"Sebelumnya aku minta maaf. Diam-diam nomor hand phone-mu kusalin ke buku catatan" terang Akashi meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Tetsuna yang terkejut menghela nafas pendek. Jantungnya sempat berolahraga ria dipanggil begitu oleh makhluk asing

"Tentu. Asalkan yang menelpon bukan pengutit atau semacamnya. Jadi, ada perlu apa?" ia malas berbasa-basi, terlebih orang itu ketua basket Teiko

"Hanya ingin mengobrol. Kau tidak kesepian di rumah?"

"Di sini sangat menyenangkan. Justru telponmu menganggu kebersamaanku dengan keluarga" kebohongan yang terlalu manis untuk dibayangkan. Tetsuna mengurung diri di kamar, tanpa ayah atau ibu di sisinya

"Lalu, di mana letak kebersamaan yang kau sombongkan itu?" terpatahkan. Bibir mungilnya terkunci rapat tanpa meloloskan sepatah kata pun

"Diam Akashi-kun. Maaf aku sibuk"

Tut … tut … tut …

Telepon diputuskan sepihak, setelah dipanggil makan malam ia bergegas menuruni tangga. Ibu tak kunjung berhenti membicarakan seorang Akashi Seijuuro, bahwa anak itu keren dengan rambut semerah cherry, mempunyai tatapan bak elang menerkam mangsa, sepasang hetekronom nan indah bersanding paras tampan. 'Dia' mendominasi perbincangan sekeluarga. Tetsuna sampai muak terpaksa tertawa, sesekali tersenyum atau menganggukan kepala.

"Kapan-kapan ajaklah main kemari. Jarang melihat Tet-chan membawa teman, apalagi lelaki ganteng di sekolah!" ibu paling bersemangat membicarakan urusan asmara putri tercinta. Tetsuna cukup dewasa untuk mengenal lawan jenis

"Akashi-kun orang sibuk, ibu. Aku tidak yakin dia bersedia" sejujurnya, hanya rasa malas yang terngiang di kepala

"Coba saja. Nanti kabari ibu oke? Sekarang naik ke atas dan kerjakan PRmu"

Sayang tidak ada kata PR di hari pertama masuk. Tetsuna melangkahkan kaki pelan, terbaring lemas di ranjang sambil membaca pesan masuk, 'semoga makan malammu menyenangkan'. Benar sekali dia perhatian, namun dia membenci simpati tersebut, tak lebih dari omong kosong, memuakkan, basi! Akashi berbahaya bagi seorang Kuroko Tetsuna. Entah berapa banyak rasa dan rahasia yang terbongkar habis-habisan.

"Sayangnya aku harus menjauh. Keberadaanmu hanya kutu air di mataku, Akashi-kun" suara selembut sutra itu berubah tajam, seruncing bambu yang siap dilemparkan ke jantung lawan

Entah apapun itu, yang pasti Tetsuna amat membenci sesosok pria bersurai merah.

Keesokan harinya …

Pukul 6.30, Tetsuna siap dengan penampilan terbaik ke sekolah. Usai berpamitan pada ibu di dapur, pantofel berwarna cokelat menapak santai di pinggir jalan. Aspal digenangi bekas air hujan semalam, memantulkan siluet biru sebahu senada langit musim panas. Perjalanan menjadi sedikit berbeda, di mana tenang yang melingkup digantikan pekikan antar pertengkaran seekor kucing dan pemuda hijau di depannya.

"Berhenti menggaruk wajahku. Dasar kucing sialan!" dibanding menolong, mereka yang lewat memilih mengatainya gila karena bicara sendiri. Sungguh malang dan mengundang tawa sekaligus

"Push … push …" mantera ajaib para pecinta kucing. Keempat kakinya menghampiri Tetsuna yang berjongkok, digendong sayang sembari mengelus kumpulan helai putih cokelat-keputihan ala jenis kampung

"Berhentilah menganggu orang. Pulang ke rumah dan temui majikanmu" usirnya halus. Kucing rumahan itu memanjat tembok dalam sekali loncat, di hadapan pemuda hijau yang ambruk terjatuh akibat kaget

"Kau … tidak apa-apa?"

"Te-terima kasih, bu-bukan takut atau apa, nanodayo. Aku kaget karena kucing itu tiba-tiba meloncat dan menggaruk wajahku, nanodayo" wajah boleh tampan, tapi kepribadiannya dinilai aneh menurut Tetsuna

"Ini sebagai balasan. Barang keberuntungan aquarius" sebuah gantungan kunci disodorkan pada Tetsuna. Namun bukan itu yang menjadi masalah, mereka baru bertemu dan orang ini tau zodiaknya? Bahkan Akashi sekalipun belum masuk penguntit kelas teri

"Tunggu darimana kamu tau?"

"Namamu Kuroko Tetsuna, kelas 1-B pindahan dari SMP Seirin, zodiak aquarius, alamat rumah di Jalan Hanabi kawasan blok F. Kita sekelas dan aku menjabat wakil ketua" lagi-lagi 'ancaman' selain Akashi. Siapapun dia apa pedulinya?

"Maaf aku pergi duluan"

Kalau tidak salah ingat namanya Midorima Shintaro, dia termasuk anggota basket Teiko yang memegang posisi shooter. Entah bagaimana, Tetsuna beruntung bertemu 'mereka' dua hari berturut-turut. Sekarang baru hari pertama dan hey … sudah menang banyak saja. Di pintu gerbang Momoi berlari kecil menghampiri, ah iya, jangan lupakan juga manajer yang disebut-sebut ikut andil besar dalam meraih kemenangan.

"Selamat pagi, Tet-chan. Apa kau menyukai panggilan itu?" mereka sesama wanita. Setidaknya Tetsuna harus lebih terlihah bersahabat. Dia pun sebatas mengiyakan datar

"Ayo masuk ke kelas bersama. Kalian sekelas ya? Tolong jaga Dai-chan baik-baik" tapi bukan ibu Aomine-kun, Momoi-san, ingin sekali Tetsuna berkata begitu. Namun menilik ekspresi memelas sang manajer membuatnya luluh seketika

"Momoicchi dan seorang teman baru, ssu?" muncul lagi pemuda lain berlogat aneh. Tetsuna bersembunyi di belakang punggungnya. Bukan karena tingkah si kuning yang meresahkan, melainkan kedatangan Akashi di ujung mata

"Tubuhmu mungil sekali, ssu!"

"Se-sesak … to-tolong hentikan …"

"Ki-chan berhentilah memeluknya. Tet-chan sampai sesak nafas" tidak penting dibahas! Intimidasi Akashi seakan menusuk hingga ke rongga mata

SWINGGG …

KRAK … KRAK …

Sangat mengerikan, gunting merah itu nyaris mengenai pemuda kuning yang setia memeluk Tetsuna. Perlahan-lahan dia melepaskan, sambil menahan isak tangis di kerongkongan dengan bantuan Momoi. Akashi mendekati wanita azure di depannya, menyeringai tipis entah bermaksud melakukan aksi apalagi. Mereka bertiga merupakan saksi bisu, disusul Aomine dan Midorima yang terdiam di tempat.

Mati atau tutup mulut.

"Terpesona hingga sesak nafas, Tetsuna?" goda Akashi mendekatkan wajahnya. Memandang lekat iris kebiruan yang melebar kaget. Terlalu dekat untuk disebut jarak, mereka dapat saling merasakan deru nafas masing-masing

"Berhenti di situ, Akashi-kun. Aku tidak segan mendorongmu"

"Lakukan jika bisa, Tetsuna. Ingat perkataanku yang satu ini, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku, seutuhnya …" usai bisikan tersebut diucapkan, Akashi berlalu meninggalkan mereka yang tercengang sesaat. Terlebih kaca mata Midorma sampai melorot banyak

"Jarang melihat Akashicchi berbuat nekat, ssu. Benarkan Momoicchi?" Aomine menyadarinya, perubahan dratis yang terjadi akibat atmosfer berat. Mungkin wanita peach ini kesal secara tidak langsung

Benar-benar sinting, gila, miring! Tindakan Akashi berada di luar ekspetasi Tetsuna. Lagi pula mereka baru mengenal dua hari, tetapi apa yang didapatnya melebihi penyelesaian semata. Dia sudah mendapatkan teman dan mungkin bertambah dua, lalu sepaket dengan cowok tampan jago basket? Tidak … tidak … teringat perkataan Momoi membuat kepalanya pening. Anak itu punya fanclub tersendiri, bukankah bahaya jika nampak mesra?

"Sekarang alasanku menjauhinya semakin kuat"

"Hoi Tetsu. Satsuki mengajakmu makan siang di atap sekolah. Jangan lupa bangunkan aku jika guru sudah datang" apa tidak bisa, sedikit saja Aomine menunjukkan rasa semangat? Tetsuna tak banyak komentar. Semua teman Akashi memang sesuatu

Acara makan siang yang tidak membuat bergairah. Momoi menjemput di depan kelas, mereka menaiki ratusan anak tangga menuju atap sekolah, dan tangkapan pertamanya adalah Akashi yang tersenyum ramah. Pertengkaran Midorima dengan seorang raksasa ungu. Kise yakni Ki-chan asyik memfoto bento buatan kakaknya, kemudian Aomine seenak jidat mengambil salah satu lauk tanpa rasa bersalah.

"Aominecchi hidoi, ssu! Padahal aku hanya perlu lima menit untuk memotretnya, ssu" celetuk Kise kecewa berat. Apa dia termasuk penganut ajaran sesat? Batin Tetsuna duduk di samping Momoi yang bersandar di pagar kawat

"Bekalmu terlihat enak Satsuki. Boleh minta satu?"

"Tidak Dai-chan. Aku khusus membuatnya untuk Akashi-kun. Kau mau kan menerima pemberianku?" menggunakan jurus merayu level rendah, dia tak tega dan memakan telur gulung tersebuBt. Momoi sumringah bukan main. Aomine mencibir kesal di belakang mereka

"Jika Aomine-kun kau boleh memakan onigiriku"

"Enak juga. Satsuki, sepertinya kamu harus belajar memasak dari Tetsu" entah berhubungan atau tidak. Kapasitas perut Aomine mengerikan, karena tiga buah onigiri lenyap sekali lahap

"Apa kau makan dengan kenyang? Daiki menghabiskan hampir separuh bekalmu bukan? Makanlah" sumpit bambu dimasukkan ke mulut Tetsuna yang setengah terbuka. Deretan gigi putihnya nikmat mengunyah tempura, meski cara Akashi agak sedikit ekstrim

"Eh … aku iri padamu, Tet-chan" komentar Momoi bernada kecewa. Tidak patut dipamerkan, selain merasa malu pada Akashi yang kehilangan akal sehat. Ingat, di sana bukan hanya mereka berempat

"Heee … Mido-chin, aku juga ingin disuapi seperti dia"

"Mintalah kepada Akashi. Lagi pula kau sudah besar, tanpa perlu disuapi semangkuk nasi saja habis dalam lima menit!"

"Kasihan Aominecchi, dipaksa melihat Kurokocchi dan Akashicchi suap-suapan. Padahal dia jomblo" jari-jemari lentiknya terkepal sempurna siap menghajar Kise. Ada yang tidak sadar diri di sini …

Istirahat berakhir jam sepuluh tepat. Kelima pemuda pelangi itu berjalan mendahului Momoi dan Tetsuna, yang mengekori di belakang sambil bercakap-cakap sejenak. Sebelum memasuki kelas, ia bertanya mengenai kesan perihal acara makan siang.

"Bagaimana, Tet-chan? Apa kamu merasa senang?" sebenarnya tidak buruk. Sesaat Tetsuna melupakan definisi sepi, digantikan canda tawa meriah dari mereka berenam, terutama perhatian Akashi yang membuat salah tingkah

"Belum pernah aku sebahagia ini. Tetapi maaf Momoi-san, hatiku berkata tidak bisa menerimanya, seorang teman … sampai jumpa lain waktu"

Bersambung …

Balasan review :

mari : Thx ya Mar buat koreksinya, kalo untuk konflik akan dimulai dari chapter ini, soalnya aku gak biasa munculin konflik di chapter awal. Kenapa kamu bukan pembaca Fairy Tail? Enak kalo tiap saat dapet review kayak gini terus hahaha. Thx ya udah review