Karena Kau Bukan Dia

Summary : "Karena kau bukan dia, melainkan Akashi-kun". Kesekian kalinya, Tetsuna menolak sang absolut Akashi Seijuuro, "Memangnya, aku harus menjadi Daiki agar engkau mencintaiku?".

Rate : T

Chara : Akashi. S, Kuroko! Fem

Genre : Romance, hurt/comfort

Warning : OOC, typo, gaje, dll

Kuroko no Basuke bukan punya author, tetapi punya Fujimaki Tadatoshi.

Ufuk timur menyisingkan matahari dengan sinar keemasannya, sementara kalender berganti menjadi Senin, sebagai patokan memulai hari pada bulan April ini. Rata-rata siswa terlihat menyebrangi belang zebra, diwarnai canda tawa dan percakapan ringan mengenai liburan kenaikan kelas. Beberapa merasa senang, bosan bercampur kangen ingin bertemu teman. Semuanya mempunyai cerita masing-masing,

kecuali wanita itu, yang terbiasa dalam sunyinya kesendirian, di tengah semilir angin beralun nada sedih.

Iris senada langit biru nampak takjub, memandang batang pohon yang berdiri kokoh walau termakan usia. Entah sejak kapan 'ia' berada di sini, menjadi saksi bisu dari segala aktivitasnya di taman kota tercinta. Ketika menunggu dijemput setelah selesai bermain, bahkan tersesat karena mengejar balon nyasar sewaktu berumur tiga tahun. Kenangannya terpatri jelas di setiap ruas,

namun ... semuanya hanya indah di masa lalu.

"Bulan depan kau akan ditebang. Lihatlah, sekarang aku sudah SMA. Meski jarang menemanimu, jangan kesepian ya?" tangan mungilnya mengelus sayang kulit kecokelatan tersebut, memeluk singkat tanda perpisahan sebelum ia berbalik ke belakang

Sampai seseorang menyapanya. Sebuah suara yang berhasil menemukan, entitas setipis kabut itu dengan sepasang hetekronom. Manik ruby bersanding azure menatap intens kelereng biru kepunyaannya, sambil menyungging seulas senyum yang entah bagaimana, terasa menyiratkan kelembutan pada bibir kemerahan tersebut. Kesadarannya setengah terlelap dalam mimpi seorang tuan putri, dia mirip pangeran berkuda putih, tokoh kesukaannya sejak masih kecil.

"Yo! Tidak bersama teman-temanmu?" lelaki itu benar-benar menyapa ... justru air mata yang mewakili mulutnya berkata-kata, dia tidak mengerti kenapa, terharu ... mungkin?

Tes ... tes ... tes ...

"Maaf jika aku membuatmu takut, berhentilah menangis" jari telunjuknya menyeka lembut. Setitik perhatian yang lagi mengundang sebuah perasaan. Dia tidak selemah itu sampai dirapuhkan lelaki asing. Kembali garis horizontal menghiasi bibir mungilnya

"Lupakan saja yang tadi. Aku duluan"

"Bagaimana kalau kita berangkat bersama? Anggaplah aku sebagai temanmu, mengerti?" permintaan berupa perintah terselubung, huh? Siapa peduli, mungkin dia hanya mencari sensasi kepada orang-orang baru

"Sayangnya aku tidak tertarik. Terima kasih"

"Kau tidak boleh menolak. Aku Akashi Seijuuro adalah mutlak, setiap perkataanku harus dituruti"

Dasar sinting! Bagaimana bisa dia menganggap pria itu pangeran berkuda putih? Lagi pula mimpinya sebatas angan belaka yang mustahil terwujud, karena dua hal : faktor usia dan 'kata dunia'. Dongeng berbanding terbalik dengan dunia nyata. Mana bisa kau menemui manusia sempurna, yang mau menerima segala kekuranganmu lapang dada? Omong kosong soal cinta, buktinya kita masih saling menyakiti.

"Siapa yang memintamu mengikutiku?" tanyanya ketus, terpaksa menghentikan langkah kaki memergoki tingkah si penguntit

"Kita satu sekolah. Bukankah aku sudah bilang? Kita aman berangkat bersama"

"Pantas seragammu tidak asing. Terserah, aku malas mempedulikannya"

Mereka sampai di depan gerbang, memasuki sepasang pintu kaca memperhatikan papan hijau lumut yang mendadak jadi sorotan utama. Enam kertas putih terjajar rapi dari ujung kiri hingga kanan, menampilkan ratusan nama berdasarkan kelas mereka. Benar juga, kalau diingat-ingat Akashi belum tau nama kenalan barunya, tetapi ia langsung menghilang ibarat ditelan bumi. Meski sesosok tubuh kecilnya tak perlu dicari lagi.

Mereka tetangga lima langkah.

"Tunggu sebentar, Daiki" interupsi Akashi mencegat lelaki berkulit tan yang melewatinya. Mata itu memasang tatapan malas, dengan kedua tangan disilangkan pada belakang kepala sambil sesekali menguap

"Ada apa Akashi?" walau hati berkata lain, yang dipanggil Daiki ini keringat dingin mengingat manusia di hadapannya merupakan kapten tim basket Teiko, dengan segala keabsolutan yang tabu untuk ditentang

"Aku ingin minta tolong, anggaplah begitu"

"Jadi apa?" tanyanya mengangkat sebelah alis penasaran. Jarang-jarang mendengar Akashi meminta bantuan selain ke Midorima, yakni tangan kanan kesayangan pria surai merah darah ini

"Tolong jaga seseorang untukku"

"Hah ...?! Kau bisa melakukannya sendiri! Kenapa harus repot minta tolong segala?"

"Kalian satu kelas, itu alasannya. Berani menolak sekali lagi, jatah latihanmu akan ku tambah dua kali lipat" ancaman kelas kakap pun dikeluarkan, mau tidak mau ia menerima permintaan aneh tersebut

"Tadi aku bertemu seorang wanita di taman kota. Rambutnya pendek sebahu, dengan iris senada langit biru di musim panas"

"Dan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama, begitu?"

"Menurutku kurang rasional, lagi pula aku tidak mempercayainya. Dia bernama Kuroko Tetsuna. Sapa dan jadilah temannya"

"Hari ini kau kenapa? Gara-gara terlalu banyak libur sampai berganti kepribadian? Pasti yang bernama Tesu atau Tasu itu punya teman. Bukankah terlalu overprotektif?"

"Kau tidak tau Daiki, Tetsuna adalah gadis yang kesepian"

Tetes air mata itu telah mengungkapkannya ...

Sebuah perasaan yang mungkin langit sekalipun tak ketahui.

Maka, kepada siapakah yang pantas menerimanya?

Bersambung ...