Halte dan Hujan

Chapter 12

Disclamer : Ansatsu punya Matsui Yuusei-sensei, Zaky Cuma pinjem beberapa chara-nya aja~

Genre : Hurt/Comfort

Rating : T

Pairing : Shinigami-sanxAguri, YanagisawaxAguri, DPL (Dan Pairing Lainnya)

WARNING ! Author newbie, typo(s) berceceran, alur kecepetan plus lompat-lompat(?), Human!Koro-sensei, OOC, DKL (Dan Kesalahan Lainnya)

Oke, minna-san langsung baca aja, ne! Dan selamat berbingung-bingung-ria(?)

Jaa naa~! ^^

Summary : "Apa yang bisa diubah dari sebuah takdir? Semua orang tahu, jika takdir itu mengikat."

Author POV

Sudah bertahun-tahun lelaki tanpa nama itu melewati harinya dalam buku baru. Senyumannya tak lagi palsu, dan perasaan manusiawinya semaki nampak. Sosok pembunuh terhebat itu telah menjadi seorang guru yang menakjubkan. Dia tumbuh di sekolah-sekolah kecil pedalam negara-negara terbelakang. Dia mengajarkan apa yang diajarkan seorang guru padanya. Dia membagi apa yang telah dia pelajari selama singkat rentang waktu yang dilaluinya bersama seorang wanita muda yang lugu. Dia telah belajar secara langsung, dari guru yang terbaik.

Namun di balik semuanya, dia hanya berharap semoga langit biru yang senantiasa dipandanginya akan menyampaikan salam rindunya kepada wanita itu.

o.o.o

Sejauh apapun mereka terpisah, langit yang mereka lihat tetap sama. Biru yang menghampar sejauh mata memandang itu tak berbeda di belahan dunia manapun. Sebanyak apapun mereka bertemu dengan orang-orang yang lebih menawan, lebih hebat, lebih berbakat dan lebih-lebih yang lainnya, kedua orang itu tahu bahwa hati mereka tetap memanggil satu sama lain.

Bagi Aguri, selama apapun dia mengabdikan diri pada Yanagisawa, cinta tak pernah datang padanya. Dan bagi si lelaki tanpa nama, tidak ada seorangpun yang dapat menyamai Aguri di hatinya. Keduanya lebih memilih saling menyapa lewat langit dan angin sebagai penyampai pesan terbaik. Karena bagi dua hati yang telah saling termiliki, tidak ada kesempatan untuk membagi.

o.o.o

"Kotarou-san?" panggil wanita itu suatu pagi saat suaminya tak kunjung membuka matanya atau sekedar menggumam menjawabnya. Kekhawatiran mengisi benaknya, sebab kondisi lelaki yang telah membagi waktu dengannya selama bertahun-tahun itu semakin menurun bersama dentang waktu bergulir.

"Kotarou-san? Kau baik-baik saja, Kotarou-san?" diguncangkannya sedikit bahu lelaki ikal itu, namun tak kunjung jawaban datang. Satu telunjuknya berpindah ke hidung Yanagisawa, memeriksa pernapasannya. Kemudian telinga wanita itu berhenti di dada suaminya, lantas menghembuskan napas lega saat detak teratur yang halus terdengar.

Saat jemarinya beranjak pada ponselnya—hendak menghubungi dokter pribadi Yanagisawa, lelaki bersurai hitam itu membuka mata dan suaranya, "Jangan hubungi siapapun, Aguri. Aku hanya ingin bersamamu hari ini."

o.o.o

Aguri menuruti perkataan suaminya. Diletakan kembali ponselnya di meja nakas, kemudian tersenyum lembut sembari membantu suaminya duduk. Setelah memastikan suaminya merasa nyaman dengan posisi duduknya, segelas air putih tersaji di hadapan lelaki itu. Setelah meneguk habis isi gelasnya, Yanagisawa hanya duduk diam sembari memandangi wajah Aguri yang telah menua. Hatinya terasa tenang setiap kali memandangi wajah teduh wanitanya.

Namun matanya tak bisa dibohongi. Sesuatu dalam benaknya selalu menyuarakan satu hal yang pasti. Bahkan setelah tahun-tahun berselang, dalam netra Aguri dirinya hanya sebagai seorang suami serta orang yang patut disegani dan dihormati. Hanya rasa hormat yang membuat wanita itu tunduk dan bersamanya sampai saat ini.

Jadi pertanyaan Yanagisawa kali ini hanya untuk memperjelas semuanya, "Aguri, adakah seseorang yang kau cintai?"

o.o.o

Langit di kota itu mendadak mendung dan bergemuruh. Gelap menggantung sedari pagi menjelang, dan hingga sore datang tak ada setetespun air yang jatuh dari langit. Tepat ketika jarum jam menunjukan waktu 20.00 rintik tangisan langit menderas. Lelaki tanpa nama itu semakin fokus pada awan yang berarak lambat. Memutar ulang setiap keping memorinya bersama hujan di sebuah negeri matahari sana. Menarik mundur ingatannya akan seorang wanita dengan senyum yang membawa kedamaian dalam gelap hatinya.

Sebuah senyuman yang menenangkan gemuruh batinnya, hanya dengan mengingat sosok wanita yang tak pelit membagi goresan indah itu pada siapapun.

o.o.o

Aguri tertegun sejenak. Wanita itu sempat berhadapan dengan dilema, saat sebuah memori menghantam telak kesadarannya. Bayang-bayang lelaki serba hitam dengan senyum hangatnya berputar-putar dramatis bak kaset rusak, menghilangkan fokusnya sesaat. Lalu dengan seutas senyum sendu dia menjawab tanya suaminya, "Ya, tentu saja, Kotarou-san."

Lelaki itu menarik napas dalam, menghapus goresan tak kasat mata yang baru saja mengukir batinnya. Bukannya dia tidak siap, tetapi bagaimanapun juga mendapat pengakuan sejujur itu dari istrinya sendiri jelas melukainya. Dan Yanagisawa sangat tahu bahwa Aguri tidak akan berbohong. Dusta takkan pernah menguar dari bibir tipis wanita itu.

"Dan orang itu bukan aku?" nada yang digunakan Yanagisawa lebih terdengar seperti pernyataan.

Dan Aguri hanya sanggup merunduk sambil berucap lirih, "Maafkan aku, Kotarou-san."

o.o.o

Iris hitam itu terbelalak kaget. Sangat-sangat terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontarkan suaminya. Bahkan kedua tangannya menutupi mulutnya yang membuka dengan jantung berdegub kencang. Bibirnya bergetar saat mempertanyakan kepastian. Dirinya benar-benar ingin meyakinkan bahwa telinganya tidak berdusta.

"Jangan buat aku mengulanginya, Aguri." Ucap Yanagisawa sambil melempar tatapan ke luar jendela, "Temui dia. Kau berhak untuk berbahagia."

o.o.o

Dulu wanita itu begitu ingin hal ini terjadi. Ketika sepasang mata sewarna arang itu menatap lekat dirinya, Aguri benar-benar berharap untuk tidak pernah bertunangan sebelumnya. Benaknya begitu ingin mengingkari hubungan yang tengah mengikatnya. Hatinya menjerit menuntut lepas rantai yang menjebaknya. Namun akalnya menolak semua pemberontakan itu. Hingga mereka terpisah, dan tak pernah berjumpa sekalipun.

Dan kini sebuah kesempatan datang, di waktu yang terbilang terlambat. Tetapi adakah kata terlambat untuk keduanya berjalan bersama?

Maka kali ini biarkan Aguri kembali menunggu di sana.

o.o.o

Biarkan hujan kembali mempertemukan mereka, untuk yang ke dua kalinya. Begitu kira-kira yang ada di pikiran dua sejoli yang kini saling berhadapan di bawah naungan halte kecil yang semakin tak terawat. Tepat saat kaki berbalut sepatu hitam itu menyentuh halte tua berdebu, sorot matanya terpaku pada sosok yang terduduk dengan senyum lembutnya.

"Selamat datang, Shinigami-san." Sambutnya hangat, "Atau harus kupanggil Shinigami-sensei?"

Keduanya tidak muda lagi. Waktu sudah begitu jauh memisahkan mereka. Jarak sudah memupus habis perjumpaan mereka. Namun halte kecil ini kembali menjadi saksi bisu, dari hilangnya rindu dalam hati.

Ya, jangan biarkan kisah ini terhenti. Sangat disayangkan jika dua jiwa hanya bisa saling memanggil dalam rindu, tanpa tahu bahwa keping pelengkapnya turut menyuarakan hal yang sama.

The End

Fyuuh~ tamat-tamat~ ga tega banget kalau harus bikin mereka kepisah beneran~ #nangisbombay(?)

Zaky minta maaf banget atas semua kesalahan selama FF ini berjalan, semisal telat update atau lupa bales review m(_ _)m

Agak kesusahan nyesuai-in bahasanya lagi, soalnya udah keasyikan nulis bebas(?) pake OC buat cerpen/cerbung biasa DX

Jadi lupa-lupa-inget cara nulis FF yang ga OOC DX

Dan soal typo(s) yang masih berceceran, Zaky minta maaf banget ya, minna-san QwQ)v

Yosh, sampai jumpa di FF ZUMyang lainnya ya, minna-saaan~ ^0^)/

Salam.

Z.U.M