Halte dan Hujan
Chapter 8
Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~
Genre : Hurt/Comfort
Rating : T
Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)
WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)
Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)
Jaa naa~! ^^
Summary : "Perpisahan di depan mata, tetapi detik seolah enggan berlalu. Hingga yang terasa hanya sesak menyiksa."
Author POV
Sungguh beruntung Aguri memilih café ini sebagai tempatnya menunggu. Karena café 24 jam itu tidak akan mengusirnya dengan alasan sudah melewati jam operasionalnya. Namun yang tidak beruntung sepertinya adalah batin wanita itu. Karena lelaki di depan sana masih duduk diam di halte itu. Sekalipun langit sudah menghitam di atas sana—dan hujan mengguyur dua kali di hari ini.
Sejak udara pagi berhembus, Aguri tak berniat menemui lelaki itu. Jadi sepulang dari mengajar di kelas 3E, Aguri bergegas meletakan kotak berhias pita hitam itu di tempatnya biasa duduk. Hadiah kecil yang dia berikan setelah lelaki itu mengatakan jika lehernya terasa dingin dan pegal-pegal karena penginapannya tidak cukup bagus. Lucu rasanya jika seorang pembunuh handal dengan uang berlimpah masih saja memilih berhemat di negeri orang.
Kembali pada objek yang sedari tadi diamati oleh Aguri, wajahnya mulai menunjukan raut putus asa. Sebersit rasa bersalah menghampiri Aguri. Hendak meminta maaf dan menemui lelaki itu. Namun berulang kali kesadaran menghantamnya lagi dan lagi. Terus mengingatkannya akan keputusannya tempo hari—bahwa dia memilih lelaki itu. Kendati demikian dia harus mengubah segalanya saat Yanagisawa seolah meminta kesempatan darinya.
Setelah kopi keempatnya habis, Aguri menarik langkahnya ke arah lelaki itu. Memutuskan untuk setidaknya mengucapkan sepatah-dua patah kata perpisahan formal dan permintaan maafnya secara langsung kepada lelaki itu.
o.o.o
"Sudah kuduga kau ada di sana, Aguri."
Nada dan senyuman lelaki itu terasa hambar di telinga wanita Yukimura. Membuat pisau imajiner mulai beraksi mengiris benaknya. Aguri harus berusaha keras untuk tak merunduk dan tetap menatap dua pasang netra hitam lelaki di depannya. Bibirnya berucap perlahan, "Maafkan aku, Shinigami-san."
"Untuk apa kau meminta maaf, Aguri?" tanyanya lembut. Sungguh senyumannya tak sampai ke mata berkilau itu. Iris sekelam jelaga itu hanya memancarkan kehangatan semu semata.
"Maaf telah membuatmu menunggu, Shinigami-san. Aku–" jeda yang cukup panjang, namun tak kunjung Aguri melanjutkan katanya. Dan lelaki itu pun seolah tak menunggunya. Jadi di sela napasnya yang tercekat, Aguri berucap dengan lirih, "Maafkan aku."
o.o.o
Bagaimana bisa sebuah rasa tumbuh begitu saja? Merambat tanpa suara, mekar tanpa aura. Lantas kemudian menyiksa dalam rindu, mengikat hingga jiwa tercekat. Setiap napas dan debaran berbagai rasa, kadang begitu manis dan nyaman, tetapi kemudian—kata sesak di dada itu nyata, meski karena sering digunakan sampai jadi membosankan.
Mata menangkap bayangannya, senantiasa menoleh ke tempatnya berada. Ingatan seolah hanya miliknya sampai tak ada celah untuk menghindari kepingan kenangan. Seolah terpaku tanpa bisa berpaling dengan mata yang hanya memantulkan refleksi dirinya. Bagaimana bisa perasaan ini melumpuhkan mereka?
Si lelaki tak bisa menahan, maka terucaplah darinya, "Aguri, ikutlah denganku."
Sang Kematian ingin menjadi tuli saat ini juga. Karena indra pendengarannya ditembus oleh dua kata yang yang sama menyiksa dua belah pihak, "Maafkan aku." Ucap Aguri sambil merunduk dalam.
o.o.o
Sisa-sisa degub yang terasa begitu berat menyambut riang segumpalan yang menyumbat aliran napas keduanya hingga menarik napas pun terasa sulit. Seharusnya tidak ada yang tersakiti di sini, karena keduanya hanya sebatas kenalan yang bertemu di sebuah halte kecil saat hujan. Mereka hanya dua orang yang saling berbincang demi memangkas waktu sampai bus datang. Mereka hanya saling berbagi cerita sehari-hari, bukan hal-hal yang tergolong pribadi.
Namun bagaimana bisa keduanya menjadi terhubung satu sama lainnya, hingga muncul tali-tali yang mengikat keduanya.
Sang Kematian menghela napas, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Aguri. Kau tidak melakukan kesalahan apapun di sini."
Tentu, bukan sebuah kesalahan kalau kau memilih setia, kan? Bahkan Aguri tidak sanggup untuk sekedar menganggukan kepalanya.
o.o.o
Sekali ini, Sang Kematian menurunkan sejenak kelopak matanya, meresapi dalam-dalam kecamuk di dadanya. Tarikan napasnya sedikit menetralkan gejolak ramai di sana, membuatnya cukup tenang untuk mengucap beberapa kata lagi pada wanita yang telah ditunggunya.
"Terimakasih, Aguri. Maaf karena aku tak bisa berlama-lama."
Bohong. Bahkan Aguri masih bisa mengetahui kalau kalimat terakhirnya itu dusta. Jika seharian ini dia bisa menunggu, lalu apa yang membuatnya kini harus pergi secepat itu?
"Selamat tinggal, dan jaga dirimu baik-baik." Senyuman di wajahnya tulus kali ini. Dibumbui pahit yang kasat mata. Di ujung lidahnya masih ada satu kalimat lagi, tetapi kelu lebih dulu datang.
Mendapati si lelaki hanya membisu, Aguri memaksakan seutas senyumnya, "Ya, tentu saja, Shinigami-san."
Menggantung. Belahan bibir wanita itu terbuka tanpa suara yang keluar, sebab tercekat untuk melanjutkan, "Selamat tinggal, Shinigami-san."
Sedetik kemudian punggung lelaki itu telah menjauh. Meninggalkan Aguri yang meremas erat ujung bajunya. Sebutir air mata yang jatuh bagai meneriakan kalimatnya yang terputus, "Terimakasih banyak, Shinigami-san. Aku akan selalu mengingatmu."
TBC
Yosh, ini satu-satunya chapter yang dieditin mbak editornya Zaky xDa
Soalnya sempet galau, udah rapi belom, sih? Apa malah nambah gaje aja? Jadilah butuh bantuan revisi lag :3
Yoosh, Zaky ngucapin makasih banyak ya, minna-san~ kalian masih sempet mampir ke FF abal-abal Zaky xDa
Seperti biasa, RnR+RCL, neeee~ ^^)/
Salam,
Z.U.M
