Halte dan Hujan
Chapter 7
Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~
Genre : Hurt/Comfort
Rating : T
Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)
WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)
Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)
Jaa naa~! ^^
Summary : "Berhentilah menunggu, semakin lama kau menunggu, semakin sulit untukku melupakanmu."
Author POV
"Kalau kau ingin memberikanku sesuatu, setidaknya berikan langsung padaku, Aguri." Bisiknya pelan saat hanya sebuah kotak yang menunggunya di halte. Lelaki itu mendongak menatap langit, bagai mengadu dan bertanya, 'Mengapa tidak kau turunkan hujan hari ini?'
Sekejap ekspresinya berubah cerah ketika angin dingin berhembus dan pita hitam pembungkus kado itu tersibak. Menunjukan sebaris tulisan rapi—Aku belum sarapan pagi ini, jadi aku pergi ke toko takoyaki dulu, Shinigami-san. Membayangkan wajah Aguri membuatnya tersenyum sambil menggumam, "Dasar ceroboh."
Tetapi sampai hujan selesai, Aguri tak kunjung datang.
o.o.o
Sang Kematian menunggu sepanjang hari, duduk di pojok halte. Tak henti memandangi langit—sejak mendung mulai datang, ketika hujan selesai, saat senja menjelang, bahkan sampai malam datang. Satu hari telah menutup, dia merelakan seluruh jadwalnya hari ini demi menunggu Yukimura Aguri. Lelaki serba hitam itu membatalkan banyak janji dan uang yang ditawarkan para klient-nya demi satu hari bersama Aguri. Namun setelah semua itu, wanita yang dinantinya tak kunjung datang. Tidak, dia datang kemudian meninggalkan sebuah kotak hadiah perpisahan. Sambil meninggalkan sebaris pesan lalu membuat Sang Kematian menunggu seharian.
Bukan satu-dua orang yang memandanginya sedari tadi. Banyak gadis dan wanita muda yang tak berhenti meliriknya, atau bahkan menggodanya diam-diam. Tapi apa daya, dia sama sekali tak tertarik barang sekedar melirik balik. Satu hari ini dia hanya duduk sendirian sambil memperhatikan aktifitas-aktifitas kecil yang biasa dilalui orang-orang. Hal-hal yang nyaris tak perah dilakukannya karena dia seorang pembunuh bayaran.
Termasuk saat ini, ketika dia hanya berdiam diri sembari menyesapi perasaannya yang menggantung risau. Begitu ingin ia menemui Aguri, namun wanita itu malah menghilang di saat genting. Apakah ia merasa jika ucapannya tempo hari itu bualan belaka? Sang Kematian menghela napas berat dan sedikit kasar, mengusir habis pemikiran buruknya barusan. Tidak. Aguri tidak pernah tidak mempercayainya. Wanita itu selalu menerima semua yang dia katakan dan tak pernah ingkar.
Meskipun ini kali pertama mereka benar-benar membuat janji. Dan pertama kalinya juga Aguri tidak menepati janjinya. Sang Kematian hanya bisa berpikir dan terus meyakinkan dirinya, bahwa Yukimura muda itu akan datang. Wanita itu akan memenuhi janjinya, apapun yang terjadi. Mungkin wanita itu hanya terlambat atau memiliki pekerjaan mendadak.
Jadi sekali lagi dia akan menunggu. Setidaknya sampai hari benar-benar berganti.
o.o.o
Sepanjang hari ini, seorang wanita muda duduk di sudut dalam sebuah café di depan halte. Manik hitamnya memaku pada sosok lelaki muda yang terduduk di halte, persis di depan jendelanya. Sudah dua gelas kopi dihabiskan wanita itu, demi menghalau dinginnya hujan dan menemani saat mentari terik datang. Benaknya terasa sesak, setiap kali mendapati raut gundah di paras lelaki hitam yang tengah menunggunya. Aguri tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari lelaki di depan sana tetap duduk tenang demi menunggunya datang—menghampiri si lelaki hitam. Aguri tidak lupa, jika mereka memiliki janji bertemu hari ini.
Kendati dirinya ingin melangkah ke sana—ke tempat lelaki itu berada, sebuah hentakan kesadaran menghentikannya. Dia memang telah memilih, dan pilihannya jelas pada lelaki itu. Wanita Yukimura itu telak dikalahkan hatinya. Namun apa daya jika ego masih berkuasa. Atas nama bakti dan balas budi, dirinya tak mampu mengambil langkah maju. Tak mampu beranjak seinchi-pun dari duduknya.
Menyesal sudah percuma. Lagipula, bukankah dia telah memberikan sebuah hadiah sebagai ganti kehadirannya di pertemuan mereka? Aguri sudah benar-benar terlambat sekarang—kalau pun dia ingin mengubah keputusannya. Dia yakin jika lelaki itu akan pergi sebentar lagi. Lelaki itu akan meninggalkan halte saat bus terakhir datang, lalu—mereka akan berpisah.
Jadi Aguri akan tetap diam di sini sambil menunggu apa yang akan terjadi.
TBC
