Halte dan Hujan
Chapter 9
Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~
Genre : Hurt/Comfort
Rating : T
Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)
WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)
Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)
Jaa naa~! ^^
Summary : "Berat rasanya, ketika bayanganmu masih nampak dalam ingatan."
Author POV
Lelaki yang dikenal dengan julukan Shinigami itu sudah menyelesaikan seluruh kepentingannya di Jepang. Namun netranya masih ingin menikmati guguran bunga sakura dan aroma khasnya. Bunga-bunga yang biasanya membawa ketenangan saat ini tak mampu mengurangi penatnya. Dalam satu helaan napas, Sang Kematian menumpahkan keluh kesahnya. Mengapa meninggalkan tempat ini menjadi begitu sulit?
Di antara kenangan yang bergulir ditemani bisu, mengapa di halte kecil ini dirinya sibuk mengulang saat di mana perpisahan terucap? Mengapa tak kelu otaknya memutar balik kilas memori tabu itu? Tidak tahukah kalau pikirannya kian berkecamuk ancap kali wajah pias Aguri terbersit di benaknya?
Sudut hatinya bertanya-tanya, apakah sebuah perpisahan memang yang diinginkan wanita itu?
Tetapi berapa kalipun bertanya, dia tidak akan menemukan jawabannya. Karena bahkan dia tak berani mengutarakan sebuah tanyanya.
o.o.o
Tirai kelam di mata Aguri tersingkap ketika telinganya mendengar suara Yanagisawa. Sejenak ia terkesiap begitu lelaki yang menjadi tunangannya itu lantas berbalik begitu fokusnya kembali. Dan tanpa sempat bertanya si lelaki hanya mengulang kalimatnya, "Pulanglah, Aguri."
Berapa kalipun Aguri mengerjap, lelaki dengan punggung yang sedikit bungkuk itu memanglah Yanagisawa—tunangannya yang bertangan besi. Sekalipun kalimat sarkastik dan menghinanya masih tersisa, tetapi Aguri masih merasakan sesuatu yang berbeda dari diri lelaki maniak anti-matter itu. Jadi sebelum tangan kasar Yanagisawa menghantam ubun-ubunnya dengan sebuah tablet keluaran terbaru, Aguri memutuskan untuk pamit dan beranjak dari ruang penelitian serba putih itu.
o.o.o
Malam belum cukup larut. Jam masih menunjukan pukul 20.00, masih sangat awal dari waktu pulangnya yang biasa. Karena jarak antara rumahnya dan tempat penelitian ilegal tunangannya cukup jauh, Yukimura muda itu memutuskan untuk menghampiri halte di depan jalan. Sampai sepuluh menit berlalu dan wanita itu memasuki bus-nya.
Andai saja di depan matanya bukan sosok Sang Kematian yang sama terkejut menatapnya, Aguri pasti meyakini kalau ia sedang bermimpi. Masih segar di ingatannya jika seminggu yang lalu mereka telah mengucap perpisahan, dan itu berarti seharusnya lelaki bersurai hitam jelaga sudah tidak menginjak tanah Jepang sejak dua hari yang lalu.
Lantunan tawa kecil disertai senyum tipis tersaji di mata Aguri ketika lelaki serba hitam itu mendapati Aguri yang hanya terdiam di hadapannya, "Maafkan aku, Aguri. Masih ada satu misi yang belum kuselesaikan." Ucapnya lembut, "Bolehkah aku duduk di sampingmu?"
Aguri hanya mengangguk singkat, lantas kemudian tubuh tinggi si lelaki sudah berpindah di sisinya. Memangkas jarak yang ada dan mengisi tempat kosong di sepasang tempat duduk di bus itu. Sampai sebuah suara ramah dari lelaki itu kembali memecah hening, Aguri hanya mampu tetap tak bergeming barang sedetik pun.
"Kuharap kau menjawabku dengan jujur, Aguri." Sebuah permintaan yang disambut anggukan kecil lawan bicaranya, "Apa kau baik-baik saja?"
Sekali ini, izinkan Aguri untuk menghilang dari muka bumi. Karena bila matanya terbelalak lebih lebar, niscaya lelahan beningnya akan tumpah ruah di detik itu juga. Dan sekali ini saja, Aguri ingin menulikan pendengarannya, tepat saat kalimat selanjutnya dari si lelaki terucap,
"Karena kurasa aku tidak akan baik-baik saja setelah ini."
Inginnya Aguri berkata, "Tidak!" dengan lantang, namun bibirnya berdusta. Senyumnya tanpa rasa dan suaranya sebatas dengung tanpa sirat yakin setitik pun, "Ya, tentu saja, Shinigami-san. Kenapa tidak, kan? Aku tak punya alasan untuk seperti itu."
Saat dua buah lengan merengkuhnya dalam pelukan, Aguri sadar pertahanannya runtuh seketika.
"Jangan katakan hal itu sambil menangis, bodoh. Kau benar-benar penipu yang buruk, Yukimura Aguri." Desis Sang Kematian sembari mengeratkan pelukannya pada wanita bersurai senada jelaga.
o.o.o
"Kau tidak datang..." bisik Aguri tertahan, "Hujan begitu deras, aku menunggumu sampai bus terakhir datang." Saat manik hitam berselubung bening mendongak, sepasang mata senada itu berpandangan dalam jeda, "Tetapi kau tidak datang."
"Aku ragu, Shinigami-san. Aku gentar akan keputusanku sendiri..." serak suara Aguri terdengar, dan Sang Kematian membiarkan wanita itu melanjutkan lisan, "Aku tak bisa meninggalkan tunanganku, Shinigami-san. Aku tidak bisa."
Seketika berjuta pengandaian meledak dalam kepala keduanya. Namun keduanya pun tahu, semua hanya andai semata.
TBC
