Hah … kesepian kata si cebol ini?! Batin pemuda tan bernama Aomine. Untunglah umpatannya belum lolos dari seleksi mulut, jika tidak, maka ada yang lebih buruk dari latihan dua kali lipat. Mereka tergabung dalam klub basket Teiko, dengan menorehkan prestasi gemilang pada catatan sejarah sekolah, dan bocah me … ralat, Akashi Seijuuro adalah ketua menggantikan Nijimura, pemegang sebelumnya.

"Arghhh … sial! Terlalu lama mengobrol tempat duduk banyak yang penuh" gerutu ia mengitari sekeliling ruangan lewat ekor mata, sampai menemukan bangku terbaik yakni di bagian belakang

Bagus untuk menghindari ceramah panjang lebar wali kelas, tinggal bermimpi indah sambil ucapkan 'sampai jumpa' berlambai pendek. Sepasang manik biru itu memperhatikan, gerak-gerik Aomine yang mencerminkan sifat malas manusia di hari Senin : hanya ingin tidur di ranjang mereka tanpa diganggu bunyi alaram. Ya, meski tak bisa dipungkiri wajah sangarnya nampak manis ditilik lewat dekat.

Padahal baru tiga menit berlalu, Aomine bisa terlelap semudah ini.

"Berdiri. Beri hormat!"

"Selamat pagi Sensei!"

"Untuk murid baru. Pekenalkan nama saya Teppei-sensei, mengajar sejarah kelas sepuluh dan sebelas. Wajah kalian tegang sekali, santai saja! Satu tahun ke depan ayo buat banyak kenangan bersama" tipikial guru yang bersemangat, ya … walau atensinya kurang tertarik memperhatikan lebih lanjut

"Dia sudah tertidur selama dua puluh menit, apa sebaiknya ku bangunkan?" semua fokus memperhatikan, dan Tetsuna bersikap tenang karena hawa keberadaannya tipis, mustahil tertangkap basah gara-gara melamun

"A-ano … Teppei-sensei memberi pengumuman penting, bukankah lebih baik kamu bangun dan mendengarkan?" interupsi telapak mungilnya menggoyang bahu kekar si pemuda. Membuat ia menyibak-nyibak tangan di udara bergumam lesu

"Anginnya kencang sekali …"

Diindahkan total, Tetsuna sadar betul selain angin lalu ia dianggap apa? Lagi pula dirinya di masa lalu benar-benar menyedihkan , hanya dipandang sebelah mata tanpa seorang pun pantas disebut teman. Makhluk itu munafik, datang ketika butuh dilupakan saat terpojok, pasti lelaki yang ditemuinya pagi tadi sejenis dengan mereka. Sebatas bersimpati belaka kemudian dilupakan begitu saja. Inilah realita, ditentang sesering apapun tetap Tuhan berkuasa.

"Baiklah sekian untuk hari ini. Sampai jumpa besok di jam pelajaran ketiga!"

"Sekarang bangunlah. Bel pulang sudah berbunyik. Kau mau terus tidur hingga kelas dikunci?" entah kenapa Tetsuna bersikukuh. Sebegitu sulitkah membuka mata dan lanjut di rumah? Kegiatan klub pun dimulai minggu depan

"Eto … maaf, aku duluan"

Jangan menyesal saja kalau tau-tau hari beranjak sore. Tetsuna hendak menapaki anak tangga pertama, namun belum tiba uwabaki -nya menginjak lantai, seseorang berlari kencang ke arah tempat ia berdiri. Mendorong tubuh ringkih itu terjungkal ke belakang nyaris menyebabkannya berguling menabrak tembok, jika jari-jemari besar tersebut melewatkan lima detik pertama yang menentukan nasib. Aomine menahan dengan santainya memandang lekat iris sang wanita.

"Hoi kalian berdua! Minta maaflah kepada orang ini sebelum ku hajar!" ibarat raja rimba yang mengaung di tengah hutan. Mereka langsung bergidik takut tanpa berani melawan sedikitpun

"Ta-tapi tidak ada siapa-siapa! Mu-mungkin Aomine-san salah lihat" ucap salah satu dari mereka. Mendapati kesempatan dan berlari luntang-lanting menuruni tangga. Dia merasa image-nya bertambah buruk

"Eh, benarkah? Ya ampun, aku pasti kurang tidur akibat bermimpi aneh!" Aomine melepas pelan pegangan itu. Ikut menyusul para murid di lantai bawah diekori Tetsuna

Giliran lelaki misterius ini yang menimbulkan perasaan aneh, dia sendiri pun tidak mengerti kenapa. Namun aksi heroik itu benar-benar di luar perkiraan, Tetsuna pikir mustahil untuk selamat dari hantaman anak tangga, siapa sangka teman sebangkunya keburu bangun, setelah sadar suasana kepalang sepi.

Mereka berpisah di depan pintu, atau mungkin tidak karena nuraninya memerintahkan agar mengikuti Aomine.

TAP … TAP .. TAP …!

PRAK!

"Hosh … hosh … apa yang dia lakukan di sini?" gumam Tetsuna datar memasuki gedung. Terlihat ia sedang memantulkan bola dengan warna oranye khas itu. Melemparnya asal memasuki keranjang yang bergelantung tinggi pada papan ring

"He-hebat … gerakannya cepat"

"Membuatmu terkagum-kagum bukan? Bahkan sebanyak apapun aku menonton, tetap saja permaiannya menakjubkan" cerita wanita bersurai senada kelopak sakura. Memperhatikan sepasang kelereng Tetsuna yang terbelalak di awal pertemuan mereka

"Kau bicara padaku?"

"Sangat jelas bukan? Dai-chan tidak mungkin mendengar suaraku dari sini" panggilan yang terdengar imut, seakan kegarangan Aomine sekadar formalitas semata

"Namanya Dai-chan?"

"Tidak. Panggilan itu khusus untuknya. Kami teman masa kecil, kurang lebih lumayan akrab. Dia Aomine Daiki, ace dari klub basket Teiko. Apa kamu murid baru?" inikah yang disebut obrolan? Tetsuna mengangguk malu, perasaannya terus bercampur aduk semenjak pagi berlalu

"Banyak orang hebat selain Dai-chan. Kapan-kapan aku ingin mengenalkan mereka padamu, bagaimana?"

"Kenapa kamu melakukannya? Jika aku menolak, niat baikmu akan terbuang sia-sia" sikap dan seulas senyum yang pernah Akashi tunjukkan, kini nampak dalam sesosok wanita dengan warna khas musim semi itu. Pun Tetsuna merasa adem ayem ditontoni netra berkilaunya

"Karena di mataku, kamu adalah wanita yang kesepian"

DEG!

Semacam dejavu? Kepalanya mendadak pening, sehingga ia pamit pulang mencampakkan keberadaan mereka. Namun lari kecil itu terhenti di jarak satu meter, Tetsuna menabrak seorang lelaki yang secara paksa menghentikan pelariannya, dari tatapan pasang bola mata beriris ruby -azure tersebut. Kenapa harus Akashi Seijuuro yang lagi-lagi menemukan segelentir rasa sepi, bahkan langit sekalipun tak mengetahui apa-apa selain menjadi saksi bisu?

"Ku antar pulang. Kita bisa mengobrol lebih banyak" keabsolutannya konyol bagi Tetsuna, tapi ia menurut atas surahan nurani. Ada sesuatu yang aneh dalam pemuda itu …

"Di mana rumahmu?"

"Kawasan blok F"

"Ternyata dekat dari sekolah. Barusan aku melihatmu menyaksikan Daiki latihan, apa pendapatmu?" dia juga kenal ace klub basket, pikir Tetsuna menerawang lukisan pekat hitam di atas kepalanya. Waktu pun berjalan melebihi ekspetasi manusia sehari-hari

"Cepat, lincah dan energik, mungkin … seperti angin yang memotong dedaunan? Entahlah, aku … menyukainya. Akashi-kun mengenal Aomine-kun?"

"Aku ketuanya dan Daiki termasuk pemain lapis ketiga di tim. Omong-omong, tidak merasa kehilangan barang penting?" refleks Tetsuna mengeledah seisi tas. Bagian depan pun tak luput dari pengawasan, kecuali kantong rok yang diabaikan sambil menangis minta diisi

"Ponselku hilang. Ma-maaf Akashi-kuh, aku harus …"

DEP!

"Ini kukembalikan. Sampai jumpa besok di sekolah"

Ujung jemari lentiknya melepas blazer putih yang ia pegang. Tetsuna terjerembab dalam lubang serupa, ketika Akashi melepaskan sebuah 'perasaan' berbentuk sentuhan. Ayah dan ibu menyambut gembira di depan pintu, sembari mengungkit-ungkit soal lelaki berparas tampan yang tiba-tiba mengantar pulang. Ia malas membahas, waktu makan malam pun beranjak naik mengurung diri di kamar.

Semakin sering mereka berdekatan, Tetsuna terus-menerus dihujam serangkaian dejavu.

Drtttt … drtttt … drtttt …

"Selamat malam, Tetsuna"

"Ka-kau Akashi … -kun?"

Bersambung …

Balasan review : (lumayan juga)

mari : ini remake kok, buktinya cerita Cinta Persegi Panjang aku hapus, karena udah ada gantinya jelas hahaha. Oke deh, tapi kita jarang ngobrol lagi nih, kamu punya wa enggak? Aku jarang on BBM sekarang. Thx ya udh review.

Neemuresu Piero : Dua-duanya, aku paling suka bikin cerita dengan dua pairing. Tapi yang utama itu AkaKuro kok tenang aja hehehe. Ceritanya sengaja kok dibuat pendek, males bikin panjang-panjang. Thx ya udah review!