Halte dan Hujan
Chapter 4
Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~
Genre : Hurt/Comfort
Rating : T
Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)
WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)
Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)
Jaa naa~! ^^
Summary : "Saat aku mempertanyakan arti hidup, yang terlihat hanya dirimu. Haruskah aku berbalik dan mengejarmu?"
Author POV
Lidahnya sempat bertanya, "Apa kau tidak takut padaku?"
Lalu wajah bingung menyambutnya, diiringi senyum dan tawa kecil kemudian, "Untuk apa aku takut padamu, Shinigami-san?"
"Aku seorang pembunuh, Aguri." Ucapnya tanpa ragu, "Kau sendiri memanggilku 'Shinigami-san'." Lanjutnya penuh ketenangan, meski di benaknya hanya ada rasa ingin tahu yang menggebu.
"Lalu?" senyum kecil itu terasa hangat, suara halus Aguri seolah menembus sukmanya. Membuatnya sampai pada satu kesimpulan—
"Kau tahu Shinigami-san? Aku hanya merasakan damai saat bersamamu."
—bahwa Aguri menganggapnya sebagai manusia biasa. Tanpa embel-embel pencabut nyawa sekalipun panggilannya seperti itu.
o.o.o
"Aku ingin pensiun."
"Hah? Pensiun?" tanya Aguri bingung, "Pensiun dari apa, Shinigami-san?"
Wajah ramah itu menoleh, dengan gurat kesal yang begitu tipis di keningnya, "Tentu saja pensiun sebagai pembunuh, Aguri." Sekejap kemudian dia bertanya, "Apa selama ini kau memang tidak mempercayaiku?"
"Tidak! Bukan begitu, Shinigami-san." Ujar wanita itu, "Kupikir kau punya pekerjaan lain."
Sang Kematian mendegus kesal, "Memangnya menurutmu lagi apa yang bisa kulakukan?"
Raut wajah Aguri berubah, ekspresinya menunjukan dia sedang berpikir keras. Lalu tak lama tangannya mengepal dan suara riangnya menggema, "Bagaimana kalau kau menjadi guru?"
Lelaki hitam mengernyit, tak habis pikir dengan opsi yang ditawarkan Aguri, "Guru?" ulangnya tak yakin.
"Ya, guru!" senyum tulus nan lembut Aguri memang sangat cocok dengan keluguannya, "Kau pasti bisa menjadi guru yang hebat, Shinigami-san."
Saat bus yang ditunggu Aguri datang, wanita itu sedikit menoleh sambil berkata, "Karena bagiku kau seperti seorang guru, yang mendukungku dari belakang."
Tak ada yang tahu, kalau lelaki yang berprofesi bebagai pembunuh bayaran itu serius memikirkan perkataan Aguri.
o.o.o
"Aku tidak menyukai tunangan anehmu itu, kak." Sambungan telepon di sebrang sana memperdengarkan suara imut adiknya, "Dia terlihat suka mencari muka. Menurutku dia bukan orang yang baik. Cepatlah putuskan pertunanganmu dengannya, kak."
Aguri hanya tertawa canggung mendengar protesan adik semata wayangnya. Memang bukan sekali-dua kali Yukimura Akari mengatakan hal-hal seperti itu tentang tunangannya. Maklum saja, Yukimura Akari memang sangat menyayangi kakak tunggalnya itu. Berapa kalipun Aguri mengatakan bahwa Yanagisawa bukanlah orang yang seperti itu—atau tidak separah itu, tetap saja Akari tidak mendengarkannya. Bagi gadis kecil itu, orang bernama Yanagisawa yang menjadi tunangan kakaknya tidak lebih baik dari para penjilat yang berkecimpung di dunia aktingnya.
"Lagipula, aku tahu kakak sedang menyukai orang lain." Sambungnya usil, "Ayo mengaku saja, kak~"
"A-apa?! Ma-mana mungkin, kan?" balas Aguri panik, "Aku sudah bertunangan, Akari-chan. Mana mungkin aku melirik lelaki lain?"
"Kau pembohong yang buruk, kak." Cibir Akari, "Jujur saja kalau kau tidak mencintai si aneh itu."
Aguri termenung sesaat. Apakah semudah itu membaca dirinya? Bahkan adik kecilnya sampai bisa menebak, bahwa di hatinya Yanagisawa tidak memiliki tempat sebagai seseorang yang spesial.
"Jangan bicara begitu, Akari-chan. Bagaimanapun juga dia lebih tua darimu. Kau harus menghormatinya, ya?" ucap Aguri lembut.
Namun setelahnya Akari kembali berucap, "Nah, kau sudah menjawab perasaanmu, kak. Kau hanya menghormatinya, bukan mencintainya."
Tak lama setelahnya sambungan telepon terputus. Menyisakan Aguri yang sibuk memandangi langit-langit kamarnya yang gelap, sambil berbisik tertahan, "Maafkan aku, Yanagisawa."
o.o.o
"Aguri."
Si pemilik nama menoleh, bingung tercetak di wajahnya kala Yanagisawa memanggilnya dengan nada normal—bukan bentakan dan sejenisnya. "Ya? Ada apa, Yanagisawa?"
"Pulanglah lebih awal." Ucapan Yanagisawa sontak menambah kadar keterkejutan Aguri, "Kau butuh istirahat. Jadi pulanglah sebelum aku berubah pikiran."
Mengabaikan perasaan anehnya, Aguri lebih memilih bergegas mengikuti perintah Yanagisawa sebelum aura gelap lelaki itu kembali dan malah memukulinya lagi. Namun sebelum tubuh wanita itu berbalik pergi, dia menyempatkan diri berkata, "Terimakasih, Yanagisawa." Sambil tersenyum tulus.
Yanagisawa mungkin terlihat tidak memperdulikannya, tetapi lelaki itu tengah merenungi sikap wanitanya. Sedikit perasaan aneh merayapi relungnya—apakah ini yang dinamakan perasaan bersalah? Karena setiap kali matanya melirik pergelangan tangan Aguri yang tempo hari diinjaknya tanpa belas kasihan, sebersit rasa yang mengganggu datang. Memang memar hitam kecil itu sudah lama hilang, tetapi dia seolah selalu bisa melihatnya. Rasanya sangat aneh, ada seseorang yang masih mau menerimamu padahal kau sudah begitu kejam padanya.
Benak Yanagisawa bertanya-tanya, apakah Aguri tidak memiliki dendam—dan amarah—pada siapapun, sehingga wanita itu memperlakukan semua orang dengan sama baiknya?
o.o.o
Kebosanan sedang menggerayangi isi kepala Sang Kematian. Sudah hampir dua minggu dia tidak bertemu dengan wanita Yukimura di halte itu. Setiap kali dia menyambangi tempat tak terawat itu, Aguri tidak ada di sana. Entah karena akhir-akhir ini hujan enggan turun atau memang jadwal wanita itu menjadi lebih padat. Aguri yang biasa dia temui di halte sedang duduk sambil sesekali menekuri sisa tugasnya sembari menunggu bus-nya datang, tak pernah dia lihat selama nyaris dua minggu ini. Dan tanpa bisa ditahan lagi, lelaki berusia dua puluhan itu menghela napas bosan.
Langit begitu cerah, bahkan awan tipis dapat dihitung jari. Biru langit bagai karpet lebar sepanjang mata memandang. Netra kelam arang lelaki berjulukan Shinigami itu kosong menyorot langit—tanpa suara mengungkapkan rindunya.
o.o.o
"Shinigami-san?" nada bingung itu terlontaar saat mata Aguri menangkap sosok lelaki tinggi tegap duduk di halte itu. "Kenapa kau di sini?"
"Menunggu bus tentu saja." Senyum kecil merekah, diiringi jemarinya yang dengan cepat menutup novel tebal di pangkuannya.
"Tidak, maksudku kenapa kau masih di sini?" ulang Aguri sambil mengambil duduk di sebelah lelaki itu. Wajahnya menoleh ke arah si lelaki hitam di sampingnya.
"Haruskah kukatakan kalau aku menunggumu, Aguri?"
TBC
Nah, langsung aja~ sebagai perayaan selesainya UN plus ultah papaku tersayaang~ chap4 hadir lebih cepaaat~ dan untuk kelanjutan chap5 dst insyaAllah bakal 1-2 kali seminggu :3
berhubung Zaky tinggal persiapan SBMPTN sama UMPTN :")
Oia, buat minna-san yang login kubales di PM, ne ? ^^)b
Yosh, seperti biasa Zaky minta RnR+RCL-nya ya, minna-saaan~ ^o^)/
Salam,
Z.U.M
