Halte dan Hujan

Chapter 3

Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~

Genre : Hurt/Comfort

Rating : T

Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)

WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)

Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)

Jaa naa~! ^^

Summary : "Banyak benang yang saling berkait, jalinan takdir begitu rumit. Benarkah jika aku merasa takdir senang bermain-main?"

Author POV

Hujan tidak turun hari ini. Namun Yukimura Aguri tetap duduk di halte kecil itu, menunggu bus-nya datang. Di tangannya beberapa berkas ditumpuk dalam pelukannya. Sebagian besar hasil ulangan siswanya yang harus dia koreksi, dan sisanya tentu lembaran tugas dari Yanagisawa. Sesekali ekor matanya melirik jam di ponselnya, memastikan bahwa dia masih punya cukup waktu untuk tidak datang terlambat kali ini. Karena Yanagisawa mulai curiga dan akan semakin kasar saat marah. Bukannya Aguri takut, namun dipukul itu sakit—terlebih lagi tunangannya tak pernah setengah-setengah menggunakan tenaganya.

"Selamat siang, Aguri." Sapa sosok hitam yang sering ditemuinya di halte itu. Senyum ramah dan lembutnya senantiasa terpatri sempurna di paras rupawan lelaki muda itu.

"Siang, Shinigami-san." Balas Aguri sembari menaiki bus-nya—tentu ditambah dengan senyum hangat yang biasa diberikannya pada siapapun. Khususnya pada lelaki dari tempat antah-berantah yang baru beberapa bulan dikenalnya di halte itu.

Hanya beberapa detik mereka berpapasan, saat si lelaki turun dan si wanita naik di bus yang sama. Hanya sepersekian detik, mereka bisa saling bertatapan, melempar senyum. Karena saat pintu bus menutup, keduanya terpisah tanpa sempat berbincang seperti biasa.

Yah, terkadang mereka ingin waktu berjalan lebih lambat barang sejenak. Agar ada sedikit kesempatan bagi keduanya untuk saling mengisi kekosongan di dalam diri satu sama lainnya.

o.o.o

Kali ini, Sang Kematian yang duduk termenung sambil menengadah menatap langit cerah. Dengan senyum yang berbeda, seolah helaan napasnya menyatakan, 'Sial sekali, aku terlambat tadi.'

Tubuh tinggi tegap dengan helaian surai arang bersandar di bangku halte, menunggu bus selanjutnya untuk melanjutkan ke tempat tujuannya. Kalau boleh jujur, dia sengaja memutar ke halte itu untuk menunggu. Sayangnya, hari ini tidak hujan. Jadi tidak ada angkutan umum yang ngaret dari jadwalnya dan tentu saja kegiatan rutinnya sedikit terganggu.

Sekali lagi dia menghela napas kemudian tersenyum, 'Mungkin lain kali.' Batinnya sedikit berharap.

o.o.o

Setiap pagi, Yukimura selalu menghadapi mata-mata tak bergairah dari 26 muridnya. Ah, 25 karena Akabane Karma masih dalam masa skorsing-nya. Kelas 3E, kelas End. Tempat para buangan, calon-calon pecundang ditempatkan di sana. Sebenarnya wajar saja jika hal seperti itu terjadi, karena kelas 3E memang dirancang untuk memenuhi sistem Sang Kepala Sekolah. Lagipula siapa pula yang akan tertawa riang jika kau mendapat posisi sebagai pecundang? Kau tentu akan merasa terpuruk dan merasa semua yang akan kau lakukan adalah sia-sia.

Tak banyak yang dapat dilakukan Sang Guru, karena sebagai seorang pengajar dia tidak cukup sempurna untuk meningkatkan seluruh bakat dan kemampuan yang dimiliki murid-muridnya. Padahal Aguri sangat yakin, jika kali ini seluruh muridnya akan dapat menjadi orang-orang yang hebat. Aguri hanya belum menemukan caranya, dan bingung bagaimana cara melakukannya. Terkadang dia merasa tidak cukup baik untuk menjadi seorang pengajar sekalipun dia sangat suka mengajar. Aura depresi yang dikuarkan seisi kelasnya membuat semangat Aguri turun sedikit demi sedikit. Memang kali ini murid-muridnya terlihat berbeda, mereka tidak sesuram angkatan sebelumnya, tetapi tetap saja mereka tak menunjukan ambisi untuk memperbaiki diri. Seakan-akan mereka sudah menyerah tanpa mau mencoba.

"Percuma saja, sensei."

Semua siswa kelas 3E selalu mengatakan hal yang sama, setiap kali Aguri menasehati mereka. Dalam satu helaan napas panjang, terkadang Aguri berpikir, 'Mungkin menyerah akan lebih baik.'

o.o.o

"Apa yang terjadi hari ini?"

Aguri tersentak mendengar pertanyaan lelaki hitam di sampingnya yang tiba-tiba sekali. Padahal sebelumnya mereka masih berbincang seperti biasa, namun mendadak pertanyaan itu meluncur dari lawan bicaranya. Dan dari nada yang digunakan lelaki itu, apa Aguri boleh merasa jika Shinigami-san sedang mengkhawatirkannya?

"Ah, ya—maksudku, tidak." Aguri sedikit terbata, bingung juga menjelaskannya. "Begini, kau tahu kan kalau aku seorang guru?"

Pertanyaan retorik, jadi lelaki tanpa nama itu tak menjawabnya. Hanya matanya bertanya tersirat—menunggu lanjutan kalimat Aguri, 'Lalu?'

"Sebenarnya, aku mengajar di satu kelas saja, kelas 3E. Anak-anak dengan nilai terendah di sekolah ditempatkan di sana." Senyum sendu mampir di wajah Aguri, namun dia memilih meneruskan ucapannya, "Padahal mereka memiliki kelebihan masing-masing, tidak semua di antara mereka buruk dalam nilai akademik. Hanya saja—"

Puk!

Wanita bersurai hitam pendek itu mendongak, menatap wajah Sang Shinigami dengan sorot tak terlukis. Namum semua pertanyaan dan kegundahannya seolah terjawab hanya dengan untaian senyum tulus lelaki hitam itu, "Aku mengerti." Ujar lelaki itu lembut.

"Kalau kau yang mengajari mereka, aku yakin mereka akan baik-baik saja." Sentuhan lembut dari tangan besarnya yang hangat membuat sorot netra Aguri melunak, "Hei, bus-mu sudah datang, Aguri. Bergegaslah sebelum kau terlambat lagi ke tempat kerjamu."

Wanita Yukimura itu akhirnya menaiki bus setelah mengucapkan terimakasih pada Sang Kematian. Perasaannya yang semula kelam seketika menghangat hanya dengan sentuhan ringan di kepalanya barusan. Usapan lembut itu menenangkan hatinya. Entah bagaimana bisa, hanya lelaki itu yang mampu membuatnya merasakan hal seperti ini—membuat keyakinannya kembali.

o.o.o

Jika dibandingkan, Yanagisawa benar-benar bukan pasangan yang baik. Dia tidak perhatian, tidak romantis, dan yang terpenting dia tidak setia. Lantas, apa yang membuat Aguri tetap betah menjadi tunangan maniak anti-matter itu? Oh, jawabannya adalah karena dia adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya. Jadi sekalipun dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Yanagisawa bermesraan dengan wanita lain, atau bersikap kelewat kasar padanya, wanita muda itu hanya meringis kemudian tersenyum kembali.

Dia menerima semua perlakuan Yanagisawa tanpa mengeluh, minimal dia tak pernah menyatakannya secara langsung—bahwa dia sudah lelah. Mungkin jika Yanagisawa tahu alasan keterlambatannya yang berulang kali itu hanya untuk menunggu seorang lelaki yang masih tak jelas asal-usulnya, bisa dipastikan Aguri akan mendapatkan hukuman yang berat.

Aguri tidak mengerti, semua yang ia lakukan untuk Yanagisawa dilakukannya sebaik mungkin. Dia berusaha mengabdi sepenuh hati demi membalaskan hutang budi keluarganya pada lelaki berambut aneh itu. Tetapi tetap saja setiap hari dia mendapat perlakuan kasar dari tunangannya itu. Setidaknya dia selalu dibentak dan dimaki-maki. Belum ditambah tuntutan Yanagisawa untuk mengakhiri karrier-nya sebagai seorang guru. Yanagisawa berpendapat, bahwa menjadi pengajar dari sekumpulan pecundang bukanlah hal yang berguna. Jauh lebih baik Aguri memfokuskan dirinya untuk bekerja pada Yanagisawa.

Terkadang wanita itu berpikir, apakah semua itu adalah cara Yanagisawa menunjukan perasaannya?

TBC

Uwaah~ senengnya ada readers baru~ ^0^)/

Salam kenal, un~ Zaky UzuMo desu~ ^^

Nah, jangan banyak curcol lagi, mari berbalas review buat readers yang ga on~ ^0^)/

Lluvia Pluviophile Wah, kenapa malu, Lluvia-san? O.O yah, kayak yang Zaky bilang, kalo ide berseliweran(?) susah nahan tangan buat ga nulis x'Da

Soal Yanagisawa tau apa ga... liat aja di chap-chap lanjutnya, ne? #kabursebelumditimpukmassa

Azuumi Aih aku dipanggil senpai sama author fandom tetangga~ aduuh, malunyaa~

Makasih pujiannya Azuumi-senpai ^^ selamat menikmati chap3 Halte dan Hujan, ya? ^^)b

Tapi aku ga bisa janji juga bakal update kilat, berhubung udah masuk masa akhir kelas 12, aku mabok ujian, un~

Yosh, seperti biasa Zaky minta RnR+RCL-nya ya, minna-saaan~ ^o^)/

Salam,

Z.U.M