Halte dan Hujan

Chapter 10

Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~

Genre : Hurt/Comfort

Rating : T

Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)

WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)

Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)

Jaa naa~! ^^

Summary : "Apa yang bisa diubah dari sebuah takdir? Semua orang tahu, jika takdir itu mengikat."

Author POV

Yang bisa dilakukan lelaki itu hanya mengusap lembut helaian hitam Aguri perlahan. Menenangkan seseorang bukan keahliannya, karena dia seorang pembunuh. Dibanding menenangkan, menghilangkan fokus dan penjagaan seseorang lain jauh lebih mudah baginya. Bahkan jemarinya terasa sungkan mengusap tepi mata wanita di pelukannya. Dia merasa tidak pantas melakukannya. Bukan dia yang seharusnya menghapus pedih itu.

Karena bahkan mereka hanya sebatas orang yang saling mengenal. Tidak ada ikatan di antara keduanya, selain sebuah halte kecil yang menghubungkan mereka.

Lisannya butuh melontarkan satu tanya lagi, namun urung. Cukup dengan melihat reaksi Aguri dia bisa menarik kesimpulannya. Yang ia butuhkan adalah konfirmasi, dari orang yang bersangkutan. Dia sudah bersumpah untuk tidak akan memaksa. Karena dengan segala kesadaran dan akal sehatnya, Sang Kematian tahu dunia mereka berdua jauh berbeda. Membawa Aguri bersamanya sama saja menarik wanita itu dalam lembah kelam dunia, di mana kedamaian hanya bualan semata.

Tempat yang kejam bukan apa yang ia inginkan untuk bersama Aguri. Karena dia tahu, dunia sudah berlaku cukup kejam pada wanita itu. Sang Kematian hanya ingin rumahnya tetap aman dan tenang. Tetap menjadi sebuah rumah yang membawa tentram dalam benaknya, sekalipun dia tak bisa menempati rumah itu.

o.o.o

Aguri masih ingin meminta maaf. Aguri masih ingin menjelaskan semuanya. Namun bibirnya bergetar tiap kali sebuah kata hendak diucap. Sesaknya membuncah setiap dia memulai kalimat demi kalimat. Karena dia tahu, apa yang akan dia ucapkan takkan mengubah apapun. Yang ingin dia katakan bukan apa yang seharusnya dia ungkapkan. Wanita itu tahu bahwa menjelaskan keadaannya adalah pilihan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi.

Sudah bermalam-malam ia memantapkan hati, namun suara kepastian kian hari kian menggantung sepi. Aguri sudah terikat, namun jalinan tak kasat mata itu tidak boleh lebih jauh lagi. Tidak boleh sampai merusak hubungannya yang lain. Di hadapannya ada sebuah persimpangan, yang keduanya sama sulit untuk ditinggalkan.

"Maaf, Shinigami-san. Mari kita sudahi keegoisan ini." Ucapnya dengan melelehnya setetes bening pembawa duka, berhias senyum terberat di dada.

o.o.o

Jika aku bertahan, semua hanya karena egoku semata. Mungkin kesia-siaan akan tercipta, karena mengabaikanmu tak berbeda dengan membuang sebagian hidupku. Aku masih belum mengerti, mana yang lebih baik—bernapas dengan sisa separuh hidupku, atau memaksakan diri bersamamu.

o.o.o

Ini bukan kali pertama Sang Kematian melihat air mata terjatuh dari manik sewarna malam itu. Bukan pula pertama kali melihat redup di kilau itu. Namun saat ini, tepat di depan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan sebutir bening mengukir sungai kecil di paras anggun wanita itu. Aguri tak pernah benar-benar menangis. Kelopak matanya masih sanggup terbuka sekalipun tirai hujan siap menumpahkan badai. Permata yang berkaca-kaca itu masih mampu berkedip tanpa lalai menjatuhkan satu tetesnya.

Sang Kematian hanya bisa merasakan datangnya hujan di balik jiwa wanita itu. Seolah ujung jarinya mampu menyentuh serpihan yang menyebar mengelilingi Yukimura muda. Seakan ada sebuah resonansi di antara keduanya, hingga setiap getar yang dirasakan dapat disambut oleh satu sama lain. Seolah jiwa mereka saling berkait dan memainkan irama senada.

Termasuk keinginan mereka untuk melepaskan satu dengan yang lainnya.

Mereka telah memutuskan, untuk melangkah di jalur yang berbeda.

TBC or END ?

Yes, ide Zaky mentok sampai sini~ belum tau bakal ada wangsit(?) lagi apa gimana~ tapi aku bakal publis minimal satu chapter bonus berisi curcol dan permintaan maaf kalau seandainya FF ini bener-bener ga bisa dilanjut m(_ _)m

Dan ga asik kalau cuma curcol gaje aja kan chap bonusnya? Jadi kemungkinan bakal ada sedikiiit selipan FF baru Zaky—yang ga bakal jauh dari KoroGuri XDa

Yosh, makasih ya minna-san~ kalian udah ngikutin FF ini selama ini~ ^^

Jangan lupa RnL+RCL, nee~ ^^)/

Salam,

Z.U.M