FREAK

Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.

Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.

Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?

.

.

this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.

.

.

" Hanbin-ah.."

" aku membencimu.."

" wae, karena kejadian kemarin? Ciuman kemarin adalah yang pertama untukku"

Hanbin menggeleng lemah, bukan karena kemarin. Tapi karena kau sendiri..Jiwon.

" bukan itu, lupakan saja.."

Jiwon segera mencekal pergelangan tangan Hanbin, Ia ingin menanyakan satu hal lagi.

" jadi kau tidak marah padaku? Lalu karena apa kau membenciku?"

" t-tentu aku marah padamu! Kau pikir aku mau begitu saja kau cium hah?!"

Jiwon memasang senyum andalannya, " lalu kenapa tak menolak sejak awal? Kulihat kau begitu menikmatinya sampai memejamkan mata segala~"

Hanbin menampar bocah itu dengan keras, tapi..ada yang aneh.

Tangannya tidak sakit..

Kini matanya menatap Jiwon, bocah itu mengerang sambil mengelus pipinya yang memerah.

" argh! kau bisa menamparku?! Woah~ daebak"

Hanbin tersenyum lebar, " aku bisa melakukan apapun"

" sudah tua, jangan sombong"

Hanbin kembali mengayunkan tangannya, namun Jiwon lebih cepat menahan tangan itu.

" sekarang, ¼ jiwamu ada padaku. Jangan bertindak yang macam-macam ok?"

Tangannya mengusak rambut halus Hanbin.

" yak! Aku lebih tua darimu! Panggil aku HYUNG"

Jiwon acuh, langkahnya pasti menuju ruang makan.

" aku bicara padamu bocah!"

" namaku Kim Jiwon "

" geure, Jiwon-ah! Berapa usiamu?"

" 19"

" ish, dinginnya~ tapi kau harus memanggilku hyung"

" kenapa harus? Berapa usiamu saat meninggal?"

" …18 tahun"

" kalau begitu kau yang harus memanggilku hyung"

" tapi aku lahir lebih awal darimu!"

" mau mulut manismu itu bicara sampai berbusa, aku tetap lebih tua darimu"

Hanbin melipat tangannya sebal, sifat Jiwon yang ini tidak seperti Bobby hyung-nya.

" pokonya panggil aku hyung!"

" shirreo, seumur hidupku tidak akan pernah"

" yak! KIM JIWOONN!"

Kembali hari ini ia pulang malam, dosennya sangat baik sehingga meninggalkan banyak tugas yang harus dirampungkannya hari itu juga.

Pertama Ia masuk rumah, yang dilihatnya hanya 2 hantu anak-anak yang bermain tombol televisi.

Biarlah, Ia juga tak berminat menonton televisi.

" anak-anak, matikan televisi setelah jam 12. Aku tidak punya cukup uang untuk membayar itu"

Ia melanjutkan berjalan ke arah dapur.

Setelah membawa secangkir kopi panas, kakinya melangkah melewati sebuah ruangan yang menurutnya aneh. Gelap dan sempit.. mungkin gudang.

Hah~

Jiwon lagi-lagi menghela nafas, apa yang membuat pikirannya merasa terganggu akhir-akhir ini?

Ia mengusap wajahnya kasar, buku tebal yang sedari tadi dibukanya kini dibacanya kembali.

Krakk tap tap

Jiwon menoleh sambil menahan amarah, ok..kali ini Ia tidak boleh marah.

" halmoni, kumohon jangan bermain dengan cucumu di sini. Aku ada ujian besok"

Sosok hantu nenek yang berdiri di depan kamar Jiwon itu tersenyum sungkan, kemudian membawa cucunya pergi.

"aigooo..aku harus belajar. Fighting!"

Sudah berkali-kali Jiwon menatap tulisan berderet di buku itu, namun pikirannya melayang jauh entah kemana.

Brakk!

Jiwon menutup paksa bukunya, matanya menatap nyalang pada wajah manis dihadapannya.

" jika bukan karena kau, aku pasti belajar tenang hari ini"

Berikutnya Ia membalikkan foto Hanbin, menghadap ke belakang.

Ia tidak bisa konsentrasi jika berhadapan dengan wajah menggemaskan si-manis Hanbin.

Eh, bicara tentang Hanbin. Kemana sosok itu? kenapa tidak muncul lalu mengganggunya seperti biasa.

Baiklah, lupakan Hanbin dasar otak tak tahu diri. Kau harus menyimpan banyak memori buku itu daripada memikirkan Hanbin.

Esok sore saat kembali dari kampus, Ia menemukan Hanbin.

Hantu itu sedang menonton televisi bersama sehantu(?) yang Ia kenal belum lama ini.

" yak! Chanwoo-ya! Kubilang apa kemarin ha?!"

Chanwoo yang menyadari Jiwon datang, langsung bersembunyi dibalik tubuh Hanbin.

" Hanbin hyung..lindungi aku~"

Hanbin segera berdiri dan tersenyum sangat sangat manis.

" Jiwon-ah, dia Chanwoo. Temanku sejak 2 tahun yang lalu, kau tak boleh berbuat jahat padanya"

Jiwon sudah menggertakan giginya, beraninya bocah itu berbohong padaku..

Dan matanya melebar kala Hanbin berusaha melindungi Chanwoo darinya.

" beraninya kau berbohong padaku bocah! Dan menjauh dari Hanbin sekarang!'

Chanwoo yang ketakutan perlahan mundur, Jiwon segera menarik Hanbin ke pelukannya.

" kau baik saja? Kemana saja kemarin..kenapa kau tidak me-maksudku biasanya kau berisik?"

Hanbin tersenyum senang, apakah manusia ini mengkhawatirkannya?

" yak! Jawablah bila aku bertanya!"

'huh! Sok marah segala. Aku tahu apa maksudmu manusia bodoh'

" bukan urusanmu! Pergi sana, jangan kembali ke rumahku lagi"

Amarah Jiwon memuncak, rasa panasnya sudah sampai ke ubun-ubun

" aku membayar mahal rumah ini pada tuan Goo. Bukan kau!"

" tapi ini adalah rumahku! Aku lebih awal tinggal di sini. Dan sampai sekarang pun masih kutinggali!"

" whatever.."

Jiwon berjalan cepat, Ia tak suka kalah bicara dengan orang lain.

Ok..kali ini kau menang Kim Hanbin.

Junhoe menyerahkan figura besar itu pada Jiwon, Ia harus memberikannya sekarang.

" apa ini June-a?"

" foto pernikahanku..pasanglah"

Jiwon berpikir, bagaimana bisa Jinhwan yang kalem itu mendapat suami kaku macam Junhoe.

Apalagi bocah dihadapannya kini berusia 3 tahun lebih muda dari Jinhwan.

" tunggu apalagi. Pasanglah hyung, di sana yah! Biar kelihatan semua orang"

Junhoe menunjuk pada ruang tamu. Narsis benar bocah ini.

" oh iya hyung, kau boleh saja memindah barang-barang di rumah ini ke tempat lain. Asal jangan foto ini"

Jiwon menatap malas pada Junhoe, " mana Jinan hyung?"

" dia tidur, kelelahan. Laigpula ini sudah malam"

" ya…June-a, jangan terlalu kasar pada hyung-ku. Kasihan dia"

" sudahlah hyung..aku lebih mengenalnya daripada kau"

Jiwon mengusap wajahnya, percuma berbicara dengan anak ini.

" baiklah, terserah kau. Pulang sana, nanti Jinan hyung mencarimu"

Jiwon berhenti di depan pintu kamar,

" Hanbin-ah.."

Hanbin menoleh, sejurus kemudian Ia kembali memainkan bantal.

Jiwon ikut duduk disamping Hanbin, Ia hanya diam menunggu Hanbin bicara.

Hanbin juga diam, Ia hanya sesekali melirik Jiwon melalui ekor matanya.

Tanpa sadar, matanya terpaku pada wajah Jiwon. Ia merindukan wajah ini, dan senyumannya.

" wae? Aku tampan ya, sampai kau tak bisa berkedip?"

Hancur sudah senyuman manis yang barusaja Ia bayangkan, bocah dihadapannya begitu menyebalkan.

Hanbin menghela nafas, Ia jadi malas bicara kalau seperti ini.

" mwo? Ada apa hmm?"

Hantu itu bungkam, bagaimana Ia mengatakannya pada bocah ini..

" kau.. kesepian?"

Air mata menetes dari mata bulat Hanbin, bantal itu dipeluknya erat.

Kau benar..aku sendirian Jiwon-ah,

Bantal itu terlepas dari pelukannya, dirinya kini justru dipeluk erat.

" sudahlah..,aku juga kesepian"

Hanbin menatap lekat pada Jiwon, apa lagi ini?

" mulai sekarang, jika kau kesepian panggilah aku"

" lalu kau akan datang?"

" ani. Kau pikir bagaimana aku bisa datang? Terbang? Teleportasi?"

Senyuman luntur dari wajah manis itu, tangannya memukul brutal pada Jiwon.

" yak! Appo..kenapa memukulku?!"

" kau menyebalkan! Kukira kau akan datang.."

Wajah itu kembali murung, tangan Jiwon perlahan memegang bahu Hanbin.

" kau tahu? Sejak roh-mu kuambil aku jadi ikut merasakan apa yang kau rasakan"

" jadi jangan bersedih lagi, jebal.."

Hanbin sudah hampir menangis, tapi bocah itu kembali menyela.

" andwae! Jangan menangis lagi, nanti aku jadi ikut menangis"

" aku bahagia,masih ada yang memperdulikanku.."

.

.

" aish..,lupakan. Mari kita tidur eh-, kau tidur tidak?"

Hanbin terdiam, Ia tidak mungkin mengantuk kan?

"ani, aku tidak pernah tidur"

"hmm..geure, aku mau tidur dulu. Kau disini atau?"

" kenapa menanyaiku begitu? Terserah aku dong..ini kan rumahku"

Jiwon menatap malas, mulai lagi.

" baiklah, aku tidur diruang tamu. Kau disini saja, jangan berkeliaran. Itu sangat mengganggu"

Hanbin tersenyum, Jiwon ikut terseyum dan secepatnya memalingkan wajah.

" wae?"

"ani, jal- em. Aku pergi dulu"

Setelah memastikan bocah itu pergi, Hanbin menangkup wajahnya.

Aigoo.., kenapa pipiku rasanya hangat?

07.05

Jiwon berlari kencang menuju halte, Ia tidak boleh tertinggal bus lagi.

Sudah cukup berlari sampai 1,5 km. Itu olahraga pagi yang melelahkan.

Oh, itu bus kan?

" YAPS! "

Jiwon cepat-cepat meraih pintu bus yang baru terbuka, untung masih ada bus lewat di jam ini.

Sambil duduk mengatur nafas, Jiwon membuka ransel hitamnya.

Tangannya meraba isi ransel tersebut, tapi tunggu..kemana buku catatannya?

Dengan terburu di aduknya ransel itu, matanya juga ikut mencari. Tapi nihil..

" oh my..dimana bukuku?"

" igo"

Jiwon menoleh kesamping, siapa orang ini?

" kau bisa membaca bukuku dulu, nanti ada test loh"

Sedikit ragu, tangannya terulur untuk mengambil buku itu.

" apa tidak apa-apa?"

" gwenchana, aku sudah belajar"

"hmm..geure, siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu,bukankah kita satu universitas?"

Senyum manis itu mengembang,

" Kim Donghyuk, jurusan seni"

Jiwon memukul kepalanya berkali-kali,

" pabboya~ aku sekelas dengannya tapi kenapa aku tak sadar?!"

" ya, kau sudah pulang?"

Jiwon menatap Hanbin, " hm, agak awal untuk hari ini"

" hoo~ bagaimana kuliahmu?"

" heh, sangat buruk. Buku catatanku hilang, dan aku tak sempat belajar. Tapi aku-"

Jiwon segera menghentikan ocehannya, matanya menatap Hanbin curiga.

" kau..tahu dimana buku catatanku?"

Hanbin berkedip bingung, buku apa?

" ani, buku catatan apa?"

" buku catatan berwarna kuning, hanya satu itu yang berwarna kuning dari sekian banyak bukuku"

" molla" Hantu itu terbang dan tampaknya Jiwon tak bisa menyusulnya.

" yak! Kim Hanbin!gidari-"

" aish..padahal aku ingin mengatakan sesuatu padanya"

" eoh, lalu bagaimana? Aku harus menulisnya seperti apa?"

" ya..,kau ini malas sekali. Pikirkanlah, kau pasti bisa Jiwon-ah!"

" YAK! Ini tugas kelompok, dan kenapa aku harus menyelesaikannya sendirian?!"

" salah siapa mempunyai rumah yang terpencil,"

" aku sudah mengajakmu kemari, kau saja yang menolak!"

" hehe, mianhae. Lain kali aku akan datang, sekarang kerjakanlah! Besok harus jadi"

Tuutt tuuut

" ya..YAK! SONG YUNHYEONG!"

Jiwon membanting handphonenya dengan kasar, beraninya Yunhyeong memerintah begitu.

Bocah itu berkali-kali menguap, matanya yang kecil juga semakin menyempit.

" aigoo.., aku mengantuk sekali"

" hei manusia, kau belum tidur?"

" ya hantu bodoh. Sudah jelas kan jawabanya, kenapa masih bertanya?"

Hanbin melempar sebuah buku tepat mengenai kepala Jiwon, " igo, kau meninggalkannya di dapur"

Jiwon meneliti buku itu sambil mengusap dahinya, winnie the pooh warna kuning.

" hehe, gomawo. Maaf sudah menuduhmu tadi"

" hmm gwenchana, apa ini? Skripsi?"

" ne, tapi aku tidak mau mengerjakannya. Aku mau tidur saja"

" yaa.., kau ini pemalas sekali. Cepat kerjakan lalu kau bisa tidur"

" aku lelah Hanbin-ah, dan kenapa aku harus mengerjakannya. Ini tugas kelomok"

" HA! Aku akan membantumu, kau tinggal menulisnya saja"

Jiwon hanya bengong antara mengantuk dan kesadarannya yang mulai menghilang.

" pallii! Aku ini sedang sibuk, cepat !"

Jiwon mencibir, 'hantu sok sibuk'

Jiwon membenarkan duduknya di ranjang, Hanbin juga ikut duduk disampingnya.

" tentang monumen.. monumen, ok! Tulis baik-baik, arra?!"

Jiwon mengetik dengan hati-hati, Ia tak mau mengecek ulang karena matanya sudah lelah.

Sekalian saja, hemat waktu dan tenaga.

" yak Kim Jiwon! Jangan tutup matamu, konsentrasilah!"

Bocah itu segera membuka matanya lebar-lebar," ne! ne!, aigoo"

Ransel itu sudah tertata rapi, Jiwon membaringkan tubuhnya perlahan ke kasur yang empuk.

" arrggh..punggungku,"

Punggungnya bergemeletuk, tapi ini sangat nyaman.

" ya! Iribwa"

Hanbin melihat Jiwon melambai ringan padanya, dengan malas Ia mendekat.

" mwo?"

Jiwon dengan cepat menarik Hanbin ke ranjang, akibatnya Hanbin jatuh menindih Jiwon.

" hah~ gomawo. Sudah menemukan bukuku, dan membantuku menyelesaikan skripsi"

" itu hal yang mudah, aku lebih berpengalaman dibanding kau"

" sudahlah jangan omong kosong, ayo tidur"

Jiwon menggeser posisinya dan membanting Hanbin di sampingnya.

" mwo?YAK! Apa maksudmu ha?!"

" ayo tidur, disini. Bersamaku"

Jiwon memeluk erat pinggang Hanbin sambil menahan senyum.

Ia senang karena bisa menahan hantu ini agak tidak kabur.

" Jiwon-ah..lepas. Aku ada urusan"

" apa? Apakah ada yang lebih penting daripada aku?"

" dasar, percaya diri sekali. Aku punya banyak hal lebih penting daripada tidur denganmu!"

Hanbin mencoba bangkit, namun Jiwon kembali menariknya ke ranjang.

" malam ini saja, biarkan aku tidur dengan memelukmu"

" entah kenapa aku selalu merindukanmu, padahal hampir setiap hari aku melihatmu"

Hanbin terdiam, benarkah? Apa Jiwon benar-benar merindukannya?

" apa yang kau perbuat sampai aku selalu memikirkanmu? Apa yang kau punya?"

" katakan, bagaimana kau melakukannya padaku."

Hanbin mencoba melepas pelukan Jiwon, namun rasanya pelukan itu semakin erat.

Kini Ia tambah panik ketika si manusia justru menindihnya, menatapnya intens.

" Kim Hanbin, apa aku mengenalmu?"

Hanbin membelalak kaget, apa yang harus dikatakannya?

" j-jiwon aku-"

" katakan saja, kemarin selama dua hari kau menghindariku kan. Kenapa?"

Hanbin mengalihkan pandangannya, " jiwon-ah, lepass"

Tangan Jiwon segera menangkup wajah Hanbin, Ia menatap sedih.

" apa kau membenciku? Apa salahku.."

Hanbin menahan airmatanya yang menggenang, Ia tidak boleh mengatakan apapun.

" Hanbin-ah, kau seharusnya mengerti bagaimana bila seseorang membencimu tanpa alasan"

" ya! Tatap aku dan bicaralah! Kau mau aku mati penasaran hah?!"

"..hiks, diamlah. Aku juga tidak tahu,tapi-aku tidak membencimu Jiwon-ah"

" lalu kenapa menghindariku, kau sama sekali tak menatapku dari tadi."

" kenapa dengan ku? Apakah wajahku ini aneh? Huh"

Hanbin tetap bungkam, Ia tidak bisa mengatakan kalau rupa manusia ini mirip Bobby hyungnya.

" aish sudahlah! Lupakan perkataanku barusan, aku lelah."

Jiwon mengangkat tubuhnya dan berbaring di samping Hanbin.

" aku tak menyuruhmu pergi, jadi jangan memancing amarahku dengan mencoba kabur"

Hanbin dengan terpaksa kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.

Berikutnya sepasang lengan kekar menarik pinggang Hanbin mendekat ke arah si pemilik lengan itu.

" tetap diam sampai besok pagi, jangan berisik atau menggangguku. Atau kau tahu akibatnya"

" ..jangan memprotes!"

Hanbin kembali menutup bibirnya. Ia merengut sebal, apa-apaan bocah ini berani mengancamnya.

' sabar Hanbin-ah, hanya sampai besok pagi. Paling lambat juga bocah itu akan berangkat kuliah pukul 7'

TBC

N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.

Thanks to : Double BobB.I, EunhyukJinyoung02, depitannabelle, vchim, Jun-yo, Ibob

mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.