido, salah satu Yonko.

Naruto melayangkan pandangan aneh pada Vivi, melihat gadis itu seakan sudah gila. "Huh? Mengapa kau mau mengikutiku? Bukannya Topi Jerami yang menawarimu. Jangan campurkan aku dalam urusan pribadimu."

"Tapi kau yang memintaku menjadi istrimu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan, memastikan keselamatan suami dengan mengikutinya. Lautan itu sunyi jika dijelajahi seorang diri, aku tidak ingin..."

Twich

Urat-urat tebal mulai memenuhi wajah Naruto. Dia kini mengindahkan semua rentetan perkataan Vivi, ia memandang masa depannya seakan hancur. Dia mungkin memang mendambakan sebuah keluarga, tapi tidak seperti ini.

Ini sama sekali diluar dugaan dan rencana.

Dia butuh sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian Vivi dan merubah arah pembicaraan.

Tapi, apa?

Kepala Naruto terus bekerja dengan keras.

"...dan memastikanmu berhenti bersikap mesum. Karena kau... sudah memiliki aku." Tutur Vivi dengan wajah yang memerah. Berlahan gadis itu memalingkan wajah, menyembunyikan kecantikannya agar tidak menjadi pusat perhatian mata Naruto.

Blup

Terdengar letusan kecil.

Bruk.

Tiba-tiba tubuh Naruto terjtuh. Mata birunya tertutup rapat, ia tidak sadarkan diri. Sepertinya ia belum siap menerima semua perkataan yang di utarakan Nafertari Vivi.

Senyuman Vivi semakin melebar saat melihat keadaan Naruto. "Siapa yang menyangka kalau diary mama bisa memberikan keajaiban seperti ini."

Sekalipun awalnya ia bercanda, namun Vivi tidak bisa melepaskan Naruto karena ingat dengan pandangan mata pria itu tentang kesendirian.

Putri Kerajaan Alabasta itu melangkah mendekati tergelataknya Naruto. Setelah mendengar semua cerita pria bersurai perak itu, ia justru semakin yakin untuk mengikutinya.

Dia akan memastikan bahwa Naruto bisa mendapatkan kembali kecerian dalam hidup, setidaknya itulah bentuk ucapan terima kasih yang bisa ia berikan karena telah menyelamatkan negeri-nya.

Vivi sadar bahwa dirinya adalah seorang putri yang lemah. Sehingga ia berharap bisa menjadi kuat jika berkelana bersama Naruto.

"Saat ini mungkin kau belum menyukaiku, dan hanya mengingatkanmu dengan temanmu. Tapi aku akan berusaha membuatmu mengenali kembali arti persahaban dan cinta. Sebagaimana kau telah melindungiku dan mengajariku tentang cinta. Kau mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk menerimaku, tapi aku rasa... kau telah berhasil mencuri hatiku." Pikir Vivi sambil memapah tubuh Naruto menuju ranjang.

Tidak lama setelah Vivi membaringkan Naruto di ranjang kamar, ia segera beranjak menuju kamar Raja Alabasta. Dia kini justru terlibat perdebatan dengan papa-nya, mengenai keputusan yang ia ambil beberapa waktu lalu.

"Vivi, kenapa kau bisa memutuskan hal ini begitu cepat? Cobalah pikirkan ulang, bagaimana dengan statusmu sebagai seorang putri Kerajaan Alabasta? Kau adalah penerus negeri ini."

"Seperti yang aku katakan pada Naruto-kun tadi, aku akan menjadi Putri Kerajaan dan juga Bajak Laut. Jika terjadi sesuatu pada Alabasta, aku akan kembali ke negeri ini dan menyeret Naruto-kun bersamaku untuk menyelesaikan masalah itu sebagaimana statusku sebagai seorang putri kerajaan."

Cabra terlihat begitu frustasi. "Tapi... tapi..."

Vivi mengulas senyum lembut melihat ekspresi papa-nya. "Papa, kau ingat dengan apa yang aku sampaikan sebelumnya mengenai kesepakatanku dengan Naruto-kun saat hendak memindahkan bom dari Alubarna?"

"Vivi?" Cobra terlihat bingung dengan arah pembicaaran putrinya.

"Sekarang aku benar-benar ingin memenuhinya. Bukan hanya sekedar karena kesepakatan, melainkan aku sendiri menginginkannya. Naruto-kun... pandangan matanya memancarkan kesedihan, kesendirian, keputusasaan, seakan ia kehilangan tujuan. Hidup di dunia hanya sekedar hidup, tanpa memiliki arti apapun. Jiwanya terlihat kosong, karena ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah mewarnai hidupnya..."

Hati Cobra seakan teriris ketika melihat tatapan sendu yang dilayangkan putrinya. Dia tidak sanggup melihat tatapan sedih itu. Tapi jika ia merasakan hal itu ketika menatap Vivi, lantas bagaimana kesedihan yang dialami Naruto? Selaku pusat perhatian putrinya.

"...Aku ingin membantunya. Saat pesta bersama Luffy dan kru-nya, aku bisa melihat secercah harapan. Dia bisa tersenyum tulus seakan mengenang kenangan indah, dan iris birunya memancarkan cahaya penuh kehidupan. Aku menyukai senyuman itu... begitu pula iris safir miliknya..." Lanjut Vivi sambil menengadahkan wajah, menatap rembulan.

Sedangkan Cobra hanya bisa mengerjapkan mata berkali-kali setelah mendengar perkataan terakhir putrinya.

"...Naruto-kun hanya memerlukan seseorang yang bisa selalu berada di sisinya, menemani perjuangan ketika sulit, dan tertawa di sampingnya saat kebahagiaan datang."

Cobra sempat membelalakkan mata ketika melihat bayangan istrinya berdiri di posisi putrinya. Dia... putrinya, Vivi kini tampak begitu dewasa.

Tiba-tiba Cobra bisa merasakan perjalanan waktu berlalu begitu cepat. Dia merasa baru beberapa waktu lalu ia memanjakan Vivi kecil, namun kini dihadapkan dengan seorang wanita idaman layaknya istrinya.

"Jika itu yang kau putuskan, aku akan mendukungmu." Cobra mengulas senyum lembut. "Tapi jangan pernah lupa, dimana pun kau berada, Alabasta tetaplah rumahmu."

Greb

Vivi langsung memeluk Cobra. "Hem~"

"Jadi, kapan kau akan pergi?" Tanya Cobra.

"Belum tau." Gumam Vivi sambil melepaskan pelukan. "Aku harus membujuk Naruto-kun terlebih dahulu, sepertinya dia sama sekali tidak ada niatan untuk memperbolehkan diriku berlayar bersamanya."

"Eh? Kau sudah meminta izinku, membuatku merasa begitu sedih karena harus melepaskanmu, tapi kau belum tau bisa berlayar dengan Naruto atau tidak?"

Vivi mengangguk pelan. "Ya."

"Aku..."

"Tapi aku sudah punya rencana. 100 persen ampuh untuk pria seperti Naruto-kun." Tukas Vivi penuh riang.

Sejenak, Cobra melebarkan iris hitamnya. "Jangan katakan kau menemukan diary ibumu?"

"Hem~" Anggukan pelan kepala Vivi menjawab pertanyaan Cobra.

Cobra tersenyum lebar. "Heh... seperti..."

Wush

Angin malam bertiup kencang, memotong perbincangan sepasang ayah dan anak tadi.

Senyuman di wajah Vivi tampak melebar setelah mendengar perkataan papa-nya.


Vivi kembali mengulas senyum begitu mengingat kenangan terakhir bersama ayahnya. "Tentu saja, karena aku adalah putrinya." Gumam gadis itu.

Berlahan mata sayu gadis itu tertutup, memasuki alam mimpi.

Sedangkan Naruto terlihat tengah menikmati sunyi dalam diam, sambil sesekali mendengarkan lantunan lagu dari hembusan angin sepoi. Dia melirik gadis yang selama dua minggu terakhir ini menemani perjalanan hidupnya, tergeletak di deck, dan mulai menutup mata. Sekilas ia mendapati gadis itu mengulas senyum lembut meskipun tubuh yang dimiliki nampak begitu lelah.

Yah, mengingat apa yang telah ia lakukan pada gadis itu.

Naruto tidak tahu apa yang ada dipikaran gadis itu, tapi ia bisa melihat tekat kuat terpancar setiap kali menatap iris hitam Putri Alabasta.

Mengapa gadis itu mengikuti perjalanannya?

Gadis naif.

Gadis yang baru saja melihat kerasnya dunia setelah kejadian di Negeri Alabasta. "Aku menyelamatkanmu bukan untuk mengikutiku menjadi kriminal, melainkan berharap bisa melihatmu memimpin kerajaan yang begitu kau cintai menjadi lebih baik. Tapi kini kau justru di sini..."

Naruto mendesah panjang. Lantas menengadahkan wajah, memandang langit biru.

Penerus kerajaan berpasir.

Dia tidak ingin lagi melihat wajah gadis itu ternodai oleh tangis kesedihan. Mengingatkannya dengan teman lama, Ratu Sara. Gadis yang begitu menginginkan dirinya, setelah ia membantu menyelamatkan Kerajaan Rouran dari gengaman Mukade.

Apa mungkin itu penyebab dirinya membuat permintaan pada Vivi agar menjadi pasangan hidup setelah menyelamatkan Alabasta dari kehancuran? Karena Vivi memiliki kebaikan serta keteguhan hati seperti Sara, sehingga hati kecilnya berharap bisa membina keluarga yang dulu ia idam-idamkan sebab semasa kecil tidak pernah merasakan arti sebuah keluarga.

Andai saja... andai saja ia tetap tinggal di masa lalu, mungkin ia tidak akan melihat hari dimana gadis yang mulai mengisi hatinya [Hinata] bersanding dengan orang lain?

Tidak melihat impiannya menjadi Hokage dihancurkan oleh gurunya?

Bisa membangun hubungan dengan orangtuanya, sebab Namikaze Minato serta Uzumaki Kushina saat itu masih hidup?

Dan bisa berbagi cerita tentang hal mesum dengan Ero-senn... Jiraiya-sensei, karena pria termesum di Elemental kala itu juga masih hidup?

Entahlah. Bahkan saat ini ia juga tidak tahu bagaimana perjalanan hidup sahabat terbaiknya, Uchiha Sasuke dan Kurama.

Tanpa disadari, buliran bening keluar dari kelopak mata biru... membasahi pipi pria bersurai perak itu. "Tch... aku tidak tau kalau di Granline hujan bisa turun meskipun langit terlihat begitu cerah."

Setelah menyeka buliran bening tadi, Naruto beranjak dari tempatnya. Berlahan menuruni tangga deck, mendekati tubuh gadis bersurai biru yang tengah pulas tertidur.

Gadis itu terlihat begitu damai.

Menyelipkan kedua tangan di bawah tubuh ramping Vivi, Naruto berusaha membopong gadis yang terlelap itu.

"Hm~" Vivi mendesah lembut sambil menggeliat, seakan mencoba mencari posisi ternyaman bagi tubuhnya untuk tidur dalam bopongan Naruto. Hingga pada akhirnya membenamkan wajah cantiknya ke dada bidang Naruto, mungkin karena rasa hangat dada pria bersurai perak itu.

"Tch... kau kira dengan begitu kau bisa terlihat lebih cantik dan... dan imut? Itu hanya ada dalam mimpimu, Hime." Gumam Naruto. Dia lantas berjalan menuju kamar milik Vivi, dan membaringkan gadis di bopongannya ke ranjang. "Kau pantas mendapatkan tidur nyenyak setelah latihan tadi."

Saat Naruto hendak berdiri, tubuhnya tertahan karena baru menyadari kalau lengannya dipeluk erat oleh gadis... "Merepotkan." Gumamnya.

Berlahan dia melepaskan pelukan erat Vivi, berusaha tidak membangunkan gadis itu. Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya ia bisa terbebas.

Pria pemilik julukan Shiroi Tora/Byakko itu lekas meninggalkan ruangan, namun baru beberapa langkah tiba-tiba ia berhenti. Lantas kembali mendekati Vivi.

Hening.

Tanpa sadar Naruto terus memandangi wajah penuh damai putri Raja Kerajaan Alabasta.

Dia mengeratkan kepalan tangan, sedangkan ekspresinya tampak begitu masam.

Naruto tidak menyukai kehadiran Vivi, karena kian hari ia merasakan kenyamanan semenjak kedatangannya. Ketulusan gadis itu membuat hatinya luluh, keceriaan dari senyum yang terukir di wajah cantik itu memberikan cahaya pada jiwa redupnya bagaikan lentera.

Ingin rasanya ia memulangkan gadis itu, tapi hati kecilnya seakan melarang. Tapi ia juga tidak sanggup melihat gadis itu tersakiti, itulah sebabnya ia melatih Vivi dengan keras.

Mungkin dengan begitu ia bisa melihat wajah gadis itu lebih lama?

Heh, kalimat itu seakan ingin keluar dari mulutnya, tapi tertahan kuat di tenggorokan.

Andai saja keluar, apa setelah itu ia bisa hidup bersama?

Sedangkan dirinya kini tercatat sebagai kriminal, belum lagi tujuannya untuk mengejar dan menghancurkan Kaido belum terpenuhi.

Apa jadinya dengan Alabasta? Tidakkah Vivi akan memilih negeri-nya sebagaimana Hinata memilih klan-nya?

Vivi begitu mencintai Alabasta. Terbukti dengan kesedian gadis itu menerima sarat yang ia ajukan ketika hendak memindahkan bom.

"Heh, aku rasa senyuman indah yang selalu terukir di wajahmu sudah cukup bagiku." Pikir Naruto sambil terus memandangi wajah damai Vivi.

Dia tidak tahu jika permintaan Cobra, Raja Alabasta, akan berakhir seperti ini.


Tiga hari.

Tiga hari berlalu sejak pesta besar bersama Kru Topi Jerami, kini menyisakan Naruto, kriminal yang tinggal di Istana Alabasta. Dia sengaja menunda perjalanan, mencoba menikmati indahnya negeri berpasir.

Mengingatkan pada Sunagakure, desa ninja yang di pimpin Sabaku no Gara, sahabat karib Naruto.

Menyadarkan akan ingatan tentang Kerajaan Raouran, kerajaan indah yang berdiri di tengah dataran berpasir, dan dipimpin oleh ratu cantik baik wajah maupun hati, Ratu Sara. Teman Naruto yang pernah menyentuh hatinya, tetapi harus terlupakan sebab ia kembali di aluran waktu semula.

Saat bersama Sara, Naruto selalu merasa seakan bernostalgia. Seakan gadis itu mengingatkan dirinya dengan sesuatu yang seharusnya ia kenali. Namun belakangan, setelah ingatannya kembali, ia tahu bahwa rambut merah milik Ratu Rouran itu mengingatkan dirinya dengan ibunya, Uzumaki Kushina.

Entah mengapa ia merasa nyaman ketika bersama Sara. Andai saja...

Tidak. Dia senang bisa mendengar Sara hidup bahagia, terbukti dengan indahnya senyuman yang terukir di wajah putri Ratu Rouran itu ketika bertemu setelah dirinya kembali di aliran waktu awal. Sara bisa menemukan pendamping hidup yang mampu menjaga dan membantunya memimpin Rouran.

Kini, ia kembali berurusan dengan pemimpin Kerajaan Berpasir. Gadis lugu seperti Sara saat pertama kali ia bertemu, hati gadis itu begitu lembut dan baik sehingga mudah mempercayai orang sekelilingnya. Membedakan warna dunia hanya dengan warna dasar, hitam dan putih.

"Hem~" Naruto mendesah. Dia menengadahkan wajah, menatap bulan yang bercayaha remang.

Naruto bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Kehidupannya terasa tidak memiliki tujuan. Dia bisa merasakan secuplik kehangatan sebuah keluarga ketika Miyamoto Kyo masih hidup. Dia ingin menjaga hal itu selama mungkin dalam hidupnya, tapi layaknya kehidupan sebelumnya, mimpi itu kembali direnggut.

Ketika Kyo mati, pikiran Naruto dipenuhi oleh dendam. Prinsip hidup sebelumnya berlahan terlupakan.

Mungkin karena mimpi yang ia dambakan melebihi mimpi menjadi seorang Hokage juga direnggut dari hidupnya?

Merasakan hangatnya sebuah keluarga.

Brak

Pintu kamar Naruto terbuka lebar, dan menampakkan Raja Kerajaan Alabasta menghela napas panjang. "Naruto-san, maaf menggangu istirahatmu."

"Tidak apa-apa. Tapi, kenapa kau terlihat kelelahan seperti itu?" Tukas Naruto sambil beranjak dari beranda kamar.

Cobra, Raja Alabasta, menatap Naruto dengan serius. "Aku tau kau akan pergi meninggalkan Alabasta esok hari. Namun, bisakah aku meminta bantuan untuk terakhir kali?"

"Hem?" Naruto memandang aneh sang Raja. "Ya, selama yang kau minta tidak terlalu merepotkan."

"Putriku, Vivi, di culik."

Naruto mengerjapkan mata berkali-kali. "A-apa yang barusan kau katakan? Sepertinya aku sudah mengantuk."

"Vivi di culik oleh sisa-sisa angota Baroque Works, Chaka dan Pell kini tengah mengejar pelaku. Masalahnya, sampai sekarang mereka belum juga meminta tebusan, aku jadi khawatir jika terjadi sesuatu yang mengerikan terhadap putriku."

Naruto mengangguk pelan. "Hem~"

"Naruto-san, tolong... tolong selamatkan putriku." Pinta Cobra. "Aku memintamu bukan sebagai Raja Alabasta, tapi sebagai seorang ayah dari Nafertari Vivi."

Naruto menatap Cobra penuh kritisi, ia bisa merasakan kejanggalan dari penjelasan Raja Alabasta itu. Sebab ketika Vivi meninggalakan Alubarna sore tadi, ia bisa merasakan kehadiran Pell dan Chaka mendampingi kepergian gadis itu.

Lantas kapan penculikan terjadi?

Apa mungkin ketika dalam perjalanan mereka?

Tapi jika seperti itu, siapa sisa dari Barowue Works; yang mampu mengalahkan Pell dan Chaka? Sedangkan kelima agen dari organisasi itu sudah mendekam di penjara marinir.

Meskipun begitu, ia tetap tidak bisa mengabaikan kekhawatiran yang mulai tumbuh di hatinya. Sehingga berlahan, pria bersurai perak itu membuka mulutnya. "Baiklah."


Itulah awal mengapa ia bepergian bersama putri Kerajaan Alabasta.

Sebab ketika Naruto sampai di tempat Vivi berada, ia jutru menemukan gadis itu berada di atas kapal berukuran sedang [Caravel], dan mendapatinya tengah asik menyantap makanan bersama Pell, penjaga kerajaan.

Tidak lama setelahnya, Vivi terlihat beradu mulut dengan Pell, lantas kesatria dari Alabasta itu memukul dirinya sendiri, dan berjalan meninggalkan kapal.

Ternyata Pell dan Vivi telah memanggil marinir beberapa waktu sebelumnya tanpa sepengetahuan Naruto, dan melaporkan bahwa Vivi diculik oleh Shiroi Tora no Naruto, serta menyatakan kalau ia tidak mampu mengalahkannya.

Tidak lama setelah itu marinir datang dari bagian timur Alabasta, dan berusaha mengejar Naruto.

Naruto hendak menyerahkan diri, tapi setelah melihat siapa kapten yang memimpin angkatan laut dia berubah pikiran dan segera mengembangkan layar kapal.

"Huh?" Naruto tersenyum lucu, mengingat kejadian beberapa minggu lalu.

Iris safirnya kembali mengamati Vivi.

Semenit berlalu.

Menit berikutnya berganti.

Wajah damai itu menengkan hati Naruto.

Naruto mengulurkan tangan mendekati wajah Vivi, lalu menyisihkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah damai tadi. Tanpa sepatah kata, Naruto meninggalkan ruangan. Dia tidak menyadari senyum lembut terulas di jawah gadis yang ia tinggalkan.

Menutup pintu ruangan, menengadahkan wajah sambil menutup mata.

Mencoba merasakan keadaan angin, memastikan cuaca di sekitar kapal yang masih berlayar.

"Sepertinya cuaca akan cerah sampai pulau berikutnya. Kalau begitu, aku akan membuat ramen dulu." Gumam Naruto sambil melangkah menuju dapur. "Heh~ gadis itu tidak menyadari bahwa aku mengetahui kalau dia terbangun begitu aku membopongnya."


Cerita Berakhir


Jangan lupa tinggalkan reviews!

Salam... Deswa