Halte dan Hujan

Chapter 6

Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~

Genre : Hurt/Comfort

Rating : T

Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)

WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)

Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)

Jaa naa~! ^^

Summary : "Hidup penuh dengan pilihan. Dan dalam cerita ini, kuharap pilihanku tepat."

Author POV

Canggung. Tidak seperti biasanya, kedua orang itu hanya saling diam dengan mengambil tempat duduk berjauhan. Kentara sekali menghindari kontak saat tanpa sengaja di bawah gerimis rintik mereka bertemu di halte itu. Seperti sudah ada sesuatu yang membuat mereka selalu bertemu di sana saat langit menjatuhkan airnya. Waktu terasa berjalan sangat lambat berkat kecanggungan yang menggantung. Mereka pernah menginginkan waktu lebih bersabar mendaki detik demi detiknya, namun bukan untuk saat ini. Sekali ini mereka ingin waktu berjalan tergesa.

Karena dua puluh menit ini mereka merasa ada tekanan tak kasat mata yang menggelayut manja di pundak mereka. Seakan mereka melanggar apa yang telah dijanjikan—untuk bertemu saat lusa, bukan hari ini. Sungguh perpisahan sudah di depan mata, dan tak ada satu pun yang telah diungkapkan pada satu sama lainnya.

Sesuatu menahan mereka, memberikan rasa yang menggerogoti benak hingga sesak. Padahal sebelumnya mereka bebas bersuara, bebas berbicara. Sebelumnya mereka bisa saling melempar senyuman, tetapi saat ini bahkan untuk saling melirik pun begitu berat. Ada sebuah rasa yang mencegat mereka, menghalangi keduanya untuk bergerak. Membuat kelu lidah, namun kepala terus berdenyut menuntut untuk mengungkapkan kata.

Jadi ketika derit bis berhenti terdengar, si lelaki hanya mampu berujar, "Bus-mu sudah datang."

Mata yang menatap lurus langit mendung, mengabaikan eksistensi Aguri yang baru menatapnya dengan sorot tak tertulis. Gurat sendu seolah telah kehilangan separuh asa.

Karena mereka memang tengah melakukannya. Mereka hendak membuang perasaan yang kian nyata. Karena sebuah kesia-siaan belaka jika tetap ada penghalang di antara mereka. Pucuk yang tumbuh itu harus dicabut apabila mereka tak sanggup melanjutkannya.

o.o.o

"Yanagisawa," panggil Aguri di sela-sela kegiatan tunangannya itu yang sibuk mencatat hasil penelitiannya hari ini, "Bolehkah aku tidak datang ke sini besok? Ada sesuatu yang harus kuurus, dan kurasa waktunya tidak akan cukup jika aku memaksa datang ke sini." Sejujurnya Aguri ragu untuk berdalih pada lelaki yang telah membantu keluarganya itu. Aguri tidak biasa berbohong, tetapi dia lebih enggan melewati janji yang telah ia buat tempo hari.

Sementara di depan sana Yanagisawa masih menyibukan diri dengan data-data anti-matter yang tengah dia kembangkan. Tak sedetik pun tangannya berhenti mencatat ataupun matanya hilang fokus dari layar berbagai ukuran di hadapannya. Namun bukan berarti dia tidak mendengarkan Aguri yang masih berdiri di belakangnya. Dia hanya menunggu.

"Kalau kau tidak mengizinkan—"

"Pergilah." Ucap lelaki itu. Dirinya tetap tak menoleh barang sedikit pun, "Lagipula keberadaanmu tak cukup membantu, jadi lakukan sesukamu."

o.o.o

Kalimat Yanagisawa tak pernah menggaung di kepalanya seperti ini. Tak pernah membuatnya memikirkan makna dalam nada sarkastik lelaki yang menjadi tunangannya itu. Bukannya dia tidak menganggap Yanagisawa, tetapi bentakan dan makian bukan hal yang perlu terlalu dipikirkan. Untuk apa kau mengingat sesuatu yang membuatmu terganggu? Setiap perlakuan kasar Yanagisawa tak pernah diambil hati oleh Aguri, karena wanita itu tahu seperti apa tabiat tunangannya itu. Baginya menjadi tunangan Yanagisawa adalah ungkapan rasa terimakasih keluarganya sekaligus caranya menunjukan bakti kepada kedua orangtuanya.

Tetapi kali ini, Aguri seakan bisa menangkap arti perubahan kecil yang dilakukan Yanagisawa. Aguri tidak akan menutup mata—jika memang garis singgung takdirnya bukan dari benang merah, maka melupakan adalah pilihan, dari sebuah keharusan.

TBC