"Tapi kenapa, Tet-chan? Punya teman itu menyenangkan, lho" masih dengan nada riangnya, Momoi berusaha meyakinkan Tetsuna

"Bagiku mereka tak lebih dari sampah. Lagi pula..." ucapannya tergantung di lidah. Pucuk azure itu menggeleng lemah, sangat pelan

"Biar kutebak. Apa sebelumnya kau pernah dikhianati? bak peramal professional. Mulut Tetsuna berhasil dibuat bungkam

"Percayalah, kami tidak akan mengkhianatimu. Kau tidak lihat? Semua senang bertemu denganmu" terutama Akashi yang terus menempel sedari tadi. Momoi sengaja tidak melanjutkannya

Termenung di tempat, Tetstna segera balik ke kelas mengikuti pelajaran. Belum ramai meski hel berbunyi, seakan panggilan tersebut tak lebih dari angin lalu. Kelereng biru langitnya menatap pemuda di samping, dengan kulit tan dan tangan besar yang sesekali menguap, menahan kantuk. Apa Aomine-kun selalu seperti ini, ya? Entah bagaimana pertanyaan itu muncul dalam benak.

"Eto... Aomine-kun punya teman?" dia tidak peduli sebenarnya, hanya diusik rasa penasaran yang saling bentrok, bertanya atau tidak. Juga karena ajakan Momoi

"Tentu! Ada... satu... dua..." jemari lentiknya terangkat di udara sambil komat-kamit. Membuat Tetsuna tertawa kecil di sela hitungan itu

"Tujuh ditambah kamu"

"Tapi kenapa aku dianggap?" jujur, Tetsuna agak terkejut mendengar jawaban Aomine. Padahal dia tidak berkata apa-apa. Momoi-lah yang paling berjasa

"Karena tadi pagi kita makan bersama. Sekarang juga mengobrol. Kalau bukan teman apa namanya? Meski ya... Kise dan Midorima cerewet. Murasakibara menyebalkan. Akashi menyermkan, sedangkan Satsuki... Dia ketiganya!"

"Kau gadis yang baik. Semuanya menyukaimu. Oh ingat juga, jika guru datang bangunkan aku, oke?" lanjut Aomine membaringkan kepala di atas meja. Hendak menghampiri alam mimpi yang datang memanggil

Sederhana sekali... Tetsuna tidak yakin ada yang setulus itu. Rata-rata orang mempunyai kriteria masing-masing, entah mesti kaya, terkenal, menyukai sesuatu secara spesifik dan lain-lain. Pintu geser terbuka lebar. Guru siap mengajar matematika di jam pelajaran keempat, setelah fisika terlewati dengan sempurna. Aomine malah sulit dibangunkan, bahkan melindur banyak hingga membentuk kolam mini.

"Dia memang aneh"

Jam pulang sekolah, Tetsuna keluar duluan setelah kelas sepi. Aomine menghilang entah kemana, ibarat mempunyai alaram otomatis, di jam terakgir ia langsung dan bersiap pulang. Kebetulan sepasang irisnya menemukan Kise di koridor sekolah, tengah terdiam sambil melirik layar hand phone sesekali. Mungkun sedang menunggu kabar dari seseorang atau dihubungi siapapun. Dengar-dengar dia model terkenal.

"Selamat sore, Kise-kun"

"Rupanya Kurokocchi! Aku sempat mengira kau hantu, ssu" canda Kise diiringi tawa kecil. Tetsuna sendiri biasa dipanggil begitu, sejak kecil malah, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar

"Apa Kise-kun punya teman?"

"Punya, ssu! Akashicchi, Midorimacchi, Murasakibaracchi, Aominecchi, Momicchi dan Kurokocchi, ssu!"

"Kita baru mengenal tadi pagi, Kise-kun"

"Yang penting sudah berkenalan, kan? Tadi kita juga makan bersama di atap, ssu" alasannya mirip Aomine. Tetsuna merasa bodoh meminta pendapat mereka berdua

"Kalau Mursakibara-kun punya teman?" titan ungu itu kebetulan melewati mereka. Asyuk menyantap sekantong keripik kentang berukuran besar, rasa asin

"Snack-chan yang paling utama, tapi kalian berenam juga temanku, meski Midochin cerewet dan menyebalkan"

"Menurutku tidak masuk akal. Kita baru mengobrol saat istirahat makan siang"

"Teman itu... Yang suka berbagi snack denganmu, kan? Kurochin mau meski bukan pocky?" tawar Murasakibara menyodorkan keripiknya. Tetsuna mengerjap mata heran. Sederhana nakun memohok hati

"Tidak, terima kasih. Aku duluan"

Ini tidak sesuai dengan ekspetasinya. Tetsuna berpikir sekadar orang asing ikut numpang di atap, siapa sangka benar-benar dianggap serius, semacam : teman lama yang jarang berkumpul. Pantofel cokelatnya terhenti di depan gedung olahraga. Menyaksikan takjub Midorima melempar bola ke ara ring, dengan cetakan tiga angka. Tentu hebat, dari jarak puluhan meter bahkan seluruh lapangan merupakan kekuasaannya.

"Halo. Midorima-kun" bola oranye itu terjatuh dari pegangannya. Menyembunyikan rasa terkejut, ia menaikkan kaca mata yang tak turun sejengkal pun

"Apa perlu apa mencariku, nanodayo?"

"Midorima-kun punya teman?"

"Begitulah, nanodayo. Memang kenapa?" menginterogasi lewat tatapan tajamnya, Tetsuna sebaeas menggidikan bahu santai

"Tidak apa-apa. Hanya melakukan riset kecil-kecilan"

"Yo, Tetsuna. Mau pulang bersama?" interupsi suara bariton yang ia kenali, Akashi Seijuuro dengan rambut merah dan paras tampan, pangeran sekaligus kesatria impian seluruh tuan putri

Tanpa banyak bicara Tetsuna setuju, menilik pula langit hampir gelap. Anggaplah dikawal pangeran berkuda putih, ia belum berani membuang mimpi tersebut. Mereka tak banyak bicara selain gumaman-gumaman aneh yang terdengar. Setiap Akashi memulai sebuah topik pasti dibalas sepatah atau dua kata, benar-benar diabaikan. Malam itu sepi melingkup sempurna. Sampai di rumah barulah dia angkat bicara.

"Akashi-kun... Punya teman?" pertanyaan favorit Tetsuna beberapa waktu terakhir. Akashi teediam sejenak sebelum menjawab, barulah mengiyakan

"Rekan satu tim dan Satsuki merupakan temanku. Walau aku belum menemukan sahahat" kali ini terasa logis. Tetsuna ingin mendengar lebih lanjut

"Apa Akashi-kun percaya ada yang namanya sahahat?"

"Sebelas-dua belas. Tidak semua orang pantas memilikinya. Kenapa Tetsuna? Kau mau menjadi sahabatku?"

"Sayangnya aku tidak tertarik. Terima kasih sudah mengantar pulang. Sampai jumpa be..."

"Kalau Tetsuna berbeda, kau spesial" ucapannya terpotong. Tetsuna justru mengangguk patuh, seakan perkataan Akashi adalah perintah mutlak yang harus dituruti

Kenapa harus sekumpulan orang aneh? Tapi biarlah. Tetsuna senang mendengar kesaksian teman-temannya. Sekali lagi, dia ingin mempercayai seseorang.

Keesokan harinya...

Pagi-pagi sekali, setiba di sekolah Tetsuna dicegat sekumpulab geng perempuan. Mereka anggota fanclub Akashi, dia mengetahuinya dari Momoi yang sering terlibat, sehari dua kali namun sekarang tidak, berhasil dibuat jera. Tubuh mungil itu dipojokkan ke belakang tembok. Entah hendak menginterogasi, mencaci maki atau apa pun itu. Hanya mereka berenam yanh dia percayai, di luarnya orang asing.

"Apa hubunganmu dengan Akashi-kun?" tanya salah satu dari mereka. Setia memasang wajah datar, Tetsuna menjawab kalem seala kadar

"Kami berteman, itu saja"

"Kulihat kalian sangat dekat" oh ayolah baru dua hari! Kenapa begitu cemburu?! Batin Tetsuna tak habis pikir. Apa orang-orang di SMA Teuko sama gilanya dengan mereka?

"Ini hanya salah paham"

"Jangan berbohong! Jelas-jelas Akashi menyebutmu spesial!" baru ingin menyela. Yang disebut-sebut datang membuat mereka terdiam, lalu kabur akibat tak kuat menanggung malu

"Maafkan mereka. Sebagai permintaan maafnya..." ala pangeran meminang tuan putri, Akashi berlutut dengan sebelah kakinya sambil memegang tangan Tetsuna

"Bagaimana kalau kita kencan?"

Entah harus senang, bingung atau keduanya. Akashi terlihat serius.

Bersambung...