Halte dan Hujan
Chapter 11
Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~
Genre : Hurt/Comfort
Rating : T
Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)
WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)
Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)
Jaa naa~! ^^
Summary : "Apa yang bisa diubah dari sebuah takdir? Semua orang tahu, jika takdir itu mengikat."
Author POV
Lelaki serba hitam itu terdiam. Dalam benaknya jelas memahami bahwa keputusan Aguri adalah tepat. Kalimat-kalimat yang diucapkan wanita itu tidak salah sama sekali. Dan Aguri jelas mengucapkan semua itu dalam kesadaran tanpa dasar paksaan. Bahkan dalam otak jenius assasin muda itu, dia telah memprediksi langkah yang diambil Yukimura itu saat ini. Tetapi dia enggan berbohong, jika batinnya menjerit tertahan untuk menampik permintaan Aguri.
Senyum di bibirnya tak terasa lagi. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang diambil paksa dan menyisakan ruang kosong di sana. Tangannya terasa hampa, bukan karena tubuh hangat Aguri telah menjauh dari dekapannya. Tetapi karena bahkan rasa pahit di ujung lidahnya masih mampu menipu dengan untaian kata, "Ya, tentu saja, Aguri."
o.o.o
Tawa kecil Aguri terasa sumbang di telinganya. Tidak ada rasa humor sama sekali. Tidak ada indikasi positif seperti kebahagiaan di dalamnya. Bahkan tidak ada sebersit kelegaan dalam tawa itu.
"Sepertinya ini saatnya mengucap salam perpisahan." Ucap Yukimura Aguri sambil tersenyum hangat. Di mata Sang Kematian, air mata yang tengah menghujani hati wanita itu terlalu jelas. Guratnya seolah diukir dalam benak Sang Kematian.
Sementara lidahnya kelu, Aguri tanpa ragu menyuarakan kata yang paling ingin Sang Kematian hapus dari dunia ini, "Sayonara, Shinigami-san."
o.o.o
Lelaki itu terbiasa hidup dalam kegelapan. Berkubang dengan darah, bergumul dengan tumpukan mayat, kemudian mendapatkan nafkah dari semua itu. Dia telah terlalu terbiasa mengotori tangannya sebagai si pencabut nyawa. Dan dia tidak pernah repot memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, karena dalam otaknya tertanam, Aku akan baik-baik saja jika aku bisa membunuhnya. Dia tidak pernah mempermasalahkan langkahnya yang menjejak dunia bawah sekian lama. Dirinya senantiasa mengabaikan apa yang mungkin akan dia terima di alam sana.
Sebab pijakannya di dunia fana ini tidak lebih dari kematian semata.
Jelas dia tidak pernah mengira, jika sebuah perasaan akan menghentikan sebuah langkahnya.
o.o.o
Wanita itu masih ingat kali terakhir mereka bertemu. Di sebuah bus saat dia hendak pergi ke tempat tunangannya berada. Dia bisa mengingat semua yang terjadi kala itu, termasuk tangisannya. Dia dengan jelas mengingat setiap getir di sekujur tubuh dan jiwanya, yang disiram habis dengan sebuah pelukan dari lelaki itu. Dia bisa mengingat, pahit yang membakar ketika mengucap perpisahan. Ketika dia tidak mengucapkan kalimat yang senantiasa mereka bagi saat perjumpaan usai. Padahal air matanya tumpah karena kata-kata itu mendobrak pertahanannya.
"Sampai jumpa, Shinigami-san." Bisiknya berulang-ulang dengan sorot sendu, setiap kali kakinya melangkah meninggalkan halte yang selalu menjadi saksi bisu kisah singkat di antara mereka.
o.o.o
Waktu tidak akan berbohong. Sekeras apapun usaha kita untuk memperlambat atau mempercepat waktu, waktu akan tetap pada pendiriannya. Waktu akan tetao melangkah seperti yang seharusnya. Jadi janganlah berharap waktu akan bersimpati pada dua sejoli yang tengah menatap langit biru, sekalipun keduanya berharap waktu cepat berlalu dan mungkin sebuah kesempatan akan bersedia datang. Karena toh mereka sendiri yang memutuskan untuk menyudahi waktu kebersamaan yang dapat mereka nikmati dengan meninggalkan satu sama lain.
Sungguh, dalam hati keduanya berharap, semoga Tuhan akan kembali mempertemukan mereka.
o.o.o
"Aguri," panggil suara itu perlahan. Seluruh jarinya saling bertaut, sembari menatap sayu wajah istrinya. "Apa kau akan kembali?"
"Maafkan aku, Kotarou-san." Balas Aguri sambil merunduk dalam. Manik hitamnya mengatakan penyesalan yang mendalam. Tak kuasa menatap suaminya yang kini hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit tanpa daya. Efek radiasi anti-matter selama bertahun-tahun, kini nyaris seluruh fungsi tubuh Yanagisawa lumpuh total. Dengan senyum sendu keibuannya, Aguri mengusap lembut punggung tangan suaminya, "Aku akan selalu menemanimu, Kotarou-san."
Maniak anti-matter itu harus mengucap syukur beribu kali, karena Tuhan mengirimkannya seorang istri yang sangat berbakti. Bahkan di ujung penderitaannya, Aguri tetap setia di sisinya.
TBC
Oke, soal radiasi anti-matter ini ngawur, 100% ide abstrak Zaky aja~
Zaky mau ngucapin permintaan maaf yang banyak soalnya di tiap chap pendek-pendek Zaky yang nyatanya jarang update kilat, Zaky udah jarang bales review dari minna-san m(_ _)m
Dan pastinya ucapan terimakasih banyak Zaky buat semua reader, reviewer, fav-foll, dll~ terutama yang masih nungguin FF Zaky yang entah kapan updatenya u.u)v
Oia, yang berikutnya chap terakhir, jadi sekali lagi Zaky minta maaf kalau endingnya tidak sesuai harapan reader ^^a
Dan terakhir, jangan lupa RnL+RCL, nee~ ^^)/
Salam,
Z.U.M
