FANFICTION
HATE YOU LOVE YOU
RATE M/GS/TYPOS/DLDR
CAST
PARK CHANYEOL
OH SEHUN
KIM JONGIN
BYUN BAEKHYUN
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya sampailah sehun di Rumah sakit Seoul. Dia menuju ke Apotek untuk menebus obat – obatnya. Kenapa harus ke Rumah sakit jika harus menebus obat? Karena obat yang sehun akan tebus termasuk obat yang baru bisa ditebus jika ada surat dokter dan tidak dijual sembarang di Apotek.
Setelah membayar obatnya, sehun pun berjalan keluar dari Rumah Sakit. Dan saat sedang menunggu taxi, tubuh sehun dipeluk dari belakang oleh seseorang. Dari wanginya pun sehun sudah tahu siapa orang yang tengah memeluknya ini.
"Kim Jongin ssi…" ucap sehun berdesis menahan rasa kesal.
"Mengejutkan kau tidak lupa dengan pelukan kekasih mu ini sayang…" jawab jongin sambil tersenyum walaupun sehun tidak melihat senyuman itu.
"Kita hanya mantan pacar jongin." Sehun meralat pernyataan jongin tadi.
"Kau yang memutuskan sepihak, Kau tahu kan dalam bisnis jika kedua belah pihak tidak ada kata sepakat maka itu tidak akan terjadi."
"Tapi maaf kim jongin ssi, kita sedang tidak berbisnis!"
"Ikutlah dengan ku, banyak yang ingin ku Bicarakan dengan mu….."
"Jeball jangan malam ini, Ini merupakan hari yang berat buat ku untuk kembali bertemu dengan mu. Aku juga sedang tidak enak badan." Sehun mengangkat kantong berisikan beberapa jenis obat kepada jongin.
"Baiklah, aku antar kau pulang."
"Hmm…" sehun hanya menjawab dengan anggukan kepala dan jongin pun melepaskan pelukannya kemudian menggandeng tangan sehun.
Jongin membimbing sehun masuk kedalam kursi penumpang yang terpakir tidak jauh dari Lobby Rumah Sakit.
"Kau memakai supir?"
"Wae? Kau tidak nyaman? Aku bisa menyuruhnya…"
"Jangan seenaknya. Gwaenchana."
"Aku memakai supir karena aku tidak hafal jalanan seoul. Kecuali kau ingin menjadi tour guide ku selama aku disini."
"Aku pun disini belum sampai sebulan jongin ah…"
"Senangnya mendengar kau memanggilku seperti ini lagi. Lebih baik lagi jika kau memanggil ku Nini seperti saat kita masih berpacaran."
"Stop Jongin! Hubungan kita sudah berakhir ok!"
"No Oh Sehun." Jongin meremas jemari sehun yang masih dalam genggamannya.
Sehun tidak dapat melawan ketika jemarinya masih dalam genggaman jongin. Sehun hanya memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Galleria Foret, ahjushi." Jongin akhirnya berbicara kemana arah tujuan mereka. Mobil BMW silver itu pun melaju dengan kecepatan sedang menembus salju yang turun dikota Seoul dari kemarin.
.
.
.
.
.
.
Sekitar dua puluh lima menit, akhirnya mobil yang membawa jongin dan sehun tiba lobby apartment termahal di Kota Seoul ini. Jongin turun terlebih dahulu, kemudian sehun menyusul dibelakangnya. Dengan tangan sehun yang masih digenggam mesra oleh jongin. Sehun pun sepertinya terlihat nyaman – nyaman saja ketika tangannya terus digenggam. Mereka atau lebih tepatnya jongin yang membimbing sehun untuk masuk ke dalam lobby utama.
"Apartment mu dilantai berapa sayang? Aku tadi tidak memperhatikan."
"Lantai dua belas." Jawab sehun santai. Lagi – lagi jongin yang memimpin jalan mereka untuk menuju lift.
Ketika sudah sampai didepan lift, Jongin melepaskan genggaman tangannya dari tangan sehun kemudian malah merangkul bahu sehun mesra. Sehun pun masih terlihat santai. Biarlah sehun menikmati setiap detik yang kembali bisa ia rasakan sama seperti dulu.
Ting! Pintu lift pun akhirnya terbuka. Dan betapa terkejutnya orang yang berada didalam lift tersebut melihat jongin yang senantiasa memeluk bahu sehun dengan mesra.
"Ekhm!" chanyeol berdeham.
"Ah tuan Park, kita berjumpa kembali." Jongin menjawab dehaman chanyeol sambil merangkul tubuh sehun masuk ke dalam lift.
Dan ternyata didalam lift itu chanyeol tidak sendirian. Dia bersama dengan seorang wanita mungil dengan mata sipit namun terkesan tajam karena polesan eyeliner hitam yang terlihat pas menghiasi mata dia lah sumber dari kematian eonnienya Oh Seha. Sehun sedikit membungkukkan tubuhnya menghadap chanyeol dan istrinya. Chanyeol dan istrinya pun ikut bergeser ketika jongin dan sehun memasuki lift.
"selamat malam, tuan dan nyonya park."
"Selamat malam nona muda." Baekhyun menjawab ramah.
"Dia sekretaris yang akan menggantikan Hyorin noona selama dia cuti." Chanyeol menjelaskan.
"Ah seperti itu. Lalu pria tampan disampingnya siapa?"
"Dia adalah rekan kerja ku. Mereka mungkin teman lama."
"Yeah, kami teman lama selama di London." Jawab sehun cepat. Sehun takut jongin menjawab yang aneh – aneh.
Ting! Pintu lift pun terbuka dan jongin keluar terlebih dahulu, diikuti oleh sehun yang kini tangannya digenggam jongin. Sesampainya didepan pintu apartment sehun, jongin kemudian melepaskan rangkulannya dan membuat tubuh sehun berada didepannya.
"Good night baby…" jongin mengucapkan perpisahan selamat malam yang manis dengan memberikan kecupan yang manis pula di kening sehun.
"Jongin… kau…!selamat malam." Sehun tidak dapat memprotes apa – apa karena biarlah dia sedikit memanasi chanyeol.
"masuk dan istirahatlah. Besok akan ku antar ke kantor."
"tidak usah repot – repot. Aku bisa berangkat sendiri. Sekarang pulanglah." Sehun sedikit mendorong tubuh jongin.
"baiklah. Tapi berikan nomor ponsel mu."
"Huh…?" sehun hanya bisa mendengus sambil menyerahkan iphone 6 nya kepada jongin. Dengan senyum yang lebar, jongin menerima ponsel sehun dan kemudian mengetikkan nomor ponselnya dan menghubungi nomor ponselnya sendiri. Lalu bagaimana dengan pasangan Tuan dan Nyonya Park? Oh mereka sudah masuk saat adegan jongin mengecup kening sehun mesra.
.
.
.
.
.
.
Setelah jongin menyimpan nomor ponsel sehun, jongin kemudian mengembalikan lagi ponsel sehun. Dengan wajah yang cemberut sehun mengambil ponselnya kembali dan buru – buru memasukkan kode apartmentnya.
"selamat malam jongin ah…" sehun langsung masuk ke dalam apartment tanpa mendengar balasan dari jongin.
"ck, kau itu selalu suka seenaknya. Good night too Nae sarang." Jongin tersenyum seperti orang gila didepan pintu apartment sehun.
Dan ketika berbalik….. wajah tampan chanyeol lah yang Nampak sambil bersidekap menyender dipintu apartmentnya.
"Belum pulang, Tuan Kim Jongin ssi?"
"Oh Tuan Park, ini saya baru akan pulang. Selamat malam Tuan Park." Dengan santai jongin melangkah menuju lift apartment.
Tidak perlu waktu yang lama untuk jongin menunggu lift. Tidak sampai dua puluh detik, lift pun tiba dan dengan penuh senyuman, jongin masuk ke dalam lift. Sedangkan di lorong apartment lantai dua belas ini hanya meninggalkan seorang Park Chanyeol yang sedang menatap lekat pintu apartment yang ada didepannya.
Tettt….. tettt…. Entah apa yang membawa chanyeol sehingga jemari panjangnya menekan bel apartment sehun sampai dua kali.
"Jongin kenapa kau belum juga…. pu…. lang….." kata – kata sehun tersendat diakhir kalimat karena bukan wajah mesum jongin lah yang nampak pada depan pintu nya, namun wajah atasannya yang baru kurang dari puluh empat jam ini menjadi atasannya.
"Ada perlu apa Tuan Park?" sehun bertanya sambil melihat disekeliling lorong apartmentnya. Chanyeol yang ditanya pun bingung harus menjawab apa.
"Ekhm, aku hanya ingin memastikan bahwa besok, kau tetap dapat masuk kerja. Karena ini baru hari pertama kau masuk kerja. Selamat malam," chanyeol dengan terburu – buru menyelesaikan kalimatnya dan langsung berbalik menuju pintu apartmentnya.
Melihat kelakuan atasannya ini, sehun jadi teringat ketika dulu jongin mendatangi nya hanya untuk sesuatu yang tidak penting. Semacam salah tingkah dalam masa pendekatan. Tapi sehun tidak akan luluh. Sehun harus menanamkan pada otaknya bahwa ia harus balas dendam dan menghancurkan park chanyeol serta istrinya byun baekhyun. Dengan wajah yang kembali datar, dia masuk kembali ke dalam apartmentnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini, matahari bersinar cukup cerah walaupun belum bisa menghangatkan suasana kota seoul dimusim dingin ini. Tapi tidak dengan yeoja satu ini. Yeoja ini sengaja berangkat lebih awal dan mematikan ponselnya dari semalam agar tidak diganggu jongin dan tidak bertemu jongin dipagi hari ini.
Pukul 7.00 KST sehun sudah berada di meja kerjanya. Padahal waktu kerja masih sekitar satu jam lagi. Ya tidak ada salahnya kan, toh sehun juga sudah terbiasa bangun pagi. Dengan santai, sehun membuat kopi hitam untuk dirinya sendiri. Dan ah, hari ini sehun kembali seperti Oh sehun yang sama seperti pertama kali diinterview, semuanya serba hitam. Namun dengan potongan outfit yang berbeda dan lebih trendy.
.
.
.
.
Setelah meminum setengah kopi hitamnya dengan tenang. Sehun kemudian kembali menuju meja kerjanya. Lampu diruangan chanyeol sudah menyala. Hmm, mungkin atasannya sudah datang dan sehun tidak peduli. Baru saja sehun akan duduk, teleponnya sudah berbunyi.
Dengan reflek, sehun melirik jam tangannya. Ya, jam kantor memang sudah seharusnya mulai. Tepat didering yang keempat, sehun menganggat teleponnya.
"Shim sehun! Ke ruangan ku segera!" nada begitu dingin dan arogan. Dengan malas sehun menutup teleponnya tanpa menjawab perintah atasan arogannya itu.
.
.
.
.
.
.
Dengan memasang wajah datarnya sehun memasuki ruangan atasannya tanpa mengetuk pintu. Setelah sehun masuk. Pintu ruangan chanyeol langsung terkunci dan seketika juga kaca - kaca diruangan tersebut langsung menggelap. Semua sudah chanyeol atur sedemikian rupa, agar ruangannya tetap privat dan kedap suara. Semua dikendalikan dari panel – panel di bawah meja kerja Chanyeol.
Awalnya sehun sedikit terkejut. Namun sehun memiliki pengendalian ekspresi yang cukup baik, sehingga wajahnya tetap saja datar dan sedikit pucat. Sehun berdiri sekitar empat langkah dari depan pintu. Sehingga membuat chanyeol harus berjalan menghampirinya.
Eumphh… eumphh..! chanyeol mencengkram dagu sehun dan langsung menciumnya dengan kasar. Sehun sangat terkejut dengan serangan mendadak chanyeol dengan refleks instingnya menyuruh untuk mendorong tubuh chanyeol. Namun sehebat apa pun sehun dalam ilmu bela diri, tetap lah dia seorang wanita yang kekuatannya jauh dibawah pria. Apalagi pria tersebut terlihat sedang marah, kekuatannya berlipat lebih besar.
"Eumngg…. Eumphh… lepas chanhh…." Sehun terus meronta walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa sehun sedikit menikmati ciuman liar ini. Seakan sadar, sehun langsung menendang langsung kearah selangkangan chanyeol.
Dan... Bang!
Chanyeol langsung menjauh dengan nafas yang masih memburu. Ketika chanyeol akan kembali menyerang sehun, sehun langsung mundur dan berbalik kearah pintu. Namun nihil! Pintu pun terkunci. Chanyeol yang melihat kelakuan sehun hanya menampilkan smirknya. Dan dengan penuh percaya diri dia mendekati sehun dan mendekapnya dari belakang.
"Tuan park. Tolong lepas!" Sehun menggeram kesal karena chanyeol tidak mau melepaskan pelukannya.
"Panggil aku oppa, sehun! Kau ingat kan?"
"Baiklah, oppa, tolong lepaskan aku. Kita sedang dikantor dan kau sangat tidak sopan memelukku seperti ini. Apalagi menciumku seperti tadi." Protes sehun.
"Aku jadi ingat seseorang ketika memeluk mu seperti ini. Perasaan yang tidak asing."
"Istri anda kah?"
"Panggil aku oppa!" Chanyeol meremas paha sehun
"Ck, arra arra. Jangan marah jika aku jadi tidak sopan."
"Gwaenchana, tidak masalah jika kau jadi pemberontak."
"Padahal kita baru berjumpa tiga hari, tapi kenapa oppa sangat nyaman dengan mu." Chanyeol mengeratkan pelukannya.
"Istri mu kah oppa? Jika kau rindu dia, kan nanti malam kalian akan bertemu kembali. Jadi kenapa oppa harus memelukku?"
"Apa oppa hanya alasan saja kan?" Sehun yang sudah sedikit mereda kekesalannya kemudian membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan chanyeol.
"Chu~" chanyeol mengecup bibir sehun ketika wanita ini memandang wajah chanyeol yang hanya berjarak sepuluh senti dari wajahnya.
"Berhenti untuk menciumku terus oppa." Sehun kembali protes
"Kau mirip dengan mantan tunangan ku sehun."
"Tunangan oppa? Istri oppa sekarang kah?"
"Aniya. Dia sudah meninggal. Dia cinta pertama dan pacar pertama ku." Chanyeol mulai bercerita. Sehun menatap mata chanyeol yang sedikit menyendu.
"Mantan pacar oppa kenapa bisa meninggal? Sakit atau…..?" sehun berusaha mengontrol suaranya. Karena dia tahu pasti penyebab eonnienya meninggal.
"Oppa Tidak tahu kenapa dia bisa meninggal. Karena saat dia meninggal, kami sudah memutuskan tali pertunangan. Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, bahwa dia berselingkuh dengan namja lain. Dia tidur dengan namja lain sehun! Tidak kah dia tahu bahwa aku sangat menicintainya? Apa yang kurang dari ku hingga…"
"Stop! Jangan dilanjutkan lagi." Sehun memotong cerita chanyeol.
"W..wae?"
"Aku sangat benci perselingkuhan. Mungkin memang sudah takdirnya mantan tunangan mu itu meninggal. Dan tolong sekarang oppa lepaskan pelukan ini. karena jika ada orang yang melihatnya, kita bisa disangka selingkuh juga."
"Ani! Maaf sehun. Sejak tiga hari ini, kau terus membayangi diri ku. Ini seperti…. Rasanya seperti menyukai seseorang lagi." Chanyeol membuat pernyataan yang sangat mengejutkan.
Sehun hanya tersenyum saat chanyeol secara tersirat menawarkan sebuah perselingkuhan.
"Apa oppa kira aku seperti wanita penggoda? Apa aku Nampak seperti seorang pelacur dimana mu? Apa kau merayu ku hanya agar oppa bisa tidur dengan ku? Karena istri oppa sedang hamil dan oppa butuh pelampiasan?"
Sehun menatap mata chanyeol dalam. Ada hasrat, kerinduan dan cinta?
"Oppa mungkin hanya rindu dengan mantan tunangan oppa itu, sehinga oppa menjadi kacau seperti ini. jja berhenti lah menggoda ku, aku harus bekerja. Aku dibayar untuk bekerja bukan malah menghambat pekerjaan mu oppa." Sehun mendorong sedikit tubuh chanyeol dan merapikan jas serta dasi chanyeol yang sedikit berantakan.
"Chup… hanya satu kecupan untuk mu oppa." Sehun mengecup bibir chanyeol. Chanyeol hanya terdiam dan kembali ke meja kerjanya untuk membuka jendela dan pintu ruangannya.
Click… suara kunci pintu yang terbuka. Sehun bergegas keluar dari ruangan chanyeol tanpa menatap chanyeol lagi. Chanyeol pun hanya menatap kepergian sehun dalam diam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan sehun sudah berdiri didepan lobby untuk menunggu jongin menjemput. Tidak sampai lima menit sehun menunggu, mobil sport berwarna merah sudah berada dihadapannya.
Jongin keluar dari mobil dengan gayanya yang bak pangeran. Hanya dengan memakai kemeja putih yang terbuka dua kancing teratasnya. Lengan panjangnya pun dilipat sampai ke siku. Sangat santai untuk ukuran seorang CEO, namun itu lah yang menambah kadar ketampanan namja berkulit tan ini.
"hai princess." Jongin menghampiri sehun dan mengecup pipi sehun.
"Hey Pipi mu dingin, sudah lama kah menunggu ku? Mianhe, Aku agak nyasar saat menuju ke sini." Jongin menjelaskan.
"Baru lima menit. Tidak masalah." Sehun menjawab singkat
"Geure, kajja….." Jongin menuntun tubuh sehun menuju mobil sportnya.
.
.
.
.
"Nona Shim Sehun!" chanyeol sedikit berteriak memanggil sehun. Mengabaikan bahwa dia adalah CEO dari perusahaan ini. sehun dan jongin berhenti untuk melihat siapa pelaku peneriakkan ini. yups pelakunya adalah Park Chanyeol.
"Waeyo chanyeol ssi?" Jongin yang menjawab.
"Sehun, istri ku mengundang mu untuk makan malam diapartment kami."
"Sekarang?" Giliran jongin yang bertanya.
"Aniya tuan kim, nanti malam Jam tujuh tepat."
"Geure. Kita kencan di apartment bos mu saja sayang." Lagi – lagi jongin yang menjawab.
"Baiklah, sampai jumpa Sajangnim." Sehun sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian berbalik masuk ke dalam mobil yang sudah jongin buka kan pintunya tadi.
"Sampai jumpa chanyeol ssi. Kami tidak akan terlambat kok." Jongin melemparkan senyuman pada chanyeol. Kemudian berjalan ke sisi mobil dan masuk ke mobil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ting tong…. Tepat pukul tujuh malam sehun dan jongin sudah berdiri didepan pintu apartment chanyeol. Sehun memakai dress A line berwarna peach. Rambutnya digulung keatas, sangat anggun dan jongin? Dia sudah menyuruh supirnya untuk mengantarkan pakaiannya sehingga dia dapat berganti baju.
Tidak berapa lama, pintu pun terbuka. Dan yang membukakan adalah chanyeol.
"Selamat datang, silahkan masuk." Chanyeol memandang kagum melihat sehun yang cantik dengan riasan yang tipis.
"Selamat malam sajangnim."
"Selamat malam tuan Park" Jongin menyapa chanyeol dengan ramah dan chanyeol hanya balas tersenyum.
Mereka akhirnya masuk dipimpin oleh sang tuan rumah diikuti jongin lalu sehun dibelakangnya. Chanyeol memimpin mereka menuju ruang makan.
.
.
.
.
.
"Ah kalian sudah datang. Mari silahkan duduk. Kita langsung saja makan ya? Sehun ssi, anda sangat cantik sekali. Anda seperti sahabat saya yang sudah meninggal." Baekhyun menyambut mereka dengan senang.
"Saya merasa tersanjung atas pujian anda nyonya park." Sehun tersenyum tipis.
.
.
.
.
Mereka akhirnya duduk dikursi masing – masing dan Sehun duduk tepat didepan chanyeol. Setelah berdoa, mereka memulai acara makan malam ini sambil diselingi dengan obrolan ringan. Dan mata chanyeol tidak lepas dari memandangi sehun. Sehun tahu bahwa chanyeol terus curi – curi pandang.
"Nona sehun sangat pendiam ya? Beda sekali dengan Hyorin eonnie yang begitu cerewet." Baekhyun menatap sehun.
"Baekhyun ssi, lebih baik sehun diam seperti ini karena dia akan terlihat sangat manis. Hahaha. Benar begitu kan sayang?" Sehun hanya mengangguk.
"Apa kau sedang tidak enak badan sehun ssi?" kini giliran chanyeol yang bertanya.
"Ani, sajangnim. Saya baik - baik saja." Sehun menatap chanyeol.
"Sehun ssi, kenapa kau memilih menjadi sekretaris suami ku daripada menjadi sekretaris pacar mu sendiri? Atau bahkan menjadi ibu rumah tangga saja. Pacarmu kan cukup kaya. Bukan begitu jongin ssi?" baekhyun kembali berkomentar dan tatapannya sedikit berbeda dari yang tadi.
Jongin, sehun dan chanyeol tidak lah bodoh. Mereka paham maksud dari perkataan baekhyun barusan. Mereka bertiga pun menatap baekhyun dengan pandangan seolah – olah minta penjelasan.
"Baeki sayang, hyorin noona kan sedang cuti untuk tiga bulan kedepan. Dan menurut ku, sehun cukup kompeten untuk jadi pengganti sementara hyorin noona." Jelas chanyeol
"Hahaha, aku hanya bercanda sayang. Kalian tidak usah tegang begitu. Wajah kalian lucu sekali" baekhyun tertawa.
Tetapi sehun memandang baekhyun dengan wajah datarnya. Sehun yakin bahwa itu bukan lah hanya sekedar candaan biasa. Sehun dengan cepat mengubah mimik wajahnya menjadi tersenyum.
"Selera humor anda benar – benar bagus nyonya park. Kenapa anda tidak menjadi artis saja. Acting anda sangat menyakinkan. Saya yakin jika anda menjadi seorang aktris, anda akan memenangkan piala Oscar."
"aigoo sehun ssi, pujian anda begitu berlebihan sekali." Wajah baekhyun terlihat senang sekali. Mereka kembali melanjutkan acara makan malam mereka dengan beberapa candaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan jam setengah Sembilan malam. Hampir satu setengah jam mereka makan malam sambil berbincang – bincang. Dan nampaknya sehun makin tidak nyaman karena baekhyun terus menerus menatapnya dan berusaha untuk mengorek informasi siapa dirinya. Setiap sehun mengelak, baekhyun akan bertanya berusaha memancing jongin untuk bercerita.
Disaat jongin akan kelepasan bercerita, maka sehun akan mencubit atau menginjak kaki jongin. Karena sehun sudah semakin tidak nyaman, maka sehun menelepon jongin. Jongin yang melihat ID Caller nya pun mengerutkan dahi dan menatap sehun.
"Siapa yang menelepon jongin ah?" sehun bertanya dengan polosnya. Namun mata sehun menyiratkan sesuatu yang sangat jongin pahami.
Sehun tidak nyaman. Jongin sangat tahu bahwa sehun tidak suka urusan keluarganya diungkit. Jujur, jongin pun tidak mengetahui keluarga sehun. Pernah jongin menyelidiki siapa keluarga sehun, namun hasilnya nihil. Data keluarga sehun tidak diketahui.
Jongin berkesimpulan bahwa keluarga sehun bukanlah orang biasa. Informasi yang bisa jongin dapat adalah, bahwa sehun terlahir dari keluarga bermarga Oh tetapi perwalian sehun diserahkan kepada pasangan keluarga Shim. Tentang keluarga shim, jongin tidak perlu bertanya lagi pada detektifnya. Karena berita tentang keluarga shim sudah banyak dimuat diberbagai media.
"baby sepertinya kita harus segera pulang, uri eomma menelepon. Sepertinya dia sudah dihotel. Kajja." Jongin kemudian mematikan panggilan ponselnya dan kemudian berdiri memegang tangan sehun.
"Terima kasih buat makan malamnya Tuan dan Nyonya Park. Maaf kami harus segera ke Hotel saya untuk menyambut eomma saya. Sekali terima kasih."
"Kami permisi Tuan dan nyonya. Terima kasih buat makan malamnya." Jongin dan sehun membungkukkan badannya Chanyeol dan baekhyun pun berdiri.
"Kenapa terburu – buru sekali." Baekhyun memprotes.
"Maafkan kami Nyonya Park. Eomma saya sedikit cerewet. Beliau pasti sudah rindu dengan menantu kesayangannya ini." jongin menjelaskan.
"Mari saya antar ke depan Tuan Kim." Chanyeol memimpin jalan jongin dan sehun.
Baekhyun hanya melihat mereka bertiga dari belakang. Baekhyun segera mengirimkan pesan kepada seseorang.
'Cari tahu siapa Shim Sehun. Sekretaris suami ku sekarang. Waktu kalian 24 jam.
"Wajahmu sangat mirip dengan Oh Seha. Siapa kau sebenarnya Shim Sehun?" gumam baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sekali lagi terima kasih Tuan Park." Jongin dan sehun membungkukkan badannya dan kemudian berjalan menuju lift. Chanyeol menunggu jongin dan sehun sampai mereka masuk ke dalam lift.
"Mengapa diri mu malam ini sangat mirip dengan Seha?" ucap chanyeol dalam hati.
.
.
.
.
.
"Malam ini aku menginap di hotel mu saja jongin ah." Sehun berbicara sambil menatap keluar jendela.
"With My pleasure baby" jongin tetap tersenyum meskipun sehun pasti tidak melihatnya.
"Apapun akan ku lakukan untuk tetap menjadi tempat mu bersandar sayang. My Oh Sehun." Ucap jongin dalam hati sambil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Mianhe sudah terlalu lama gak update, tiap mau update ada aja halangannya. Mumpung lagi kosong nih, jadi aku udpate deh. Gomawo sudah menyempatkan untuk baca. Dan gak ada salahya buat Review juga dong. Gak nyampe 3 menit kok untuk review.
SARANGHAE
-XOXO-
Contact Me:
BBM:59F7CE75
IG: mikoalena
